Turth or Dare

A HunKai Fanfiction

2016© PeachSundae

Rate : M

Cast : Sehun, Jongin, Jong Dae, Taemin (SHINee), Niel (Teen Top)

'Hanya permainan yang dapat mengubah nasib mereka'


Semua mata memandang ke arah moncong mulut botol yang masih berpuatar mengikuti arah jam. Berdoa dalam hati supaya mereka tidak terpilih sebagai korban permainan yang mereka tentukan untuk mengisi jam kosong. Bergerak lambat seperti film pada akhirnya moncong botol bekas tersebut mengarah pada pemuda manis yang tengah menatap blank botol, membuat sebuah seringaian pada wajah 'badut' temannya tersebut mengembang.

"Aku—

Kedua bola mata jernih itu bergerak liar ke kanan dan ke kiri, menatap wajah jahil teman-temannya yang sudah bersiap memberikan tantangan maupun pertanyaan sesuai dengan kalimat yang akan terlontar dari mulutnya. "Truth." Ucapnya final.

"Kau benar-benar berpacaran dengan pangeran kodok itu Tae?" tanya Chen dengan salah satu kaki ia tekuk di kursi. Semua menatap pemuda manis itu penasaran. Taemin—wajah pemuda itu memerah dan segera ia mengangguk. "Tapi jangan beri tahu siapa-siapa." Pintanya yang langsung mendapat tepukan beruntun pada pundaknya.

"Maka dari itu, kau harus mentraktir kami untuk tutup mulut." Kali ini Niel dengan nada berharap sedang mencoba untuk memeras Taemin. Mau tak mau ia mengangguk supaya sekumpulan orang pemegang aibnya benar-benar tutup mulut dan harus mengeluarkan uang ekstra karena pengeluaran yang tidak terduga ini. Taemin mulai memutar botol dengan tenaga lemah, sehingga perputaran botol itu bergerak lambat dan menambah kecepatan detak jantung mereka.

"Sialan!" upat namja berwajah badut tadi sembari mengacak rambutnya. Kesempatan untuk membalas dendam kepadanya adalah pilihan yang tepat bagi mereka yang pernah menjadi korban dalam acara mengumbar aib ini. Pemuda bername tag Kim Jong Dae itu tampak berfikir keras. Memilih atau tidak salah satu itu memiliki dampak yang besar dan beresiko, "Aku pilih dare!" ucapnya mantap.

"Kalau begitu akhir pekan nanti kau harus memberikan foto ciumanmu dengan anak universitas top itu." Pemuda berkulit pale sudah menyela ucapan Taemin yang baru saja membuka mulutnya.

"Tidak-aku ganti truth!" Suara protes terdengar darinya begitu mendengar tantangannya.

"Terima atau foto beep milikmu akan ku pajang di mading sekolah." Ini bukan tantangan lagi tapi sebuah ancaman. Jongdae mengerutkan dahinya karena Taemin sengaja menyensor katanya.

Kesal, Jongdae mulai memutar botol. Menatap intens dan ingin membalas dendam siapa pun yang akan menjadi gilirannya. Botol itu kembali terhenti, kearah pemuda pale yang tengah bersedekap—pemuda yang memberinya dare menyebalkan.

Jongdae langsung memukul meja, memajukan tubuhnya. "Truth." Dan senyum kemenangan menghiasi muka horror Jongdae. "Kau benar-benar menyukai Jongin bukan Oh Sehun?" tanya Jongdae dengan menyebut nama lengkap pemuda tersebut.

Sehun hanya diam menatap malas wajah aneh Jongdae, mendorong wajah badut tersebut dengan kasar. "Tidak." Singkat, padat, dan jelas namun jawaban itu membuat Jongdae kembali tersenyum.

"Kau tau truth itu apa bukan. Apa perlu kuperjelas masalah saat kita pergi menginap saat liburan musim panas kemarin?"

Dasar mulut ember! Maki Sehun dalam hati yang masih mempertahankan wajah datarnya.

"Kau tidak ingat saat malam waktu itu, mendesahkan nama Jongin?" Secepat kilat Sehun meraih kerah seragam Jongdae, menyebabkan dua kawannya menatap tidak percaya. Taemin langsung memegang tengkuk Sehun, menatapnya tajam. "Dasar otak mesum."

