.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo

.

A/N: Akhirnya yang update lagi adalah ff ini. Maaf karena blm bisa update ff yang satunya, karena belum selesai diedit. Hehe. Untuk chap 3 ini mungkin ceritanya agak panjang. Karu harap tidak membosankan! HAPPY READING! ^o^


CHAPTER 3

FALLING IN LOVE


Sudah tepat dua minggu Jellal berada sekamar dengan Akaishi alias Erza... Perasaan kesalnya pada pemuda bernama Akaishi itu perlahan sirna. Akaishi memang tidak sedingin dan seketus dulu, ia sudah sedikit berubah dan mungkin mulai menganggap Jellal sebagai teman.

Jellal merasa sedikit aneh belakangan ini. Hampir setiap pagi pasti ada saja bertubrukan dengan Akaishi lalu jantungnya mulai berdegup dua bahkan tiga kali lebih kencang.

Belum lagi kemarin, jadi ceritanya Akaishi menaiki pundak Jellal untuk membersihkan langit-langit kamar yang tinggi terus tidak tahu kenapa malah jadi tidak seimbang. Mereka berdua berakhir jatuh dengan Akaishi yang menimpa Jellal yang berada di bawahnya ditambah wajah mereka saling berdekatan satu sama lain waktu itu. Ahhh, sungguh memalukan untuk diingat, tapi entah kenapa membuat Jellal salah tingkah.

Ayolah, Jellal! Sadar!

Ia mengacak-acak rambut birunya untuk mengenyahkan pikiran dan perasaan anehnya pada Akaishi sampai saat ini.

"Yo, Jellal!" Loke sudah merangkul leher Jellal begitu menyapanya di kelas pagi ini. Lalu Gray dan Natsu ikut nimbrung.

Jellal merapikan rambutnya yang diacak-acak tadi sambil mengedarkan pandangan. Merasa kurang satu. "Dimana Gajeel?" tanyanya.

Natsu berdeham. "Hari ini, dia tidak masuk karena sedang flu." Terang Natsu dengan melipat tangan di dada.

"Oh." Sahut Jellal dengan singkat.

Temannya yang berambut hitam itu sedang kipas-kipas kepanasan. Rasanya hanya dia yang merasa kepanasan. "Hoi, Jellal. Hari Sabtu kita nonton konser band Oracion Seis, yok." Ajak Gray dengan riang (mengingat ini hari Kamis) yang masih kipas-kipas seraya membuka kancing atas seragamnya, hendak membuka bajunya. Oracion Seis adalah grup band yang sudah lama terkenal di Fiore, mereka sering menyanyikan lagu-lagu lama seperti lagunya The Beatles, Eric Clapton, John Elton, Rod Steward, dsb.

"Dimana?" tanya Jellal sambil memperhatikan gerakan tangan Gray yang membuka kancing satu per satu itu. Terlihat tubuh atletis di balik kemeja Gray itu.

"Di Fiore Art Tower. Jadi mau tidak?" sahut Gray yang diakhiri pertanyaan itu.

Jellal malah melamun sambil menatap intens si Gray dari wajah hingga sepatunya. 'Aneh, aku biasa saja melihat Gray meskipun telanjang seperti ini.' Batin Jellal. 'tapi kenapa aku jadi canggung melihat si pria berbaju kebesaran, Akaishi, itu.'

Loke menjentikkan jari di depan hidung Jellal. "Heh, matamu mesum sekali melihat Gray." Cetusnya sambil nyengir jahil.

"Enak saja kalau bicara!" balas Jellal. Berbeda dengan Natsu dan Gray yang langsung menatap intens dengan terheran-heran pada Jellal.

"Jellal, jangan-jangan kamu..." Natsu menghentikan bicaranya, malah memajukan mulutnya ke telinga Jellal untuk berbisik. "gay, ya?"

PLAK!

Natsu dijatuhi jitakan dari siku tangan Gray. "Jangan tolol, api bodoh!" cetusnya.

"Dasar Natsu suka asal bicara!" tambah Loke yang juga ikutan menjitak kepala Natsu.

"Aku hanya bercanda, baka! Ber-can-da!" balas Natsu penuh dengan penekanan.

Berbeda dengan Jellal yang malah menunduk sambil merenung itu. Kemudian ia menoleh ke belakang, tepatnya pada Akaishi yang seperti biasa membaca buku itu.

DEG DEG! DEG DEG!

Jellal langsung menyentuh dada kirinya dengan melotot. "Aku! Sudah! G ila!" gumamnya penuh penekanan. Jellal langsung berdiri dan berlari ke toilet.

"Hoi, Jellal! Mau kemana?! Jangan marah, dong!" teriak Natsu sambil mengejar Jellal. Loke dan Gray juga ikut mengejar Jellal sambil geleng-geleng pelan.

"Ini gara-gara kau, Natsu!" cetus Gray menyalahkan Natsu.

Natsu hanya cemberut. "Aku kan hanya bercanda. Lagipula aku tahu jika Jellal sebenarnya menyukai Erza." Sahut Natsu dengan keras.

Loke menyikutnya.

Akaishi masih duduk di tempatnya dengan damai dan tenang. Membaca novel bergenre adventure kesukaannya.

Beralih pada Jellal yang kini sedang ngos-ngosan di depan kaca wastafel. "Jellal, ada apa denganmu?" tanyanya pada bayangan dirinya di kaca. Setelah itu, Jellal menaruh ketiga jari (jari manis, jari tengah dan telunjuk) tangan kanannya pada Arteri Radialis tangan kiri-nya (arteri yang berada di daerah pergelangan tangan yang mengarah ibu jarinya) untuk merasakan pulsasi nadinya. Setelah satu menit ia dapatkan frekuensi nadinya 130 kali/menit. Padahal kalau normal seharusnya dalam rentang 60-100 kali/menit.

Jellal malah shock, lalu mengacak-acak rambutnya lagi. "Jangan-jangan aku benar-benar... gay!"

