°Complicated Love°

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Alternatif Universe, Typo, etc.

Sorry kalo gak jelas.

Author : Yukigawa Kensei29

.

.

.

Enjoy & Happy Reading...

°Complicated Love°

.

"Onii-chan! Nanti aku hanya ditoko sampai tengah hari saja ya?"

"Mana bisa begitu Sakura!"

"Bibi dan Tsunade dan nenek Chiyo memintaku menemani mereka ke Konoha Plaza."

"Apa boleh buat. Satu saja repot apalagi dua. Pergilah. Tapi kalau ada boneka terbaru edisi khusus belikan ya, tak usah repot-repot, hanya satu untukku doang kok."

"Yare-yare, nanti akan kusampaikan itu pada bibi Tsunade dan nenek Chiyo. Biar mereka yang beli. Tapi aku tidak jamin mereka akan membelikannya. Sudah ya, aku mau menemui Hinata dulu, setelah itu aku baru ke tokomu. JAA NE...!"

"MASA KAU HANYA DITOKOKU SEBENTAR! HEY, SAKURA NO BAKA!"

Sakura berlari meninggalkan sang kakak yang sedang asyik mengomeli dirinya. Tanpa memperdulikan kelakuan sang kakak yang mungkin siap merebusnya dalam kuali panas jika bertemu lagi. Sakura segera pergi ke rumah Hinata. Semalam di pesta Ino dia belum mengobrol sama sekali dengan gadis bersurai indigo itu.

Walau pesta berlangsung lama, tetap saja dia ditahan oleh Ino. Alasannya harus terus menemani dirinya. Padahal banyak teman-temannya yang lain rela didekat gadis itu. Mau tidak mau dan ikhlas tidak ikhlas, Sakura tidak kemana-mana dan hanya menemani Ino sampai akhirnya dia dibujuk-bujuk supaya mau ikut berdansa.

[Di apartemen Hinata.]

Ding Dong.. Ding Dong..

"Hinata aku datang!" teriak Sakura.

Ternyata di dalam apartemen Hinata sedang memasak, jadi sedikit agak lama membukakan pintu.

CEKLEK.

"Ohayou gozaimasu! Doushite Sakura-chan?" sapa Hinata. Sakura hanya tersenyum dan disusul sang pemilik apartemen yang juga tersenyum.

Tanpa dipersilahkan Sakura main menerobos masuk apartemen Hinata. Dan itu sudah biasa, entah Ino ataupun Sakura jika sedang berkunjung ke apartemen Hinata pasti tanpa dipersilahkan mereka akan berjalan masuk ke ruang yang ingin mereka tempati di apartemen Hinata.

"Hmm... Hinata, kamu sedang memasak?"

Hinatapun menangguk. Dia kali ini sedang mencoba resep yang diberikan Kushina, ibu Naruto pacarnya. Sepertinya wanita keturunan bangsawan Hyuuga itu sudah mendapatkan lampu hijau dari calon mertua.

"Sudah mendapat restu nih? Tinggal lanjut dong. Undang aku juga ya?" goda Sakura. Hinata tersipu. Tak lama kemudian mereka mencium bau tak sedap dari arah dapur, "Bau apa ini ya?"

Sakura dengan santai asbun memberitahu Hinata bahwa itu adalah masakannya, "Masakanmu Hinata."

Dengan ekspresi kaget dan panik Hinata segera bergegas ke dapur. Disusul Sakura yang mengarah ke kulkas Hinata. Mengambil air putih dingin dan meminumnya. Sedangkan Hinata terlihat panik dan bingung meratapi nasib masakkannya. Yang ternyata asal nyebutnya Sakura itu berdasarkan realita.

"Aduh.. Sakura-chan aku harus apa...?" dengan nada sedih Hinata bertanya pada Sakura.

"Buat ulang saja. Lagipula kali ini kulkasmu penuh dengan bahan masakan. Aku akan membantumu. Biarkan saja Sasori mengamuk gak jelas dirumah. Toh aku disuruh ke tokonya tidak di gajikan? Sudahlah, buang yang itu dan buat yang baru. Nanti jam sepuluh aku harus ke toko si muka bayi itu. Masih dua jam aku disini."

