• Daddy and His Beloved Triplets [ III ] - Love's Coming I •
[ series ; bahasa ; b x b ; bts ; namjoon ft. jimin, taehyung, jungkook ; namjin ; pg / k+ ]
What's with Daddy and his kiddos' home tutor?
a/n: khusus namjin banget ye chapter ini.
.
.
.
.
.
.
.
#
(di Rumah Keluarga Cemara - Naskah Drama Ver.)
Jimin: "Jadi ngegaul nih kita?"
Namjoon: "Iya." (Memasukkan kemeja ke dalam jeans sambil berkaca.)
Jimin: "Yeayyyyyy akhirnya liburan~"
Taehyung: "Masih lama kale."
Jimin: "Ih kan sekarang mau jalan-jalan~ udah masuk liburan doong."
Taehyung: "Iya iya."
Namjoon: "Ayo, superman Papa semuanya siap-siap, ayo."
Taehyung: "Siap, bos Superman."
Jungkook: "Kookie udah siap dari tadi dong."
Namjoon: "Bagus. Yang paling duluan siap paling cakep."
Jungkook: "Emang Kookie cakep kale. Btw Pah, boleh ajak Ka Seokjin?"
Namjoon: "Oh, boleh banget. Ajak aja."
Jungkook: "Yeayy~ okeh, Kookie telpon dulu."
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum..."
Yang ditunggu akhirnya datang sembari mengucapkan salam di rumah keluarga cemara, mengenakan kemeja warna soft pink, jeans biru dan tas selempang kecil.
"Waalaikumussalam Ka Seokjiin~ cieee cakep banget nih. Masuk aja Ka, masuk," si bungsu menyambut kehadirannya.
Seokjin mengangguk, sedikit membungkuk berjalan masuk ke dalam. "Permisi..."
"Eh, Saudara Seokjin. Duduk dulu ya." sahut Namjoon dari belakang, tersenyum mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu.
"Iya gapapa Pak, makasih." Seokjin mendudukkan pantatnya pelan di sofa.
Namjoon kemudian berjalan ke ruang tamu, duduk di sebelah Seokjin dan membuka iPhone-nya, mengecek pesan masuk. Tercium bau parfum pria yang seketika menghampiri hidung Seokjin. Jika dilihat sekilas, penampilan si Bapak cukup necis juga walau tampak kasual. Seperti pekerja kantoran yang masih menginjak kepala dua.
Seokjin kemudian menyadari jika Namjoon sehari-harinya memang terlihat seperti bukan seorang duda yang sudah memiliki tiga orang anak laki-laki. Eksekutif yang awet muda.
Mungkin ide untuk menjadikan pria di sampingnya ini role model-nya di masa depan bagus juga.
"Udah siap semua ya Pak?" ujarnya kemudian membuka pembicaraan.
Namjoon menoleh sambil tersenyum, menutup iPhone-nya. "Oh iya, kita semua kecuali si Chim belom siap. Biasa, dandan dulu."
"Oh..." Seokjin tertawa kecil.
"Kamu? Ga dandan?" tanya Namjoon.
"Eh? Nggak kok, Pak. Saya mah nggak pernah dandan kalo pergi-pergi," jawabnya halus.
"Hm... nggak sisiran nggak pake reksona gitu?"
"Ya kalo itu sih iyalah, Pak. Hehe. Masak ga pake reksona," jawabnya lagi sambil tertawa kecil lagi.
"Sisiran? Nggak?"
"Iya, sisiran juga mesti. Soalnya rambut saya kalo abis bangun tidur subhanallah, Pak. Hehe."
"Widih, subhanallah banget ya."
"Iya, Pak. Subhanallah berantakannya."
Lalu mereka berdua tertawa singkat.
.
.
.
.
.
"Gitu ya... trus kamu suka pake parfum nggak?" lanjut Namjoon lagi.
"Hm... tergantung, Pak. Kalo lagi gak ke kantor ato acara penting gitu jarang sih pake parfum."
"Oo... ini sekarang? Pake parfum nggak?" tanya Namjoon sedikit mendekat ke arahnya, mengendus baunya.
"Pake sih dikit. Hehe."
"Hm... iya, wangi kamu." "Itu sih masih dandan dong namanya."
(aga tersipu dikit dibilang wangi) "Oh... iya ya, Pak."
"Iya. Dandan dikit."
"Oh... dandan dikit ya, Pak."
"Iya."
"Kalo dandan banyak gimana, Pak?"
Namjoon memasang tampang seperti orang berpikir. "Kalo dandan banyak... ya kaya artis-artis Korea gitu."
"Oh... yang bedakan sama pake-pake lipbalm gitu ya, Pak?"
"Iya. Makanya pada cakep semua gitu kan."
"Haha... iya ya, Pak." "Dandan banyak ya Pak, namanya."
"Iya. Dandan banyak."
"Oh... gitu ya, Pak."
"Iya." "Kamu gak pernah dandan banyak apa?"
"Eh? Yaa... jangan lah, Pak."
"Hm? Kenapa jangan?"
"Ngeri, Pak."
"Lho kok ngeri?"
"Nanti bukannya jadi artis Korea, yang ada malah saya jadi kayak ondel-ondel, Pak."
Lalu mereka berdua tertawa lagi. Nggak begitu singkat dari yang tadi.
.
.
.
.
.
"Kalo Bapak gimana? Dandan juga kalo mau pergi?"
"Iya dong. Harus rapi kalo kemana-mana."
"Hm... gitu ya Pak."
"Iya."
"Dandannya gimana? Dikit atau banyak?"
"Biasa kok kalo saya. Dandan dikit aja. Cuci muka, sisir, reksona, parfum. Gitu."
"Oo... gitu ya Pak."
"Iya. Lagian saya dandan dikit aja udah ganteng 'kan."
"Haha... iya, Pak. Gausah dandan juga udah ganteng kok."
"Ah, sabi ja'a kamu."
"Sabi ja'a?"
"Bisa aja."
Seokjin kembali tertawa kecil.
.
.
.
.
.
"Kamu juga gausah dandan udah cakep keknya."
"Haha... sabi ja'a nih si Bapak."
"'Kan 'keknya'."
"Eeh... ga jadi cakep beneran dong, Pak, kalo 'keknya'."
Gantian Namjoon yang tertawa kecil.
"Pah!" Tiba-tiba anak bungsunya yang cantik datang. "Liat hape Kookie ga?"
"Ha? Nggak, sayang. Ga liat Papa."
"Heeehh... duh kemana yah," gumamnya sambil menggaruk rambut yang tidak gatal.
"Dipinjem Jokowi kali," jawab Namjoon asal.
"Dih ngapain Jokowi pinjem-pinjem hape Kookie?"
"Buat numpang update Instagram gitu. Kali."
"Ish sembarangan aja si Papah," Jungkook cemberut, kemudian tersenyum ke arah Seokjin. "Yaudah deh, dah Papa, dah Ka Seokjin~"
"Dadaah Kookie~" Namjoon membalas lambaian tangannya.
"Dadah," jawab Seokjin ikut melambaikan tangan. Bingung juga kenapa tiba-tiba dadah-dadahan. Padahal nanti juga akan pergi bersama.
"Kalo Jungkook kayanya dandannya banyak ya, Pak," sahutnya kemudian kepada Namjoon.
"Hm... iya sih. Mungkin." Namjoon memasang tampang seperti orang berpikir lagi. Tingkah lebay-nya saja. "Tapi kalo bagi saya itu mah belom seberapa."
"Eh? Belom seberapa maksudnya?"
"Dia mah ngga ada apa-apanya kalo dandan dibandingin Chim."
"Hee...? Jimin dandannya heboh ya, Pak?"
Namjoon berlagak ketawa setan. "Liat aja ntar."
.
.
.
.
.
"Chim~ udah dandannya, sayang?"
"Iya Pah, bentaar... dikit lagi." jawab si sulung sambil sibuk menipedian. Rambutnya dikuncir ke atas seperti daun apel. Masih mengenakan kaus dalam. Mukanya seperti habis dimasker. Seger. "Haloo, Ka Seokjin~ tunggu yah Kak. Hehe."
"Halo, Jimin~ Iyah, gapapa kok ditungguin."
"Duile... yang dandannya dah kaya ibu pejabat," sahut si Bapak sambil lagak berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.
"Apaan... orang cuma pake bedak sama menipedi ajah," jawabnya membela diri. Masih konsen menipedian.
"Tuh. Dia bedakan sama menipedi aja dibilangnya 'dikit'," bisik si Bapak kepada guru les. Seokjin tertawa kecil. Keluarga cemara memang unik.
(Dikirain sih sama Seokjin udah kaya apa aja si Jimin dandan. Tapi belum seberapa sih ya.)
.
.
.
.
.
"Kalo Taehyung gimana dandannya, Pak?"
"Tae ya... bentar kita liat." "Kookie, panggilin Tae dong, sayang."
"Tae lagi di wese, bentar," ujar si bungsu berjalan ke arah toilet. Tepat setelahnya si tengah keluar. "Oh, panjang umur. Tae dipanggil Papa tuh."
"Heh? Napa Pah?"
"Ngga, manggil aja. Hehe." "Gitu aja bajunya, sayang?" Tanya sang ayah merujuk kepada celana tiga perempatnya dan kaus oblong lengan pendek warna oranye.
"He? Iya, gini aja kok." jawabnya sambil berlalu. Dengan menguap.
Seokjin manggut-manggut. "Si Tae jelas ngga dandan ya, Pak."
"He-eh. Emang gitu sih dia."
"Tapi emang udah ganteng sih."
"Iya. Kaya Bapaknya lah."
"Hm... tapi Taehyung ga mirip banget sama Bapak. Gimana dong, Pak."
Namjoon pura-pura menangis.
.
.
.
.
.
(Keluarga Cemara siap-siap berangkat - Naskah Drama Ver.)
Namjoon: (Literally pake speaker yang entah diambil dari mana. Mungkin musola deket rumah) "Udah siap semuanyaaaa?"
Selain Namjoon: "Udaaaah."
Jungkook: (Angkat tangan) "Trus? Kita mau kemana?"
Jimin: (Angkat tangan) "Ke Disneylaaand~!"
Jungkook: (Angkat tangan) "Ke Disneylaaand~!"
Taehyung: (Angkat tangan) "Ke Disneylaaand~"
Seokjin: (Ikutan angkat tangan) "Ke Disneylaaand~"
Namjoon: (Ikutan angkat tangan) "Okee, ayooo kita keee Disneylaaand~!"
.
.
.
.
.
Namjoon: (Masih pake speaker musola) "Tapi sayang sekali pemirsa... karena Disneyland terlalu jauh, dengan sangat terpaksa... kita batalkan jalan ke Disneyland. Huuuuuuu... (suara nangis)"
Rombongan haji: "Huuuuuuu... Sayang banget..."
Namjoon: "Sayang banget... Tapi! Jangan! Patah! Semangat! Karenaaaaaa... masih ada tempat keren lainnya buat jalan, pemirsaaaa~ seperti... contohnyaaa?"
Jungkook: (Angkat tangan) "Puncaaaaakkkk~!"
Jimin: (Angkat tangan) "Puncaaaaakkkk~!"
