My Selfish Desire [SEQUEL]
Love Live! School Idol Project
Pair : Male! Umi x Kotori
WARNING : AU! OOC! FUTURE! Typo(s)
Love Live! Is not mine!
8 tahun sudah berlalu semenjak Umito pergi ke Aomori dan dia hanya meninggalkan sepucuk surat kepada Kotori, teman masa kecilnya sekaligus gadis yang dicintainya. Pada saat itu Kotori merasa kehilangan dan pada saat itu juga perasaan Kotori terhadap Umito tumbuh, hingga sekarang.
Kotori sekarang sudah menjadi seorang desainer kostum. Hal itu membuatnya sangat bahagia, karena menjadi seorang desainer kostum merupakan cita-citanya. Bukan hanya itu yang menyebabkan Kotori bahagia sekarang. Besok, pernikahannya dengan laki-laki yang dicintainya yaitu Sonoda Umito akan segera dilaksanakan.
"Oi…. Sonoda-san!" Teriak seorang wanita berambut twintail.
Yang dipanggil menoleh dan menghampiri sumber suara tersebut.
"Hey, Hey, nama margaku masih Minami, tau!" Ucap gadis berambut abu-abu tersebut sambil duduk.
"Yah, enggak apa-apa, 'kan? Bentar lagi juga bakal ganti." Nico nyengir.
"Iya, deh, Nishikino Nico-san." Balas Kotori ketus. "Kemana suami tercintamu itu, Nico-chan?" Tanya Kotori.
"Emm, si sayang lagi banyak urusan di rumah sakit, jadi dia gak bisa ikut." Nico nyengir, lagi.
"'si sayang'? Pffftttt…." Kotori dan Eri mencoba menahan tawa.
"Oi, Oi, emang aneh ya kalo istri manggil suaminya 'sayang'?" Tanya Nico kepada Eri dan Kotori.
"Bukan itu masalahnya! Kalian sewaktu kuliah itu kerjaannya kan berantem terus, Ya aneh aja, 'kan?" Jelas Kotori sambil tertawa.
"Itu kan dulu. Sekarang udah beda, lah."
"Begitu, 'kah? Padahal aku masih sering melihat kalian berantem gak jelas." Timpal Kotori.
Nico hanya diam saja mendengar ucapan Kotori. Karena memang betul kalau Nico sering berantem dengan suaminya bak anak SMA yang masih labil, walaupun itu hanya masalah sepele. Tapi, anehnya hubungan mereka tetap awet. Bahkan mereka sudah memiliki anak sekarang.
"Oh ya, Kotori, ngomong-ngomong mana calon suami-mu?" Eri bertanya.
"Umito-kun bilang ada urusan sama keluarganya, waktu aku bangun pagi juga dia sudah gak ada di rumah." Jelas Kotori.
"Eh? Tunggu! Kalian tinggal serumah?" Tanya Nico kaget
"Unn…" Kotori mengangguk.
"Sudah berapa lama?" Kini giliran Eri bertanya.
"Emm… sekitar 1 bulan, deh. Pokoknya semenjak dia melamarku dan membicarakannya kepada orang tuaku dan orang tuanya, kita langsung tinggal bersama." Kotori tersenyum.
"Serius? Selama itu?" Eri dan Nico tercengang.
"Unn…" Kotori mengangguk. "Memangnya kenapa?"
Eri hanya bisa tepuk jidat. "Tidak, bukan apa-apa."
"Nee, Nee… kalian kan udah tinggal serumah selama satu bulan. Jadi, gimana? Kamu udah ngelakuin 'itu' belum?" Bisik Nico kepo.
Reflek Eri langsung menjitak Nico. "Bodoh! Itu privasi, tau!" Eri membentak.
"I-Ittai…" Nico memegang kepalanya. "Gak apa-apa, 'kan? Kita kan temenan, iya, gak?" Nico menoleh ke arah Kotori.
Wajah Kotori memerah mendengar pertanyaan tersebut. "Kalau itu sih belum." Jawab Kotori pelan.
