:: HIDE ::

Cast : Hoseok (Jhope) – Taehyung (V) – Jimin – and other(s)

Disclaimer : This is just a fict not a fact. They are belong to God.

Summary : "Mungkin akan lebih baik jika aku tetap seperti ini, tetap bersembunyi seperti ini…" It's a VHope/TaeSeokfanfiction

Warn : Yaoi, typo(s), this is Jhope!uke fanfiction
**Don't like? Just don't read :) Gamsahamnida**

.

.

.

Hoseok terbangun dari tidurnya. Matanya ia kerjapkan, membiasakan dengan cahaya di sekitarnya. Tanpa sadar ia kembali memejamkan kedua matanya ketika merasakan pening yang menyerang dirinya. Ingatan kalau ia tidak sadarkan diri pada saat berada di lift dengan Taehyung, menghampiri dirinya.

Ia mengedarkan pandangannya, dan baru sadar kalau hanya ia sendiri yang menghuni ranjang tersebut. Sekilas ia melihat jam di meja nakas yang menunjukkan pukul 10.00. Dirinya berniat untuk bangun, tapi diurungkannya ketika kepalanya kembali terasa pening. Ahh, sepertinya demamnya belum benar-benar turun.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Taehyung yang datang membawa nampan, dengan segelas air, semangkuk bubur, dan obat.

"Oh? Hyung, kau sudah bangun?" ujar Taehyung ketika melihat Hoseok yang sedang memandang dirinya.

"Ah, ne," jawab Hoseok singkat.

"Kalau begitu, hyung makan dulu, lalu minum obat."

Hoseok mengangguk, lalu berusaha bangun dari tidurnya. Taehyung dengan segera membantu Hoseok untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Ia tahu kalau Hoseok belum benar-benar sembuh, walaupun demamnya sudah turun, wajah namja itu masih terlihat pucat, tubuhnya pun masih lemas.

Setelah membantu Hoseok duduk, Taehyung mengambil bubur di atas meja nakas. Menyendok sesuap lalu meniup sebentar bubur hangat tersebut.

"Nah, jja, buka mulutmu, hyung. Aaaa." Taehyung menyodorkan satu sendok bubur tersebut ke depan mulut Hoseok, layaknya ia menyuapi anak kecil.

Hoseok yang diperlakukan seperti itu, tanpa sadar pipinya memerah. Hal yang selalu terjadi saat ia merasa malu.

"Ahh,, tidak perlu Tae, aku bisa makan sendiri," ujar Hoseok.

Namun saat tangannya baru akan mengambil alih bubur tersebut, Taehyung segera menjauhkannya dari jangkauan Hoseok, sehingga namja itu tidak bisa mengambilnya.

"Ani, ani. Biarkan aku yang menyuapimu, hyung. Lihatlah kau masih sakit. Pipimu saja merah sekali, sepertinya demam mu bertambah naik." Taehyung reflek menaruh punggung tangannya di dahi dan leher Hoseok, berniat mengecheck suhu tubuh namja tesebut. Tapi dahinya mengerut ketika merasakan suhu tubuh Hoseok masih sama seperti saat terakhir kali ia membantu namja itu bangun. Sedangkan Hoseok, wajahnya sudah bertambah merah.

"Hm? Sepertinya tidak naik. Baguslah," gumam Taehyung, berbicara pada dirinya sendiri.

Taehyung mengalihkan perhatiannya pada namja di hadapannya yang sedang sibuk menunduk. Hanya beberapa detik, sebelum raut wajah Taehyung berubah, ia menampilkan smirk nya dan mendekatkan wajahnya pada Hoseok.

"Eiihh.. Hyung, kau sedang malu?" tanya Taehyung dengan sedikit berbisik.

Hoseok yang kaget mendengar suara Taehyung yang sangat dekat, reflek menoleh. Dan dirinya kembali dibuat terkejut ketika mendapati wajah Taehyung yang hanya berjarak kurang dari 5 cm dari wajahnya. Semua itu sukses membuat wajah Hoseok kembali memerah padam. Taehyung yang melihatnya reflek terkikik geli, senang berhasil menggoda hyungnya tersebut.

"Aigoo hyung, neomu kwiyowo," ujar Taehyung gemas sendiri. Ia mengusak surai hitam Hoseok lalu mencubit pipi namja tersebut.

Hoseok yang melihat reaksi Taehyung menjadi bertambah malu dan kesal sendiri di saat yang bersamaan. Ia mempoutkan bibirnya layaknya anak kecil yang sedang merajuk.

