:: HIDE ::

Cast : Hoseok (Jhope) – Taehyung (V) – Jimin – and other(s)

Disclaimer : This is just a fict not a fact. They are belong to God.

Summary : "Mungkin akan lebih baik jika aku tetap seperti ini, tetap bersembunyi seperti ini…" It's a VHope/TaeSeokfanfiction

Warn : Yaoi, typo(s), this is Jhope!uke fanfiction
**Don't like? Just don't read :) Gamsahamnida**

.

.

.

"Aku pulang,,"

Jimin masuk ke dalam apartment dan langsung menuju sofa ruang tengah untuk berbaring. Ia menutup matanya, berniat untuk beristirahat sebentar karena penat yang dirasakannya. Akibat tugas mata kuliah yang membuatnya terpaksa mengerjakan tugas kelompok tersebut di rumah temannya, sepulang kuliah. Dan berakhirlah ia 7 jam berkutat dengan laptop, yang sukses membuat tubuhnya hampir remuk karena duduk berjam-jam lamanya.

"Chim, dari mana saja? Kenapa baru pulang?"

Sebuah suara tiba-tiba masuk ke dalam pendengarannya. Tanpa membuka matanya, ia tahu itu adalah suara Taehyung.

"Ya! Aku bertanya padamu, Chim!" seru Taehyung kesal karena pertanyaannya hanya dijawab gumaman-gumaman tidak jelas dari Jimin.

"Ahh, Tae, kau berisik! Aku lelah. Aku tadi mengerjakan tugas di rumah teman," jawab Jimin malas.

"Ara. Ara. Kau sudah makan? Aku tadi masak. Kalau kau mau makan, panaskan saja dari kulkas, ne?"

Lagi-lagi Taehyung hanya mendapatkan gumaman tidak jelas sebagai jawaban. Tapi kali ini ia tidak ambil pusing, karena ia tahu sang rambut orange caramel itu sedang lelah. Jadi ia lebih memilih duduk di sofa single yang berada di samping sofa yang ditiduri Jimin, berniat untuk menonton TV.

Baru saja Taehyung mendudukkan diri, Jimin tiba-tiba bangun dari tidurnya, dan sukses membuat Taehyung terlonjak kaget.

"YA! Kau mau membuatku jantugan?! Ada apa denganmu?!" protes Taehyung. Tapi yang ditanya malah memandangnya dengan wajah yang sulit diartikan, membuat Taehyung mulai panik sendiri.

"Wae? Wae? Kau seperti melihat hantu kalau seperti itu," ujar Taehyung asal.

"Jam berapa sekarang?" tanya Jimin.

"Eh?" Taehyung memandang Jimin seperti orang bodoh ketika pertanyaan tersebut keluar dari mulut namja di hadapannya. Tapi akhirnya ia melihat kearah jam yang berada di atas TV, dan seakan terhipnotis Jimin ikut memandang kearah jam tersebut dengan tatapan horor.

"Hampir setengah sebe….,"

"ASTAGA, TAE!"

Lagi-lagi Taehyung terlonjak kaget ketika mendengar seruan sekeras toa yang keluar seenaknya dari mulut Jimin.

"YA! Kau benar-benar ingin membuatku mati, eoh?! Ada apa sebenarnya?! Tingkahmu aneh," ujar Taehyung mulai hilang kesabaran.

Tapi Jimin seakan tidak peduli dengan cibiran Taehyung untuknya. Ia malah memandang namja itu dengan mata memelasnya. Dan Taehyung yang dipandang seperti itu malah merinding seketika.

"Tae, aku janji menjemput Hoseok hyung jam 10," ujar Jimin merasa bersalah.

Taehyung terbelalak mendengar peryataan Jimin. Kaget sekaligus bingung.

"Mwo?! Lalu kenapa kau tidak menjemputnya?" tanya Taehyung.

"Aku.. aku lupaaa. Eotteokhe?"