Taehyung: (Angkat tangan) "Puncaaaaakkkk~"
Seokjin: (Angkat tangan) "Puncaaaaakkkk~!"
Namjoon: (Angkat tangan) "Baiklaaaah kalau begituuu... ayo kita keeee Puncaaaaaakkkkk~!"
.
.
.
.
.
Namjoon: (Seperti biasa, masih dengan speaker musola) "Tapi sayang sekali pemirsa... karena ongkos kita tidak mencukupi untuk ke Puncak, dengan sangat terpaksa... kita batalkan jalan ke Puncak. Huuuuuuu... (suara nangis)"
Rombongan haji: "Huuuuuuu... Sayang banget..."
Namjoon: "Sayang banget... Tapi! Jangan! Patah! Semangat! Karenaaaaaa... masih ada tempat keren lainnya buat jalan, pemirsaaaa~ seperti... contohnyaaa?"
Taehyung: (Angkat tangan) "Ke kasuuurrr, bobo lagiiiii~"
Taehyung kemudian dikeroyok sebentar.
.
.
.
Seokjin: (Angkat tangan) "Gimana kalo kita ke IKEA, pemirsa?"
Jimin: (Angkat tangan) "IKEAAAAA~!"
Jungkook: (Angkat tangan) "IKEAAAAA~!"
Taehyung: (Angkat tangan) "IKEAAAAA~"
Seokjin: (Angkat tangan lagi) "IKEAAAAA~"
Namjoon: (Angkat tangan) "Ayooo kita keee IKEAAAAAA~!"
.
.
.
.
.
Keputusan akhir: jalan ke Tanah Abang.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Iklan)
(Roby sms Bella)
Roby: Bro, gimana ya caranya gue bilang ke bella kalo gue suka ma dia?
Bella: Kamu udah bilang koq Rob :)
Roby: Waduh sorry Bella, maksudnya gw mo sms si gerard
Bella: alesan lu ah, namanya aja jauh dari nama gue :) hihihi... jangan-jangan lu sengaja ngirim ke gue, trus pura-pura salah kirim :P gpp koq, gue ngerti :)
Roby: hehehe, apakah itu berarti kamu juga suka?
Bella: nggak
lalu kemudian Roby bunuh diri.
(courtesy of 1CAK)
.
.
.
.
.
.
.
#
(Keluarga Cemara di Tanah Abang - Bahasa Gaul Ver.)
Sasisusasisuwawawawawsasisusasisuwawawa - suara keramaian Tanah Abang.
"Tiga serebo tiga serebo tiga serebo~ kaos murah tiga serebo~"
"Boleh kakanya diliat leggingnya~ Tas Chanel asli impor~ impor pabrik Betawi~"
"Yang kangen yang kangen yang kangen~"
"Spatu spatu~ diskon 95 persen~ belah kanan doang tapinye~ ayo dibeli dibeli~"
Rombongan haji cuman manggut-manggut dengerin. Namjoon jadi pengen ikut jualan.
"Rame banget gileee..." Taehyung berkomentar dengan wajah datarnya.
"Iya ihhh panas lagi," Jimin mulai mengeluarkan kipas Hello Kitty-nya.
"Iya yah. Hari Sabtu soalnya." timpal Seokjin.
"Yee... lagian udah bingung kan mau jalan kemana." si Papah ikut menimpali.
"Ya tapi ga Tanah Abang juga kali Paaaahhh..." keluh si bungsu. "Duhhh mana aus lagi. Aer mana aer?"
"Iya nih aus." Taehyung ikut mengiyakan.
"Yaudah, ayuk beli minum," si Papah langsung ga tega. Aus juga sih dianya.
.
.
.
.
.
(Keluarga Cemara udah beli minum ceritanya - Naskah Drama Ver.)
Jungkook: "Duh, susah banget bukanya."
Seokjin: "Sini, aku bukain."
Cekrek. Kebuka.
Seokjin: "Nih."
Jungkook: "Hehe. Maaci Ka Seokjin."
Seokjin: "Iyah sama sama."
Jimin: "Aku juga mau dong Ka Seokjin."
Seokjin: "Boleh."
Cekrek. Kebuka.
Jimin: "Yey, maaci Kaka~"
Seokjin: "Iyah sama sama. Taehyung mau dibukain juga?"
Taehyung: "Gapapa Kak, udah kebuka kok."
Namjoon: "Nih, bukain yang punya aku aja nih."
Para bocah: "Ih apaan si Papah manja banget."
Namjoon: "Dih giliran Papa aja."
Seokjin: (tertawa kecil)
.
.
.
.
.
.
.
#
(Keluarga Cemara di Tanah Abang - Ga Tahan Panas - Teater Ver.)
Jungkook: "AYAHHHHH"
Namjoon: "YA. PUTRA BUNGSUKU YANG JELITA."
Jungkook: "ANANDA TIDAK SANGGUP LAGI AYAH. ANANDA SUDAH TIDAK SANGGUP LAGI MENGHADAPI SEMUA INI. INI SEMUA TERLALU BERAT BAGI ANANDA."
Namjoon: "ANAKKU. BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI NAK. BERTAHANLAH."
Jimin: "AYAHHHHH"
Namjoon: "YA. PUTRA SULUNGKU YANG BAIK HATI."
Jimin: "ANANDAPUN SUDAH TAK SANGGUP LAGI AYAH. ANANDA TAK SANGGUP LAGI MENGHADAPI SEMUA INI. ANANDA INGINKAN SEGERA KEMBALI KE ISTANA."
Namjoon: "ANAKKU. BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI NAK. INI SEMUA PASTI AKAN BERLALU. BADAI PASTI AKAN SEGERA BERLALU, ANAK-ANAKKU. KARENA ITU AYAH MOHON-"
Taehyung: "Ayah."
Namjoon: "YA. PUTRA KEDUAKU YANG TAMPAN."
Taehyung: "Ananda inginkan segera ke toilet Ayah. Hendak pipis."
Seokjin (Narator sekaligus Sutradara): Cut!
.
.
.
.
.
(Seokjin as Narator)
Setelah menyerah akibat kepanasan di Tanah Abang, Keluarga Cemara akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan keluarga bangsawan saja. Kota Kasablanka Yang Agung.
Namun sesampainya di Kota Kasablanka Yang Agung, penderitaan rupanya belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi susahnya mencari tempat parkir mobil.
Jungkook: "AYAHHHHH"
Namjoon: "YA. PUTRA BUNGSUKU YANG JELITA."
Jungkook: "ANANDA TIDAK SANGGUP LAGI AYAH. ANANDA SUDAH TIDAK SANGGUP LAGI MENGHADAPI SEMUA INI. INI SEMUA TERLALU BERAT BAGI ANANDA."
Namjoon: "ANAKKU. BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI NAK. AYAH PASTI AKAN SEGERA MENDAPATKAN TEMPAT YANG PANTAS UNTUK MEMARKIR MOBIL INI."
Jimin: "AYAHHHHH"
Namjoon: "YA. PUTRA SULUNGKU YANG BAIK HATI."
Jimin: "ANANDAPUN SUDAH TAK SANGGUP LAGI AYAH. ANANDA TAK SANGGUP LAGI MENGHADAPI SEMUA INI. ANANDA INGINKAN TUK BUNUH DIRI SAJA."
Namjoon: "ANAKKU. BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI NAK. INI SEMUA PASTI AKAN BERLALU. BADAI PASTI AKAN SEGERA BERLALU, ANAK-ANAKKU. KARENA ITU AYAH MOHON-"
Taehyung: "Ayah."
Namjoon: "YA. PUTRA KEDUAKU YANG TAMPAN."
Taehyung: "Izinkan aku sang Putra Kedua Yang Agung menggantikanmu menyetir."
Namjoon: "JANGAN ANAKKU. JANGAN LAKUKAN ITU. AYAH BELUM MENGIZINKAN BAGI KITA SEMUA UNTUK MATI. JANGAN LAKUKAN, ANAKKU."
Taehyung: "Tapi Ayah...! Tidakkah kau melihat penderitaan kami? Tidakkah kau lihat wajah-wajah ini yang tadinya penuh cahaya sekarang tengah bermuram durja? Apa pantas kau berbicara seperti itu pada kami? Apa itu sikap bijaksanamu sebagai pemimpin negeri kami yang tercinta ini? Jika kau tak bisa menemukan jalan untuk kami, minggir dan berikan aku setir mobilnya KARENA KAU TIDAK PANTAS MENGENDARAI MOBIL INI!"
JEDARRRRR.
Kilatan petir yang dahsyat menghampiri seantero negeri bangsawan yang mengejutkan semua warga akibat murka sang putra kedua karena sang ayah yang tak mengizinkannya menggantikan menyetir. Ya... wajar saja, hal tersebut dikarenakan sang putra kedua belum bisa mengendarai mobil.
Lalu seketika datanglah cahaya yang terang benderang yang entah datang dari mana, menggantikan awan hitam yang mencekam.
.
.
.
.
.
Seokjin: (menghidupkan senter) "Wahai keluarga bangsawan Kim Namjoon yang terhormat... izinkanlah aku, malaikat utusan negeri Surga memberikanmu pertolongan."
Para bocah: "Loh Ka Seokjin bukannya Narator?"
Seokjin: "Oh iya ya."
Namjoon (Narator sekaligus Sutradara pengganti Seokjin secara tiba-tiba): "Cut! Cut!"
Para bocah: "Yaaah.. fail."
.
.
.
.
.
Dan akhirnya setelah satu jam berlalu, dengan peluh keringat dan tangis darah yang bersimbah, mereka akhirnya berhasil menemukan salah satu tempat parkir yang lowong, walaupun di bagian paling atas.
Dan mereka akhirnya hidup bahagia di sana.
.
.
.
.
.
(Sesampainya di Kokas)
"Hhh... Papa laper banget. Makan yuk, semua."
"Iyah, Jimin juga laper banget."
"Jungkook juga!"
"Taehyung juga."
"Seokjin hadir." "Dan laper juga."
"Sip. Mau makan dimana semua?" Ketua geng langsung siap-siap.
"Sushi Tei yuk, Sushi Tei!" Si bungsu langsung mengajukan idenya dengan semangat.
"Ayuk. Mau disana?"
"Tapi bosen." kata Jimin.
"Iya. Bosen." Taehyung mengiyakan.
Jungkook langsung cemberut. "Yaudah kalo pada bosen semua. Mau dimana nih?"
Namjoon tertawa kecil mengelus kepala si bungsu, lalu menoleh ke arah 'tamu'-nya. "Seokjin mau makan dimana?"
"Eh?"
"Iya nih. Ka Seokjin mau makan dimana?" tanya Jimin.
"Aku ngikut Ka Seokjin aja mau makan dimana," kata Taehyung.
"Yaudah. Aku juga ngikut Ka Seokjin. Hehe," si bungsu langsung senyum lagi.
"Oh... hahaha, hm... enaknya dimana ya..." Seokjin jadi malu. "Kalo Fish & Co. gimana?"
Semuanya serentak mengiyakan.
.
.
.
.
.
(Keluarga Cemara ngeliat-ngeliat isi Mall - Bahasa Gaul Ver.)