Dengan nada yang datar dan santai, Sakura berbicara panjang lebar pada Hinata. Masakan Hinata itu enak, jadi dia tidak boleh menyia-nyiakan masakan Hinata. Hanya karena daging yang gosong masa keinginan dia untuk merasakan kelezatan masakkan Hinata tertunda? Tentu tidak, ini hal yang cukup langka. Mengingat kelakuan kakaknya yang tidak jelas itu.

Dua jam dihabiskan Sakura bersama Hinata di apartemen sahabatnya tersebut. Bercerita, memasak, menonton televisi, membaca novel dan komik. Semua terasa menyenangkan. Yah, sampai akhirnya Sakura ingat bahwa dia sudah berjanji harus ke toko boneka Sasori walau hanya sebentar disana.

"Hinata, terima kasih ya? Meskipun aku jarang kesini, tapi sungguh kau adalah sahabatku yang paling baik." Hinata tersenyum. Tapi, Hinata merasa Sakura sikapnya sedikit aneh hari ini. Jarang sekali Sakura berkata dirinya atau Ino adalah sahabat terbaiknya, meskipun itu adalah kenyataan.

"Sakura-chan sering-sering kesini. Oh ya, apa Sakura-chan baik-baik saja?"

Ya, Sakura sedikit merasa tak enak hati hari ini. Entah karena apa, padahal lingkungan sekitarnya seperti biasa, tidak ada hal aneh yang menarik perhatian. Tapi, hatinya merasa sedikit terganggu oleh sesuatu. Tak bisa dijelaskan. Dan mungkin, awan yang sedikit mendung hari ini bisa menggambarkan isi hatinya.

"Aku baik kok. Hanya saja.. aku sedikit merasa tidak enak hati. Sedih bukan senang juga bukan. Marahpun tidak. Tenang tapi tidak setenang biasanya. Sudah ya, kalau aku telat nanti si muka bayi itu akan melakukan hal yang aneh dirumah. Aku tidak mau barang-barangku dijadikan eksperimen pembuatan bonekanya. Bye, sampai jumpa lagi!"

Hinata sedikit menunduk. Mencoba memahami apa yang dirasakan gadis musim semi itu. Namun, karena terlalu asik melamun dia jadi tidak tahu Sakura sudah pergi ke toko kakaknya.

Sakura P O V..

Aku bingung dengan perasaanku hari ini. Sejak bagun tidur tadi hatiku sedikit tidak tenang. Padahal semalam aku tertawa lepas bersama Sasori-nii dan Konohamaru –sepupuku. Tapi, aku tidak tahu penyebabnya apa. Sungguh tidak jelas.

Itu dia busnya. Sebaiknya aku cepat naik. Ah, ramainya.

Duduk dimana ya? Ah, disitu saja. Untung saja dapat. Aku tidak tahu mengapa hari ini banyak orang yang naik bus. Biasanya, mereka selalu menggunakan kendaraan pribadi. Tapi apapun itu kemacetan jadi berkurang.

Sebaiknya aku memeriksa gagdetku. Takut banyak pesan masuk dari Sasori atau Ino atau Naruto yang selalu heboh. Bersyukur tadi hpku tidak disuarakan, sehingga tidak mengganggu kebersamaanku dengan Hinata.

Banyak sekali Ino mengirim pesan. Dan Naruto juga. Apa ini? Sasori hanya mengirim satu pesan? Tumben sekali. Padahal tadi dia seperti mau mencincangku.

To : Sakura

From : Sasori-nii (Bayi merah pengganggu waktu)

Imouto, nii-chan tidak membuka tokonya. Onii-chan punya urusan mendadak. Berhubung kamu belum datang nii-chan tidak buka tokonya. Kalau kamu mau buka tokonya silahkan saja. Tapi onii-chan akan kembali nanti malam.

Ternyata dia pergi. Baguslah, si pengganggu itu pergi. Habisnya aku selalu merasa terikat ditoko itu. Bukannya dia memperkerjakan karyawannya dengan baik malah selalu di kasih libur. Gajinya tetap dan bonus tetap ada, sedangkan adiknya yang selalu ada di tokonya tidak diberi apa-apa.

To : Sasori-nii (Bayi merah pengganggu waktu)

From : Sakura

Onii-chan, aku tidak akan ketoko. Janjiku untuk ketokomu hari ini BATAL! Karena onii-chan juga tidak ada ditoko. Aku mau pergi. Sebaiknya kau perkerjakan karyawanmu dengan baik. Suruh saja mereka membuka dan menjaga tokonya. Lalu minta mereka juga yang menutup tokonya. Jangan jawab pesan ini, atau aku tidak akan membelikan makanan kesukaanmu malam nanti.

