°Complicated Love°

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Alternatif Universe, Typo, etc.

Sorry kalo gak jelas.

Author : YukiSakura Kensei29

.

.

.

Enjoy & Happy Reading...

°Complicated Love°

.

Sudah dua minggu gadis dengan rambut berwarna merah muda seperti warna bunga kebanggaan negaranya itu lepas dari rasa gelisah. Rasa gelisah yang diakibatkan mantan teman sekolahnya atau mungkin mantan musuhnya. Dia menganggap kejadian dua hari berturut-turut yang lawas itu adalah mimpi sungguhan. Karena setelah pertemuan terakhir mereka cowok Keturunan Uchiha itu tidak kelihatan sedikitpun entah batang hidungnya atau seluruh tubuh dihadapan dirinya.

Ditambah setelah mengetahui nilai ujiannya barusan yang bagus. Lengkap sudah. Satu lagi, sang gebetan Gaara-senpai juga mengajaknya hari ini jalan berdua. Serasa melayang dialam mimpi dan tidak mau bangun meski sedetik saja. Mungkin tidak ada salahnya bercerita pada sahabat sendiri tentang kebahagiaannya sekarang. Berhubung dihadapannya ada Ino dan juga mereka berdua sedang ada dikantin kampus.

"Forehead, kau ini... lagi kesambet yah?" Sakura membalas tersenyum. Sedangkan Ino mengernyitkan dahinya tanda dia semakin bingung. "Aku tidak mau makan makanan yang kau traktir jika kau tidak menjawabku. Sebenarnya sekarang ini kau kenapa?"

Sakura semakin senyam-senyum lebar. Beruntung kondisi kantin kampus saat ini tidak terlalu ramai. "Aduh.. pig, masa kau tidak tahu. Aku ini sedang dapat triple poin kebahagiaan tahu." Ino menautkan alisnya dan bersiap menjawab, "Iih, lebay banget. Kau ini sepertinya memang sedang kerasukan. Mungkin aku bisa bantu membawamu kedukun?"

Sakura melotot dan langsung memukul lengan Ino. "Ahahaha.. habisnya kau ini dari tadi bersikap aneh. Senyam-senyum sendiri. Ditanya malah melamun. Didiemin semakin menjadi. Kau tahu? Mentalku tidak terlalu kuat untuk menghadapi orang yang kerasukan."

"Kau kira aku ini kerasukan betulan kenapa? Jangan bodoh, pikiranku ini tidak pernah kosong. Kan sudah kubilang, aku dari bangun tadi merasa sangat senang. Kau tahukan tentang roh Sasuke yang menggentayangiku setelah pesta pertunanganmu selama dua hari? Dia tidak muncul lagi dan aku merasa lega. Kau juga tahu kan nilai ujianku kali ini lebih bagus dari yang kemarin. Dan yang satu lagi untuk apa kuberi tahu padamu, informasinya saja aku dapat darimu."

Sakura berkata panjang lebar. Sementara Ino hanya ber'oh'-ria dengan malas lalu menyeruput jus jeruknya. Sakura terus berbicara. Sampai akhirnya dia berdiri dari kursinya sekedar ingin mentraktir Ino karena rasa bahagianya yang berlebih. Tapi Ino tiba-tiba menyuruhnya sebelum Sakura berbalik untuk memesanakn pesanan Ino. Karena 30 meter dekat mereka berada ada Sasuke, Gaara, dan pacarnya lewat. Dan sebenarnya, keberadaan Uchiha bungsu itu bukan hanya rohnya saja. Tapi, raganya juga.

Meski Gaara dan Sasuke tidak begitu saling mengenal. Tapi kan Sakura kenal mereka. Kalau dia berbalik dan disuguhkan hidangan semanis itu bukannya tambah bahagia nanti malah jadi sakit gegana.

Ino merasa tidak enak hati dengan sahabat pinknya itu. Ditambah rasa senangnya yang sedang tumpah-tumpahnya sekarang. Tapi dia bingung pada sahabatnya, padahal sudah satu minggu Sasuke kuliah dikampus yang sama dengannya tapi Sakura tidak tahu.

