°Complicated Love°

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Alternatif Universe, Typo, etc.

Sorry kalo gak jelas.

Author : YukiSakura Kensei29

.

.

.

Enjoy & Happy Reading...


°Complicated Love°

.

.

.

"Nggh..." keluh seorang gadis.

Bruukk.

Tiba-tiba saja beberapa gadis lain memeluk gadis itu. Mereka menangis bahagia. Sebuah perasaan lega terlihat dimata mereka.

°Complicated Love°

.

"Nggh, ada apa ini?" bingung gadis tersebut. "Kamisama.. arigatou. Kau telah mengembalikan Sakura kami." Syukur salah satu gadis yang memeluk Sakura. "Sakura-chan.. aku benar-benar senang." Ujar gadis lain. "Ino. Hinata. Ada apa? Kenapa kalian? Memangnya aku kenapa? Bukankah aku hanya tertidur?" tanya Sakura. Wajahnya terlihat kebingungan.

"Hey. Forehead! Kau memang tidur.. tapi tidurmu itu membuat kami semua khawatir."

"Apa maksudmu?"

"Sakura-chan.. sebaiknya Sakura-chan jangan berbicara terlalu banyak dulu. Istirahatlah.."

"Hinata. Katakan padaku!"

"Tidak.. forehead. Tidak ada apa-apa.. tenanglah."

"Akukan tidak menanyaimu. Baka pig!" da dari pintu yang terbuka lebar dua orang yang lebih dewasa dari ketiga gadis tersebut masuk.

"Sakura! kau sudah siuman?! Apa kau baik-baik saja?" teriak khawatir seseorang. "Sasori-nii.. aku baik. Sebenarnya ada apa?" Sakura bingung. Dia merasa bahwa semejak ia bangun semua orang yang ada disekitarnya menanyakan kabarnya. Mengucapkan syukur tak henti-henti. Dan juga menangis. Ia tahu pasti ada sesuatu. Tapi bicara tentang sesuatu Sakura jadi mengingat apa yang ia alami selama tidak sadar. Memang tidak begitu jelas ketika Sakura mengingatnya. Tetapi ia tahu. Apa yang ia alami dimimpinya adalah hal yang ingin ia wujudkan didunia nyata.

"Syukurlah kau sudah sadar. Aku benar-benar senang." Sakura tersenyum. Ia mulai tidak peduli dengan perkataan yang dilontarkan orang-orang dikamarnya ini "Hey, bibi Tsunade. Aku tahu semua orang disini menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi buatku tak masalah. Selama kalian tidak melanjutkan ini semua aku tidak akan banyak bertanya." Sang bibi tersenyum. Ia benar-benar bersyukur Sakura punya sifat yang bagus. Menurun sekali sifat Kizashi pada Sakura.

"Awas saja bocah Uchiha itu. Dia benar-benar membuatku marah. Akan kubuat dia membayarnya." Bisik Sasori yang dapat didengar jelas oleh Sakura. "Forehead, aku punya sesuatu untukmu. Sebenarnya ingin kuberikan padamu 5 bulan yang lalu. Tapi ya sudahlah. Kau ditakdirnya untuk menerimanya sekarang." Sakura melirik Ino. Dilihatnya Ino sedang mengambil sesuatu dri dalam tasnya. Sebuah kotak kecil yang indah keluar dari tas miliknya. "Ini untukmu. Kau bisa melihatnya sekarang atau nanti itu terserah. Yang penting hutangku padamu sudah selesai. Jadi, kau jangan menganggap aku masih memiliki hutang ya?" Hinata yang melihat Ino jadi teringat akan hadiahnya yang akan diberikan pada Sakura jika sahabatnya itu siuman. Ia pun mengambil smartphone-nya mensetuh layarnya kemudian menelpon seseorang.

"Halo. nii-san. Nii-san ada dimana?...Oh tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin nii-san mengambilkan barangku yang ada diatas meja belajar...Aku sedang berada dirumah Sakura-chan. Dia siuman hari ini aku sangat senang. Jadi, tolong nii-san cepat ya?...Baiklah, kalau begitu sampai jumpa." Ino dan Sakurapun menoleh. "Kau menelpon Neji, Hinata?" Hinata mengangguk. "Kutebak. Selama aku tidak sadarkan diri pasti kakak sepupumu itu masih sama seperti dulu."