"Kau yakin suka dengan orang pintar macam dia?" Kali ini Niel angkat bicara, "Atau kau hanya menyukai bodinya saja?"

Sebenarnya pertanyaan yang kedua itu cocok untuknya karena ia begitu memuja tubuh menggiurkan tersebut, apa lagi saat pelajaran renang. Ah, rasanya air liurnya mulai menetes. "Jangan menuduhku seperti itu, kalian pasti tau kalau sudah lama bersahabat dari kecil akan tumbuh apa." Tapi tentu saja ia berbohong dan berdalih.

Mereka mengangguk setuju, "Jadi kau benar-benar menyukai Jongin?"

"Tentu saja! Siapa yang tidak suka dengan pemuda manis seperti Jongin."

"Aku kenapa?" tiba-tiba saja pemilik nama tersebut muncul setelah bangun dari tidurnya. "Siapa yang menyebutku pemuda manis?"

Sehun diam-diam berusaha menelan salivanya, berusaha bertingkah senormal mungkin. Salahkan dirinya yang menggebu-gebu kalau sudah menyangkut Jongin. "Begini tadi Sehun memberitahu kami bahwa adik kelas menyebutmu manis." Sehun melotot ke Taemin tapi namja yang merupakan kembarannya namun berbeda warna itu hanya tersenyum dan sekilas melirik dirinya. "Tapi Sehun sudah memarahi mereka karena ia tau kau tidak suka dipanggil manis."

Sebenarnya Taemin sedang kerasukan apa? Tiba-tiba baik seperti ini atau jangan-jangan tanpa ia sadari Taemin berusaha membantunya untuk mendapatkan hati Jongin? Oh sepertinya traktiran itu sudah berganti dengan ucapan manis nan palsu tapi membuatnya bahagia.

"Ah lebih baik kau ikut bermain saja Jongin. Sepertinya permainan ini mulai membosankan karena kurang banyak pemain." Niel mencoba mengajak Jongin bermain. Semua memandang dirinya, jadi mau tak mau dan tidak enak hati Jongin ikut bergabung. Sehun langsung memutar botol begitu Jongin mengambil kursi yang tak terepakai di belakang, namun tau-tau moncong botol tersebut sudah berhadapan dengannya saat bokong indahnya itu duduk.

"Kalian tidak curang bukan?" Jongin mencurigai kegiatan ilegal temannya.

Semua kompak menggeleng, "Tentu saja tidak, kau lama mengambil kursi jadi kau tidak melihat Sehun memutar botol secara sah." Jongdae menyalahkan Jongin, padahal dirinya sendiri yang langsung menghentikan arah botol. "Jadi truth or dare?"

"Truth,"

"Yakin."

"Tentu."

"Kau sudah mengenal Sehun dari lama dan juga sebaliknya—

"Cukup basa-basinya, to the point." Potong Sehun yang tidak sabar mendengar pertanyaan Jongdae.

"Kau menyukai Sehun?"

Dan seketika Jongin tertawa dan tanpa sadar membuat menyakiti Sehun. "Tentu saja tidak, aku menganggapnya sebagai sahabat yang setia." Ujarnya dengan menepuk lengan Sehun. "Kalau begitu boleh kan aku memutar botolnya?"

Semua yang sedang dalam keadaan terkejut kaget dan mengangguk. Jongin memutar bola tersebut, memutarnya dengan cepat berharap bukan dirinya yang menjadi target selanjutnya. Bolot tersebut masih berputar, bahkan terlalu lama. "Ah lama!" protes Jongdae yang dengan seenak jidatnya menghentikan benda tersebut, dan doa Jongin tidak terkabul.

"Ya, muka bebek! Jangan seenak jidat lebarmu menghentikan botolnya." Jongin hendak ingin memutar kembali botol yang mengarah pada dirinya, namun tangan Sehun mengehentikannya.

"Truth or dare." Sepertinya Sehun tersulut emosinya karena perkataan Jongin.

"Dare." Ucap Jongin nyolot, masih tak terima dengan tindakan tercela Jongdae.