"Pah... beliin Kookie sepatu Pah... sepatu Kookie udah buluk banget... ya Pah, ya? Ya?" si bungsu lagi usaha ngerayu bapake pas masuk SOGO.
"Iya, iya. Kookie mau beli sepatu apa emangnya?"
"Yeee sayang Papa banget deh~ itu, Kookie mau beli yang ituuu" ujarnya sambil nunjuk sepatu Adidas model baru yang warna merah. Ayahnya manggut-manggut aja. Padahal sepatunya di rumah udah segunung.
"Yaudah, beli, beli."
Si bungsu langsung girang.
"Chim sama Tae ada yang mau dibeli, sayang?"
Jimin langsung angkat tangan. "Chim! Chim! Chim ada banget yang mau dibeli! Hehe. Tapi nanti. Ga disini."
"Dimana?"
"Di Etude heheheh" jawabnya sambil terkekeh lucu.
Seokjin langsung menyahut. "Heeeh alat makeup?"
"Ish Ka Seokjin ga usah nyebut produk banget dong," bisiknya malu. Seokjin cekikikan aja.
"Yaudah sabi nanti kita ke Etude. Tenang aja Chim."
"Heheyy acik aciik~" si sulung girang juga.
"Tae mau beli ini ya, Pah," kata si tengah tiba-tiba nunjukin ransel RipCurl warna hitam putih sama si bapake.
"Oiyaa tas Tae kemaren udah robek-robek ya," sang ayah mengingat lagi saat kejadian buku-buku yang berjatuhan dari tas Taehyung. Si tengah emang kalo ga penting-penting banget, kalo barangnya belom rusak ampe blong juga ga bakal beli gantinya karena ngabisin duit, makanya si Bapake kadang ga tega. "Ya gapapa, beli satu lagi aja sayang, buat ganti-gantian." "Sama kalo ada celana kamu udah robek bilang ya sama Papa, jangan diem-diem aja."
Taehyung manggut-manggut. Diambilnya lagi satu tas Nike warna biru laut tanpa ragu-ragu. Tadinya doi emang bingung mau milih yang mana. Hamdalah banget karena bapaknya nyuruh beli dua.
Dan dia juga langsung ke kounter bokser cowok. Kebetulan beberapa celananya ada yang robek.
"Nah, Seokjin mau beli apa? Nanti saya bayarin."
"Eh... saya kayanya liat-liat aja deh, Pak, gapapa. Hehe." Seokjin langsung menolak dengan halus.
"Udah gapapa, beli aja kalo ada yang mau dibeli." Namjoon megang pinggangnya, maksudnya biar dorong dia nyari barangnya. (Jangan ge-er dulu neh pemirsa.)
"Yah, tapi kan gaenak atuh, Pak."
"Udaah gapapa gausah sok-sok ga enakan. Anggep aja pacar sendiri."
"Eh... bisa aja nih si Bapak."
"Hehe. Makanya, udah kamu beli aja. Selow lah sama saya. Oke." Namjoon meyakinkan dia dengan nge-wink. Seokjin cekikik geli aja liatnya.
"Iya deh Pak kalo gitu. Makasih ya, Pak."
(Trus akhirnya Seokjin dibeliin buku sama doi. Buku masak. Sama celemek warna pink.)
.
.
.
.
.
.
.
#
"Assalamualaikum," sahut Namjoon sesampainya di rumah.
"Waalaikumussalam," jawab Seokjin diikuti oleh ketiga anak laki-laki muridnya.
"Hhh... cape banget." Trio kembar tapi beda itu langsung menghempaskan tubuh di kasur masing-masing sehabis pulang dari jalan-jalan, melanjutkan tidur yang tertunda. Seokjin kembali duduk di sofa. Tadinya rencananya dia mau langsung pulang ke rumah, tapi dilarang oleh Namjoon. Alasannya karena dia sudah janji akan meminjamkan Seokjin komik Kurobas-nya.
Berikut di bawah ini ulasan flashback-nya.
.
.
.
(Tadi pas di mobil)
.
.
.
Posisi: Namjoon di depan di kursi supir. Seokjin di sebelahnya. Ketiga bocahnya sudah tidur di baris tengah. (Posisi yang sama dengan posisi mereka pergi tadi.)
Seokjin: "Ee... Pak, nanti saya turunin di simpang tiga Margonda aja ya Pak, yang sebelah rumah sakit."
Namjoon: "Udah gapapa, saya anterin kamu sampe rumah."
Seokjin: "Gapapa Pak gausah, hehe. Nanti Bapaknya repot lagi. Rumah saya kan banyak kelok-keloknya gitu, Pak."
Namjoon: "Gapapa lah, nanti tunjukin aja dimananya."
Seokjin: "Bener nih, Pak?"
Namjoon: "Iya, bener. Kamu ga usah malu-malu lah. Dibilang selow aja."
Seokjin: "Hehe. Yaudah deh kalo gitu. Makasih banyak sebelumnya, Pak."
Namjoon: "Nanti aja deh makasihnya. Kan belum sampe."
Seokjin: "Oh gitu ya, Pak."
Namjoon: "Iya."
Seokjin: "Oh iya. Bapak emang udah tahu dimana rumah saya?"
Namjoon: "Nggak. Makanya nanti saya minta tunjukin sama kamu."
.
.
.
(Ceritanya udah tinggal belok kanan mau masuk ke komplek perumahan Seokjin)
Namjoon: "Oh iya hampir lupa. Saya kan janji mau pinjemin kamu komik Kurobas."
Seokjin: "Oh iya ya, Pak. Kapan-kapan aja kali ya. Bentar lagi nyampe rumah saya soalnya. Hehe."
Namjoon: "Gapapalah. Kamu nginep rumah saya aja kalo nggak." (Langsung muter balik biar Seokjin ngga bisa ngelawan lagi.)
Seokjin: "Eeh... boleh nih, Pak?" (Mau bilang 'nanti aja' tapi udah keduluan diputer balik mobilnya.)
Namjoon: "Bolehlaah. Nanti kamu pake baju saya aja. Muat kok. Langsing 'kan."
Seokjin: "Aduh si Bapak... sensitif loh itu."
Namjoon: "Ooh... haha, sensitif ya."
Seokjin: "Iya Pak."
Namjoon: "Yaudah nih, fix ya, nginep tempat saya. Udah gabisa muter balik lagi nih." (Namjoon alasan)
Seokjin: (Nambah ga enak tapi lebih ga enak lagi buat nolak) "Oh... iya... yaudah deh Pak. Makasih banyak ya, Pak... jadi nggak enak sendiri nih saya."
Namjoon: (Ketawa kzl) "Kamu bikin saya gemes deh. Gapapalah, selow aja. Seriusan."
Seokjin: (Nyerah) "Hahahah iya deh Pak, iya. Saya serius kok tapi makasihnya."
Namjoon: "Iya, saya juga serius pengen ngajakin kamu nginep di rumah saya."
Namjoon: (Buru-buru menambahkan) "Biar saya ada temen gitu, sekali-sekali."
.
.
.
(Flashback selesai)
.
.
.
.
.
(Rumah Keluarga Cemara, ruang kerja Namjoon - Bahasa Suka-suka Ver.)
"Nih."
Namjoon menyerahkan sejumlah komik Kurobasnya dari volume awal sampai yang terakhir diterbitkan. Lengkap.
"Wuaah banyak ya koleksi Bapak." Seokjin menatapnya takjub. Dilihatnya pula lemari di belakang Namjoon yang rupanya merupakan lemari koleksi komiknya.
Mata Seokjin berbinar. Namjoon cekikikan. Seneng banget kayak lebaran liatin tumpukan komik.
"Kamu mau pinjem apalagi? Tinggal ambil aja dari lemari saya." Namjoon dengan senang hati menawarkan. "Yah, ini juga belum seberapa sih," ujarnya lagi dengan niat agak menyombongkan (agak).
Seokjin cekikikan lagi. Cekikikan mulu.
"Saya sebenarnya rada heran kenapa malah Bapak gitu ya yang koleksi kaya begini, bukan anak-anaknya gitu."
"Ya kamu juga kenapa masih suka yang kaya begini?"
"Ya... karena suka, Pak. Hehe."
"Sama dong berarti. Saya juga suka. Ga ada masalah 'kan?"
"Ga ada sih. Hehe." "Malah saya seneng ada orang kaya saya. Udah tua tapi masih seneng kaya begini."
Namjoon manggut-manggut sambil nepuk-nepuk bahu Seokjin. "Iya. Makanya kamu tenang aja. Kita ini senasib sepenanggungan."
"Hehe. Bisa aja nih si Bapak."
"Sabi dong." Ujarnya tersenyum komikal. "Btw mau sekalian DVD-nya ga?"
Seokjin langsung idup radar pas dibilangin DVD. Cuman ya biarin aja deh, ditahan dulu pengennya. Abisin komik dulu. Walau pun udah lama banget pengen nontonin DVD-nya Kurobas. Walau pun udah berkali-kali nonton di internet. Udah di download juga.
Beda sensasi kali ya. Namanya juga fan. (For Readers Info, di Kurobas Seokjin biasnya Midorima.)
"Gapapa Pak, komiknya aja. Hehe. Makasih banyak ya, Pak."
Namjoon manggut-manggut aja. Yaudalah, seseneng Seokjin aja.
.
.
.
.
.
(Namjoon & Seokjin, di kamar Namjoon)
Ringkasan: Ceritanya Seokjin jadinya bobo di kamar Namjoon, gara-gara ga ada tempat lagi. Sebenernya sih tadinya Seokjin maunya tidur sebelah Jimin mumpung dia tidur sendiri dan ada kasur satu lagi di bawahnya. Cuman ya itu. Kamarnya udah dikunci. Dan Namjoon langsung gercep nyuruh Seokjin biar tidur di kamarnya aja. Modus gitu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui ibarat peribahasa.
Jadilah si Seokjin malu-malu kucing nge-iya-iya-in aja.
Trus dia pake baju dan celananya Namjoon. Yang wangi cowok banget. Wangi Namjoon banget (sengaja diwangiin dulu barusan tanpa sepengetahuan Seokjin). Yang ukurannya dua kali ukuran badan dia. Sedikit ga nyangka kalo dia ternyata bisa (keliatan) kurus juga.
Dan yang jelas, dia nambah malu-malu kucing.
Trus bobonya sebelahan sama si Namjoon di kasur gede muatan dua orang. Malu-malu kucingnya jadi luar biasa.
Trus sekarang Namjoonnya udah tidur. Tapi Seokjin belom. Cuma bisa doa aja semoga hatinya dikuatkan sampe besok.
Bingung sih kenapa dia bisa jadi malu banget kalo udah sama Namjoon.
.
.
.
.
.
Hamdalah, akhirnya sampai besok pagi hati Seokjin dikuatkan oleh Allah swt. Dia tetep bisa tidur nyenyak. Dia bangun lebih dulu daripada Namjoon. Jadi dia ga usah ngerepotin Namjoon lagi.
Dan ga perlu ngerasa deg-degan lebih lama lagi.
Seokjin bersyukur banget. Lega banget.
Walaupun ujung-ujungnya dia tetep nungguin Namjoon bangun. Bikinin sarapan. Trus udah siap banget mo dianter balik ke rumah.
