"Selamat pagi, Naruto."
"Pagi, Naruto."
"Siang juga, Kaa-san, Tou-san."
"Eh?!"
Pagi yang seperti biasa di kediaman Uzumaki. Ayam berkokok tanda mentari eksis di ufuk timur menjadi awalan. Suhu pagi ini sedikit dingin, membuat Naruto yang ogah-ogahan bangkit dari selimut semakin terseret dalam genjutsu empuk kasur miliknya. Untung saja ibunya adalah seorang Khusina, kalau saja hanya ada sang ayah—Minato di rumah ini, sudah pasti Naruto berhibernasi sepanjang hari. Ya, walaupun sudah bangun dengan rasa nyeri di bagian telinga, tingkat kesadarannya masih sangat jauh dari kata baik.
"Cepat sarapan, jangan ngelindur terus!" Khusina menghempaskan sepiring asupan pagi tepat di depan Naruto. Suara hantamannya seperti biasa membuat Minato yang ditemani koran pagi tersenyum kecil.
"Iya, iya."
Sarapan kali ini berlangsung dengan tenang. Kehadiran Naruto seperti ada namun tak ada. Tak seperti biasanya, acara mabuk paginya berlangsung terlalu lama. Biasanya ia memang selalu terlihat paling tak punya daya hidup setelah bangun pagi, tapi tetap saja ia masih dinobatkan sebagai yang paling berisik di meja makan. Tapi kali ini, ada apa gerangan?
"Naruto, kau kenapa?" tanya Khusina memastikan kewarasan anaknya.
"Tidak," jawab Naruto enteng.
"Pasti masalah Hinata, kan?" Minato dengan gaya sok peramal menimpali. "Jangan kaget begitu, Naruto. Aku juga pernah seperti itu saat Kaa-san cantikmu itu dulu ngambek denganku." lalu kembali berucap seperti menjawab pertanyaan di benak Naruto.
"Heh, salahmu sendiri," dengus Khusina sambil merapikan meja makan.
Minato terkekeh. "Jadi apa masalahmu? Tousan-mu ini pasti bisa membantu"
"Jangan, Naruto! Dia sangat bodoh untuk urusan seperti ini." celetuk Khusina sambil mengembungkan wajahnya.
"Hey jangan bicara seperti itu saat dulu aku yang 'memulai'!" protes Minato, atau mungkin merupakan rengekan. Ah, sulit membedakannya.
"Memulai? Dengan perantara temanmu? Lagipula 'kan memang sudah umum laki-laki yang duluan." Khusina mengibaskan rambut merah panjangnya.
"Aku pernah mengatakannya langsung, kau lupa 'kan? Di taman kupu-kupu waktu itu…" Minato melipat korannya.
"Di taman kupu-kupu? Kau pasti sudah pikun karena lupa bahwa kita hanya berkencan di luar taman saja waktu itu. Alasan saja dompet hilang… aku yakin waktu itu pasti sedang tak ada uang. Heh, pasti ini penyebab Naruto jadi phobia kupu-kupu." dan Khusina tertawa penuh kemenangan. Minato kembali menyingkap korannya untuk menyembunyikan wajah. Ia lupa aturan pertama dalam rumah tangganya; jangan berdebat dengan istri, karena sekuat apapun argumenmu pasti akan berakhir dengan kekalahan.
Naruto yang bermalas-malasan pun sedikit terasupi keceriaan lagi. Perut yang telah berisi ditambah lagi otaknya yang sedikit ter-relaksasi, rambut kuningnya yang berdiri kembali mengirim semangat untuk menjalani hari. Dia tertawa kecil. Keceriaan dari kedua orangtuanya pasti membuat perutnya tergelitik. Kapan lagi melihat mereka saling bercanda seperti ini. Tapi, hey—kemana matanya memandang?
"Naruto? Kau memang sedang sakit, ya?" heran Khusina manyaksikan Naruto masih tertawa memandangi televisi.