"Uuuhh,, Tae. Sudahlah, kemarikan buburnya, aku mau makan sendiri." Hoseok kembali berusaha mengambil mangkuk bubur di tangan Taehyung, tapi-tapi lagi-lagi reaksi Taehyung lebih cepat darinya untuk menjauhkan bubur tersebut dari jangkauan Hoseok.

"Eiitss, ani. Aku sudah bilang tadi kalau aku yang akan menyuapimu, hyung. Nah, jja, makan buburnya lalu minum obat dan istirahat. Supaya kau lekas sembuh," ujar Taehyung menyodorkan kembali sesendok bubur ke depan mulut Hoseok.

Hoseok masih diam, menunjukkan aksi ngambeknya. Mulutnya enggan membuka untuk memakan suapan dari Taehyung.

Taehyung yang melihat tingkah kekanakan Hoseok, terkikik geli. "Aigoo, hyung. Jangan ngambek terus. Aku bisa mencubitmu terus kalau seperti itu. Jja, Aaaa…"

Hoseok mendumel tidak jelas, mendegar perkataan Taehyung. Ia sedikit melirik kearah Taehyung lalu pindah ke bubur di hadapannya. Akhirnya ia membuka mulutnya dan memakan bubur yang mulai dingin tersebut.

Taehyung tersenyum lebar. "Good boy," ujarnya sambil mengusak surai hitam Hoseok.

.

.

"Selamat malam, semua. Terima kasih untuk hari ini." Hoseok membungkukkan badannya, memberi salam kepada semua teman kerjanya, sebelum ia keluar dari café tempatnya bekerja. Ya, sudah seminggu Hoseok kembali bekerja, setelah selama 2 hari ia beristirahat total di apartment, ditemani Taehyung dan Jimin.

"Hoseokie-ya.."

Baru saja Hoseok akan menuju pintu keluar, tapi ia urungkan ketika mendegar namanya dipanggil. Ia menoleh dan mendapati Namjoon sedang menghampirinya. Ia tersenyum menyambut manager, sekaligus orang terdekatnya tersebut –selain Taehyung dan Jimin-.

"Kau pulang dengan siapa? Mau kuantar?" tanya Namjoon setelah ia sudah berada di hadapan Hoseok.

"Oh? Tidak, tidak perlu."

"Wae? Sebaiknya kau diantar pulang saja, Seokie-ya. Pikirkan dirimu," ujar Namjoon dengan nada sedikit khawatir di sana.

Hoseok hanya tersenyum maklum. "Ani, tidak perlu. Percayalah aku akan baik-baik saja."

Tiba-tiba handphone Hoseok berbunyi, menginterupsi percakapannya dengan Namjoon. Ia mengambil handphone tersebut dari kantung jacketnya, dan melihat nama bertuliskan 'Taehyungie' di layarnya. Ia tersenyum sebentar kearah Namjoon, meminta izin untuk mengangkat telponnya.

"Ne, yeoboseyo?"

"Hopie hyung, kau sudah pulang kerja?"

"Ahh, ne. Baru saja akan keluar."

"Wahh, timing-nya pas sekali. Kalau begitu hyung ke depan, ne? Aku akan jemput.

"Eoh? Tidak usah, aku…,"

"Keluarlah. Aku sudah di depan,"

"Eh?"

"Ppali, hyung."

"Ah, ne, ne. arasseo."

"Okee, aku tunggu."

Hoseok memutuskan sambungan telephone. Mengalihkan kembali perhatiannya pada Namjoon yang sedari tadi masih menunggunya.

"Ehh, Namjoon-ah, aku balik duluan, ne?"

"Kau yakin tidak mau diantar?" tanya Namjoon lagi

"Ahh, tidak perlu. Taehyung ternyata menjemputku."

"Eh? Taehyung?"

"Ne. Dia sudah ada di depan. Aku balik duluan, ne? Selamat malam Namjoon-ah."

Hoseok baru saja akan keluar pintu, tapi kembali tertahan ketika Namjoon kembali memanggilnya.

"Jangan lupa istirahat, Hoseok-ah. Kita libur hampir sebulan, manfaatkanlah dengan baik," ujar Namjoon, membuat Hoseok tersenyum mendengarnya.

"Ne, aku tahu. Sampai bertemu tahun baru nanti, Joonie-ya." Hoseok melambaikan tangannya sebelum benar-benar keluar dari café.