Tau-taunya Namjoon niatan nganter dia malem Senen aja. Alasannya karena mager.
Seokjin pasrah aja.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Tadi pagi, pas Seokjin lagi masak dan Namjoon udah bangun - Bahasa Gaul Ver.) (kebawah-bawahnya udah bahasa gaul semua keknya)
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," Seokjin menjawab dari arah dapur, dengan kostum celemek pink, lagi ngiris-ngirisin bawang segala macem. Yang tadi ngasih salam si Namjoon btw. Abis lari pagi gitu dia.
"Weeee masak apa neh," Namjoon langsung mampir ke dapur dengan badan keringetan. Untung udah lepas sepatu. Trus Seokjin langsung malu-malu.
"Masak nasi goreng aja, Pak."
"Ooooooooooo." Namjoon manggut-manggut sambil ngintip dari belakang Seokjin.
Trus kuping Seokjin langsung merah.
"Jadi ga sabar pengin icip-icip," kata si Bapak. "Tar aja deh, mandi dulu, ga enak bau ketek. Ya ga, Jin. Hehe."
Si bapake berniat sok akrab panggil-panggil 'Jin'. Seokjinnya sih cekikikan aja sambil manggut-manggut.
.
.
.
.
.
(Setelah Namjoon udah mandi, udah masak nasi goreng)
"Enak banget," komentar Namjoon. Belum dicicipin padahal. Tapi udah ngambil porsi seukuran kuli panggul sih.
"Hehe. Bisa aja si Bapak (trademark Seokjin). 'Kan belum diicip."
Setelahnya si Namjoon menyendokkan sesuap dalam mulutnya. Trus manggut-manggut.
"Ini terasa sekali bumbunya pemirsa. Rasa udangnya, kecapnya, dan garamnya menyatu menjadi harmoni yang memanjakan lidah. Maknyuss," komentarnya pake-pake gaya Bondan Prakoso segala, cuman dia lebih lebay lagi. Eh, Bondan... apa sih. Lupa. Pokonya Pa Bondan yang komentator masak itu deh.
Seokjin udah yang ketawa aja ngeliat kelakuan si Bapak kalo lagi waras.
"Btw yang lain pada kemana nih, Pak?" Seokjin merujuk kepada tiga bocah Cemara.
Namjoon sok mikir. "Apa ya. Nonton konser kayanya? Iya deng. Tadi si Tae bilangnya gitu."
Seokjin manggut-manggut. Trus diem. Mikir.
Nonton konser... lama dong.
Belom ramenya. Belom ngantrinya. Belom nunggu di venue-nya.
Trus... bedua aja nih? Lagi?
Seokjin sambil ngunyah sambil pengen nelen ludah.
Ampe ga sadar kalo diliatin sama Namjoon.
.
.
.
.
.
"Hei."
Seokjin menoleh dengan tampang agak kaget dikit. "Eh? Iya, Pak?"
"Kamu kok kayanya tegang banget." "Kenapa?" Namjoon ngeliatin dia dengan tampang penuh selidik.
Seokjin langsung gugup. "Eh... siapa yang tegang, Pak? Nggak kok. Hehehe." Geleng-gelengin kepala.
Namjoon masih aja ngeliatin dia. Seokjin nunduk aja.
"Takut ya sama saya?"
Deg. Seokjin antara pengen ketawa sama nggak enak.
Takut... bisa jadi sih.
Tapi... bukan takut juga.
Duh gimana ya jelasinnya.
Sebenernya bukan karena Namjoonnya nyeremin ato apa. Yah, kayak yang udah dibilangin tadi. Seokjin tuh entah kenapa kalo sama Namjoon jadi ngerasanya maluuu banget. Jadi salah tingkah sendiri gitu.
Entahlah. Padahal sebelumnya ga gini-gini banget loh. Kenapa ya. Dari kapan ya.
Dari pas di mobil kemaren itu apa ya? Apa pas kapan?
Gatau deh tiba-tiba banget pokoknya.
Duh kenapa sih. Heran loh.
"Nggak kok Pak, biasa aja. Masak takut sih. Hehe."
Seokjin kasih dia senyum meyakinkan walau masih malu-malu. Namjoon masih aja ngeliatin. Abis itu manggut-manggut. Berasa ngerti gitu.
"Tenang aja. Saya ga bakal macem-macemin kamu kok."
Dibilangin gitu, Seokjin nambah gugup. "I- iya, Pak."
"Sebelum waktunya. Hehe."
"Eh?"
"Nggak, saya ngga ngomong apa-apa kok." Namjoon berangkat dari tempat duduk abis ngelap bibir, udah selesai makan. "Boleh saya tinggalin bentar ga? Mo ke warung beli jajan."
"Eh? Oh iya Pak, boleh."
"Tenang aja. Saya bentar doang kok." Namjoon kasih dia senyum.
Kuping Seokjin jadi merah lagi.
"Iya Pak," katanya sambil bales senyum.
.
.
.
.
.
Abis itu seharian si Namjoon sama Seokjin duduk-duduk aja di ruang tamu. Ngobrol-ngobrol. Banyak lah yang diobrolin. Sekali-sekali Namjoon ngelawak juga walo kadang garing. Cuman karena gayanya emang kocak, Seokjin jadi ketawa-ketawa aja.
Abis itu deg-degan Seokjin langsung ilang. Dia ikutan ngelawak juga.
Heran yah.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin, ceritanya Seokjin udah balik ke rumah - LINE Chatroom Ver. - yang cetak miring omongannya Namjoon)
'Assalamualaikum saudara Seokjin.'
Seokjin sempet ketawa kecil sebelom bales.
'Waalaikumussalam Pak Namjoon.'
'Gimana komiknya. Seru ngga.'
'Iya Pak, seru banget. Terimakasih pinjamannya.'
'Kamu kok masih Pak Pak sih. Udah dibilang nyantai keles.'
'Oh iya, maaf lupa.'
'Coba panggil nama saya.'
'Ya?'
'Panggil nama saya.'
'Panggil maksudnya nelpon apa manggil nama tiga kali di kaca kaya di film-film itu Pak?'
'Tuh kan, Pak lagi. Panggil aja nama saya disini.'
'Jangan kayak yang di film-film. Saya gak serem kok.'
'Oiya, maaf... anu... Namjoon.'
'Aduh ga biasa Pak wkwk gimana ya'
'Nah itu iya gapapa. Namjoon aja.'
'Emang gimana banget ya'
'Iya... Namjoon... aduh haha gimana banget gitu.'
'Yaudah biasain aja, gausah malu-malu'
'Kalo 'anda' aja gimana'
'Gak. Gak mau anda anda. Aku bukan merek sendal'
'...itu kayaknya Ando, Pak.'
'Ya pokoknya gausah Anda, gausah Ando, gausah Pak. Namjoon aja titik. Gapake koma, gapake lama.'
'Oke deh. Namjoon.'
'Iya. Gitu.'
'Beneran nih Pak, gapapa?'
'Kamu mau saya kurangin gaji apa dikutuk jadi kodok selama-lamanya?'
'Oh iya kamu 'kan ga kerja sama saya ya.'
'Nah iya. Saya ga mau dua-duanya sih... Joon.'
'Joon wkwk lucu juga'
'Jin dan Joon'
'Sabi juga'
'Ya... suka-suka Namjoon lah.'
.
.
.
.
.
.
.
#
(Iklan)
Cewek: Sayang
Cewek: Kamu udah makan?
Cowok: Belum
Cowok: Kamu udah makan?
Cewek: Belum
Cowok: Makanlah
Cewek: Nanti aja, belum laper
Cewek: Kamu duluan aja makannya
Cowok: Kamu duluan aja, nanti sakit
Cewek: Ih bandel
Cewek: Udah kamu aja duluan
Cowok: Kamu aja
Cewek: Kamuu
Cowok: Kamu
Cewek: Ih kamu ajaaa
Cowok: Kamu aja
Cewek: Ihhh kamu ga? Kamu ga?
Lalu mereka berdua meninggal.
(Courtesy of anonymous)
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jimin dan sohib di kelas - Naskah Drama Ver.)
Min: "Duh, hari ini deg-degan banget ga sih, dibagiin UTS kemaren?"
Jia: "Yeaaa lebay."
Fei: "Gue sih deg-degan."
Suzy: "Sama. Gue juga."
Min: "Professoressa Jimin kayanya anteng-anteng aja nih. Seratus ni kayanya."
Jimin: "Ih apaan. Gatau nih. Gue kemaren banyak salah deh kayanya. Au ah, ga pede."
Fei: "Hm... sok-sok ga pede taunya perfect."
Jimin: "Yeee. W sih aminin aja lah."
Jia: " Btw lu kemaren katenye nonton konsernya Ada Band ye?"
Min: "Ha demi apa? Dih lu sinajong kaga bilang-bilang yeee. Tumben kaga ngaplot di Path."
(Maklum. Ada Band di sini kek emang yang lagi ngehitz gitu.)
Jimin: (Senyum-senyum simpul) "Hehehehehe"
Langsung dinyinyirin lah si Jimin ama geng gosipnye.
.
.
.
.
.
Akhirnya tibalah saat-saat pembagian nilai UTS Kimia yang lama dinanti-nantikan. Pasalnya kabar-kabarnya sih buat dapet 70 aja susahnya minta ampun sama si ibu-nye. Mesti sujud bawah telapak kaki dulu kali. Dapet 62,1 aja keknya udah bangga banget gitu. Asal ga remed aja. KKM-nya 62 soalnya.
Udah nih. Ceritanya lagi dipanggil semua maju ke depan buat ambil nilainya.
"Mark Tuan."
"Im Jaebum."
"Park Jinyoung."
"..."
Jimin deg-degan. Ampe udah ga kedenger lagi ibunya manggil siapa.
"Park Jimin."
DEG! Jantung Jimin langsung kelojotan. Pelan-pelan bangkit dari kursi. Si ibu-nya udah ngeliatin dengan tatapan misterius di balik kacamata Harry Potter-nya. Jimin jalan pelan-pelan aja kek Putri Solo.
Sesampainya di meja guru, diambilnya kertas ujiannya. Jalan pelan-pelan lagi balik ke kursinya. Duduk tertib.
Lalu pelan-pelan dilihatnya kertasnya. Sambil nutup satu matanya pake tangan. Mulai ngintip. Tepatnya di bagian kanan atas, di tempat dimana nilai tertulis.
Bismillah. Bismillah. Bis-
Jreng.
.
.
.
.
.
45.
Hah.
Apa.
A. P. A.
45?
Ah masa? 95 kali.
Jimin buka mata yang satunya.
Tetep 45. Ga berubah.
Dimajuinnya bener-bener matanya di kertas.
Tetep 45 yang jelas-jelas terlihat. Ga berubah jadi 95.
Mampus.
Kurang ajar. Gue merasa dipermainkan.
Nilai kok gini banget?
Biasanya Jimin mayan bisa ngerjain. Biasanya Jimin selalu zona aman. Biasnaya Jimin ga pernah remed. Biasanya Jimin...
Jimin berasa pengen nangis. Segalanya mendadak jadi kaya drama.
.