"Khusina, telepon Hinata. Kita tuntut calon menantu kita itu karena membuat Naruto gila!"
Satu lemparan sendok terbang mulus dan mendarat di pucuk kepala kuning Minato. Sedangkan Naruto yang mulai bereaksi semakin dibuat perutnya kaku saat memandang sisi lain. Jika kalian menganggap mereka keluarga aneh, sebenarnya sedikit salah. Keluarga Uzumaki adalah keluarga absurd. Kasihan sekali Hinata dengan seenaknya diklaim sebagai calon anggota baru dari keluarga ini.
"Sudahlah, Kaa-san, Tou-san. Aku berangkat dulu, kalian do'akan saja hari ini terjadi hujan deras. Dah~" dengan merangkul Minato cepat dan mencium kedua pipi Khusina, Naruto berlari dengan ceria seperti anak kecil. Aneh sekali. Lihat! Bahkan ia masih tersenyum lebar walau sempat nyungsep tersandung batas pintu.
Minato dan Khusina terpana, terlebih lagi Minato. Ia bahkan tak pernah melihat Khusina yang moody berubah perasaan secepat ini. Ia memandang Khusina, sekali lagi memastikan. Dan sebaliknya, sang istri pun begitu. Senyum miring terlintas di wajah tampannya.
"Begini nih jadinya kalau si ibu dulunya ngambekkan."
Satu picingan mata ia dapat setelah ia menyelesaikan beberapa kata itu. Ups! Dia kembali melanggar aturan pertama berumah tangga.
.
.
.
Lepidopterophobia
Disclaimer Masashi Kishimoto
NaruHina
Roman komedi
Henshin48
.
.
.
"Sebenarnya kau mau apa sih, Sakura?" yang ditanya diam saja, membuang muka. Rambut pendek permen kapas itu mengibas di dekat wajah Naruto. Mengejek? Naruto dibuat jengkel. "Kau tahu?—dia jadi meminta aneh-aneh. Pasti karena perkataanmu di kantin waktu itu. Untung saja hari ini hujan, tak kusangka tayangan di televisi tadi pagi ada benarnya. Jika tidak, pasti sudah kusalahkan kau lebih dari ini," omelan panjang Naruto masih tak diindahkan.
"Hey?" lalu helai-helai kuning di kepalanya mulai terasa gatal. Naruto menggaruknya sambil mulai mengerang frustasi.
Siang ini tepat setelah bel pulang berbunyi, seharusnya tepat dengan jadwal kencan pertama Naruto dan Hinata. Namun apa daya—yang sebenarnya didambakan Naruto, seperti do'anya malam tadi, hujan deras mengguyur kota Konoha. Dengan begini napasnya masih terselamatkan hari ini. Tapi entah mengapa, pikirannya malah berkelana tak nyaman sampai membiarkan pandangan saphierenya kosong ke awan-awan.
Beberapa menit berdiri menikmati waktu, guyuran hujan semakin menjadi. Tanah kering di lapangan sepak bola sekolah jadi terlihat becek oleh lumpur, angin yang cukup kencang menerbangkan dedaunan pohon yang mengelili lapangan, udara dingin di pagi hari tadi terasa berlipat ganda sampai memaksa Naruto mengencangkan jaketnya. Uh, cukup baik bagi Naruto—cukup baik untuk merusak ketenangannya. Ia pikir akan mencari Hinata untuk memastikan batalnya kencan mereka.
"Hinata mengajakmu pergi ke taman kupu-kupu?" tiba-tiba saja Sakura bertanya tanpa menolehkan muka, menghentikan langkah kaki Naruto.
"Iya. Dan itu juga gara-gara kau, aku yakin itu," jawab Naruto masih dalam keadaan kesal.
"Haha, rasakan itu! Pergi sana biar Hinata tahu kelucuanmu," balas Sakura penuh kemenangan licik. "Kau tidak bisa menyembunyikannya dari Hinata selamanya. Kau pikir kau punya kekuatan magis, begitu? Lanjitnya semakin sinis.