Lalu kakak kelas yang digebet sahabatnya itu, sudah 6 bulan dia dan pacarnya menjadi sepasang kekasih paling terkenal dikampus, tapi sahabatnya tetap tidak tahu. Ino ingin sekali memberitahunya dan belum pernah kesampaian sampai sekarang. Habis setiap bertemu dengan Sakura pasti gadis itu sedang dalam mode emosional yang berlebihan. Cuek tingkat akhir, rasa senang yang mirip kerasukan seperti sekarang, galau level akut bin kronis, dll.

Dia benar-benar merasa bersalah dan merasa kasihan atas kejadian yang menimpa Sakura. Rasanya ingin langsung membocorkan tanpa memikirkan perasaannya, tapi Sakura cukup sensitif. Terlebih lagi dirinya adalah sahabat gadis itu. Jadi, mau tidak mau sampai sekarang dia tidak mengetahui bahwa sang gebetan sudah punya pacar dan sang rival telah hadir kembali.

"Ah, sudahlah. Aku hampir telat menemui Gaara–senpai. Kau juga dari tadi belum bertemu dengan Sai bukan? Kalau begitu, cukup sampai disini aku mentraktirmu. Karena kau menolak tawaranku yang barusan dan belum tentu esok aku sebahagia sekarang. Jadi, sampai jumpa!" Sakura berdiri dan langsung ingin berlari ketempat janjiannya dengan cowok idamannya tapi Ino menahannya dan mengatakan sesuatu.

"Hey, mana bisa begitu. Tadi kau memaksaku memesan semua makanan dan minuman disini. Dan sekarang kau malah bilang bahwa cukup sampai disini. Tch, kau gila yah? Baiklah,.. tapi terserah padamu. Tapi kalau ada hal yang membuatmu tidak nyaman atau sejenisnya kau tidak boleh melakukan hal bodoh. Janji yah!" Ino menunjukan kelingkingnya.

Sakura membalasnya dengan menautkan kelingking kanannya. Tanpa dipikir dengan lebih serius lagi, gadis yang lahir dimusim semi itu langsung pergi melesat tanpa jejak. Meninggalkan sahabatnya yang sedang berdoa mati-matian agar semua berjalan lancar.

`_ComLove_`

"Kak Gaara, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan. Aku sangat senang." Hari menjelang sore. Sekarang Sakura sedang berlajan dengan sang gebetan. Dia sekarang sedang bersusah payah menyembunyikan rona merah dipipinya walaupun masih kelihatan. Dia juga berdoa sambil harap-harap cemas agar suara detak jantungnya yang sedang berpacu tidak terdengar pemuda kece disampingnya.

"Tidak masalah. Aku juga senang. Tapi, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Sakura-chan janji tidak akan marah. Janji tidak akan memutuskan hubungan pertemanan kita?" Sakura mengangguk mantap. Gaarapun menarik napasnya dalam yang diselingi harapan agar hati gadis ini diberi kekuatan.

Gaara berhenti ditaman dekat kampus mereka setelah berkeliling Konoha. Dia menghadap kearah Sakura dan menatap cemas gadis itu. Tidak dipungkiri lagi, satu kampus tahu kalau Sakura bisa lebih emosional dalam hal-hal tertentu. Dan yang lebih ditakutkannya sekarang bukanlah tentang kekuatan pengahancur Sakura, tapi perasaan gadis itu nantinya.

"Baiklah.. Hufft... Sakura-chan, kau ini seperti adikku sendiri. Terlebih karena warna rambut kita sama. Yah, aku tau kalau rambut kita tidak benar-benar sama. Tapi, percayalah Sakura-chan. Aku selalu ada untukmu. Kau juga adalah orang yang penting dihidupku." Tanpa sepengetahuan Gaara, kini Sakura merasa bahwa jiwanya ingin segera terbang kelangit sekarang.

"Jangan berpikiran buruk. Aku tahu tentangmu lebih banyak lewat kakakku dan juga sahabat-sahabatmu. Aku tahu kau menyukaiku. Tapi maaf sebelumnya, aku sudah memilih pasanganku. Aku memilihnya dan dia juga sudah memilihku. Kumohon, jangan marah padaku Sakura-chan." Sakura kaget seketika. Gadis itu sebisa mungkin membuat ekspresi wajahnya menjadi sangat datar. Didalam hatinya langsung terjadi badai tropis yang membuatnya bagaikan tersamar petir.

