Daddy and His Beloved Triplets [ IV ] - Love's Coming II (FIN) ] •

[ series ; bahasa ; b x b ; bts ; namjoon ft. jimin, taehyung, jungkook ; namjin ; pg / k+ ]

Love has come. In its beautiful, welcoming way.

a/n: chapter terakhir petualangan cinta Namjoon & Seokjin (nangis)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Edisi Jimin di sekolah, bareng geng gosip - Naskah Drama Ver.)

Min: "Eh tau ga, si Jiyong katanya jadian ama anak baru yang dari Jepang itu, si Kiko?"

Fei: "Ha demi apa? Jiyong ketua kelas 2-B?"

Min: "Iya, tadi gue denger dari anak-anak kelasnya itu Jim (manggil Jimin), kelasnya ade lu, si Taehyung."

Jimin: "Ooo iya iya. Gue juga denger sih."

Min: "Gila ya sabi abis. Si Kiko 'kan anak pejabat apa gitu katanya. Kece lagi."

Jia: "Tapi ngga cocok ah. Jiyongnya 'kan gesrek gitu."

Fei: "Iya. Kenapa mau gitu ya ama kek Jiyong?"

Jimin: "Yee lu pade mah sirik aja si Jiyong dapet barang bagus. 'Kan kalo udah cinta beda ceritanya cuy."

Min: "Iya nih. Kita gosipin orang trus sendirinya gimane."

Jia: "Iya nih. Kapan ya ke-jombless-an ini berakhir."

Jimin: "Iya yah. Gue juga kapan ya mengakhiri kejombloan yang menyesakkan dada ini."

Fei: "Eee lu mah sekarang aje ngemeng kek gitu. 'Tar pas udah pacaran pengen jomblo lagi."

Jia: "Iya hahaha kek yang ngomong 'kan."

Fei: "Iye neh. (mulai galau) Udah sebulan neh kaga ada kabar."

Min: "Eaaa masa-masa jenuh e."

Fei: "Eee 'mbarangan lu. Auk nih tapi, w berasa pengen putus aja keknya."

Jimin: "Dih nape lu pengen putus aje?"

Fei: "Auk nih. Abis dianya kek... eh, bukan dianya sih. W juga. Kek... gimana ya. Kemaren-kemarenan tu kek berasa hambar aja. Ga ada yang mulai ngabarin, ga ada yang mulai nyapa, udah macem sebodo aja."

Jia: "Hemmmm penyakit LDR tuh gitu emang."

Fei: "Dan dianya tuh juga keknya w liat-liatin lagi deket gitu ama cewe laen di medsosnya."

Min: "Nahlooo."

Fei: "Entahlah. Tapi w nggak ngerasa yang gimana-gimana juga. Boam lah. Serah dia mau ngapain. Paling ntar kalo dia pulang deh, 'kan seminggu lagi. W bilang aja mau putus."

Jimin: (pukpukin) "Sabar e Fei."

Fei: "Iye. W mah senantiasa sabar selalu. Tinggal menunggu keputusan Tuhan yang terbaik."

Geng gosip: "Eaaaa. Keputusan buat putus ye."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Iklan)

A: Kami dari BNI , Rekening anda terpilih dapat cek 27jt, kode triplle cek anda (02599875) tlp (02130304066) / .

B: Saya ga punya rek BNI.. Adanya BRI, gimana?

A: Oh okey.

Kami dari BRI , Rekening anda terpilih dapat cek 27jt, kode triplle cek anda (02599875) tlp (02130304066).

(Courtesy of anonymous)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Seokjin di kantor) (ngetikin soal buat UAS) (lagi)

(Trus tiba-tiba hapenya bunyi)

.

.

.

.

.

LINE - You have a new message!

(Seokjin baca pesennya) (ngebales)

(Dateng lagi pesennya) (dibales lagi)

(Dateng lagi pesennya) (dibales lagi) (gitu terus sampe akhirnya pesennya bikin Seokjin konsen ngebacanya)

(Trus mukanya bingung)

(Trus mukanya merah)

(Trus bingung mau bales apa)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Namjoon & Seokjin lagi telponan - yang dimiringin omongannya Namjoon)

"Heyy, lagi sibuk ga?"

"Heyy, iya, lagi nganuin anuan nih. Kenapa?"

"Nanti bisa 'kan aku dateng tempat kamu?"

"Sabi laah, 'kan aku tinggal nunggu aja. Hehe."

"Oke deeh, seeyou~"

"Sipp~"

.

.

.

.

.

(Namjoon & Seokjin ketemuan) (di kafe deket kantor tempat Namjoon minum kopi hampir ga bayar kemaren, duduknya di sofa yang bisa nyender - Naskah Drama Ver.)

Seokjin: "Gimana? Udah segeran?"

Namjoon: (senyum) "Udah dong. 'Kan kalo kamu dateng langsung seger."

Seokjin: (ketawa) "Bagus deh kalo gitu."

Namjoon: (cengengesan) "Pesen dulu yuk."

Seokjin: "Yuk. Yang enak disini apa?"

.

.

.

.

.

Seokjin: "Aku lagi ada gosip banget nih kebetulan."

Namjoon: (langsung idup radar) (keinget yang kemaren) "Gosip apa neh? Kayanya seru."

Seokjin: "Hem. Seru ga ya."

Namjoon: (senyum misterius) "Seru keknya bau-baunya."

Seokjin: (ikutan senyum misterius) "Emang bau apa?"

Namjoon: "Bau ayam keefsi."

Seokjin: (cekikikan) "Bukan bau kasturi?"

Namjoon: "Hmm... kayanya campur bau menyan?"

Seokjin: (ketawa) "Udah, udah, cerita, cerita. Penasaran ga?"

Namjoon: (pasang pose serius) (masang radar lebar-lebar) "Oke, oke. Iya, penasaran banget nih."

Seokjin: (ikutan pasang pose serius) "Nah. Jadi gini ceritanya."

Seokjin: "Tadi itu aku dapet LINE dari temen kantor."

Namjoon: (dalem hati ngomong: 'ooh bukan yang kemaren nih') (matiin radar) "Hm. Terus?"

Seokjin: "Trus... dia bilang... 'lagi ngapain', gitu."

Namjoon: "Hm. Terus?"

Seokjin: "Terus...-"

Namjoon: "Eh, tunggu, tunggu."

Seokjin: "Iya, iya, kenapa?"

Namjoon: "Temen kantornya cewe apa cowo?"

Seokjin: "Cowo."

Namjoon: (mulai idupin radar lagi) (dalem ati ngomong: 'ooh keknya sesuatu lagi nih') "Oo. Lanjut. Terus?"

Seokjin: "Terus aku jawab 'lagi ngetikin soal UAS ni' gitu 'kan. Oh iya, si cowo ini tuh yang pernah aku bilangin ke kamu itu loh, yang sekarang lagi di Harvard, lagi ngebimbing mahasiswa yang ikut debat disana. Tau 'kan?"

Namjoon: "Hmm. Bentar. Lupa. Yang mana?"

Seokjin: "Itu loh, yang dosen Politik sekaligus Kepala apaa gitu di departemennya. Yang aku bilang dia itu tergolong temen kantor yang deket sama aku walopun kita ga satu departemen. Inget ga?"

Namjoon: (mikir lagi) (trus kebayang) "Ooh, iya iya, inget."

Seokjin: "Nah, iya, dia itu yang nge-LINE aku tadi."

Namjoon: "Tapi lupa namanya. Haha."

Seokjin: "Yah, yaudahlah pokonya yang itu lah ya. Trus... eh bentar, sampe mana tadi?"

Namjoon: "Ee... sampe yang kamu bilang kamu lagi ngetikin UAS."

Seokjin: "Oh iya. Trus dia bilang lagi 'kan 'ooh lagi sibuk ya, maaf ganggu' gitu. Trus aku jawab 'ngga kok ngga ganggu, selow hehe'. Trus dia bilang 'o gitu.'

Namjoon: "Hm. Terus?"

.

.

.

.

.

(Trus dijelasin lagi deh pesennya ngomongin apa aja, yang kebanyakan ga penting) (maksudnya ga nyampe ke intinya gitu)

.

.

.

.

.

(Nah, ini baru nyampe intinya)

Seokjin: "Ya gitu deh pokoknya. Dia katanya seminggu lagi pulang kesini."

Seokjin: "Trus ujung-ujungnya dia ngomong apa coba."

Namjoon: (radar idup lagi) "Apa?"

Seokjin: "Omongannya tuh yang bikin aku kaget gitu 'kan."

Namjoon: (radar terbuka lebar) "Hm. Ngomong apa dia?"

Seokjin: "Dia ngomong... ya gitu deh, iih malu tau ngomongnya. Pokonya bikin kaget aja tiba-tiba dia ngomong begitu."

Namjoon: (radar kembang kempis) "Yee ngomong aja kali, kenapa malu?"

Seokjin: "Ya abis dia tu ngomongnya kayak... (narik napas)"

Namjoon: (radar hampir meledak) "Kayak apa?"

Seokjin: "...kayak... yaa... dia ngomong sebenernya udah lama... em... (muka mulai merah) nyimpen perasaan gitu gitu deh."

Namjoon: (Radar menyusut perlahan) "Ooo. Terus? Ngajak pacaran?"

Seokjin: (narik napas) (ngomongnya pelan) "Lebih parah lagi."