"Apanya yang 'eotteokhe', pabo? Sana kau pergi menjemputnya! Kau mau biarkan ia menunggu lama?" ujar Taehyung gemas sendiri mendegar kata-kata Jimin.

Jimin kembali menatap Taehyung dengan aegyo andalannya.

"Taeeeee,,, kau saja yang jemput Hoseok hyung, ne? Aku lelah, sungguh punggungku serasa akan remuk," Jimin merajuk. Taehyung menatap Jimin malas. Ia sudah menduga kalau akan seperti ini jadinya.

Melihat Taehyung yang hanya menatapnya, Jimin menyerah. Ia tahu Taehyung tak kan mempan dengan aegyo-nya, tapi apa salahnya mencoba?

"Tae, ayolah. Jebal, jebal. Aku lelah, tapi aku juga tidak tega membiarkan Hoseok hyung pulang sendiri. Kalau dia sakit lagi bagaimana?"

Saat mendengar kalimat terakhir Jimin, Taehyung langsung memandang namja itu dengan ekpresi kebingungan."Eh? Hoseok hyung sakit? Kapan?"

"Kemaren. Memang kau tidak tahu? Ani, maksudku bukankah aku sudah memberitahumu?"

Taehyung langsung menjitak kepala Jimin mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir namja itu, dan itu sukses membuat Jimin memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.

"Pabo, Chim! Kemaren saat aku pulang kau sudah tidur, siapa yang mau memberitahuku? Mana mungkin Hoseok hyung sendiri yang mau memberitahuku."

Jimin hanya membalas omelan Taehyung dengan cengirannya, sedikit merasa bersalah. Lagi-lagi Taehyung hanya menatapnya malas, lalu bangkit berdiri dan mengambil kunci motornya.

"Eoh? Kau mau ke mana?" tanya Jimin bingung saat melihat Taehyung berjalan keluar sambil membawa helm dan jacket.

"Tentu saja menjemput Hoseok hyung," ujar Taehyung sambil berlalu keluar apartment.

Senyum gembira langsung terbentuk di bibir Jimin.

"WOAHH! Gomawo Tae! Hati-hati di jalan!" seru Jimin senang, tepat sebelum ia mendengar suara pintu apartment yang tertutup.

.

.

Taehyung memakirkan motornya di depan tempat kerja Hoseok yang sudah gelap. Ia membuka helmnya dan mengedarkan pandangannya ke pekarangan depan café, berusaha mencari sosok Hoseok. Tapi nihil. Ia tidak menemukan namja itu di mana pun.

Akhirnya ia memutuskan untuk turun dari motor dan berniat mencari di sekililing café. Tak lupa ia juga membawa serta jacket yang ia bawa. Dan tak perlu waktu lama, ia sudah dapat melihat sosok Hoseok yang sedang duduk di salah satu bangku samping café.

"Hopie hyung!" Taehyung memanggil Hoseok ketika ia sudah dekat dengan tempat Hoseok duduk.

Hoseok yang sedang tertutup matanya dengan kepala yang disandarkan pada tembok di belakangnya, langsung membuka mata ketika mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan mendapati Taehyung yang sedang berjalan ke arahnya.

"Eoh, Taehyung-ah? Kau sedang apa?" tanya Hoseok bingung.

"Menjemputmu. Jimin harus mengerjakan tugas kuliah di rumah temannya, jadi aku yang menjemputmu," jelas Taehyung… hmm.. dengan sedikit mengurangi kejadian yang sebenarnya. Ya.., apa salahnya sesekali membantu teman pelupanya itu?

Hoseok mengangguk, lalu tersenyum pada namja di depannya.

"Gomawo, Tae."

Taehyung mengangguk sambil membalas tersenyum.

"Nah, ini, pakailah. Aku sudah duga hyung tidak membawa jacket. Padahal udara kan sedang dingin." Taehyung memberikan jacket di tangannya, dengan Hoseok yang kembali menggumamkan kata terima kasih.