Di saat itu juga, Natsu, Loke dan Gray tiba di toilet dengan kening berkerut melihat Jellal sedang ngacak-ngacak rambut begitu. "Jellal?" panggil Loke memiringkan kepala.

"Jellal, maaf, aku hanya bercanda, tahu! Jangan dianggap serius, dong!" cetus Natsu yang menepuk bahu Jellal itu.

"Ah, ya, tak apa kok.." sahut Jellal menutupi.

Gray menyeringai. "Makanya, Jellal. Cepat cari pacar. Di antara kita berlima, kan, hanya kau yang belum memiliki pacar." Cetusnya dengan nada entah serius atau gurau.

"Berlima? Memang Gajeel sudah punya pacar?" tanya Jellal beruntun. Hanya dibalas anggukan oleh ketiga temannya itu. "Yang benar saja!" seru Jellal tidak percaya. "Siapa?! Siapa yang mau dengan Gajeel?!" kali ini Jellal mengguncang-guncangkan tubuh Gray.

"Kau ingat gadis berambut biru temannya Lucy yang bernama Levy itu, tidak?" tanya Gray sebelumnya. Jellal berpikir sebentar, setelah itu ia mengangguk tanda ingat. "Nah, itulah pacar Gajeel!" sambung Gray.

Jellal melepaskan pegangan tangannya pada bahu Gray. "Aku tidak percaya!" ucapnya tidak terima. Eh, sebentar. Jellal jadi teringat, Levy kan yang membeli barang-barangnya yang hilang dari Jet waktu itu. Hm, bagus deh kalau dia pacarnya Gajeel, jadi si Jellal bisa balas dendam dengan gadis itu kapan-kapan. "Eh, tapi baguslah kalau Gajeel punya pacar. Akhirnya.." sambung Jellal yang berubah pikiran itu.

Loke, Natsu dan Gray bertatapan satu sama lain. Heran pada sang temannya yang berambut biru itu. "Kok akhirnya, sih?! Hoi, Jellal, sekarang pikirkan dirimu, dong!" balas Natsu yang mulai kesal tanpa sebab itu. "memang kau tidak merasa sedih karena tidak punya pacar sendiri."

"Sebenarnya aku biasa saja, sih." Sahut Jellal.

"Tapi kami yang sedih, baka!" ucap Loke simpati.

"Heh, tidak usah menyedihiku." Balas Jellal dengan datar.

Gray memalingkan wajahnya untuk mengingat sesuatu. "Ah, ya, Jellal." ujar Gray tiba-tiba. Jellal dan dua yang lain menoleh pada Gray. "Juvia punya teman dekat, katanya sedang ingin cari pacar. Kau ingin mencoba kenal dengannya, tidak?" tawar Gray.

Jellal membungkam. Ia sama sekali tidak berminat pada hal seperti itu sebenarnya.

"Coba saja, Jellal! Ayolah! Masa kau pergi menonton konser itu seorang diri sedangkan kita dengan pasangan masing-masing. Terima saja tawaran Gray itu daripada kau berlarut tidak pasti pada gadis bernama Erza, lagipula siapa yang akan menolakmu, Jellal!" ucap Loke seenak jidat. Jellal lelah mendengarnya.

Jellal memang ingin menonton konser band itu. Karena band itu seringkali menyanyikan lagu kesukaannya. "Hah, ya sudah terserah kalian." Sahut Jellal dengan wajah malas.

Berbeda dengan Gray, Loke dan Natsu yang berteriak kegirangan itu.

"Sudahlah, ayo cepat kembali ke kelas. Ur-sensei sebentar lagi masuk kelas." Ucap Jellal seraya berlalu keluar toilet.

Ketiga temannya mengangguk lalu mengikutinya.

.

.

Hari Jumat.

Seperti biasa, hari Jumat hanya diisi dengan latihan sihir dengan sensei pembimbingnya. Erza latihan begitu keras. Ia sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Begitu istirahat, Ikaruga-sensei menghampirinya dengan wajah cemas.

"Akaishi-chan, belum ada yang tahu identitasmu, bukan?" tanyanya hati-hati. Ikaruga juga merupakan sensei yang tahu bahwa Akaishi itu sebenarnya wanita. Berbeda dengan Erza yang melotot karena dipanggil dengan embel-embel –chan.

"Panggil Akaishi saja, sensei!" pekiknya setengah berbisik agar tidak ada yang mendengar. Ikaruga mengangguk tanda mengerti. "belum, tenang saja, sensei..."

"Kudengar Jellal pindah ke kamarmu. Apa itu akan baik-baik saja?" tanya Ikaruga lagi dengan berbisik.

Erza mengangguk. "Ya, pasti akan baik-baik saja, sensei. Sampai saat ini bahkan Jellal tidak curiga, kok." Sahut Erza menenangkan.

"Bukan itu! Bagaimana sih, memang diantara kalian tidak ada yang muncul benih-benih cinta, begitu? Eh, ya, kalau kalian tidak sengaja jatuh bertubrukan lalu ciuman, bagaimana?" gurau Ikaruga dengan panjang lebar.

Kedua pipi Erza langsung memerah. "Sensei!" pekik Erza lagi dengan penuh penekanan.

"Ah, maaf-maaf. Hanya bercanda, Er-.. eh, Akaishi... –kun..." ucap Ikaruga susah payah. Ia memang sensei paling reseh setelah Gildarts-sensei menurut Erza.

Begitu waktu istirahat selesai, Ikaruga mengaba-aba untuk memulai latihan lagi. Jellal dkk sedari tadi memperhatikan tingkah Ikaruga dan Akashi dengan intens. "Apa menurut kalian si Ikaruga-sensei itu menyukai Akaishi?" tanya Jellal tiba-tiba.

"Hm, sepertinya. Akaishi kan manis, tidak perlu dipertanyakan jika seorang sensei nyentrik dan tidak punya pacar seperti Ikaruga-sensei tertarik pada pria muda layaknya Akaishi." Sahut Loke.