"Kalau begitu," Sehun menatap Jongin tajam, "Kutantang kau diantara kita berdua siapa yang mendapat peringkat tertinggi memiliki satu permohonan." Jongin mengangguk menyetujuinya. "Kalau aku menang, kau harus menciumku sebagai penghargaannya. Tepat di bibir!"

"Ya! Kau punya dendam kesumat apa dengan Jongin?" tanya Taemin mulai panik dengan situasinya.

"Aku senang sekali kau yakin seperti itu," Jongin menarik kerah Sehun, "tapi ingat ini baik-baik, kalau aku yang menang siap-siap saja kau menjadi pembantuku Oh Sehun." Suara mengintimidasi itu sedikit menggetarkan nyalinya. "Sudahlah aku mau pulang. Jadi selamat datang dalam mimpi burukmu Sehun."

Ketiga orang tersebut terbengong-bengong mendengar perkataan Jongin, Sehun saja masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Kau sehat Hun?" tanya Niel terdengar khawatir dengan kesehatan dan nasib Sehun selanjutnya.

.

.

.

Memasukkan beberapa buku dalam tas ranselnya, Sehun bersiap-siap pergi ke rumah Jongin sesudah ia menandai di kalender dengan simbol silang. "Ah sepuluh hari lagi." Gumamnya sambil membusungkan dada, merasa percaya diri bahwa dirinya yang akan menang.

Menuruni tangga, Sehun berteriak meminta ijin untuk pergi ke rumah Jongin. "Saat makan malam kau harus pulang!" ibunya membalas dari dapur yang sibuk meracik bumbu.

"Tidak!" balas Sehun. "Karena aku akan makan malam bersama calon mertua." Dan tawa setan mengiringin Sehun memakai sepatunya. Bisa-bisa saja perkataan itu keluar dari mulutnya.

Jarak antar rumah mereka tidak jauh, hanya berjarak dua blok rumah bahkan ia bisa melihat nuna Jongin sedang menyiram tanaman. "Ah kebetulan sekali!" pekik Sehun senang cepat-cepat mendatangi rumah calon mertua. "Annyeong nuna." Sapa Sehun ramah cari muka.

"Ah Sehun, mau bertemu dengan Jongin?" Nuna Jongin menghentikan kegiatannya sejenak, "Seperti biasa dia di kamar, mau belajar bersama?" tanyanya melihat tas ransel di pundak Sehun.

"Tentu nuna, sebentar lagi test."

"Ow, kalau begitu ingatkan Jongin untuk belajar." Sehun mengangguk dan segera masuk, namun di dalam rumah sederhana itu sepi. Biasanya ia akan mendapat sapaan dari Nyonya Kim atau mendapati Tuan Kim menonton tv di ruang keluarga.

Tak mau repot-repot memikirkan hal sepele Sehun bergegas ke kamar Jongin yang ada di lantai dua. Mengetuk pintu bercat polos itu pelan, ia medengar Jongin menyuruhnya untuk masuk. Kamar yang cukup rapih (kecuali dibagian keranjang pakaian) membuat Sehun kagum, kamarnya saja seperti kapal pecah karena banyak barang-barang istimewa miliknya. Iris hitamnya mendapati tubuh shirtless Jongin sedang bermain ps.

Sialan! Mata suciku! teriak batin Sehun mendapati pemandangan yang menggoda. Tubuh tan yang sialnya jarang sekali ia lihat tertampang jelas. Punggung mulus itu membuat sesuatu dibawah mulai sesak, apalagi melihat bagian depannya. Aduh sepertinya Sehun sedang di uji kesabarannya.

"Oh kau Sehun? Mau belajar bersama?" Tanya Jongin membalik tubuhnya. Jakun Sehun bergerak naik turun merasa tidak kuat menahan hasratnya. OMG! Apa yang harus aku lakukan!

"Hem, Jong. Aku ke toilet ya." Cepat-cepat Sehun masuk ke toilet walau matanya sesekali melirik tubuh menggoda itu. "Sialan!" upat Sehun pelan setelah menutup pintu. "Masa aku harus bermain solo?" Miris, miliknya benar-benar terbangun.

