Daddy and His Beloved Triplets - Home Tutor [ Special Chapter I ] •

[ series ; bahasa ; b x b ; bts ; namjoon ft. jimin, taehyung, jungkook ; yoonmin t / r ]

a/n: spesial yoonmin. disini mohon maap yoonginya yang seme, jiminnya yang uke. tapi ga ngefek banget sih keknya, karena ga yang macem-macem juga, paling kelakuannya doang. ratingnya T tuh buat sisipan 'adegan nganu'-nya Namjoon & Seokjin aja. tiati aja si bikin geli. moga berkah.

.

.

.

.

.

.

.

#

"Saya Min Yoongi, dosen program studi Teknik Elektro Seoul National University. Salam kenal."

Kesan pertama yang ditinggalkan si guru baru memang tidak terbilang bagus.

Pasalnya ketiga trio Keluarga Cemara bisa merasakan kehadiran hawa misterius yang menegangkan darinya.

Hawa yang seakan-akan akan menghantui mereka sehari-hari. Hawa yang meneriakkan intimidasi yang kuat.

Yaa yang diatas lebay sih, cuman mereka kaya ngerasa 'wah ni orang keknya rada gimanaa gitu'.

Betul. Ketiga trio itu bisa merasakan dari cara si guru menatap mereka. Dari caranya bicara. Dari situ saja mereka merasa seolah sudah dinilai. Jelas, gelar Profesor yang seolah hanya cuma-cuma diraih karena didapatkan di usia yang terbilang muda, yang saat ini ilmunya 'disumbangkan' di kampus di negeri tercinta, Seoul National University. Juga dari sikapnya yang tepat jika disimpulkan dalam satu kata seperti yang dibilang sang ibunda.

Tegas.

Ah, ga asik. Dari cara pengarang deskripsiin dia aja udah ga asik.

Tapi emang tiga bocah itu juga manggut-manggut aja pas dia baru ngenalin diri doang.

Duh, gimana ya jadinya kedepannya kalo sama dia?

Ini si mamah beneran ga salah milih orang 'kan?

.

.

.

.

.

Emang sih, kebanyakan orang pinter tu punya karisma tersendiri.

Kaya si guru les yang baru sendiri. Dia dari fisik, otak, dan materi udah terjamin. Ibarat kalo di karate, udah sabuk item. Ato dalem Level Profisiensi Bahasa Jepang, udah N1. Ato kalo dalem jabatan di pemerintahan, udah Presiden, atau Kaisar, atau Ratu/Pangeran. Tipikal manusia (nyaris) perfek yang satu sisi dipuja, satu sisi dihujat. Yang satu gara-gara cinta, yang satu gara-gara benci, yang jaraknya tu beda tipis kalo kata orang di dunia nyata.

Tapi dari semua penjelasan di atas, sayangnya ga ada yang nyambung sama yang mau dibahas di bawah.

Eh mungkin ada sih yang nyambungnya kayanya. Coba lanjut dibaca-baca aja lah ya, nyambung apa ngganya.

Emang sih,

Si guru les yang baru itu pinter,

ganteng,

tajir,

tapi...

.

.

.

.

.

(Keluarga Cemara ft. Guru les baru, Naskah Drama Ver.)

Ibunda: "Naah, sekarang anak-anak mama udah kenalan semua ama Ka Yoongi~ yee tepuk tangan dulu doong."

Si bungsu: "Apa ih Mamah, gausah kaya Papah deh."

Ibunda: (manyun) "Ih Mama dimarahin."

Si tengah: "Yee... (tepuk tangan)"

Ibunda: "Yee Tae tepuk tangan, seneng deh mama~ oke, sekarang, lanjut. Kita mau ngapain tadi?"

Si sulung: "(tampang males) baru tepuk tangan, belum ngapa-ngapain."

Ibunda: "Oh iya. Oke. Jaadi, abis ngenalin Ka Yoongi, sekarang giliran mama yang ngenalin anak-anak Mama ke Ka Yoongi yaaa karena, kalau tak kenal, maka tak sayang~ setuju gaa?"

Trio bocah: "Setujuuuu."

Ibunda: Yeee~ (tepuk tangan lagi) langsung aja yah. Dari yang paling deket ama Mama dulu nih. Yoongi, kenalin, ini anak bungsu aku yang paling cantik, namanya Jungkook. Dipanggilnya Kookie~" (sambil peluk manis anak bungsunya)

Si bungsu: (senyum cerah) (lambai-lambai) "Halo, Ka Yoongi~" (abis itu kasih tampang cemberut ke maknya gegara ngomongin dia cantik) (maknya cuman cengengesan abis itu cium pipi si bungsu)

Guru les: (tampang fierce) "Ya. Salam kenal, Jungkook."

(digituin, si bungsu langsung diem pose anak pramuka latihan baris berbaris)

Ibunda: "Yee~ (jalan gaya putri raja ke anak kedua) terusss, abis itu... anak kedua aku nih Yoon, namanya Taehyung, dipanggilnya Tae. Yang paling cakep nih anak aku yang ini~" (sambil gelayutan manja di tangan anaknya)

Si tengah: (nunduk ala orang Jepang) "Salam, Kak Yoongi. Mohon bantuannya."

Yoongi: (masih dengan tampang fierce) "Ya, salam kenal, Taehyung."

Ibunda: "Naaah, (jalan ala putri raja lagi) ada lagi nih Yoon, yang terakhir... anak sulung aku, yang paling unyuh, paling emesh, daaaan paling apa, Tae, Kookie~?"

Si tengah & si bungsu: "Paling GENDUUUD segalaksi bekasi."

(Walau ga ada yang tau gegara lagi ketawa, si guru les sempet senyum kecil dengernya (atau malah saking ga keliatannya mulutnya gerak jadi ga ada yang tau)).

Si sulung: "(cemberut keras) 'Kan mulai 'kan bully lagi 'kan."

Ibunda: "(cengengesan) becanda sayaang, 'kan cuman intermezzo (meluk Jimin seakan meluk panda kesayangan, abis itu dicium pipinya) Nah, dia ini namanya Jimin nih, Ka Yoongi ~ panggilannya Chim-Chim."

Si sulung: (berusaha senyum natural) "Halo, Ka Yoongi."

Yoongi: (seperti biasa tampang fierce masih dipasang) "Salam kenal, Jimin."

Yoongi: "Jimin gendut segalaksi Bekasi."

Langsung lah yang lain heboh dengerin guru les baru ngomong kek gitu. Tinggal Jiminnya yang ngambek masuk kamar.

.

.

.

.

.

