Seijuurou baru saja ingin memesan beberapa karya milik Tsuna K. via online saat daun pintu kamarnya yang berpelitur diketuk pelan. Pemuda itu menghampiri dengan ponsel tergenggam.
Sosok sang ayah berada di balik pintu, serta menjawab pertanyaan singkat di dalam batin.
"Intoxicated, kisah seorang pria beristri yang menjalin hubungan gelap dengan seorang lacur yang ia temui setiap malam. Ending yang cukup jauh dari perkiraan pembaca bahwa sang lacur diterima dengan tangan terbuka setelah apa yang ia lakukan untuk menyingkirkannya dan memiliki suami sang wanita sepenuhnya. Menggunakan latar pada era modern yang cukup sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat jaman sekarang."
"Stay Close to Me. Seorang pria yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan wanita pujaannya, walau harus mengorbankan nyawa sebagai persyaratan untuk menikahinya. Ada beberapa adegan yang menggambarkan betapa eksplisitnya sang pria menggunakan metode BDSM yang sempat menjadi cecaran para kritikus. Namun gaya bahasa Tsuna K. sedikit berubah ketika ia menulis novel ini, sehingga keeskplisitan konten yang terdapat di dalamnya tersamarkan oleh majas dan premis yang cukup mendewa."
Seijuurou tak mampu berkata-kata lantaran sang ayah menodongnya dengan dua novel dari penulis yang sama dilengkapi ringkasan singkat gambaran cerita. Rasanya sang ayah seperti sedang menghadapi tes lisan dengan materi demikian.
"Aku membayar orang untuk membaca novel ini dan menulis esai singkat mengenai ringkasan tersebut selama tiga hari, jika kau penasaran."
Seijuurou mendengus dalam hati. Masaomi sepertinya niat sekali dengan hal ini.
Ketiga novel tersebut berpindah tangan. Seijuurou tak perlu repot-repot menghafal apa yang dilafalkan ayahnya karena ia memerhatikan setiap kata yang mengalir.
"Jam sembilan nanti ia mengadakan fansign. Katakan bahwa kau sudah membaca novelnya, namun jangan beritahukan identitasmu. Berlagak seolah-olah kau hanya fans biasa dan pertemuan itu adalah suatu kebetulan bahwa kau sedang berakting untuk menjadi fans novelnya."
Keningnya dikerutkan. Kepercayaan ayahnya memang patut diacungi jempol. Seijuurou akan menghubungi si pemilik jabatan tangan kanan Masaomi saja jika ada urusan yang harus ia ketahui mengenai calon tunangannya.
..
..
..
An Author
..
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)
Romance, Drama
M (for safe)
Future!AU (24 y.o Seijuurou & Tetsuna), typos, OOC, implicite lemon, genderbender, slight other pairs, etc.
..
..
..
Chapter 2: First and Second Meet, on a Day
..
..
..
Minggu. Hari kemalasan sedunia. Hari libur universal. Seharusnya menjadi hari di mana ia bebas dari segala agenda dan mengatur jadwalnya sendiri selepas hari kerja.
Namun ada yang berbeda pada hari Minggu ini, dan Seijuurou mau tak mau harus mengikuti agenda yang ditetapkan sang ayah secara sepihak.
Pukul sembilan di sebuah mall yang terpusat pada Distrik Shinjuku. Barisan manusia mengantri pada satu jalur yang menuju sebuah tenda berwarna putih berukuran persegi. Di sanalah Tsuna K. berada untuk acara penandatanganan. Seijuurou mengenakan pakaian kasual; hanya blazer yang cukup formal dengan dalaman kemeja berwarna biru tua dan celana bahan berwarna hitam, dirinya langsung menjadi pusat perhatian para hawa yang sedang mengantri pula. Seijuurou tak acuh. Ia menyembunyikan sepasang heterokrom merah-emas di balik kacamata hitam. Dengan sabar ditunggunya pembukaan fansign yang dimulai sepuluh menit lagi.
Staff utama mengumumkan bahwa para fans bisa berdiri pada antrian untuk masuk satu-persatu ke dalam tenda. Seijuurou melongokkan kepala dari tempatnya berdiri. Yang masuk pertama kali adalah seorang gadis dengan wajah berseri-seri. Hal yang lumrah jika kau ingin bertemu idolamu secara langsung. Seijuurou tak heran. Yang membuat penasaran hanyalah... sebagian pengantri adalah gadis-gadis yang ditaksirnya masih remaja- bukan umur yang cukup untuk membaca karya milik Tsuna K. yang ditunjukkan kepada pembaca berusia dua puluh tahun ke atas.
Seraya memainkan ponsel, pemuda itu menunggu gilirannya yang tak lama lagi akan tiba. Setiap fans diperbolehkan bertemu selama lima menit, dan tidak boleh membawa peralatan elektronik serta mendokumentasikan acara di dalam tenda kecuali staff yang bertugas dalam hal dokumentasi.
