:: HIDE ::

Cast : Hoseok (Jhope) – Taehyung (V) – Jimin – and other(s)

Disclaimer : This is just a fict not a fact. They are belong to God.

Summary : "Mungkin akan lebih baik jika aku tetap seperti ini, tetap bersembunyi seperti ini…" It's a VHope/TaeSeokfanfiction

Warn : Yaoi, typo(s), this is Jhope!uke fanfiction
**Don't like? Just don't read :) Gamsahamnida**

.

.

.

Taehyung berjalan kearah kamar mandi dengan sedikit tergesa. Perasaan khawatir terselip di hatinya. Menurutnya ini janggal, ketika Hoseok sudah 45 menit berada di kamar mandi dan belum keluar. Karena selama apapun Hoseok di kamar mandi, itu pun hanya 20 menit. Tidak pernah lebih.

TOK TOK TOK

"Hyung? Kau belum selesaikah?" seru Taehyung dari luar kamar mandi. Ia menunggu beberapa detik. Namun ia tak mendapatkan jawaban apa pun. Hanya terdengar suara guyuran air shower yang membuatnya berpikir kalau Hoseok –mungkin- masih sibuk mandi atau –mungkin- suaranya terlalu kecil.

"Hyung? Hopie hyung?" seru Taehyung lagi, masih berusaha mendapatkan jawaban dari namja di dalam kamar mandi dengan mengeraskan suaranya.

"Hoseok hyung? Kau baik-baik saja?" dan untuk ketiga kalinya seruannya hanya dijawab oleh suara air. Rasa khawatirnya yang tadinya hanya sedikit, malah menjadi besar. Dirinya mulai gelisah, dan pikiran-pikiran buruk mulai merasuki dirinya.

"Hyung aku masuk, ya?" tanyanya untuk yang terakhir kali. Dan tanpa menunggu respond dari dalam, Taehyung langsung membuka pintu kamar mandi yang untungnya tidak terkunci.

Apa yang dilihatnya sukses membuat dirinya terbelalak kaget dan beberapa detik terpaku di depan kamar mandi.

"Hyu..hyung?!" tanpa aba-aba Taehyung segera menghampiri Hoseok yang tergeletak tak sadarkan diri dibawah guyuran shower. Tak peduli jika dirinya juga ikutan basah karena terguyur air.

Taehyung kembali dibuat terkejut ketika mendapati bercak merah di wastafel. Terlihat juga samar noda merah di lantai kamar mandi, walaupun perlahan mulai hilang oleh guyuran air shower. Apapun bercak merah itu, entah mengapa, ia yakin kalau noda itu adalah darah. Dan memikirkannya membuat kepalanya seketika pening karena rasa panik dan khawatir di saat yang bersamaan.

Taehyung berusaha menyingkirkan apapun kemungkinan yang terjadi pada Hoseok. Ia dengan segera menggendong tubuh Hoseok keluar dari kamar mandi dan membaringkan Hoseok di ranjang, lalu melilit tubuh tanpa busana tersebut dengan selimut yang ada. Ia menyambar tissue di atas nakas dan membersihkan bercak merah, yang ternyata juga ada di sekitar hidung dan bibir namja di sampingnya, membuatnya tambah yakin kalau bercak merah itu adalah darah yang berasal dari Hoseok. Di saat yang bersamaan Jimin masuk ke dalam kamar, dan terkejut mendapati Hoseok di atas ranjang dengan tak sadarkan diri. Ia jadi panik sendiri, dan segera menghampiri ranjang. Taehyung malah tidak memperdulikan kehadiran Jimin dan kembali sibuk mengambil acak pakaian terdekat yang bisa ia jangkau dari lemari.

"Apa yang terjadi?" tanya Jimin panik. Dirinya yang melihat Hoseok masih dalam keadaan basah, segera mengambil handuk yang berada di lemari samping nakas lalu mengelap tubuh basah tersebut.

"Ia pingsan di bawah guyuran shower," jelas Taehyung singkat. Lalu mengambil alih Hoseok dari tangan Jimin. Memakaikan pakaian yang diambilnya kepada namja yang sudah pucat di dalam dekapannya tersebut.