Abis itu, dengan susah payah Jimin akhirnya keluar kamar dengan bujukan sang mama (gegara disogok oleh-oleh lidah sapi Ostrali aja sih)

Seokjin: "Naah, 'kan udah pada kenalan semua sama guru lesnya yang baru. Sekarang, waktunya anak-anak Mama les sama Ka Yoongi. Baik-baik yaa sama dia, belajar yang rajin. Oke?"

Trio bocah: "Okeee"

Seokjin: "Siip, Mama mau lanjutin kerjaan dulu. Dadah~"

Trio bocah: "Dadah Mama~"

Seokjin: "Betewe Yoongi mau dibuatin apa nii? Teh? Susu? Kopi? Marjan?"

Yoongi: "Kopi aja, makasih ya."

Seokjin: "Oke, gulanya seberapa?"

Yoongi: "Ngga usah pake gula."

Seokjin: "Ehh? Pait banget dong? Emang enak?"

Yoongi: (tampang mahasiswa kritis yang ngeluarin pendapat) "Justru saya ga ngerti kenapa orang rata-rata gabisa minum kopi kalo gapake gula, tapi bisa minum teh gapake gula. Kebanyakan orang cuman punya sensitivitas ke-teh-an, ga punya sensitivitas ke-kopi-an."

Yang laen pas denger dia ngomong kek gitu pengen komentar tapi ga jadi. Bengong aja. Suka-suka.

Seokjin cengengesan aja nge-iya-in trus jalan ke dapur. Udah paham.

Iya sih, guru les baru emang pinter.

Ganteng.

Tajir.

Tapi rada-rada.

.

.

.

.

.

(Pelajaran dengan guru baru dimulai - Bahasa Cerita Jaman Baheula Ver.)

Di bawah matahari menyengat di siang bolong, ketiga pemuda hamba sahaya tengah memulai pelatihan dengan sang pembimbing yang baru. Sang pembimbing alias Panglima Raja negeri seberang duduk dengan jantan di sofa tempat hamba-hamba sahayanya biasa memulai pelatihan (a.k.a kursus mengursus), dengan ketiga hamba sahaya barunya duduk bersimpuh mengharapkan pelatihan yang sama seperti cara pembimbing mereka dulu yang baik hati.

"Keluarkan apa yang telah kalian persiapkan untuk kupertajam oleh tangan ini, wahai hamba-hambaku."

Ketiga hamba sahaya serentak menjawab sambil membungkuk hormat.

"Baik, Tuan Panglima."

Dan menyiapkan apa yang sudah dipersiapkan selama di perjalanan dari balik tas dari karung goni yang mereka bawa.

Masing-masing memiliki benda yang sama, namun berlainan topik bahasan.

Buku-buku pelajaran kelas 3 SMP. Matematika. Biologi. Bahasa Inggris.

Sang pembimbing menatap ketiga benda persiapan yang berbeda dari masing-masing hamba sahaya. Lalu beliau bertanya.

"Wahai hamba sahaya, yang mana yang akan kupertajam untuk kalian terlebih dahulu?"

"Punya Jimin dong, Ka... besok banget nih dikumpulnya. Plis, Ka..."

"Punya Taehyung dulu keknya sabi, Ka."

"Punya Jungkook, punya Jungkook!" Si bungsu heboh selepas akting. "Besok juga Jungkook mau ngumpulnya."

"Ih apaan? Bukannya kamu nanti ngumpulinnya hari Jumat?" Si sulung langsung protes.

"Ih hari Jumat tu libur Cuti Bersama tau! Makanya bapaknya minta besok banget nih biar cepet dikoreksi katanya, hiksss mau nangis :"("

Si sulung mencibir. "Ah kamu kaya gatau Amir aja, dia 'kan tukang ngerjain. Disuruh kumpul hari kamis juga paling tetep kamis depan dikumpulnya," tandasnya.

"Apaan si sok tau? Orang dia sendiri yang ngomong besok dikumpulnya gapake telat-telatan?" Si adek bungsu ngotot.

"Ih ga percayaan banget si? Kamu udah berapa lama emang diajar Amir? Belom setaon juga 'kan?"

"Dih emang kenapa? 'Kan dimana-mana kalo guru bilang ngumpul besok ya besok! Kenapa aku mesti percaya ama kamu?"

"Ih yaudah terserah deh, pokonya aku mau punya aku dulu yang dibahas, baru punya kamu." Jimin langsung menyodorkan bukunya di hadapan guru les baru tanpa babibu sambil senyum lebar. "Nih Ka Yoongi, boleh ko diliat dulu pe-er aku yang halaman ini." Abis itu noleh ke adeknya yang udah masang muka bete keras. "Ngalah dong sama kakak sekali-sekali."

"Ih dimana-mana tuh kakak tau yang ngalah ama adenya! Taehyung! Belain aku dongg, aku dianiaya nih sama si gendut egois," rengek si bungsu goyang-goyangin tangan kakak tengahnya. Si Taehyung cuek aja. Udah biasa ngeliat kaka ama adenya berantem kek Tom&Jerry.

Jimin langsung cemberut dibilangin gitu. "Ih kamu kok jahat si ga pernah sopan sama aku?"

"Ya abis kamu tuh emang sukanya mau menang sendiri aja, dari dulu juga," balasnya dengan masih menggandeng Taehyung. Masih menggoyang-goyangkan tangannya sambil merengek pasang wajah seolah paling ter-bully. "Tae... gebukin Chim, Chim jahat ama Kookie..."

Si Taehyung cuman masang muka udah males. "...serah kalian ajalah."

"Iii Tae... ko gitu ama Kookie? Ga kasian apa ama Kookie diterobos mulu ama Chim? Ga sayang lagi apa ama Kookie...?" Jungkook mengeluarkan rengekan pamungkasnya yang (biasanya) mampu meluluhkan defender squad-nya kala disakiti musuh bebuyutan dari jaman jebot itu.

Akhirnya Taehyung hela napas aja. "Yaudah, suit sana, suit."

"Gabisa, pokonya Chim duluan." Jimin tetep ga peduli, gamau bangkit dari posisi melukin mejanya.

"Ih apaan Chim alay gendut se-Bekasi, aku duluan tau ih," akhirnya dia kek ngedorong kakanya gitu dari depan meja, frontal. "Ya Ka Yoongi, ya Ka Yoongi...? Masa mau sih ngerjain pe-er orang egois kaya dia?"

Sang pembimbing terdiam. Mencopot mahkota palsu dari kertas manggis emas yang entah datang darimana, lalu memasang wajah killer-nya.

Lalu berkata.