"Tapi, Jellal, kenapa kamu jadi peduli?" tanya Gray curiga.

Jellal langsung berdeham. "Bukan apa-apa, kok. Eh ya, besok acara menonton konsernya jadi?" tanya Jellal mengalihkan pembicaraan.

Natsu langsung tersenyum lebar. "Tentu! Kami bahkan sudah menghubungi para gadis!" ucapnya tanpa ditanya. Jellal hanya melihatnya dengan malas.

"Akaishi tidak diajak?" tanya Loke datar.

"Ah, pria seperti dia mana suka menonton konser band, begitu!" cetus Natsu sambil melihat ke arah Akaishi yang tengah berlatih pedang dengan Ikaruga dan beberapa temannya itu.

"Dia hanya suka membaca buku!" tambah Gajeel menimpali.

Padahal menurut Jellal, Akaishi itu tidak hanya suka membaca buku. Akaishi juga suka memasak, membersihkan ruangan, mengerjakan PR jauh-jauh hari, membeli kopi di Kedai Carla... Jellal malah jadi mendikte satu per satu kesukaan si teman sekamarnya itu dalam benaknya.

Melihat Jellal yang bengong sambil melihat Akaishi itu, Gray menjentikkan jarinya di depan hidung Jellal. Membuat Jellal sedikit terlonjak.

"Hei, Jellal! kenapa belakangan ini kau jadi suka melamun?" tanya Loke untuk menyadarkan Jellal dari lamunannya.

"Kau pasti sedang membayangkan hal yang aneh-aneh bersama temannya Juvia besok, ya?!" tebak Natsu asal yang langsung diberi hadiah berupa pelototan oleh Jellal.

Beberapa jam kemudian, latihan pun selesai dan semua kembali ke asrama. Jellal sempat memperhatikan Ikaruga yang sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya penting dengan Akaishi alias Erza itu. Jellal langsung ditarik Loke dan Gray agar segera ikut ke asrama bersama mereka. Begitu sampai di depan kamar asrama Jellal, Loke dan Gray melambaikan tangan padanya sambil berpesan, "Besok janjian di depan asrama pukul 11 siang, ya, Jellal!" yang dibalas Ya oleh Jellal. Sebenarnya besok mereka akan kencan berlima, gila.

Konsernya itu dimulai jam 7 malam. Tapi sebelumnya mereka ingin jalan-jalan ke mall, makan bersama, dan lain sebagainya jadi berangkatnya dari siang.

Beralih Pada Erza...

"Kemampuan Sword Magic-mu memang sudah bagus. Hanya tinggal disempurnakan dengan beberapa hal." Ucap Ikaruga mengomentari kemampuan Erza.

Erza mengangguk. "Terima kasih, sensei." Balasnya dengan hormat.

"Berjuanglah! Kau pasti bisa mendapat gelar SS itu." tambah Ikaruga menyemangati. Senyumnya tulus untuk Erza.

Erza membalas senyum di tengah wajah kusut dan lelahnya itu. "tapi sensei, di ajang Double-S Class itu, apakah penyamaranku akan baik-baik saja?" tanya Erza khawatir.

Ikaruga menggeleng. "Tidak masalah. Pasti tidak ketahuan, asal kau terus memakai lilitan kain di dadamu itu." Sahut Ikaruga dengan mantap. Membuat Erza lega.

"Eh, ya, benar juga. Sensei kan wanita, tapi mengapa sensei bisa menjadi penyihir?" tanya Erza penasaran. Bodohnya, ia baru menyadarinya hari ini.

Sang senseinya itu terduduk di kursi kecil dekat lapangan lalu menyuruh Erza duduk di sebelahnya juga. "Kalau zaman dahulu, wanita boleh menjadi penyihir. Oleh sebab itu, sensei dan beberapa penyihir wanita lain hanya diperkenankan menjadi pengajar, tapi tidak bisa bergabung menjadi Dewan Sihir." Terang Ikaruga dengan tenang.

Erza mengangguk tanda mengerti. "Hmm, tapi kenapa sekarang wanita sudah tidak diperbolehkan menjadi penyihir?" tanya Erza lagi.

"Dahulu pernah ada insiden Penyihir Pembunuh, seluruh penyihir pembunuh itu jumlahnya ada sepuluh dan semuanya wanita. Sejak hari itu, Dewan Sihir menangkap 10 Penyihir tersebut dan mengeluarkan peraturan bahwa wanita tidak diperkenankan menjadi penyihir lagi. Itulah ganjarannya, dewan sihir takut hal itu terulang." Jelas Ikaruga dengan pelan.

"Penyihir pembunuh.. tapi mengapa bisa begitu?" tanya Erza masih penasaran.

Ikaruga mengangkat bahunya. "Itu masih misteri. Tapi ada rumor yang mengatakan, bahwa mereka telah dicuci otaknya oleh seorang kerabat Dewan Sihir, namanya Ultear – ibunya Jellal. Karena rumor itulah mungkin Jellal memutuskan untuk pergi dari rumahnya." Mendengar itu, alis Erza terangkat. Ia tidak kepikiran ada hal misteri besar seperti itu.

Erza menyentuh rambutnya yang pendek selama perjalanan menuju kamarnya. Sepanjang perjalanan ia merenungkan apa yang telah diceritakan oleh Ikaruga-sensei tadi.

Sampailah Erza di depan pintu kamarnya. Merogoh kunci di saku celananya lalu membuka pintunya. "Tadaima." Ucap Erza begitu masuk dan melepaskan sepatunya.

"Selamat datang, Akaishi!" sambut Jellal dari ruang belajar. Erza tersenyum kecil mengetahui Jellal berada di ruang belajar dan sedang mengerjakan PR.

"Kau mengerjakan PR lagi di hari Jumat?" tanya Erza membuka pembicaraan.