Namjoon: (radar kembali ngembang sampe hampir meledak) (nada suara meninggi dikit) "Ha? Ngajak nikah?"

Seokjin: (nggeleng sambil senyum geli) "Nggalah. Nurun dikit dari nikah."

Namjoon: (radar kembali menyusut perlahan) "Ooo tunangan?"

(Seokjin ngangguk)

(Namjoon cuma manggut-manggut dengan muka donal bebek lagi males)

.

.

.

.

.

Seokjin: "Tuh, kamu aja kaget 'kan?"

Namjoon: "Ya aku 'kan kagetnya kalo dia ngajak kamu nikah."

Seokjin: "Ya sama aja tapi tetep kaget 'kan."

Namjoon: "Iya sih."

Seokjin: "Padahal tuh selama ini biasa aja sikapnya sama aku. Ga pernah yang gimana-gimana. Ga kaya kamu yang kerjaannya ngajakin pacaran trus manja-manjaan gitu."

Namjoon: "Ngga ah, aku ngga manja."

Seokjin: "Yeee apanya yang ga manja hahaha"

Seokjin: (gaya orang udah gatau lagi mo ngomong apa) "Hhh... sumpislah... ga pernah-pernahnya nyangka dia bakalan ngajak tunangan."

Seokjin: "Dan dia bilang nanti pas dia udah balik, kalo aku terima dia, katanya langsung mau dikenalin ke orang tuanya gitu-gitu cobak. Gila ga."

Namjoon: "Hm. Gila juga sih."

Seokjin: "Gila 'kan? Ih benerlah, aku tu ga ngerti banget kenapa dia bisa tiba-tiba kek gitu. Heran banget. (sambil gaya lebay ala orang cerita) Masalahnya dia tuh bener-bener kek ga ngasih-ngasih sinyal ato bilang apa gitu sebelumnya. Sumpah. Nih ya, kita tuh kaya temenan bener-bener kaya temenan biasa aja. Ngobrol kaya biasa, ngirim chat ato apa ya biasa aja, ga ada yang gimana gitu lah dari cara ngomong dia ato sikap dia. Trus tiba-tiba gini? Kek... dia ga salah orang 'kan? Kalopun ga salah, ya sukanya aja kapan cobak? Like, what on the earth... gitu 'kan?"

Namjoon: "Kamunya aja kali yang ganyadar."

Seokjin: "Ah masasi? Kok aku bisa ganyadar?"

Namjoon: "Yeee malah nanya. Kamu 'kan gitu emang. Jangankan ama dia, ama aku aja yang ngajak pacaran kamu ga mau-mau juga."

Seokjin: "Yeee terus apa hubungannya?"

.

.

.

.

.

Namjoon: "Trus? Kamu bilang apa jadinya ke dia?"

Seokjin: "Yah... aku minta maaf sama dia, kalo sekarang kayanya lagi ga bisa terikat hubungan gitu. Gitu deh."

Namjoon: "Oh gitu."

Seokjin: "Iya."

Namjoon: "Terus dia bilang apa?"

Seokjin: "Dia bilangnya 'ooh yaudah kalo gitu, maaf ya udah ngagetin tiba-tiba ngomong kayak gini' gitu.

Namjoon: "Ooh. Ngerti ya dia, bikin kamu kaget."

Seokjin: (ketawa kecil) "Iya tuh, ngerti dia."

Namjoon: "Dan kenapa alasannya kamu tolak dia?" (sekalian buat ngorek-ngorek)

Seokjin: "Ya gimana yah, kalo dia tiba-tiba ngomongnya gitu 'kan aku selain kaget ya gasiap juga dong, sementara aku juga dibayangin tuntutan kerja gitu 'kan, pasti ntar kalo mau membina keluarga 'kan, ea membina keluarga banget cie gitu, ya kek... yaa bakal agak keganggu lah fokusnya, terlepas dia udah mapan dan ganteng atau gimana-gimana. Lagian aku juga gatau dia orangnya kaya apa. Ntar yang ada dia malah gimana-gimana gitu 'kan nanti kalo aku maen terima aja. Bikin ga nyaman dan lain sebagainya, dan akhirnya putus. Dan putusnya gaenak. Berabe 'kan."

Seokjin: "Dan yah... gatau deh, aku sekarang emang lagi ga niat aja buat begitu-begitu sama dia. Ea, serem ya 'begitu-begitu'. Yah gitu lah pokonya."

Namjoon: "Ooo. Gitu yah."

.

.

.

(diam sebentar.)

.

.

.

Seokjin: "Tapi sebenernya sih, aku tuh... dulu-dulu juga sempet ada beberapa sih, yang kayak dia ini... hehe. maaf loh baru cerita sekarang."

Namjoon: (manggut-manggut) (dalem ati: 'cukup tau si') "Hoo. Laku ya."

Seokjin: "Hahaha iya dong."

Namjoon: "Trus kamu tolak semua?"

Seokjin: "Iyah..."

Namjoon: "Hmm... ko bisa gitu? Katanya kamu pengen pacaran?"

Seokjin: "Iya sih... tapiii gimana ya... kaya... aku pengen, tapi aku belom nemu yang bener-bener 'klik' sama aku gitu. Belom nemu yang bisa bikin kaya 'tek' gitu kalo ketemu dia."

Namjoon: "Hmm. 'Tek' gitu ya bunyinya."

Seokjin: "Iya. 'Tek', gitu."

Namjoon: "Kalo sama aku ngerasa 'tek' ga?"

Seokjin: (mukul lengan Namjoon pelan) "Iya. 'Tek' pengen nyambel."

Namjoon: "Yha kenapa sambel."

Seokjin: "Abis kamu kaya sambel. Hehe. Canda kok~"

Namjoon: (hanya mencibir)

Seokjin: "Duh... gimana dong." (gandeng tangannya Namjoon, mengistirahatkan kepalanya di pundaknya.) "Aku tuh mau banget kek pacaran gitu-gitu, tapi yah..."

Namjoon: (diem aja)

Seokjin: "Apa aku pacaran sama kamu aja yah. Hehe."

Namjoon: (mencibir) "Sepik aja ah."

Seokjin: "Ih jahat dibilang sepik."

Namjoon: "Ya 'kan udah lama aku tawarin tapi kamu gamau."

Seokjin: "Hehe. Iya deh. Aku sama Namjoon aja. Boleh 'kan, bapaknya?"

Namjoon: (senyum ala ala) "Boleh banget lah sayang."

Seokjin tersenyum ceria. Namjoon menunduk ke bawah sebentar sambil tersenyum tipis.

Namjoon melihat ke arah jendela, menghela napas pelan.

.

.

.

.

.

Seokjin: "Btw tumben nih kamu panggilnya sayang-sayangan. Hihi."

Namjoon: "Emang kenapa? Gaboleh ya?"

Seokjin: "Yaa boleh-boleh aja. Aku cuman nanya aja heheh."

Namjoon: (mencium tangan yang masih digenggem) "'Karena aku emang beneran sayang sama kamu."

Seokjin: (cekikikan geli) "Udah ah."

Namjoon: "Hee. Malu yah."

Seokjin: "Iyalah. Cium-cium tangan kaya anak esde nyalamin mamanya aja."

Namjoon cengengesan aja.

.

.

.

.

.

Namjoon: "Btw kamu kemaren itu sama siapa sih?" (kebeneran udah penasaran banget ampe ke ubun-ubun, ditanyain deh akhirnya)

Seokjin: "Hm? Apanya?"

Namjoon: "Itu... yang kemaren itu, yang kamu jalan sama cowo."

Seokjin: "Hah? Yang mana?"

Namjoon: "Kamu ga inget kemarenan lagi jalan sama cowok?"

Seokjin: "Ha...? Bentar deh. Jalan... sama cowok..."

(Seokjin mikir)

(Trus kebayang)

Seokjin: "Ooh ituuuu, iya iya aku tau. Ih ko tau si aku jalan bareng cowo? Ngepoin yaa?"

Namjoon: "Iya. Aku 'kan stalker kamu."

Seokjin: "Eeee..."

Namjoon: "Iya jadi kemaren itu aku lagi di koftop deket kantor, terus tiba-tiba ngeliat kamu jalan cowo, trus yaudah deh. Cukup tau. Padahal kemaren diajakin keluar bilangnya sibuk."

Seokjin: (ketawa) "Iyaa maaf, kemaren itu soalnya temen aku itu 'kan dateng, dia baru balik dari Tokyo, trus minta temenin ke toko buku bentar sekalian reunian gituu."

Namjoon: (manggut-manggut ala orang males) "Hemm. Gitu."

Seokjin: "Iyaa gitu. Tapi bentar deh. Jangan-jangan alasan kamu kek lesu kemaren tu gara-gara itu lagi?"

Namjoon: (hanya mencibir)

Seokjin: "Bener ya? (sambil ngangkat telunjuk) (ketawa)"

Namjoon: (masih mencibir)

Seokjin: "Ooh jadi kamu tuh kemaren...?" (ketawa) cieee cemburu yaaaa~"

Namjoon: "Hem. Seneng die, seneng banget liat orang kzl."

Seokjin: (masih ketawa) (gandeng Namjoon lagi) "Lucu banget sih kamu."

Namjoon: (gaya ngomong ngeledek) "Lucu banget si kamuu."