Sudah saatnya. Ia menyerahkan ponselnya pada penjaga tenda, membuka kacamata hitamnya, lalu melangkah masuk. Dadanya berdebar sedikit kencang. Saat menyibak tirai tenda, barulah ia terpana.
Rasanya seperti melihat hamparan bunga cosmos yang mekar pada saat musim panas. Mungkinkah karena sosok biru muda di hadapannya sedang mengenakan setelan bercorak bunga warna pelangi? Entah. Debaran pada dadanya jadi bertambah tatkala sang gadis yang duduk berhadapan dengannya mengulas senyum kecil nan hangat.
"Ohayou gozaimasu, silakan duduk."
Pemuda itu menempati satu bangku kosong yang memang disediakan oleh panitia fansign. Sebelum sang penulis memulainya dengan sedikit basa-basi, Seijuurou menodong dengan tiga novel karangannya.
"In Regards to Love: Eros. Kisah cinta yang cukup tragis mengingat salah satu pemain cintanya berhenti mengelilingi lingkaran karena sudah bosan, dan memutuskan untuk keluar dari zona nyaman demi mencari lingkaran cinta yang baru untuk disinggahi."
"Intoxicated, kisah seorang pria beristri yang menjalin hubungan gelap dengan seorang lacur yang ia temui setiap malam. Ending yang cukup jauh dari perkiraan pembaca bahwa sang lacur diterima dengan tangan terbuka setelah apa yang ia lakukan untuk menyingkirkannya dan memiliki suami sang wanita sepenuhnya. Menggunakan latar pada era modern yang cukup sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat jaman sekarang."
"Stay Close to Me. Seorang pria yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan wanita pujaannya, walau harus mengorbankan nyawa sebagai persyaratan untuk menikahinya. Ada beberapa adegan yang menggambarkan betapa eksplisitnya sang pria menggunakan metode BDSM yang sempat menjadi cecaran para kritikus. Namun gaya bahasa yang kau gunakan sedikit berubah ketika menulis novel ini, sehingga keeskplisitan konten yang terdapat di dalamnya tersamarkan oleh majas dan premis yang cukup mendewa."
"Semua judul novel yang kubaca ini memiliki ketertarikan yang kuat pada adegan seksual yang rasanya cukup eksplisit. Mungkin itulah yang membuat novelmu digemari karena bisa menjadi objek pemuas hasrat lewar fantasi dan kata-kata kotor tiap tokoh yang kau tuliskan. Namun sayang sekali, aku sama sekali tak merasakan ereksi saat membaca novel-novel ini."
Kalimat terpanjang dalam hidup Seijuurou yang diutarakan dengan cukup lugas. Tsuna K. hanya bisa mengerjapkan mata saat pemuda itu menjabarkan gambaran novelnya dan juga komentar terhadap plot yang ia tulis―apa pula itu, ereksi? Ia sudah terbiasa menerima ucapan kotor tersebut dari para pembaca lelaki baik yang diutarakan lewat FAQ maupun secara langsung. Namun ia merasa malu luar biasa saat Seijuurou berkata demikian dengan intonasi ringan.
"Uh-oh, begitu." Penanya menandatangani bagian pertama ketiga novel tersebut dengan canggung. Seijuurou hanya mengamati bagaimana Tsuna K. menjadi canggung pasca ucapan frontalnya.
"Hei, aku tahu ini tidak sopan. Kau masih perawan? Atau sudah bersuami?"
Sang penulis mengerjapkan mata lagi tatkala mendapat pertanyaan yang bersifat privasi. "Aku belum bersuami, dan tentu saja masih perawan―" Tanpa sadar ia menjawab. Tak sadar pula bahwa percakapan mereka sejak tadi didengar oleh bodyguardnya yang ditugaskan dalam acara ini.
Seijuurou mendengus. Antara percaya atau tidak. Ekspresinya meremehkan, namun batinnya sedikit mempercayai―bahkan berharap.
"Aku ingin tahu darimana kau mendapat referensi hingga bisa menerbitkan novel sevulgar itu."
"Maaf, sudah lima menit." Tsuna K. terlihat sengaja mengakhiri konversasi. Dalam hati gadis itu cukup lega akan berakhirnya durasi pertemuan dengan pemuda ini.
Seijuurou meraup empat novel miliknya dan berdiri. "Aku minta kartu namamu, mungkin kita bisa pergi makan bersama-sama."
"Kartu nama?" Ulangnya. "Aku hanya punya kartu nama manajerku. Dia perempuan. Silakan jika Anda berminat."
Seijuurou mendengus. "Aku hanya ingin kartu namamu, Tsuna. Bukan manajermu."
Ia menunduk. "Maaf, aku tidak punya kartu nama karena semua kontak kuprivasi. Hanya mereka yang diberi izin ayah yang boleh mengetahuinya untuk berkomunikasi denganku."
Mereka terdiam, sementara suara kesal seorang pria terdengar dari luar sana. Sepertinya protes karena Seijuurou sudah melewati batas lima menit dan tak kunjung keluar.