Jellal memutar kursinya agar dapat melihat wajah Erza. "Hn," angguknya dengan pelan. "karena besok aku akan pergi." Terangnya. Lalu ia memutar kursinya lagi dan mengerjakan PR-nya lagi.

"Pergi bersama Natsu dan yang lain?" tanya Erza datar.

"Ya, kau benar." Sahut Jellal tanpa mengalihkan pandangannya dari PR-nya.

Erza mengangguk-angguk tanda mengerti. Meski tidak dapat dilihat Jellal. 'Bagus, besok aku bisa bertarung dengan Gildarts-sensei untuk menguji kemampuan sihirku!' pikir Erza dengan senyuman licik. Erza pun menuju kamar mandi dan tak lupa menguncinya begitu sudah di dalam.

Sejak Jellal pindah ke kamarnya, Erza selalu memakai lilitan di dadanya agar tidak ketahuan. Jadi, ia hanya dapat bernapas lega saat mandi. Selain itu Erza juga selalu mengenakan pakaian yang ukurannya kebesaran.

Seusai mandi, Erza kembali menuju ruang belajar untuk mengerjakan PR. Untunglah minggu depan hanya ada 2 PR, yaitu PR matematika dan PR Bahasa Kuno Sihir. Ah, Bahasa Kuno memang bukan keahlian Erza. Jadi, ia lebih memilih untuk mengerjakan PR matematika lebih dulu. Setengah jam, Erza selesai mengerjakan 30 soal matematika yang disuruh kerjakan. Baru deh dia membuka buku Bahasa Kuno dengan helaan napas panjang. Erza sempat mengintip Jellal yang juga sedang mengerjakan PR Bahasa Kuno itu dengan lancarnya.

PR Bahasa ini ada 50 soal dan begitu memusingkan bagi Erza. Melihat Jellal yang mengerjakan dengan lancar itu, Erza sedikit kesal. Sampailah Erza di nomor 28, kepalanya sudah ingin meledak sampai di soal itu. Di saat itu juga, Erza mendengar Jellal yang tengah meregangkan tubuhnya untuk melenturkan otot-ototnya. Lalu pemuda berambut biru itu merapikan bukunya dan menghampiri Erza.

"Ckck," decak Jellal sambil geleng-geleng pelan. "kesusahan, ya?" sambungnya dengan nada mengejek. Erza hanya mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja.

BRUK!

"Ini, lihat saja PR ku."ucap Jellal setelah melemparkan buku PR-nya di atas meja Erza.

Erza mendongak pada Jellal yang tengah tersenyum cecengiran itu. "Anggap saja balas budi." Ucap pemuda itu seolah dapat membaca pikiran Erza.

Tanpa menyahut, Erza kembali mengerjakan PR-nya dengan melihat PR Jellal. Tapi bukan berarti menyalinnya. Jellal menarik kursinya ke belakang kursi Erza lalu menunggui Erza sambil bermain game di ponselnya.

"Hoi, Jellal." panggil Erza begitu melihat beberapa nomor PR-nya Jellal.

"Ada apa?" tanya Jellal menghentikan kegiatannya. Ia mencondongkan tubuhnya pada Erza.

Erza menunjuk salah satu nomor lalu menoleh pada Jellal yang kini mencondongkan tubuhnya tepat ke sebelah kepalanya. "Aku ti-..." suara Erza terbisu begitu menyadari Jellal yang begitu dekat itu. Entah ia sakit apa, jantungnya berdebar kencang tanpa sebab. Matanya melotot beberapa saat sampai akhirnya Jellal menatapnya.

BRAK!

"Aduh!" rintih Jellal begitu terjatuh karena habis didorong Erza. "ada apa, sih?!"

"Jangan dekat-dekat, baka!" cetus Erza dengan semburat merah di kedua pipinya.

Jellal bangkit sambil menepuk-nepuk celana dan bajunya yang dikira berdebu. "Maaf-maaf." Ucap Jellal dengan kesal. Lalu ia kembali menatap PR-nya. "apa yang ingin kau tanyakan?" tuturnya mengalihkan pembicaraan.

Erza berdeham singkat. "Aku tidak mengerti yang ini." Sahut Erza sambil menunjuk soal nomor 30. Minta diajarkan. Jellal mengangguk mengerti lalu menjelaskannya pada Erza sampai Erza mengerti.

Hah, setengah jam berlalu untuk mengerjakan PR Bahasa Kuno dituntun oleh Jellal. Erza mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya pada Jellal. Setelah mengerjakan PR mereka makan udon yang dimasak oleh Erza. Setelah makan, Erza tidur-tiduran di kasurnya sambil membaca novel sedangkan Jellal tidur-tiduran di sofa sambil nonton tayangan berita sore.

Sesekali Jellal menoleh ke belakang sofa untuk melihat Erza yang asik sekali membaca novel itu. Begitu tayangan berita berakhir, Jellal mematikan televisi dan menghampiri Erza. "Hoi, besok mau ikut tidak?" tanya Jellal sambil terduduk di tepi ranjangnya yang bersebelahan dengan ranjang Erza itu.

Erza mengalihkan pandangannya pada Jellal. "Kemana memangnya?" tanya Erza pura-pura tertarik. Padahal sebenarnya ia sedang tidak ingin kemana-mana.

"Kita akan menonton konser Oracion Seis, band yang suka menyanyikan lagu-lagu lama itu loh, di Fiore Art Tower." Terang Jellal yang hanya dibalas Oh oleh sang lawan bicara. "jadi tertarik untuk ikut atau tidak?" tanya Jellal sekali lagi.

Sekilas Erza memutar matanya untuk menimbang-nimbang. "Tidak. Besok aku ada keperluan lain." Sahut Erza datar. Entah kenapa Jellal mendesah kecewa.

"Acara kencan bersama dengan pacar kalian, ya?" tebak Erza tepat sasaran.

Jellal mendecih. "Bukan pacar. Hanya seorang teman wanita biasa." Sahut Jellal yang kemudian membaringkan tubuhnya di kasur seraya melipat kedua tangannya di belakang kepala.