"Lalu, kenapa kau mau memberitahu ini padaku?" Gaara memegang pundak adik kelas kesayangannya tersebut. "Itu karena aku akan segera kembali ke Suna sesuai permintaan ayahku. Aku iri pada kakakku yang masih bebas dapat berbicara dan tertawa bersamamu. Ayahku juga sudah menetapkan tanggal pertunanganku dengan Matsuri. Dan lagi aku tidak mau membuatmu berharap lebih serta membuat hatimu lebih sakit jika aku mengatakannya nanti. Kita akan tetap jadi adik dan kakak, dan juga sepasang sahabat."

Sakura mengangguk lemah. Badai dalam hatinya semakin menjadi ketika Gaara mengucapkan kata pertunangan. Selanjutnya, apakah yang akan dirinya dengar nanti? Apakah undangan pernikahan? Mungkinkah itu sebabnya tadi Ino menyuruhnya berjanji agar tidak bersedih?

Sakura benar-benar menganggap dirinya bodoh. Dia tidak tahu nasihat terselubung yang sahabat-sahabatnya sampaikan setiap hari. Lagi apa sebuta itukah dirinya sehingga tidak dapat berpikir kalau pemuda dihadapannya ini tidak pernah memiliki kekasih dan akan memilihnya? Sekali lagi, Sakura benar-benar merasa bodoh sekarang.

"Kakak, aku sungguh berterima kasih. Dan tolong sampaikan permintaan maafku pada Matsuri–senpai. Dia sungguh baik hati mau meminjamkanmu padaku dalam waktu yang lama. Selama kau bahagia itu tidak masalah buatku. Aku tahu sifat pacarmu itu. Kau beruntung mendapatkannya dan dia beruntung mendapatkanmu. Tenang saja, selama kau tidak menyakitinya kita akan tetap menjadi sepasang sahabat dan kakak-beradik." Sakura berusaha tegar, dia mengucapkan kata-kata itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri. Walau memang ada sedikit kebenaran didalamnya.

Sungguh Gaara senang luar biasa. Meski dia merasa tidak enak mengatakan semua ini pada Sakura. Dia juga bersyukur amarah Sakura tidak ikut andil dalam situasi sekarang ini. Mengingat dirinya akan kembali ke Suna dan tidak tahu kapan akan kembali ke Konoha, Gaara merasa perasaannya tercampur dan diaduk menjadi satu. Sedih, senang, tidak rela, semuanya sedang menjadi satu.

"Sekarang sudah petang. Matahari juga sudah mau tenggelam. Kau harus pulang. Ayo kita pulang, kau ku antar." ajak Gaara. Sakura langsung menoleh kearah Gaara. Dia hampir masuk dalam lamunan sepenuhnya. "Ah, tidak usah. Aku masih ingin disini. Kau pulang saja duluan. Tenang saja, aku akan pulang kerumah kok."

Gaara tersenyum. Dia bangga pada gadis berambut unik tersebut. "Kau memang gadis yang tegar. Sungguh orang yang berhasil menaklukan hatimu nanti dia adalah orang yang luar biasa." Sakura tertawa memaksa. "Hahaha.. kau bisa saja, bukankah kau yang menaklukan hatiku?"

Senyuman Gaara tidak memudar dia malah menunjukan deretan gigi putihnya yang barbaris rapi. "Maksudku, orang yang mendapatkanmu nanti dia adalah orang yang hebat. Sama sepertimu, dia adalah orang yang hebat. Dia bisa mengatasi kesedihanmu yang disebabkan karena aku. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Dan juga kau sebelumnya juga pernah merasakan sakit hati pastinya bukan? Aku adalah teman yang payah karena tidak pernah menanyakan perasaanmu. Maafkan aku, dan terima kasih untuk semua."

"Hehe.. kau ini jadi jago bicara. Pasti latihan bahasa dulu sama kekasihmu. Kan dia anak sastra. Sudahlah, sana pergi. Jangan lupakan janji makan malammu dengan kakakmu. Bisa-bisa Temari bakalan ngomel sehari semalam." Sekali lagi Sakura memaksakan dirinya untuk seseceria mungkin dihadapan Gaara.

Dia tidak ingin Gaara melihat dia menangis. Sampai saat ini dengan mengenyampingkan orang tua dan keluarganya hanya satu atau dua orang yang tahu bahwa Sakura Haruno pernah atau bisa menangis. Untuk Gaara, dia tidak tahu bahwa Sakura bisa atau pernah mengeluarkan tetesan demi tetesan bening nan suci dari kedua indra pengelihatan miliknya.