Akhirnya, bebas! Aduh... bus ini semakin ramai saja. Memangnya hanya satu bus yang dioperasikan ya? Sudahlah, aku mau ke taman Konoha saja. Disanakan sepi walaupun tempatnya sangat indah.

Tunggu! Harum parfum siapa ini? Aku tidak merasa asing dengan wanginya. Sepertinya yang pakai ada didepanku. Coba ku lihat sebentar ahh...

JDARR!

Sa-sasuke.. U-uchiha! A-apa? Dia? Ke-kenapa aku bertemu dengannya lagi? Kupikir kejadian dipesta Ino dan Sai itu hanya imajinasi saja. Hari ini suasana hatiku sedang tidak bagus. Ditambah melihatnya, aku jadi ingin tidak pulang malam ini. Ahh... tapi aku malas sekali main diluar rumah kalau sudah malam. Sebodoh amat teui!

End Sakura P O V..

Tak disangka. Sakura ternyata bertemu dengan orang yang cukup mengganggu hidupnya dulu. Benar-benar, Sasuke ada didepannya. Pemuda tampan itu, dulu sewaktu di SMP sering sekali membully dirinya tanpa perasaan.

Memang dia tidak main tangan. Tapi, kata-katanya, tajam bagaikan pisau tertajam sedunia. Pedas bagaikan cabai paling pedas sejagad raya.

Akhirnya Sakura sampai di taman Konoha. Turun langsung dari bus tanpa menoleh kearah manapun kecuali lurus kedepan. Dia membeli takoyaki didekat taman sambil mengingat perkataan yang mungkin hanya omong kosong bagi pria itu. Tapi, pria yang kejam itu bagaikan mengatakannya tulus dari hatinya yang paling dalam. Sungguh Sakura terkejut untuk yang kedua kalinya.

"Jika aku bertemu denganmu lagi suatu hari nanti, aku tidak akan membiarkanmu kabur. Kau tidak bisa lari dariku. Dan kau ingat itu jidat lebar!"

Kalimat itu. Dia mengatakannya didepan teman-temannya sehabis membully Sakura dengan kata-kata pedasnya sewaktu SMP. Lalu pergi meninggalkan Sakura.

Dan itu semakin pahit. Karena semejak dia masuk SMP dan belum mengenal siapapun disana, dia sudah terperosot menyukai Uchiha bungsu itu. Dan akhirnya, memutuskan membencinya.

Bahkan, beberapa tahun terakhir Sakura sudah bebas dari rasa suka atau cintanya pada Sasuke. Tapi, semejak kemarin dia menjadi ketakutan.

Takut Sasuke melakukan apa yang dia katakan dulu. Takut tertangkap dan takut untuk kembali menyukainya. Dan tentu saja, takut sakit hati kembali karena harus menyemangati teman-temannya agar terus berjuang mendapatkan Sasuke.

Berpura-pura tak suka pada pemuda itu dan mencari cara mendekatkan temannya pada Sasuke. Atau menghentikan tangisan teman-temannya yang disebabkan oleh pemuda itu. Walau sebenarnya kehadiran pemuda itu bisa diabaikan. Tapi, tetap saja mengganggu.

Mengabaikan rasa yang tidak disukainya dan berjalan ketaman Konoha. Duduk salah satu bangku yang disediakan sambil memakan takoyakinya. Tanpa mengetahui bahwa 100 meter dari tempat duduknya ada orang yang sedang ia kesali.

"Aku, tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya dia sekarang tinggal disini yang mungkin sebelumnya dia tinggal diluar kota." gumam Sakura.

"Aku takut. Walaupun kedengarannya seperti omong kosong. Namun, jujur saja.. aku sungguh ketakutan. Dan lagi sewaktu dia menyeretku. Ancam dan seret. Ugh..." tambahnya.

Sakura bergumam kecil sambil memakan takoyakinya. Tanpa sadar, Sasuke melewati Sakura. Namun, dia berjalan dibelakang bangku taman tempat Sakura duduk.

Mungkin, faktor jalanan yang kurang baik dibandingkan rumputnya menjadikan orang lebih suka menginjak rumputnya dibanding jalan yang disediakan. Sampai sekarang belum ada bantuan apapun untuk memperbaiki jalan tersebut dari pemerintah.