.
.
.
.
Hhh... keknya gara-gara latihan dance deh nilai kek begini.
Jimin manyun.
Manyunnya jelek. Sampe ga sadar difoto sama geng gosip.
Tiba-tiba dia kepikiran sesuatu.
Apa... les aja ya ma Ka Seokjin?
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jimin di sekolah, lagi nelpon Bapaknya - omongannya Namjoon dicetak miring)
"Halo, Pah?"
"Halo... Chim?"
"Lagi apa, Pah?"
"Lagi ngopi-ngopi cantik aja nih di kantor. Kenapa?"
"Lagi ga sibuk 'kan? Hehe."
"Ngga kok. Nanti sibuknya. Hehe. Kenapa sayang?"
"Ini Pah, kayanya Chim mau les juga deh sama Ka Seokjin."
"Ooo boleh banget." "Kenapa tiba-tiba mau les nih?"
"Ih Papa ga mau anaknya pinter apa?"
"Oh iya iya. Bener juga. Biar pinter ya anak Papa semua." "Kirain Chim abis kesantet siapa gitu kan."
"Ih kok serem sih mainnya santet-santetan?"
"Emang serem ya?"
"Serem tauk."
"Oo trus apa dong yang ga serem?"
"Iih udah ah Papa, Chim mau ngomong gitu aja. Daah!"
"Oo gitu aja. Yaudah deh. Dadah~"
"Daah Papa~"
"Eh, bentar, bentar, Chim."
"Eh, napa Pa?"
"Iiih." "Dadah."
"Iiih apaan si Papa?"
"Abis kamu 'iih iih' mulu dari tadi."
"Ih dasar ga jelas."
"Tuh kan ih lagi."
"Iih yaudah deh, udah nih."
"Tuh masih pake iih."
"I- ehm, ehm." "Dah. Udah nih. Udah yah. Daah Papa~"
"Sip. Dadah Chim~"
.
.
.
.
.
Jimin's LINE.
You have a new message!
.
.
.
.
.
From: Papa
'Iiih.'
"Iiih apaan banget sih si Papa?"
.
.
.
.
.
.
.
#
(abis telponan sama Jimin, Namjoon kepikiran buat nelpon Seokjin - pokoknya yang Namjoon dicetak miring aja ya)
"Halo?"
"Halo, saudara Seokjin."
"Oh, si Bapak. Ada apa ya, Pak?" Dalam hati:Tumben nih ketua geng nelpon.
"Yah, lupa lagi nih dia."
"Eh, apanya, Pak?
"'Kan udah dibilangin panggil nama aja."
"Oh..." Oh iya ya. "Iya ya Pak, hehe. Anu... Namjoon."
Tring. Kuping Seokjin merah lagi.
"Hehe. Lagi sibuk ga?"
"Em... nggak kok. Ini lagi makan siang."
"Ooh... ganggu ga saya nelpon?"
"Ngga kok... Namjoon."
"Ehey. Malu ya."
"Hah? Hahaha... nggak kok." (ketawa ngga enak.)
"Eheeeey."
"Eeeh... apa coba ehey ehey."
.
.
.
.
.
"Btw sejak kapan sih kamu jadi guru les buat anak-anak-anak?"
"Loh, lupa ya? Kan kamu sendiri yang minta ke aku lewat temen."
"Oh iya, udah tiga bulan ya."
"Iya... Namjoon."
"Hayo. Masih ragu-ragu gitu manggilnya."
"Iya gimana ya... abisnya emang ga biasa aja gitu..."
"Biasain dong."
"Hm... oke oke."
"Ato sebut nama saya dalem mimpi juga gapapa."
"Haha... bisa aja nih."
"Bisa dong."
.
.
.
.
.
Trus lanjut ngomongin yang ga penting. Dari iseng jadi keasikan. Ampe Seokjin lupa ngabisin makan siangnya.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Iklan 2)
Cewek: Sayang
Cewek: Kamu udah makan?
Cowok: Udah, ini lagi makan
Cowok: Sama mantan aku
Cowok: Hehe
Cewek: Loh?
Cewek: Kok bisa-bisanya makan ama mantan?!
Cowok: Ya mending dia beneran ngajakin aku makan, daripada kamu cuma nanya udah makan apa belum?
(Courtesy of dagelan (et) instagram))
.
.
.
.
.
.
.
#
Setelah beberapa bulan berlalu, Namjoon dan Seokjin makin deket kek wese sama sikatnya. Makin sering kontak-kontakan. Ga cuma lewat LINE, tapi udah telpon-telponan juga. Sering nge-date bedua. Kek si Namjoon ama Seokjin tuh udah sama-sama nyaman aja. Hobinya sama, kesenengannya juga banyak yang sama. Sifatnya juga ada bebrrapa yang sama. Pokonya emang kek udah senasib sepenanggungan lah. Ya ngga sih. Yang jelas udah ngerasa klop aja. Dua-duanya juga walo sibuk tetep sabi aja kalo mau jalan mau kemana. Jadi deh.
Awalnya sih si Namjoon yang selalu inisiatif, tapi lama kelamaan Seokjin juga kadang-kadang yang duluan nge-chat, yang duluan nelpon. Yang duluan ngajakin jalan.
Dan dia udah ga malu-malu kucing lagi sama Namjoon. Udah beneran nganggep temen akrab. Udah ngerti busuk-busuknya, waras-warasnya Namjoon gimana.
Belom ada sih pihak-pihak lain di sekitar yang curiga. Nganggepnya wajar aja. Koleganya di kantor nganggep si Namjoon punya temen baru gitu. Secara dia kan emang tipikal bos-bos yang social butterfly gitu lah. Ya ngga se-social butterfly itu juga sih. Yah gitu lah pokonya.
Seokjin sendiri, koleganya di kampus ga ada yang curiga (Seokjin tu ceritanya profesinya dosen di kampus beken gitu. Kerjaannya jadi guru les anak-anaknya Namjoon tu sampingan aja.) Malah beberapa ada yang minta dijodohin sama si Namjoon. Mayan sama duda-duda ganteng tajir gitu, katanya. Seokjin kadang ketawa aja. Belum tau aja dia.
Trus sekarang, ceritanya si Namjoon nge-chat Seokjin lagi. Padahal lagi sibuk.
Seokjin ceritanya lagi ngajar. Trus tiba-tiba hapenya geter-geter di saku.
LINE dari Namjoon.
'Hei.'
Selesai jelasin materi, Seokjin minta mahasiswanya kerjain tugasnya. Abis itu dia duduk maen hape balesin pesennya Namjoon.
.
.
.
.
.
'Hei.'
'Kenapa nih?'
'Gapapa. Kangen aja.'
Seokjin mesem-mesem. Biasa si Namjoon kalo iseng begini emang.
'Eaaa.'
'Eaaa.'
'Beneran kok tapi. Hehe.'
'Hemmm.'
'Kok hemmm?'
'Gapapa. Pengen hemmm aja.'
'Heee.'
'Kenapa heee?'
'Gapapa. Pengen heee aja.'
'Ooooo.'
'Kenapa ooooo?'
'Iya. Terus aja ampe lebaran nanya kek gitu.'
.
.
.
.
.
'Besok kamu ada waktu ga?'
'Hm... kayanya besok jam tiga sore lowong. Kenapa?'
'Jalan yuk. Bedua aja.'
''Kan biasanya emang bedua.'
'Tapi ini tuh emang beneran pengen bedua banget.'
'Ooh. Ada rasa menggebu-gebunya gitu ya.'
'Iya dong.'
'Hahaha boleh yuk. Mo kemana?'
'Terserah. Kamu maunya kemana?'
''Kan kamu yang ngajak. Hehe.'
'Gapapa. Aku pengen kamu yang nentuin.'
'Oh gitu... oke. Bentar aku mikir dulu mo kemana.'
'Iya. Jangan lama-lama mikirnya tapi.'
'Kenapa ga boleh lama-lama? Kepunan ya?'
'Iya kepunan. Kepunan banget.'
'Hahaha dasar.'
'Yaudah, kita jalan ke PIM aja lah kek biasa. Makan-makan aja.'
'Okeh. Eh bentar, ini aku nanya aja sih. Nanya aja ya.'
'Iya iya.'
'Emang kamu ga bosen ya?'
'Nggak lah. 'Kan sama kamu jalannya hehe. Gombal.'
'Eaaa. Oke deh. Besok ya.'
'Oke sip.'
'Mpe ketemu. See you.'
'C u'
'Dih singkat banget jawabnya.'
'Biarin hehe. Dadah.'
'Dadah~ (sticker bye)'
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin di PIM - Naskah Drama Ver.)
Seokjin: (senyum) "Hei."
Namjoon: (senyum) "Hei."
Seokjin: (narik kursi di depan Namjoon) "Udah lama?"
Namjoon: "Ngga kok, barusan aja."
Seokjin: (manggut-manggut) "Udah mesen?"
Namjoon: "Udah. Kamu juga udah aku pesenin."
Seokjin: "Eh iya?"
Namjoon: "Iya. Yang kaya biasa kan?"
Seokjin: "Iya hahaha. Udah hapal ya. Makasiih."
Namjoon: "Yoii."
Seokjin: "Oiyah. Trus, ada apa nih? Ada gosip apa?"
Namjoon: "Hemmmm... ngga kok. Cuman pengen ketemu aja."
Seokjin: (gaya nunjuk) "eeee..."
Namjoon: (ikutan) "eeee..."
.
.
.
.
.
Namjoon: "Betewe kamu tuh udah pernah pacaran belom sih?"
Seokjin: "Eeh... privasi yaaa."
Namjoon: "Ooh ga boleh nanya ya. Oke deh."
Seokjin: "Hihiyy langsung ngambek dia."
Namjoon: "Yeee yang ngambek siapa." (Padahal emang agak ngambek.)
Seokjin: "Hehe. 'Kan waktu itu aku udah pernah bilang belom pernah pacaran."
Namjoon: "Ooh... oh iya ya."
Seokjin: "Iya. Lupa ya."
Namjoon: "Iya. Haha. Sori ya."
Seokjin: "Huuu."
Namjoon: "Yaaa... bagus deh."
Seokjin: "Hm? Apanya bagus?"
Namjoon: "Bagus kalo kamu belom pernah pacaran.
Seokjin: "Ih kenapa emang?"
Namjoon: "Iya berarti aku ga perlu repot-repot cemburu sama mantan kamu. Orang ga ada. Tsaah."
Seokjin: "Eaaa mulai lagi dia."
Namjoon: "Hehe."
Seokjin: "Orang aku dari dulu malah pengen punya pacar. Tapi ga pernah kesampean hahaha."
Namjoon: "Yaudah yuk. Sama aku aja."
Seokjin: "Heeeee mulai lagi 'kan. 'Kan."
Namjoon: "Serius. Aku mau kok pacaran sama kamu."
Seokjin: "Iya tapi kalo aku gamau gimana?"
Namjoon pura-pura menangis. Seokjin ketawa aja.
.
.
.
.
.
(Namjoon & Seokjin lagi di jalan pulang)
Seokjin: "Betewe kamu main ke tempat aku dong sekali-sekali."
Namjoon: "Oh iya. Boleh-boleh. Aku belom pernah ya ke tempat kamu."