Namjoon masih berdiri di tempatnya sampai Hoseok tidak terlihat di pandangannya kembali.

"Sejak kapan…," gumamnya

"Sejak seminggu yang lalu."

Namjoon terlonjak kaget ketika mendengar suara tiba-tiba yang berasal dari balik punggungnya. Ia segera berbalik dan menemukan wajah Yoongi yang sedang memandangnya dengan ekpresi datarnya.

"Aihhs! Hyung, kau menganggetkanku!" ujar Namjoon. Yoongi hanya tersenyum sekilas dan berpindah ke sebelah Namjoon.

"Semenjak seminggu yang lalu, setelah Hoseok kembali bekerja, ia selalu dijemput oleh Taehyung atau Jimin. Tampaknya kedua orang itu menjadi over protective pada Hoseok. Jimin pernah bilang, kalau sudah sekian lama Hoseok tidak pernah sakit separah itu," jelas Yoongi.

"Benarkah? Baguslah, aku khawatir waktu kau beri tahu Hoseok sakit." Yoongi tersenyum mendengar penuturan Namjoon.

Namjoon menghela nafas. Ada 1 yang menganggu pikirannya. "Hyung, apa mungkin, Taehyung dan Jimin sudah tahu?"

Pertanyaan Namjoon, membuat Yoongi memandang Namjoon. Cukup kaget dengan pertayaan yang keluar dari namja tiang listrik di sampingnya. Hanya beberapa detik, sebelum ia kembali mengalihkan perhatiannya, memandang lurus ke depan.

"Entahlah. Mungkin belum. Kalau tidak Hoseok pasti tidak akan masuk kerja lagi. Tapi bagaimanapun juga, mereka tinggal satu atap sekarang, sepandai-pandainya Hoseok menyembunyikan, pasti akan ketahuan juga, cepat atau lambat," jawab Yoongi. Namjoon menghela nafasnya kembali lalu mengangguk, menyutujui ucapan Yoongi.

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Kau hati-hatilah di jalan," pamit Yoongi.

"Ehh, hyung. Aku antar saja. Aku sekalian mau ke rumah Jin," ujar Namjoon sebelum Yoongi sebelum namja itu melangkah keluar café. "Tunggu sebentar, aku ingin mengunci café dulu."

Setelah memastikan bahwa semua karyawannya sudah pulang, semua lampu café ia matikan, hingga keadaan sekeliling café benar-benar gelap. Lalu Namjoon segera mengunci café yang akan libur sebulan tersebut, dan segera menghampiri Yoongi yang sedang menunggu di dekat area parkir.

.

.

Hoseok keluar dari kamar. Ia baru saja bangun dari tidurnya, lalu segera menuju ke dapur. Dan dirinya mendapati Jimin di sana. Ia tersenyum lalu dengan sedikit berlari, ia menghampiri Jimin lalu memeluk namja itu dari belakang.

"OH!" Jimin terlonjak ketika mendapat serbuan tiba-tiba. Dirinya segera menoleh, mengecheck siapa sang pelaku, dan mendapati Hoseok yang sedang tertawa.

"Aigoo, hyung. Kau mengangetkanku," ujar Jimin lalu menyikut pelan Hoseok yang masih sibuk tertawa. Sepertinya sangat senang melihat target kejahilannya kaget seperti tadi.

Hoseok berusaha meredakan tawanya, lalu mengintip dari balik punggung Jimin, ingin melihat apa yang sedang dikerjakan dongsaengnya. "Kau sedang apa, Chim?"

"Igeo, kau mau?" Jimin menyodorkan sepotong kue ke depan mulut Hoseok, yang langsung disambut baik oleh Hoseok.

"Enak kah?" tanya Jimin dan dijawab anggukan oleh Hoseok.

"Jinjja, mashita. Itu red velvet?" ujar Hoseok memastikan.

Kali ini Jimin mengangguk, mengiyakan pertanyaan Hoseok. "Kemarin Taehyung membawanya. Lalu ia suruh aku memotognya pagi ini," jelas Jimin.

"Oh? Jadi kue di kotak besar itu redvelvet." Ingatan Hoseok kembali saat Taehyung menjemputnya semalam. Ia melihat kotak besar itu di jok belakang mobil, dan Taehyung bilang kalau itu adalah kue dari teman kuliahnya. "Kira-kira.. siapa yang memberikannya?" gumam Hoseok tanpa sadar.

Jimin yang mendengarnya, menoleh ke arah Hoseok, lalu tersenyum. "Kau khawatir hyung?"

