• Daddy and His Beloved Triplets - Home Tutor [ Special Chapter I - II ] •
[ series ; bahasa ; b x b ; bts ; namjoon ft. jimin, taehyung, jungkook ; yoonmin ; t / r ]
He's professionality freak. Unbelievably annoying. How i loathe him to the moon and back.
And the worst part is, lately he's been driving me insane.
[ WARNING ] scene gatel pasangan terasoy 2k16.
.
.
.
.
.
.
.
#
Semaleman Jimin cemberut aja di rumah. Keluar kamar gamau, mandi gamau, ampe makan pun gamau. Yang biasanya sekali mamanya manggil dari bawah trus ngambil porsi dua piring sekali makan. Si Mamah jadi khawatir.
Baru pas Mamanya bilang kalo dia bakal ninggalin mereka buat liburan ke London aja kalo Jimin ga mau keluar kamar, dia akhirnya mau keluar.
Dengan tampang kusut yang udah kusut banget, duduklah dia dengan gaya ngambek di sofa depan. Mamanya langsung sedih.
"Chim-Chim kenapa sayang...?"
Jiminnya diem aja. Abis itu Mamanya duduk sebelah dia.
"Ii jelek banget ah mukanya kaya gitu, gasuka Mama," dicubitnya pelan pipinya sama si Mama. "Bilang dong, kenapa sik?"
Jimin masih dieeem aja. Mukanya masih jeleeek aja. Seokjin menghela napas.
"Chim a... gitu a sama Mama. Ikut ngambek nih tar Mama."
"Aku gak suka sama guru les baru."
Baru akhirnya dia mau ngomong.
Abis itu dateng si bungsu. Masang muka bete kaya si Jimin, tapi ga sejelek Jimin sih.
"Sama. Kookie juga ga suka."
"He... kok bisa gitu?" Mamanya minta si bungsu duduk sebelah dia. Duduklah dia dengan gaya ngambek kek Jimin. Trus abis itu dateng juga si Taehyung, duduk dengan jantan di sebelah adik bungsunya. "Tae gimana? Ga suka juga?"
"Biasa aja. Malah enak belajar sama dia. Cepet ngerti," jawabnya santai.
"Tuh... Tae aja biasa aja sama dia. Chim sama Kookie kenapa ga suka?" Mamanya sambil gantian nyisirin rambut anaknya pake tangan.
"Abis dia nyebelin banget," jawab Jimin.
"Iya." Jungkook ikutan.
"Lho... nyebelin kenapa?"
"Tau. Cuman gara-gara aku ga ngabarin dia lewat telpon kalo aku ga masuk les langsung dibilangin 'ga propesional ga propesional' 'udah saya bilang telpon, bukan sms' 'turuti aturan main saya'. Ndasmu. Orang udah jelas jelas sms dia, dasar dianya doang tu gamau nanggepin. Sok banget jadi orang. Sok propesional. Makan tu propesional dodol. Hish. HIIIIHHH SEBEL BANGET CHIM SAMA DIA SUMPAH."
Seokjin sempet ketawa ngeliat ekspresi mukanya Jimin. "Ya... Ka Yoongi mah emang gitu sayang, orangnya. Dia emang harus ditelpon kalo buat ngabarin. Mama pernah juga tuh digituin sama dia, tapi ya cuman gitu aja sih."
"Ih kenapa gitu banget sih? Setres apa dia tu?"
"Hush, gaboleh kaya gitu. Yaudah lain kali kalo Chim mau izin, kabarin aja, telpon, dia pasti ngerti kok. Ya?" Mamanya yang bijak memberi nasehat. Jiminnya masi manyun.
"Iya tau Mah. Ka Yoongi tuh dari awal aja udah nyebelin, banyak banget peraturannya." Jungkook abis itu nimpalin.
"Iya. Dasar idup penuh peraturan. Makanya jadi kaku kaya gitu." Jimin masih gatel mulutnya pengen ngatain.
"Ee... mulai lagi 'kan. Gaboleh gitu loh, gaboleh loh. Nanti ga Mama kasih oleh-oleh lagi nih."
"Yaudah, gini deh... 'kan orang itu macem-macem, sayang. Tinggal kitanya aja yang punya cara ngadepin dia gimana. Kalo Ka Yoongi maunya gitu, yaudah turutin aja. Lagian dia 'kan tujuannya baik, ngebuat anak-anak Mama jadi pinter, 'kan?" Mamanya kemudian membelai kepala kedua anak manisnya itu. "Coba kalo Tae deh, Mama mau denger kenapa Tae bisa biasa aja sama Ka Yoongi?"
"Iya tuh. Kenapa Tae bisa biasa aja?" tanya si bungsu. Yang ditanya garuk leher bentar.
"Yaa gimana ya. Emang enak kok belajar sama dia. Cepet ngerti. Ilmunya pakem."
"Tuh... Tae aja bilang gitu, masa Chim ama Kookie bisa sebel?"
"Kookie rewel sih, makanya diomelin mulu sama dia. Chim juga jarang masuk, makanya dia negor," ujar Taehyung.
Dua-dua adik kakaknya langsung menyahut tidak setuju. "Apaan ih Tae, dianya juga nyebelin gitu kok."
"Ganteng-ganteng nyebelin," kata Jungkook lagi.
"Ganteng darimana? Kayak kokoh-kokoh Glodok gitu." Jimin langsung sewot. Kebawa kesel.
"Ih ganteng tau. Mobilnya aja Mercy." Jungkook langsung ijo matanya.
"Bodo amat. Kalo dianya kaya gitu sih males." Jimin masih tampang bete tapi abis itu pegang perut. "Huf, ngomongin dia jadi laper. Masak apa hari ini, Mah?"
.
.
.
.
.
.
.
#
(Seokjin & Yoongi - di Starbucks - Naskah Drama Ver.)
Seokjin: "Iya, anak aku bilang gitu tuh, Yoon."
Yoongi: "Hmm. Gitu."
Seokjin: "Emang kamu ada masalah apa sih sama Chim-Chim?"
Yoongi: "Jimin?"
Seokjin: "Iya, Jimin."
Yoongi: "(nyeruput minuman bentar) Yah... cuman gini doang sih."
.
.
.
.
.
Seokjin: (udah ngerti dengerin ceritanya Yoongi) "Oh... gitu..."
Yoongi: "Iya, gitu doang sebenernya. Ga penting emang." (ketawa kecil)
Yoongi: (nyeruput minum lagi) "Ya... sebenernya iseng doang sih. Abis dia lucu." (ketawa pelan)
Seokjin: "Yee... Yoongi mah..."
.
.
.
.
.
Seokjin: "Tapi bentar deh, aku mau nyoba ngasi pendapat boleh ga?"
Yoongi: "Bolehlah, silakan."
Seokjin: "Gini loh... aku bukannya ngebela anak-anak aku, tapi keknya kamu bisa sedikit kurangin ke-strict-an kamu, karena menurut aku itu ga terlalu penting kalo dalem les... menurut aku, sih."
Yoongi: "(ngangkat alis) (manggut-manggut) Iya sih. Tapi aku pure cuman pengen biar mereka tuh ga setengah-setengah aja."
Seokjin: "Iya sih... tapi kaya, mungkin kamu bisa kasih semangat aja, bukan hal yang malah jadiin mereka jadi kayak... gimana ya, jadi kaya ngeluh karena sikap gurunya yang ga enak atau gimana gitu, karena 'kan mereka mungkin udah cukup stres gitu ama tekanan di sekolah, trus abis itu ketemu kita lagi bahasin soal-soal."
Seokjin: "Maksudnya kek baiknya kita nyemangatin gitu 'kan, becanda-becanda... ga perlu yang gimana-gimana juga."
Seokjin: "Lagian mereka kan masih SMP tuh, belum jadi mahasiswa S2. Mereka ya kaget lah pastinya."
Yoongi: (ketawa pelan) "Tipikal kamu banget emang, guru yang keibuan."
Yoongi: "Tapi emang mereka di sekolah gak pernah ketemu guru strict? Cuman gara-gara kita guru les kita jadi ga bisa menanamkan nilai-nilai disiplin untuk memperkuat mental mereka sebagai bentuk lain memberikan semangat?"
Yoongi: "Lagipula karena mereka itu anak-anak temen aku, dan waktu aku sama mereka tu cuman sebentar jadi aku pengen bersungguh-sungguh aja ngajarin mereka."
