°Complicated Love°
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, Alternatif Universe, Typo, etc.
Sorry kalo gak jelas.
Author : YukiSakura Kensei29
.
.
.
Enjoy & Happy Reading...
°Complicated Love°
.
TING...
Suara dentingan gelas terdengar jelas. Turut meramaikan suasana ramai yang tercipta. Enam anak manusia yang berkumpul dengan ekspresi yang berbeda tapi tetap didominasi ekspresi ceria. Di kantin kampus mereka. Merayakan liburan musim panas yang akan segera tiba.
"Yuhuu... liburan juga." Seru Sakura. "Haha.. kau benar forehead. Libur juga." Sahut sahabatnya –Ino. "Akhirnya aku bisa mengunjungi pamanku yang ada di Italia." Tukas Temari. Sementara teman segender mereka yang berambut indigo hanya tersenyum, Hinata.
"Italia? Kau akan liburan disana Temari?" tanya antusias Naruto. "Yah, begitulah. Sampai liburan selesai. Lagipula ibuku pasti senang. Sekali-kali ngerepotin saudara jauh. Gaara dan Kankurou yang rese itu juga gak akan ikut. Beruntung karena mereka sibuk dengan pacarnya masing-masing." Naruto dan Ino tersenyum. Sai dan Hinata masuk fase kebingungan. Shikamaru menguap. Sedangkan Sakura langsung murung.
Oh ya, jangan lupakan sibungsu Uchiha. Dia sedang dalam mode stoic andalannya sambil memutar bola mata malas.
"Apa yang kalian rencanakan?" ujar Sasuke. "Ayolah teme, kau pasti sudah tahukan?" balas Naruto dengan seyum lima jarinya. "Yah, rencanamu belum tentu berhasil. Kalau Temari tidak mengijinkannya kau pasti belum tentu ada disana saat liburan nanti." Naruto langsung merunduk setelah mendengar kata-kata Shikamaru. Dia bergaya seperti seseorang yang sedang mencari ide.
Temari menyandarkan dirinya ke kursi. "Tenang saja. Aku akan bolehkan teman-temanku ikut. Jika aku menolakpun pasti kedua bocah pirang itu pasti akan memaksaku terus."
'Eh? Bukankah dia juga berambut pirang?' tanya Sai dalam hati.
"Asik! Kapan kau akan berangkat?" tanya Ino dengan mata berkilauan. "Aku akan berangkat lusa. Dan hentikan tatapanmu itu. Kau membuatku merasa jijik." Balas Temari. Sakurapun bangkit dari keterpurukan sementaranya. Dan mulai terseyum aneh seperti penjahat di film yang sedang merencanakan sesuatu. Sasuke melirik Sakura. Dia memandang Sakura dengan pandangan mengejek. 'Galau mulu sih. Jadi telat masuk ke otak. Ujung-ujungnya sama saja seperti dua orang itu. Dasar...'
"Hey, Temari. Kupastikan kau akan mengatakan liburan disana tidak gratiskan?" ucap Sakura. "Hehe... kau benar." Temari tersenyum. Dia tahu bahwa mantan fans adiknya itu mengerti maksudnya. "Sakura-chan.. apakah kita ha-harus pergi kesana dengan uang ki-kita?" tanya Hinata dengan kebiasaannya.
"Tentu saja. Mana mungkin Temari sebaik itu. Sebaik-baiknya dia, dia gak akan pernah bayarin tiket kita pulang pergi. Haha.. semua orang pasti juga banyak yang melakukannya. Mungkin dia hanya akan memberi kita sarapan, makan siang, dan makan malam. Kau tahu? Seperti di hotel. Padahal kitakan temannya sendiri." Temari tertawa puas. Naruto dan Ino menunjukan ekspresi aneh. Sedangkan kedua orang jenius yang duduk didepan mereka hanya terdiam tanpa sepatah kata. Kecuali dua konsonan melegenda 'H' dan 'N' dari Uchiha dan suara merdu 'Menguap' dari Shikamaru. Sisanya, hanya terdiam mendengarkan.