"Terserah. Kau memang selalu berubah jahat saat menyangkut phobia-ku ini."
"Contohnya?"
"Saat kau menjebakku di dalam gudang dengan puluhan makhluk itu."
Wajah Sakura yang enggan tersenyum sejak tadi terpaksa harus mati-matian menahan geli saat mengingat betapa lucunya Naruto saat itu. Ia tak mau menceritakan kepada siapapun betapa lucunya Naruto kecil selepas dari taman kupu-kupu menagis hebat karena kejahilannya. Kejadian itu semacam ingatan berharga yang hanya diketahui olehnya dan Naruto saja.
"Haha, kuharap kau menangis juga saat bersama Hinata nanti." dan Sakura mulai nyengir aneh saat membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
"Hoi! Apa-apaan itu? Kau tidak rela, ya?!"
"Maksudmu?"
"Kau tidak rela kalau aku berpacaran dengan Hinata, 'kan? Kau kesepian, kan-kan-kan-kan?"
Sakura menoleh, mendapat tatapan menyelidik dari saphiere Naruto, ia pun membalikkan badan dengan cepat. Apa-apaan tadi?, pikirnya. Wajahnya sampai menguap panas karena merasakan emosi yang meluap-luap. Ditambah lagi tawa penuh kemenangan yang terdengar dari belakang, itu semakin membuatnya membara. Ia persiapkan kepalannya mantap-mantap, tinggal menunggu timing yang tepat dan—
"Hahahaha, Sakura, kau cemburu, 'kan? kan-kan-ka—WADAUUU!"—kepala Naruto terasa seperti kejedot sikutan John Cena.
Dan bla bla bla, kejadian selanjutnya seperti deja vu bagi mereka berdua. Tak ada kesempatan untuk Naruto lolos, dan Sakura jadi seperti psikopat gila yang nyengir sambil memukuli korbannya. Persahabatan yang aneh, kalau dibilang pasangan mereka juga aneh, dasar Hinata yang terlalu melebih-lebihkan gosip yang beredar. Hanya sepucuk dari seluruh gosip biasanya yang bisa dipercaya, bisa saja tidak sama sekali. Untuh gosip tentang mereka, mungkin hanya benar tentang mereka yang sering bertengkar.
"Sakura, sudah! Ampun!"
"Dasar durian busuk! Spon kuning berkumis kucing! Mulut ember!"
Ya, benar sekali. Mereka sangat suka bertengkar sambil kejar-kejaran.
.
Butuh waktu cukup lama untuk Naruto menemukan Hinata. Hujan deras saat jam pulang membuat sebagian murid memilih tetap tinggal di area sekolah. Dan untuk Hinata, gadis cantik itu masih terdiam di bangku kelasnya memilih menunggu hujan reda. Bodohnya bagi Naruto, ia malah menghabiskan banyak waktu berkeliling sekolah untuk mencari Hinata yang tidak kemana-mana. Tapi tak apa, rasa lelahnya langsung terbayar saat melihat Hinata tersenyum menyambut kedatangannya.
Teman laki-laki dan perempuan Hinata mulai menepi dari bangku tempat duduk Hinata saat menyadari kedatangan Naruto. Menyediakan tempat, juga menjaga gengsi mendekati pacar orang. Khususnya untuk yang laki-laki, jelas enggan mereka merayu idola sekolah jika pacarnya tiba. Apalagi kian mendekat, tatapan 'apa-lo-deket-deket-permaisuri-gue! Pengen-gue-kepret-llo-Naruto semakin tampak jelas seperti tertulis langsung di dahinya.
"Naruto-kun," sambut Hinata manis sekali.
"Hinata-chan~" Naruto membalasnya dengan wajah konyol berseri-seri. Kena diabetes deh, lemes. Bahkan ia duduk dengan lumer dan langsung menyangga dagu dengan kedua tangan menhadap Hinata langsung. memandang wajah Hinata sedekat ini membuat senyum konyolnya semakin menjadi. 'Uh, kampret,' sekiranya begitulah erang semua murid laki-laki yang melihat betapa beruntungnya Naruto.
