Lepidopterophobia

Disclaimer Masashi Kishimoto

NaruHina

Roman komedi

Henshin48

.

.

.

Hope you enjoy it ^^

::

DRRTT—DRRTT…

"Hinata-chan, kita 'kan baru berpacaran nih. Sebenarnya aku ingin mengajakmu tadi saat masih di sekolah, tapi… yah, sudahlah. Kau bisa, kan?"—Naruto-kun.

Aku membacanya! Tak salah mataku mengejanya! Ini pastinya bukan mimpi. Oh tidak, jantungku terasa berdetak tak beraturan. Inikah rasanya kasmaran? Tak kusangka apa yang diceritakan temanku ada benarnya. Ini gila! Hanya dengan membaca sebuah teks saja pipiku sudah terasa sehangat ini. Syukurlah Naruto-kun tidak mengutarakan maksudnya tadi siang, begini saja rasanya sudah memalukan.

Terbangun dari empuknya tempat tidur, meloncat kegirangan seperti aksi si kecil Masha saat bersama beruangnya. Untung saja ponselku tak terlempar dan pecah, bisa gawat jika iya. Puas melompat-lompat, kemudian langkah kakiku kugunakan tuk mendekati jendela kamar. Membuka jendela kamar itu. Memperhatikan taburan bintang yang masih terlihat di atas gemerlapnya kota.

Untuk beberapa lama, angan-anganku menjelajah jauh di antara bintang-bintang itu. Asyik sekali membayangkan diriku terbang bebas bersama Naruto-kun kesana. Ah, pipiku makin bersemu. Imajinasiku semakin jauh bermain bebas, sampai aku teringat ada kenyataan indah yang sedang menantiku. Waktu beberapa lama berkhayal itupun kusudahi dengan menutup kembali jendela.

Satu hal yang terbesit di pikiranku sekarang; aku harus membalas pesan Naruto-kun. Oh, tidak, sepertinya ada dua hal. Pertama yang tadi, dan yang kedua… entah kenapa aku keingat dengan obrolanku bersama temanku lusa, tepat setelah aku dan Naruto-kun resmi berpacaran.

Saat itu temanku bertanya…

.

"Kau berpacaran dengan Naruto?" Hinata mengangguk cepat menanggapi teman permen kapasnya.

"Mengejutkan sekali," gumam temannya, tanpa Hinata hiraukan.

Sang gumpalan merah muda mengembungkan pipinya. Tangannya kemudian menyabet jus jeruk yang tersaji di meja kantin sedari mereka di sini. Meneguknya pelan seraya mata berkeliling memperhatikan keadaan. Di tagname-nya tertulis 'Haruno Sakura', itulah namanya. Haruno Sakura itu gadis yang suka ceplas-ceplos, namun dari gerak-geriknya saat ini, tampak sekali ia sedang mencoba untuk berbicara tanpa diketahui orang lain. Jadi, ada apa gerangan?

"Kau tahu, Hinata?" pertanyaan Sakura membuyarkan lamunan Hinata tentang pangeran berkuda putih-dengan jambul pirang tercintanya. Dengan pipi bersemu Hinata memajukan wajahnya mendekat ke arah bibir Sakura yang nampak sedang ingin berbicara.

"Tahu apa?" tanya Hinata murni penasaran.

"Naruto itu bla bla bla…" bisik Sakura pelan. Suara itu terdengar aneh di telinga Hinata. Jadilah Hinata meminta pengulangan. "Naruto itu bla bla bla…" Sakura mengulangnya dengan wajah serius, namun masih terdengar aneh di telinga Hinata.

"Kau bisa mengulainginya, Sakura-chan?" pinta Hinata lagi, diikuti dengusan pelan si Gadis Permen Kapas.

"Naruto. Itu. Bla. Bla. Bla." walau penuh penekanan, kalimat Sakura nyatanya masih mirip suara mesin traktor yang membajak batu dari sudut pendengaran Hinata.