Sepertinya Sasuke mendengar gumaman Sakura. Padahal, dia ketaman hanya ingin menemui kakaknya. Kakaknya ternyata hanya mengerjainya. Tapi, tak disangka. Dia mendengar gumaman dan menghirup parfum yang dikenalinya walau agak ragu.

Sasuke berhenti lalu mencoba mengingat siapa gadis itu dan, "Sakura Haruno." tara! ingatan Sasuke akan gadis itu sudah kembali.

Sakura tersentak. Tubuhnya membeku dan terasa seperti tersengat listrik. Untung takoyaki yang dikunyanya sudah ditelan, kalau tidak ia sudah tersedak makanannya sendiri.

Suaranya, terasa dingin. Sungguh, ini jauh berbeda dengan nada suara Sasuke sewaktu dulu yang sangat hangat. Mungkin, seingat ingatan Sakura.

Tanpa menoleh dan menunjukkan ekspresi terkejut Sakura perlahan menyebut nama Sasuke, "Sa-sasuke Uchiha!" terasa gemetar. Rasanya Sakura ingin segera menelpon polisi dan lari dari taman sekarang juga.'Ya ampun.. kenapa ketemu lagi sama si nyebelin ini sih?!"

"Kau! Apa kau masih ingat kata-kataku sehingga suaramu bergetar seperti itu? Kau takut?" Sasuke memejamkan matanya dan memasukan tangannya kesaku celana. Terasa sangat santai. Tapi–

–Sakura tidak menjawab dan hanya terdiam membeku.

Padahal bisa saja Sakura menanggapi pertanyaan pemuda itu. Namun, reaksi tubuhnya ini adalah alami.

"Maaf jika kalimatku dulu terlalu pedas. Kau, tidak usah takut padaku lagi. Jadi santai saja. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" sekarang nada bicara Sasuke terasa hangat. Berbeda sewaktu ia menyebut nama Sakura.

"Ba-baik, ma-maaf aku harus kembali." Sakura terbata menjawab pertanyaan Sasuke. Dia berlari kearah halte bus dan segera menaiki bus yang kebetulan lewat. Entah Sasuke ingat atau tidak dengan omong kosong yang diingat Sakura terus. Tapi, Sakura ingin segera pergi dari taman. Tidak kerumah ataupun kerumah sahabatnya.

"Sakura Haruno. Jurusan kedokteran di universitas Konoha. Sebentar lagi aku pindah kesana. Kau cukup terkenal karena kau cukup jenius. Aku sekarang sudah tinggal lagi di kota ini. Seberapa keras kau mau menghindar. Secara tidak sengaja pasti kita akan bertemu lagi. Jadi maaf ya, jika nanti kau sedikit tidak senang."

Sasuke menyeringai. Dia masih ingat bahwa gadis itu sering menjadi sasarannya dulu. Mungkin dengan jawaban Sakura yang terbata-bata dan gemetar, Sasuke mengingat kenangannya sewaktu SMP.

Terasa sekali bahwa Sakura sangat takut bertemu dengan dirinya sekali lagi. Mungkin terasa sedikit menyenangkan mengganggu kehidupan gadis itu kembali. Hanya sebatas bermain-main dan tidak lebih.

'Heh, sewaktu dulu dia sering membantahku dan menantangku. mengapa jadi seperti itu? Apa dia balik ke sifat cengengnya seperti saat SMP? Hah.. tidak tahulah.'

Sakura berlari setelah dirinya merasa agak jauh dari Sasuke. Ada apa dengan dirinya? Itulah yang gadis merah muda itu pikirkan saat ini. Padahal, sewaktu SMA dirinya sangat pemberani untuk melawan pemuda itu. Walau tetap saja ada saat dimana dia tidak bisa mengalahkan Sasuke.

Apapun itu pasti Sasuke yang selalu mengalah. Tapi tidak jika dirinya mungkin sudah melewati batas menurut Uchiha yang satu itu. Sehingga, dirinya kalah telak walau hanya dengan satu kalimat.

Flashback..

"Dobe, apa yang kau sukai sih dari gadis itu?" tanya Sasuke. Naruto yang sedang memainkan pspnya kini berhenti. Menatap sebentar pada si penanya lalu kembali melanjutkan acara bermainnya dan menjawab, "Sakura-chan itu baik, dia juga sopan terutama dengan orang yang lebih tua darinya. Dia juga kuat. Itu sudah cukup terbukti."