"Hoh, nanti juga kau tembak dan kau jadikan pacar, kok." Sambung Erza lagi mencibir.

Mendengar itu, Jellal memicingkan matanya. "Heh, bahkan sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan pasangan kencanku besok." Kata Jellal.

"Hmm, aneh." Komen Erza singkat.

"Sungguh! Gray yang mencarikannya untukku, padahal sebenarnya aku tidak tertarik." Aku Jellal dengan bersungut-sungut. Lagian untuk apa ia menjelaskan semuanya.

Sepintas Erza melirik Jellal yang bersungut-sungut. Lucu juga wajah kesal pria ini, batin Erza. Ia mengulum senyumnya. "Sudahlah. Gray perhatian padamu karena kamu tidak memiliki pasangan sendiri." Tutur Erza seadanya.

Jellal mengangkat sebelah alisnya. "Memang Akaishi ini sudah punya pacar apa? Seenaknya mencibirku tidak punya pasangan." Sahut Jellal memandang Akaishi.

"Hm, aku akan memilikinya jika aku mau. Asal kau tahu saja, banyak wanita yang mengantri untuk kutembak." Gurau Akaishi. Ia tertawa kecil setelahnya menyadari betapa anehnya dirinya yang sedang berpura-pura menjadi pria ini.

"Hoh, sama kok aku juga begitu."

"Masa?"

"Sungguh!"

"Masa bodoh!"

"KAU!" Jellal bangkit dari tempat tidurnya dan hendak melempari Akaishi dengan bantalnya. Akaishi langsung lari takut dilempar bantal. "Hei, jangan lari kau!" pekik Jellal pura-pura kesal. Sedangkan Akaishi yang dikejar-kejar malah tertawa-tawa mengejek.

Erza akhirnya mendapat pukulan telak tepat di wajahnya. Membuat Jellal tertawa puas. "Rasakan! Rasakan!" pekik Jellal di tengah tawa bahagianya. Erza membalasnya dan bantal itu mengenai wajah Jellal juga. Akhirnya mereka saling perang bantal sampai keduanya terkapar di karpet.

Begitu terkapar, Jellal bersin-bersin sebanyak 5 kali.

"Hei, kau baik-baik saja? Kalau didengar baik-baik, suaramu agak serak." tanya Erza cemas.

Jellal menoleh padanya. "Hm, aku baik-baik saja kok." Sahutnya singkat. Padahal sebenarnya ia merasa napasnya yang agak tersumbat akibat cairan di hidungnya. Dari sore, Jellal sudah merasakan hidungnya yang sedikit tersumbat.

Tak disadari, mereka berdua saling bertatapan satu sama lain dalam waktu cukup lama. Jellal yang merasakan matanya sedikit panas akibat kelelahan itu malah mulai melihat secara kacau, dimana Akaishi memiliki rambut merah panjang yang sangat indah. Perlahan degup jantungnya mulai cepat lagi, hanya dengan berpikir. 'Akaishi memang cantik.. atau ini hanya khayalanku saja...'

Erza yang lebih dulu bangkit dan membantu Jellal berdiri. "Hah, lelah sekali. Aku ingin tidur." Cetus Erza yang kemudian ke kamar mandi untuk cuci muka lalu beranjak ke tempat tidurnya. Berbeda dengan Jellal yang mendadak dapat telepon dari ayahnya saat Erza tengah menggulung dirinya dengan bed cover di kasurnya.

"Hn, ada apa, ayah?" tanya Jellal dengan dingin.

"Kau sedang flu? Ada apa dengan suaramu?" sang ayah berbalik tanya dari ujung sana.

"Bukan masalah. Ada apa menghubungiku?"

"Ayah ingin ke sekolahmu minggu depan."

"Untuk apa?"

"Untuk menjemputmu."

Jellal mengepalkan tangan sebelahnya yang bebas dengan dengki. "Tidak perlu. Aku tidak ingin dijemput."

"Kau punya waktu satu minggu untuk mengucapkan salam perpisahan pada teman-temanmu."

"Ayah!"

"Apa?"

"Berhenti mengatur hidupku!" ucap Jellal dengan penekanan. Mendengar nada bicara Jellal yang meninggi, Erza menautkan alis padanya.

Siegrain membungkam sesaat. "Kau harus menjadi penyihir Double-S Class."

"Aku bisa menjadi penyihir dengan kelas itu tanpa kau bantu." Sahut Jellal dengan nada meninggi.

"Baiklah, ayah akan lihat satu minggu lagi. Jika kau memang bisa menjadi penyihir Double-S Class dari sekolah itu, maka ayah akan membiarkanmu tetap di situ."

Jellal langsung memutus hubungan telponnya dengan Siegrain. Ia menghela napas lelah dan langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Kepalanya berkedut karena pusing memikirkan bagaimana jika ayahnya satu minggu ke depan ini memaksanya untuk ikut bersamanya dan meninggalkan Fairy Tail. Hatinya begitu sakit mengingat tabiat ayahnya yang egois itu. Ayahnya tidak pernah berubah.

Tidak akan pernah!

"Jellal? Kau baik-baik saja?" tanya Erza dengan cemas.

"Hn, tenang saja." Ucap Jellal datar, lalu ia memiringkan tubuhnya untuk membelakangi Erza. Agar Erza tidak dapat melihat wajahnya.

Nama ayah kandung Jellal, Siegrain Fernandes. Ia adalah seorang petinggi di Dewan Sihir. Siegrain lebih mementingkan kedudukannya di Dewan Sihir. Ia selalu memaksakan kehendaknya pada Jellal, mengatur Jellal semaunya hingga Jellal seperti hidup dengan kekang di lehernya. Nama ibu Jellal adalah Ultear, ah sayangnya ia adalah ibu tiri Jellal. Ibu kandung Jellal telah meninggal sewaktu ia kecil.