"Kita ke rumah sakit," ujar Jimin final, lalu segera berlalu dari kamar. Taehyung hanya mengangguk, setuju dengan perkataan Jimin. Setelah memakaikan Hoseok dengan pakaian, lengkap dengan jacket, ia segera menggendong Hoseok keluar kamar dan menyusul Jimin yang sudah lenyap dari apartment.

"Sebenarnya ada apa denganmu, hyung? Kumohon apapun itu, bertahanlah sebentar saja," gumam Taehyung dalam perjalanannya menuju parkiran apartment, di mana Jimin sudah siap dengan mobilnya.

.

.

Hoseok membuka matanya perlahan. Sesekali dikerjapkannya untuk membiasakan cahaya yang masuk ke matanya. Setiap indranya mulai kembali bekerja. Dan perasaannya mengatakan kalau ia sedang berada di tempat asing. Padahal ia belum sepenuhnya sadar akan keadaan sekelilingnya, karena kepalanya yang masih terasa berat, membuatnya berat juga untuk membuka mata.

"Hopie hyung?"

Saat Hoseok sudah sepenuhnya membuka mata, dapat dilihanya Taehyung dan Jimin yang sedang memandangnya dengan tatapan khawatir.

"Kau sudah merasa baikan? Apa ada yang sakit?" tanya Jimin. Dan Hoseok hanya menggeleng.

"Syukurlah. Kalau begitu, aku akan memanggil dokter. Chankkaman," ujar Jimin lagi lalu keluar dari kamar rawat Hoseok.

Hoseok menghela nafas. Ternyata dugaannya benar, ia di rumah sakit. Entah apa pun alasannya ia ada di sini, tapi ia yakin sesuatu yang buruk dan ia khawatir kan sudah terjadi. Hanya memikirkannya saja, sudah cukup membuat kepala Hoseok pening. Ia kembali menutup matanya berusaha menghilangkan sakit di kepalanya.

"Hoseok hyung…,"

Panggilan Taehyung membuat Hoseok kembali membuka matanya. Ahh, ya, Taehyung masih bersamanya. Ia mengalihkan pandangannya pada Taehyung yang sedang menatapnya dengan tatapan yang paling ia benci. Tatapan yang menyiratkan kecewa, kekhawatiran, dan kesedihan di saat yang bersamaan. Tatapan yang muncul karena dirinya. Tatapan yang membuatnya selalu merasa gagal menjaga orang yang disayanginya.

"Jangan memikirkan apa pun…," ujar Taehyung lirih, dengan senyum yang sedikit mengembang di wajah tampannya. Hoseok ikut tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang berjas putih masuk ke dalam dan tersenyum kearah Taehyung yang bersitatap dengannya. Melihat dokter yang sudah datang, Taehyung segera beranjak keluar dari kamar inap Hoseok, membiarkan sang dokter untuk memeriksa Hoseok dengan lebih leluasa.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya pemuda berjas putih, setelah hanya mereka berdua yang menghuni kamar tersebut. Alih-alih menjawab, Hoseok hanya membalasnya dengan anggukan.

Sang dokter melirik Hoseok sebentar ketika tak kunjung mendapat jawaban. Melihat si pasien tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Aku kaget ketika mendapati dirimu dibawa oleh Jimin dan Taehyung ke sini."

Hoseok memandang sang dokter. Dokter yang sebenarnya sudah sangat dikenalnya. Dokter yang selama ini –tanpa diketahui oleh Jimin dan Taehyung- telah menjadi dokter pribadinya.

"Setelah aku memastikan bahwa itu benar-benar kau, aku meminta agar menjadi dokter yang menanganimu," sang dokter terus berbicara sambil memeriksa Hoseok.

Hoseok memandang sang dokter sebentar. Ada satu pertanyaan yang sedari tadi mengganjal pikirannya, dan yang bisa menjawabnya hanyalah orang di hadapannya sekarang.

"Jin hyung…,"

Sang dokter –dipanggil Jin oleh kenalannya- memandang Hoseok, ketika namanya dipanggil untuk pertama kalinya. Menunggu namja itu melanjutkan kata-katanya.

"Apa… apa mereka sudah tahu? Maksudku.. Jimin dan Taehyung, apa mereka sudah tahu?"