"Ah, kau ini. Sampai dunia ini berakhir Neji akan tetap sama." Sakura mendudukan dirinya. "Kau ini kenapa sih? Kan sedari tadi aku bertanya pada Hinata. Kenapa kau terus yang menjawab?" yang ditanya hanya bersidekap. "Hey..Aku ini kan..."

Duakkk.

"Sakura-chan! Sakura-chan! Kau sudah sadar?! Huuuuu...Sakura-chan syukurlah kau sadar aku sangat senang...! heeee.. aku selalu menunggu Sakura-chan sadar.."

"Sakura-chan! Aku juga menunggumu sadar! Kukira aku tidak akan bisa bertemu denganmu. Tapi perkataan dokter salah... aku bahaaaaaggia.."

"Selamat forehead.. kehidupanmu yang tenang akan kembali seperti semula.. dua baka ini telah menyadarkanmu dari kehidupanmu yang sebelumnya tenang." Tukas Ino yang sudah bosan melihat kedua temannya tersebut. Si Rock Lee dan Naruto Uzumaki. Dua orang yang bisanya selalu merepotkan siapapun.

"Kalian berdua! Hentikan tangisan bodoh kalian itu. Kalian tahukan Sakura butuh ketenangan. Jadi diamlah kalian!"

"Hei Ino.. kau tidak tahu betapa bahagianya kami...huhuhu..."

"Benar... kami ini sangat mengkhawatirkan Sakura-chan!.."

"Na-naruto-kun..." gagap Hinata. Pipinya bersemu merah.

"Hinata-chaaaan... aku rindu padamu..." dengan gaya anak kecil yang minta dipeluk sang ibu. Narutopun berlari kearah Hinata dan memeluknya.

"Dasar bocah..." geleng Tsunade.

"Sikuning bodoh itu dan simangkok muda itu benar-benar membuat suasana ini lebih ramai daripada pasar.." ucap Sasori

"Naruto! Apa yang kau lakukan pada adikku?!"

"Neji-nii san...Na-naruto-kun..."

"Lepaskan adikku nanas!"

"Hey, siapa yang kau billang nanas? Yang nanas itu Shikamaru." Balas Naruto yang berhenti dari tangisnya.

"Naruto.. apa maksudmu?"

"Shikamaru.. kau datang?" tanya Ino.

"Tentu saja. Sakura itu juga temanku. Selain itu dia lebih pintar darimu Ino."

"Apa katamu?!"

"Tidak."

"Hey.. kalian semua. Ini bukan tempat tinju atau sumo. Jadi kalau mau melanjutkan silahkan cari tempat lain." Ucap Tsunade.

"Iya. Lebih baik kalian diam.. geerrr.. awas saja kau Sasuke! Aku tidak memaafkanmu untuk yang ini." Rock Lee yang ternyata sudah berhenti menangispun ikut bersuara. Menyuruh yang lain diam. Padahal dirinya sendiri barusan berteriak menunjukan kekesalannya.

Sudah kuduga.. Kenyataan pahit kehidupan harus kujalani kembali. Dan benar, ternyata ini kerjaan si Uchiha itu.

"Ah, sudahlah... kalian semua sama saja. Emm.. Saso-nii dan bibi Tsunade datang bersamaan. Kalian memangnya habis dari mana?" tanya Sakura. "Oh.. simerah ini kusuruh menjemputku dibandara. Ketika tahu kau sadar dia langsung mengendarai mobilnya seperti orang gila." Sasori bertolak pinggang. Dari raut wajahnya ia tidak suka akan perkataan sang bibi. "Bi, aku inikan sangat sayang pada adikku. Makanya aku cepat-cepat pulang karena ingin melihatnya kembali sadar." Ino terkekeh kecil. Sakura dan Sasori menoleh kearahnya. "Ada apa kau pig?" Ino tersenyum. "Lihatlah forehead.. bahkan kakakmu itu sama saja seperti Neji." Sakura mengerti. Ia mengangguk kecil membenarkan perkataan Ino. "Halah.. kau ini memang tahu apa Ino? Kau kan tidak punya kakak ataupun adik... Jadi, kau tahu apa tentang perasaanku?" Ino terdiam. Dia menunjukan ekspresi orang yang sedang berpikir. "Kalau aku ingat ya Sasori-nii... aku ini juga punya adik. Yaah, sekiranya sama kayak Neji. Walau begitu, kok aku gak ngerasain apa yang dirasa sama kau dan Neji?" Sasori bejalan keluar. Dia mengibas-ngibaskan tangannya disamping wajahnya yang imut itu. "Ya ya.. apa katamu sajalah. Aku ingin ke toilet dulu."