Jellal mengetahui penyebab wanita tidak diperkenankan menjadi penyihir itu karena ulahnya Ultear. Saat itu Siegrain belum menjadi petinggi Dewan Sihir, kandidat yang akan dijadikan petinggi yaitu Siegrain dan ada seorang wanita bernama Mavis. Ultear membantu Siegrain naik pangkat dengan menjatuhkan citra Mavis yang begitu membanggakan penyihir bergender wanita. Selain itu ia juga mencerminkan penyihir wanita nomor satu setanah Ishgar. Begitu berita mengenai Kerusuhan yang ditimbulkan penyihir pembunuh wanita itu tersebar, Mavis mengundurkan diri dan Siegrain diangkat secara otomatis. Semua bukti yang menunjukkan bahwa itu adalah tindakan sabotase telah dimusnahkan oleh Ultear. Meski demikian, Jellal mengetahui semua hal itu.

"Sudahlah. Daripada berlarut pada kejahatan ayah, lebih baik aku tidur." Tuturnya dalam hati. Ia kemudian mengatupkan kedua matanya dan tertidur lelap.

.

.

Sang empunya rambut merah itu membuka matanya tepat jam 5 pagi di hari Sabtu ini. Ia menarik kedua tangannya ke atas untuk meregangkan tubuhnya kemudian ia tersenyum kecil karena senang merasakan udara pagi hari yang masih menyejukkan ini.

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Sekilas memperhatikan Jellal yang masih di alam mimpi itu. Dengan mata redup, ia memandangi refleksinya di cermin. Banyak bekas luka di wajahnya akibat latihan kerasnya selama ini. Yeah, sudah berjalan hampir dua tahun untuk penyamaran ini. Syukurlah ia masih bertahan.

Erza mencuci wajahnya setelah itu mengeringkannya dengan handuk kecil yang disampirkan di jemuran handuk depan kamar mandi. Kemudian kakinya melangkah ke lemari bajunya untuk mengambil jaket berwarna biru muda. Selesai memakai jaket, ia memakai sepatu olahraganya dan keluar kamar untuk lari pagi. "Latihan stamina setiap Sabtu pagi itu sangat penting!" kata Erza seraya melakukan kegiatan berlarinya. Ia berlari keliling kompleks sekolah dan asrama, setelah itu keliling lima lapangan sampai berkeringat. Erza istirahat sebentar di kursi taman dekat gedung tempat tinggalnya para sensei. Erza menatap pergelangan tangannya yang dilingkari jam digital, pukul 06.30 AM. "tumben si Gildarts-sensei belum keluar." Gumamnya seraya melongo-longo ke dalam gedung.

Biasanya pukul enam pagi, Gildarts sudah keluar dari gedung tempat tinggal itu dan lari pagi. Tapi tumben hari ini belum keluar. Menunggu beberapa menit, Gildarts akhirnya keluar juga membuat Erza langsung berdiri dan memasang wajah berseri-seri.

"Gildarts-sensei! Ohayou!" sapa Erza seraya membungkukkan tubuhnya.

Gildarts yang terlihat masih sayup mengantuk itu sedikit terlonjak melihat Erza. "Eh, Akaishi, ada apa kemari pagi-pagi?" tanyanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Begini, sensei. Aku ingin berlatih dengan sensei nanti siang, bisa tidak?" tanya Erza dengan sopan. Gildarts berpikir sejenak lalu tersenyum nyengir.

"Bisa-bisa, kok! Nanti siang telpon sensei saja jika mau latihan, ya!" sahut Gildarts sambil cecengiran.

Erza tidak menghiraukan cecengiran itu, dia hanya tersenyum kecil lalu segera membungkukkan tubuhnya lagi. "Terima kasih, sensei!" ucapnya dengan hormat.

"Ya, sama-sama!" balas Gildarts yang kemudian berlalu untuk olahraga pagi.

Begitu Gildarts sudah menjauh, Erza kembali berlari menuju asramanya dan kembali ke kamar dengan bercucuran keringat bekas olahraga. "Tadaima." Tuturnya begitu masuk kamarnya. Erza segera melepas sepatu, kaos kaki, dan jaketnya dan langsung mandi. Sebelum ke kamar mandi ia melirik Jellal yang masih tidur itu. "heh, tumben sekali masih tidur jam segini." Gumam Erza setelah mengecek jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10 AM.

Erza mengangkat bahu dan langsung ke kamar mandi untuk mandi. Ia benar-benar mandi hari ini. Maksudnya, waktu mandi ini ia habiskan berlama-lama untuk luluran dan mengurus seluruh tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagaimanapun ia tetap harus menjaga kecantikan kulitnya, bukan?

Hampir satu setengah jam Erza mandi dengan puasnya. Ia keluar kamar mandi dengan handuk di rambutnya. Wajahnya begitu bahagia karena harinya sangat tenang hari ini. Setelah menjemur handuknya, Erza kembali melirik Jellal. Sedikit heran bercampur cemas melihat Jellal yang belum bangun itu.

Gadis itu memutuskan untuk melihat Jellal dari dekat. Ia mengendap-endap ke sisi ranjang Jellal lalu menaruh dua jarinya di bawah hidung pemuda itu. Begitu merasakan napas yang berhembus di jarinya, Erza menghela napas lega. 'Setidaknya pria ini tidak mati.' Pikir Erza sambil mengusap-usap dadanya.

Erza hendak ke dapur untuk membuat makanan, namun langkahnya terhenti begitu menyadari napas Jellal yang sedikit panas. Erza kembali menaruh dua jarinya di bawah hidung Jellal, kedua alis Erza terangkat begitu mengetahui napas Jellal benar-benar terasa panas. Erza kemudian menyentuh kening Jellal dengan telapak tangannya. "Demam..." gumam Erza dengan alis terangkat tinggi lagi. Erza juga baru menyadari keringat dingin yang membasahi rambut hingga pelipis Jellal itu. Dengan gesit Erza membuka kotak obat dan mengambil termometer, mengempitkan termometer itu dan setelah suhunya terukur Erza membaca suhunya. 39 derajat celcius. Erza langsung panik entah kenapa.