Seokjin: (senyum) "Iya, ngerti kok, ngerti. Aku makasih banget dengan kemauan kamu yang kayak gitu. Tapi menurut aku cara kamu terlalu keras kalo mesti kasih peraturan kaya gitu."
Seokjin: "Yaa ini cuman saran aku aja loh."
Yoongi: "Hahaha oke, maaf, maaf. Mungkin aku emang perlu ngurangin ya."
Yoongi: "Karena kamu sebagai orang tua mereka yang udah minta ke aku dan yah, ini masih namanya kursus ya."
Yoongi: "Aku emang orangnya yah... kek susah kalo 'kendor' dikit gitu loh, mesti terstruktur, punya aturan, terkadang ambisius dan yaaa kadang suka kebawa suasana sendiri. Ngerti lah 'kan kamu."
Seokjin: "Iya, iya, gapapa. Ngerti Yoongi banget kok, selowww. Tarik napas, tarik napas."
Yoongi: (tarik napas)
Yoongi: "Hahahaha segitunya ya."
Seokjin: "Gapapa ayo lagi, tarik napas lagi, tarik napas lagi."
Yoongi: "Hfff... eh, jangan pegang-pegang sembarangan. Ga enak sama suami."
Seokjin: (langsung reflek lepasin tangannya) "Eeh, oiya hahaha maaf, kebiasaan."
Seokjin: "Ngomongin suami... jadi kangen deh sama dia."
Yoongi: "Ehem."
Seokjin: "Hehe... kenapa 'ehem' coba."
Yoongi: "Gapapa, pengen 'ehem' aja. Pakabar Pak Namjoon?"
Seokjin: "Baik kok... masih kek model dia yang lama aja." (ketawa)
Yoongi: (ketawa kecil) "Oh... masih kaya Pak Namjoon banget ya."
Seokjin: "Iya... masih kaya Namjoon banget."
Seokjin: "Dulu dia yang sering kangen sama aku, sekarang malah aku yang jadi gitu." (ketawa ala tuan putri)
Yoongi: (senyum) "Gitu ya."
Seokjin: "Iya... dia abisnya lembur mulu sih sekarang."
Yoongi: "Yaudah gapapa gandeng, bayangin aku jadi Pak Namjoon aja."
Seokjin: (gandengin) "Maso ya kamu."
Yoongi: (gaya nunjuk) "Eee..."
Seokjin: (ketawa) "Tu 'kan bisa becanda juga. Kek gini aja coba kalo sama anak-anak aku, pasti seneng mereka ama kamu."
Yoongi: "Ngga ah, udah terlanjur cool."
Seokjin: (ketawa bentar) "Iya sih. Emang kamu cool abiez."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin di dapur - Naskah Drama Ver. - 19+)
Namjoon: (meluk Seokjin dari belakang) "Masak apa, sayang...?"
Seokjin: (lagi motong-motongin sayur) "Hm... masak apa yaa~"
Namjoon: "Aapa apa apanya dong~ apanya dong~" (cium leher Seokjin)
Namjoon: (suara berubah dalem) "Kamu wangi banget."
Seokjin: (lagi ga pengen dipancing tapi kepancing dikit) "Hm... terus?"
Namjoon: "Wanginya mancing."
Seokjin: "...kamu jangan mulai dong."
Namjoon: (masukin tangannya ke dalem celemek istri) (bisikin pake suara dalem) "Aku lepas celemek kamu boleh ga...?"
Seokjin: (berusaha fokus) (nahanin tangan suami bentar) "Ngga mau."
Namjoon: (tangannya gatel masuk ke dalem baju kaos istrinya) (bisikin pake suara lebih dalem lagi) "Kalo aku lepas baju kamu gimana...?"
Seokjin: (geserin tangan Namjoon keluar) "Ey... nanti dong, jangan sekarang."
Namjoon: "Pilih satu deh."
Seokjin: "Yaudah, lepas celemek."
Namjoon: "Lepas celemeknya sambil kissing tapi."
Seokjin: "Gamau, nanti keliatan anak-anak."
Namjoon: "Yaudah lepas celemeknya sambil kissing trus aku gendong ke kamar."
Seokjin: "Iih terus masakannya gimana?"
Namjoon: "Yaudah, kissing aja."
Seokjin: "Hu... bilang aja kalo mau nyium si."
Namjoon: "Hehe. Iya, minta ciumnya."
(Seokjin senyum, abis itu balik badan, naro dua-dua tangan di pipi Namjoon, trus miringin kepala nyium bibirnya. Lakinya kesempatan banget ngelepas tali celemek di belakang, mijet punggung istrinya sambil lanjut french kiss (ulala). Abis itu tangannya kesempatan banget turun ke bawah mijet pantat istrinya, trus digigit lidahnya sama Seokjin pelan. Suaminya ngaduh.)
Namjoon: "Aw, sakit. Ko digigit?"
Seokjin: "Nakal si. Nanti aja makanya lanjut lagi, sabar dong." (nge-wink)
Namjoon manyun. Seokjin cengengesan.
Kerjaan.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Rumah Keluarga Cemara - les dengan guru baru hari ke sekian)
Ceritanya Jimin seminggu ini niatan rajin les dulu, ngga latian dance demi ngenakin perasaan guru lesnya. Sekarang udah masuk hari ke-3 di minggu ini dia les.
Trus Jimin ceritanya ngerjain soal 'kan. Trus gabisa. Pas nanya ke guru lesnya, ga dihirauin, disuruh ama dia kerjain aja sebisanya, ga usah manja dulu pake nanya-nanya. Sebel lah dia digituin.
Trus pas abis ngerjain, gurunya komen kenapa dia ngisinya dikit banget. Jimin jawablah karena dia banyak ga ngerti soalnya. Diomelin lah lagi dia, kenapa ga ngerti, makanya rajin les biar ngerti, gitu gitu deh. Mana dia banyak salah jawabnya. Ngomel lagi lah si guru lesnya. Jimin cemberut aja dengerin. Dalem hati ngatain dia kaya emak-emak.
Trus Jimin jadi mikir. Yoongi emang cerewet banget kalo sama dia pas les. Tapi giliran ama dua adeknya ngga. Ama Kookie paling cuma dua-tiga kali. Apalagi sama Taehyung, jinak banget.
Lah sama Jimin udah kek fardu ain. Tiap apa-apa diomelin mulu.
Jimin manyun.
Curang banget sih.
.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jimin ke Mall, masuk ke Keefsi, kelaperan abis pulang latihan nge-dance)
"Mbak, aku pesen ayam yang paha atas dua yah, pake nasi satu, sama kentang yang Large, sama krim supnya satu."
(Mbaknya mencetin semua pesenan makanan Jimin) "Baik, minumnya apa Kaka?"
"Minumnya mau Milo satu sama Aqua satu."
(mencet-mencet) "Baik, diulang lagi ya Kak, pesanannya... (ngulang lagi nyebutin)" "Ada lagi tambahannya Kakak?"
"Itu aja Mbak."
"Oke, pesanannya ditunggu ya."
.
.
.
.
.
(duduk di arah pojokan bawain nampan pesenan dia tadi) "Hh... cape banget." (kipas-kipas) (berangkat bentar buat cuci tangan, sekalian ngambil sambel sama sedotan)
(abis itu jalan) (liat ke arah depan)
Lalu kemudian muncul satu sosok yang dikenal. Di meja kasir lagi mesen.
Jimin memicingkan matanya. Ga pengen percaya tapi pengen liat bener apa ga tu orang ama dugaan dia.
Trus pas orang itu balik badan sambil bawain nampan.
Jreng.
Mata mereka bertemu.
.
.
.
.
.
"Loh... kamu?"
Sosok itu menjawab setelah menaruh nampannya di sebelah mejanya Jimin. Dalam hati Jimin mengeluh.
"Nama saya bukan kamu. Min Yoongi."
Jimin masang tampang bete kek kemaren. "Bodo amat. Ngapain kamu disini?"
"Kenapa? Ngga suka saya ada disini?" sosok itu balik tanya, bikin Jimin nambah sebel.
Jimin diem aja, mutusin buat mulai makan. Orang dia dari tadi udah laper banget. Yoongi melirik ke arah Jimin sebentar.
"Kalo gitu saya pulang aja deh." Sosok itu kemudian membawa nampannya dan berdiri dari meja sebelah Jimin.
"Eh... kenapa jadi beneran mau pulang?" Jimin reflek megang tangannya.