"Pelajaran tidak akan saya mulai kalau masih ribut seperti Pasar Tanah Abang."

.

.

.

.

.

Ujung-ujungnya si majikan pilihin pe-ernya hamba sahaya sesuai urutan yang paling pertama lahir. Si Jimin. Seneng banget kek lebaran abis itu dianya. Yang si bungsu cuman pasang muka bete kenceng.

"Oke, sebelum memulai kegiatan kita hari ini, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung."

Ketiga bocah langsung diem di tempat dengerin guru les barunya ngomong kek gitu. Langsung ngerasain bau-bau ga enak.

"Pertama. Saya hanya mengizinkan keterlambatan untuk mengikuti kursus selama 30 menit. Lebih dari itu silakan anda semua belajar mandiri."

Glek. Semua nelen ludah.

"Kedua. Saya hanya mengizinkan ketidakhadiran anda semua, atau dengan kata lain tidak mengikuti kursus selama tiga hari dengan alasan yang mendukung. Alasan karena malas ataupun dalam keadaan tidak mendesak lainnya tidak diperkenankan. Dan jika sudah lewat dari tiga hari, saya akan mempertimbangkan sanksi di kemudian hari."

Glek. Semua nelen ludah lagi.

"Ketiga, selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, dilarang membuat kegaduhan atau keributan seperti di Pasar Tanah Abang."

Glek. Semua nelen ludah lagi, cuman kali ini pengen ketawa dikit.

"Keempat, ini yang paling penting." "Tanamkan profesionalisme pada diri anda masing-masing. Jika saya sebagai guru les telah memberi anda aturan main, harap ikuti. Saya pun akan bersikap profesional terhadap anda, membimbing, memberi pengetahuan dan memfasilitasi anda dengan sebaik-baiknya." "Kenapa ini dibutuhkan? Karena semakin anda dewasa, jalan bagi anda semua akan semakin luas dan jika anda tidak mampu menempatkan diri anda dan menjalankan tugas anda dengan baik, that's the dead end."

Glek. Semua nelen ludah ampe kerasa tenggorokannya ngilang. Berasa mo dihukum gantung. Ya ngga sih, lebay. Antara ngerti ngga ngerti gitu beliau ngomong apa.

"Bagaimana semua, setuju dengan perjanjian?"

Yang laen diem. Pengen ga setuju, tapi ntar dibogem. Bogemnya bentuknya dia ga mau ngajar.

Yaudah deh, iyain aja biar cepet. Demi Mama lagian. Yang katanya 'udah bayar agak mahal dikit'.

"Setuju, Ka."

"Baik, itu saja. Harap kita semua bisa berkoordinasi dengan baik dengan saya mulai saat ini dan ke depannya, terimakasih."

Glek. Semua nelen ludah buat yang terakir.

Sumpah.

Emang sih guru les yang baru pinter.

Ganteng.

Tajir.

Tapi beneran bikin pengen gantung diri.

.

.

.

.

.

"Baik, hari ini kita bahas Matematika BAB 5, Bilangan Berpangkat." Guru les akhirnya resmi memulai kegiatan les sembari mempelajari isi buku dalam satu dua tatapan, kemudian langsung memberi komando.

"Kerjakan halaman 57, Pilihan Ganda nomer satu sampe dua puluh sama isian nomer satu sampe sepuluh, saya kasih waktu satu setengah jam dari sekarang."

Si bungsu langsung komplain. "Ko banyak banget si kaaa?"

"Banyak? Ngga juga," ujarnya sambil merapikan kacamata. "Yang penting kerjain aja semuanya dulu, soal ngerti ga ngerti belakangan. Kalo udah selesai, baru kita bahas. Jangan kebanyakan ngeluh."

Si Jungkook reflek diem.

Yha menurut ngana hari pertama les langsung digituin.

Si Jimin cekikik aja. Langsung dipelototin ama ade bungsunya. Jimin bales jebil. Taehyung langsung dengan gaya antengnya ngerjain.

.

.

.

.

.

"Ka Yoongi, kalo ini mestinya digimanain ya, Kak?" Si bungsu nanya di tengah-tengah waktu pengerjaan soal.

Si guru les baru yang sedang membaca novel tidak mengalihkan tatapannya dari bacaannya. "Hm, yang mana."

"Yang inih."

"Yang mana."

"Yang ini lohhh." Jungkook sambil nunjukin yang mana-nya sambil gemes.

"Yang mana." Si guru les tetep santai aja baca.

Si bungsu mulai kzl. "Iiih, yang iniii, Pilihan Ganda nomer tujuh. Coba liat dulu deh Kakanya tuh."

Baru deh si guru les noleh ke dia, ke soal yang dia tunjuk tepatnya. "Gitu. Yang jelas ngomongnya biar saya tau yang mana." "Mana sini saya liat."

Jungkook cemberut.

.

.

.

.

.

"Kalo yang ini pake rumus apa ya kak." Giliran si Taehyung yang nanya.

"Yang mana." Yoi, belom dibilangin yang mananya dengan tepat belom mau noleh si guru lesnya.

"Isian nomer lima."

Langsung abis itu dia noleh, neliti soalnya.

"Ini gerak jatuh bebas 'kan. Kalo yang ditanyain tingginya pake rumus apa."

"Ee... Bla bla, Kak." (dia ngomongin rumus gaibnya ye)

"Nah itu ngerti. Yaudah masukin aja."

"Tapi ga ngerti mau masukin angkanya gimana, Kak."

"'Kan tadi saya udah bilang, kerjain dulu semuanya ngerti ga ngerti. Kalo udah selesai, baru dibahas."

Taehyung manggut-manggut aja, dilewatinnya soal yang tadi. Ngerjain nomer yang laen.

Sementara si Jungkook udah liatin guru lesnya dengan tatapan males. Jimin masih tetep usaha ngerjain soal, cuek bebek ama lingkungan sekitar.

.

.

.

.

.

"Selesai nih, Kak." (Taehyung)

"Aku juga selesai, Ka." (Jungkook)

"Jimin belom Ka, dikit lagi."

"Oke, mana coba saya liat. Jimin waktunya tinggal sepuluh menit ya."

"Yongkru bro~" jawab Jimin santai, angguk-anggukin kepala. Dia ngerjainnya sambil dengerin lagu soalnya.

"Hm... punya kamu kok banyak kosong, Jungkook?"

"Abis banyak yang aku ga ngerti," ujarnya sambil memajukan bibir bawah.

"Hm, oke. Taehyung... yang tadi dilewatin ya. Sama pilihan ganda nomer 2, 5, sama 7... sama esai nomer 9."

Taehyung manggut-manggut.