"Baiklah. Aku pergi. Jangan melakukan hal bodoh Sakura-chan. Sampai jumpa. Oh ya, lusa akan ku traktir kau esrim dikedai depan Konoha Plaza sebagai perayaan nilaimu yang bertambah bagus." Gaara melambaikan tangannya dan Sakura membalas.

Gaarapun pergi kemobilnya lalu menancapkan gas dan pulang kerumah milik kakaknya. 'Heh? Aku ini cowok yang bodoh. Sungguh, maafkan aku Sakura-chan. Kuharap kau tidak melakukan hal yang merugikan dirimu atau orang lain. Aku menyayangimu..'

Sepertinya suasana petang ini sangat mendukung. Taman yang sepi bagaikan terisolir. Awan yang mulai gelap, dan semilir angin dingin malam yang mulai membuat badan mengigil.

"Oh, bagus sekali! Benar-benar bagus hari ini. Sekarang apalagi? Setelah semua ini apakah hujan yang deras akan turun kebumi? Kamisama... aku tidak mengerti..." ucap Sakura lemah. Dia jatuh terduduk dibawah pohon yang rindang daunnya. Kedua lututnya ditekuk. Dan dirinya menenggelamkan wajah cantik nan sendu itu di kedua lututnya. Menangis diam-diam. Sebisa mungkin tanpa didengar orang.

`_ComLove_`

Seorang pemuda berjalan menyusuri rumput hijau bersih ditaman dekat universitasnya. Dia berjalan dengan santai dan tak perduli dengan langit yang sudah gelap karena mendung yang juga menutupi sebagian dari keindahan sang surya disore hari.

Sesekali dia bersenandung mengikuti irama dari gadget miliknya yang ia dengarkan dari earphone ditelinga. Sedikit terpaan sinar mentari sore membuat garis tegas wajahnya semakin terlihat dan menambah poin ketampanan yang ia miliki. Siapapun gadis normal jika melihatnya sekarang pasti akan berteriak lalu jatuh berlutut dihadapannya.

Sayangnya, taman yang ia datangi adalah taman yang membawa hal buruk jika ada yang mendatanginya sesuai gosip dikampus yang beredar. Sehingga sangat sepi karena dijauhi oleh penghuni kampus dan warga sekitar. Tapi, apakah gosip mainstream seperti itu memiliki pengaruh terhadapnya? Sepertinya tidak, pemuda itu tidak percaya tahayul dan tidak suka mengkhayal sedikitpun.

Perlahan dia terus berjalan mencari tempat yang tepat untuk beristirahat setelah berdebat dengan sahabat karibnya beberapa menit yang lalu. Tapi, dia merasa ada yang aneh. Bukan kerena gosip standar itu, ataupun suasana sepi dengan awan mendung yang mencerminkan akan segera terjadi hujan itu.

Dia merasa ada yang menangis didekat dirinya berpijak. Dari suaranya yang cukup lembut dan sedikit tinggi pemuda berbintang leo itu mengira bahwa ada seorang gadis menangis ditaman ini. Diapun melepas earphone miliknya dan mencoba fokus mendengarkan suara itu. Berharap bahwa dirinya tidak akan terpengaruh omongan teman-teman kampusnya.

Pemuda itu berjalan kesumber suara. Benar dugaannya bahwa ada seorang gadis yang sedang menangis ditaman ini. Tapi, entah mengapa suara tangisan itu seperti pernah didengar olehnya.

Dan ditemukan lokasinya. 10 meter didepannya ada pohon besar yang cukup rindang. Pasti gadis itu ada disana. Entah mengapa sang pemuda menghampiri pohon tersebut sekedar mencari tahu siapa yang mengganggu ketenangannya sore ini.

Perlahan tapi pasti. Sedikit-sedikit dia mengetahui gadis yang berhasil menarik perhatiannya. Ternyata itu adalah putri pemilik perusahaan Haruno yang memiliki rambut unik. Gadis itu juga merupakan incaran kesenangannya dulu. Bukan hanya kesenangan tapi juga kesengsaraan. "Pinky? Kau sedang apa disini?"