Masih dalam ekspresi yang aneh. Kedua insan berambut pirang itu berkata dengan nada yang datar. "Dasar Pelit..."
"Terserah kau mau sepelit apa. Aku akan ikut kau ke negara itu. Entah takdir atau memang kebetulan bibiku Tsunade sedang ada disana selama tiga bulan. Jadi kau tidak usah khawatir. Selain mau melihat hal-hal yang indah disana aku juga mau bebas dari kakakku yang nyebelinnya udah kelewatan." Hinata tersenyum. Lagi-lagi kedua muda-mudi berambut pirang itu menunjukkan bola matanya yang berkilauan kali ini kearah Sakura.
"Tidak! Kau ini mengapa tidak minta ayahmu saja baka! Kau juga pig pamanmu Fuu kan juga kerja disana. Kerja bersama kakeknya Sai lagi. Kalian kan bisa pergi berdua. Haha.. seperti orang bulan madu." Ucap asal Sakura.
Belum mengerti apa yang Sakura katakan, Saipun bertanya pada gadis itu dengan wajah yang polos. "Apa itu bulan madu?"
Ino sweatdrop. Pacarnya benar-benar keterlaluan. "Hah, sudahlah. Aku mau pulang. Aku harus mengecek pasokan bunga bulan ini." Sakura memutar bola matanya malas. "Ya..ya..ya.. Seterah kau sajalah. Sana pulang."
Gadis dengan permata aquamarine itu berdiri dan membetulkan tas selempangnya. Mengajak sang pacar –Sai- pulang dan dibalas dengan anggukan. "Jadi kau mengusirku? Oke, aku juga mau pulang. Jaa ne.." Ino melambaikan tangannya dan Sai tersenyum. Sedangkan Naruto dan Sakura menatap prihatin pada kondisi Sai. "Kurasa mereka lebih pantas disebut pesuruh dan majikannya dibandingkan dua orang yang sedang berpacaran."
"Kau benar Sakura-chan. Kurasa kita harus segera mengisi otak vampir itu dengan hal yang berguna sampai penuh." Sakura merinding. Dia melirik kecil kearah Sasuke. Entah mengapa setelah membahas kejadian lawas itu di musim gugur tahun kemarin dia menjadi sensitif dengan kata vampir dan hal-hal yang berbau dengannya. Sungguh, walau sudah lama sekali bukan tidak mungkin pemuda bodoh yang sebenarnya jenius itu melakukannya lagi. Dan yang dilirik gadis berambut merah muda itu hanya tersenyum jahil. Tidak jelas.. iih..
"Sudah aku mau pulang dan menghubungi bibiku. Selamat ya.. Shikamaru. Kau mendapatkan hadiah utama. Berlibur ke Italia selama sebulan penuh bersama kekasihmu." Sakura mengambil ranselnya yang ia sampirkan dikursi lalu berdiri meninggalkan teman-temannya.
"Ya, terima kasih. Lain kali aku harus lebih banyak mengirim undian berhadiah." Shikamaru berdiri lalu pergi kearah yang lain lalu disusul Temari yang langsung menempel pada sijenius itu. "Kita ditinggalkan Hinata-hime."
"Lagipula bukankah tou-san memanggilmu untuk datang?" Naruto kaget. Mukanya tiba-tiba banjir keringat. Yah, mengingat tingkat kegalakan calon mertuanya itu. "A-ah, ka-kau benar. Ayo kita kerumahmu. Dari pada aku mati sekarang?"
"Apa maksudmu Naruto-kun?" tanya heran sang pacar. "Ah tidak. Sudahlah ayo cepat!". Narutopun langsung menarik tangan Hinata. Dia meninggalkan sahabat karibnya sendiri. Lalu melambaikan tangan pada Sasuke dengan wajah yang ketakutan. Dengan begitu saja Sasuke bisa membayangkan betapa tegasnya ayah Hinata. Heh, bukankah tegasnya Hiashi sama dengan tegasnya Fugaku ayah Sasuke?