"Eh? Ahh.. ani," jawab Hoseok sambil tersenyum canggung. Pipinya bahkan sudah bersemu merah, malu sendiri dengan pertanyaan yang tanpa sadar ia lontarkan.

"Aigoo, hyung. Kau tenang saja, kau pasti yang pertama untuknya," jawab Jimin, sambil terkikik melihat wajah hyungnya yang sudah merah padam.

"Ihhss, kau ini bicara apa!" ujar Hoseok lalu beranjak ke ruang tengah. Disusul oleh Jimin di belakangnya yang membawa sepiring besar potongan red velvet.

"Taehyung ke mana?" tanya Hoseok setelah red velvet yang disuapi oleh Jimin habis di mulutnya.

"Aigoo, hyung dari tadi menanyakan hal tentang Taehyung. Mengkhawatirkan keadaan sang kekasih tercinta, hm?"

"Kami bukan sepasang kekasih Chim."

"Tapi kau menyukainya."

SKAKMAT! Hoseok terdiam. Lagi-lagi wajahnya memerah, dan disambut oleh gelak tawa Jimin.

"Aihhss! Anak ini, benar-benar. Lebih baik kau habiskan kue dalam mulutmu itu daripada berbicara terus," ujar Hoseok yang masih menahan malu. Sedangkan Jimin malah memeluknya, dan sesekali kembali menggoda Hoseok.

Hoseok memang menyukai Taehyung sejak mereka duduk di bangku SD. Dan Jimin, sebagai salah satu sahabat Hoseok sejak kecil, tentu saja tahu akan hal itu dan dengan senang hati mendukung jika hyung dan dongsaeng kesayangannya tersebut suatu saat akan bersatu. Walaupun sampai sekarang, hubungan keduanya hanya mendapat kemajuan sangat sedikit.

Di saat, Jimin dan Hoseok sibuk bersenda gurau, tiba-tiba pintu apartment terbuka, memperlihatkan sosok Taehyung yang masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Dan Hoseok segera tahu kalau Taehyung habis berbelanja.

"Kekasihmu sudah balik," bisik Jimin di telinga Hoseok, lalu segera berlari menghampiri Taehyung, membantu namja itu membawa beberapa kantong belanjaan yang cukup banyak. Lebih tepatnya, ia menghindari amukan Hoseok karena lagi-lagi digoda olehnya.

Dan benar saja, tidak berapa lama Hoseok berseru dengan keras, "CHIM! AWAS KAU!"

Hoseok berlari mengejar Jimin, dan bertubi-tubi memukul pelan lengan namja yang tubuhnya lebih athletis darinya tersebut –walaupun tidak lebih tinggi-. Sedangkan Jimin hanya tertawa lalu berlalu menuju dapur.

"Kalian ini kenapa?" tanya Taehyung yang sedari tadi bingung melihat tingah kedua sahabatnya. Hoseok segera mengalihkan perhatiannya pada Taehyung, membuarkan Jimin yang berlalu ke dapur masih dengan tawa.

"Ani, gwaenchana. Jja, sini kubantu." Hoseok mengambil 2 kantong belanjaan yang masih ada pada Taehyung, dan menyisakan satu kantong di tangan namja yang lebih tinggi darinya tersebut, lalu beranjak menuju dapur. Ia menaruh belanjaan tersebut bersama belanjaan yang dibawa Jimin.

"Kau mau masak Chim? Tumben sekali," tanya Hoseok ketika melihat Jimin mengeluarkan beberapa isi dari kantong belanjaan.

"Makanan dari rumah akan jauh lebih sehat hyung. Dan tentunya akan lebih lezat, karena aku yang memasak, hohoho."

"Kau ini pede sekali, siapa yang bilang masakanmu enak? Rasanya jauh berbeda dengan masakan Hopie hyung," sahut Taehyung dengan mulutnya yang tengah mengunyah kue.

"Setidaknya lebih enak dari masakanmu."

"Eoh? Siapa bilang? Masakanku jauh lebih enak,"

"Eiihh, ya ya, stop stop! Kalian kenapa jadi bertengkar? Haaahh. Masakan kalian sama-sama enak. Ara?" ujar Hoseok menengahi. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu. Lalu aku akan bantu memasak. Chankkaman."

.

.

"Chim, kenapa lama sekali, ya?"

"Apa? Masakannya? Sebentar lagi juga akan jadi."

"Aniii. Maksudku Hoseok hyung. Dia mandi sudah 45 menit."