Suara ketukan pada pintu menghentikan tangan Sehun yang mengelus barang pribadinya. "Kau tidak apa-apa Hun?" Sehun tersenyum karena perhatian Jongin.

"Ya, aku tidak apa-apa."

"Yakin?" Jongin kembali bertanya utuk meyakinkan diri. "Kau mau main solo di kamar mandiku?"

Fuck! Jadi Jongin tau kalau miliknya terbangun? Mau ditaruh mana wajah tampan miliknya ini?! Ia hanya dapat tersenyum miris mendengar tawa puas milik Jongin. "Apa perlu ku putar koleksi video milikku?" tawar Jongin membuat Sehun langsung membuka pintu, mengunci diri Jongin yang masih dalam keadaan shirtless dalam kungkungannya.

"Kau mau cari mati?" bisik Sehun mencoba menghirup wangi tubuh Jongin. "Karena aku yakin setelahnya kau akan berada di bawahku."

Jongin memandang remeh Sehun, jari telunjuknya menekan-nekan dada bidang milik teman kecilnya tersebut. "Oh ya? Sayang sekali kau bukan tipeku." Hidung mereka saling bergesekan dan nafas hangat Jongin dapat ia rasakan setelahnya ia mendorong tubuh yang lebih besar darinya. Tangan kanannya meraih kaos biru tua yang tersampir pada kursi belajarnya, mulai menata meja untuk kegiatan belajar mereka. Sehun menatap Jongin sebal, sebenarnya apa yang kurang dari dirinya? "Jadi tipemu seperti apa?"

Jongin memanyunkan bibirnya, "Kris hyung? Chanyeol hyung? Atau Baekhyun hyung?" bahkan itu sama sekali tidak membuatnya kaget, "Tunggu dulu! Apa? Baekhyun cerewet itu?" Ia tidak salah dengar bukan?

Pemuda tan itu mengangguk, "Aku suka karena akhirnya ia punya roti sobek."

"Aku juga punya!" Langsung saja Sehun mengangkat kaosnya, memamerkan absnya yang sempurna. "Tempatku lebih bagus dan menggiurkan, asal kau tau." Ia tidak terima!

Menatapnya bosan, Jongin langsung menarik tangan Sehun membawanya mendekat pada dirinya. "Jadi boleh aku mencicipinya?" Wajah Sehun memerah terlebih tangan Jongin masuk ke dalam kaosnya. Kenapa ia tidak tau sisi Jongin yang seperti ini? Seingatnya Jongin itu orangnya menyebalkan karena keras kepala.

Sehun menahan tangan itu sebelum semakin liar, mengarahkannya pada bagian selatan miliknya. "Kalau kau mau boleh sa- Akh! Sakit Jongin, kau meremasnya terlalu kuat!" Bentaknya.

"Sebenarnya kau mengajakku belajar bersama atau malah—

Sehun mendekap mulutnya, duduk bersila dengan wajah masam dan mulai mempersiapkan semuanya seolah kejadian tadi tidak terjadi.

.

.

.

Tersenyum ketika pembagian hasil ulangan Matematika, Sehun yakin bahwa ia akan mengungguli Jongin. Hitung-hitung sebagai standar kalau ia harus belajar lebih keras lagi. Satu per satu mulai bangkit dari duduknya untuk mendapat kertas bertinta merah di pojok. Dirinya mulai gugup karena namanya tak kunjung di panggil, melihat wajah-wajah temannya saja menambah kegugupannya.

"Oh Sehun!"

Mendorong kursinya terlalu kasar, ia di protes teman belakangnya. Meminta maaf karena ia tidak tau bahwa temannya tersebut sedang memalsukan nilai. Menerimanya dengan tangan berkeringat, Sehun mendesah lega. Nilai 90 tertulis di pojok kertas penuh coretan. Ia melangkah dengan rasa bangga untuk kembali ke kursinya. Sehun masih takjub dengan nilainya, hingga ia lupa bahwa Jongin sudah mendapatkan kertasnya.

Sengaja mengindik, Sehun perlahan mulai melihat tinta merah tersebut.