"Hinata, ini.."

"Oh, makasih ya Neji-nii. Emm, Sakura-chan. Aku punya boneka buatmu. Memang ini tidak spesial. Tetapi doaku dan rasa sayangku selalu ada dalam boneka itu. Jadi jika Sakura-chan memeluk boneka itu pasti Sakura-chan merasakan aku ada disamping Sakura-chan. Setidaknya, ini mirip dengan boneka yang kuberikan padamu sewaktu kita masih kecil. Terimalah Sakura-chan." Sakura mengambil bonekanya. Ia memperhatikan wajah Hinata dengan seksama. "Hinata.. aku sangat berterima kasih padamu. Kau memang sahabatku yang terbaik." Tiba-tiba saja bunyi gaduh terdengar. Semua yang ada dikamar Sakura menoleh ke arah bunyi tersebut. Membuyarkan Ino yang akan bersuara.

"Ih.. apaan sih kau alis tebal! Lepaskan!"

"Kau yang apa-apaan Naruto! Kau yang harusnya lepaskan aku!"

"Hey, kalian berhentilah. Hoaaam..."

"Kau tidak tahu saja Shikamaru.. aku ini sedari tadi selalu diganggu oleh si alis tebal ini."

"Benar. Sedari tadi dia menggangguku."

"Lihatlah mereka.. bahkan bertengkarpun kompak." Geleng Ino.

"Naruto-kun berhentilah.."

"Tidak Hinata. Aku tidak akan kalah.. aauuww... Lee!"

Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi mencekam. Setelah dilihat lebih jelas, ternyata Sakura baru saja mengaktifkan mode kekesalannya. Diringi background ungu dan hitam yang gelap. Dan dengan mata yang merah menyala. Hal itu membuat takut kedua insan yang sedang bertengkar. Mereka secara mendadak langsung berpelukan layaknya ibu dan anak yang belasan tahun terpisah lamanya. Dan semua yang disekeliling mereka hanya terdiam tidak bisa menyelamatkan. Neji berseringai. Tsunade terlihat puas. Hinata mencoba menghentikan namun dia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Shikamaru tertidur dimeja rias. Dan Ino. Ino sedang asik memainkan smarthphone kesayangannya. "Apa kalian tidak mau berhentiiii..."

"Aaa-ampun.. Sakura-chan..."

"Rasakan itu kuning bodoh." Ya tuhan.. Neji terlihat puas sekali.

"Forehead.. kau tahu tubuhmu itu belum terlalu kuatkan? Sebaiknya kau hetikan saja. Tapi sebelumnya tolong wakilkan satu pukulan dulu untukku dan Shikamaru yaah.." Sakura tertawa. Dia bersiap-siap untuk memberikan pukulan terbaiknya setelah lima bulan vakum dari semua aktifitasnya. "Dengan senang hati." Dasar Ino. rupanya ia sama saja.

Duaak.

Pak. Puk.

"Sakura-chaann...ampunn."

"Sakura. tolong wakilkan aku satu pukulan ke Naruto."

"Baik Neji."

"Neji-nii!" omel Hinata pada Neji. Namun, diacuhkan oleh pemuda berambut coklat itu.

"Sakura. apa yang kau lakukan? Kau sudah bisa berdiri?" tanya Sasori yang baru datang dari toilet.

"Aku sudah sehat. Saso-nii. Tolong, biarkan aku menghajar mereka sebentar."

"Oh, baiklah. Tapi jangan paksakan dirimu yah. Tolong aku satu untuk keduanya." Sasori kembali pergi. Dan Sakura menyeringai.

"Semoga kalian merasa tenang kawanku." Igau Shikamaru dalam tidurnya. Daann...

"Kaa-saaaan! Touuu-saaann!"

"Hehehe.."

"Awas kalian semua! Sakura-chaaannn... tolong maafkan kamiiii..."

Dan ya.. begitulah kondisi pagi hari dikamar Sakura yang penghuninya baru saja siuman setelah lima bulan lamanya. Ribut, berisik, dan ramai. Memang kondisinya terlihat menyenangkan. Tapi, percayalah. Semua itu adalah hadiah untuknya yang baru saja tersadar. Sebelum ia melanjutkan kehidupan yang aslinya.