"Kau bisa mengulanginya lagi?"

Sakura menghembuskan napas lelah. Sudah seharusnya ia ke kantin untuk melepas lelah, bukannya menghabiskan waktu untuk mempertebal bibir dengan menjelaskan sesuatu pada sahabat (yang tiba-tiba) budeknya ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia bersumpah hanya akan mengulanginya sekali lagi ini saja, "Naruto itu phobia kupu-kupu." lalu membuang napasnya lagi.

"APA?! NARUTO-KUN PHOBIA KUPU-KUPU?!" setelah tiba-tiba budek, gadis pupuler ini malah tiba-tiba saja ber-henshin ria (transformasi) menjadi to'a masjid.

"Woy, Nona!" "jangan berteriak seenaknya!" "mulut ember!" "tenang, oi!" "bedebah!" "sialan! Sekalian pake speaker aja!" "jangan teriak-teriak!"

Serentetan teguran kasar meluncur dengan kecepatan cahaya. Hampir seluruhnya dari para siswa laki-laki. Dari setiap sudut kantin hampir terdengar. Mereka tampak marah karena terganggu. Tapi, semuanya berubah saat Hinata berdiri dan meminta maaf. Semua siswa laki-laki yang yang tadi meneriakinya ataupun yang tidak seketika berwajah lunak. Rentetan permintaan maaf balik terseru ke arah Hinata. The power of beauty.

"Maaf ya, semuanya." Hinata tersenyum manis pada seluruh penjuru kantin. Semua pun kembali tenang. Yang semulanya berdiri kembali duduk. Oh, tunggu. Sepertinya masih ada satu siswa yang kukuh. Dari pandangan Hinata, rambut jabrik kuning itu jelas tak asing lagi.

"Sakuraaaaa! Jangan sering menggosip, donk!" sang empu yang dibicarakan kedua gadis dengan rambut berbeda warna itu berteriak. Naruto dengan muka terlipat berlari menuju tempat Hinata dan Sakura. Ia seperti orang kesetanan, jelas memalukan di mata Hinata, tapi pastinya akan lebih memalukan lagi jika Hinata tahu phobianya yang sebenarnya.

"Ayo, Hinata, kita juga harus lari."

.

… lalu aku terus diseret ikut berlari dan harus melalui drama komedi alot antara Naruto-kun dan Sakura.

Aku tahu katanya mereka sudah berteman lama sejak masih di dalam perut, katanya. Katanya juga mereka sudah sering berkelahi seperti anak kecil, dari dulu sampai sekarang. Dan setahun mengenal mereka berdua, nyatanya memang seperti itu. Mereka seperti anak kecil. Sering bertengkar, namun tetap akur. Beberapa orang setuju mereka adalah couple yang cocok. Entah itu gurauan tau tidak, yang pasti ada rasa cemburu menghinggapiku setiap mendengarnya.

Sudah setahun kami saling kenal. Berawal berkenalan dengan Sakura lah, aku bisa tahu sosok Naruto-kun. Saat itu adalah tahun ajaran baru bagi seangkatan kami di Konoha High School. Seperti perkenalan pada umumnya, kami yang dulu satu kelas, tak butuh waktu lama untuk saling mengenal kemudian akrab. Sejak saat itulah aku selalu mendengar deru gosip yang entah benar atau tidaknya, tentang Naruto dan Sakura sudah dijodohkan. Cukup ramai, banyak juga yang berkomentar setuju tentang hal itu. Mau percaya atau tidak tentang gosip itu, tanpa bisa dihalang aku tetap menaruh cemburu terhadap mereka.

Pernah sekali aku bertanya langsung pada Sakura tentang perasaannya yang sebenarnya pada Naruto-kun. Bukannya menemukan jawaban yang pasti, aku malah dihadiahi gerlingan aneh plus senyum janggal darinya. Dia dengan kekuatan menerawangnya itu, dengan jitu mengetahui rasa sukaku pada Naruto-kun. Mungkin dahi lebarnya itu punya kekuatan magis.