"Kajja, hyung! Sudah larut malam, sebaiknya kita segera pulang," ujar Taehyung berjalan duluan, sedangkan Hoseok mengikuti di sampingnya.

BRUUKK!

"Astaga, hyung!"

Belum sampai 1 menit berjalan, tiba-tiba tubuh Hoseok ambruk. Taehyung dengan sigap menangkap tubuh Hoseok sebelum benar-benar menyentuh aspal. Ia memandang Hoseok yang sekarang berada dalam dekapannya dengan khawatir.

"Hyung, kau baik-baik saja?" tanya Taehyung khawatir. Tangannya ia ulurkan untuk menyentuh kening dan sekitar wajah Hoseok. Dan kepanikannya bertambah ketika mendapati tubuh Hoseok yang panas.

"Kau demam, hyung. Suhu badanmu tinggi sekali. Aihs, eotteokhe? Harusnya aku membawa mobil tadi, bukan motor."

Hoseok jadi tidak enak dengan Taehyung. Ia merasa lagi-lagi sudah merepotkan dongsaengnya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mengabaikan sakit di kepalanya.

"Nan gwaenchana, Tae-ah. Maaf merepotkanmu," ujar Hoseok lalu berusaha bangun dari posisinya.

"Kau yakin, hyung? Badanmu panas sekali. Apa kita naik taksi saja?"

"Ani, tidak perlu. Hyung baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," ujar Hoseok berusaha meyakinkan Taehyung.

Taehyung memandang Hoseok sebentar. Ia tahu Hoseok sedang –berusaha- berbohong untuk terlihat baik-baik saja. Akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas.

"Kalau begitu, sebaiknya kita segera pulang, hyung. Aku tidak ingin demam-mu bertambah tinggi," ujar Taehyung, dan Hoseok mengangguk, menuruti perkataan dongsaengnya tersebut. Taehyung membantu Hoseok untuk berdiri. Lalu merangkul pinggang Hoseok untuk membantunya berjalan sampai di tempat ia memarkirkan motornya.

"Kau tidur saja, hyung. Kau bisa bersandar di punggungku," ujar Taehyung setelah keduanya berada di atas motor. Hoseok tersenyum, lalu mengangguk.

"Sekali lagi gomawo Tae, maaf merepotkanmu," ujar Hoseok, lalu menyandarkan kepalanya di punggung Taehyung. Kepalanya yang sakit sedikit berkurang ketika dirinya mulai nyaman pada punggung lebar Taehyung. Matanya ikut terpejam, karena dirinya pusing dan pandangannya berkunang-kunang.

Taehyung tersenyum ketika menemukan Hoseok mulai nyaman bersandar di punggungnya, padahal ia yakin posisi tidur seperti itu tidak enak. Ia memakai helm dan menyalakan mesin motornya, lalu segera menjalankan motornya pulang ke apartment mereka.

.

.

Taehyung berusaha mengetuk pintu apartment menggunakan kakinnya, sambil berharap penghuni yang ada di dalamnya masih terjaga. Sesekali ia menatap orang dalam gendongannya yang tak sadarkan diri dengan peluh yang mengalir di sekitar wajahnya. Perasaanya menjadi campur aduk, antara cemas, khawatir, gelisah, dan kesal sendiri karena pintu di depannya tak kunjung terbuka.

Hampir saja ia putus asa dan memutuskan untuk berusaha sendiri memencet password pintu apartmentnya, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu yang terbuka. Pintu di hadapannya terbuka, menampilkan sosok Jimin dengan mata setengah ngantuknya. Sepertinya namja ini langsung tertidur ketika Taehyung meninggalkannya untuk menjemput Hoseok, dan terbangun karena ketukan –kaki Taehyung- pada pintu apartment. Terbukti dari pakaian Jimin yang belum berganti dengan pakaian tidur padahal wajahnya sangat khas orang baru bangun tidur.