`_ComLove_`

"Sasuke, kau tidak datang menjenguknya dan meminta maaf?"

"Untuk apa pertanyaan itu kau tanyakan padaku nii-san?"

"Itu sudah jelas Sasuke. Datanglah kerumahnya. Temui dia dan minta maaflah kepadanya."

"Kalau nii-san mau nii-san saja yang kesana. Hal itu tidak penting buatku."

"Sasuke! Kau harus kerumahnya dan meminta maaf. Untung saja dia masih diberi kehidupan dan keluarganya tidak membabi buta menerormu sewaktu ia tidak sadarkan diri. Kau yang membuatnya begitu jadi datanglah kesana dan mintalah permohonan maaf darinya. Aku akan menemanimu."

Sasuke berdecak. Ia merasa terganggu dengan paksaan sang kakak Itachi. Sasuke lalu pergi meninggalkan kakaknya sendirian diruang tamu dan pergi menaiki tangga, menuju kamarnya. "Sasuke.. mau kemana kau?" Sasuke berhenti. Ia menoleh kearah kakak tercintanya itu. "Kembali kekamar. Tidak ada gunanya meributkan ini nii-san." Sasuke lalu pergi melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Itachi yang berteriak berkali-kali memanggil namanya. Dan ingin adiknya itu meminta maaf kepada adik dari sahabat baiknya. Sungguh Itachi tidak tahu bagaimana caranya membujuk Sasuke agar meminta maaf kepada Sakura. Dan Itachi tidak tahu bagaimana ia harus bersikap didepan Sasori. Bahkan menunjukkan baunya saja pada Sasori, Itachi tidak berani. Alhasil, ia selalu menghindari meeting yang didalamnya terdapat Sasori. Lalu berusaha sesibuk mungkin agar ia tidak bertemu sahabat merahnya itu. Ia lebih memilih berdiam didalam ruangnya. Sehingga kehadirannya tergantikan oleh sang sepupu. Uchiha Obito atau yang lebih akrab disapa Tobi itu sering menggantikan Itachi semejak tiga bulan yang lalu.

"Apa maunya anak itu? apa aku harus memberi tahu masalah ini ke kaa-san dan tou-san? Sasuke.. kenapa kau sangat membenci gadis cantik itu.. aku tidak mengerti. Apakah kalian pernah bertemu aku juga tidak tahu. Tapi hal ini merupakan hal yang buruk. Karena kau semakin dingin Sasuke. Aku khawatir saat kaa-san dan tou-san kembali mereka akan syok mengetahui ini semua."

"Yo! Itachi!"

"Tobi. Kau disini?"

"Ah iya.. aku ingin main saja kesini. Sudah lama tidak main kesini. Hey, paman dan bibi baru saja menelponku. Mereka bilang mereka akan kembali minggu depan. Kau senangkan Itachi?"

"Ya.. sepertinya." Kamisama.. ini benar-benar akan menjadi rumit.

"Kau kenapa? Ada masalah hah?"

"Tidak. Hanya saja aku bingung harus bagaimana tentang masalah Sasuke."

"Oh, adikmu itu yaa? Ah. Memang bocah itu membuat semuanya repot."

"Sudahlah. Kau sudah makan Tobi?"

"Belum. Baru saja aku mau mengajakmu. Ayo kita ke restoran ramen dekat Universtias Konoha. Aku kemarin diberi kupon gratis untuk dua orang oleh temanku."

"Oke.. aku akan siap-siap."

"Cepat yaa."

.

.

.

"Kenapa Itachi-nii memaksaku sampai seperti itu? Diakan sudah tahu jawabanku sejak lama." Sasuke sampai dikamarnya. Dia memegang kenop pintu namun tidak membukanya. "Mimpi sialan. Aku tidak akan pernah seperti dimimpi itu. Sangat mustahil. Aku akan menghabisi dia jika benar-benar sampai dikamarku dan memegang kenop pintu ini."