Niat Erza untuk membuat sarapan pun gagal, ia segera mengambil sebaskom air dan kain untuk mengompres kening Jellal. Erza juga merapikan selimut pada tubuh pemuda itu agar tidak kedinginan. Kemudian Erza menuju dapur, membuatkan bubur untuk Jellal.

"Kaasan... kaasan..." Erza sempat mendengar Jellal yang mengigau itu.

Selesai membuat bubur, Erza segera menuangkannya ke mangkuk dan memberikannya pada Jellal.

"Jellal, bangunlah, Jellal.." Erza membangunkan Jellal dengan mengguncang pelan tubuh pria itu. Jellal membuka matanya dengan sempit, setelah mengedip beberapa kali akibat silau, Jellal terduduk di tempat tidurnya dibantu oleh Erza.

"Akaishi.." gumam Jellal dengan suara parau. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya juga sedang lemah. Bahkan sampai bersandar pada punggung tempat tidur.

Erza menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Jellal. "Makanlah dulu, kau sedang sakit." Ujar Erza yang diketahui Jellal sebagai Akaishi itu.

Jellal tidak langsung menurut, ia malah menatap Erza dan bertanya, "Sakit..?" dengan nada lemah.

"Sudah, jangan banyak bicara, cepat makan! Aaa..." sahut Erza sambil membuka mulutnya sendiri untuk memperagakan agar Jellal mengikutinya.

Dengan ekspresi pucatnya, Jellal membuka mulutnya dan memakan sesendok bubur yang disodorkan oleh tangannya Erza itu. Erza kembali mengisi sendok dengan bubur dari mangkuk lalu meniup-niupkannya sebelum disuapkan kepada Jellal.

Jellal yang sedang setengah sadar setengah tidak itu tersenyum diperlakukan seperti itu oleh Akaishi. "Akaishi, pacarmu pasti senang karena kau itu serba bisa." Cetusnya dengan nada aneh. Pasti pria ini lagi ngelantur, pikir Akaishi.

"Cepat makan tidak usah bicara!" Balas Erza dengan galak. Meski demikian Jellal tetap tersenyum.

Begitu mangkuk buburnya habis, Erza memberikan satu pil paracetamol dan langsung diteguk Jellal bersamaan dengan segelas air. Setelah itu, Erza kembali membaringkan Jellal dan menyelimutinya sebatas dada. Jellal pun tertidur lagi dengan nyenyak.

Erza yang cemas pada keadaan teman sekamarnya itu meraih ponselnya dan menelpon Gildarts. Mengabarkan bahwa Jellal sedang sakit, jadi rencana latihannya dibatalkan sebab ia ingin menjaga Jellal.

"Wah wah.. Love in Dorm!" kata Gildarts setelah memutus sambungannya dengan Erza.

.

.

Pukul 12 siang, Jellal terbangun dari tidurnya dengan mata melotot. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Jellal langsung terkesiap. "Aku terlambat." Gumamnya sambil beranjak bangkit dari tempat tidur dengan susah payah. Rasa sakit dan panas di kepalanya tidak ia hiraukan, Jellal memaksakan berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan hingga...

BRUK!

Jellal terjatuh ke karpet. Untung saja karpet.

Erza berlari dari arah ruang belajar dan terkejut mendapati Jellal yang terjatuh itu. "Jellal!" pekiknya sambil membantu Jellal berdiri lagi. "apa yang kau lakukan, bodoh?!"

"Sudah jam 12, Akaishi. Aku harus pergi bersama Gray dan lainnya..." sahut Jellal dengan suara parau. Erza membantunya berdiri dengan susah payah lalu mendudukkan pria itu di kasur lagi.

"Sudah terlambat, Jellal. Kau janjian pukul 11, kan?" tanya Erza memastikan.

"Bagaimana kau bisa tahu?" ujar Jellal berbalik tanya.

"Tadi Gray meneleponmu berkali-kali, lalu aku mengangkatnya dan menjelaskan semuanya. Mereka sudah pergi tanpamu." Terang Erza dengan datar.

Jellal mengedipkan matanya. "Tidak, aku harus ikut Gray dan menonton Oracion Seis, Akaishi.." Jellal tetap meronta ingin pergi. Erza menahannya.

"Kalau kau sudah baikan baru boleh pergi ke Fiore Art Tower." Ucap Erza dengan enteng. "sekarang kau istirahat dulu." Sambungnya menenangkan.

Jellal pun menurut. Lagipula ia terlalu lemah untuk membantah Erza.

Kemudian Erza menyuruhnya untuk ke meja makan karena sudah dihidangkan bubur dengan irisan ayam rebus dan taburan daun bawang. Jellal sudah terduduk di kursi meja makan dan langsung melahap bubur hangat itu perlahan. Meski indera perasanya tidak berfungsi terlalu baik, namun Jellal tahu bahwa rasa bubur ini sangat enak. Melihat tingkah Akaishi yang mengurus Jellal dengan baik itu, hati Jellal sedikit tersentuh. Ia senang melihat Akaishi yang begitu perhatian padanya, bahkan ia sampai berpikir, seandainya pacarnya kelak seperti Akaishi..

PLAK!

Jellal menampar pipinya sendiri meski tidak keras, sih. 'Baka! Dia itu pria, baka! Kau bukan gay! Bukan gay, Jellal! Kau harus jadi pria normal, bakaaa!' pekik Jellal dalam hati.

Seusai makan, Erza memberikan Jellal obat lagi setelah mengukur suhu Jellal. "Hm, suhumu masih tinggi, ya.. minum obat dan langsung tidur lagi." Perintah Erza dengan datar.

"Aku tidak mengantuk." Sahut Jellal sambil tersenyum lemah.