Gadis itu menoleh. Dia adalah Haruno Sakura. Dengan sedikit tersengal dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang pemuda. "Ha-ah? A-apa kau Sasuke?" pemuda yang disebut Sasuke itupun mengangguk. Sedetik kemudian dia menarik napasnya lalu dihembuskan dengan kasar.

"Kau menangis? Hehe, sepertinya kau ingkar janji... Kenapa kau menangis?" Sakura terdiam. Lalu dia bersandar kepohon besar dibelakangnya sambil berkata, "Kamisama,... hiks.. kenapa ada cowok model pantat ayam disini...? hiks, sedih sekali aku hari ini."

Terkesan sedikit lebay nada bicaranya. Tapi, itu kenyataan. Sakura memang tidak begitu menyukai Sasuke, begitupun sebaliknya. Sakura yang ceria bisa jadi dingin dan emosional berlebihannya bisa meningkat dengan drastis ketika bertemu keturunan Uchiha tersebut. Sedangkan Uchiha Sasuke yang pendiam dang dingin bisa langsung jadi cerewet dan jahil jika berhadapan dengan putri keluarga Haruno tersebut.

"Tch, sudah ditanya malah menghina lagi. Orang tuh kala ditanya yah dijawab bukannya malah dijelek-jelekkan. Sudahlah aku pergi saja..."

Sasuke segera berbalik arah. Namun, Sakura tiba-tiba menahan tangannya. Kondisinya kali ini sedang tidak ingin berdebat. Dia sekarang benar-benar butuh seseorang untuk menjadi sandaran ia menagis. Penantiannya yang cukup lama untuk sang senior kini gagal. Dia benar-benar butuh seseorang, dia ingin bercerita pada Ino dan Hinata tapi dia tidak ingin melihat kedua sahabatnya ikut bersedih.

Dan satu-satunya yang bisa dia jadikan tempat sandaran sekarang adalah Uchiha Sasuke. Yah, walau Sakura tidak menyukainya tapi Sasuke adalah salah satu orang atau mungkin satu-satunya orang yang tahu bahwa Sakura suka meneteskan air suci dari matanya. "Bolehkah aku meminjam dirimu sebagai sandaran?"

Sasuke mengehela napas. Seketika dia teringat hari perpisahan ketika mereka Sma. Dia teringat saat-saat dimana Sakura menangis dihadapannya. Sedewasa apapun Sakura sifat manja gadis itu akan keluar ketika dia menangis sendirian. Lalu orang yang ada disekitarnya harus menuruti keinginannya.

Jika tidak dituruti, gadis itu akan melakukan hal yang buruk mengingat kondisi emosinya yang masih seperti remaja. Tapi, sepertinya hal itu tidak banyak terjadi sekarang ini. Karena hal itu para dosen dan anak-anak kampus lainya mempertanyakan kejeniusan Sakura.

Saat gadis itu merasa lemah nilainya akan turun sangat jauh. Dan sampai sekarang para dosen hanya berpesan agar Sakura bisa mengontrol emosi miliknya. Kalau tidak nanti bisa sangat berbahaya. Mengingat energi kehormatannya dan juga nilainya yang akan jelek nanti.

"Haah... baiklah, tapi jangan menangis dengan kencang. Awas saja kau mengganggu telingaku. Beruntung tempat ini sepi, kalau tidak kau yang bertanggung jawab atas kondisi mental orang-orang lemah yang berkeliaran disekitar sini." Sakura mengangguk. Sasukepun memasang earphone ditelinganya tapi tidak memutar lagu satupun lalu duduk dihadapan gadis itu. Dia mengalihkan pandangan kearah lain ketika Sakura dengan cepat langsung memeluknya.

Tidak perduli sudah berapa lama mereka tidak bertemu, atau sudah berapa kali mereka bertemu akhir-akhir ini. Sasuke dan Sakura terkadang seperti robot ataupun sebuah patung. Mereka tidak memiliki rasa canggung sebab sudah terlatih ketika saling beradu argumen beberapa tahun lalu. Wajah mereka yang sering berdekatan dengan mata melotot melatih rasa canggung mereka.

Sasukepun melepaskan earphone dari telinganya. "Aduh, sudah kubilang jangan menganggu telingaku. Bisakan tidak pakai suara? Lagian, kau ini kenapa? Matamu mirip seperti panda. Apa kau sudah berkali-kali mengingkari janjimu dan menjadi cengeng, hah?"