Dengan penuh ratapan kekecewaan seorang pemuda menatap Sasuke dari atas sana. Raganya tidak ada dan jiwanya terlihat melayang. Ia begitu mirip dengan Sasuke. hanya saja ia terlihat lebih dewasa. Ia mengenakan kimono berwarna biru gelap. Terlihat seperti kalangan bangsawan jaman dulu. Benar-benar begitu mirip dengan Sasuke. Ia dan Sasuke tidak punya celah yang buruk sedikitpun diseluruh tubuhnya. Wajahnya mulus rupawan. Dan yang membedakan mereka hanyalah ia terlihat lebih dewasa dari Sasuke.

"Mengapa membujuknya susah sekali. Bahkan pertahanannya begitu kuat. Seharusnya aku mengetahui mengapa dia membenci Sakura. Aku tidak bisa membaca pikirannya. Ini akan menjadi semakin sulit. Harusnya aku tahu ketika aku memberikannya. Bahwa ini tidak akan berhasil." Ujar pemuda itu. Didetik berikutnya tubuhnya dengan perlahan menghilang entah kemana.

Drrt.. drrttt...

'Hey, aku butuh bicara denganmu. Tiga hari lagi temui aku ditaman dekat Konoha river. Datanglah atau aku akan kerumahmu.'

'Sudah kubilang. Kau tidak akan bisa menyuruhku untuk menemuimu. Jadi hapus nomorku dan enyahlah.'

'Datang atau aku kerumahmu Uchiha dan menjelaskan semua yang terjadi padaku ke seluruh anggota keluargamu.'

'Baiklah.. Jam 8 malam ditaman dekat Konoha river. Dan hapus nomorku.'

'Oke. Aku akan datang dengan cepat. Dan dengan senang hati aku akan menghapus nomor sialanmu ini dari ponselku.'

'Jangan sampai membuatku menunggu Haruno. Dan ingat nomormu itu lebih buruk dari nomorku. Membuat kotor ponselku.'

Tiit..

"Untuk apa si Haruno itu menemuiku? Ingin balas dendam? Heh, tidak mungkin dia lebih buruk dariku soal balas dendam." Sasuke lalu menaruh ponselnya dimeja belajar. Ia pergi kekamar mandi lalu kembali dan mengistirahatkan tubuhnya dikasur empuk itu sementara.

Tak lama kemudian pemuda yang mirip dengan Sasuke itu terlihat lagi. Ia terlihat bingung memikirkan cara apalagi yang bisa dibuat olehnya untuk dirinya itu. "Apa yang harus kulakukan?" Ia menghela napasnya pelan. Dan tiba-tiba ia merasakan seseorang yang sama sepertinya memeluknya dari belakang. "Sakura..." pemuda itu tersenyum. Ia tahu siapa yang memeluk dirinya ini. "Sasuke-kun.. jangan menyerah. Kita harus segera menyatukan diri kita. Agar kita bisa bersama selamanya. Dan bahkan sang waktu tidak bisa memisahkan kita. Aku percaya mereka akan menyelesaikan siklus ini." pemuda yang namanya sama dengan Sasuke itu mengangguk. Dan dengan tubuh mereka berdua yang melayang. Sasuke yang tak beraga itu berbalik dan membalas pelukan gadis yang namanya juga Sakura tersebut. "Aku tidak akan menyerah. Sampai kita dimasa ini bersatu aku tidak akan menyerah." Sakura yang juga memakai kimono bangsawan jaman dulu itu tersenyum. Dan ia menghilang secara perlahan. "Ganbatte.. Sasuke-kun.." seiring dengan tubuhnya yang menghilang suaranya pun kian pelan hingga tak terdengar, "Aku akan berusaha. Sampai kita tidak berpisah lagi seperti ini. Atau terpisah seperti dulu. Jadi, kau juga jangan menyerah Sakuraku."

`_ComLove_`

Jam 20.00 ditaman dekat Konoha river,

"Cepat katakan apa yang mau kau katakan Haruno."

"Sabarlah sedikit Uchiha. Butuh perjuangan untuk aku bisa kesini."

"Aku tidak perduli dengan perjuanganmu itu yang ingin lolos dari kakakmu. Cepat aku tidak punya waktu yang banyak untuk menemuimu."

Tiga hari setelah siumannya Sakura, Sasuke pergi menemui Sakura sesuai perjanjian yang sudah disepakati keduanya. Mereka bersiap agar tidak bertengkar untuk beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja. Perlu untuk diketahui. Mereka bertengkar tidak seperti sepasang remaja yang bertengkar pada umumnya. Pertengkaran mereka penuh rasa sakit dihati dan terkadang diiring luka dan darah yang mengalir. Bagaikan dilema yang tidak bisa dilepaskan. Kebohongan terus dijalankan demi kebencian dan perasaan kecil yang ditepis keduanya.