"Eoh? Jinjja? Sudah selama itukah?" tanya Jimin lalu melirik jam. Sedari tadi ia tidak sadar kalau Hoseok sedang pergi mandi dan belum keluar sama sekali. Masakannya saja sudah hampir jadi semua.

"Entah kenapa perasaanku tidak enak," sahut Taehyung.

"Ihhss! Jangan berpikiran seperti itu! Sebaiknya kau check."

Taehyung mengangguk lalu beranjak dari dapur menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.

TOK TOK TOK

"Hyung? Kau belum selesaikah?" seru Taehyung dari luar kamar mandi. Namun ia tak mendapatkan jawaban apa pun. Hanya terdengar suara guyuran air shower yang membuatnya berpikir kalau Hoseok masih sibuk mandi.

"Hyung? Hopie hyung?" seru Taehyung lagi, masih berusaha mendapatkan jawaban dari namja di dalam kamar mandi, padahal ia sudah lebih mengeraskan suaranya.

"Hoseok hyung? Kau baik-baik saja?" dan untuk ketiga kalinya seruannya hanya dijawab oleh suara air. Rasa khawatirnya malah semakin menjadi.

"Hyung aku masuk, ya?" tanyanya untuk yang terakhir kali, dan langsung membuka pintu kamar mandi yang untungnya tidak kunci.

"Hyu..hyung?!"

.

.

.

#ToBeContinue

Annyeong! Akhirnya bisa muncul lagi. Maaf update nya lama banget. Beberapa minggu belakangan saya sibuk dengan tugas sekolah, UTS dan ulangan-ulangan yang langsung dikebut setelah UTS. Sekali lagi maaf *bow down*

Senang rasanya bisa muncul lagi. Tangan rasanya kemaren-kemaren udah greget pengen nulis tapi gaada waktu terus. Dan akhirnya setelah 3 minggu-an ya? Akhirnya bisa kambeekk :D Maaf juga sebelumnya kalau banyak typo, karena gak dicheck lagi sebelum update, hehe :p

Seperti biasa saya masih frustasi dengan VHope shipper yang sedikit sekali, terutama dengan uke!Hoseok/Jhope. Tapi ternyata itu semua terobati, waktu saya menemukan beberapa fanfic (bahasa inggris memang) dengan uke Hoseok. Ahh.. rasanya rasa kangen sama VHope moment bisa terobati sedikit, walaupun hanya lewat fanfic.

Oke, berhubung saya gak bisa lama-lama, segini dulu, ne? Saya usahakan berikutnya akan update secepatnya. Thanks to readers yang udah read dan review. And for this chapter, I hope you will like and still RnR my fanfiction. Annyeong!

*NB: untuk IG dan twitter, aku buat khusus untuk fandom, biasanya aku update tentang VHope/JiHope/JHope sama member BTS lain (Intinya tentang BTS :p). Usernamenya: vhopieminz

.

#ReplyforReview

DozhilaChika

Uwahh,, senang rasanya ada teman yang sehati. Makasih udah RnR yaa. Maaf update-nya lama. Saya kepepet UTS dan ulangan-ulangan kemaren :")
Astaga sampe sumsum tulang belakang ;D
Di chap ini awal konflik kok. Semoga sabar menunggu… hehehe
Ahh,, me too VHope hardshipper hehehe. Kita memang sehati :D :D
Hope you enjoy for this chap :)

ChiminChim

Iyaa, ini ukenya Hoseok, chinguu.
Iyaaa,, aku sedih banget ngeliat TaeTae nempel mulu ama orang lain, si Hopiee kesepian tuhh
Gomawo for RnR :)

hopekies

Hahahaha mian mian. Aku anti mainstream(?)
Iyaa,, chingu kita harus tetap menghargai shipper lain. Saya paling gak suka fanwar soalnya. ARMY are one, right? Hehe :D Lagipula mereka juga tetep bias aku di BTS (all members in BTS are my bias btw kkk), walaupun aku bukan sebagai shipper OTP mereka, but still love them so much :3
Untuk penyakit Hoseok, silahkan liat di next chap yoms. Thanks for RnR :)

fa nikopa

Ahhh,, senang kamu bisa sukaa. Thankss banget lohh,, aku terhura bacanya ;D
Thanks for RnR :)

AiniChanXiuHan

Ahhh setuju sekali sama kamuuuu :3
Thanks for RnR :)

mphiihopeworld

Maaf maaf kalau mengecewakan, tapi makasih karena udah suka, hehe
Thanks for RnR :)