Jadi, bagaimana perasaannya yang sesungguhnya? Hatiku malah semakin bimbang. Ditambah lagi, entah sejak kapan Naruto-kun sering menaruh perhatian yang spesial terhadapku. Saat kami bertiga biasanya ngumpul, Naruto-kun akan lebih sering memusatkan perhatiannya padaku. Saat kutoleh Sakura, ada rasa tak rela dari pancaran emerald-nya.

Lalu tanpa kusadari aku telah menjadi tsundere di hadapan Naruto-kun.

Hatiku tak bisa berbohong, entah sejak kapan aku menaruh hati pada Naruto-kun. Namun disaat yang bersamaan, tak tahu mengapa aku jadi tak enak hati pada Sakura. Aku seperti terjebak dalam cinta segitiga. Atau mungkin penghancur hubungan seseorang. Aku tak ingin mengakhiri pertemanan kami, tak ingin menyakiti hati seorangpun. Jadinya aku tetap bertahan dengan berteman dengan Sakura seperti biasa, juga menolak setiap pendekatan Naruto secara halus.

Kupikir aku bisa terus bertahan seperti itu, tapi nyatanya tidak.

"Kau harus sedikit egois, Hinata. Lihat betapa banyaknya pria yang mengantri untukmu. Dan kau—kau punya satu yang kau lirik, bukan? Jadi, tegalah sedikit pada Sakura. Walaupun seumpama dia menyukai Naruto, tapi siapa yang Naruto sukai? Kalian saling mencintai! Begitulah! Kau membiarkan mereka berdua pun tak akan ada hasil, mengerti?" ceramah Ino, salah satu temanku, dengan dukungan sepenuhnya saat itu meruntuhkan zona amanku.

Aku pun berpikir, sepertinya perasaanku pada Naruto-kun sudah mencapai titik heavy rotation. Dimana aku menginginkannya, aku membutuhkannya, aku mencintainya, dan rasa sayang ini terasa terus-menerus meluap.—sepertinya aku baru saja menyanyi (?).

Lalu dua hari lalu, hujan gerimis sepanjang hari minggu. Aku keluar pagi-pagi untuk membeli bahan dapur ke supermarket kompleks sebelah. Dalam perjalanan aku mau tak mau harus melewati rumah Naruto-kun. Saat berangkat, rumahnya sepi-sepi saja. Tapi saat dalam perjalanan pulangnya, saat melintas tepat di depan rumah Naruto-kun, aku ditodong.

Pembegalan!

.

"Hay, Hinata-chan~ habis belanja, ya? Mau mampir? Naruto ada di rumah, lho. Mampir sebentar, ya? Ba-san sedang ada cemilan banyak di dalam." bagai pembegal pro, ibu Naruto menghentikan Hinata dengan menggiringnya langsung ke pekarangannya. Hinara pun hanya manggut-manggut saja, tak berkutit juga saat tangan lincah beliau menyabet belajaannya dan membawanya masuk.

Sungguh senang ibu Naruto mendapati Hinata yang sedang melintas depan rumah. Pasalnya, ia sudah membayangkan bagaimana wajah putranya saat didatangi sang tuan putri tercinta. Hitung-hitung sebagai campur tangan dalam mencari menantu idaman.

"Naruto!" teriaknya keras membahana sampai seluruh penjuru rumah.

"Ya?" balas Naruto malas dari ruang santai keluarga.

"Hinata-chan bertamu." dan nada malas Naruto tak lagi terdengar. Mood untuk bermalas-malasan di depan TV seketika menguap begitu saja. Badannya yang miring di atas sofa tiba-tiba merasa bugar lalu duduk dengan tegap. Rasanya menyesal juga karena belum mandi dan harus bertemu sang pujaan hati, namun rasa itu segera terganti dengan optimis tinggi menyambut sang idola. Tangannya menyabet gelas berisi air putih dengan cepat. Membasahi tangan, sedikit di wajah, lalu memoleskannya pada rambut. Oh yeah! Status kesiapan: …30 %. Yaaah~, bagaimanapun ia masih merasa kucel.