Jin menghela nafasnya pelan, lalu mengangguk perlahan.

"Maafkan hyung. Hyung tidak bermaksud mengingkar janji, tapi hyung tidak bisa membohongi mereka ketika mereka sendiri yang datang membawamu kemari."

Hoseok mengangguk, mengerti. "Aku hanya memastikan, hyung. Tidak apa," ujarnya sambil menyunggingkan senyum. "Lagipula itu salahku karena lupa minum obat."

"Jangan menyalahkan dirimu. Kau tahu kalau mereka akan tahu perihal penyakitmu, cepat atau lambat. Dan mungkin sekarang memang saatnya."

Tak ada sahutan dari Hoseok. Dalam hati, membenarkan pernyataan Jin.

"Untuk kali ini, biarkan mereka tahu, Seokie-ya. Kondisimu semakin parah. Penyakit leukemia itu hampir memasuki stadium 4. Kau membutuhkan mereka di sampingmu. Setidaknya mereka bisa membantu mengontrol kesehatanmu," ujar Jin, memecahkan keheningan yang sempat timbul beberapa saat.

"Aku hanya tidak ingin mereka khawatir," gumam Hoseok pelan.

"Aku tahu," ujar Jin sambil tersenyum. "Sekarang kau istirahat. Nanti malam Namjoon akan datang."

"Eh? Untuk?"

"Menjengukmu."

Entah apa yang aneh dari jawaban singkat Jin, tapi Hoseok tidak bisa menahan diri untuk membentuk kerutan di dahinya.

Jin terkekeh pelan melihat reaksi Hoseok. "Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Ia hanya datang menjengukmu, apa ada yang salah?"

Hoseok menggeleng.

"Kalau begitu istirahatlah. Sampai bertemu lagi, Seokie-ya."

Jin melambaikan tangannya sebelum dirinya menghilang di balik pintu. Meninggalkan Hoseok yang kembali melabuhkan ingatannya pada percakapannya dengan Jin beberapa menit yang lalu. Tanpa sadar, membuatnya menghela nafas.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi, Hoseok masih duduk termenung di kursi balkon kamar inapnya. Enggan untuk beranjak sesenti pun. Padahal udara di luar sana semakin dingin –yang tentu saja tidak bagus untuk kesehatannya-.

Pikirannya berlabuh pada pertemuannya dengan Namjoon tadi sore. Ya, seperti yang dibilang Jin, Namjoon sore tadi datang menjenguknya. Bukan sekedar menjenguk, karena mereka malah terlibat percakapan yang cukup serius.

Namjoon memintanya berhenti bekerja di café. Permintaan tiba-tiba Namjoon, cukup membuatnya kaget. Mempertanyakan kesalahan apa membuatnya "dipecat" dari pekerjaannya, karena ia sendiri merasa kalau tidak melakukan kesalahan fatal yang sampai harus membuatnya dipecat.

Ternyata, memang ia tidak melakukan kesalahan apapun. Melainkan ini menyangkut pernyakitnya. Sepertinya pemuda tinggi itu sudah diberitahu tahu Jin –berhubung Jin pacar Namjoon jadi tidak heran- perihal kondisinya saat ini.

-"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi ini soal kondisimu. Kau harus banyak istirahat dan tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.
Lagipula bukan hanya aku yang menyarankan ini. Jimin dan Taehyung juga menanyakan hal ini padaku. Dan aku setuju karena memang ini yang terbaik untuk kondisimu saat ini."-

Masih terngiang perkataan Namjoon di benaknya. Sebenarnya, ia tidak rela melepas pekerjannya. Ia tidak ingin menyusahkan Jimin atau Taehyung dengan hanya berpangku tangan diam di rumah. Namun dengan segala rangkaian kata yang sempurna, yang keluar dari mulut Namjoon, akhirnya Hoseok mengikuti sarannya. Dengan syarat jika ia masih ingin bekerja di sana. Tidak setiap hari, ia janji. Dan Namjoon setuju, daripada Hoseok bersikukuh masuk kerja tiap hari dengan shift pagi sampai malam –jika itu terjadi mungkin ia sudah habis oleh Jimin dan Taehyung, dan mungkin Jin, yang kelewat perhatian dengan Hoseok-.