.
.
[Seminggu kemudian]
Sakura kini sudah berada di Italia. Dia gagal berangkat bareng dengan seniornya Temari. Seharusnya wajahnya ceria karena dirinya sudah bebas dari kesibukan menjaga toko boneka milik kakaknya. Tapi lagi-lagi, lagi-lagi. Sasuke kini sedang bersamanya.
Bagaimana bisa terjadi? Tiga hari setelah dirinya sampai di Italia dan membuka pintu apartemennya di pagihari, dia bertemu dengan sosok menyebalkan itu dan membuat semangat berliburnya mencair dengan sangat cepat. Semangatnya langsung menurun 360 derajat. Mungkin bisa dikurangi 10 derajat. Tapi, tetap saja sebagian besar semangatnya untuk berlibur luntur. Dan sekarang takdir sedang mempermainkan dirinya. Dia harus terus mengekori pemuda itu sampai dirinya kembali ke Jepang nanti karena dia tidak tahu terlalu banyak tentang negara yang identik dengan pizza itu. Lalu kemana Tsunade? Tentu saja dia pergi dan asik dengan urusannya sendiri.
"Jangan lihat para pria disini terus." Sakura mendelik. "Memangnya kenapa? Masalah?" Sasuke menghela nafas.
"Sangat masalah. Pertama, kau menyita waktuku yang berharga. Kedua, tatapanmu itu sangat mengganggu dan aku yakin mereka juga punya pendapat yang sama. Ketiga, aku juga mau pergi ketempat yang aku suka." Sakura mengendus sebal. Mau tidak mau dia harus nurut Sasuke. Selama ini dia hanya mengikuti kemana Sasuke pergi. Yah.. walaupun pemuda itu selalu mengajaknya ketempat yang luar biasa.
Sasukepun berjalan mendahului Sakura. Gadis itu mengejarnya dengan mulut yang terus-menerus menggerutu. Sasuke melirik Sakura. "Apakah kau menyukaiku, Haruno?".
Dengan wajah yang kesal Sakura menjawab pertanyaan itu. Padahal Sasuke hanya iseng. "Tidak! Untuk sekarang tidak. Pokoknya tidak!" hidung Sakura kembang kempis. "Berarti ada kemungkinan kau menyukaiku bukan?" gumam Sasuke. Jujur, sebenarnya Sasuke sekarang sedang iseng.
"Apa? Apa katamu tadi?" tanya Sakura dengan nada suara yang siap berkelahi. "Apanya yang apa?" jawab Sasuke santai. "Aku tanya, apa yang kau bilang tadi."
Gadis itu kini menghembuskan napasnya dengan kasar. "Memangnya apa yang kubilang tadi?" Sakura semakin kesal. Namun, ia menahan kekesalannya dan berjalan mendahului sibungsu Uchiha. "Sudahlah, hanya orang bodoh yang mau berbicara denganmu." Sasuke terkekeh kecil. "Berarti kau bodoh!" wajah Haruno muda itu semakin merah. Menandakan kekesalannya sudah mencapai tingkat akhir. Dia mendelik tajam dengan kilatan cahaya dimatanya sambil berkata, "Siapa yang kau bilang bodoh?!"
"Bukankah kau yang bilang sendiri tadi? Hanya orang bodoh yang mau berbicara denganku. Karena kau selalu menanggapiku berarti kau bodoh." Sakura membuang mukanya. Sasuke mengangkat bahu. Wanita yang identik dengan musim semi itu kini merajuk pada Sasuke. Dan semenit kemudian dirinya tersadar. Kalau dia terus berjalan mendahului pria itu, kemungkinan besar dirinya akan tersesat. Karena bisa saja Sasuke sudah pergi ketempat lain tanpa sepengetahuannya.
"Tenang saja. Aku tetap dibelakangmu. Jidatmu besar begitu masa bakalan cepat tersesat." Sakura berhenti. Dia mempersilahkan Sasuke berjalan didepannya. Dari pada dia hilang dinegeri orang. Nggak banget dong. Bisa saja cowok itu bohong kan?