"Se-selamat pagi, Naruto-kun." sapaan Hinata datang terlalu cepat.

"Heem. Selamat pagi," jawab Naruto dengan senyum miringnya. Lalu ia mempersilahkan Hinata duduk bersamanya. Memandang satu sama lain, Naruto mencoba terlihat se-cool mungkin. Ah, persetan dengan penampilan belum mandi ini, yang terpenting adalah sikap yang harus tetap terlihat keren di depan Hinata, pikirnya. Sebelum ia memekik pelan saat kembali menyorot ke layar TV.

"Hari minggu memang asyik buat nonton ultraman, ya," komentar Hinata tentang acara minggu pagi Naruto.

Mati kutu.

Remote TV pun seperti digerakkan oleh kekuatan sihir dengan cepat mengganti channel. Acara TV yang mempertontonkan manusia ultra raksasa segera beralih ke acara yang lebih dewasa, berita pagi hari.

"Hehehe. Nonton berita lebih asyik kok, Hinata-chan," alih Naruto dengan keringat mengucur deras dari pelipisnya. Ia tersenyum miring, lalu diikuti Hinata yang terkekeh pelan.

"Ngomong-ngomong, Hinata-chan ada perlu?" tanya Naruto menyudahi senyumnya.

"Ah, itu… sebenarnya…" jawab Hinata ragu.

"Kaa-san yang menyuruhmu, lagi?" potong Naruto.

Dan keduanya pun tertawa kecil tanpa melihat satu sama lain. Sudah jadi kebiasaan sampai Naruto selalu benar menerkanya. Ibunya memang suka menghentikan Hinata begitu saja dan menyuruhnya mampir. Sepulang sekolah, sebelum sekolah, paling sering Hinata dipaksa berangkat bersama bersama Naruto. Ibu Naruto memang menyukai Hinata, sudah dianggapnya sebagai menantu sendiri, lalu Naruto pun akhirnya mulai tertarik pada Hinata karena kebiasaan memaksa ibunya. Dasar…

Kalau mengingat hal itu, Naruto mulai memasang wajah bersemu. Duduk bersama Hinata dalam satu ruangan. Ia yakin ibunya sudah mengatur skenario sedemikian rupa. Walau sering mendapat penolakan halus dari Hinata, Naruto tetap tak berputus asa karena ibunya itulah yang sering memberinya support. Mengingatnya lagi membuat Naruto terdorong.

"Naru/Hina…" Naruto dan Hinata bersuara secara bersamaan. Itu membuat pipi keduanya saling memanas, apalagi posisi mereka yang tengah bersebelahan dengan memandang satu sama lain. Naruto yakin mendengar cekikikan wanita menahan tawa dari arah belakang.

"Kau dulu." Naruto mempersilahkan. "Tidak, Naruto-kun dulu saja." Hinata menolak, lalu berbalik mempersilahkan.

Baiklah, Naruto tak ingin suasana tak selaras ini bertambah lama. "Um… bagaimana kalau aku menjemputmu ke rumah siang ini. Kau bisa?"

"Maaf, aku tak bisa. Tapi…" potong Hinata ragu, membuat degub jantung Naruto menggebu-gebu. "Tapi jika ada yang Naruto-kun ingin katakan, aku bisa menerimanya."

Blush! Pipi Naruto semakin memerah dan semakin memerah sampai memenuhi seluruh muka. Ia pun berbalik punggung, menyembunyikan wajahnya pada bantal di sofa, lalu terdengar teriakan haru memekik girang. Percayalah, sudah setengah hidup ia menahan diri untuk tetap bersikap cool.

Prok prok prok.