Lamunan Hoseok terhenti ketika sebuah selimut tersampir di bahunya. Ia mendongak dan mendapati wajah Taehyung di sana sedang tersenyum. Hoseok membalas dengan senyuman kecil dan segera mengalihkan kembali perhatiannya. Berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena kehadiran sahabatnya yang diam-diam ia cintai.

"Kenapa ada di luar? Di sini dingin, hyung." Taehyung bertanya sambil mendudukkan diri di samping Hoseok.

"Tidak apa, hanya ingin. Kau dari mana? Jimin tidak bersamamu?"

"Dari apartment. Tadi Jimin bersamaku, tapi ia pergi lagi untuk membeli makanan."

Hoseok mengangguk sebagai balasan, tidak bertanya atau bicara apapun. Matanya kembali fokus pada satu titik di depan sana, entah apa itu. Taehyung juga tidak bicara. Membiarkan keheningan meliputi mereka selama beberapa menit.

Hanya beberapa menit, sampai Taehyung mulai memandang ragu Hoseok. Matanya memandang laki-laki di sebelahnya dengan berbagai perasaan yang tersirat di dalamnya.

"Hyung…, boleh aku bertanya?"

Hoseok terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan tiba-tiba Taehyung yang menginterupsi keheningan di antara mereka. Sebelum akhirnya ia menoleh pada Taehyung, menatap iris dari orang yang selalu sukses membuatnya jatuh ke dalam pesonanya lebih dalam.

"Ada apa?" tanya Hoseok, menyunggingkan senyumnya agar merasa lebih tenang. Karena entah kenapa, suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang dan sesak bagi Hoseok.

"Sejak kapan..? Sejak kapan penyakit sialan itu menyerang dirimu?" Taehyung bertanya dengan nada emosi yang terselip di sana. Tanpa mampu menahan, umpatan terselip di kalimat pertanyaannya.

Hoseok cukup terkejut mendengar pertanyaan Taehyung. Walaupun sebelumnya ia sudah dapat menebak arah pembicaraan laki-laki di sampingnya, tapi bukan hanya hal itu yang membuatnya terkejut, melainkan umpatan yang terselip di antara kata-kata Taehyung. Karena pemuda ini tidak akan mengumpat, jika hal itu tidak membuat emosinya terpancing naik.

Pada akhirnya, Hoseok memilih mengalihkan pandangannya ke lantai, yang entah kenapa lebih terasa menenangkan dibanding menatap iris Taehyung saat ini. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Taehyung. Diam-diam menghela nafasnya beberapa kali, karena rasa nyeri yang perlahan kembali menjalar di tubuhnya.

"Saat kelas 2, Senior High School," jawab Hoseok setenang mungkin, berusaha menjaga suaranya agar tidak terselip rintihan atau apa pun yang bisa membuat Taehyung menyadari kondisinya saat ini.

Jawaban tenang Hoseok, disalah artikan oleh Taehyung. Nada tenang itu sukses membuat emosinya tersulut. Perasaannya campur aduk. Sahabat macam apa, yang baru tahu sahabatnya mempunyai penyakit separah itu setelah 5 tahun berlalu. Membiarkan sahabatnya berjuang sendiri melawan penyakit mematikan selama 5 tahun. Padahal setiap hari mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan 3 tahun lamanya mereka tinggal 1 atap. Di sisi lain, ia juga bertanya, sebenarnya Hoseok menganggap dirinya –dan Jimin- apa? Kenapa menyembunyikan penyakit separah itu?

"Kenapa?! Kenapa kau menyembunyikannya?! Kau ini anggap kami apa?!" tanpa sadar nada bicara Taehyung meninggi, hampir mengeluarkan seluruh emosi yang dipendamnya.

"Maafkan, aku, Tae… sshh.. "

Emosi Taehyung seketika menguap entah kemana. Taehyung tidak bodoh, dan ia yakin ia tidak tuli, ia baru saja mendengar ringisan dari mulut Hoseok. Perasaan emosi itu berganti dengan perasaan khawatir. Taehyung yakin sesuatu –yang tidak baik- telah menyerang Hoseok.