"Oh... gajadi nih ngusir saya?"
Jimin balik masang tampang bete lagi, langsung lepasin tangannya.
"Yaudah sana, hush!"
.
.
.
.
.
Ujung-ujungnya si Yoongi tetep duduk sebelah Jimin makannya. Jimin jadi agak ga napsu makan dikit. Dikit, yaa cuman lima persen lah.
Yoongi: "By the way kamu makannya banyak juga ya."
Jimin: (kzl) "Iya, aku makan sebakul emang. Kenapa? Ga suka?"
Yoonginya cuman senyum-senyum aja.
.
.
.
.
.
(Jimin & Yoongi, abis dari Keefsi) (Jiminnya dibayarin makannya ama Yoongi) (Jiminnya ngga jadi bete banget, bete setengah) (tapi tetep kzl)
hati Jimin: Kenapa jadi jalan bareng dia gini.
Jimin ama Yoongi jalaan aja dari tadi ngider-ngider, ga masuk toko ga masuk apa. Dua-duanya juga cuek. Satunya emang males mulai ngomong, satunya emang lagi asik ngeliat pemandangan aja.
"Gimana sekolah?"
Oh, akhirnya si guru les yang mulai pembicaraan.
"Biasa aja," jawab Jimin datar.
"Latihan dance-nya?"
"Lancar-lancar aja."
"Nilai-nilai kamu?"
"Kamu bisa ga sehari aja gausah ngomongin nilai?"
"Lho perasaan baru hari ini saya nanyain kamu soal nilai?"
Jimin geserin bibir ke kanan a.k.a manyun. "Cape tau dengernya."
"Gitu." "Yah saya nanyain nilai kamu 'kan wajar. Saya guru les kamu. Pingin tau perkembangan nilai kamu gimana. Ningkat atau netep ato malah nurun."
Cih. Itu lagi diungkit.
Jimin cemberut lagi. Yoongi noleh.
"Yaudah deh, saya ganti topik."
.
.
.
.
.
Abis itu diem aja dua-duanya lima menit kemudian.
Hati Jimin: Katanya mau ganti topik. Gimana sih?
.
.
.
.
.
Udah jalan lima belas menit, udah masuk toko buku, udah masuk toko tas toko maenan segala macem trus jalan lagi, tapi tidak ada diantara mereka yang memulai pembicaraan.
Hati Jimin: Ini orang apa maunya ya. Ngomong apa kek gitu.
Ih masak diem-diem aja sih.
Ih gasuka ah kek gini, kek apa aja.
"Kamu... dulu sekolah di mana sih?"
Oh, akhirnya Jimin yang memulai pembicaraan.
.
.
.
.
.
Trus akhirnya mereka berdua berhasil ngobrol walopun cuman basa-basi doang. Walopun Jimin masih bete tapi ngga bete-bete banget sih. Seneng juga ada orang nemenin dia jalan.
Jimin tu emang dasarnya cepet akrab sama orang. Senengnya nyerocos, jadi walo sama Yoongi sekalipun dia bisa aja kalo mau ngobrol pecah sebenernya.
Abis itu pas masuk toko baju, Jimin mulai nanya-nanyain cocok apa ngga bajunya di dia, keliatan gendut apa ga. Trus pas Yoongi niat becanda bilang dia pake baju apa aja tetep keliatan gendut, Jimin langsung ngambek. Tapi ngga ngambek beneran.
Trus bisa-bisa aja gitu dia senyum-senyum, ketawa-ketiwi ama guru lesnya itu.
.
.
.
.
.
Abis itu Jimin masuk FunWorld, pake ngajakin guru lesnya masuk, gandengin tangannya.
"Kamu mainannya emang masih yang macem gitu?" komentar Yoongi pake muka ngejek.
"Ih kenapa emang? Seru tauu, yuk maen yuk~" ujarnya narikin tangan Yoongi.
Yoongi ngehela napas. "Dasar anak-anak."
Dibilangin 'anak-anak', bete lah si Jimin.
"Yaudahsih kalo kamu gamau," ujarnya jalan sendirian ke FunWorld. Tapi sempet noleh dulu ke Yoongi. Mukanya udah yang sebel lagi aja.
"Iya, emang aku anak-anak. Puas kamu?"
Abis itu ngeloyor dia ke dalem FunWorld gaya ngambek.
.
.
.
.
.
Abis itu nongol lagi orangnya.
"Mau masuk ga?" tanyanya sekali lagi ke Yoongi yang di luar. Yoongi diem aja.
"Ih, dasar sok dewasa!" Serunya bete abis itu dia jalan ke dalem lagi. Kali ini ga pake nongolin diri lagi.
Akhirnya Yoongi masuk sambil ketawa kecil.
.
.
.
.
.
Jimin masih manyun. Manyunnya jelek. Gegara keseringan liat si Jimin manyun juga lama-lama Yoongi jadi seneng liat mukanya manyun.
Pas lagi maenan nyapit boneka, Jimin 'kan ga ketangkep-tangkep tuh. Gemeslah dia. Dan si Yoongi sibuk komentar.
"Hayo, hayo... jatoh..."
Plek, jatoh. Jimin nyoba lagi.
"Yaa... emang bisa nangkepnya cuman gitu doang?"
Plek, jatoh. Jimin nyoba lagi. Udah keluar asep dari idungnya.
"Nah lo, nah lo, gimana tuh, mau ngambil yang pink apa yang biru? Kok gaada yang nyangkut?"
Plek, emang ga keambil sama sekali. Keluar asep semua dari idung, kuping, ama kepalanya Jimin.
Diprovokasiin gitu, ya betelah si Jiminnya.
"Yaudah nih, kamu aja sana maen!" serunya memberikan semua koin ke tangan Yoongi ampe jatoh-jatoh.
Abis itu ngeloyor lagi. Yoongi sempet ketawa cekikik ala cowok, seneng banget maenin Jimin.
Yoongi jadi niat maen sekali. Nyoba masukin koin.
Maen... maen...
Jreng.
Plek.
Drerereret.
Ketangkep satu boneka anjing warna putih, lucu.
.
.
.
.
.
Yoongi menghampiri Jimin yang duduk mangku muka di tangan.
Orang tuh tadinya dia niat dateng kesini buat makan. Trus maen bentar, abis itu balik.
Trus gara-gara guru lesnya yang nyebelin itu tiba-tiba plek dateng tanpa angin tanpa ujan ketemu, dia jadi males.
Padahal tadi sempet seneng sih.
Tapi dia emang nyebelin sih.
Hhhhh.
Tapi-
"Maaf ya, dari kemaren saya buat kamu kesel terus."
Buset. Jimin sempet kaget dikit ngeliat Yoongi udah di belakangnya aja.
Jimin cuma maling muka.
"Emang kamu tu ngeselin," gumamnya. Yoongi cengengesan aja, denger dia si Jimin ngomong apa.
"Nih, buat kamu."
Trus ngasih boneka yang tadi dia menangin. Jimin sempet diem bentar. Mata pelan-pelan jadi kelap-kelip, tapi ditahan banget ekspresi mukanya biar ga keliatan seneng.
Tetep diambilnya sih bonekanya. Boneka yang dia incer soalnya.
"Tengkyu," ucapnya pelan ngeliatin ke bonekanya, ga ngeliat ke Yoonginya.
Yoongi senyum lagi.
"Sama sama, Jimin." "Trus mau main apalagi nih kita?"
.
.
.
.
.
"Betewe bonekanya mirip sama kamu. Gendut."
Trus dilempar lagi bonekanya oleh Jimin ke Yoongi. Langsung bablas dia jalan cepet. Yoongi ketawa aja.
.
.
.
.
.
Udah puas makan. Udah puas maen. Udah puas seneng-seneng.
Akhirnya Jimin pulang, dianterin ama Yoongi naek mobil. Dalem hati Jimin sempet bisik: Oh gini rasanya naek mobil mahal.
Di tengah jalan dua-duanya diem aja tapi, ga ada yang mulai ngomong. Jiminnya juga udah cape soalnya.
Trus pas nyampe depan rumah.
"Oke, sampe sini aja ya."
Jimin ngangguk. "Makasih ya."
"Iya sama-sama, istirahat ya."
Jimin senyum tipis, ngangguk, ngelepas seatbelt. "Iya, Kak."
hati Jimin: cie 'Kak' banget?
Trus pas mau buka kunci pintu.