SRAK

96

Sial! Sehun menggigit pipi bagian dalamnya untuk menahan hasrat untuk memaki. Jongin menoleh ke belakang, mencoba menurunkan sedikit kertas milik Sehun. "Ah sepertinya aku akan mendapat pembantu." Ejek Jongin.

"Terserah!" Sehun mendorong tangan kanan Jongin, menyimpan kertasnya di antara halaman buku cetaknya. Duduk tenang dengan arah mata ke depan membuat Jongin menahan tawa. Sepertinya posisinya belum berubah, bisa-bisa ia benar-benar jadi pembantu. Apa ia perlu melakukan hal curang? Lagi pula larangan hal curang tidak ada dalam perjanjian mereka. Buru-buru Sehun menggelengkan kepala, hati kecilnya berkata untuk bersaing sehat.

Beberapa cara kotor terus berputar dalam pemikirannya. Namun salah satu ide yang terlintas membuat dirinya tersenyum kecil. Mungkin menerror Jongin tidak buruk seperti memberinya kado berisi bangkai burung, tapi kalau ia tertangkap basah Jongin akan membencinya dan membuat mental Jongin sedikit rusak. Menggaruk kepalanya, ia menengok kebelakang tepat pada posisi duduk Taemin, kemudian beralih ke Niel, dan ke Jongdae. Apa ia harus meminta bantuan dari teman-temannya?

"Itu salahmu sendiri bodoh!"Taemin.

"Ah... karena yang memberikan dare adalah dirimu kau harus menuntaskannya sendiri. Fighting!"— Niel.

"Karma."Jongdae.

Sialan! Membayangkan jawaban dari Jongdae saja sudah membuatnya mengelus dada, apa lagi kalau itu benar-benar terjadi mungkin Sehun kenyang makan hati.

.

.

.

D-3

Itu yang tertulis pada kalender meja Sehun. Menidurkan kepalanya, Sehun memutarkan pensil mekaniknya hingga terbentuk lingkaran. Tidak ada yang berubah setelah Sehun memberikan tantangannya pada Jongin, anak itu seolah menjalani hari membosankan tanpa ada beban dan masalah kedepannya. Hasil dari ulangan mereka saling balapan, terkadang Sehun mendapat nilai tingga dan sebaliknya. Ia tidak bisa mengambil keputusan siapa yang nantinya akan menjadi pemenang.

Suara ketukan pada pintunya tak ia tanggapi, masih dalam pemikirannya hingga bunyi pintu terbuka membuatnya menatap sosok di ambang pintu. Ibunya tersenyum dan segera mendatangi anaknya yang lemas. "Ada masalah?" tanya ibunya sambil mengelus rambut Sehun. Sebagai tanggapan Sehun menggeleng dan memeluk ibunya, mulai bersikap manja. "Ayo kita makan malam, setelah itu kau bisa melanjutkan belajarmu." Ajak wanita itu menutup beberapa buku milik Sehun.

Anaknya yang manja ini hanya memanyunkan bibirnya. "Yakin kau tidak ada masalah?"

"Ya- hanya masalah biasa antar anak lelaki."

"Kau tidak berkelahi bukan?"

Tidak tapi sebentar lagi anakmu akan menjadi pembantu

Sehun menggeleng, bangkit dari duduknya dan memeluk lengan Sang Ibu, cepat-cepat makan malam dan kembali menenggelamkan dirinya dalam buku. Berusaha sekuat mungkin untuk memenangkan tantangan.

Begitu ia sampai di bawah ayahnya menyapanya, memimpin doa, dan memulai acara makan malam bersama. Wangi masakan ibunya menggugah seleranya yang sempat menghilang. Seperti biasa acara makan malam ini ada sesi tanya jawab antara orang tuanya, menanyakan prestasinya, masalah di sekolah dan hal-hal lain yang Sehun jengah untuk menjawabnya. Ia baik-baik saja, tak ada masalah.

Kembali ke kamarnya, handphonenya sudah bergetar. Sebuah pesan masuk membuatnya mengerutkan dahi. Tumben sekali Jongin mengirimkan pesan padanya, hanya berbasaa-basi atau malah mengejeknya? Ia tidak membukanya, membiarkan handphonenya tergeletak di tumpukan buku-buku. Mengabaikannya dengan kembali belajar, namun getaran itu kembali datang. Pada akhirnya Sehun membukanya.