"Ayam bodoh! Hiks.. kenapa kau bicara soal panda...hiks.. kau kira aku suka mengikari janji? Aku ini tipe orang yang menghormati tahu.. hiks.. aku menghormati janjiku karena aku masih sayang nyawa... kau kira aku mau mati ditanganmu? Hiks... jangan bicara tentang panda atau sejenisnya..aaa Gaara.." Sasuke mulai mengerti sekarang. Berdasarakan info tidak berguna dari Naruto sobat karibnya dan juga kondisi gadis ini sekarang, maka dapat disimpulkan. Bahwa Haruno muda ini sedang patah hati.

"Hehe.. dasar payah! Hanya soal lelaki saja sampai begini? Apakah iya ini Haruno yang menghancurkan batu besar dibelakang sekolah dulu? Dan juga aku tidak mengerti, mengapa kau tidak mengetahui hubungan mereka? Hanya karena dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu apakah itu berarti dia akan memilihmu? Apa kau tidak berpikir bahwa dia memang tidak memiliki kekasih atau tidak? Cobalah kau move on.."

Sasuke berkata dengan datar. Dia hanya mengeluarkan apa yang dia pikirkan. Sangat panjang kata-kata yang keluar. Biasanya hanya ada dua huruf yang dia ucapkan. Kini lebih dari 2 kalimat keluar dari mulutnya. "Kau ini berisik sekali..hiks.. haa... kau tidak tahu apa yang kurasakan. Kau inikan robot berjalan...hiks... kenapa bawel?" Sasuke mendelik tajam. "Jangan pergi..hiks... tetap disini.."

Sakura memohon dan Sasuke menurutinya. Walau hampir sebulan tidak bertemu lagi tapi itu bukanlah halangan bahwa Sasuke dan Sakura akan irit berbicara atau mengjelek-jelekan satu sama lain.

Sasukepun tak habis pikir. Dalam sejarah emosi Sakura, jika gadis itu menangis berarti dia sedang merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan ataupun kesedihan yang membuat hatinya tersayat perih.

Sewaktu Sma dihari perpisahan mereka Sasuke menawarkan perjanjian pada Sakura. Bahwa gadis itu tidak akan pernah menangis lagi sebagai penghormatan bahwa mereka telah menjadi rival yang cukup lama. Bagaimanapun kondisinya, Sakura dan Sasuke merasa bahwa perasaan perih yang dialami Sakura hanya Sasuke yang mengetahui betapa sakitnya.

Sepanjang perjalanan mereka Senior High School, para guru dan siswa-siswi ditempat mereka bersekolah hanya bisa melihat pertengkaran mereka. Bukannya tidak berani, tetapi malas karena jika mereka bertengkar maka mereka tidak akan diam. Dan ditambah pertengkaran mereka cukup seru untuk menghilangkan stress membandel. Satu sekolahpun sudah tidak niat bertanya untuk yang kesekian kalinya kenapa sikap mereka berubah drastis saat bertemu.

"Sasuke.. ke-kenapa kau ada disini? Hiks.." tangisan Sakura mulai mereda. Sasuke merasa lega bisa menghirup napas dalam karena tadi Sakura hampir mencekiknya.

"Benar-benar payah. Aku sudah seminggu satu kampus denganmu. Dengan ini sepertinya aku semakin kasihan padamu. Apakah selama ini hidupmu sungguh menyedihkan, heh?" Sakura memukul pelan punggung pemuda yang ia peluk itu saat dia berbicara dengan nada yang meremehkan.

"Kau kira hidupmu selama ini bagus kenapa? Sudahlah, menangis sambil memelukmu tidak ada gunanya. Aku mau pulang saja. Hiks.. dari pada nanti aku kehujanan dan sakit. Itu malah akan membuat semua semakin bururk nantinya." Sakura mau melepaskan pelukannya tapi Sasuke menahan dirinya. Sakurapun terkejut. Dia sedikit berontak. "Apa yang kau lakukan?!"

"Tunggu sebentar. Apa ini yang waktu itu? Kenapa tidak hilang?" tanya Sasuke yang sedang melihat keleher kanan Sakura. Disana terdapat luka yang mirip gigitan vampir.