"Oke. Kita tunggu Jimin selesai dulu. Nanti baru saya bahas dari Pilihan Ganda."

.

.

.

.

.

(ceritanya Jimin udah selesai)

"Jimin... kamu ga bisa jawab nomer 2, 4, 5, 7, 11, 15, sama isian nomer 6 dan 9 ya."

"Iya Ka, ga ngerti soalnya hehe," jawabnya sambil cengengesan.

"Oke, udah selesai semua, ya. Kita mulai bahas dari soal yang paling mudah dulu, Pilihan Ganda Nomor 2. Perhatikan penjelasan saya baik-baik."

Dalam hati Jungkook: mudah palelu.

"Jadi gini."

.

.

.

.

.

(Hamba sahaya setelah dicerahkan)

"Ooooo gitu ya Kak ngejawabnya." Si bungsu manggut-manggut mantep. "Ngerti, Kookie, ngerti."

"Bagus. Taehyung udah paham?"

"Udah, Kak." Si tengah ikut-ikutan manggut-manggut.

"Jimin gimana?"

"Iyah, ngerti kok." Si sulung juga ikutan manggut-manggut. "Mudah banget ternyata. Hehe."

"Mudah kan." Si guru les menggulung lengan kemejanya, masih dengan gaya killer-nya. "Jangan bilang susah dulu sebelum usaha."

Iya sih pinter.

Ganteng.

Tajir.

Tapi ngeselin.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Iklan)

Gebetan: Besok kan kamu ultah, mau minta apa? apapun akan ku kabulkan

Aku: Minta kamu menghilang dari hidupku boleh?

(Courtesy dagelan (et) instagram)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-II)

"Hei, Ka Yoongi." Jungkook menyapa guru les barunya dengan senyuman.

"Oh, selamat sore, Jungkook," balas Yoongi dengan wajah tegasnya seperti biasa. "Mana kakak-kakakmu?"

"Chim- eh, Jimin lagi ada latihan dance, Taehyung masih di... oh, tuh, udah di tangga."

"Oh, Jimin tidak bisa hadir?"

Jungkook menggeleng. "Ngga, Ka." "Dia emang gitu sih. Dulu aja les sama Mamah sering ga ikut juga gara-gara latihan dance."

Yoongi diam sebentar, kemudian mengangguk pelan. "Oke. Kali ini mau bahas apa?"

Bersamaan dengan dia bertanya, Taehyung datang dengan membawa buku Fisika. Jungkook mengeluarkan buku Bahasa Inggris-nya seperti biasa.

"Oke. Mau yang mana dulu dibahas?"

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Seokjin dan Taehyung)

Tok tok tok.

"Samlekum, Ma."

Seokjin menyahut dengan posisi lagi nyender di bantal sambil baca buku. "Waalaikumussalam, sayang."

"Lagi baca ya Ma."

"Iya, baca komik."

"Oo komik apa Ma?"

"Kurobas, hehe."

(Note: fanboy session ahead, brace yourselves.)

"Ooh. Tae juga baca tuh." Taehyung duduk di tepi kasur, samping ibunda. "Ini yang volume berapa?"

"Yang Seirin tanding ama Rakuzan. Seru bangettt huhu Akashi ganteng banget. Sedih Mama."

"Oo Mama seneng Akashi?"

"Ngga, senengnya sama Midorima hehe. Tapi Mama seneng juga sama Akashi, abis dia perfek banget sii huhu gabisa Mama gakuat." "Tapi Mama seneng juga si sama Aomine, badboy Ace-nya Mama hehe, gakuat juga tuh ama dia." "Eh tapi Kise lucu juga sih. Eh tapi Kuroko juga lucu. Bayi Mama, hehe."

"Ya semua Kiseki no Sedai dong berarti." "Eh ngga deng, kecuali Murasakibara."

"Murasakibara seneng juga koo. Tapi ga seseneng ama kek yang laen si. Gimana ya, kek... dia tu yang paling terakhir Mama senengnya di Kiseki no Sedai. Gitu deh. Tapi dia lucu kook, badan gede tapi males-males kek anak-anak tapi keren."

Taehyung manggut-manggut. "Banyak ya kesenengan Mama."

"Iya, banyak." "Mama juga kalo selain Kiseki no Sedai suka sama Uncrowned Generals juga. Sukanya sama Mibuchi hehe."

"Oo. Yang lain?"

"Yang lainnya juga Mama seneng, abis kereen. Kiyoshi, Kotaro, sama Nebuya. Cuman sayang sii Hanamiya-nya jahat, bukan tipe Mama banget." Mamanya jebil. "Banyak banget yah kesenengan Mama." Terus nyengir dia.

"Iya. Sekalian aja ama yang kokoh-kokoh jualan ramen."

"Hee emang ada kokoh-kokoh jual ramen?"

"Gatau deh coba liat aja di komiknya gimana."

.

.

.

.

.

"Kalo Tae seneng siapa di Kurobas?"

"Aomine, of course." Taehyung menjawab dengan mantap, ngangkat-ngangkat alis.

"Oo. Keren ya. Sama kaya Papa dong. Papa seneng Aomine juga."

"Oo Papa seneng Aomine juga ya Ma?"

"Iya." "Bukan seneng sama Akashi ya Tae?"

"Gatau sih. Senengnya ma Aomine aja. Keren banget soalnya." "Akashi mah banyak banget yang seneng. Cewe-cewe di sekolah yang nonton Kurobas pada senengnya ma Akashi semua."

"Oiya? Emang perfek sih dia. Ganteng, pinter, anak bangsawan, basket level Emperor lagi. Huhu gakuat lagi 'kan." "Mama kalo ga ketemu Papa mau deh nikah ama dia."

"Yee dia 'kan kartun doang."

Mamanya nyengir kuda aja. "Iya si." "Tetep tapi kalo disuruh pilih Papa apa Akashi, emm... agak mikir dua kali gitu ya. Yaaa keknya lebih ke Akashi sih." Abis itu Maknya ketawa ngomong kaya gitu. Anaknya cuman mencibir dikit aja.

"Yaudah, suka-suka Mama."

"Hehe, canda loh, candaa."

"Iya, iya." "Kookie juga senengnya Akashi tuh. Gegara merahnya doang sih."

"Oo, emang tuh si Kookie. Senengnya merah-merah." "Kookie si gadis berkerudung merah."

Gentian Taehyung yang nyengir kuda.

.

.

.

.

.

"Chim, Chim? Seneng siapa dia?"

"Ga ada. Dia ga ngikutin Kurobas." "Tapi kalo disuruh pilih dia milihnya Izuki."