Seokjin: "Iya. Hehe. Kapan-kapan gitu."
Namjoon: "Sekarang aja gapapa. Nginep juga gapapa."
Seokjin: "Eeh? Besok emang ngga sibuk apa?"
Namjoon: "Ngga lah, selow. Nanti tunjukin aja jalannya ya."
Seokjin: "Ih beneran banget ni?"
Namjoon: "Iya beneran."
Seokjin: "Yeee nanti kalo baju aku gamuat di kamu gimana? Trus baju besok ngantor gimana?"
Namjoon: "Yaudah aku sih di rumah kamu pake kaos kutang ama bokser aja gapapa. Baju kantor besok mah santai, udah di mobil ini."
Seokjin: (ketawa bentar) "Yaudah. Bener nih ya."
Namjoon: "Iye. Bener."
.
.
.
.
.
(Namjoon & Seokjin udah sampe di apartemennya Seokjin) (ceritanya abis cuci kaki cuci tangan langsung nonton DVD bajakan The Avengers 2 bareng di tipi sambil ngemil) (Seokjinnya sih yang ngemil) (Sibuk ketawa-ketiwi) (Asik banget kek dunia milik berdua yang laen ngontrak) (Abis itu ngobrol lagi ampe sore) (Berasa besoknya gaada kerjaan)
.
.
.
.
.
(Malemnya)
"Masak aps neeeehhh."
Seokjin menoleh. "Masak aps yaaaaa."
Namjoon ngintip dari belakang abis ganti baju. "Weeee enak nih kayanya."
"Iya doong. Hehe. Siapa dulu yang masak."
"Siplaah, ditungguin ya mbak." Namjoon kemudian berjalan ke meja makan. "Ga pake lama ya mbak."
"Iya mas, tenang aja hahaha~"
"Oiya, ini kamu tinggalnya sendirian ya?" Namjoon bertanya sambil melihat sekeliling. Ga begitu banyak furnitur. Seadanya. Simpel. Tapi tetep enak dilihat.
"Iyah, sendirian aja kok." Seokjin menjawab sambil mengiris cabe.
"Ooo..." Namjoon manggut-manggut. "Berapaan nih perbulan?"
"Eh? Apa?" Seokjin lagi konsen ngiris cabe trus tiba-tiba-
"Aduh!"
"Eh? Kenapa?" Namjoon langsung buru-buru berangkat dari meja makan.
"Duh... haha, gapapa kok. Ke-seset dikit."
Namjoon langsung ngeliat jari Seokjin yang berdarah. Jari telunjuk. Tanpa komentar. Mukanya kek udah yang cemas banget gitu. Seokjin senyum-senyum aja.
"Gapapa kok... gausah gitu banget mukanya."
Namjoon pelan-pelan mengangkat tangannya ke bibirnya Menghisap jari Seokjin yang terluka. Ga pake ngomong.
Trus si Seokjin langsung kaget 'kan.
"Eh... udah gapapa kok, beneran..." ujarnya lagi gugup.
Tetep aja ga dilepas sama si Namjoon. Cuman diliatin doang Seokjinnya. Tanpa ngedip.
Lama juga lah diliatinnya.
Kek jalan dari Palembang ke Depok gitu naek angkot.
Seokjin digituin langsung lah mukanya merah cabe giling.
Ya gimana ga jadi salah tingkah coba.
"U- udah kok itu kayanya." Seokjin ga sabar pengen cepet-cepet selesai.
Syukur alhamdulillah akhirnya dilepasin sama Namjoon. Yang abis itu senyum ala pahlawan bertopeng.
"Udah kukasih jampi-jampi, tenang aja."
Walaupun senyum ala pahlawan bertopeng, tetep aja si Seokjin deg-degan.
"Makasih ya."
"Ya. Sama-sama."
Yah. Telenovela.
Telenovela dalam Realita.
.
.
.
.
.
(Pas mau bobo) (bobonya sebelahan) (di ruang tamu bentang seprei) (kasurnya Seokjin cuman muat satu orang soalnya) (padahal sih sabi ya)
Seokjin: "Beneran kamu pake itu aja?"
Namjoon: (hanya berkaoskan kutang dan bokser) "Iya gapapa. Adem kok, banyak angin. Hehe."
Swokjin: (antara kasian sama lucu ngeliatnya) (mo minjemim baju tapi ga ada yang muat) "Ga kedinginan apa?"
Namjoon: "Ngga kok. Ntar kalo kedinginan angetin di oven aja."
Seokjin: (ketawa) "Yaudah kalo kamu kedinginan nanti tarik aja selimutnya ya."
Namjoon: "Ga lah. Aku narik kamu aja ntar."
Seokjin: "Yeeee. Sempet-sempetnya. Apa mau aku ambilin sarung aja?"
Namjoon: "Hehe. Nggak ah, nanti kek Bajaj Bajuri."
Seokjin: "Hahaha, yaudah deh. Bobo ya."
Namjoon: "Eh, bentar dong, barengan aja bobonya."
Seokjin: "Ohh haha, yaudah yuk. Satu, dua, tiga." (Mejemin mata)
Namjoon: "Eh, bentar. Bobonya pegangan tangan aja."
Seokjin: "Iih apaan coba haha, udah ah, duluan ya." (tetep nge-iya-in pegangan tangan tapi)
Namjoon: (cengengesan)
.
.
.
.
.
(Besok paginya) (Namjoon & Seokjin berangkat bareng ke kantor masing-masing)
Namjoon: "Makasih ya udah diinepin semalem. Maap ngerepotin. Hehe."
Seokjin: (ngerapiin dasinya Namjoon) "Iya sama-sama. Gak ngerepotin kok. Hehe."
Seokjin: "Dah nih, dah rapi dasinya."
Namjoon: "Sip, makasih. Berasa istri beneran deh kamu."
Seokjin: (mencibir) "Hemm. Kemaren-kemaren pacar. Sekarang istri."
Namjoon: "Hehe. 'Kan sabi dua-duanya buat aku."
Seokjin: (masih mencibir) "Iya iya suka suka aja."
Namjoon: "Hehe. Malu ni ye."
Seokjin: "Yeee GR. Yang malu siapa.
Namjoon: "Ciee... oiya. Kamu 'kan tinggal sendiri nih. Nanti kalo sekiranya ada apa-apa ato gimana, hubungin aku aja. Okeh?"
Seokjin: "Iya, hehe tenang aja. Tengkyuh."
Namjoon: "Hhh... kek berasa cepet banget ga sih?"
Seokjin: "Apanya?"
Namjoon: (gaya sok imut) "Kan masih kangen."
Seokjin: (ketawa geli) "Apaa coba kamu tuh." (mukul bahu Namjoon pelan sambil geleng-geleng kepala)
Namjoon: "Serius kok." (Namjoon megang tangannya. Kek ga rela ngelepasin. Digoyang-goyangin tangannya. Lebay.)
Seokjin: (cengengesan) "Yaudah ntar nanti 'kan ketemu lagi."
Namjoon: "Kapan?"
Seokjin: "Yaaaa kapan aja sabi laah. Ih kek berasa ga bakal ketemu lagi aja."
Namjoon: (manyun) "Astagfirullah, jangan gitu ah."
Seokjin: "Hahaha, yaudah yuk, telat nih ntar."
Namjoon: "Yuks, yuks. Eh bentar, bentar. Biar aku bukain pintu kamu. Hehe."
Seokjin: "Yeaaa lebay."
.
.
.
.
.
.
.
#
Trus dua minggu berikutnya belum ketemu lagi.
Si Seokjin belum nge-chat nge-chat lagi.
Namjoon ngerasa kopong. Manyun seharian.
Ampe ga nyadar pas di kantor dipanggil-panggil.
"Pak."
"Pak."
"Pak Namjoon."
"Astagfirullahaladzim." Si Namjoon kaget. "Oh kamu Jongdae... duh ngagetin aja."
"Elah si Bapak orang udah dari tadi juga dipanggil-panggil," kata si 'belahan jiwa di kantor' ngeles. "Anu Pak, si Dedi tadi nelpon, katanya bla bla bla bla bla (urusan bisnis lah) gitu Pak, besok."
"Ooh, yaudah ntar bilangin si Jamal sama Jupri, jangan lupa bla bla bla bla bla biar besok udah ke- bla bla bla ya. Oke."
"Oke, Pak."
"Sip."
"Pak."
"Ya?"
Jongdae nengok kiri kanan, abis itu lagak orang bisik-bisik. "Bapak kenapa ngelamun mulu? Galau ya?"
Namjoon mencibir. "Sembarangan. Siapa yang ngelamun?"
"Yeee tadi dipanggil-panggil ngga denger."
"Ah, perasaan kamu aja kali."
Jongdae pasang tampang males. "Yaudah deh serah Bapak aja." "Kalo ada apa-apa bilang saya aja ya, Pak."
"Tsaah lagak kamu kek apa aja."
Jongdae cekikikan sambil berlalu.
Namjoon kemudian mengecek iPhone-nya.
Banyak notif. Tapi ngga ada satu pun dari Seokjin.
Zbl. Namjoon niupin poninya.
Hhhh kemana aja sih dia.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin belum ketemu lagi - LINE Chatroom Ver.)
'Uyyy kemana aja ga ngabarin.'
69 menit kemudian.
'Uyyy maaf baru respon. Tadi aku lagi nemenin orang Jepang di kantor.'
'Heee. Nemenin dalem rangka apa neh'
'Yeeee mulai deh dia. Ngga kok cuman ngenalin kampus aku aja.'
'Kenapa. Cemburu yah hihi'
'Hem. Tau aja.'
'Yeeee'
'Yeeee'
.
.
.
.
.
'Aku mau ketemu kamu.'
'Heeee dalam rangka apa nih.'
'Ketemu aja. Besok ya.'
'Ih tapi kalo besok gabisa hiksss mau ada acara kampuzz'
'Hemmmm sibuk mulu neh'
'Iya neh'
'Gabisa banget ya'
'Iyaaaa maaf :('
'Kenapa sih udah kangen banget emang?'
'Iya. Banget.'
':('
'Yaudah. Ntar snapchat aja yuk.'
'Gamau. Maunya ketemu.'
'Yeeee mama tuh sibuk, banyak kerjaan~ kamu ngertiin mama donggg'
'Abissss mama cibuk mulu. Kan Namjun mau mimik cucuu'
Namjoon nggak tahu kalo Seokjin lama ngebales gegara ngakak.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Akhirnya si Namjoon sama Seokjin ketemu lusanya, gegara si Namjoon kepunan)
Seokjin: (megang tangannya Namjoon) (digoyang-goyangin dikit) "Akhirnya ya setelah sekian lama."
Namjoon: (cengengesan) "Iya."
Seokjin: "Seneng banget mukanya kek lebaran."
Namjoon: "Hehe. Iya dong."
Seokjin: "Yuk, sekarang mo kemana?"
Namjoon: "Pasar Santa yuk. Banyak makanan. Ada jajanan jaman SD juga."
Seokjin: (langsung semangat gandeng Namjoon) "Oke fix kesana."
Namjoon: (ketawa) "Langsung idup ya radar denger makanan."