Senyuman lebar terpasang diwajahnya. Jongin bertanya kenapa tidak lagi belajar bersama karena selama dua hari belakangan Sehun malas pergi ke rumah Jongin.

To : Bear

Subjec :

Aku tidak mau mengganggumu belajar.

Send

Mematikan handphonenya, Sehun berkonsentrasi dalam belajarnya.

.

.

.

Test telah tiba.

Sehun sudah mempersiapkan dirinya baik-baik. Namun sebelum bertemu dengan teman-temannya ia mampir ke perpustakaan untuk mengulang kembali apa yang telah ia pelajari. Kaki panjangnya menelusuri rak-rak buku untuk menemukan tempat yang cocok untuknya hingga ia tidak sengaja menangkap sosok Jongin yang tengah tertidur dengan memakai buku untuk menutup wajahnya.

Ia melangkah mundur, membatalkan niatnya untuk belajar.

.

.

.

"Kenapa kau menhindari dariku?" pertanyaan Jongin membuat arah pandangnya beralih dari handphone.

"Aku tidak menghindarimu," Sehun menyimpan benda tersebut dalam saku celananya. "Aku hanya tidak mau mengganggu belajarmu."

.

.

.

Seminggu telah berlalu, hasil test sudah di pasang pada papan pengumuman di depan sekolah. Kerumunan murid-murid memadatinya, mencari nama mereka. Senyuman mulai mengembang setelah Jongin dapat menemukan namanya.

Urutan kedua paling atas alias rank nomor 2 dan dengan nama Sehun di bawahanya.

"Tumben sekali." Monolognya dan segera pergi. Kembali ke kelas dan menanyakan keberadaan Sehun.

"Aku tidak tau." Jawab Jongdae yang masih asik mengunyah roti dari kantin. "Tapi sepertinya ia ada di uks. Moodnya sedang tidak baik."

Jongin langsung bergegas ke uks, belari pelan hingga papan bertuliskan uks berada di depannya. Ia mencoba mengindik lewat kaca tengah pintu, mendapati seseorang yang tengah berbaring tanpa melepaskan sepatunya.

Membuka pintu itu pelan, wajah Sehun terlihat ketika Jongin mulai mendekat. Alis itu saling bertautan, wajahnya mengerah terlihat bahwa ia sedang marah. Jongin jadi kasihan, tapi itu salah Sehun sendirikan yang memberinya tantangan seperti itu. Menatap lama wajah yang sedang marah itu membuat Sehun menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Entah kenapa rasa malu ia rasakan.

Perlahan Jongin membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun dan memberikan kecupan manis yang singkat. Ia berbalik namun tangannya langsung ditahan oleh Sehun. Jongin menoleh mendapati Sehun yang hanya menatapnya. "Kenapa menciumku?" suara dingin Sehun membuat Jongin kaget dan terdiam dengan kedipan lucu. "Padahal sesuai dengan tantangan aku akan menjadi pembantumu bukan?"

"Ini hadiah karena kau akhirnya bisa masuk peringkat 3." Sehun mengerutkan dahinya. "Selama ini kau belum pernah seperti ini. Maksudku belajar dengan giat untuk mengalahkanku." Tiba-tiba saja Sehun menghempaskan tangan Jongin.

"Kalau kau kasihan terhadapku, lebih baik kau keluar saja."

Sehun merubah posisi memunggungi Jongin, merasa kesal karena ia akan menjadi pembantu. Sebenarnya ia tidak marah akan kekalahannya, hanya saja hatinya menginginkan lebih dan ia tidak tau apa yang 'lebih' itu.

"Kalau begitu," Jongin duduk di pinggir kasur, "bagaimana kalau aku merubah permintaanku." Kemudian memajukan wajahnya hingga manik hitamnya bertemu dengan manik yang sama dengannya. "Meminta Oh Sehun menjadi kekasih Kim Jong In."

Status... 100%

Dare : End


Hem, Hai! óωò

Pai~pai

05/12/2016