Seokjin: (masih ketawa) (masih gandeng Namjoon) "Yaampuun maaf loh... abis masa aku diemin aja temen baru pulang dari negeri orang..."

Namjoon: (masih masang muka males) "Iya iya, udah."

Seokjin: "Ciee masi ngambek ya?"

Namjoon: "Ngga, biasa aja."

Seokjin: "Eeee..."

Namjoon: "Yang penting dia cuman temen kamu doang 'kan."

Seokjin: "Iya kok, cuman temen SMA ajaa, ga lebih. Eaa~"

Namjoon: "Masih ada ea-nya tuh."

Seokjin: "Ih beneraan, ga percaya amat si."

Namjoon: (hanya mencibir)

Seokjin: "Nggaklah... aku 'kan sayangnya cuma sama Namjoon, hehe."

Namjoon: "Boong ah. Ga percaya."

Seokjin: "Ee harus percaya dong."

Namjoon: "Gamau. Sebelum kita pacaran beneran, gamau percaya omongan manis kamu."

Seokjin ketawa aja.

.

.

.

.

.

Namjoon: "Tapi... serius nih."

Seokjin: "Apa?"

Namjoon: "Kalau misal... aku yang ngajak kamu tunangan, atau bahkan nikah... kamu terima ga?

Seokjin: "Hem... gimana yaaaa~"

Namjoon: "Serius."

Seokjin: "Eee... serius banget nih?"

Namjoon: "Iya."

Seokjin: "Bentar deh, bentar. Kok tiba-tiba nanyanya gitu sih? Pake-pake mesti serius segala?"

Namjoon menghela napas. Menatap laki-laki di hadapannya tanpa rasa ragu. Menyiapkan diri. Menyiapkan diri mengungkapkan sesuatu yang membludak, yang selama ini tertahan dalam satu penjelasan.

Singkirkan semua yang mengganggu. Inilah saat yang tepat.

Namjoon: "Karena kalo kamu mau tau, sebenernya dari awal aku deket sama kamu, aku memang mau kita jalanin hubungan yang lebih serius dari sekadar sahabat."

.

.

.

.

.

Seokjin menatapnya sebentar. Lalu kemudian tertawa kecil. Berusaha bebas dari suasana yang mendadak berubah.

Seokjin: "Beneran banget tuh?"

Namjoon: "Serius."

Seokjin: "Ih Namjoon mah sukak banget iseng emang."

Namjoon: "Hadeh... sayang yah, kita ditempat rame kek gini."

Seokjin: "Eh? Kenapa tuh ngomongnya kek gitu?"

Namjoon: "Kalo ga aku bisa cium kamu beneran biar kamu percaya."

Seokjin akhirnya diam. Saat mengucapkan itu, tidak sedetikpun laki-laki itu berkedip. Atau bercanda. Atau tertawa. Atau cengengesan. Atau hal-hal yang tidak serius lainnya. Matanya menatap lurus ke arah Seokjin. Tajam, namun tidak menghakimi. Namun membuatnya seakan dibaca seperti buku yang terbuka.

Dan Seokjin merasakannya. Namjoon seperti orang lain lagi. Seperti saat dia pertama bertemu. Saat dia pertama kali diajak menginap. Saat dia pertama kali tidur di sebelah Namjoon. Saat Namjoon mengisap jarinya yang terluka.

Seokjin deg-degan lagi. Seketika.

Deg-degan yang jauh lebih parah dari sebelum-sebelumnya.

Dan sesaat dia meragukan ucapannya mengenai sosok ideal yang bisa membuatnya ingin menjalin hubungan yang serius.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara)

"Assalamualaikum..."

1 menit kemudian.

"Kumsalam~" seperti biasa, si bungsu yang membuka pintu. "Papah tumben banget baru pagi pulang?"

"Iya, kemaren lusa Papa nginep di kantor. Nih, Papa bawain kue. Chim sama Tae mana?"

"Chim masi bobo. Kuenya dari siapa, Pah?"

"Dari Ka Seokjin, kemaren banget Papa abis ke tempat dia juga. Hehe."

Si bungsu hanya manggut-manggut. "Oo. Dari Ka Seokjin."

Si bungsu agak lama menatap sang ayah saat ayahnya menghadap belakang. Seperti menilai.

Dan teringat akan misi yang akan dilakukannya.

Inilah saat yang tepat untuk menginspeksi sang ayah.

.

.

.

.

.

(Namjoon & Jungkook - Sidang Terdakwa Ver.)

"Saudara Kim Namjoon."

"Ya, Yang Mulia Ketua Hakim."

"Apakah pernyataan saksi yang menyatakan bahwa anda sedang memiliki hubungan dekat dengan terdakwa Kim Seokjin itu benar?"

"Hmm... gimana ya, Yang Mulia."

"Harap saudara menjawab pertanyaan dengan jelas."

(keder) "I-iya Yang Mulia, saya emang deket kok dengan Seokjin."

"Saudara bisa menjelaskan seberapa dekat saudara dengan terdakwa Kim Seokjin? Apakah hanya sebatas hubungan teman biasa? Atau kerabat? Sahabat? Atau hubungan asmara?"

"Yaa... gimana ya Yang Mulia. Sensitip nih pertanyaannya."

"Harap saudara menjawab pertanyaan dengan jelas."

(keder lagi) "I-iya, Yang Mulia. Hubungan saya dan Seokjin hanya sebatas teman. Eh ngga sih, sohib lah, sohib. Sahabat."

"Baik. Sudah berapa lama saudara menjalin hubungan persahabatan dengan terdakwa Kim Seokjin?"

"Hmm... dari kapan ya Yang Mulia... kayanya dari beberapa bulan setelah Seokjin jadi guru les anak-anak saya."

"Baik, terima kasih saudara Kim Namjoon atas pernyataannya. Setelah ini akan ada pengucapan sumpah dari saudara terdakwa dibawah kitab suci Al-Qur'an. Silahkan Ikuti kata-kata dari saya. 'Saya bersumpah.'"

"'Saya bersumpah.'"

"Bahwa penyataan yang saya nyatakan adalah sebenar-benarnya.'"

"Bahwa penyataan yang saya nyatakan adalah sebenar-benarnya.'"

"'Bahwa saya yang sebenar-benarnya adalah penikmat Susu Murni Nasional.'"

"Bahwa saya... ah, Papa ngga suka susu nasional, sayang. Kalo Ultra Milk, iya."

"Yah, si Papah mah."

.

.

.

.

"Serius ni, serius. Sejak kapan sih, Pa?"

"Hm? Apanya yang sejak kapan?"

"Iih gak usah sok-sok jaim deh. Sejak kapan Papa segitu deket ama Ka Seokjin coba."

"Kenapa? Nggak suka ya?"

"Dih, jutek dia."

"Nggak lho, papa serius nanya."

"Siapa yang bilang nggak suka?"

"Jadi kamu suka?"

"Yaaa biasa aja sih sebenernya. Suka, sih. Iya, suka."

"Jadi biasa aja apa suka?"

"Ya pokoknya seneng-seneng aja kalo papa deket Ka Seokjin juga."

"Ooh gitu. Seneng-seneng aja ya."

"Abis dia baik banget sih. Cakep lagi." "Ya nggak, Pa?" (mulai mancing)

"Hmm... ya... gitu deh."

"Cieee langsung merah gitu mukanya!"

"Yeee siapa yang merah mukanya. Kuping kamu tuh, merah."

"Yeee kuping Kookie mah begini dari dulu. Ah, Papa 'sa ae mengalihkan topik." "Beneran nih Pa?"

"Apanya yang beneran?"

"Beneran naksir Ka Seokjin?"

"Kamu tuh ngomong opo toh."

(Dari kamar Taehyung)

"Kookieeeeeee jadi pergi gaakkkk"

"Tuh, dipanggil ama Tae. Husssh. Husssh. Saaanaaa~~"

"Apaan sih papa alayyy." "Yaudah deh, pergi dulu yah."

"Mo kemana nih?"

"Mo cabut ama Ka Seokjin. He he."

"Ah masa? Dia katanya lagi ada kerjaan tuh."

"Oooh kok tau banget dia ada kerjaan?"

"Ya 'kan dia ngasih tau papa tadi."

"Cieeee harus banget ngasitau papa?"

"Yeee mang nape? 'Kan kita sohib."

"Cieeeeeeee sohib apa sohibbbb?"

"Sohib lah coy~ udah ah, hati-hati ya perginya. Tas selempangin di depan. Naek motor kan?"

"Iyaa." "Dah papa~"

"Dah~ eh gak kiss papa dulu nih?"

"Ogah, 'dah gede. Haha~"

"Ish sok-sok gede."

"Yauda kiss pipi aja nih, pipi."

"Nah, gitu dong."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Edisi Taehyung di sekolah, dua hari yang lalu)

Tok tok tok.

"Permisi, Bu Melinda."

"Ya, Pak Ridwan?"

"Maaf mengganggu kegiatan belajar mengajarnya. Mau nanya, kelas ini tadi ada yang ngeliat gantungan kunci akrilik gambar Doraemon ga pas upacara?"

Seisi kelas bilang tidak.

"Gantungan kuncinya punya siapa, Pak?" tanya Bu Melinda.