Namun kantuk Jimin langsung hilang ketika melihat Hoseok dalam gendongan Taehyung.

"Hoseok hyung? Apa yang terjadi padanya?" tanya Jimin dengan khawatir.

"Errghh. Kau bisa geser sedikit? Kau menghalangi jalan, aku ingin membawa Hoseok hyung masuk," ujar Taehyung, dan dituruti oleh Jimin yang langsung menggeser posisinya dari pintu.

Taehyung masuk ke dalam apartment dan berjalan kearah kamar mereka. Jimin segera menutup pintu dan mengejar Taehyung, lalu membukakan namja itu pintu kamar. Taehyung segera menidurkan Hoseok di atas ranjang, dan mengecheck suhu tubuh Hoseok menggunakan punggung tangannya. Benar saja dugaannya, suhu tubuh Hoseok lebih panas daripada saat mereka masih di café.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Jimin lagi.

"Ia demam. Saat di café tadi suhu tubuhnya tidak sepanas ini, tapi saat kami di lift, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dan sekarang suhu tubuhnya lebih panas dibanding saat kami di café," jelas Taehyung sambil menatap Jimin.

Jimin tidak berkomantar apa pun. Ia hanya memandang bersalah pada Hoseok yang terbaring di atas ranjang, merasa kalau dirinya-lah penyebab Hoseok sakit. Mungkin Hoseok memang belum sepenuhnya sembuh karena sakitnya kemarin, tapi ia yakin pasti Hoseok terlalu lama menunggunya sehingga udara dingin memperparah penyakitnya.

"Hey, jangan sibuk dengan pikiranmu sendiri, Chim," ujar Taehyung menyadarkan Jimin dari lamunannya. Ia tahu pasti Jimin merasa bersalah pada Hoseok, menyalahkan dirinyalah penyebab Hoseok sakit. Dan Jimin hanya tersenyum kecil sambil menatap Taehyung.

"Aku akan mengambil air dulu untuk mengompres Hoseok hyung," ujar Taehyung lalu beranjak menuju kamar mandi.

Jimin kembali menatap Hoseok sebentar, lalu menghela nafasnya.

"Mianhae, hyung. Cepat sembuh, ne?" gumam Jimin pelan. Ia mengelus surai Hoseok sekilas, lalu beranjak keluar kamar, berniat untuk membuatkan Hoseok bubur.

Baru saja Jimin keluar dari kamar, Taehyung keluar dari kamar mandi dengan baskom kecil berisi air di tangannya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari Jimin, tapi tak menemukan namja itu di sekitar kamar. Namun ia tak ambil pusing. Ia meletakkan baskom tersebut di meja nakas samping ranjang, lalu mengambil handuk kecil yang berada di dalam laci.

Dirinya baru saja berniat untuk mengompres Hoseok, tapi diurungkannya ketika melihat penampilan Hoseok yang masih berpakaian lengkap, baju kerja dengan jacket dan sepatu. Membuat Taehyung berpikir kalau Hoseok tidak akan nyaman tidur dengan pakaian lengkap seperti itu, dan ia yakin pakaian Hoseok sudah basah karena peluh yang sedari tadi membanjiri tubuh namja tersebut.

Akhirnya, setelah melalui kebimbangan dan beberapa pertimbangan, ia memutuskan untuk mengganti baju Hoseok. Ia yakin Hoseok akan jauh lebih nyaman jika menggunakan pakaian tidur dibanding pakaian kerjanya yang basah dengan keringat. Bisa-bisa namja itu bukannya sembuh, malah bertambah sakit karena menggunakan pakaian basah saat tidur.

Taehyung kembali beranjak dari ranjang, dan membuka lemari pakaian, mencari pakaian tidur Hoseok di antara tumpukan baju mereka. Setelah menemukannya, ia kembali ke tempatnya semula, dan segera membuka pakaian Hoseok satu persatu-satu. Taehyung juga mengelap peluh yang berada di tubuh namja itu sebelum memakaikan baju tidur. Baru setelahnya, ia mengompres Hoseok dengan air yang dibawanya.