Si Mamah langsung ketawa. "Oh demiapa?"

"Iya. Lawakannya kocak katanya." "Ga sih, kalo dari Kiseki no Sedainya dia milih Kise. Unyu soalnya katanya."

"O gitu." "Tipe Chim banget lah ya."

"Iya. Chim banget. Tipe-tipe gatel."

Maknya ketawa aja. "Tapi Kise ga gatel tuh."

"Iya, maksudnya Chim-nya doang yang gatel."

Trus mereka bedua ketawa bentar ngegosipin si sulung. Yang digosipin dari jauh langsung bersin.

.

.

.

.

.

(end of fanboying Kurobas session, finally.)

"Betewe Mama belom tidur?"

"Belom, Mama nungguin Papa pulang hehe."

Taehyung manggut-manggut.

"Tae mau nanya, Ma."

"Hm? Nanya apa sayang?"

"Mama bisa tau sama Ka Yoongi darimana?"

"Ooh, dia itu temen Mama dulu waktu SMA. Temen akrab, hehe."

"Ooh pantes." "Kok dia udah profesor masih mau jadi guru les, Ma?"

"Hmm… panjang ceritanya."

"Awalnya 'kan Mama tuh cuman cerita ama dia, karena lagi sibuk proyek kayanya Mama ga bisa ngajarin anak-anak Mama les. Dan lagian kalo misal anak-anak Mama les di luar tuh Mama pikir kaya kurang efektif gitu loh walaupun tempatnya bagus. Kaya, orangnya rame dan waktu konsul sama pengajarnya juga cuman dikit gitu, ga sepenuhnya fokus ke kita. Jadi Mama pikir mending privat aja." "Cuman Mama pusing mikirin siapa guru lesnya, karena temen-temen yang lain pada sibuk semua 'kan. Akhirnya dia mau deh nawarin diri buat jadi guru les yang baru."

"O gitu. Emang dia ga sibuk juga?"

"Yaa... sebenernya sih kalo mau dibilang sibuk apa ga-nya Mama tau sih dia jadwal padet. Dan Mama juga kaya awalnya ga enak gitu 'kan mau minta waktu dia, tapi dia bilang gapapa karena cuman buat tiga bulan dan biayanya terserah Mama. Karena dia ga mikir kerjaan 'ah cuman sekadar guru les' gitu ngga, yang penting dia bisa ngajar dan istilahnya nanem semangat buat maju gitu loh. Keren 'kan dia." "Dan karena kita udah temenan lama dan kalian tu anak-anak Mama, jadi ya gitu, dia tetep mau gantiin Mama sementara waktu hehe."

Taehyung manggut-manggut.

"Emang dia keknya keren gitu ya Ma."

"Iya dong, Ka Yoongi 'kan dari SMA-nya emang udah pinter. Kaya Papa hehe."

"Emang Papa gitu ya, Ma?"

"Loh emang Papa ga pernah cerita ya? Dulu dia 'kan di SMA sering ikut debat Bahasa Inggris, menang lagi. Pernah berapa kali ikut olimpiade gitu juga katanya, dapet perak satu, emas satu."

"O iya?"

"Iya. Trus pas kelas tiga nilai UN-nya paling tinggi se-daerah kategori IPA."

"Widi."

"Trus masuk kuliahnya dia beasiswa di universitas negeri dan double degree di Jerman." "Abis itu S2-nya juga beasiswa di Yale, Amerika. S3-nya karena Papa udah punya biaya sendiri, dia tetep pake beasiswa tapi ga full, di Oxford, London. Keren 'kan Papa kamu?"

Taehyung takjub denger penjelasan soal prestasi Bapaknya yang ga disangka, walopun ada beberapa hal yang dia ga ngerti, tapi karena kedengerannya keren banget gitu, kek 'olimpiade', 'beasiswa' trus 'di Amerika, London' gitu di kuping jadinya dia takjub aja.

"Oh? Papa dulu gitu ya ternyata?"

"Loh Tae gatau ya?"

Taehyung menggeleng. "Ga pernah cerita malah dia dulu tu gimana-gimana."

Seokjin ketawa aja. "Makanya, Mama juga baru tau lengkapnya pas Mama diceritain ama temen dia. Payah si ga cerita-cerita lagi dia emang."

Taehyung 'O' bulet panjang dulu sebentar.

"Iya. Payah si Papa ga pernah cerita-cerita dia jaman dulu. Cukup tau aja."

"Hehe. Belum waktunya aja kali."

"Iya." "Ngga nyangka aja Papa bisa gitu," lanjutnya. "Kirain emang dari lahir agak rada-rada gitu ampe sekarang."

Seokjin ketawa, memaklumi komentar blak-blakannya yang lucu.

"Papa diem-diem emang gitu tuh. Menghanyutkan."

"Iya emang."

Seokjin kemudian menutup komiknya, mengelus kepala anaknya.

"Nanti Tae jangan mau kaya mereka dong, harus lebih hehe." "'Kan sekarang Tae udah kelas tiga nih, mau masuk SMA. Nanti kalo udah SMA ga terasa tuh mau mikirin kuliah dimana. Makanya dari sekarang Tae belajar yang rajin, sekolahnya yang semangat. Ya sayang?"

"Iya Ma."

.

.

.

.

.

"Tapi kalo Taehyung mau jadi supir bajaj gimana, Ma?"

"Yaah jangan dong ntar Mama nangis ni."

"Hehe. Becanda kok, Ma." "Kalo Tae jadi pembalap gimana?"

"Hm... balap mobil? Motor?"

"Motor, kaya Valentino Rossi."

"Ooh, boleh, tapi Tae harus kudu juara 1 di kelas dulu yah hehe."

"Yah. Susah dong."

"Ngga susah dong, kalo usaha hehe."

"Hm. Iya sih." "Tapi kenapa kalo Tae mau jadi pembalap mesti juara kelas dulu?"

Mamanya mengelus kepala si tengah lagi dengan sayang.

"Because nothing worth having comes easy, sayangku."

.

.

.

.

.

"Kenapa Tae ga jadi pilot aja?"

"Pilot?"

"Iya, yang nyupirin pesawat. 'Kan ada tuh sekolah pilot yang bagus, nanti Mama sekolahin Tae disana."

"Hmm... boleh deh. Ditampung dulu idenya."

"Oke. Ditampung dulu ya."

"Iya." "Sekarang mau jadi pilot buat diri sendiri dulu. Hehe."

Mamanya senyum manis banget denger omongan anaknya kek gitu.

"Cium dulu anak Mama paling ganteng."