"Itu Bu, punyanya si Mamet." "Tadi saya liat dia di bawah tiang bendera, jongkok aja sepanjangan gara-gara gantungan kuncinya ilang. Dia gamau masuk kelas sebelum gantungan kuncinya ketemu katanya."

Seisi kelas bisik-bisik. Ada yang cekikikan.

"Ooh. Trus sekarang Bapak yang ditugasin nyariin ya Pak?" tanya Bu Melinda lagi.

"Iya nih Bu."

"Ooh... yang sabar ya Pak."

"Iya bu, terimakasih doanya." "Ibu sendiri ngeliat ga tadi?"

"Ngga, saya mah abis upacara langsung masuk kelas Pak. Ga liat ada gantungan kunci begitu."

"Oh gitu. Ga ada yang liat semua ya dari sepuluh kelas?" Pak Ridwan menghela napas. "Okelah. Semangat Ridwan, kamu pasti bisa menjalankan amanah ini."

"Semangat Pa Ridwaaaan~" ujar seisi kelas bergemuruh.

"Iya makasih doanya, anak-anak. Duh kerjaannya si Mamet nih ada-ada aja." "Yaudah, makasih ya Bu, makasih anak-anak, silakan dilanjutkan kembali pelajarannya."

Lalu Pak Ridwan berlalu ke kelas lain.

Lalu Bu Melinda sambil megang mistar panjang di tangannya, ngerapiin kacamata.

"Nah, jadi yang ngga ngumpulin pe-er prakarya minggu lalu, harap bediri di depan sambil jewer kuping dua-dua dan angkat kakinya satu ya. Jangan nyender."

Para terdakwa langsung maju ke depan. Taehyung salah satunya.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Bahasa Gaul Ver.)

"Ciee lagi belajar." Ketua geng tiba-tiba nongol di tengah kegiatan les anak-anaknya sambil masang muka jahil. Dan tidak lupa lirik-lirik guru lesnya, tentu saja.

"Halo, saudara Seokjin."

Si guru les senyum-senyum selo aja. "Halo, Pak Namjoon."

"Eeee, biasa panggil nama juga," ledek si bapak.

"Eeee, jangan gitu dong," si guru les langsung malu-malu.

"Eee malu ya," si bapak masih niat ngeledek. Si guru les ketawa ala putri raja aja sambil nggeleng-geleng.

Si bungsu senyam-senyum aja ngeliatnya. Kaka-kakanya ngeliat si bapak ama guru lesnya begitu jadi ikutan ngeledek.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Seokjin, esok harinya - Naskah Drama Ver.)

Jungkook: "Ka."

Seokjin: "..."

Jungkook: "Ka."

Seokjin: "..."

Jungkook: "Ka Seokjin."

Seokjin: (baru noleh) "Eh, ya?"

Jungkook: "Duile... lagi sms siapa sih? Seru banget."

Seokjin: "Gak sms, kok. LINE."

Jungkook: "Sama ajalah. Senyum-senyum muluk dari tadi."

Seokjin: "Ngga ketawa-tawa ah. Kamu aja yang siwer."

Jungkook: "Tuh. Ngomong sama aku aja gapake noleh dari hape. Ck ck."

Seokjin: "Iya iyaaa. Nih, noleh."

Jungkook: "Nge-LINE siapa sih, Ka?"

Seokjin: "Bukan siapa-siapa ah, gausah kepo. Itu btw udah semua belom soal-soalnya?"

Jungkook: "Udah. Mau ngumpulin tapi kakanya sibuk maen hape."

Seokjin: "Ooh udah~ tumben hehe. Sip sip, dikoreksi dulu ya. Jimin udah belom? Kalah ye dari Jungkook."

Jimin: "Iih susah tauk. Biarin kalah, wong juga gak dikasih duid kalo selesai duluan."

Seokjin: "Ye... baru mau kaka kasih nih padahal."

Jimin: "Dih curang banget baru ngomong sekarang."

.

.

.

.

.

#

(Edisi Jungkook di sekolah - Naskah Drama Ver.)

Jungkook: "Young."

Hayoung: (konsen liat laptop) "Hm."

Jungkook: "Menurut lu gue bagusnya potong rambut model apa ya."

Hayoung: "Nape lu tiba-tiba mo potong rambut?"

Jungkook: (maenin-maenin rambut) "Pengen aja, abis udah gondrong kek gini."

Hayoung: "Gondrong apanya dah, lebay."

Jungkook: "Ya 'kan maksudnya udah panjang gitu."

Hayoung: "Yaudah. Botakin aja pusing-pusing."

Jungkook: "Ih Hayoung mah jahat."

Hayoung: "ember."

Jungkook: "Eh btw tadi gue liat Chanyeol dong lagi maen basket. Hihi. Ganteng banget."

Hayoung: "Ooh. Seneng banget ye lu."

Jungkook: "Iya doong, abis dia mirip banget ama bias gue di EXO. Chanyeol oppa... hiksss gakuat."

Hayoung: "Iya sih. Sama lagi namanya."

Jungkook: "Iya makanya."

Hayoung: "Emang selera lu banget ye yang kaya begitu-begitu."

Jungkook: "He-eh, banget. Oiya. Gue keknya mo ngomongin ke Chim ama Tae deh, soal bapak gue ama Ka Seokjin. Omongin ga ya menurut lu?"

Hayoung: "Hmm. Yaudah ngomong aja ke mereka gimana jadinya. Gampang."

Jungkook: "Okelah, besok deh gue coba bilang ke mereka."

tiba-tiba...

Bu Darsimah: "Jungkook, Hayoung, ngapain di belakang?"

Jungkook: (langsung gelagapan) "Eh, ngga Bu. Ngga ngapa-ngapain."

Bu Darsimah: "Kenapa? Nonton Music Bank lagi?"

Hayoung: "Ngga, Bu. Nonton streaming konser Katy Perry."

Bu Darsimah: "Ih bagi-bagi dong, yuk nonton lagi sekelas!"

.

.

.

.

.

.

.

#

(Besoknya, Rumah Keluarga Cemara - Naskah Drama Ver.)

Sehabis pulang sekolah, para bocah Cemara berkumpul di meja sesuai rencana si bungsu. Si bungsu yang memulai rapatnya setelah membaca basmalah berjamaah.

Jungkook: "Aku tuh udah lama banget curiga, sumpah. Kalian curiga ga sih?"

Jimin & Taehyung: "Curiga paan?"

Jungkook: "Itu, si anu. Si papah."

Jungkook: "Udah nangkep belum maksudnya?"

Jimin & Taehyung: "Apasih? Ga jelas."

Jungkook: "Iiih berarti kalian tu belum curiga namanya!"

Jimin & Taehyung: "Lagian siapa yang ngomong udah curiga?"

Jungkook: "Huu dikirain udah ngerti. Itu tuh, si papah ama Ka Seokjin. Nah, curiga ga?"

Jimin & Taehyung: "Curiga kenapa?"

Jungkook: "Ya ampun, masa masih ga ngeh juga? Mereka 'kan deket banget!"

Jimin: "Emang kenapa kalo mereka deket?"

Taehyung: "Iya. Emang kenapa?"

Jungkook: "Ya 'kan sebelumnya ga sedeket itu?"

Jimin: "Hmm... iya juga sih."

Taehyung: "Iya sih."

Jungkook: "Tu 'kan. Curiga 'kan? Curiga 'kan? Lagian ama mantan-mantan guru les kita yang dulu mana pernah si papa segitunya?"

Jungkook: "Ya emang sih Papa ama tukang cuci aja ramah banget, tapi ama si Ka Seokjin ini kaya ampe deket banget gitu. Sering banget keluar, bahkan sampe pulang pagi. Dan rerata tuh tiap kali aku tanya pasti dijawabnya 'abis dari sama Ka Seokjin'. Trus ini nih, diem-diem aja ya. Waktu itu 'kan aku pernah tu ngepoin hape Papa, ngepoin chat dia sama Ka Seokjin. Trus kek- ih yaampun mesra banget. Ngomonginnya si ga penting, tapi kaya... gimana gitu. Kek... gimana sih, kek orang pacaran ngobrol gitu loh. Coba, wajar ga tuh?"

Jimin: "Hmm... iya juga sih."

Taehyung: "Iya sih."

Jungkook: "'Kan? Penasaran ga sih kalo Papa sama Ka Seokjin tu ada apa-apa?"

Jimin: "Hmm... iya juga sih."

Taehyung: "Iya sih."

.

.

.

.

.

Taehyung: "Ya... kalo aku ngeliatnya Papa sama Ka Seokjin emang deket sih. Tapi maksudnya kek, oh, wajarlah gitu 'kan kalo dia deket ama Ka Seokjin. 'Kan Ka Seokjin guru les kita gitu. Tapi kalo misalnya deketnya ampe yang udah ngarahnya beda gitu ya, aku ga masalah sih."

Jimin: "Iya. Dan sebenernya masalah kedeketan Papa sama Ka Seokjin yang sampe begitu banget tuh aku juga diem-diem kek ngerasa aneh juga, tapi ya aku cuek aja, dan aku juga ga masalah. Toh selama ini Papa tetep masih jadi Papa yang kita kenal gitu 'kan. Maksudnya kaya, kedekatan dia sama Ka Seokjin tu ngga mempengaruhi dia jadi buruk ato gimana-gimana juga. Emang sih tetep ada bedanya beberapa sikap-sikap dan tingkah laku dia sekarang, tapi bukan yang jelek, gitu. Ngerti 'kan?"