Sasuke tahu, itu adalah luka yang dia berikan pada gadis itu. "Apanya yang apa? Apa yang tidak hilang? Bicara yang jelas!" Sakura mulai emosi. Api pertikaian mulai muncul ditengah suasana malam sepi yang mulai datang.

Sasuke mengelus luka itu. Dan Sakura sedikit menggeliat. Diapun seketika mengetahui apa yang dimaksud sang rival. "Oh, tanda vampir yang kau buat itu. Hanya karena aku menangis kencang karena kau tidak mau menjawabku kau jadi melukaiku. Dihari perpisahan kau membuat tanda dan luka dileherku sekaligus. Sampai sekarang pertanyaan itu masih ada. Mengapa kau membullyku di smp dan berubah saat sma? Tapi, aku sudah tidak ingin mendengar jawabannya. Aku tidak percaya padamu. Aku ingin sekali menamparmu."

Sasukepun terdiam. Dia mengingat kejadian itu. "Sudahlah, lepas. Awas kalau kau berani melakukannya lagi. Beruntung waktu itu aku masih baik memperbolehkanmu menghisap darahku. Jika sekarang kau melakukannya untuk yang kedua, maka hidupmu tidak akan lama." Ancam Sakura.

Sasukepun melepaskan pelukannya dan Sakura segera berdiri. Matahari sudah tenggelam diufuk barat. Dia harus segera pulang, jika tidak pasti bisa tamat riwayatnya. Apalagi hari ini dia tidak pergi ke toko kakaknya.

Sakura mulai berjalan meninggalkan taman. Dan untuk yang kedua kali Sasuke menahannya. "Apa kau tidak menelpon kakakmu untuk menjemput?" Sakura menoleh dan menggeleng pelan. Dia menunggu reaksi pemuda minim ekspresi itu. "Ayo, kuantar kau pulang. Dengan matamu yang seperti itu bisakah kau dengan tenang pulang kerumah berjalan kaki atau naik angkutan umum?"

Sakura berpikir sejenak. Benar juga kata Sasuke kalau dipikirkan lebih teliti. Kalau menerima tawarannya juga tidak masalah. Di dalam dirinya tidak pernah ada gengsi atau canggung atas pemuda itu. "Mobilku masih kutaruh ditempat parkir kampus sampai sekarang. Lagipula, entah mengapa yang maha kuasa selalu menakdirkan kau menaiki mobilku setelah membanjiri bajuku."

Sakura menatap Sasuke sinis. Sasukepun berjalan cepat dan mendahului gadis yang beberapa menit terakhir bersamanya tersebut. Dengan kondisinya sekarang bisa-bisa anak dari sepasang Haruno yang terhormat menjadi bahan pembicaraan masyarakat Konoha jika dia tidak menerima tawaran Sasuke. "Tunggu! Aku terima tawaranmu."

Mereka berjalan kearah tempat parkir kampus. Angin sejuk dingin yang mengelus kulit Sakura membuat gadis itu menggigil kecil. Dan pemuda disampingnya menyadari hal itu. Dia memakaikan jaket kulit kesayangannya pada Sakura. Sakurapun tersenyum tulus dan dibalas dengan seyuman langka milik Uchiha. Sepertinya, mereka siap memulai ikatan pertemanan yang sesungguhnya.

TBC

A/N:

Aloha minna... ketemu lagi sama author aneh bin gaje di ff multichapnya yang pertama ini. Maaf kalo nunggu lama... yah itu juga kalo ada yang nungguin. Setidaknya Yukei liburnya gak lama-lama amat gak sampe 6-12bulan. Mungkin Yukei bakalan pinjem kata-katanya Sasori yang 'Aku benci menunggu dan ditunggu' pokoknya yang seperti itulah.

Yah, pokok'a kalo yang review sedikit ditambah kesibukan dari duta #sok. Yukei bisa seperti author lainnya hiatus berlama-lama. Tapi, sebisa mungkin Yukei gak hiatus lama2, orang Yukei baru buat akun kok. Untuk my onee-chan, 'Sakura Uchiha' yang bakalan ultah dikit lagi, Yukei insyaallah bakalan bikin ff humor atau parody. Entah lucu atau nggak Yukei pasrah saat dipublish nanti. Udahlah kepanjangan. Bye..

Btw, Yukei mksh sama reader-reader yang bikin Yukei semangat. Inget Review yaaaaa...

Salam hangat Yukei (YukiSakura Kensei29).