Tapi, hey!—dimana imej cool-mu, Naruto?
"Hah~ sayang sekali hari ini hujan lebat, ya." topik membosankan, tapi untuk inilah Naruto datang ke sini. Inilah step pertamanya.
"Um. Jadi batal, ya?" tanya Hinata memastikan. Dan dari wajah ayunya terbesit rasa kecewa atas keadaan.
"Kita bisa lain waktu, atau mungkin lain tempat. Misalnya kita bisa makan malam nanti. Kau setuju?" bujuk rayu Naruto. Step kedua mempertahankan napasnya telah dijalankan.
"Bagaimana kalau nanti malam hujan lagi? Aku pikir besok tidak buruk. Umm… ya kurasa." gerlingan Hinata membuat Naruto hampir menyerah. Step kedua hampir saja runtuh. Bertahanlah, Naruto!
"Hey, kita bisa jalan-jalan nanti malam. Belanja mungkin?" step kedua point A, usaha kukuh Naruto masih bisa bertahan.
"Um. Setelah belanja kita bisa mampir ke taman kupu-kupu." dan nampaknya pertahanan kukuh itu terus dipatahkan oleh Hinata dan senyuman mematikannya.
"Kalau begitu tidak akan cukup waktu. Aku tidak ingin dibunuh ayahmu jika pulang terlalu larut," alasan Naruto diikuti peluh sebesar biji salak melunvur di pelipis.
"Tidak usah jalan-jalan atau belanja, kita ke taman kupu-kupu saja." dan lagi-lagi dipatahkan.
"Makan malam?" step kedua point B.
"Kita bisa makan malam sebelum atau sesudahnya."
"Kita bisa pulang larut kalau be…" alasan lagi, tapi—
"Kita berangkat sore."
SKAKMAT!
"Bagaimana kalau…" again—
"Kita bisa berangkat besok."
DOUBLE SKAKMAT!
"Tak ada tempat lain kah selain…" usaha terakhir kaluar dari 'step by step' rencana miliknya.
"Aku sangat ingin ke taman kupu-kupu bersama Naruto-kun."
GAME OVER! Kalimat terakhir Hinata seakan memakan bidak raja catur miliknya, tak ada jalan lain bagi Naruto untuk menang. Mungkin memang benar pepatah yang sering diungkapkan ayahnya; wanita selalu menang. Mau tak mau kalau begini wajah konyolnya tadi berubah murung makin tak karuan. Mungkinkah ia harus berdo'a untuk hujan lebat lagi esok hari? Bisa-bisa Konoha banjir bandang jika do'a Naruto selamanya dikabulkan.
Tawa khas backsound acara lawak-lawak di televisi pun terdengar keluar dari para murid laki-laki bertelinga jahil yang menyadap pembicaraan mereka.
"Maaf. Apa Naruto-kun keberatan? Kita bisa pergi ke tempat lain kalau Naruto-kun tidak mau."
"Tidak, kok. Terserah Hinata-chan saja deh." dan terpaksalan Naruto tersenyum. Tak dalam keadaan cemberut ataupun tersenyum ceria, bagaimanapun ekspresi Hinata akan tetap mampu membuat Naruto tak berkutit untuk melawan.
TBC
AN: Yo~ ketemu lagi. Maaf atas segala kekurangan dengan update kali ini. Walau udah diusahain ngetik dengan sangat, nyampe 2k aja enggak. Garing? Memang, tiga adegan ditulis dalam beberapa waktu yang berbeda sangat mempengaruhi.
Terimakasih bagi yang sudah mendukung ff ini dengan fav, foll, dan rev-nya. Juga para silent rider terhormat tentunya.
Minggat dari TKP, SALAM, 48!
Bye-bye~