Jungkook: "Iya sih..."

.

.

.

.

.

Jungkook: "Dan... yang jelas... semenjak Papa deket banget sama Ka Seokjin..."

Jungkook: "Wajah Papa keliatan lebih gembira."

Jimin: "Asli. Kek, tiap hari seneng mulu gitu 'kan. Cerah ceria gitu."

Jungkook: "He-eh. Ngerasa 'kan kalian?"

Jimin: "Iya sih."

Taehyung: "Iya sih."

Jungkook: "Coba deh. Kalo misalnya nih, ya, misalnya. Papa deket banget gitu ama Ka Seokjin. Trus kayak Papa naksir ama dia. Kalian restu ga?"

Jimin: "Hmm..."

Taehyung: "Hmm..."

Jimin: "Restu-restu aja sih."

Taehyung: "Iya sih. Restu-restu aja."

Jungkook: "Iya sih. Aku restu-restu aja juga sebenernya. Aku suka banget soalnya sama Ka Seokjin. Udah baik banget, sopan, pinter, cakep lagi."

Jimin: "Iya. Aku juga suka. Ngerti, dan enak banget kalo belajar ama dia."

Taehyung: "Iya. Aku juga suka kalo dia udah bawain oleh-oleh dari temennya di luar negeri."

Jimin & Jungkook: "Nah, itu RT keras."

.

.

.

.

.

Jimin: "Yah... wajar sih kalo Papa suka sama dia."

Taehyung: "Iya."

Jungkook: "Iya. Wajar banget. Aku juga kalo jadi Papa sabi lah demen ama Ka Seokjin. Tipikal idaman banget, tsaah."

Jimin: "Iya, sabi."

Jungkook: "Oiya, kedemenan Papa 'kan juga sama persis kek dia tuh, anime-anime begitu. Ya ga sih?"

Jimin: (ketawa) "Iya, iya, bener."

Taehyung: (ngangguk-ngangguk)

Jungkook: (ketawa) "Lucu banget juga kalo misalnya udah ngeliat mereka bedua tu kayak... yang si Papa emang kerjaan jahil aja ama dia dari awal gitu 'kan. Trus Ka Seokjinnya cuman malu-malu ga enak gitu."

Taehyung: (senyum) "He-eh."

Jimin: (masi ketawa) "Iya, iya. Kasian banget emang Ka Seokjin."

Jungkook: "Ih iya tau. Mestinya emang kita tuh kasian ama Ka Seokjin kenapa bisa deket ama Papa."

Ketiga kakak beradik itu serentak tertawa.

.

.

.

.

.

Jungkook: "Trus aku ngebayangin gimana kalo misalnya Ka Seokjin jadi... katakanlah..."

Jimin: "Mama kita."

Jungkook: "Iya."

Taehyung: "Mama."

Ketiga kakak beradik itu serentak terdiam.

.

.

.

.

.

Jungkook: "Kalian inget ga."

Jungkook: "Dulu pas Papa baru pulang dari ziarah kuburan mama."

Jimin: "Iya."

Jungkook: "Kita bilang apa sama dia?"

.

.

.

.

.

Jimin: "Nggak apa-apa."

Taehyung: "Papa aja udah cukup."

Jungkook: "Iya. Papa aja udah cukup."

.

.

.

.

.

Jungkook: "Jahat ga sih."

Jungkook: "Rasanya kita mengingkari kata-kata kita sendiri."

Jimin: "Iya juga sih."

Taehyung: "Iya sih."

.

.

.

.

.

Taehyung: "Yah... gapapa lah."

Taehyung: "Demi kebahagiaan Papa, 'kan?"

Jimin: "Iya. Gapapa kalo demi Papa. Kalo Papa bahagia."

Jungkook: "Walau itu berarti... kita mengkhianati Mama?"

.

.

.

.

.

Jimin: "Kita ziarah yuk ke tempat mama."

Taehyung: "Yuk."

Jungkook: "Yuk."

.

.

.

.

.

.

.

#

"Papa pulang~"

Tidak ada suara. Hening. Pintu tidak terkunci.

Tumben sekali. Namjoon menutup pintu.

"Wah... pada belum pulang semua ya tiga superman kesayangan Papa."

Laki-laki itu masih menganggap ketiga buah hatinya superman. Masih menganggap mereka bayi kesayangannya yang berharga, yang mungkin sampai mereka beranjak dewasa. Dan sampai pada waktunya untuk hidup terpisah darinya.

Mungkin.

Ditaruhnya oleh-oleh makanan yang dibawa di atas meja. Kemudian matanya mengarah pada sepucuk surat yang ditinggalkan disana.

.

.

.

.

.

Namjoon berjalan ke ruang tamu, duduk bersandar di sofa. Dirinya menatap ke arah jendela sejenak. Kebiasaannya saat membayangkan segala yang telah terjadi selama ini.

.

.

.

.

.

Laki-laki itu mengambil foto seorang wanita di atas meja bersama ketiga buah hatinya. Wajah yang tersenyum bahagia. Wanita yang dahulu sempat menjadi pahlawannya. Sempat menjadi sandaran bebannya, walau untuk sementara waktu.

Saat menatapnya, dirinya seolah kembali ke masa lalu.

Chloe.

Apa kabar?

.

.

.

.

.

.

.

#

(Ketiga buah hati Namjoon saat ziarah)

Langit sore itu mendung. Ketiga kakak beradik itu mengenakan baju hitam-hitam dengan wajah yang menyorotkan makna yang sama. Si sulung dan si tengah menyapu dedaunan yang hinggap di atas nisan dan kuburan sang ibu, dan setelahnya si bungsu menaruh bunga-bunga.

"Mama..."

"Ini Chim-Chim."

"Ini Tae."

"Ini Kookie."

"Kami bertiga... setelah sekian lama... akhirnya dateng ke rumah mama." "Maaf ya ma, kalo kayanya udah terlambat."

.

.

.

.

.

"Chim-Chim minta maaf ya Ma, kalo dulu Chim selalu bandel, nggak mau denger omongan Mama. Kalo Chim suka bilang Mama pilih kasih."

"Tae juga minta maaf kalo Tae kadang ga pengertian sama Mama."

"Kookie juga Ma. Kookie selalu manja sama Mama. Ngerepotin Mama walopun Mama lagi sakit."

"Kami betul-betul minta maaf ya, Ma."

"Kami... kangen Mama." "Kangen... banget."

"Setiap hari tanpa mama... rasanya sedih." "Tapi kata Papa kami gaboleh sedih. Kami harus kuat walopun tanpa Mama."

"Karena Papa juga sama kaya Mama, sayang banget sama kita." "Dan kami juga harus saling sayang satu sama lain."

.

.

.

.

.

"Oiya, Ma. Kami ada gosip loh." "Ada orang yang lagi deket sama Papah, namanya Ka Seokjin."

"Iya, dia guru les kita, Ma." "Orangnya baik... banget. Pinter, cakep." "Kookie, sama Chim sama Tae seneng banget sama dia."

"Tapi... entahlah." "Kalo mikirin itu... entah kami harus berterimakasih, atau jadi sedih karena dia."

"Kami berterimakasih sama dia, karena udah bisa bikin Papa seneng." "Tapi kami sedih, karena seolah-olah kami mengkhianati Mama, kalo seandainya kami setuju dia sama Papa."

"Tapi Mah, walau seandainya posisi Mama di dunia digantikan oleh dia... Mama tetep selalu ada dihati kita." "Ya 'kan, Ma?"

.

.

.

.

.

Langit sore itu mendung. Mendung yang disusul dengan rintikan air hujan. Menghiasi keheningan yang ditemani oleh kicauan burung.

Ketiga kakak beradik itu merasa ada yang menyuruh mereka duduk berdekatan.

Ketiga kakak beradik itu merasa ada yang memeluk pundaknya.

Ketiga kakak beradik itu merasa. Ada bisikan hangat yang datang. Bisikan yang membuat air mata jatuh tak tertahankan. Di tengah hujan yang kemudian turun dengan derasnya.

.

.

.

.

.

"Sayangku, kalian tak pernah sekalipun mengkhianati mama. Sebaliknya, Mama sangat bahagia mendengar berita yang kalian sampaikan tentang Papa. Untuk kali ini pun, Mama serahkan kalian dan Papa pada orang yang beruntung itu."

"Semoga kalian berbahagia. Mama selalu mendoakan dari sini.

Jangan khawatir, Mama akan selalu ada di hati kalian."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Namjoon & Seokjin, lagi telponan - Bahasa Telenovela Ver. - yang dimiringin seperti biasa omongannya Namjoon)

"Halo... Namjoon."

"Hei."

"Sedang apa."

"Hanya tiduran di kamar, baca buku. Ada apa?"

"Yah... ingin mengobrol sejenak saja."

.

.

.

.

.

"Kau tahu."

"Anak-anak nampaknya sudah mulai mencurigai hubungan kita."

"Oh ya? Curiga kenapa?"

"Yah... kau mengerti maksudku."

Ada jeda sesaat sebelum Seokjin membalas kata-katanya.

"Tidak mungkin mereka sampai berpikir yang tidak-tidak tentang kita 'kan." "Yah... lagi pula apa yang mereka khawatirkan?"