Tak berapa lama Jimin masuk ke dalam kamar. Taehyung yang baru saja selesai mengecheck suhu tubuh Hoseok dengan thermometer, menoleh kearah Jimin yang berjalan menuju sisi ranjang dekat jendela.

"Kau habis dari mana?" tanya Taehyung, ikut berbaring di sisi ranjang dekat meja nakas (posisi Hoseok di tengah), setelah mengembalikan thermometer ke dalam laci.

"Memasak bubur untuk Hoseok hyung. Jadi kalau ia bangun tinggal dipanaskan," ujar Jimin lalu menguap, tampaknya ia mulai kembali mengantuk.

"Berapa suhu tubuhnya?" tanya Jimin tiba-tiba, setelah beberapa detik mereka hanya terdiam.

"38 derajat."

Jawaban singkat dari Taehyung membuat Jimin menghela nafas, lalu menatap Hoseok. Tangannya terulur untuk mengelus surai hitam Hoseok, kebiasaannya dan Taehyung sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa kali Jimin menguap, tapi masih berusaha terjaga. Dan Taehyung yang melihatnya tersenyum kecil.

"Tidurlah, Chim kalau memang masih ngantuk." ujar Taehyung akhirnya. Kasihan juga melihat sahabatnya tersebut yang berusaha menahan kantuk.

"Soal Hoseok hyung, kau tenang saja, aku tadi sudah mengompresnya dan memeriksa suhunya. Kita tinggal tunggu esok hari, semoga suhunya tubuhnya sudah turun," jelas Taehyung ketika mendapat gelagat ingin protes dari Jimin.

"Kau sendiri?"

"Aku juga akan tidur setelah mengganti kompresan Hoseok hyung."

Jimin mengangguk singkat, dan memilih mengikuti saran Taehyung.

"Kalau begitu, Jaljayo, Tae-ah. Kau juga segeralah tidur," ujar Jimin lalu menutup matanya yang mulai terasa sangat berat untuk terbuka.

"Ne, jalja," balas Taehyung singkat.

Selang beberapa detik, Taehyung bangun dari posisi tidurnya kemudian mengambil handuk kecil yang berada di kening Hoseok. Ia memasukkannya ke dalam air lalu memerasnya, dan kembali menaruh handuk tersebut pada kening Hoseok. Setelahnya memastikan semuanya sudah beres, ia kembali berbaring. Ia juga sudah mengantuk, matanya sudah terasa berat, mengingat sekarang waktu menunjukkan jam setengah 1 pagi.

Taehyung memandang Hoseok beberapa lama. Dan seperti yang Jimin lakukan, ia mengelus surai hitam Hoseok, dengan matanya yang perlahan-lahan mulai tertutup ketika merasakan kantuk yang semakin menyerangnya.

"Jaljayo, hyung. Aku harap kau cepat sembuh," gumam Taehyung sambil masih mengelus rambut Hoseok, sampai ia benar-benar jatuh ke alam mimpinya.

.

.

.

#ToBeContinue

ANNYEONG! Apa kabar chingudeul? Saya kembali dengan chapter 2 dari 'Hide'.

Senang banget waktu tahu ternyatada ada readers yang menyukai pairing ataupun cerita aku, dan bersedia untuk review. Thank you so much guys. Kalian membuatku kembali termotivasi untuk nulis, dan berusaha menyelesaikan chapter 2 ini dengan cepat. Hadiah karena keterharuan saya T_T. Di samping itu saya juga terpuruk dengan semakin maraknya couple VKook di luar sana. Setiap saya cari VHope di IG/di mana pun, saya jadi gemes sendiri yang keluar kebanyakan malah VKook, dan akhirnya batal mencari referensinya. Haahh.. Ya sudahlah. Tak apa. Saya menghargai mereka yang memang lebih banyak shipper-nya. Semoga update-nya sudah cukup cepat.