Sasuke kini berbalik menatap sahabat pirangnya itu yang sedang seru-serunya bermain psp, "Apa yang kau maksud dengan cukup terbukti?" Narutopun kini berhenti memainkan psp miliknya lagi, lantaran dia memang sudah kalah dalam permainan yang dimainkannya tersebut,

"Kau yang yang sering menjadi saksinya. Masa kau masih belum sadar. Dia itukan pernah menghancurkan batu dibelakang sekolah dengan sekali pukul. Dan juga dia sering sekali melawan dirimu yang selalu menyudutkannya kan? Kau juga tahu sendiri, terkadang dia selalu disiksa oleh fansmu."

Sasuke melepaskan pandangannya pada Naruto. Dia sedang berpikir. Kalau dikira-kira, gadis itu hanya tidak menentangnya sewaktu ada orang. Dan kini mau ada orang banyak atau sedikit pasti gadis itu selalu mencoba mematahkan argumen-argumen Sasuke terhadap dirinya. Apa lagi kalau mereka sedang berdua. Semakin menjadi gadis itu membantah dirinya.

"Tapi, kau lihat sendirikan? Dobe, dia itu selalu menentangku." Naruto bangkit dan menghampiri sahabat ravennya tersebut.

"Kau benar sih. Tapi aku heran, kau semejak masuk SMA kan selalu bersikap dingin. Lalu, kenapa kau malah sangat antusias saat aku membahas gadis itu. Yeah.. walaupun yang keluar hanyalah kalimat menjelekkan untuk dirinya saja. Lagipula dia memang punya hak untuk menetangmu bukan? Memang kau siapa? Saudaranya? Kakaknya? Ayahnya?"

Sasuke terdiam. Memang sih, perkataan Naruto kalau dipikir ada benarnya. "Memang itu fakta kan?" Naruto menghela napas kasar. "Kau ini, fakta itukan juga ada yang baik dan buruk. Kau selalu mengeluarkan fakta yang buruk. Aku mau tanya kepadamu, kau niatnya hanya mau menjahilinya kan? Itu benarkan teme?"

"Hn. Kau kan memang sudah tahu." Lagi-lagi Naruto menghela napasnya kasar. "Tapi, temee.. kau ini seperti pacarnya saja tahu! Kalau dia melakukan hal menurut kebanyakan orang tidak benar pasti kau memperingatinya. Kalau dia melakukan kesalahan kau menasihatinya, mungkin menurut kebanyakan orang kau memarahinya. Dan kau selalu mengomel kalau dia membahayakan dirinya sendiri. Kau tidak suka dengan Sakura-chan kan? Kau tahu, aku menyukainya."

"Hehh, semua orang kalau jadi aku pasti akan melakukan hal yang sama." Kini Naruto sudah bosan berbicara dengan Sasuke. Dia mengambil gadgetnya lalu menelpon seseorang. Sepertinya dia lapar, terbukti dari percakapannya yang menyebutkan bahwa dia memesan makanan.

"Hei, dobe. Pesankan aku paket 1." Ucap Sasuke. Naruto yang langsung mengertipun mengucapkan pesanan Sasuke setelah pesanannya. Dan langsung menutup telpon tersebut. "Kau sepertinya kurang maju ya?" Sasuke menoleh. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu? Saat kau memarahinya, memperingatinya, atau memperhatikan dirinya. Semua orang bisa merasakan bahwa tatapanmu dan nada bicaramu sangat berbeda seperti kau berbicara pada yang lain. Itu sama saat kau berbicara dengan aku dan keluargamu."

"Aku tidak merasa." Pemuda berambut pirang itu hanya bisa mengelus dada. "Malas berbicara denganmu. Sebaiknya aku menunggu pesananku."

"Bodoh, kalau ketahuan guru bagaimana?" Naruto menunjukkan deretan giginya. "Mereka itukan cukup mudah terpengaruh. Tinggal omong ini-itu dan kita bisa lolos. Sehabis itu kita bisa makan sepuasnya diatap ini. Hahahaha..."

"Apa katamu saja." Narutopun menuruni tangga dan diikuti Sasuke. Saat berada dilantai dua, tak sengaja mereka berpapasan dengan segerombol siswa-siswi yang sedang –istilahnya- ngerumpi.