Nico sedikit kecewa dengan jawaban Kotori. "Ah, gimana, sih? Udah tinggal bareng selama sebulan tapi masih belum ngelakuin 'itu' juga? Kamu itu harus lebih agresif, agres-"
Eri menyumpal mulut Nico dengan Roti. "Sudah cukup! Jangan dengarkan ocehan manusia ini, oke, Kotori?"
Kotori hanya menangguk tapi wajahnya masih merah. Mungkin pertanyaan Nico tadi masih terngiang-ngiang di kepala Kotori.
Nico yang disumpal roti oleh Eri pun menjadi tersendak kemudian dia minum air dan mengatur nafasnya.
Nico menggebrak meja dan berdiri. "Woi, Russia, lu mau bunuh gue, ya?" Bentak Nico sambil nunjuk-nunjuk Eri.
"Hah? Abisnya pertanyaanmu dan saranmu itu udah kelewat batas!" Jawab Eri kalem.
Nico pun kembali duduk. "Ngobrol hal begituan sama jomblo mah gak akan nyambung. Mending lu cari calon aja, deh." Saran Nico kepada Eri.
Perkataan Nico sukses membuat Eri naik pitam. "Hah?! Apa maksudmu?! Mau berantem?!" Bentak Eri sambil menggebrak meja.
Nico kembali meenggebrak meja. "Gak takut!" Jawab Nico tak kalah sengit.
"Udah, udah, daripada ribut mending kita makan." Ucap Kotori sambil menenangkan kedua temannya tersebut.
Eri dan Nico pun menurut dan kembali duduk.
Mereka bertiga makan siang bersama, bernostalgia pada saat-saat masih kuliah dan membicarakan banyak hal. Tanpa disadari Eri dan Nico kembali akur, mungkin ini yang dinamakan persahabatan.
Disaat perjalanan pulang Kotori memperhatikan wallpaper pada ponselnya, di ponsel tersebut terpampang Umito dan Kotori berfoto bersama saat wisuda. Dia hanya senyum-senyum sendiri saat mengingat Umito kembali ke Tokyo dan masa kuliah bersama kekasihnya tersebut.
FLASHBACK
Hari pertama disaat penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru di salah satu Universitas Tokyo. Kotori tengah istirahat sambil jalan-jalan di taman kota Tokyo. Ada kalanya dia masih memikirkan Umito dan berharap laki-laki bersurai biru gelap tersebut segera kembali.
"Umito-kun…." Ucap Kotori lirih.
Tiba-tiba saja ada suara seorang pria yang bersin. Kotori yang penasaran celingukan mencari siapa orang yang bersin tersebut. Dan didapatinya seorang pria berambut biru gelap tengah duduk di bangku taman, sendirian. Kotori kaget setengah mati, dia diam sejenak saat melihat sosok laki-laki tersebut. Kemudian, dia berlari menghampiri laki-laki itu.
"Umito-kun!" Panggil Kotori terengah-engah.
Laki-laki itu menoleh. "Oh ya…-" Setelah melihat sosok yang memanggilnya dia sedikit kaget. "K-Kotori?! S-Sudah lama, ya?" Ucap Umito sambil mendekat kepada Kotori.
"Unn…" Kotori mengangguk pelan.
"Gimana kabarmu? Kamu kuliah disini juga?" Tanya Umito.
"Kenapa?" Bukannya menjawab Kotori malah bertanya.
"Huh?"
Air mata Kotori mulai mengalir. "Kenapa kamu gak bilang kalau kamu bakal pindah? Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi? Kenapa kamu gak ngabarin aku selama ini?" Kotori mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia tahan.
"I-Itu… Maaf!" Umito gelagapan untuk menjawab pertanyaan gadis berambut abu-abu tersebut. Hanya kata 'Maaf' yang bisa ia ucapkan.
Mereka berdua diam sejenak, suasana menjadi canggung.