Si tengah membiarkan ibundanya meraih pipinya untuk dicium kemudian.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-III, udah selesai)

"Oke, sampe sini aja dulu pelajaran kita kali ini. Terima kasih." Yoongi meletakkan pulpennya di atas meja dengan kedua kakak beradik yang sudah terlihat worn out. Yang satu peregangan, yang satu nenggelemin kepala di atas meja.

"Hh... selesai juga. Makasi Ka Yoongi~" kata Jungkook seusai peregangan.

Taehyung ngangkat mukanya bentar buat ikut ngucapin makasi.

"Makasi Ka Yoongi."

Plek, abis itu nenggelemin palanya lagi.

"Ya, sama-sama," ujar guru les mengangguk dan beranjak dari sofa.

Sampai berakhirnya pelajaran, Jimin kembali tidak hadir. Kali ini Yoongi tidak menanyakan alasannya, tapi mulai memberi peringatan khusus dalam catatannya.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Edisi Namjoon & Seokjin telponan - Seokjin yang nelpon duluan - R19+) (langsung ijo mata liat yang 19+ 19+ gitu ye ga)

"Halo."

"Halo, Papah... lagi apa?"

"Hei, Mamah... lagi nyelesain kerjaan aja, kenapa?"

"Oo... masih di kantor ya?"

"Iya sayang, masih di kantor."

"Kamu kapan pulang sih? Katanya jam setengah sepuluh udah nyampe rumah."

"Iya ni, bau-baunya bakal lembur deh, mau nangis."

"Padahal pengen banget pulang."

"Ih kemaren lembur, sekarang lembur. Katanya yang hari ini besoknya bisa dianuin lagi?" (reflek ngomel)

"Yaa gimana ya keknya emang mau lembur sekarang biar besok ga rempong gitu."

(manyun) "Jadi kamu malem ini ga pulang lagi?"

"Pengennya sih pulang, tapi yah..."

"Huu bete ah."

"Iya nih eteb parah."

"Parah ih tiba-tiba lembur." (maen-maenin pita baju tidur ala ala cewe ngambek)

(Namjoon ketawa kecil) "Hehe, udah kangen ya?"

(diri dari tempat tidur abis itu kunci pintu kamar) "Banget." (trus nganuin bantal buat jadi senderan, nyender)

"Hehe. Kangen banget banget?"

(masih maenan pita baju tidur) "Banget banget."

"Hehe. Bangetnya segimana?"

(niat mancing) (seneng banget kalo udah kek gini) "Mhm... segimana ya..." (mulai suaranya bisik bisik manis manja) "...tebak dong segimana."

(mulai deg-degan) (takut ga fokus ama kerjaan) (ngetuk-ngetuk pulpen di atas meja, biar santay) "Hm... lagi ga bisa nebak nih."

"Gamau. Harus tebak dulu."

"Hm... harus nebak banget ya?"

"Harus dong."

"Hem... segimana ya..."

"Se...luas tembok negeri Cina?"

(ngerang pelan) "Nggak gitu ah nebaknya."

(makin deg-degan) (tapi tetep usaha kalem) (masih maenan ngetukin pulpen) "Trus gimana dong nebaknya?"

"Gimana ya..." (mulai mancing) "Tebak dari kalo misalnya aku kangen kamu, aku bakal ngapain."

(nyeringai) (ngerti banget maksud-maksud tersembunyi istrinya) (naro pulpen di atas meja, nyender di kursi, balik duduknya ngebelakangin meja) "Hmm... gitu ya."

(nyeringai cantik) "Iya. Cepetan dong tebak."

(mulai ngedalemin suara) "Harus cepet-cepet banget ya?"

(deg-degan denger suara lakinya begitu) (gigit telunjuk) "Iyalah... harus."

(ngebayangin macem-macem) "Kalo ngga cepet emang kenapa?"

"Kalo ngga cepet... ngga maju-maju jadinya."

(nyeringai) (makin bisik-bisik) (suara makin dalem) "Hm? Apanya yang ga maju...?"

(ketawa seksi) "Apa yah... gatau ah..."

(nahan keras biar ga kepancing) (bales ketawa pake suara rendah) "Kok gatau? Harus tau dong."

"Ngga mau... kamu belum nebak aku ngapain soalnya." (pelan-pelan nganuin rambut ke atas, pelan-pelan ngebuka tali baju tidur)

(ngerapiin posisi tempat duduk) (mulai ngerasa ngga nyaman) "Kamu lagi dimana emang?"

(matanya kelap kelip gegara 'semangat menggelora' godain suami) (pelan-pelan ngelebarin kerah baju tidur, ampe bahu keliatan semua) "Di kamar ajah... sendirian. Nungguin kamu."

"Hm... sendirian, yah." (gantian telunjuknya yang diketukin di lengan kursi)

"Iya sayang... sendirian." (narikin tali baju pelan-pelan, ampe bajunya kegeser ngeliatin setengah dada)

"Trus... sekarang ngapain?"

(pelan-pelan ngangkat baju tidur sampe atas puser) "Rasanya tadi aku minta kamu tebak, deh..."

"Oh iya... tebak ya."

"Hu-um..."

"Kalo misalnya aku nanya trus kamu jawab, gimana...?"

"Hu... cupu deh, nanya-nanya." (pelan-pelan... silakan dibayangin sendiri pelan-pelannya ngapain yah)

"Biar cupu tetep seneng 'kan."

"Iya dong, tetep suami aku."

"Ayo sayang, tebak."

"Oke... oke. Sabar dong, cantik."

"Ga bisa... lagi ga bisa sabar."

"Ho... lagi gabisa ya."

"Hu-um... ga bisa."

"Yaudah... gampang sih nebaknya."

"Hm...? Yakin gampang?"

"Yakin dong..."

"Aku tebak... kamu lagi mikirin aku."

"Mm... okey..."

"Mikirin kamu yang gimana...?"

"Mikirin aku yang lagi beduaan sama kamu."

"Mhm... terus...?"

"Terus... apa dong."

"Terus... sambil mikirin kamu aku ngapain...?"

(ene neh, ene dea neh)

"Hmm... tangannya tuh kayanya kemana-mana tuh..."

(ketawa seksi lagi) (lebih seksi dari yang tadi) "Hm... kemana emang tangannya...?"

"Kemana aja deh... yang bikin kamu seneng."

"Sambil bayangin itu tangan aku yang kemana-mana."