Sakura berbalik arah saat Sasuke melewatinya. Sayup-sayup dia mendengar pemuda itu berguman sesuatu.
"Kau ini orang yang pintar. Tapi payah." Sakura bersidekap. Masih bertindak tak perduli tapi dalam hatinya dia perduli. Perduli akan dirinya yang akan sampai kerumah dengan selamat jika dia selalu mengikuti orang menjengkelkan itu.
"Bisakah kau berjalan disampingku? Jika kau terus dibelakang, kau akan terlihat seperti pesuruhku. Jika sebaliknya berarti aku yang akan terlihat seperti pesuruh." Tanpa sepatah kata Sakura berjalan menyamai Sasuke. Karena dari tadi dirinya selalu berjalan dibelakang pemuda itu. Dan Sasukepun terseyum. Sedetik kemudian senyumannya hilang lalu diganti dengan kekecewaan. Karena Sakura melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan pastinya Sasuke yang akan membayar itu. Selalu dimanfaatkan. Mungkin pembalasan dendam kesumat Sakura karena perbuatan Sasuke beberapa tahun yang lalu.
"Oh.. jangan lagi..." keluh sang Uchiha.
"Ayolah. Pastinya itu tidak akan mahal. Nanti akan kubelikan banyak sekali tomat yah?" rayu Sakura. "Kau kira asupanku hanya itu saja?" mata Sakura berbinar-binar. Sasuke menyerah. Sakura kegirangan dan masuk kedalam toko yang memajang barang yang menarik perhatian gadis itu.
"Bayaranmu tidak sepadan. Dasar bodoh!" Sasukepun mengikuti Sakura yang sangat bersemangat dengan malas. Dia menatap sekelilingnya untuk mencoba mencari hal yang lain. Pasalnya, gadis itu akan memilih berjam-jam dan akan membuat Sasuke bosan. Seperti kejadian tiga hari yang lalu. Dasar Sakura... Hebat sekali dia bisa menaklukan sang Uchiha. Apa Sakura melakukan sesuatu pada Sasuke? Entahlah.. tidak tahu.
.
.
.
[Dua jam kemudian...]
"Hey... yang ini bagusnya merah atau hijau? Padahal cuma dua warna tapi bingung mau pilih yang mana.." tanya antusias Sakura. "Terserahmu, bukankah kau selalu membeli bandana berwarna merah? Lalu kenapa bertanya padaku." Sasuke yang dibuat bosan setengah jiwapun hanya bisa duduk ditempat yang disediakan sambil memainkan ponselnya. Perutnya sudah demo besar-besaran sedari tadi. Sejujurnya, sekarang juga sudah lewat dari jam makan siang. Mau bagaimana lagi, nona Haruno dihadapannya itu masih memilih barang yang jelas-jelas dia sudah punya banyak dirumah.
"Hah, Sasuke. Disini lengkap yah? Semua ada. Apalagi yah? Bandana sudah, dress sudah, high heels sudah, gelangpun juga sudah. Apalagi yah..buat menghadiri pesta Sasori saja ini belum cukup."
Sasuke yang mendengar Sakura yang mengabsen belanjaannya itu menoleh seketika. Masalahnya disini, Sakura membeli 5 bandana, 2 drees, 2 high heels, dan 3 gelang yang harganya bisa dikatakan diatas rata-rata. Mana minta dibayarin. Dan sekarang mau cari yang lain? Pulang dari Italia pasti sang dompet kulit kesayangan langsung kosong melompong. Belum lagi jika gadis itu meminta hal-hal yang lain nanti. Mengusir pendemo di dalam perut saja belum selesai urusannya apalagi menuruti keinginan gadis itu yang lain.
Dan ingat tidak perkataan wanita itu diawal tadi? Katanya tidak akan mahal kan?