Setelah mereka saling diam, tiba-tiba Kotori memeluk Umito dengan erat, seakan ia tidak ingin laki-laki itu pergi dari dekapannya. Yang dipeluk hanya bisa pasrah, Umito merasa bersalah atas perbuatannya, mungkin Umito menyesal karena telah membuat gadis yang dicintainya menderita selama ini.
"Kenapa?" Kotori kembali berbicara dengan suaranya yang bergetar akibat menangis. "Kenapa kamu gak bilang kalau kamu menyukaiku?" Kotori semakin mengeratkan pelukannya.
Umito hanya diam saja dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kotori.
"Nee… Umito-kun, kamu tau, pada saat aku menembak Kousaka-kun aku di tolak. Jujur aku frustasi pada saat itu." Ucap Kotori.
Umito hanya diam dan mendengarkan Kotori.
"Kamu ingat? Dulu sewaktu kita masih kecil, disaat aku sedang merasa sedih kamu selalu ada untukku, menghiburku, dan tersenyum padaku. Tapi, saat aku membutuhkanmu yang aku temukan hanyalah sebuah surat darimu, kamu bilang kamu akan pindah ke Aomori, aku benar-benar merasa kehilangan saat itu. Rasanya lebih sakit daripada di tolak oleh Kousaka-kun. Sejak saat itu yang ada di dalam pikiranku itu hanya kamu, Umito-kun. Mungkin pada saat itu aku mulai jatuh cinta padamu." Ujar Kotori.
Umito kaget, Karena Kotori mengatakan kalau dia mencintainya. Wajah Umito memerah seketika.
Kotori pun melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Umito dan menatapnya.
"Umito-kun, Apa cintamu kepadaku masih berlaku?" Tanya Kotori dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang sedikit bengkak akibat menangis.
Umito hanya menangguk pelan, wajahnya sudah sangat merah saat ini.
Melihat anggukan Umito, seketika Kotori langsung mencium bibir laki-laki bermanik amber tersebut sambil memeluknya erat. Umito awalnya kaget, tapi tak lama setelah itu dia membalas pelukan Kotori.
Kotori menyudahi ciuman yang sudah berlangsung lumayan lama tersebut. Keduanya menarik nafas dalam-dalam, mungkin mereka kekurangan oksigen akibat ciuman tadi.
"Terima kasih, Kotori. Maaf untuk semuanya." Ucap Umito sambil tersenyum. "Aku mencintaimu!" Ujar Umito. "Aku berjanji tidak akan melepaskanmu!"
"Unn… Aku juga, terima kasih karena sudah mencintaiku. Aku sangat mencintaimu, Umito-kun." Ujar Kotori sambil kembali memeluk pangerannya.
FLASHBACK SELESAI
Malam hari, di kediaman Sonoda yang baru dimana Umito dan Kotori tinggal bersama. Kotori masih terpengaruhi oleh perkataan Nico siang tadi. Ia pikir memang aneh, mereka sudah berpacaran cukup lama dan sekarang mereka tinggal bersama, terlebih pernikahan mereka sebentar lagi akan dilaksanakan. Namun, mereka sama sekali belum melakukan hal 'itu'.
Umito memasuki kamar ia berniat untuk tidur agar ia tidak mengantuk pada saat acara pernikahan besok. Setelah Umito memasuki kamar, Kotori terus memperhatikan Umito, lebih tepatnya adalah menatapnya dengan tajam.
"A-Ada apa?" Tanya Umito seketika.
"Gak, gak apa-apa." Jawab Kotori sambil duduk di kasur.
Umito duduk di sebelah Kotori. "Mendingan sekarang tidur. Soalnya besok kan hari yang kita tunggu-tunggu." Ucap Umito seraya mencium kening Kotori.
Wajah Kotori memerah. "Umm… Umito-kun?" Ciuman selamat tidurnya?" Pinta Kotori manja.
"Bukannya tadi udah?" Umito keherenan.
Jari telunjuk Kotori mengarah kebibirnya. "Di sini belum."
Umito pun langsung mencium bibir Kotori sekilas. "Selamat tidur, Kotori!" Ucap Umito sambil mengelus rambut Kotori.