Klekek. Klekek. Klekek.
Gamau dibuka pintunya.
"Duh, susah banget 'mbukanya."
"Oh, pintu yang sebelah itu memang agak susah dibuka." Yoongi lalu melepas seatbelt-nya, membuka pintu. "Sebentar, saya bukain dari luar."
Klekek. Klekek.
Cekrek.
"Nah, silakan, Jimin," ujarnya kemudian.
"Uh, makasih." Jimin malu-malu keluar.
Yoongi senyum lagi tepat depan muka dia. "Sama-sama. Sampai ketemu besok. Jangan bolos ya."
"I-iya Kak, Insya Allah."
hati Jimin: cie 'Kak' lagi.
Yoongi tertawa kecil mendengar 'Insya Allah'-nya Jimin. "Okelah, duluan ya."
"Iya, hati-hati ya Kak."
hati Jimin: yaudahlah kalo dia lagi ga ngeselin panggil 'Kak' aja.
.
.
.
.
.
Jimin pas udah buka pager, nyampe teras rumah:
Ih, si jantung sembarangan. Kenapa malah deg-degan?
.
.
.
.
.
.
.
#
(Besoknya pas jam les sama Ka Yoongi)
Walau kemarin berkata 'Insya Allah', Jimin ternyata menepati janjinya.
Ya... dia sebenernya pengen les tu selaen ga enak udah bolos mulu tapi emang karena Ka Yoongi (ternyata) ga senyebelin yang kek yang dia kira pas ditegur sama dia kemaren, jadi kali ini dia rela bolos latihan dance dulu.
Yah, dia juga sebenernya kalo ga buat lomba ato perform acara jarang kok, bolos bolosan. Cuman karena waktu yang tinggal bentar lagi, yaudah deh mohon maap.
Namun diatas itu, ada hal yang lebih penting.
Ada satu hal yang (sedikit) merisaukan hatinya kali ini.
Yoongi tidak seramah kemarin.
Jimin mencoba untuk mencuri pandang ke arahnya. Tapi tidak diberikan sambutan. Guru lesnya tetap memfokuskan matanya pada sebuah buku self-development yang dibacanya dari terakhir ketemu.
Walaupun Jimin juga usaha biar ga keliatan sengaja ngeliatin, tetap saja laki-laki itu tidak berpaling. Pas Jimin ajak-ajakin ngomong juga malah sikapnya kek jutek pas awal kenalan gitu.
Jimin jadi ngerasa agak gimanaa gitu.
Ada masalah ya? Apa gimana?
.
.
.
.
.
"Udah ni Ka," Taehyung menyodorkan hasil kerjanya dengan guru les. Barulah saat itu dia mengalihkan pandangannya dari buku.
"Oh. Oke. Diperiksa dulu."
Jimin kembali mencuri pandang ke arahnya.
Yang dipandang tetap bergeming.
"Hmm. Jadi materi tentang pesawat sederhana kamu udah lumayan ngerti ya." "Tapi kalo menurut saya lebih baik kamu pakai rumus yang ini karena akan lebih mudah." "Dan juga untuk yang nomor sebelas harap hati-hati karena..."
Tapi... memang sih kalau dipikir-pikir.
Khusus hari ini Jimin memperhatikan dari cara dia mengajar. Cara dia membagi, memberikan fokusnya. Cara dia saat diajak bercanda oleh Jungkook, atau saat Jungkook dan Taehyung melontarkan tebak-tebakan di tengah pelajaran.
Guru les itu tersenyum sama seperti saat dia tersenyum dengannya kemarin.
Mungkin memang benar jika dia sebenarnya orang yang menyenangkan.
Mungkin.
.
.
.
.
.
Tiba-tiba abis ngejelasin.
Jreng.
Kedua mata mereka bertemu.
.
.
.
.
.
Deg.
.
.
.
.
.
"Kenapa Jimin? Udah selesai?"
"Ee... belom kok, Kak."
"Oh. Yaudah, silakan lanjut."
"Ee... anu Kak, ini... mau nanya yang ini."
"Yang mana."
"Ini... Nomor 11 Pilihan Ganda."
"Oh... mana sini saya liat."
.
.
.
.
.
Kedua mata mereka bertemu lagi.
Selama 1 detik.
.
.
.
.
.
Deg.
.
.
.
.
.
.
Loh.
Kenapa deg-deg mulu sih?
.
.
.
.
.
.
.
#
(Namjoon & Seokjin lagi telponan - yang dimiringin omongannya Namjoon - 19+ Ver.)
"Hey, cantik."
(senyum) "Hey."
"Ih ko ga dibilang ganteng."
(ketawa kecil) "Yaudah, hey ganteng."
"Nah, gitu dong."
"Lagi ngapain?"
"Lagi di kantor aja nih."
"Kamu?"
"Iya, lagi di kantor juga."
"Di kantornya lagi ngapain?"
"Lagi nyelesein kerjaan aja..."
"Ooh... ga ngajar?"
"Iya, nanti jam 4, masih lama."
"Ooh, kuliah malem ya."
"Iya."
"Kamu lagi sibuk ya?"
"Ngga nih, lagi istirahat bentar."
"Ooh..."
"Lagi rame ga?"
"Hm? Ngga, ini lagi di ruangan aku doang. Kenapa?"
"Main tebak-tebakan yuk."
"Tebak-tebakan? Bolee."
"Tapiii rada mancing sih~" (maenin dasi)
"Oo... pantes... gamau ketauan yaa."
"Sst, diem dong."
"Iya sayang, tenang aja."
"Kamu emang seneng banget ya mancing-mancing."
"Hehe. Iyalah, main pancing-pancingan enaknya sama kamu."
"Hmm... gimana kalo kita main pancing-pancingan?"
"Iya sayang, 'kan aku nawarin tebak-tebakan yang mancing ke kamu."
"Oh iya hehe."
"Huu. Cium ni."
"Mana sini ciumnya."
(Pake suara kissbye yang seksi banget)
"Yihuy, pake bibir yang atas ato yang bawah tu?"
(Seokjin mulai kepancing) (ngerapetin kaki) "Hmm... maunya yang mana?"
"Maunya yang atas ketemu yang bawah."
(Ketawa pelan) "Nakal ih."
"Eaa... padahal aku ga bilang apa-apa tapi kamu bilangnya nakal, eaa..."
"Ih itu tu jelas banget tau."
(nyeringai) "Hm? Jelas darimananya coba jelasin."
"Udah ah, mulai aja yuk. Aku tanya nih ya."
"Oke, bring it on."
.
.
.
.
.
"You stick your poles inside me. You tie me down to get me up. I get wet before you do. What am I?"
(Namjoon ketawa dari seberang)
"Kamu mancing banget sih."
(ketawa kecil) "'Kan udah aku bilang tadi."
"Tapi jawabannya ga semesum pertanyaannya loh."
"Amasa?"
"Iya suer."
"Ayoo tau ga jawabannya apa?"
"Aduh... susah juga ya. Apa dong."
"Yang ga mesumnya ya."
(ketawa pelan) "Iyalah, jawabannya ga semesum yang kamu pikirin."
"Apa dong? Yang ada di otak aku cuman yang mesumnya soalnya."
(gigit bibir) "Tebak dulu ah."
"Kalo aku bisa jawab hadiahnya apa?"
"Hmm... ada ga yaa hadiahnya..."
"Ada dong, harus ada."
"Kasih hadiahnya kaya yang di soalnya ya."
"Eeh... maksudnya?"
"Eissh... pura-pura gatau."
"Hmmm apa deh kamu."
(ketawa ngejek) "Hayoo malu yaa"
Seokjin ketawa dikit.
.
.
.
.
.
"Gimana? Udah tau belom?"
"Hh... auk deh. I have no idea."
"Yee... if you get your mind out of the gutter, you may be able to answer it."
"Show me the way, then."
"Answer it first. Randomly is okay."
"Duh... apa ya."
"Hem... bentar."
"Tadi gimana pertanyaannya?"
"(diulangin lagi pertanyaannya sama Seokjin) Gitu."
"Hmm... stick your poles... get wet before you do..."
"Emang apalagi dong yang bisa gitu kalo bukan 'itu' jawabannya? Haha"
(cekikikan) "Hmm... nyerah nih?"
"Hmm..."
"Iya deh nyerah, nyerah, hahaha"
"Okey... jawabannya itu... jreng jeng jeng jenggg... siap-siaap..."