"Tch, kau tahu aku hari ini meninggalkan dompetku diapartemen bukan? Dan kuncinya dibawa bibiku. Tolong yah..." Sakura menundukan kepalanya. Dia seperti anak kecil yang sedang mengakui kesalahannya dan berharap agar tidak dihukum oleh sang bunda. Tapi, yang dihadapan nona muda Haruno itu sekarang adalah tuan muda Uchiha. Dan lagi dia Sasuke. Apakah cara seperti itu akan berpengaruh?
"Kau kira hari ini aku sedang bawa uang lebih? Lain kali, kutinggalkan saja kau. Atau sebaiknya sekarang saja?" Sakura yang mendengar itu langsung cemberut. "Bawa kekasir itu semua. Sehabis ini, jangan minta apa-apa lagi. Apa kau mengerti?!" Sakura mengangguk. Dan Sasuke menghela napasnya lega.
Walaupun tetap saja biaya yang dikeluarkan untuk membayar belanjaan Sakura itu tidak sedikit. Malah itu adalah biaya yang banyak.
"Habis ini kita makan siang ya? Uangmu aku ganti nanti." ucap Sakura yang kembali ceria dan sudah menyadari bahwa dari tadi perutnya sudah protes tanpa henti. "Hn." Dari sekian banyak kata yang bisa diberikan, lagi-lagi hanya dua konsonan kramat yang keluar.
Tiba-tiba handphone Sasuke berdering. Dia berjalan keluar sambil menjawab panggilan. Sementara gadis berambut merah muda yang selalu memaanfaatkannya itu sedang membayar belanjaannya yang tentu saja tidak menggunakan biayanya. "Siapa yang menelponnya?"
"Ada apa baka Itachi!" seru Sasuke dengan nada tak suka. "Hehehe... kau ini tidak mau liburanmu diganggu yah? Kau ke eropa sejak seminggu yang lalu dan aku tidak tahu. Kenapa kau tidak mengajakku?" balas Itachi. "Memangnya perlu. Hey, kau itu kan kutanya tadi. Ada apa kau menelponku." Itachi menggerutu sedangkan sang adik mulai kesal.
"Ah, begini. Sebenarnya aku tidak mau mengganggu liburanmu, malah aku mau nyusul kesana. Eee.. tapi tou-san memintaku untuk menghubungimu. Mmm.. bagaimana yah?" perempatan siku-siku muncul didahi Sasuke.
"Cepat katakan langsung intinya."
"Aduh, sebenarnya tidak enak ngomong langsung tapi... argh.. sudahlah, kau diminta pulang besok karena ayah akan menjodohkanmu. Tapi tenang saja, kau tetap bisa liburan sesukamu kok. Hehe, nanti aku temani." Sasuke melotot. Sakura yang baru datangpun mengernyit. "Kau ini kenapa?" Itachi bingung.
"Siapa itu ototou? Pacarmu yah?" Sasuke menoleh kekarah Sakura dan mencoba membayangkan bagaimana jika gadis disampingnya itu menjadi pacarnya. Bahkan ia belum menyukainya saja gadis itu sudah merepotkan. "Bukan. Bisa gila aku jika itu sampai terjadi. Dan tadi apa kau bilang? Aku akan dijodohkan?"
Sakura tertawa tetapi langsung mendapat tatapan mematikan dari Sasuke. Diapun berhenti. Tidak berhenti sepenuhnya, tetapi hanya mencoba menahan tawanya. 'Sasuke dijodohkan? Emangnya zaman Siti Nurbaya? Tapi kalau dia balik besok berarti diriku tercinta ini bakalan berdiam diri diapartemen Tsunade dong sampai balik ke Jepang. Bahasa inggriskan belum lancar, apalagi bahasa Itali. Orang jenius itu kan juga masih perlu belajar. Aku kan masih belajar. Aduh ayam jangan mau yah...'