"Heh, kudengar. Haruno-san memenangkan olimpiade matematika, loh." Ucap seorang siswi dengan kacamata bulatnya. "Yang kudengar, dia itu calon dokter yang sangat berbakat. Aku mendengarnya sendiri sewaktu berpapasan dengan Tsunade-sama dan Kakashi-sensei."

"Asal kalian tahu saja. Ternyata dia pernah jadi model disebuah majalah. Walau waktu itu usianya masih 7 tahun. Tapi sungguh wajahnya imut sekali." Tukas salah satu siswa yang tak mau ketinggalan bergosip. "Yang kudengar dia pernah menghancurkan persahabatan seseorang loh. Dan lagi, dia pernah kabur dari rumah. Dan satu lagi, dia itu bagaikan monster, kalian ingatkan sewaktu dia menghancurkan batu besar dibelakang sekolah?"

Semua seketika siswa-siswi yang berkumpul mengangguk. Didetik berikutnya mereka terkejut bersama-sama. Setelah itu kumpulan siswa-siswi yang sedang merumpi tersebut langsung bubar. Melarikan diri entah kemana. Sedangkan, sang pemuda kini sedang melirik kepada seseorang dengan perasaan puas. "Ada apa?"

"Awas kau yah. Dasar ayam step!" gadis itu melarikan diri sedangkan Naruto yang barusan melihat kejadian tersebut langsung berlari ke pos satpam. "Aku menang lagi. Bodoh."

.

.

"Huh, tugasnya menumpuk sekali." Keluh Naruto. Tiba-tiba saja seorang gadis bersurai Indigo menghampirinya dan berkata sesuatu, "Ka-kau kenapa Na-naruto-kun..?" dia mengucapkan kalimat itu dengan tergagap dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya.

Baru Naruto mau menjawab dengan senang hati, tiba-tiba saja seorang gadis beramput pink berlari kearahnya. "Hey, Baka. PJ dong!"

Yang dipanggil baka hanya cengegesan. Dia tak menjawab sedikitpun melainkan tersenyum aneh pada gadis itu. "Sakura-chan, ka-kami ti-dak pacaran kok."

"Hinata, kalau kau bohong aku akan adukan ke kakakmu loh." Ancam Sakura dengan nada yang menggoda. Ya, dia memang sengaja mau menggoda sahabatnya. "Payah. Beraninya mengancam."

Sakura mendelik tajam ke sumber suara. Ternyata didapati seorang pria dengan rambut pantat ayamnya sedang tersenyum meremehkan gadis itu. "Hey, kau selama ini juga mengancamku saja."

"Oh ya? Lalu kenapa handphonemu bisa berada seminggu ditanganku bodoh. Sehari sebelum gadget tersayangmu ada ditanganku aku sudah memperingatkannya. Makanya, jangan kelewat batas. Dasar jidat lebar."

"Baka! Kau juga punya jidat yang sama bodoh!" semua mata yang berada disekitar sana kini menatap dua sejoli yang asyik bertengkar tersebut. Kecuali NaruHina yang sudah kabur entah kemana sejak pertengakaran tersebut baru dimulai.

"Jidatku tak sama denganmu. Kau ini memang siapa? Jidat lebar dengan rambut pink dan mata hijau batu giok. Kau tahu, dirimu itu terlalu norak. Suaramu membuat telingaku sakit. Aku kasihan pada mereka yang bilang bahwa kau calon dokter yang baik dan sangat berbakat."

"Urusai! Kenapa kau selalu begitu. Dasar Uchiha menyebalkan. Kau mau bilang aku monster silahkan! Aku akan menghajarmu habis-habisan disini. Sekarang ayo maju." Wajah Sakura kini sudah memerah karena emosi. Dia tak perduli lagi dengan kelakuan fans musuhnya yang mungkin nanti akan segera mencincangnya.

"Kau yang harusnya diam. Apa aku tidak bisa bebas dari bayang-bayangmu setiap hari? Terkadang sedang liburpun aku harus melihat atau mendengar suara jelekmu itu." Sasuke tetap tenang. Sebagian penonton pergi dari tempat kejadian. Mereka sudah bosan dengan petengkaran Uchiha dan Haruno yang masih begitu-gitu saja.