(Abis itu Seokjin gigit bibir, mendesis) (trus ngehela napas panjang) (ngehelanya kek yang mancing banget gitu) (Namjoonnya susah payah nahanin biar ga kepancing) (kerjaannya belom selesai soalnya) (tetep sih dari tadi udah kepancing sebenernya) (kepancing banget, ngerti banget) (trus ujung-ujungnya dimatiin telponnya pas Seokjinnya lagi 'maen sendiri') (kasian deh) (tinggal kebayang-bayang aja Namjoonnya, pengen cepet-cepet balik ke rumah)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-IV)

Yoongi masih menunggu kehadiran Jimin di absen-nya dia di hari keempat ini. Seperti kemarin pula, tidak ditanyakannya alasan Jimin tidak ikut kepada kedua adiknya. Berkali-kali dirinya melihat jam tangan.

Dan sampai akhir jam les berlangsung pun Jimin tidak memperlihatkan batang hidungnya.

Yoongi menaruh tanda 'peringatan terakhir' di catatannya.

Next time for confrontation.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Jimin di sekolah, satu minggu setelah dia ga masuk les - Naskah Drama Ver.)

Jimin: "Cuy, kata Ka Taemin hari ini latian lagi ya?"

Minhyuk: "Iya, barusan dia nge-Line gue. Soalnya minggu depan dia bilang ada acara, jadi pindah jam ke hari ini."

Jimin: "Hm... berarti gue bolos lagi dong." (dalem hati harap-harap cemas)

Minhyuk: "Ha? Bolos apaan lu?"

Jimin: "Itu, les privat di rumah."

Minhyuk: (manggut-manggut) "Oo."

Jimin: "Yaudah deh gapapa, ntar gue bilang aja besoknya ke guru les gue."

.

.

.

.

.

(Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-V - Naskah Drama Ver.)

Yoongi: "Jimin hari ini tidak hadir lagi?"

Jungkook: "Iya, Ka. Latian dance lagi paling."

Yoongi mengangguk, menghela napas. Sesuai dugaan. Terlihat dari kalimat Jungkook yang tidak merasa yakin dengan alasan ketidakhadiran kakaknya, Yoongi kemudian berniat melancarkan sesuatu.

Yoongi: "Boleh saya minta kamu hubungi kakak kamu?"

Jungkook: "Eh? Boleh, Ka. Sekarang?"

Yoongi: "Iya, sekarang juga."

.

.

.

.

.

(Jimin ditelpon Jungkook - yang cetak miring omongannya Jimin)

"Halo?"

"Halo, Kookie? Kenapa?"

"Uy, kamu ditanyain ama Ka Yoongi tuh, kemana?"

(langsung deg-deg ser) "Ooh... bilang ke dia lagi latian dance, Kookie, maaf. Tadi dikabarinnya mendadak banget sama instruktornya, gitu."

"Oh..." Jungkook melihat ke arah Yoongi. "Tu, Ka Yoongi denger 'kan."

Yoongi mengangguk. "Oke, terimakasih. Kita lanjutkan lagi belajarnya."

.

.

.

.

.

(Abis itu pas Jimin balik ke rumah pas Magrib)

"Assalamualaikum~"

Setelah melepas sepatu, Jimin berjalan ke arah ruang tamu. Dari jauh terlihat guru lesnya duduk dengan tenang sambil membaca buku.

'Eh, Ka Yoongi masih disini?' bisiknya pelan.

Jimin berjalan ke arahnya dengan gaya anak-anak diem-diem mau masuk kelas.

Jimin memberikan senyum semanis mungkin pas udah depan dia.

"Halo, Ka."

Si guru lesnya menoleh, hanya menatapnya dengan tatapan biasa, tapi dalam hatinya bicara. Yang ditunggu akhirnya datang juga.

"Kamu yang namanya Jimin ya?"

Jimin dalam hati heran. Ni orang kenapa nanya.

"Iya Ka Yoongi. Kenapa?"

Guru lesnya lalu melepas kacamata, menaruh bukunya di atas meja, menunjuk kursi yang ada di depannya.

"Duduk."

Jimin mulai harap-harap cemas. Berasa dipanggil guru BK.

Apalagi pas ditatap guru lesnya face-to-face.

"Kenapa kamu sering bolos?"

Jreng. Jimin langsung ke-gap. Tadinya dia siap mau ngomong, eh pas ditanyain to the point kek gitu langsung beda rasanya.

"Ooh, iyaa Kak, soalnya aku ada latihan nge-dance." Jimin langsung ga enak hati, ngomong sambil nunduk, suaranya ngecil dikit. "Maaf kalo kemaren-kemaren ga ngabarin, tapi aku udah bilang ke Kook- eh, Jungkook kok, Kak."

Guru lesnya menatapnya tanpa berkedip. "Buat?"

"Itu... buat perform acara di GBK."

"Oh, gitu." "Lain kali kalo kamu ada halangan ga masuk les telpon ya. Ini nomer saya," ujarnya kemudian memberikan kartu namanya dari kantong baju.

Jimin ngangguk pelan. "Iya, Kak."

"Yaudah, saya mau tanya itu aja. Saya pulang dulu, permisi."

"Oh, iya Kak, silakan. Mau dianter ke depan?"

"Gapapa, terimakasih."

Jimin manggut-manggut aja di tempat dengan tampang lugu.

"Dadah, Ka Yoongi~" ujarnya melambaikan tangan. Padahal ga niat tapi tiba-tiba aja tangannya mau ngelambain.

Guru lesnya hanya menganggukkan kepala. Jimin ngeliatin dia dari keluar pintu, keluar pager sampe masuk mobil sampe bener-bener blas dari rumahnya.

Kek langsung ngerasa gimanaa gitu.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Iklan)

Temen: Gimana? Target penjualan oke? Konsumen pada ambil apa..?

Aku: alhamdulillah

pada ngambil hikmahnya aja bro

(Courtesy of dagelan (et) instagram)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-VI)

Sudah 30 menit kegiatan berlangsung. Jimin, lagi-lagi, tidak memunculkan batang hidungnya. Dan belum memberi kabar.

Yoongi siap-siap akan memberi si sulung itu tanda silang di checklist beberapa saat sebelum kemudian handphone Yoongi bergetar.

Satu sms masuk.

Dari nomor tidak dikenal.

'Kak, aku izin ngga ikut les ya, mau latihan dance hehe makasih Kaak'

- Jimin'

Setelah membacanya, Yoongi memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku.

"Siapa tuh Ka Yoongi?" Si bungsu kepo.

"Ngga, cuman sms iseng Mama minta pulsa."

.

.

.

.

.

.

.

#

(Rumah Keluarga Cemara - Les dengan guru baru hari ke-VIII)

Kemarin Jimin resmi mendapatkan silang di checklist Yoongi. Hari ini pun, Jimin kembali tidak hadir. Juga seperti biasa, ketidakhadirannya dikabarkan lewat sms.