Kotori yang merasa belum puas kemudian menarik Umito kedalam pelukannya dan membaringkan badan Umito. Tak cukup dengan itu, Kotori langsung mencium bibir Umito, sedikit liar karena dia menggunakan lidahnya. Umito pun membalas ciuman tersebut dan ia pun turut bermain dalam permainan lidah tersebut.
Sekitar 8 menit mereka berdua melakukan permainan lidah tersebut. Kotori melepaskan ciumannya lalu memeluk Umito sambil menindihnya dengan badannya.
"Ada apa, Kotori? Gak biasanya kamu kayak gini." Tanya Umito sambil mengelus-ngelus punggung gadis burung tersebut.
Kotori menggelengkan kepanya dan terus memeluk Umito dari atas.
Umito menghela nafas. "Ya sudah, lebih baik kita tidur. Besok kan hari special untuk kita berdua, oke?"
"Unn…" Kotori mengangguk dengan posisi yang masih sama.
"K-Kotori? Bisa pindah?" Umito yang terlihat sesak karena ditindih oleh Kotori.
"Aku ingin tidur seperti begini. Sampai pagi!" Ucap Kotori sambil mengeratkan pelukannya.
"Tapi ini sesak!" Umito berusaha melepaskan pelukan Kotori selembut mungkin.
Kotori melepaskan pelukannya dan memandang wajah Umito dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang memelas.
"Onegai…"
Bang. Kotori menggunakan kartu andalannya. Jika sudah memakai kata ini,bahkan Umito yang dulunya tegas dan sangat keras pun bisa luluh. Ini merupakan titik lemah Umito.
"B-Baiklah…" Umito menurut seperti dihipnotis.
Kotori yang kegirangan kemudian kembali memeluk Umito. Tak butuh waktu lama Kotori langsung pergi menuju dunia mimpi. Umito yang menyadari Kotori sudah terlelap kemudian mengelus rambutnya dan berniat untuk menyusulnya ke dunia mimpi.
"Oyasumi, Kotori." Ucap Umito seraya memeluk wanitanya tersebut.
Keesokan harinya di acara yang sudah ditunggu-tunggu.
Persiapan Umito sudah siap dia sudah mengenakan Montsuki Haori Hakama untuk acara pernikahannya. Ia ditemani Miki yang merupakan suami dari Nico itu sedang menunggu mempelai perempuan yang sedang di rias oleh Eri dan Nico.
Selang beberapa waktu Kotori pun keluar dari ruangannya dia sudah menggunakan Shiramuku lengkap dengan Tsuni Kakushi. Kedua mempelai melihat satu sama lain, keduanya sama-sama terpesona.
"Oke, lihat bagaimana wanitamu?" Ucap Nico tersenyum.
"Y-Ya… Dia cantik…" Jawab Umito dengan wajah yang sudah merah.
Kotori yang mendengar pujian dari calon suaminya hanya bisa tersipu malu.
"Baik, baik, kalau begitu kami bertiga keluar dulu, ya! Kami akan memberitahu kalian jika acara akan dimulai." Ucap Eri sambil pergi.
"Rileks, oke? Jangan tegang!" Nico nyengir. "Yuk, sayang kita keluar." Ucap Nico sambil merangkul lengan Miki.
"Hai, Hai…" Jawab Miki menurut.
Dan hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan tersebut. Suasana menjadi canggung untuk mereka berdua.
"Kotori, Hari ini kamu cantik sekali!" Ucap Umito sambil menyentuh pipi Kotori.
Wajah Kotori yang sudah merah pun bertambah merah. "Arigatou. Umito-kun juga hari ini sangat tampan." Ucapnya tersenyum manis. "Umito-kun… Terima kasih sudah mencintaiku selama ini, aku sangat bersyukur bisa memilikimu. Terima kasih untuk segalanya." Kotori menitikan air mata.
Umito mengangguk pelan. "Aku juga, terima kasih karena sudah mencintaiku. Aku berjanji akan membahagiakanmu." Ucap Umito lantang sambil menyeka air mata Kotori.