Tepuk tangan haru menyambut dari belakang. Dengan wajah sumringah, kedua orang tua Naruto berdiri mengintip dari balik pintu. Naruto yang melihatnya semakin menggila sampai-sampai meninju-ninju bantal. Heboh benar keluarga Uzumaki, Hinata jadi gagal paham.

"Selamat ya, Naruto, Hinata."

Ouwouwouwo! Proses loading otak Hinata akhirnya selesai. Ia pun tak kalah heboh memekik, "ehhh!? Ini salah paham, Kushina-basan, Minato-jisan!"

Lalu tanpa perlawanan berarti, Hinata telah diresmikan menjadi calon menantu oleh kedua orangtua Naruto. Memang bukan maksudnya menerima Naruto sekarang. Memang benar, Naruto seringkali mengatakan perasaan pada dirinya, dan ia tak pernah menerimanya. Lalu kalimat tadi, ia hanya akan menerima yang artinya mendengar perkataan Naruto sekali lagi. Tapi, ya sudahlah. Walau ia tak sepenuhnya ikhlas lahir-batin, tapi ia menerimanya dengan sejuta senang dan bahagia.

.

Aku tak bisa melawan dalam kesenagan hari itu. Naruto-kun dan aku berpacaran, secara resmi bahkan disaksikan kedua orangtuanya. Terlalu senang, sangat senang, aku bahkan langsung melupakan bagaimana cara bekerja prinsip menjaga perasaanku yang dulu. Persetan dengan Sakura, aku sudah termakan hasutan Ino.

Lalu setelah hari bahagia itu, entah dari mana Sakura mengetahui semuanya. Dan seperti ingatanku sebelumnya, Sakura dengan sengaja dan terburu-buru menjejaliku fakta yang sulit kuterima—Naruto-kun phobia kupu-kupu? Yang benar saja. Bagaiamanapun aku tak bisa mempercayai itu sedikitpun. Asal kalian tahu, Naruto-kun bahkan pernah membuang ular dengan tangan kosong untuk melindungiku. Lalu, apa yang ia takutkan terhadap serangga imut bersayap cantik itu?

Hmm… ini pasti konspirasi elit yang dibuat Sakura untuk menggoyahkan hatiku. Pasti ia bekerja sama dengan Pelit Global, Remason, Iluminion, dan antek-antek Wahyudi. Memang berlebihan, tapi aku yakin itu. Pasti hanya sebuah konspirasi belaka!

Ah, entah kenapa aku merasa marah sekaligus merasa bersalah. Aku baru saja berprasangka buruk pada temanku, itu tidak baik. Tapi jika memang dia teman, dia tidak akan berusaha menjatuhkan hubunganku, bukan? Ya, ini membuatku marah.

Tanpa sadar aku mengetik, "Baiklah, besok, kencan pertama, tapi aku yang menentukan tempatnya"

Tak berselang lama, ada jawaban yang masuk.

"Baiklah. Kau yang menentukan, dimanapun itu, kita akan pergi besok. Sepulang sekolah, aku bisa menjemputmu di rumah, atau kita bisa langsung ke tempat setelah bel pulang berbunyi"

Ini kesempatan besar! Tanganku dengan gatal segera membalasnya cepat. "Kita pergi ke taman kupu-kupu di pusat kota. Jemput aku di rumah saja. Ini janji, loh"

Akan kubuktikan bahwa konspirasi Sakura hanyalah sebuah konspirasi. Huahahahaha.

TBC

AN: Yo~ ketemu lagi, update cepat di awal-awal cerita (nggak menjamin cepat untuk seterusnya) 2K+ :3 author pikir nggak bakal nyampe segini :3 thanks lah buat yang dukung dengan fav, foll, dan rev-nya. Semoga kalian tetep sehat-sehat aja. Amiin.

Kayaknya segitu aja. Semoga bisa cepat ketemu lagi.

Minggat dari TKP, SALAM, 48!

Bye-bye~