"Hyung.., kau baik-baik saja?"

"Aku… sshh.."

"Hyung, kita masuk."

Tanpa meminta persetujuan Hoseok, Taehyung menggendong pemuda itu masuk ke dalam kamar. Saat itulah ia dapat melihat wajah kesakitan Hoseok, membuat dirinya nyaris menangis. Ia mempercepat langkahnya menuju ranjang dan membaringkan Hoseok di atasnya. Kemudian ia mengambil obat penghilang rasa sakit yang ada di laci. Ia membantu Hoseok meminumnya, lalu kembali membaringkan pemuda itu setelahnya

"Aku akan memanggil dokter."

"Tidak, tidak perlu," Hoseok segera menahan tangan Taehyung.

"Tapi…"

"Aku baik-baik saja. Kau lebih baik temani aku di sini. Aku ingin istirahat."

Terselip keraguan di benak Taehyung. Ia benar-benar tidak ingin sesuatu terjadi pada Hoseok. Namun genggaman erat di tangannya membuat dirinya tidak punya pilihan lain selain mengangguk, menuruti keinginan Hoseok. Taehyung menarik kursi di sebelah ranjang tempat Hoseok berbaring, lalu duduk di sana sambil mengusap tangan Hoseok lembut.

"Tae…"

"Hmm?"

"Aku minta maaf. Padamu, juga pada Jimin."

"Tidak usah dipikirkan, hyung. Harusnya aku yang minta maaf. Lebih baik sekarang kau tidur dan istirahat. Aku akan menemanimu."

Hoseok tersenyum mendengar perkataan Taehyung. Ia menutup matanya, siap memasuki alam tidurnya.

"Gomawo, Tae…"

.

.

.

#ToBeContinue

Annyeong! Apa kabar reader-deul? Finally, bisa comeback. Maafkan saya yang terlalu lama update. Karena sebulan ini aku benar-benar sibuk dengan tugas sekolah yang menumpuk tiap harinya. Ditambah lagi seminggu yang lalu lagi minggu-minggu UKK, jadi begitulah, saya hanya bisa pasrah harus dengan sangat terpaksanya berhadapan dengan tumpukan buku tanpa bisa menyentuh internet.

Terima kasih untuk semua yang udah RnR. Saya senang baca review kalian. Sekali lagi terima kasih. See you in next chapter, annyeong! :)

*NB: (Lagi-lagi) saya ganti username saya di IG: army_vhopeminkook . Silahkan di follow bagi yang ingin berteman dengan saya, kalau tidak juga tidak apa. HOHOHOHO :D*

.

#ReplyforReview

DozhilaChika

Aku juga senang sehati sama kamu #aww
Pertanyaan kamu sudah terjawab di chappie ini ya say,, semoga bisa mengobati rasa penasaranmu.
Makasih udah suka yaa~~ Minz tersanjung ;3

ChiminChim

Hohoho, maafkan saya kalau kurang panjang chappie nya.
Pertanyaan kamu perihal penyakit Hoseok sudah terjawab di sini yaa..
Ihhh,, aku juga gemeshh sama brothership nya Chimchim ama Hopie di sini kkk~
Akuuu juga suka bott!Hoseok dengan seme member bangtan astagaaa… Kamu sehati saama saya. Hug and Kiss dulu nehh ahh kakakakakakkk :D

anniehobie

Sudah dilanjut nihh~~
Thank you sudah mampir dan RnR :)

hopekies

Iyaa aku tahu kok :) Kita kan pren pren gituu,,

Guest

Thank you~~ Ini sudah dilanjut yoo!

jhoseok30

Thank you thank you *bow down*
Iyaa memang jarang nihh hmmm…

Feniasyj

Thank youu~~
Dilihat nanti yaa end-nya hohohoho

Hahaha gak papa kok marukk,, entar habis nih ff selesei, ku buatin yaaa… Apasih yang enggak kalo req. kamu ff bott!Hoseok hohohohoho :D
Akuuu juga suke uke!Hoseok uwaahhh :*
Kamu ga dimutilasi sama Hobbie, say,, tapi ama member bangtan-nyaa hehe