"Dasar Uchiha tidak sabaran."

"..."

"Sebelumnya aku masih mengingat bagaimana kau membuatku terbaring dikasur empuk rumah sakit dan kamarku selama lima bulan."

"..."

"Aku juga ingat. Wajahmu yang terkejut saat aku tersentuh kencang oleh mobilmu."

"Aku tidak bereskpresi saat itu." tepis Sasuke.

"Janganlah berbohong Uchiha. Apa perasaanmu saat mendengar hanya keajaiban yang bisa menyelamatkanku?"

"Puas dan bahagia."

"Aku tidak percaya. Kau pasti merasa hancurkan?"

"Langsung saja keintinya."'

"Saat aku kritis dan koma, aku merasakan mimpi yang membuatku senang melebihi apapun. Namun, aku juga merasa sakit karena aku tahu itu kebohongan belaka."

"..."

"Aku berkeyakinan tinggi kau juga mengalaminya setiap malam dan memikirkannya sampai pagi tiba. Dan aku yakin setiap kau terbangun dari tidurmu itu kau semakin merasakan sakit dan semakin membenciku. Aku tidak tahu apa alasanmu memusuhiku Uchiha."

"Apa sudah selesai? Kalau begitu aku akan pulang."

"Tunggu. Aku ingin memberikan ini padamu. Aku yakin ini milikmu. Dan aku hanya ingin kau tahu. Beberapa episode terakhir dari mimpi yang ku alami merupakan salah satu sumber kekuatan untukku kembali sadar."

Sasuke terdiam. Ia tidak begitu perduli apa yang dikatakan gadis dihadapannya ini. Tapi, ia dengan detail memperhatikan barang yag dipegang Sakura didepan wajahnya. Itu adalah sebuah kalung. Kalung yang indah. Sebuah desain klasik menjadi ciri khas kalung itu. Liontin indah berbentuk bunga Sakura melengkapinya. Itu adalah sebuah kalung yang Sasuke cari, bersamaan dengan seseorang yang juga ia cari selama ini.

"Dari mana kau dapatkan itu?"

"Saat aku pergi bersama Ino. Saat pertama kali aku melihatnya aku seperti tertarik olehnya. Dan saat aku melihatnya lebih jelas. Aku merasakan bahwa kau pasti tahu tentang kalung ini."

"Kau kira aku tahu sesuatu tentang kalung ini? Apakah kau tidak berfikir bahwa kalung ini adalah kalung yang diproduksi banyak dan banyak juga yang memiliknya."

"Tidak. Sejak pertama aku yakin didunia ini hanya satu dan saat kutanyakan memang ini hanya satu. Kalung ini ditemukan oleh sang pemilik toko di Otogakure beberapa tahun yang lalu."

"Kau kira aku percaya?" ucap Sasuke yang sedikit tidak yakin dengan ucapannya tersebut. "Tentu. Terlihat jelas dimataku bahwa kau percaya. Sasuke.. tidakkah kau berfikir ini adalah milikku yang kau berikan padaku?" Sasuke berdecih. Ia tak suka atas perkataan Sakura barusan. "Sebenarnya apa maumu?" Sakura tersenyum tipis. "Tidak ada. Maksudku hanya memastikan bahwa kau yang membuatku tidak sadar dan hampir menghadapi kematian dan memberikan ini padamu."

"Kalau kau merasa itu punyamu kenapa kau berikan padaku?"

"Tidak. Aku hanya ingin mengembalikannya."

"..."

"Apakah kau yakin kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Cepatlah. Jangan banyak bertanya dan basa basi Haruno."

Dengan perlahan Sasuke dan Sakura jaman dulu itu hadir diantara mereka. Kesedihan tergambar diwajah mereka dan rasa sakit terlihat dari diri mereka dimasa sekarang ini. "Haruskah kita kendalikan situasi ini Sakura?" dengan sendu Sakura berkimono itu menatap Sasuke. "Jangan, Sasuke-kun.. mereka merasakan sakit lebih dari kita.." air bening tiba-tiba menetes dari Sakura berkimono. Dan Sakura merasakannya. "Ah.. apa mau hujan? Udaranya juga semakin dingin."