Seokjin: (Senyum lebar) "Langsung doong~ yuk, let's go!"
.
.
.
.
.
.
.
#
(Di rumah keluarga Cemara)
"Papa pulaaang~"
"Hemmmm Papa balik malem terus yaaaa hemmmmm~" si bungsu ngeledek pas bukain pintu.
"Hehe. Biasalah, sayang, kerjaan," jawab bapaknya masih masang senyum mesem sambil nyubitin pipi anaknya.
Si bungsu manggut-manggut aja. Paham si kalo bapaknya emang balik malem mulu. Cuman yang bikin aneh tu tiap kali pulang dia cengengesan mulu kerjaannya.
Tiap hari lagi.
Lama-lama curiga juga.
.
.
.
.
.
TINUT TINUT.
TINUT TINUT.
"Papaaaaaahhhh hapenya bunyi tuuuuuh~"
"Papah lagi mandi." Taehyung menjawab dari kamar. "Coba liatin aja dari siapa."
Jungkook mem-pause game-nya, bersusah payah berangkat dari sofa. Melihat panggilan masuk di iPhone ayahnya.
.
.
.
.
.
"Tadi ada panggilan masuk ya, sayang?"
Si Papah langsung ngampirin anaknya abis mandi, basah-basahan pake anduk. Jungkook noleh.
"Iya Pah, tadi ada telpon dari Ka Seokjin."
"Ooh, oke biarin aja." "Dia ngirim pesan di LINE ga?"
"Ngga."
"Yaudah deh, biar Papa kasi pesen ke dia dulu sini."
"Nanti Pah, Kookie mau kepo hape Papah. Udah lama gak kepoin. Hehe." Si bungsu jujur banget sama bapaknya.
"Ooh boleh, boleh." "Nanti kasitau aja ya kalo ada panggilan penting."
"Oke, Pah~"
Setelah melihat ayahnya berlalu buat ganti baju, si bungsu cekikikan. Mulai menginvasi rahasia terdalam iPhone sang ayah.
.
.
.
.
.
(Jungkook keterusan melihat isi chat Namjoon & Seokjin) (geli dikit ngeliat bagian yang agak mesra) (kebanyakan si bapake yang mancing) (ada juga si Kaka yang mancing) (Jungkook cekikikan geli) (Trus manggut-manggut pasang muka puas)
"Hmm~ panteeeees~"
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin - LINE Chatroom Ver. - yang dimiringin omongannya Namjoon)
'Hai, gadis.'
'Hai'
'Apaan gadis-gadis wkwk'
'Tadi ngapain nelpon?'
'Ngga, iseng aja miskol'
'Heee tumben'
'Kangen ya'
'Eaaa GR'
'Eaaa'
'Lagi ngapain nih'
'Lagi baca komik aja nih'
'Kamu?'
'Ooh komik apah'
'Aku lagi nge-chat aja ama pacar'
'Hmmmmmm siapa hmmmmm'
'Komik Attack on Titan'
'Serem banget ih Titannya atut'
'Eaaa GR'
'Serem yah'
'Sereman Titannya apa sereman aku'
'Hahahah apa siiii'
'Lebi serem kamu si'
'Hihihihi'
'Ih gitu ya'
'Ngambek ni'
'Eaaaa'
'Jangan ngambek sayang'
'Nanti ga mama jajanin loh'
'Hikss mama jahat'
'Ngatain aku kaya Titan'
'Ucucucucu anak mama cian'
'Hiks Namjun aduin loh nanti ke Ka Seto'
'Ehhhh ko mamah mau diaduin?'
'Hiksss Namjun jahat sama mamah'
'Yha kebalik dong'
'Jadi kamu yang nangis'
'Hahaha iya yah'
'Salah'
'Iya salah'
'Btw telpon aku lagi dong'
'Hemmm kamu aja deh yang telpon'
'Hehe'
'Kamu dong sekali-sekali'
'Ih tadi kan udah miskol'
'Ga mau miskol-miskol doang, maunya telpon'
'Tapi aku maunya miskol doang gimana dongz'
'Kalo ga mauz nelponz, nanti aku datenginz'
'Ah mazaz ziz'
'Iyaz, ati atiz loz'
'Pake z banget yah'
'Iya pake z banget'
'Ayo telpon'
'Cepetan'
'Hemm telpon ga yaa'
'Telpon ga telpon ga'
'Cium ni'
'Ehhh maen cium-cium aja'
'Ehhh ga boleh dicium ya kaka'
'Iyah ga boleh'
'Mahal buat dicium-cium'
'Kalo gitu bolehnya apa kaka'
'Disayang boleh ga'
'Disayangnya pake apah'
'Pake cinta ga'
'Iya dong'
'Cintaku sepenuhnya hanya untukmu'
'Eaaa nyanyi dia'
'Ga nyanyi lah, ungkapan dari hati kok'
'Eaaa dari hati banget?'
'Udah ah telpon napa'
'Hahahah iya iya kutelpon'
'Tunggu ya'
'Iya telpon cepetan'
'Iya iya ga cabalan anet'
'Cium ni'
'Bales cium ni'
'Heee genit ya'
'Udah, udah, kalo ga ditelpon segera aku cium beneran nanti'
'Hahahah iya iya, udah mo dipencet ni tombol ijo-nya'
'Angkat ya'
'Oke sayang'
'Lanjut di telpon ya'
'Iya udah angkat sana wkwk'
'Hehe iya iya'
.
.
.
.
.
.
.
#
(tiga bocah Cemara lagi les sama Ka Seokjin di rumah Cemara)
"Udah semua latihannya?"
"Udah nih Ka, periksain dumz."
"Okeh, aku liat dulu yaa." "Jungkook sama Jimin udah?"
Dua-duanya berbarengan menjawab: "Belom Ka, dikit lagi."
"Ayoooo udah tinggal 5 menit ni yaaa di stopwatch Kaka."
Dua-duanya berbarengan menjawab: "Ih apaan orang cuman disuruh ngerjain kok pake waktu segala?"
"Hehe nanti biar abis ini Kaka kasih hadiah siapa yang selese duluan."
"Lah itu si Tae udah selesai duluan dari tadi?" ujar Jimin.
"Oh iya ya hahaha yaudah fix berarti Tae yang menang yaa, yeee~"
Taehyung berseru dengan wajah datarnya. "Yeee~ apaan Ka hadiahnya?"
Seokjin merogoh tas. "Nih, Kaka bawain coklat Belgia dari temen Kaka~" Mata ketiganya langsung berbinar. Lalu kemudian Jimin dan Jungkook berbarengan berseru:
"I curaaang masa buat Taehyung doang? 'Kan ga dikasih tau siapa cepet ngerjain dia menang~!"
Seokjin cengengesan. "Iya kok emang buat kalian bertiga Kaka kasihnya. Iseng doang kok yang pake stopwatch tadi hehe~ silakan dimakan yaa."
Dua orang bocah itu langsung mengeroyok Seokjin dengan seruan, dan langsung makan juga coklatnya.
"Ka Seokjin nyebelinnya kek Papah banget ih," Jungkook ngomel sambil ngunyah, sekalian nyindir.
Seokjin cengengesan lagi.
.
.
.
.
.
"Papa pulaaang~"
Ketiga bocahnya berseru di tengah-tengah belajarnya.
"Ciee belajar niye," ujar sang ketua geng menghampiri anak-anaknya, matanya langsung mengerling ke arah Seokjin yang sempat menyapa.
"Halo, Pak."
Namjoon pasang senyum komikal. "Halo, saudara Seokjin."
Seokjin pengen ketawa tapi ditahan.
"Haaah mandi ah, gerah," kata si ketua geng kemudian.
"Tumben Pah, mandi," canda Taehyung.
"Eeee biasanya juga mandi 'kan."
Taehyung manggut-manggut aja. Emang bapaknya abis balik kantor selalu mandi sih.
"Duluan ya Papa." Namjoon kemudian berjalan melewati mereka, kemudian nyentil Seokjin ala orang jahil pura-pura gatau. Yang disentil cuman senyum aja, pengen bales sentilan tapi ya udahlah.
.
.
.
.
.
.
.
#
Penjelasan yang belum terjelaskan:
Jadi ceritanya 'kan Namjoon ama Seokjin udah sedeket wese ama sikatnya nih. Anak-anaknya juga lama kelamaan nyadar 'kan si bapaknya makin lengket ama guru lesnya, tapi mereka tetep cuek aja, karena nganggepnya kaya yaa wajar lah gitu deket ama guru les sukak ngobrol-ngobrol (kecuali si bungsu sih yang udah emang curiga dan ditambah lagi ngepoin bapaknya. Dan si bapaknya amazingly ganyadar gitu si bungsunya curiga, anteng-anteng aja walopun dikepoin), karena emang awalnya sih Namjoon ama Seokjin sebelum-sebelumnya tuh ga ngeliatin kedeketan mereka dengan anak-anaknya. Ngedate-ngedategitu-gitu tuh mana tau anak-anaknya. Tapiii, lama-lama si Namjoon udah mulai kasitau kalo dia lagi kemana-mana sama Seokjin. Tapi tetep aja (dua) orang anaknya ga curiga sih. Biasa aja.
Udah. Gitu aja dulu. Lanjut deh.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon dan si bungsu Cemara, Jungkook)
"Assalamualaikum~"
"Kumsalam~ dari mana, Pah? Tumben jam segini udah balik?"
"Iyah, tadi papa ngga ngantor, pergi sama Ka Seokjin, hehe." "Kamu emangnya belum tidur?"
(manggut-manggut denger nama 'Ka Seokjin') "Ngga, ini besok ada ulangan." "Butek banget, bahannya banyak gitu. Pusing pala berbi."
"Oh gitu. Bukan lepas pala berbi ya."
"Iya. Bisa juga luntur make up berbi."
"Hm. Apalagi ya." "Hilang otak berbi sabi juga."
"Iyah. Sabi abis."
"Hoho banyak ya. Emang hebat banget si berbi bisa macem-macem kelakuannya." "Yaudah kalo udah butek istirahat aja dulu, sayang. Jangan terlalu diforsir, nanti kecapekan. Ntar malah sakit lagi."
"Iya Pah, dikit lagi kok. Tanggung." (sambil nguap)
"Heeh ampe ngantuk ya." "Yaudah Papa temenin Kookie deh."
"Ish yang ada Papa gangguin aku lagi."
"Ish si Kookie mah jahat ama Papa."
"Biarin wek." "Udah Papa bobo aja. Bentar lagi Kookie juga selesai."
"Bener ni ga mau ditemenin?"
"Bener. Udah, hush, hush, bobo."
"Yaudah deh, Papa duluan yah."
"Iyah. Dadah, Papa." (lambai-lambai tangan)
(bales lambai-lambai) "Dah, sayang."
.
.
.
.
.
(jalan ke tangga) (lambai-lambai tangan) (senyum lebar) "Dah, Kookie."
(bales lambaian tangan bapaknya) "Dadah, Papa."
.
.
.
.
.
(udah nyampe lantai atas) "Kookie, Kookie."
(noleh ke atas) "Ya?"
(lambai tangan lagi sambil senyum lebar) "Dadah."
(mulai males) "Iya, iya, dadah."