Sakura berdoa dalam hati supaya pria disampingnya itu tidak akan kembali ke Jepang sampai liburan berakhir. Sebisa mungkin gadis yang baru berusia dua puluh dua tahun itu menahan bibirnya untuk diam supaya tidak komat-kamit agar doanya terwujudkan. "Tidak kak. Aku tidak akan pulang sebelum liburanku berakhir. Katakan pada ayah, aku tidak mau dijodohkan. Kenapa harus pakai perjodohan segala? Kau saja belum menikah. Pasangan juga tidak punya. Harusnya ayah menjodohkanmu lebih dulu."
Sakura kembali tertawa tetapi lagi-lagi diberi kilatan tajam dari mata Sasuke. Sehingga gadis itu kini hanya bisa menahan tawanya agar tidak pecah kemana-mana. "Diam kau baka ototou! Aku sudah bilang pada ayah kalau aku mau jadi produser dan melajang. Setelah berusaha sekian lamanya... aku akhirnya diberi persetujuan lahir batin oleh ayahanda tercinta..." Ucap Itachi dengan nada yang dibuat-buat sedekimian rupa.
"Anak alay kumat lagi. Ah, tidak tahulah, kau urus saja semuanya. Aku mau liburanku tenang."
"Ya sudah. Ngomong-ngomong, aku titip salam buat pacarmu yah.."
Sasuke kesal dan langsung memutuskan panggilannya. Dia meninggalkan Sakura dengan berjalan sangat cepat tanpa sepatah katapun yang diucapkan. Membuat Sakura bingung. Tapi di lain tempat dihatinya dia merasa senang dan sedih sekaligus.
'Ayahnya serem juga. Pake perjodohan segala. Untung anak es itu menolak. Huh, lega. Heh, tapi untuk sekarang dia menolak kan? Terus kalau sudah kembali ke Jepang bagaimana? Apakah dia tetap akan dijodohkan ya? Apa dia akan menerimanya? Bagaimana ceweknya itu model? Atau yang cantiknya kelewat rata-rata? Haaah... sudahlah, toh pulang ke Jepangnya juga masih lama.' Sakura menyusul Sasuke dengan berlari kecil. Walaupun sering merasa kesal, dia menikmati waktunya bersama pemuda itu akhir-akhir ini. Tidak seperti sebelumnya sewaktu mereka smp atau sma.
"Habis ini aku mau kembali ke apartemen anikiku. Jika kau mau berkeliling lebih lama silahkan telepon pasangan ShikaTema. Biarkan mereka yang mengantarmu. Perkataan Itachi membuatku tak bersemangat dan bahkan selera makanku menurun drastis. Terserahmu ingin menaruh belanjaanmu dulu atau langsung keliling lagi, yang jelas ganti uangku!" ucap Sasuke dingin.
Pemuda dengan paras rupawan itu terlihat seperti orang yang sedang berpikir. Dia juga terlihat seperti orang yang gelisah. Mungkin kalimat sang kakak yang menyangkut pautkan sang ayah membuat Sasuke lebih sedikit sensitif dibanding 1 menit yang lalu.
Sedangkan gadis muda disampingnya hanya terdiam memperhatikan. Sesekali pandangannya dengan oniks kelam Sasuke bertemu. Saat amber mereka beradu Sakura dapat merasakan sedikit dari perasaan Sasuke. Dia berpikir sikap Sasuke dipengaruhi dari dirinya yang belanja banyak menggunakan biaya pemuda itu dan juga niatan perjodohan yang disampaikan kakaknya barusan. Jika dibiarkan terus Sasuke bisa jadi sensitif dan sangat dingin. Tatapan matanya saja mungkin bisa membunuh seekor cicak yang lewat didepan matanya. Oke, yang terakhir itu abaikan.
"Nee... kenapa kau ada disini dan tiba-tiba ada didepan apartemen milik bibiku seminggu yang lalu? Kau mengikutiku yah?" tanya Sakura dengan nada yang dibuat sedekimian rupa agar Sasuke meresponnya dengan candaan.
"Aku mau berlibur. Kebetulan Itachi punya apartemen disini. Dan jangan kebanyakan berkhayal di siang hari. Sudah lima belas kali lebih aku disuguhi pertayaan itu. Hentikan bertanya hal seperti itu lagi."