"jreng jeng jeng jenggg..."
"Jawaaabannya. Adalaaah~"
.
.
.
.
.
"Tendaaa~"
Langsung abis itu si Namjoon ketawa.
.
.
.
.
"Gila sih, sabi juga ya pertanyaannya."
"Next, sayang, next. Seru nih."
"Hehe, seru 'kaan. Lagi yah."
"Okeh, apalagi."
"Hm... bentar. Oh, ni bagus ni."
"A finger goes in me. You fiddle with me when you're bored. The best man always has me first. What am I?"
"Ow... ow, sayang, ow..."
"Ehh kenapa nge-oww laa?"
"The best man has to be me, right...?"
"Yaampun... kamu mah. Udah ah, malu nih. Coba dijawab aja hayo."
"Hehe... oke, oke. Asik banget deh godain kamu."
"Kamu juga asik banget digodain."
"Yihuy..."
"Yihuy..."
"Ayo, tau ga jawabannya?"
"Hm... bentar dulu sayang, mikir dulu. Sabar... dikit lagi masuk kok."
"Hmm... iya, cepetan masukinnya makanya..."
"Eee... genit ya... minta cepet-cepet..."
"Eee... genit ya... maen masuk-masuk aja..."
"Ea... masuk keluar masuk keluar gitu ya."
"Namjoon, udah ah, ga enak ngomonginnya."
"Hehe, maaf sayang, kebablasan ni mulutnya."
"Abis kamu mancing si."
"Iya, iya... trus jawabannya apa?"
"Oiya, jawabannya ya..."
"Jawabannya... itu, anu, selai roti~ eaa"
Kali ini giliran Seokjin yang tertawa.
.
.
.
.
.
"Yaudah aku kasi yang terakhir ni ya, terakhir."
"Ehhh cepet banget? Ntar dulu dongg."
"Yee... nanti kerjaan ga selesai, nanti aja kita lanjut di rumah, oke? Hehe."
"Hmm... yaudah deh, aku nurut aja."
"Iya doong, harus nurut Namjoon sama Mama~"
"Iya deh asal Mama bahagia aja Namjoon mah rela."
"Cieee~ okeh, langsung aja yaah... bentar..."
"Oh, ini. (ketawa) Ini jawabannya ga jelas banget."
"Gapapa deh tapi, biar seru. Hihi."
"Apa tuuu... yang seru..."
"Apa yaaa... ini nih."
"Do you know why (sex is) called sex?"
(nyender di kursi) "Hm... i wonder why..."
"Because it's merely samenleven or something?"
"Kok samenleven?" (samenleven: kumpul kebo)
"Iya, karena kalo ngga pake love, cuman sex doang namanya, bukan make love. Iya 'kan?"
"Apasih kamu gajelas deh."
"Hehe iya nih maaf gajelas ya."
"Iya emang."
"Trus jawabannya apa?"
"Hmm... mau tau banget jawabannya?"
"Mau dong..."
"Yakin ga mau ditebak dulu?"
"'Kan tadi udah nebaknya."
"Eh? Emang apa?"
"Yang tadi, yang make love make love tadi."
"Ah ngga ah ga nyambung, kasih jawaban yang lebih relevan lagi coba."
"Yee apa dong yang relevan."
"Apa perlu dipraktekin biar jelas? Hehehe~"
"Hmmm mulai 'kan dia."
"Hehehe nanti yah di rumah praktekin."
"Hmmm iya deh seseneng kamu aja."
.
.
.
.
.
"Nyerah nih, nyerah?"
"Iya deh, nyerah aja nyerah, biar selesai hahaha."
"Huu cupu ah."
"Okeee, jawaaaabannya. Adalaaah~"
"Jreng jeng jeng jeng~"
"Jreng jeng jeng jeng~ ehem."
"Widih, pake ehem dulu ya."
"Iya, soalnya seru nih jawabannya."
"Siap-siap ya."
"Wew... okey."
"Because it's easier to spell than 'ahh'... 'ohh'... 'ngh'... 'aww'... or whatever."
"Udah itu doang jawabannya. Ga jelas ya."
Namjoon sempet diem sebentar ngumpulin tenaga, sambil ngucap sekali-sekali. Sampe ketawa dikit. Pasalnya istrinya mendesahnya ngena banget. Kalo ga kuat iman udah lemes kali dia pengen cepet-cepet pulang.
"Hmm ternyata itu jawabannya."
(mendesah lagi) "Mhm... gitu deh."
(nyeringai) "Kamu kayanya lagi semangat banget ya."
"Hm? Iya dong... semangat banget kalo buat mancing kamu."
Namjoon ketawa aja ngelus dada. Seokjinnya seneng gitu bisa ngerjain.
.
.
.
.
.
"Gimana, gimana?"
"Hm? Apanya yang gimana?"
"Mau denger suara kamu lagi sayang, yang kaya tadi."
"Hmmmmm nakal ah, gamau."
"Eee... sekali lagi aja, sekali lagi."
"Emang kenapa sih? Kek ga biasa denger aja."
"Hehehe mau aku jadiin nada dering hape."
"Atau nada alarm keknya mantep. Biar kebangun banget."
"Jahat... matiin ni telponnya ni."
"Becanda sayang, 'kan biar seksi."
"Cuma buat alarm kamu mah ga perlu nada sih."
"Apa?"
"Tau deh, perlu apa yahhh~"
"Ee... apa nih, bikin penasaran aja."
"Nanti aku praktekin ah hihi"
"Ee... apa sih, kasitau dong."
"Mau banget dikasitau?"
"Hem... tapi kayanya aku ngerti."
"Apa?"
"Itu 'kan, yang atas ketemu bawah."
"Huu baru nyambung, cupu ah."
"Asik banget, ditunggu ya prakteknya."
"Bayar loh praktek aku."
"Pake apa bayarnya?"
"Emm... apa yah enaknya..."
Terus lanjut deh ngomongin macem-macem bentar sebelum dua-duanya nutup telpon. Ga lupa Seokjin kissbye seksi. Namjoon cuman minta dikuatin aja ampe malem ntar.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Balik lagi ke Jimin & Yoongi)
Abis yang kemaren-kemaren itu entah kenapa, frekuensi Jimin ketemu secara kebetulan ama Yoongi tuh jadi kerasa makin lama makin sering. Ya ngga sering juga sih, tapi kek berapa kali lah gitu dalem seminggu, adaa aja pokonya. Entah Yoonginya yang ketemu Jimin di jalan, ato Jiminnya yang ketemu dia dimana.
Contohnya, pas lagi di jalan mau ke tempat dia latihan dance.
.
.
.
.
.
(Naskah Drama Ver.)
Yoongi: "Lho, ada Jimin ya."
Jimin: "(kaget) Astaga. Oh, kamu. Duh, kirain siapa."
Yoongi: "Nama saya Min Yoongi."
Jimin: "(ga peduli) (tampang jutek dikit)"
Yoongi: "Yuk, bareng ke rumah kamu." (ngajakin kebetulan karena ada jadwal les)
Jimin: "Ngga, aku ga balik ke rumah."
Yoongi: "Loh, emang kamu mau kemana?"
Jimin: "(diem bentar) (ngejawab gapake liat muka Yoongi) Tempat latihan dance."
Yoongi: "O... untung banget kita ketemu ini. Ketauan deh mau bolos lagi."
Jimin: "(merengut) Yaudahlah, gajadi. Les aja."
Yoongi: "Loh gajadi latian?"
Jimin: "(jutek) Mau aku bolos lagi?"
Yoongi: "Ya terserah. Paling saya kasih hukuman kerjain soalnya dobel."
Jimin: "(nambah jutek) (males mau nanggepin) (tapi gajadi ke tempat les, ngikutin Yoongi jalan dari belakang)
Yoongi cuman senyum seneng aja.
.
.
.
.
.
Atau pas lagi di jalan mau balik ke rumah.
(Jodha Akbar Ver.)
Jimin: "Anu... kakanda?"
Yoongi: "(noleh) (abis itu senyum) Oh, adinda Jimin. Kebetulan sekali."
Jimin: "(senyum rada ga iklas) Ya. Kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi."
Yoongi: "(senyum) Betul. Darimana hendak ke manakah dinda?"
Jimin: "Dari sekolah hendak ke rumah, kakanda."
Yoongi: "Oh begitu."
Yoongi: "Bila berkenan, maukah adinda berjalan beriringan bersama kakanda?"