"Kau mau aku diam? Kalau gitu tunggu aku menjadi bisu dulu baru aku bisa diam. Kau tak mau melihatku, kalau begitu tunggu aku mati dulu baru kau bisa tenang." Sakura sekarang benar-benar marah, padahal dia sedang sakit. Dia bahkan lupa meminum obatnya.

"Berisik. Sebaiknya minum obatmu sebelum bel masuk berbunyi. Atau kau tega membiarkan aku kehilangan mainanku? Kalau kau tega sih tidak apa-apa. Tapi, pastinya kau memikirkan kebahagiaanku yang akan lebih tenang jika kau memang tak ada didunia ini."

"APA? KAU...INI.." Sakura kini berjalan mendekati Sasuke. "Cepat ke UKS. Kau harus periksakan fisikmu atau mungkin mentalmu juga. Kalau kau diam disini terus dan tak mau meminum obatmu. Maka aku akan membawamu dengan paksa ke UKS. Mungkin.. aku akan menyeretmu?" Sakura tetap berjalan dan tidak menghentikan langkahnya.

"Ke UKS sekarang atau aku akan menarik rambut norakmu!" ancam Sasuke. Sakura tak memperdulikan ancaman musuhnya itu. "Kalau kau tidak mau minum obatmu. Hpmu akan berada ditanganku selama setahun penuh." Sakura masih berjalan. Kini Sasuke siap dengan ancaman terakhir. "Kau ke UKS dan minum obat.. atau aku akan mengurungmu digudangku selama seminggu?" Sakura tetap menghiraukan dan tetap berjalan. Dia masih dipenuhi amarah.

Setelah dia berada didepan pemuda itu dia berhenti dan akan siap dengan serangannya yang selanjutnya. Tapi, tiba-tiba saja aura laki-laki itu menjadi sangat dingin, sepertinya dia sangat marah. "Kau!" Sakura tersentak mendengar panggilan Sasuke. Terbesit sedikit keraguan untuk membentak musuhnya itu sekali lagi.

Lalu tiba-tiba saja Sasuke mengangkat Sakura dan menaruhnya dipundaknya seperti karung beras. Penonton yang tersisa kini hanya sedikit. Tapi, merasa beruntung dapat melihat pertengkaran dua insan itu hari ini. "Bodoh! Ayam lepaskan aku! Turunkan bodoh!"

"Diam atau kau mau terkam? Kau sudah membuatku marah. Sudah kukatakan tadi. Dasar Payah!" Sakurapun terdiam. Dia hanya pasrah dibopong bagaikan karung beras oleh musuhnya tersebut. "Lagi-lagi aku kalah. Bawa aku yang benar bodoh. Pinggangku sakit. Turunkan aku.."

"Diam." Sakura hanya menghembuskan napas malas. "Kau bersikap tak baik dengan orang sakit. Akan ku adukan kau dengan kepala sekolah"

"Haah... Lain kali jika aku bertemu denganmu suatu hari nanti, aku tidak akan membiarkanmu kabur. Kau tidak bisa lari dariku. Kau ingat itu jidat lebar!"

Sasukepun menyambung kalimatnya dengan kalimat tersebut. Itu membuat gadis yang dibopongnya tersentak. Pasalnya, dua tahun yang lalu cowok itu juga berkata hal yang sama padanya. Tepatnya ketika dia berada dibangku SMP kelas dua dan berusia 14 tahun.

Flashback off...

TBC

A/N :

Hola (baca : halo) minna... hehehe... kepanjangan yah? maaf ya kalau makin gaje (pada dasarnya authornya juga gaje). Kemaren itu (chap 1) prolog.
Terima kasih yang sudah membaca fic punyaku ini. Yukei masih bingung mau panjang atau pendek ini fic. Pliss... review yah.. buat penyemangat Yukei.

Yukei yang sebagai newbie ini masih mempertimbangkan fic ini mau diterus atau ngga. Jadi kalau banyak yang review insyaallah pasti Yukei bakalan kilat updatenya. Kalau banyak yang review mungkin 3 hari Yukei udah update chap selanjutnya. Berhubung tangan Yukei lagi gatel mau update 'Complicated Love chap 2' jadinya ya sekarang Yukei Update. Satu lagi, kalian mau fic ini panjang atau pendek? (10 chap atau lebih?)

Salam hangat Yukei (YukiSakura Kensei29).