Sakura terdiam. Dia kebingungan mencari candaan atau pertanyaan yang bagus supaya suasana menjadi cair. Jika tidak, pikirannya tentang Sasuke yang sensitif, menakutkan, dan dingin akan keluar. Mati-matian dia menjaga mood pemuda itu agar tetap baik. Kalau taraf akhirnya keluar, pasti Sakura akan merasakan perasaan yang sama ketika dia dibully atau diperintah dengan sangat paksa oleh pemuda itu. Jangan sampai deh. Ini kan awal yang bagus untuk memulai hubungan sebagai teman yang sesungguhnya.
Sakura terdiam dan memejamkan matanya. Dengan penuh keyakinan dia berbicara dalam hati. Memohon dalam hati. Dan menyelipkan sedikit doa didalamnya.
'Bibi... pasti ini mimpi..karena aku ingat... umurku belumlah 20 tahun... tapi disini sekarang aku sudah kuliah. Apa ini masa depan? Siapa yang berani bermain denganku? Aku tahu ini seperti impianku yang selalu ingin berdamai dengan pemuda es itu. Tapi tidak seperti ini caranya.. disini aku dipermainkan. Aku benci ini. Sungguh seseorang hentikanlah mimpi bodohku ini. Selamatkanlah aku. Hatiku sudah hancur karena realita. Jadi kumohon, kamisama... bangunkan aku sekarang juga. Aku juga tidak mau teringat semua tentang perkataan orang tuaku. Jadi kumohon bangunkan aku.'
.
.
.
"Nggh..." keluh seorang gadis.
Bruukk.
Tiba-tiba saja beberapa gadis lain memeluk gadis itu. Mereka menangis bahagia. Sebuah perasaan lega terlihat dimata mereka.
TBC
A/N :
Lohalohalohalohaloha minnnaaaa... *muncul dari tanah* ketemu lagi sama saia author paling tenama sedunia *ditimpuk botol sama readers* yap, yap, yap... Yukei balik lagi buat update chapter baru untuk ff multichap pertama Yukei..
Pertama-tama author mengucapkan terima kasih pada yang maha kuasa dan tubuhku terutama mata dan jari-jari tanganku. *berlagak menang ewert (baca: award)* Dan yang kedua author disini mengucapkan banyak terima kasih sama readers semua yang udah fav, foll, sampe review ff paling gaje ini.
Dan author juga mau bilang. Sebenernya author bingung mau masukin fic ini ke genre mana selain genre romance, dan akhirnya author milihnya hurt/comfort untuk menemani genre romance. Padahal sebenernya cerita ini gak jelas masuk genre mana. jadi walaupun author masukin ke romance/hurt/comfort, bukan berarti author bisa ngejamin ini gak berpindah kegenre lain. Walau begitu author gak berniat nulis ulang atau melakukan hal ribet lainnya *readers: authro plin-plan, author: biarin, readers: (nyorakin rame2)*
Dan yah walaupun kepanjangan makasih juga buat para silent reader.. tapi usahain kalo bis baca jejaknya tinggalin dong. Jangan kaya ninja. And author juga terimakasih buaanget sama beberapa orang yang reviewnya nyemangatin author. Haah.. sekarang gak tahu nih fic mau jdi berapa chap. Bisa lebih dari 10 chap kali. Dan masalah fic yg merupakan hadiah Sakura-nee itu.. gomen blm publish.. entah kapan mau pulish.. mungkin ficnya bakalan pindah haluan juga, dari yang komedi jadi yang lain.
Ya sudahlah, memang sepertinya kepanjangan curhatan author ini. terima kasih ya minna dan gomen kalo author punya banyak kesalahan dalam menulis fic ini maupu A/N nya. Bye.. Byee.. inget review yaaaa... *mendelep kedalem tanah sambil dadah-dadah*
Oh ya, selamat puasa buat yang puasa ya... lalu selamat liburan buat semuaaa... *muncul dari tanah terus mendelep lagi*