Jimin: "Tentu dinda berkenan, kakanda."
Abis itu dua sejoli jalan bareng ke rumahnya Jimin. Kebetulan lagi ga ada jadwal les, jadi si Yoongi cuman ikut jalan aja. Tadinya Jimin mau naek angkot, taunya si Yoongi bawa mobil diparkir di toko sebelah. Jadi dianterin deh dia pake Mercy-nya.
.
.
.
.
.
Dan yang lebih heran lagi, pas dia lagi di warung sayur.
(Upin Ipin Ver.)
Jimin: "Ashalamualaikum, Upa!"
Upa (yang jualan maksudnye): "Waalaikumussalam... nak Jimin. Nak beli ape ni?"
Jimin: "(cengengesan) Yang biase la, Upa."
Upa: "Oo... yang biase. Tunggu sebentar."
(ngambilin barang 'yang biasa' maksudnya Jimin)
Upa: "Ni... bayam satu ikat dan jagung satu bungkus."
Jimin: "Baiklah. Ni duitnye, Upa." (ngasi duitnya)
Upa: (nerima duit) "Trime kasih. Ade lagi yang nak dibeli?"
Jimin: "Emm... ape la ye..."
(Kemudian datanglah seekor, eh, sesosok makhluk tampan)
(Terus Jimin noleh)
(Kagetlah dia) (kaget mulu emang kalo ngeliat dia)
Makhluk tampan: "Selamat siang, Upa."
Upa: "Oh, selamat siang nak Yoongi. Ape kabar ni? Sibuk?"
Yoongi: "(senyum) Yaa macam biase la, Upa."
(Trus si Yoongi noleh ke Jimin)
Yoongi: "Oh, ade si Jimin rupenye."
Jimin: "(tadinya males negor) (tapi ga enak depan si Opa) (senyum rada ga iklas) Nah iye, ade Kak Yoongi."
Upa: "Oh, saling kenal kalian bedue?"
Yoongi: "Iye la, Upa. Dia teman dekat Yoongi."
Jimin: "(ngerutin alis ampe mukanya juga ngerut) (dalem hati: OemJi HellooOW? Maksud ngana 'temen deket?')
Upa: "Oo begitu. (ketawa kecil) Sempitnye dunie ni."
Yoongi: "(ikutan ketawa kecil) Benar tu."
Yoongi: "Benar tak tu, dik Jimin?" (senyum)
Jimin: "(ngangguk) betu, betu, betul."
.
.
.
.
.
Gitu deh. Bisa-bisanya, gitu ampe ketemu di warung sayur segala. Kek... entah emang lagi kebetulan ato disengaja.
Hm. Tapi kalo disengaja kek... ngapain juga e.
Hm. Tapi heran sik.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Kata Mutiara)
"Semua akan terasa indah
kalo ada duitnya."
(Courtesy of (et) instagram)
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jimin lagi di sekolah - Naskah Drama Ver.)
(Geng gosip Jimin lagi ngakak ngikik di kantin) (biasa gosipin orang)
Minhyuk: "(megangin perut) Anjir si Min ga ngerti lagi gue."
Min: "(ngakak) Ya abis emang gitu tau gayanya tadi. Gue aja geli liatnya."
Jimin: "(abis ketawa) Kocak banget sumpah."
Jimin: "Hadeeh... eh btw udah jam berapa ni guys?"
Fei: "(abis ketawa ngeliatin jam) Jaaam... empat."
Jimin: "Oh udah jam empat? (siap-siap) Yaudah deh, w balik dulu yah."
Min: "Yelaah cepet amat, bentar lagi deeeh."
Minhyuk: "Iya nihhh mo ngapain emang?"
Jimin: "W disuruh pulang cepet nih ama Mamih hari ni~ maap yaa."
Min: "Ciee anak Mamih yaaa."
Jimin: "Iyaa anak Mamih tersayang. (masukin tangan ke tali ransel)"
Jia: "Ihik."
Jimin: "(Bediri dari tempat duduk) Dah guys, duluan yaaa~"
Geng gosip: "Dadaaah~"
(Jimin jalan ke pintu gerbang) (nyapa temen pas sepapasan) (jalan lagi)
(Tiba-tiba)
.
.
.
.
.
(Sesampainya di pintu gerbang)
(Jimin ngeliat satu orang) (bediri nyender di pintu depan Mercy sambil lipet tangan di dada)
(Langsung diem di tempat pas orang itu ngeliat dia)
.
.
.
.
.
Loh.
Kok.
Ngapain dia disitu?
.
.
.
.
.
Yoongi: (senyum) "Hei."
Jimin: "Loh... kamu."
Yoongi: "Sudah saya bilang, nama saya Min Yoongi."
Jimin: (ga peduli) "Ngapain kamu disini?" (udah kek bawaan aja gitu, negor guru lesnya sambil jutek, padahal lagi ga sebel)
Yoongi: "Saya disini jemput kamu."
Hah.
Jimin kaget beneran dengernya.
Jemput?
Seriusan?
Jimin: "He...?"
Yoongi: (senyum) "Ngga apa-apa. Tempat tinggal saya ngga jauh dari rumah kamu. Ayo."
Jimin cuma diem di tempat. Ga abis pikir.
Ni orang. Selalu. Ga ada angin ga ada asep ga ada ujan tiba-tiba nongol gatau darimana.
Trus tiba-tiba nongkrong depan gerbang bilang mau jemputin. Heh.
Like... why? Gitu.
Aneh banget.
Emang tau darimana doi sekolah w?
Tau darimana doi w pulang jam segini?
Jimin jadi beneran curiga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa jangan-jangan... Yoongi tuh sengaja buntutin?
(Eh, ngga buntutin deng, tapi kek... tau aja kemana dia pergi gitu.
Emang sih pola jadwalnya Jimin tu ga ribet. Pagi sekolah. Sore pulang. Pulangnya les, kalo pas hari dia les. Kalo ga langsung pulang, latian dance dulu ampe magrib, abis itu pulang. Kalo laper abis latian, mampir ke Keefsi. Gitu. Pas weekend paling, doi sekali-sekali jalan. Kalo ga ya di rumah doang, nyampah. Nonton tipi, ngemil. Gemukin badan.)
Iya tuh, bisa jadi si Yoongi tau jadwal w. Nyari tau w lagi dimana dan kemana. Ya abis...
Ih tapi ngapain juga sik.
Ishhh, Jimin kok GR banget jadi orang.
Yaa abis... kek, masak kebetulan mulu kalo ketemu gitu 'kan. Trus ini? Kek... apaa coba maksudnya.
Sebenernya ga mau GR dulu sih, cuman yaaa bisa jadi 'kan?
.
.
.
.
.
Yoongi: (membukakan pintu mobil) "Hei... ngelamun aja. Mau naik nggak?"
Jimin diem aja. Antara mau nolak dan nggak.
Tapi ujung-ujungnya dia tetep masuk mobil.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan hanya bunyi laju mobil yang terdengar. Hening.
Jimin menghela napas. Lagi-lagi.
Jimin melihat ke arah jendela. Melihat sekitar.
Kemudian dirinya terpikirkan lagi. Kali ini bukan tentang kecurigaannya terhadap laki-laki yang sedang menyetir di sampingnya itu yang membuntutinya.
Melainkan tentang sikapnya yang suka berubah.
Dia nih... kalo pas lagi ketemu di luar... kek biasa aja bawaannya. Bisa ketawa. Bisa senyum. Bisa normal. Kek tadi.
Tapi giliran pas lagi les aja. Jutek. Sok cool. Bawaannya sewot.
Hhhh. Maunya apa coba.
Jimin kemudian melihat ke arahnya dengan tatapan mengerut. Memerhatikan sosoknya dari samping.
Penampilannya yang seperti biasa. Memakai kemeja. Kacamata. Jam tangan. Pandangan mata serius ke depan. Tangannya gerakin setir mobil.
Hmm.
Fokusnya lalu beralih ke wajahnya. Kulitnya putih. Bersih.
Bulu matanya panjang.
Bibirnya tipis. Merah.
Hmmm.
.
.
.
.
.
Deg.
.
.
.
.
.
Ih tuh 'kan. Kenapa deg-degan lagi sih?
Sadar sedang dipandang, laki-laki itu menoleh.
"Kenapa?"
Jimin reflek mengalihkan wajahnya ke jendela. "Ngga, gapapa."
"Panas ya? Idupin aja AC-nya kalo panas."