Seokjin menyelipkan tawa kecil sat mengucapkan kata terakhir.

Dan dari balik telpon, Seokjin merasa laki-laki itu tersenyum.

"Mereka hari ini mengunjungi makam istriku."

.

.

.

.

.

"...begitu."

"Yah... begitulah."

.

.

.

"Namjoon."

"Ya?"

"Apa... aku sudah menjadi penganggu?"

.

.

.

"...jangan bicara seperti itu."

Laki-laki itu semesta teringat akan percakapan terakhir antara dia dan sang istri.

.

.

.

.

.

"Setelah ini... mungkin bisa kau temui... bagian dirimu yang hilang, yang tidak bisa kau temui dariku."

"Jangan bicara begitu."

"Aku betul-betul mengharapkannya, kau tahu."

.

.

.

.

.

"Aku... jadi tidak enak terhadap mendiang istrimu."

"Seokjin."

"Maaf, aku hanya tak terbiasa menutupi."

"Yah... aku suka kejujuranmu itu."

Seokjin hanya tertawa kecil.

.

.

.

"Jadi? Apa jawabanmu?"

"Eh?"

"Jawabanmu. Jawaban dari pertanyaanku di kafe kemarin."

.

.

.

"Apakah... tidakkah kau pikir ini salah?"

"Apanya yang salah?"

"Aku ini... laki-laki."

"Jangan membuatku sakit hati dengan berkata begitu."

"Maaf, bukan begitu maksudku."

"Aku mengerti, tapi... aku tidak mengerti kenapa harus aku, dan... yah, hal lainnya yang tidak bisa kumengerti."

"Kau ini. Suka sekali memikirkan yang tidak perlu kau pikirkan."

Seokjin terdiam sejenak. Bimbang. Banyak gambaran berkelebat di benak. Tak beraturan.

.

.

.

.

.

"Jangan bohongi dirimu sendiri, Seokjin."

"Maksudmu?"

"Sorot matamu di kafe... kau pikir aku tidak tahu?"

Seokjin masih terdiam. Masih bimbang. Masih gambaran berkelebat di benak. Tak beraturan.

Namun dia menemukan satu gambaran yang membuatnya lega.

Lalu tersenyum lembut.

.

.

.

"Yah... mungkin memang kau sedikit salah paham dengan kejujuranku."

"Ya."

"Terimakasih. Itu membuatku bahagia."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Bahasa Gaul Ver.)

"Heiiii darimana aja sih superman-superman Papa ini? Kok ngga ada yang ngabarin semalem?" Si Namjoon pepaginya langsung ke kamar anak-anaknya, bangunin ketiga supermennya itu rusuh.

Pertama ke kamarnya Jimin.

"Huahh, apaan sih Papa pagi-pagi berisikkkk," si sulung ngeluh sambil narik selimut buat tidur lagi.

"Hayoo, bangun bangun. kalo ga bangun... Papa... KELITIKINNNNN"

"WAH WAHAHAHAHHAHA UDAH PAPA UDAH IYA IYA."

Si sulung fix bangun kek kesetanan. Abis itu diseret ama bapaknya ke kamar mandi, cuci muka sikat gigi.

Abis itu bapaknya ke kamar si tengah sama si bungsu. Si tengah udah bangun gegara berisik di kamar sebelah.

"Ya ampun... siapa sih pagi-pagi udah buka bazaar..."

"Hayo bangun, bangun, sikat gigi. Abis itu icip masakan Papa~"

Trus bapaknya nimpain dua bocahnya yang masih ngantuk. Si bocah-bocah langsung ngaduh kesakitan.

Tapi yang sukses bangun cuma si tengah. Si bungsu pas bapaknya nyeret si tengah ke kamar mandi langsung lari sembunyi ke kamar kakak sulungnya, abis itu dikunci kamarnya.

Si bapak cuman geleng-geleng aja. Gitu tuh penyakit hari Minggu.

.

.

.

.

.

(Naskah Drama Ver.)

Taehyung: "Pa."

Namjoon: "Ya sayang?"

Taehyung: "Ini... nasi goreng?"

Namjoon: "Iyalah, Nasi Goreng Spesial bikinan Papa. Icip dong, jangan dibengongin aja."

Taehyung: (ngecap-ngecap rasa di lidah) "Kok kayak..."

Taehyung: "...nasi goreng?"

Namjoon: "Yee apaan... Papa kira mau ngatain."

Taehyung: "Hehehe. 'Kan ngerjain dulu baru diicipin."

Namjoon: "Heishh, 'sa ae ya kamu. Gimana, Chim? Maknyus? Bravo? Numero-uno?"

Jimin: "Hmm... lumayan."

Jimin: "Tapi agak asin."

Namjoon: "Ooo gitu ya. Papa tambahin garem lagi dong berarti."

Jimin: "Yee tambah asin dong."

Namjoon: "Yee becanda kalee."

Jimin: "'Sa ae nih si papa."

Namjoon: "'Kan ngerjain."

Jungkook: (nongol dari kamar bawa bantal) "Huah... apa sih ribut-ribut."

Namjoon: "Eh, si Kookie bangun juga akhirnya. Sini sayang, cobain masakan Papa."

Jungkook: (langsung melek) "Eh? Papa bisa masak?"

Namjoon: "Eeh jangan remehin bos superman ya. Nih." (nyuapin)

Jungkook: "Ih, asin bangeeettt!"

Jimin: "Nggak segitunya ah, lebay Kookie."

Namjoon: "Masasi? Cobak ah. (cicip) Oh iya sih, keasinan dikit."

Jungkook: "Kebelet nikah niye Papa~"

Namjoon: "Gitu ya? Cieee~"

Jimin: "Cieee sama siapa nih, Pa?"

Namjoon: "Yaaa terserah anak-anak Papa mau sama siapa~"

Jungkook: "Cieee Pak Seokjin yaaa~?"

Namjoon: "Yaa boleh juga sama dia kalo anak-anak Papa mau~"

Jimin: "Boleh banget kok Pa, boleh banget."

Jungkook: "Iya Pa, boleh banget kok. Mama juga gak marah."

Namjoon: "Oya?"

Jungkook: "Serius. Mama restu kok. Kemaren kami udah bilang sama mama."

Namjoon terdiam sejenak di tempatnya. Ketiga anaknya sibuk menyuapkan nasi goreng ke piring masing-masing.

.

.

.

.

.

#

(Namjoon, ziarah ke kuburan (mantan) istri)

Namjoon meletakkan rangkaian bunga lily yang baru saja dibelinya di atas nisan bertuliskan 'Chloe Griselle Barnes.' Memerhatikan di atas tanah kuburan yang bersih dari dedaunan kering dan berhiaskan bunga.

Namjoon tersenyum. Memulai komunikasi batinnya dengan sang istri. Walau hanya secara sepihak.

.

.

.

.

.

(Suara hati Namjoon - Bahasa Telenovela)

Hei.

Sudah lama ya. Kangen juga.

Bagaimana surga? Menyenangkan?

Yah, pertanyaan bodoh setelah sekian lama belum mengunjungimu lagi. Mohon maaf.

Yang jelas... aku datang padamu tidak sekadar membawa rindu, tapi juga tunaian janji.

.

.

.

.

.

Kemarin... anak-anak mengunjungimu, 'kan. Mereka semua pintar. Mereka curiga tentang hubunganku dengan seseorang bernama Seokjin. Terutama si bungsu yang pertama kali menyadari. Dia menyadari kalau kedekatanku dengannya memiliki maksud lain.

Entahlah. Walau maksud itu muncul secara tiba-tiba. Berproses. Yang tidak tahu kapan awalnya, tapi terasa bagaimana haluannya. Dan kami berdua sama-sama terjatuh.

Tapi sepertinya aku yang terjatuh lebih dulu. Tapi dia bukannya membantuku berdiri, malah bersedia untuk ikut jatuh bersama.

Entah mengapa aku bahagia karenanya.

.

.

.

.

.

Dan sesuai pesanmu. Karena itulah, aku telah menyadari saat kami terjatuh, aku menemukan bagian diriku yang hilang.

Aku bersyukur.

Dan tidak lupa sangat berterima kasih padamu. Dan juga dirinya.

Dan Tuhan yang telah mempertemukan kita semua.

.

.

.

.

.

Tapi jangan salah paham.

Bukan berarti aku tak pernah jatuh saat bersamamu.

Jika tidak, bagaimana bisa ketiga superman kita lahir. Ya 'kan?

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara, Namjoon & Jungkook)

Jungkook dari tadi mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja. Ayahnya sendiri sedang membaca koran di sofa memakai kacamata trendy-nya.

"Duuh mana sih Ka Seokjin lama bangett."

"Sabar sayang, mungkin lagi siap-siap."

5 menit kemudian. Hape Jungkook bunyi. Lagu AKB48.

LINE - You have a new message!

From: Ka Seokjin :D

Jungkook, maaf ya kaka gabisa dateng hari ini, maaf banget :( gantinya besok yaa, nanti dibawain roti bagel Prancis, janji deh. bilangin ke Taehyung sama Jimin juga yaa, oke? ^^b

"Yaah Ka Seokjin ga bisa dateng katanya..." "Hiks... tapi pe-er aku dikumpulinnya besok :( Gimana dong :("

"Oh ga jadi dateng?" "Berarti dia jadi dong revisi dokumennya."