"Cepat Haruno."

"Sasuke.. aku merasa jika ini adalah benda yang kau berikan padaku maka aku harus mengembalikannya dulu kepadamu."

"Jangan panggil aku dengan nama kecilku."

"Bisakah kita jadi teman?" Sakura tersenyum. Matanya menjadi sipit dan wajah cantiknya semakin cantik ketika tersenyum. Namun, Sasuke mendekat mengambil paksa kalung klasik itu dari tangan Sakura. Dan mencengkram leher gadis cantik itu dengan kuat. Ia tak suka dengan senyuman Sakura yang seperti itu. "Dalam mimpimu saja aku tidak mau jadi temanmu Haruno Sa-Ku-Ra." Air mata dari kedua Sakura mengalir. Sasuke dari masa lampau ingin maju dan menghempaskan dirinya dimasakini itu dari Sakura. Tetapi, ia ditahan dan tangisan Sakura berkimono yang semakin menjadi. "Sa-sasuke...-kun... uhuk..uhuk.. le-lepaskan..." mata Sasuke menyipit. Kilatan kemarahan dan kepedihan terlihat bercampur dari matanya. Deras. Air mata mengalir deras dari kedua Sakura. Marah dan kebencian terlihat jelas dari kedua Sasuke. Sasuke dari masa lalu sangat marah dengan kelakuan dirinya sekarang ini. Namun.. tetap saja jika Sakuranya yang sedang menangis ini tidak ada dipelukannya maka ia akan menghajar dirinya itu sekarang juga. "Sa-sasukeeee..-ku-kunn..."

"Sasuke-kun? Apa aku dijaman ini juga akan mati? Bahkan ditanganmu sendiri?" Sasuke dari jaman dulu itu melembutkan tatapannya. "Jika itu terjadi maka diriku yang sekarang juga akan mengalami hal yang sama sepertimu. Ia juga akan mati." Sakura tersenyum sekilas lalu ia mengeratkan pelukannya pada Sasukenya sebelum mereka berpisah kembali. "Sa-sasuke -kunn.. a-apa yang kau la-kukan? Uhuk..uhuk.."

"Sekali lagi kau panggil aku dengan nama kecilku dan suffix itu maka aku akan membunuhmu."

Brukk.

"Uhuk..uhuk. khu...uhuk.." Sakura jatuh ketanah. Ditinggalkan Sasuke sendirian ditaman yang gelap dari penerangan. Sasuke yang marah kembali kerumahnya dengan terburu. Dan Sakura menangis sunyi terduduk ditaman malam itu dengan rasa sakit dilehernya. "Uchiha Sasuke...hiks... Bahkan tanpa kau suruh aku sangat ingin membunuh diriku sendiri."

Tsudzuku yaa...

A/N :

Oh, ya ampun.. Yukei minta maaf yaa... Yukei tahu chap kemaren itu asli gak nyambung banget. Emmm.. pasti yang ini juga gak nyambung ya... Aahh. Ya sudahlah. Kali ini Yukei kembek dengan chap 5. Yukei wkt nulis ngerasa ini chap balik jadi bener.. and gimana dg kalian? Apa udah bener? Haha.. Yukei yakin pasti belum. Adakah yg aktif maen soundcloud disini? Jujur Yukei msh baru bgt soal beginian...emm, apa yang kalian pakai buat rekaman? Headset? Headphone? Mic? Earphone? Dan kalian pakai app apa buat ngeeditnya? Buat rekomendasi micnya atau headsetnya itu kalo bisa yang bisa dipake ke PC/laptop. Yukei tahu suara Yukei ini ngepas (mengingat hanya rasa nekad yg Yukei tampilin) tapi Yukei pengen bgt punya coveran sendiri gitu...siapa tahu klo beruntung ada yg like gitu... ^_^ (readers : ngarep amat, Yukei :biarkan saja.. :p)

Ah.. sudahlah.. Yukei mau bakil keduta happy for the day minnaa... ingat untuk REVIEW, REVIEW, REVIEW yaaaa...

Selamat hari lebaran. Minal aidzin wal faidin... (nyanyi dengan suara sumbang)

Pokoknya maafin Yukei yah. jika buaanyak kesalahan. Anyway, selamat mudik juga yaa...

REVIEW, REVIEW, REVIEW! *bawa pasukan kayak orang demo*