"Ng-ngga panas kok beneran. Gapapa."
"Oh ya? Tapi muka kamu merah gitu."
"Eh iya?" Spontan Jimin kaget. Mengambil cermin kecil yang dia bawa di tas. Trus ngaca. Sekalian rapiin poni.
Ih. Kenapa mesti merah di saat-saat kek gini coba.
"Sepi banget ya." Yoongi berkomentar di tengah-tengah suasana. "Denger lagu aja deh."
Jimin sempat menoleh sebentar. Hanya melirik Yoongi menghidupkan pemutar musiknya sekilas, lalu menatap ke arah jendela lagi.
Lantunan lagu romantis terdengar kemudian.
.
.
.
.
.
Darling don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
.
.
.
.
.
Jimin masih melihat ke arah jendela. Di wajahnya masih terlihat semburat merah.
Duh kenapa lagunya gini lagi. Ga ada lagu laen apa.
Duh cepetan pulang aja Ya Allah plis.
Jimin jadi baper sama lagunya.
Tidak menyadari laki-laki di sampingnya sempat menatap ke arahnya sesaat setelah melambatkan laju mobil. Lebih dari sepuluh detik.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Kata Mutiara)
Jodoh itu gak mungkin ketuker.
Kesalip mungkin.
Ketikung mungkin.
Ditinggal kawin mungkin.
(Courtesy of dagelan (et) instagram)
.
.
.
.
.
.
.
#
(Rumah Keluarga Cemara - Jimin lagi les sama Yoongi)
Hari ini, kebetulan Jimin kursus bersama Yoongi tanpa ditemani kedua adiknya. Taehyung menginap di tempat temannya, sedangkan Jungkook belum pulang menemani Seokjin belanja bulanan, sekalian jalan.
Disitu Jimin sebenarnya merasa kesal. Kenapa dia tidak diajak, malah ditinggal sendiri dengan laki-laki yang bersikap seolah acuh ini di depannya? (Betul, lagi-lagi sikapnya berubah.)
Alasannya ternyata karena Jimin sudah berkali-kali bolos, dan Mamanya menerima permintaan guru les untuk 'menahan' Jimin untuk mengikuti pelajaran hari ini.
Disitu Jimin merasa kekesalannya menjadi bertambah dua kali lipat.
Begitulah nasibnya saat ini. Tengah berkutat dengan soal-soal Fisika yang membuat pusing kepala. Pelajaran yang paling dibencinya.
Hhhh... membosankan. Benar-benar membosankan.
Saking bosannya, beberapa menit dia lalui dengan menaruh kepala di meja sambil meniup poni, menggambar, melihat handphone, melihat kuku, dan kegiatan tidak berfaedah lainnya.
"Hei."
Si guru les memanggilnya tiba-tiba. Jimin reflek kaget sedikit, memegang pensil.
"Iya, Kak?"
"Kamu udah ngerjain sampe nomor berapa?"
Jimin menggosok dagu dengan pensil. "Emm... nomer 5, Kak."
"Pilihan Ganda?"
"I... yah."
Yoongi menatap gambar yang dibuat di buku Jimin, lalu melihat buku yang dia baca lagi.
"Fokusin dulu kerjaan kamu. Waktunya tinggal 30 menit lagi."
Jimin memajukan bibir bawahnya. Lelah.
Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. Yang memang ingin dia sampaikan pada laki-laki di depannya itu.
Sesuatu yang bikin dia penasaran dengan reaksinya sehabis ngasitau itu ke dia.
.
.
.
.
.
"Kak, mau tau sesuatu, nggak?"
Si guru les diam saja.
"Kak."
Masih diam saja.
"Kak... noleh dong."
"Waktu tinggal 10 menit lagi, Jimin. Kamu bisa beritahu sesuatu itu nanti setelah pelajaran hari ini selesai."
Jimin mengerutkan wajahnya. Niup poninya kzl.
Gajadi penasaran deh.
.
.
.
.
.
"Kak."
Tak ada respon.
"Kak."
Tak ada respon lagi.
"Kak. Jimin mau nanya."
"Hm."
"Ini... yang nomer 8 gimana yah."
"Kerjain dulu."
"Ngga, Ka, Jimin cuman mau nanya bener apa ngga kalo-"
"Pokoknya kamu kerjain dulu sebisanya, ntar aja nanya-nanyanya."
Jimin mulai jengkel. "Kenapa sih? Aku 'kan cuman mau nanya bener apa ngga-nya aja?"
"Saya bilang kerjakan dulu sebisanya, nanti kalau sudah baru kita bahas."
Jimin narik napas aja. Lelah.
.
.
.
.
.
Jimin akhirnya menyerah. Hanya beberapa soal yang bisa dia kerjakan. Sisanya bye.
"Udah nih, Ka."
"Oke, sebentar. Taro aja disitu."
Kemudian Yoongi memeriksa tugasnya.
.
.
.
.
.
"Jimin. Udah berapa kali saya bilang untuk menjawab soal model ini bukan seperti ini caranya?"
Jimin yang tadi duduk rapi memajukan kepalanya, melihat ke arah soal yang ditunjuk guru lesnya.
"Ee... emang gimana tuh Kak, caranya."
"Masak kamu lupa lagi?"
"I... ya, Kak. Hehe. Maap. Jelasin lagi dong, Kak."
Laki-laki itu menghela napas, menjelaskan sekali lagi dengan Jimin.
"Ooo... pake yang itu ya, Kak."
"Iya, jangan dilupain dong makanya. Perhatiin bener-bener, trus coba dilanjut lagi selesai ini biar nempel di otaknya."
Jimin manggut-manggut aja. "Iya Kak."
"Jangan 'iya Kak iya Kak' aja. Awas kalo besok lagi saya liat kamu masih ngerjainnya kaya gini." "Ini juga yang nomer ini, kenapa kek gini ngerjainnya?"
Jimin diem aja. Merengut.
Terus aja iya, terus. Ngomong apa lagi.
"Ini lagi, nomor tiga, soal segampang kek gini aja kamu ga bisa. Nomer lima juga. Enam. Kemaren udah dijelasin bulet-bulet, tetep aja ga ada yang bener."
Iya, teruus. Anggep aja yang diomongin lagi mudik.
"Dari kemarin juga kamu selalu banyak salah, baik Fisika ato Matematika. Gimana ini? Ngapain aja kamu selama ini di kelas? Di les? Yah di les juga bolos aja bisanya emang."
Jimin masih dieeem aja. Masih berusaha sabar.
Si guru les terlihat lelah menceramahi menghabisi waktu, memutuskan untuk mengambil buku yang dibacanya. Namun, tetap memberikan komentar penutup.
"Yah kalo kek gini sih ga usahin remedi lagi, mohon maaf. Kamu naik kelas aja saya ga yakin kalo kek gini ceritanya."
.
.
.
.
.
Jimin tersentak. Benar-benar terpukul dengan komentar yang tajam tersebut. Merasa ingin menangis.
.
.
.
.
.
Ya Tuhan... parah banget.
Kok dia ngomongnya jadi gitu banget sih?
Emang aku sebodoh itu apa...?
Jimin menggigit bibir. Masih berusaha menahan emosi yang sudah menyempiti dadanya. Dilihatnya sosok laki-laki itu yang diam membaca buku. Seperti tidak merasa bersalah.
Kenapa dia nyebelin banget sih?
Aku padahal cuman mau nanya, Ya Allah... emang salah banget ya aku nanya dikit aja?
Kenapa sih dia...? Di luar baek, tapi dalemnya kaya gini...? Aku berasa salah terus, diomelin terus.
Sebenernya gasuka apa gimana sih dia sama aku tuh?
Sambil mengeluh dalam hati, Jimin masih berusaha menarik napas dan menghembuskannya. Hanya saja bukannya dia semakin lega, malah rasanya semakin lama semakin sesak, setelah sampai pada satu kesimpulan.
Ato sebenernya yang kemaren baek-baek itu cuman bullshit aja?
Jimin tiba-tiba merasa emosinya sudah berada di ambang batas. Tidak bisa ditahan lagi.
Bapernya udah tingkat planet Mars.
.
.
.
.
.
"Ya gimana aku bisa kerjain kalo ga ngerti sama sekali bahan yang dikasih?" Jimin mendorong buku pe-ernya, dengan air mata yang menetes. "Kamu tuh beneran mau ngajar apa ga sih? Apa susahnya ngejawab pertanyaan murid yang kesusahan?"