Mereka pun saling diam entah karena canggung atau gugup.
Tiba-tiba Umito mendekatkan wajahnya ke wajah Kotori, Kotori yang mengerti apa yang akan dilakukan oleh Umito pun langsung melakukan hal yang sama.
Chu! Mereka pun berciuman mengenakan pakaian pernikahan mereka. Mereka terlihat sangat bahagia. Mereka merasa bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Nico membuka pintu. "Hey, acara akan dimulai sebaiknya kalian kel-" Ucapan Nico terpotong setelah ia melihat apa yang terjadi di dalam.
Eri juga melihatnya, namun dia hanya bengong saja melihat hal tersebut. Maklum jomblo.
Kotori dan Umito kaget sehingga mereka langsung menghentikan kegiatan mereka tersebut. Wajah keduanya sangat merah layaknya kepiting rebus.
"Oke, oke, sekarang kalian berdua keluar acara akan dimulai! Kalian bisa melakukan hal 'itu' nanti malam, ngerti?!" Ucap Nico. "Eri, ayo keluar."
Eri masih bengong.
"Woi, kenapa bengong?"
"E-Eh T-Tidak bukan apa-apa!" Eri sedikit panik.
Nico nyengir. "Aha! Lu iri, 'kan? Ahahahaha… makanya cari calon biar bisa 'begituan' juga!" Ledek Nico.
Eri kesal dengan perkataan Nico. "Niiiccooooo!" Rasanya Eri ingin meledak sekarang juga.
Miki pun datang dan melerai mereka berdua.
"Sudah, sudah! Malu diliatin orang!" Ucap Miki sambil menyeret mereka keluar. "Umito, Kotori, kalian juga keluarlah! Acara akan segera dimulai!" Teriak Miki.
Umito menghela nafas. "Baiklah! Nee… Kotori, apa kamu bahagia?" Tanya laki-laki berambut biru tua tersebut.
"Tentu saja." Jawab Kotori sambil tersenyum.
Umito mengulurkan tangannya. "Ayo!"
Kotori menerima uluran tangan tersebut. "Baik, Anata!"
*Beberapa tahun kemudian.
Di taman kota Tokyo, terdapat seorang anak kecil dia sedang bermain dan bersenang-senang dengan keluarganya.
"Mama! Papa!" Panggil gadis kecil tersebut sambil melompat kearah Ayahnya.
Dengan sigap Ayah dari gadis tersebut menangkapna dan menggendongnya.
"Nee, Nee, Inikan? Taman tempat kenangan Mama dan Papa."
"Benar." Jawab sang Ayah yang bernama Umito. "Disinilah Papa dan Mama kembali bertemu dan membuat sebuah janji penting." Jelasnya.
"Janji? Seperti apa?" Gadis itu sedikit kebingungan.
Sementara sang Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya tersebut.
"Nee, Anata, Apakah kamu bahagia sekarang?" Tanya sang istri yang bernama Kotori sambil tersenyum.
"Tentu saja." Jawabnya mantap.
"Aku juga bahagia." Ucapnya seraya mencium pipi suaminya.
"Ah, aku juga mau cium Papa!" Gadis kecil tersebut mencium pipi Ayahnya.
Sang Ayah hanya tertawa kecil.
Kotori pun menyandarkan badannya pada Umito. "Kuharap semua orang juga akan bahagia."
"Seperti kita, 'kan?" Jawab Umito.
"Ya."
~fin~
Akhirnya! Setelah dilanda kesibukkan yang gak ada hentinya (Maklum kelas 12) akhirnya Sequel dari FF "My Selfish Desire" selesai juga. Bagi yang menunggu mohon maaf bila terlalu lama. Terima kasih bagi yang sudah mau baca FF saia. Mohon maaf apabila cerita ini garing atau sebagainya, dan mohon maaf juga bila banyak typo.
Ada beberapa adegan yang terinspirasi dari game Visual Novel Amagami.
Sekian dari saya semoga terhibur.
Xenotopia7