Dan saya harap kalian suka dengan chapter 2 ini. Maaf banget untuk cerita yang absurd, gak jelas, dan bertele-tele. Apalagi udah dua chap ini Hoseok dibuat sakit, aku merasa bersalah tapi ini demi kelangsungan cerita. Untuk konflik, di sini masih belum ada, saya mungkin akan mulai dengan kisah bahagia dan berusaha menunjukkan sisi sweet dari VHope. Karena saya sadar betul kalau 2 chap ini yang lebih menonjol malah JiHope (sekali lagi maafkan saya). Untuk VHope-nya akan saya perbanyak di chap-chap selanjutnya, JiHope juga pasti akan muncul, tapi sebagai pelengkap bumbu cerita. Konfliknya mungkin akan muncul di chap 3/4/5. Jujur saya masih belum tahu, karena belum tepikirkan jembatan-jembatan yang menghubungkan ke cerita inti. Sesuai yang saya bilang, saya buat cerita gak pernah prepare apa-apa. Semua terpikirkan seiring dengan berjalannya waktu. Saya juga masih harus cari referensi lebih mendalam soal inti cerita yang akan saya buat, dan masih bisa berubah sewaktu-waktu. Doakan saja semoga cerita ini ga berakhir menjadi absurd.

Oh ya, btw readers silahkan follow account social media saya:
minzz9594 (Instagram and Twitter)
Yang ingin request ff dengan pair VHope, JiHope, KookHope (with uke JHope) silahkan. Atau yang ingin request ff HunKai (uke Kai), 2Min, LeoN [intinya pair yang bisa saya buat alias saya suka], moggo silahkan, saya akan coba buatkan sebagai selingan untuk ff 'Hide' yang mungkin akan berakhir panjang. Hehe :D

Dan…. Untuk kali ini, saya –kembali- berharap para readers akan meninggalkan jejak (read: review) ya. Karena jejak kalian menjadi motivasi tersendiri buat saya untuk kembali lanjut menulis :D

Oke, sekian dulu dari saya. See you in next chapter, ANNYEONG! :D

.

#ReplyforReview

hopieaf

Iyaa.. saya setuju dengan kamu. Tampang Hoseok seme banget (apalagi kalau lagi di MV/photoshoot), tapi sikapnya uke banget. Manja dan masih kekanakkan, tapi punya jiwa sebagai eomma yang perhatian banget sama ke member(s)nya.
Saya juga ga suka ama yang main stream hohoho. Mungkin kita jodoh(?) #loh
Oke ini udah dilanjut yaa,, thanks for review :D

Hanami96

Iya, chingu, ini bakal vhope nantinya. Jihope di sini kayak brothership gitu degh, kayak brother complex gitu jatuhnya hmmzz #sedikitbocoran.
Yoa Jhope always uke for my story :) Dan Jhope memang selalu cute,, arrghh *screamloudly*
Woahh makasih udah dibilang bagus. Saya terhura T-T. Thanks juga reviewnya, dan ini udah lanjut Yoo! :D

hopekies

Iya,, chingu. Ini Jhope uke, *sorry* #bowdown
Thanks udah mau baca dan review. Dan ini dia lanjutannya :D

Abbey Woo

Iyaaa,, setuju! WOAH WOAH :D
Thanks udah RnR dan nunggu kelanjutannya. Ini udah dilanjut nee? :D

Woah, benarkah menarik? Gomawo gomawo #bowdown
Ini udah dilanjut chingu,, sudah cukup cepat kah?
Thanks for review :D

Seoltang

Minhope shipper kah?
Tapi chingu ini bakal vhope nantinya. Tak apakah? Saya harap kamu juga suka ne?
Thanks for review btw :D

Dhewii Kim

UWAHH! Jinjja? Jinjja? Nado nado :D

Oke,, ini udah dilanjut ne? Semoga suka

Thanks for review :D