"Hm? Dokumen apa, Pah?"

"Nggak, bukan apa-apa. Dia emang udah bilang sama Papa bakal nggak bisa dateng."

Si bungsunya langsung senyum-senyum.

"Bener juga."

"Hm? Apa yang bener juga?"

"Sekarang aku kalo mau tahu kabar Ka Seokjin, tinggal tanya Papa aja ya."

"Hehe. Gitu ya."

"Iya. Hehe."

.

.

.

.

.

"Papah."

"Ya sayangku?"

Si bungsu beranjak dari meja, berjalan ke belakang sofa. Kemudian perlahan memeluk leher ayahnya.

"Kookie sayang... banget sama Papah," bisiknya.

Namjoon tersenyum. Mengelus tangan buah hati yang memeluknya itu, kemudian beralih mencium pipinya.

"Iya. Papah juga sayang banget sama Kookie." "Sama Chim sama Tae juga."

Si bungsu tersenyum.

.

.

.

.

.

"Kami tunggu nikahannya sama Ka Seokjin lho, Pah."

"Eeh? Kok tiba-tiba ngomongnya begitu?"

"Udahlah, semua orang juga udah tau kok gimana Papa ke Ka Seokjin. Hehehe."

Namjoon tertawa kecil. Memang sudah bukan waktunya lagi untuk menyembunyikan.

.

.

.

.

.

"Emang Chim, Tae, sama Kookie rela liat Papa nikah sama Ka Seokjin?"

"Ya ampun Pah... kami malah seneng loh kalo Papa sama dia." "Kalo sama yang laen baru kami gamau."

"Hehe. Gitu ya."

"Iyalah Papa~" "Ayo, kapan mau nikahannya niih?"

"Ya ga langsung tiba-tiba gitu lah sayang..." "Lagian, kenapa kalian bisa dengan mudahnya bilang setuju kalo Papa sama dia?"

"Ya gimana ya... abis Papa kayanya kalo sama Ka Seokjin seneng banget gitu?"

"Oo gitu ya keliatannya?"

"Iya. Keliatan banget."

"Hmm. Terus?"

"Terus... yaaaaa kami juga seneng banget sama Ka Seokjin." "Dia baik, pinter, cakep, dan... emang cocok kok sama Papah. Karena dia juga keibuan. Tipe Papa banget 'kan hehehe."

Namjoon tersenyum, melihat ke tanah. "Ooh... gitu ya."

"Iya." "Lagian... kami juga ngerti kok Pah...," si bungsu mengeratkan pelukannya, "...walau Papa gak kesepian, tapi Papa butuh 'kan orang yang kayak gitu?"

Namjoon hanya tersenyum, lalu mencium pipi si bungsu lagi.

.

.

.

.

.

"Oiya Pah. Pertanyaan Kookie waktu itu belum dijawab."

"Hm? Yang mana tuh?"

"Yang sejak kapan Papa deket sama Ka Seokjin." "Eh, ganti deh pertanyaannya. Kenapa Papah bisa suka sama Ka Seokjin?"

"Hehe. Gimana ya."

"Ayooo gimanaaa ~ gapapa, ga usah malu-maluu~"

"Yah, kalo soal itu sih, Kookie udah tau kok jawabannya."

"Ha? Emang apa? Ga ngerti Kookie ga ngerti, Papa ajalah yang jelasin~"

"Yaa kek yang udah Kookie bilang tadi."

"Apa, yang mana? Yang Kookie bilang Ka Seokjin cakep lalala tadi?"

"Yang jelas... terlebih dari itu, Papa ga salah milih 'kan?"

Si bungsu geleng-geleng sambil senyum. "Ngga lah. Pilihan Papa tepat kok. Aamiin."

"Aamiin." "Tuh, cuma itu kok jawabannya."

.

.

.

.

.

#

(Namjoon & Seokjin telponan - again, with Bahasa Telenovela Ver. - yang dimiringin omongannya Seokjin)

"Ya. Bungsuku bilang seperti itu."

"Begitukah...?"

"Iya. Begitu."

"Ya ampun." "Aku tidak yakin dia serius."

Namjoon hanya tertawa. "Memang sepertinya aku harus merekam kejadian apapun padamu biar bisa dipercaya."

.

.

.

.

.

"Lalu? Apa kau bersedia?"

"Haha, lagi-lagi pertanyaan klasik."

"Maksudmu?"

"Kau selalu tahu apa yang kumaksud, 'kan."

"...ini tidak serius, 'kan."

"Siapa yang bilang aku tidak?"

"Namjoon, menurutku ini terlalu-"

"Cepat?" "Yah, terkadang memang keragu-raguanmu itulah yang melemahkanmu."

"Justru sifat terburu-burumu itu yang terkadang merugi."

"Oke oke, tapi sekarang bukan waktunya untuk debat kecil-kecilan, 'kan? Lagipula, aku tidak merasa terburu-buru." "Aku punya pekerjaan yang mantap. Kau juga. Tiga bulan, empat bulan bagiku itu merupakan waktu yang cukup lama bagi kita untuk saling mengenal. Anak-anak semua sudah menyetujui. Begitu pula mendiang istriku."

"Dan... harus kuakui aku merasa tidak sempurna bila sendiri."

.

.

.

.

.

"Lalu? Kau meminta kesempurnaan itu dariku?"

Namjoon terdiam sejenak. Kemudian tertawa lagi. Lebih lepas dari yang barusan.

.

.

.

.

.

"Well, this is a little bit pathetic, but yes, ma'am."

"I need you."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara)

Keluarga Cemara berkumpul di sofa. Ada sesuatu yang telah mereka rencanakan, mereka persiapkan matang-matang setelah berdiskusi panjang. Sesuatu yang menentukan segalanya, di saat yang sebentar lagi akan tiba.

Sang ayah beranjak dari tempatnya setelah memantapkan hatinya.

"Okeh, udah siap semua 'kan anak Papa?"

Ketiga buah hati kesayangannya berseru, ikut beranjak dari tempatnya. "Siap bosss~!"

Namjoon tersenyum. Menciumi ketiga buah hatinya satu persatu dengan rasa bangga. Jika dia diibaratkan sebagai seorang petarung yang akan melaju memasuki arena, merekalah supporter terbaiknya.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Namjoon & Seokjin, di telpon - The Decision Day - di apartemen Seokjin - yang dimiringin omongannya Namjoon)

"Hei."

(suara serek abis bangun tidur) "Hei... kenapa... tumben nelpon malem-malem?"

"Hehe. Maaf ya ganggu. Bentar aja kok."

"Iyah gapapa... kenapa nih nelpon?"

"Buka jendela kamu dong."

"Ha? Buka jendela?"

"Iya, buka jendela kamar kamu."

"Ih gamau... serem buka jendela malem-malem."

"Ngga papa, tenang aja. Ga bakal nyeremin kok."

"Ga ah takut... kok tiba-tiba kamu nyuruh buka jendela sih? Kenapa emangnya?"

"Coba buka dulu aja. Kamu seneng kok pasti."

"Ih iya iya." (Sret, buka jendela sambil takut-takut) "Ih kenapa sih... 'kan ser-"

Abis itu Seokjin kaget bukan kepalang.

.

.

.

.

.

Seokjin turun dari kamarnya ke luar tanpa memakai sandal, melihat Namjoon yang berdiri sambil tersenyum lebar di hadapannya. Laki-laki itu memang seseorang yang tidak bisa diterka. Tampan, kaya, cerdas, dan berkarakter dari luar. Menyenangkan dan penuh humor-walau kadang tragis-dari dalam. Namun, terkadang juga mampu mengeluarkan aura yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Tapi dari semua itu, walau tidak disangka, dia bisa punya sisi romantis juga. Buktinya saat ini dia tengah berdiri di antara lampu-lampu kecil di sekitar kakinya, yang membentuk hati.

Serta sebuket bunga mawar di tangan.

Dengan itu, segala rasa yang dia rasakan terhadapnya bercampur jadi satu.

.

.

.

.

.

"Yaampun..." Seokjin masih menutup mulutnya tidak percaya. "Ini... kamu..."

Seokjin gabisa ngomong lagi. Dia bingung sebingung-bingungnya orang bingung. Bingung gado-gado. Juga malu diliatin orang-orang sekitar apartemennya. Tinggal Namjoon aja yang senyum-senyum.

"'Kan aku udah bilang. Aku serius sama kamu."

Seokjin masih gabisa ngomong apa-apa, tapi akhirnya nurunin tangannya dari mulutnya. Ngeliat lagi lampu-lampu love-nya. Ngeliat lagi orang-orang di sekitarnya. Ngeliat lagi bunga mawar di tangan Namjoon.

Trus ngeliat Namjoonnya. Yang masih senyum liatin dia.

Seokjin diem aja. Melongo. Bengong.

Trus pas Namjoon ngerogoh sesuatu di kantongnya, dia kaget lagi.

Namjoon ngeluarin kotak kecil warna merah. Trus dibuka.

Cincin berlian.

.

.

.

.

.

"Be my beautiful bride, Kim Seokjin."

.

.

.

.

.

Seokjin yang udah gatau apa-apa lagi cuma bisa meluk Namjoon erat-erat. Nangis di pundaknya.

Gimana lagi sih Seokjin bisa ngeraguin Namjoon kalo udah kaya gini?

.

.

.

.

.