.
.
.
.
.
(nongolin kepala dari balik pintu) "Kookie, Kookie."
(kzl) "Iii apa sih Papa? Udah bobo sana."
"Iya. Noleh dulu tapi, noleh."
"Gamau. Pasti dadah dadah gapenting lagi."
"Ngga, ngga. Ada yang mau Papa kasitau nih."
(noleh ke atas lagi, masih dengan tampang kzl) "Hm? Apaan?"
(senyum lebar) (lambai-lambai) "Dadah." (nutup pintu)
Si Kookie cuman bisa istigfar aja sama kelakuan bapaknya.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Seokjin di kantor)
"Jin."
Yang dipanggil menoleh sambil sibuk mengetik dokumen. "Ya?"
"Ada tamu tuh, lagi nunggu di luar."
"Siapa?"
"Gatau, ga nyebutin namanya, katanya sih temen SMA lu dulu."
"Ha? Siapa sih?"
"Auuk. Liat aja sono coba."
"Cewe apa cowo?"
"Cowo. Putih. Kacamata. Ganteng."
Seokjin mulai berpikir. "Cowo... putih... kacamata... ganteng..."
Lalu kemudian terbayang sosoknya di kepala.
"Oooh! Dia ya!"
Setelah itu dirinya langsung ngeloyor ke luar. Tak lupa berpamitan dan mengucapkan terima kasih dengan rekan kerjanya yang sudah memberitahu itu.
.
.
.
.
.
(Seokjin ketemuan ama temen SMA-nya - Bahasa Gaul Ver.)
"Hei."
Seokjin langsung riang gembira liat mukanya, langsung nubruk buat meluk. "Heeeei~!"
Yang dipeluk rada kaget dikit, tapi tetep bales meluk.
"Apa kabaaar?" abis itu Seokjin ngelepas pelukannya, seru sendiri. Sambil ngerapiin poni. "Yaampun udah lama banget ga sih... lagi ngapain kesini?"
"Ngga. Pengen ketemu aja, udah lama 'kan." "Gimana kabar?"
"Baiiik, lagi sibuk aja nih bikin soal UAS hehe. Kamu gimanaa? Baru pulang ya? Gilaa anak S3 Todai hawanya beda banget~"
Temennya cuma senyum tipis. "Ngga lah, biasa aja. Iya, kemaren baru pulang."
"Oo lagi libur yah?"
Temennya ngangguk. "Kamu juga denger-denger udah jadi wakaprodi beda banget hawanya," katanya sambil senyum lagi.
"Hehehe iya ya, makin gendut gitu ya maksudnyaa? Jahat 'kaaan..."
(ketawa kecil) "Eeeh? Kenapa nyambungnya ke gendut?" "Tapi iya sih. Keknya emang rada gendutan."
Seokjin cemberut. "Ih tu 'kaan :("
Temennya ketawa aja.
"Lagi sibuk bikin soal ya?" tanyanya.
"Iya sih, tapi gapapa kok bisa lanjut nanti di rumah hehe, ini kebetulan aja lagi di kampus sekalian nyelesein surat rekomendasi gituu."
"Ooh ngga ngajar?"
"Ngga, hari ini ngga ada jadwal hehe."
Temennya manggut-manggut. "Kalo gitu temenin ke toko buku mau nggak? Bentar aja sih, cuman mau nyari tentang self-development aja." "Sekalian jalan-jalan gitu lah, itung-itung reuni juga. Gimana?"
"Ooh gapapa deh, boleh yuk~ nanti aku izin sama kaprodi dulu yah."
"Sip. Aku tunggu di luar ya."
"Okee, tunggu yaa."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon, lagi pengen refreshing sendiri di kafe deket kantor) (mau ngajakin Seokjin keluar tapi dia katanya lagi sibuk)
(Namjoon duduk deket jendela)
(Namjoon mesen kopi sama cheesecake satu)
(Namjoon masang kacamata) (buka hape) (maen LINE POP)
(Namjoon balesin notif BBM sama WhatsApp)
(Pesenan dateng) (Namjoon minum kopi) (liat ke arah jendela)
...tiba-tiba.
.
.
.
.
.
(Suara hati Namjoon)
'Bentar.'
'Itu kok kaya Seokjin.'
'Seokjin bukan sih.'
'Loh.' 'Iya, si Seokjin.' 'Ngapain dia?'
'Loh.' 'Bareng cowok?'
'Hem. Katanya sibuk.'
'Loh.' 'Ngapain tuh mesra banget gandeng-gandengan?'
'Loh.' 'Kok ketawa-ketiwi?'
'Loh.'
'Loh.'
.
.
.
.
.
Abis itu Namjoon balik sambil cemberut. Sempet diliatin mbak-mbaknya. Karena nyaris ga bayar sih, langsung ngeloyor dari meja lewatin kasir gitu. Sama sekalian ngeliatin muka cemberut jeleknya juga. Jadi malu sendiri dia.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin, lagi telponan - yang dimiringin omongannya Seokjin (gantian, biasanya Namjoon))
"Aku pengen beliin kado buat temen aku deh."
"Hm? Kado apa?"
"Gatau nih. Antara pengen ngasih dia tas, kalo ga dompet." "Mau kasih sepatu juga sih, tapi takut ga pas ukurannya."
"Hmm. Temen kamu cowo apa cewe?"
"Cewe. Cantik loh."
"Hm. Terus kenapa kalo cantik?"
"Yaa ngomong aja. Hehe."
"Hm."
"Kok 'hmm hmm' aja dari tadi? Lelah ya?"
"Ngga... pengen 'hmm hmm' aja. Hehe."
"Hoooh." "Trus gimana yah, menurut kamu aku kasih dia kado apa?"
"Hmm... antara tas, dompet, sama sepatu ya."
"Iya." "Gini. Dia itu senengnya ngoleksi tas, tapi kemaren aku liat dompet dia udah agak... em... ini maap loh, aku ga ngatain."
"Iya, iya. Kenapa? Udah buluk dompetnya?"
"Iyaaa gitu deh, iya, buluk gitu. Nah tapi kemaren itu dia ngomong lagi pengen sepatu yang di Forever 21 katanya, yang model boots gitu. Oh iya, boots, aku lupa. Bukan sepatu ya."
"Lah boots bukannya sepatu ya?"
"Oh? Iya ya. Ya gitulah pokoknya ya." "Trus menurut kamu aku kasih dia kado apa?"
"Hmm... bentar, mikir." "Dia senengnya warna apa?"
"Ee... warna pink. Iya, warna pink. Biasalah, cewe 'kan rata-rata senengnya pink-pink gitu emang."
"Kamu bukannya juga seneng warna pink?"
"Iya sih. Tapi aku 'kan bukan cewe."
"Iya makanya."
"Iya. Kenapa emang?"
"Gapapa. Mo nge-iya makanya-in aja."
.
.
.
.
.
"Kalo menurut aku sih... diantara tiga itu mending kamu beliin dia dompet aja."
"Hmm. Kenapa tuh alasannya?"
"Karena 'kan kata kamu dia senengnya ngoleksi tas. Otomatis dia pasti banyak koleksi tas dong. Karena itu kedemenan dia, biarin aja dia nambah-nambahin koleksi tasnya sendiri. Lagian dia ngerti sendiri lah yang mana yang mau dia cari. Takutnya malah kamu juga ngasihin tasnya model yang udah ada di lemari dia 'kan. Trus, kalo kamu mau beliin sepatu, tadi kamu bilang takut ukurannya ga pas, 'kan. Nah, karena tadi kamu bilang dompetnya udah buluk, mending kamu beliin dia dompet aja. Gitu."
(Manggut-manggut) "Ooo iya iya. Dompet aja yah."
"Iya. Dompet warna pink."
"Okeh. Dompet warna pink. Sabi, sabi."
"Iya dong. Sabi banget 'kan idenya. Cemerlang."
"Iyah, cemerlang banget. Sip sip, tengs yaaa hehehe."
"Sip, sama sama."
"Oke deh~"
"Terus? Apalagi nih ceritanya?"
"Em... udah, gitu aja sih. Mau nanyain kado yang pas buat temen aja. Hehehe."
"Hm... gitu doang ni?"
"Iyaaa gitu ajaaa" "Emang kamu mau ngomong apa? (ngantisipasi biar Namjoon ga ngambek) Hayuk deh hayuk, lanjut."
"Bener ga ada mau ngomongin yang laen?"
"Iyaaa bener kok." "Lagi ga ada gosip nihh. Kamu dehhh mana gosipnya~"
"Hmm. Gitu ya."
"Iya." "Tuh 'kan 'hmm' lagi."
(ketawa kecil) "Gapapa, cuman 'hmm' doang, bener."
"Hem... beneran ni?"
"Iya, bener."
"Yaudah." "Kamu gantian dong kasih gosip, masa aku mulu."
"O iya ya. Aku belum kasi gosip lagi." "Ada sih gosip. Kecil-kecilan."
(excited) "Apa? Apa?"
(cengengesan) "Biasa, tentang kantor."
"Oooh, si Jongdae anak buah kamu itu lagi ya?"
"Iya. (ketawa) Biasalah, di-bully lagi ama supervisor."
(ketawa) "Abis dia lucu banget sihhh, gemes banget ama dia tuh emang."
"Hemmmm. Kesengsem neh ama Jongdae, kesengsem?"
"Iya, kesengsem. Jongdae 'kan unyuh. Hehehe." (niat maen-maen)
"Hmm. Gitu."
"Eyyy kamu kenapa sih? Lagi ada masalah ya?"
"Ngga, ngga kok. Ngga ada apa-apa."
"Abisan dari tadi kek 'hemm' mulu. Lagi bosen yah? Lagi ga mood?"
"Ngga kok biasa aja. Hehe."
"Ih boong. Ga percaya." "Kenapa sayang... bilang dong."
(langsung deg-degan dibilang sayang) "Ngga lah. Aku gapapa kok." "Cuman... yaaa agak capek dikit."
"Tuh 'kan cape 'kan. Ga bilang-bilang kalo cape." "Nganggu yah aku telpon?"
"Ngga... beneran kok, gapapa. Hehe. Tenang aja."
"Yaudah deh, kamu mending istirahat aja lah ya. Besok aja nanti kita ngomong lagi."
(langsung ga enak) "Ngga, gapapa kok kalo kamu mau ngomong lagi. 'Kan cuman cape dikit."
"Cape dikit kamu tuh kedengerannya banyak di kuping aku." "Udah ah besok aja lanjut lagi yah. Daaaah~ tengkyu ya sarannyaa"
"Yaudah deh. Daah."
.
.
.
.
.
.
.
#
Namjoon's LINE.
You have a new message!
From: Seokjin
- Besok aku datengin kamu dehh
- Langsung istirahat aja malem ini. Awas kalo begadang hem
- Ngga usah dibales pesannya yah, besok aja kalo udah baikan. Oke? ^^b
Namjoon menatap pesan tersebut agak lama. Banyak bayangan yang berkelibat di kepala. Kemudian tersenyum kecil.
Dan tidak langsung membalas pesannya. Langsung tidur nyenyak.
Huft. Q cedi.
.
.
.
.
.
.
.
# to be continued