Menyadari bodyguard Tsuna K. yang tampaknya hendak mengusir, Seijuurou merogoh kantong blazer dan mengeluarkan kartu namanya. "Kutunggu kabarmu," begitu pesannya sebelum ia digiring keluar dari tenda tersebut.
Tetsuna Kuroko―Tsuna K., hanya bisa menatap kartu nama pada genggamannya dengan nafas tercekat lantaran baru tahu siapa yang ia temui tadi.
..
..
..
"Tidak baik merenung seperti itu!"
Lamunan Tetsuna terputus tatkala pundaknya ditepuk dengan seruan demikian. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda beralis cabang tengah menyunggingkan senyum miring.
"... Kagami-kun? Kau ke sini? Bagaimana bisa―bukankah seharusnya kau mengurus wedding organizer kalian untuk lusa?"
Lidahnya hampir mati rasa saat mengucap wedding organizer, serta kalian.
"Oh itu," tanpa dipersilakan ataupun izin lisan, Taiga menempatkan diri di sebelah Tetsuna. "Lagipula sudah beres kok. Kami tinggal fitting baju dan mengambil cincin saja. Urusan katering juga sudah selesai―ini semua berkat calon mertua yang begitu perfeksionis, damn." Ia menyodorkan sebotol minuman isotonik kepada gadis itu. "Selalu saja memaksakan diri. Kau seharusnya istirahat setelah menjalani fansign di New York kemarin lusa, tapi malah menggelar acara yang sama pada hari ini."
Helai biru muda teracak pelan. Menyebabkan sang gadis tak kuasa untuk menggembungkan pipinya sedikit kala surainya tak beraturan. "Aku terlalu bersemangat karena peluncuran perdana Eros dua minggu lalu," Dalihnya, padahal ia memohon setengah mati pada sang ayah sebagai pelampiasan sakit hati.
Taiga hanya mendengus. "Pokoknya jangan sampai kau roboh seperti dua bulan yang lalu. Baru pulang dari London dan langsung terbang ke Moskow, malah pingsan saat meet and greet."
Keheningan menyeruak. Tetsuna menatap jalur antrian yang kosong. Acara berakhir pada pukul empat sore, sementara dirinya hanya punya waktu dua jam untuk beristirahat dan membersihkan diri sebelum menghadiri suatu pertemuan dengan sang ayah di kediaman koleganya.
"Oh iya, Kuroko, kau akan da―"
"Otousan sudah memanggilku untuk pulang. Aku duluan, Kagami-kun." Tetsuna beranjak meninggalkan sang pemuda yang terpaku di tempat duduknya atas kepergian gadis itu.
Sebotol minuman isotonik mengalirkan bulir air pada bagian luarnya; utuh tersegel tanpa dijamah sedikitpun oleh penerima.
..
..
..
Kediaman Akashi ternyata punya luas yang membuat orang cukup tercengang. Pun dengan Tetsuna yang baru pertama kali menjejakkan kaki di sana. Satu lahan terdiri atas tiga bangunan megah, yang satu di antaranya merupakan bangunan utama. Kata sang ayah, bangunan utama itu merupakan tempat pertemuan untuk para tamu. Tetsuna mendengarnya sambil lalu karena terlalu terpana memandangi kebun mawar milik keluarga Akashi yang mengintip dan bisa ia lihat di sudut sana.
Pintu mobilnya terbuka oleh seseorang. Tetsuna melangkah keluar dengan pelan; seraya mata memandang dengan penuh kekaguman pada daun pintu ganda yang berpelitur mewah. Fantasi dan imajinasinya bekerja liar. Ia bisa mendeskripsikan tempat ini untuk ide latar pada novel selanjutnya.
"Tuan Besar Masaomi Akashi sudah menunggu kehadiran Tuan Kakeru Kuroko dan Nona Tetsuna Kuroko di ruang tamu." Kepala pelayan Akashi menyampaikan salam dengan elegan. Tetsuna serasa disambut pada sebuah istana kerajaan jaman dahulu.
Ayahnya mengangguk dan melangkah dengan penuh pesona. Tetsuna merasa kesulitan untuk menyeimbangkan langkah dengan mengagumi furnitur kediaman Akashi yang mewahnya tak terkira. Kelakuan itu membuatnya kakinya kehilangan keseimbangan. Selain karena faktor sepatu hak tinggi, juga lantaran salah melangkah pada area lantai yang dibersihkan sehingga cukup licin.
"Ah―!"
Sebelum badannya tertarik gravitasi bumi, pinggang dan pundaknya direngkuh terlebih dahulu. Tetsuna hendak mendongakkan kepala untuk mengucapkan terima kasih sebelum sebuah ucapan dari pemuda di hadapannya menyela.
"Hati-hati langkahmu, Tsuna."
..
..
..
To be continued
..
..
[A/N]
Lagi-lagi judul novelnya pakai OST Yuri! on Ice, maafkan saya yang tidak kreatif ini /?