Di sekeliling mereka, banyak orang bertepuk tangan dan berseru. Ada juga yang menitikkan air mata haru. Para jomblo-jomblo bermartabat. Tukang bakso lewat, ikutan tepuk tangan. Penjaja tisu lewat, ikutan tepuk tangan.

Oh iya. Ngga lupa si bocah-bocah keluarga Cemara ikutan terharu sambil ngerekam dari balik orang-orang.

Kedengeran pathetic? Lame? Ala-ala novel picisan? Bodo amat. Yang penting dua-duanya bahagia.

.

.

.

.

.

Oh, dan tentu saja. Abis beberapa minggu kejadian itu, Namjoon dan Seokjin resmi nikah. Di Hotel Mulia Senayan. Kece yah.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Namjoon & Seokjin's Wedding Day - Ucapan Selamat) (Karangan bunga berjejer di depan pintu gerbang. Dari perusahaan macem macem, sampe artis, sampe gubernur bupati presiden lalala lillili sama dari kampusnya Seokjin)

"Selamat Pa Namjoon, selamat! Oo jadi si kakak ini ya yang digalauin kemaren-kemaren hehehhe sabi abis nih si bapak. Semoga sakinah mawadah warohmah ya Pak, kek grafik bisnis di kantor hehehe" (- Jongdae, abis itu digaplok Namjoon)

"Seokjiin my babyyyy, selamattt! Ih gila kemaren padahal bilangnya mau jodohin, tapi ujung-ujungnya diembat sendiri ya hahaha~ canda, beb, candaaa~ semoga jadi keluarga yang bahagia, langgeng, sakinah mawadah warohmah lah yaaa aamiin~" (- temen kantor Seokjin yang sempet minta jodohin sama Namjoon)

"Hai. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga berbahagia dan langgeng sampai akhir hayat. Doain aku bisa move on dari pengantinnya juga yah. Hehe." (Temen Seokjin yang waktu itu mendadak pengen jadiin Seokjin tunangan)

"Hey, Seokjin. Wah, ga ngabarin lagi nih nikah ama Pak Namjoon? Okelah, selamat ya, semoga jadi keluarga bahagia selalu dan langgeng sampai akhir hayat. God bless you two." (- temen lama Seokjin anak S3 Todai kemaren, identitas masih dirahasiakan)

de el el de el el.

.

(Ucapan dari temen-temen Seokjin buat trio bocah Keluarga Cemara)

"Jimeeeeen, selamet yeeee punya mama baruuu, cieee~ parah si ga ngomong-ngomong lagi ama geng gosip, yaudah deh gapapaa, yang penting bahagia selalu yee si papah dan si mamah~ trus punya dede baru lagiii hehehe ya pokonya happily ever after lah tjiin, aamiin~" (geng gosip Jimin)

"Woy bro, anjir bapak lu nikah lagi bro? Sabi sabi~ selamet ehh gile boleh juga tuh, dosen SNU. Cakep otak, cakep muka, cakep juga tuh hatinye. Ea, sabi sabi. Semoga cakep juga ye hubungannye sampe akhir hayat. Aamiin Ya Allah Ya Rabbal Alamiin. Dari kami, Geng Hamba Allah, Alhamdulillah Luar biasa, Allahu Akbar!" (- gengnya Taehyung di sekolah. Anggota masih dirahasiakan)

"Uy bocahhhhh payah e lu ga kasitau kita2 bokap u merit lagiii, selamat yaaa, happily ever after buat om dan... om tantik? Hehehehe GBU" (Hayoung dan geng gosip Jungkook di sekolah)

.

.

.

.

.

Selesai acara, Namjoon dan Seokjin akhirnya dapat melepas lelah. Tanpa melepas kebiasaan untuk bercanda, tertawa seperti biasa. Namun, senyum yang terlihat tentu jauh berbeda. Jauh bersinar, dan jauh menampakkan cinta yang nyata.

Ketiga buah hatinya kemudian menghampiri mereka dan tersenyum menatap sang ayah dan guru les mereka. Guru les yang tak pernah disangka akan bersanding di sebelah sang ayah tercinta sebagai pendamping hingga akhir hayat.

Kak Seokjin. Kak Kim Seokjin yang mereka kagumi.

Seokjin yang masih merasa malu-malu dengan mereka hanya merasa mampu memberikan senyuman manis.

Dan sebelum dia sempat berkata untuk memecah keheningan, si sulung mendahuluinya dengan memeluknya.

"Selamat datang, mama!" serunya.

Seokjin tertegun. Lalu kemudian si anak kedua memeluk sebelah kanannya.

"Halo, ma."

Kemudian disusul dengan si bungsu yang memeluk di sebelah kirinya.

"Welcome, my super mom!"

Seokjin tak dapat menahan air matanya lagi. Membalas pelukan mereka bertiga erat. Menyambut awal yang baru dari segalanya.

"Halo para superman kesayangan, Chim-Chim, Tae, Kookie."

.

.

.

.

.

Tidak lupa, Namjoon, laki-laki yang bukan sekadar role model belaka lagi untuknya, menjadi pelukan yang menutupi punggungnya, berbisik mesra di telinga.

"Hello, my beautiful bride."

.

.

.

.

.

# end

.

.

.

.

.

.

.

[ epilogue ]

Suatu hari yang damai nan ramai di sebuah rumah. Rumah yang dikenal dengan sebutan Rumah Keluarga Cemara.

Tiga orang anak bungsu tengah berseru. Di tengah sarapan pagi. Sosok ayah yang membaca koran. Sang ibu yang memasak mengenakan celemek. Tipikal cerita remaja.

"Haaaaa kok mama gituuu?" seru si bungsu.

"Parah sih mama gak mau jadi guru les kita lagi," si sulung menimpali.

"Ehh bentar dulu, mama gak bilang gitu kok." Sang ibu kemudian menenangkan buah hatinya. "'Kan mama cuti dulu bentar, mau nyelesain kerjaan mama di kantor dulu sampe kelar, trus baru deh lanjutin jadi guru les anak-anak mama~"

"Oooooooo~ bilang dong dari tadiii~"

"Yeee orang juga udah mau bilang tapi ga didengerin."

"Trus kalo gitu siapa yang bakal jadi guru les privat kita?" tanya si tengah.

"Oh, soal itu sih beres, mama udah siapin penggantinya." "Orangnya jauh lebih kece dari mama. Lebih pakem ilmunya. Secara Profesor gitu lho. Tapi hati-hati," "Jangan harep bisa bolos dengan mudah dari dia. Hihihi~"

"Iiii tu kan, jahat! Pasti ga enak nih bau-baunya!" anak-anaknya kembali bersahutan.

"Ssst, jangan bilang gitu. Percaya aja sama mama yah. Hehe. Bentar lagi orangnya dateng." "Oh, panjang umur. Itu dia mobilnya."

Si bungsu kemudian mengintip dari jendela. "Wow. Mercy."

"Beneran guru les nih ma?"

"Hehe. Kece 'kan? Ganteng juga loh orangnya." "Chim-Chim juga udah mama daftarin tuh biar les sama dia. 'Kan lumayan, anak-anak mama ntar otaknya pada encer semua kayak dia. Biarin deh bayar rada mahal dikit."

"Emang berapa ma?"

Mamanya tidak menggubris, langsung keluar ke arah pintu, menyapa sang guru les. Dialah si lulusan S3 Universitas Tokyo di usianya yang masih terbilang muda, 25 tahun. Yang berwajah tampan, memakai kacamata, dan berkulit putih. Yang sempat mengunjungi Seokjin di waktu kegiatannya membuat soal UAS.

"Naaah, ini dia anak-anak, guru les baru kalian~" "Hehe, ga usah sungkan gitu loh, bahunya," ujarnya sembari memijit bahu temannya pelan.

Si guru les baru hanya menatapnya sekilas. "Siapa yang sungkan." "Kenalkan, saya Min Yoongi, dosen Program Studi Teknik Elektro Seoul National University. Salam kenal."

Ketiga bocah itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dari perawakannya. Dari cara bicaranya. Caranya melihat mereka...

Sepertinya guru les kali ini... bukan orang yang cukup 'menyenangkan?'

.

.

.

.

.

# to the sequel ~

a/n: yee hepi ending deh. hamdalah. seneng banget kek lebaran.

yah sebelumnya mau ngucapin makasih dulu buat semua yang udah dateng, dan yang berbaik hati untuk komen, follow, favorite, pokonya yang udah dukung cerita ini lah. yoi, tenang aja bagi yang ngomen, diem-diem gini semua komennya aku baca kok. dan sori ya kalo ga kejawab bagi yang nanya haha. yang jelas, tentunya aku apresiasi lah itu semua sebagai salah satu bentuk pembangkit semangat aku hehe. tepuk tangaaan, prok prok. makasih banget, maaf banget kalo opening, ending atau ceritanya keseluruhan ga memuaskan, terkesan maksa, kecepetan, ga kolu dan apalah itu, saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya. tapi diatas segalanya, ini fic emang ga akan se-sabi ini tanpa dukungan kalian. eaa. sabi banget?

okeh. apalagi ya. udah deh itu aja keknya. akhir kata, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. thank you for liking and supporting this story. 'till next time!

oh iya, nanti ada sekuel buat lop stori anak-anaknya~ yang pertama YoonMin dulu ya. see you~