Guru lesnya kemudian menatapnya. Tajam. Jimin tidak kalah balas menatapnya tajam. Menatapnya dengan emosi yang dipenuhi oleh amarah. Ingin menelannya bulat-bulat, dengan air mata yang menyusul membasahi pipi.
"Kenapa? Ga suka?" "Mestinya aku yang ga suka sama kamu, tau!"
"Seenaknya bilang kerjain sebisanya kerjain sebisanya, ya kalo anak murid tetep gabisa ya diterangin aja ga ada salahnya 'kan, gausah jadi guru yang sok killer berusaha bikin pinter! Orang bego yang ga bisa diharepin kaya aku jangan kamu samain sama otak kamu yang super itu dong! Ganyampe!"
"Gini semua apa lulusan S3 Todai? dosen SNU? Gini cara ngajarnya? Pelit bagi ilmu padahal udah dibayar mahal?"
(Jimin ngomong kek gitu padahal ga tau bayaran guru lesnya berapa sebulan, cuman si Mamah 'kan pernah bilang 'agak' mahal, jadi yaudah. Yaa satu setengah juta sebulan, mayan juga 'kan.)
"Ato kamu jangan-jangan jadi guru les tu cuman buat ngerjain anak orang aja? Buang waktu aja? Hah?" "Jawab aja kalo berani!"
Jimin terengah-engah. Puas melampiaskan emosinya. Yoongi masih menatapmya tajam. Bergeming. Memerhatikan wajah Jimin yang memerah. Terisak. Sambil menyeka air matanya sesekali.
Kemudian Jimin terkejut bukan main saat laki-laki itu membanting buku yang dibacanya, lalu memukul meja.
Dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Jimin sampai terasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan anak itu selain membelalakkan matanya.
"Ini sudah yang kedua kalinya saya peringatkan kamu untuk berhenti bersikap tidak profesional terhadap saya, Park Jimin," bisik laki-laki itu di depan bibirnya. "Hanya satu kali lagi ini terjadi sampai kesabaran saya habis. Tolong jaga agar saya tidak sampai menyakiti kamu."
Sekonyong-konyong saja. Tidak sedikitpun amarahnya yang tadi tersisa. Ocehannya yang tidak pikir panjang. Seketika bibirnya, sekujur tubuhnya kaku di tempat. Bayangan tentang laki-laki itu yang bersikap baik padanya pun menghilang entah kemana dari benaknya.
Karena tidak sedikitpun Jimin merasakan hawa itu darinya saat ini.
Seolah dia berada dalam keadaan transisi yang berbalik sejauh 180 derajat.
Mata lelaki itu masih mengarah tepat di pelupuk matanya. Masih tajam menatapnya. Tanpa berkedip. Kemudian menyipit.
Jimin sampai tidak menyadari bahwa tatapannya sempat beralih ke bibirnya sekilas.
"Kamu ngerti apa maksud saya kan?"
Jimin hanya bisa mengangguk pelan dengan mulut yang tertutup rapat.
"Bagus." Laki-laki itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, mengambil buku yang terjatuh di lantai, dan mengemas barangnya. "Untuk hari ini sampai sini dulu, jam segini saya ada urusan. Permisi."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Iklan)
(Gigi lagi di konser di lapangan tembak)
Arman: "PANAS... PANAS... PANAS... BADAN INI"
Arman: "PUSING... PUSING... PUSING... PUSING..."
Yang nonton: "PALA BARBIE!"
(Courtesy of dagelan (et) instagram)
.
.
.
.
.
.
.
#
Jimin sedang berada di sekolah. Sedang belajar. Matanya melihat ke depan, ke arah guru yang sedang menjelaskan.
Namun jiwanya saat ini sedang tidak di sekolah. Begitu pun matanya yang seolah menatap dinding kosong.
Masih terbayang jelas di benaknya peristiwa kemarin. Bagaimana dirinya yang tidak dapat menahan perasaan kesalnya. Bagaimana sikap guru lesnya yang benar-benar membuatnya kaget, lebih kaget dari kaget-kaget saat dia bertemu secara tidak sengaja dengannya di berbagai tempat.
Benar-benar dalam sekejap, Jimin merasa skakmat.
Drama banget lah pokoknya.
Jimin ngelamun. Sampe kelas selesai. Untung dia ga dipanggil gurunya maju ke depan ngerjain soal. Lagi cuek sama dia.
Jimin baru bener-bener sadar pas bel istirahat bunyi. Jadi laper mikirinnya.
.
.
.
.
.
Di tengah jalan Jimin pulang sekolah.
Tetep aja kepikiran yang tadi. Masih baper.
Hhhh. Jimin coba narik napas hembuskan. Nyoba nenangin diri.
Kek ga ada hal lain yang lebih penting buat dipikirin aja. Huh.
Tapi...
tetep aja Jimin kepikiran.
Dibanting buku.
Digebuk meja. Untung si aman, ga ada yang pecah.
Diliatin deket-deket.
Duh rasanya tuh. Kek, ulala gitu.
Gabisa dijelasin pake kata-kata.
Trus.
Gimana ya kalo abis itu sikapnya bener-bener berubah.
Kalo dia bener-bener marah sama Jimin... trus ga mau ngajar dia les lagi. Cuman dia doang tapi, ga sama adek-adeknya.
Yah. Jangan gitu juga sih. Ntar Jimin ga ada bulan-bulanan yang mo dikejer kalo ada tugas numpuk.
Tapi 'kan doi bilangnya 'hanya satu kali lagi ini terjadi sampai kesabaran saya habis', gitu.
Berarti sekali lagi boleh marah dong.
Yha.
Nambah masalah lagi nyet namanya.
Hhhh. Cape Jimin. Pusing pala Jimin.
Yaudahlah pulang, pulang.
.
.
.
.
.
Tapi...
Sumpah ya.
Kemaren tu kek... goosebump banget. (Jimin sok-sok aja ngomong 'goosebump' gegara geng gosipnya sukak banget ngomongin itu. Padahal ya inggrisnya mah cetek dia, mohon maap).
Dia banting buku. Gebuk meja.
Trus.
Iya, diulang lagi yang tadi.
Trus...
.
.
.
.
Deg.
.
.
.
.
Loh.
Kenapa deg?
.
.
.
.
.
Yaelah. Orang dia cuman deketin muka doang. Kenapa mesti pake 'deg' segala ih.
Dasar jantung sableng.
.
.
.
.
.
Ya tapi...
Tetep aja sih.
Mukanya deket banget.
Kek... yaampun.
Deketnya tuh deket... yang bener-bener deket, kek... deket... yaaa gimana sih yang deket ampe deket banget gitu?
.
.
.
.
"AAAAH auk deh lepas ni pala Jimin ni LEPAS NI?!"
Jimin sampe ngeremes-remes rambut, dikirain gila sama orang-orang sekeliling. Untung si ganyadar.
Trus.
Bang Toyiiip... bang Toyiiip... kenapa ga pulang pulaaang...
Tiba-tiba hape Jimin bunyi.
Tet.
Oh. Ada sms.
Dari...?
Tet.
From: Ka Taemin
Hei, BigHit-ers yang ngga ada matinya! Makasih banget atas performance-nya yang keren banget di Stadion GBK, terbayar sudah kerja keras kita selama 6 bulan ini yaa, selamaat ^^
Hari ini kita kumpul yuk di BigHit jam 4 sore buat evaluasi, sekalian ngomongin rencana ke depan selanjutnya. Ditunggu yaa ~ Kamsahamnida!
Jimin abis itu nepok palanya sambil mangap.
Oh iyaaa. Rapat eval. Lupa.
Duuh males banget tapi mau kesananya sekarang. Gimana yah.
Duh pengen cepet-cepet balik ajah kayanya. Hiks.
Eh.
Tapi... bentar.
Ekspresinya berubah. Berubah jadi diam. Teringat sesuatu.
Jimin menutup handphone.
Bener juga.
Kemaren 'kan aku padahal mau ngomongin soal ini ke dia.
.
.
.
.
.
Jimin jadi kepikiran lagi.
Manyun lagi.
Gila sendiri lagi.
.
.
.
.
.
Jimin berjalan ke arah yang berlawanan dari tempat dia latihan dance. Pun berlawanan dari jalan ke KFC.
Nyeselin idupnya yang penuh drama.
.
.
.
.
.
.
.
# to be continued