Selalu setelah membaca pesan dari Jimin, Yoongi hanya menutup kembali handphone-nya tanpa berniat membalas.

Malah dia sudah membuat rencana konfrontasi yang kedua kalinya untuk si sulung.

.

.

.

.

.

.

.

#

(Kata Mutiara)

"Jadikan masa lalu

menjadi

masa bodo."

(Courtesy of Meme Cak Lontong)

.

.

.

.

.

.

.

#

(Konfrontasi Yoongi ke Jimin gegara dia absen mulu, di teras Rumah Keluarga Cemara - Bagian 2 - Naskah Drama Ver.)

Yoongi: "Park Jimin."

Jimin: "I-iya Kak." (dalem hati: aduh kenapa lagi nih gua salah apa dibeginiin lagi)

Yoongi: "Ini udah yang ketujuh kalinya kamu ga masuk, ya."

(diem lima detik)

Yoongi: "Bisa kamu bilang alasannya?"

Jimin: "Iya Kak, maaf, aku emang sibuk latihan dance." (dalem hati: perasaan kemaren udah ngabarin deh) (mukanya udah yang mengkerut dikit gitu)

Yoongi: "Oke. Tapi saya tidak mendapatkan kabar apapun dari kamu, padahal dari awal sudah saya sampaikan dengan jelas untuk mengabarkan saya."

Jimin: "Ee... bukannya kemaren-kemaren itu udah aku sms kakanya yah?"

Yoongi: "Kan saya bilang telpon saya, bukan sms saya. Kamu belum lupa 'kan."

Jimin: (mulai kzl) "Ko mesti pake nelpon segala?"

Yoongi: "Supaya saya bisa jelas denger kamu beneran latihan atau tidak."

Jimin: (nambah kzl) (dalem hati: njir ga percayaan banget sik?) "Ih kok lebay si? Emangnya sms aja ga cukup apa buat ngabarin?"

Yoongi: "Saya ini bukan ibu kamu. Saya guru les pengganti ibu kamu. Kalau saya bilang kamu kabari saya lewat telpon, lakukan saja sesuai dengan apa yang saya katakan. Ngga susah 'kan begitu aja."

Jimin: (naik tensi seriusan) "Ko kamu nyebelin sih?"

Yoongi: "Saya bukannya membuat diri saya jadi menyebalkan. Saya hanya berusaha membuat agar saya dan kamu bisa profesional menjalankan tugas masing-masing. Lagipula sudah saya katakan di awal pertemuan 'kan. Mari bersikap profesional."

Jimin: (mencibir banget) "Emang cuma masalah beginian udah bisa dibilang profesional?"

Yoongi: "Tentu. Karena seringkali dalam dunia profesional, masalah kecil seperti ini diabaikan. Kita tidak menyadari sebagian besar masalah-masalah besar itu terkadang timbul dari hal seperti ini. Ini contoh kecil saja yang sudah dilakukan. Miskomunikasi. "

Jimin: "Ya tapi ga perlu segitunya juga kali. Lagian 'kan kemaren aku udah jelas-jelas ngabarin ke kamu, dan aku yakin pesannya pasti nyampe."

Yoongi: "Saya tidak ingin maksud saya untuk memperingatkan kamu disini beralih jadi suatu ajang debat kusir yang hanya menghabiskan waktu. Satu pernyataan saja dari saya; Saya hanya minta kamu untuk menghormati peraturan yang saya buat, bukan membantah."

Jimin: "Gini ya, sekarang gausah ngebahas masalah profesional ga profesional deh. Ga ngerti tau aku, apa yang kamu omongin tu aku ga ngerti. Perkaranya 'kan cuma sekadar ngabarin 'kan? Dan yang jelas tiga hari kemaren tuh aku udah jelas-jelas ngabarin. Ngerti ga sih? Aku buang pulsa aku cape-cape tuh, buat nge-sms-in, ngabarin ke kamu ke lewat sms. Dan kalo kamu ga percaya nih, liat nih, di hape aku udah ke-sent." (ngegas nunjukin bukti)

Jimin: "Tuh. Persetanlah mau nelpon apa sms yang penting aku udah ngehubungin kamu dan itu sendiri sebenernya udah cukup 'kan? Dasar kamu aja yang ga ngebuka, ga ngebales. Kamu kali yang ga profesional, ngga ngehargain aku sebagai murid."

Yoongi: "Tolong kamu pahami bahwa saya disini tidak membicarakan bagaimana cara kamu menghubungi saya, karena yang jelas terjadi disini adalah miskomunikasi. Kalau saya bilang kamu telpon, ya telpon. Kalau saya minta kamu sms, baru sms. Bedakan."

Jimin: (mau ngelawan lagi, tapi guru lesnya belum selesai ngomong)

Yoongi: "Dan kenapa saya terkesan sangat menekankan hal ini terhadap kamu? Karena kamu sebelumnya sudah tiga kali membolos tanpa memberi saya kabar. Saya bilang sekali lagi, saya sudah katakan dengan jelas sebelumnya bukan aturan main saya? Dan kamu dan adik-adikmu sudah setuju dengan itu 'kan? Tapi saya sudah berbaik hati memberikan kamu tiga kali kesempatan, dan baru sampai ke-empat kalinya, saya mengajak kamu berbicara tanpa tekanan. Dengan begitu, seperti yang kamu nyatakan sebelumnya, siapa yang tidak menghargai siapa disini?"

Jimin: (ke-gap) (dalam hati bener juga) (tapi tetep gamau kalah)

Jimin: "Yang jelas kamu tuh bukan Mama aku."

Yoongi: "Ya memang saya bukan ibu kamu. Tadi saya sudah bilang."

Jimin: "Ya makanya ga usah sok atur-atur. Aku gak suka. Kamu tuh cuman guru les aja. Bukan guru sekolahan. Stop lebay."

Yoongi: "Baik. Saya sebagai guru yang masih mentolerir sikap kamu yang sudah tidak profesional dan tidak menerapkan cara bicara yang baik, memaafkan kamu di kesempatan kali ini. Saya harap untuk berikutnya hal yang seperti ini tidak terjadi lagi."

Jimin: (udah kelewat emosi) (diri dari kursi dengan gusar) "Dasar alay!"

.

.

.

.

.

Seru ya debat capres barusan.

.

.

.

.

.

.

.

# to be continued

a/n: yeeee dipotong dulu ah fic-nya. tunggu sabtu malem (yha tinggal berapa menit lagi si) kalo ga minggu malem deh ya, byee.