Erza heran melihat senyum itu. "Baka! Hentikan senyuman anehmu. Kau lebih cocok kalau marah-marah padaku, tahu!" balas Erza ketus. kemudian ia berdeham pelan, "ya sudah, kalau mengantuk lebih baik tidur. Yang jelas, kau harus tetap berbaring di kasur!" Sambung Akaishi tegas.

"Baiklah." Ucap Jellal dengan anggukan lemah. Ia pun kembali tertidur di kasur, meski sebenarnya bosan. Berkali-kali ia melirik Akaishi yang sibuk cuci piring dan membereskan dapur. Setelah membereskan dapur, Erza membersihkan kamar mandi. "rajin seperti biasanya." Gumam Jellal pelan. Pemuda berambut biru itu menoleh ke samping, menatap lampu tidur yang padam sambil berusaha tertidur. Ia ingin cepat sembuh, sehingga bisa menonton konser Oracion Seis. "aku rindu mendengarkan lagu itu..." gumamnya lagi dengan memejamkan matanya.

.

.

Pukul 06.45 PM

Fiore Art Tower

Keempat orang Fairy Tail itu sudah duduk di kursi penonton bersama pasangan mereka masing-masing. Terkecuali seorang gadis berambut merah muda yang menyendiri di ujung itu, seharusnya ia menjadi pasangan Jellal hari ini.

Tadi siang, Gray dkk sudah menunggu Jellal di depan asrama. Setelah lima belas menit berlalu, Gray akhirnya mencoba menelpon Jellal. Panggilannya yang ke tiga kali baru dijawab, itu pun oleh orang yang tidak diharapkannya.

"Maaf, Gray. Jellal sakit. Jadi ia tidak bisa pergi bersama kalian." Ucap Akaishi dari ujung sana. Sontak membuat Gray, Loke, Natsu dan Gajeel berniat untuk menjenguk Jellal dulu di kamarnya sebelum pergi. "tidak perlu, kalian hanya menganggunya tidur." Tukas Akaishi di telpon saat itu juga. Nada bicaranya tajam dan membuat Gray merinding hanya dengan mendengarnya. Tapi memang benar sih, pasti mereka berempat menganggu.

Setelah memutus hubungannya dengan Akaishi, mereka berempat pun ke cafe Exceed untuk bertemu para gadis yang sudah menunggu mereka. Teman Juvia yang tadinya akan dipasangkan dengan Jellal juga datang. Gray jadi tidak enak hati.

Sekarang, gadis berambut merah muda itu tengah memberengut kesal karena dia sendiri tidak punya pasangan. "Hey, Meredy, jangan cemberut begitu, dong!" ucap Juvia berusaha mencairkan hati Meredy.

Meredy hanya mendengus.

"Sudahlah, tidak apa." Ucap Gray pada Juvia. Pastilah kesal jika berada di posisi Meredy.

"Sebentar lagi konsernya akan dimulai, sayang sekali Jellal tidak menonton." Kata Loke yang duduk di sebelah Gray.

Gray mengangguk pelan. "Ya, sayang sekali malam menyenangkan ini dihabiskan berduaan dengan si Akaishi Jutek itu." ungkap Gray sambil tersenyum masam.

Di Asrama...

Jellal terbangun dari tidur siangnya. Padahal katanya tidak mengantuk, eh malah ketiduran. Habis bosan juga, tidak melakukan apa-apa. Hanya memperhatikan kesibukan Akaishi di kamar ini kan lama-lama bosan juga. Lagian Akaishi terlalu serius dengan pekerjaannya sampai nyuekin Jellal.

Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengukur suhunya di dahi, meski masih terasa hangat tapi paling tidak ia sudah merasa enakkan. Tapi tetap saja rasa sakit kepalanya belum hilang sepenuhnya, apalagi pileknya. Hah, sakit itu memang tidak mengenakkan.

Pemuda berambut biru yang bersikeras untuk datang ke konser Oracion Seis itu pun akhirnya menyerah untuk datang. Ia menyadari kelemahannya saat ini. Lagian daripada membuat banyak orang repot, lebih baik Jellal mengurungkan keinginannya itu saja.

Ia mendudukkan diri di tepi ranjang dan kepalanya sibuk ke kiri dan kanan untuk mencari teman sekamarnya. "Aneh, kemana si Akaishi.." gumamnya.

Lampu kamar ini hanya dinyalakan satu, jadi kamar terlihat redup. Pasti karena Jellal tidur. Jellal melongo-longo ke kamar mandi, tapi pintunya terbuka dan lampunya mati, berarti Akaishi tidak di dalam. Melihat ke dapur, juga tidak ada. Atau lagi belajar, ya? Jellal melangkah perlahan ke ruang belajar, namun kosong. Jellal menghela napas lalu mengecek rak sepatu dan dugaannya benar, Akaishi sedang pergi keluar.

Begitu menyadari itu, Jellal menghela napas keras. Karena ditinggal sendirian di malam minggu yang seharusnya menyenangkan ini. Jellal memutuskan untuk minum segelas penuh air putih dan kembali berbaring di tempat tidurnya.

"Tadaima." Ucap Erza yang baru saja kembali. Terdengar Akaishi yang melepas sepatunya dan merapikannya ke rak. Mendengar itu, Jellal langsung bangkit dari tempat tidur lagi dan tersenyum lebar.

"Okaeri, Akaishi!" sahut Jellal dengan nada bersemangat namun terbatuk setelahnya.

Melihat Jellal yang berseri-seri itu, Erza menautkan alisnya. "Kau sudah bangun?" tanyanya heran. Jellal hanya mengangguk. "tidurlah. Jangan terlalu memaksakan dirimu." Ujar Akaishi kemudian berlalu untuk minum.

Jellal mendengus dan kembali tidur di tempat tidurnya. Matanya bergerak sesuai arah yang dituju Akaishi, ke ruang belajar lalu keluar lagi dengan membawa laptop dengan sebuah USB menancap, setelah itu menuju saklar lampu dan mematikan lampu hingga ruangan benar-benar gelap gulita.

"Hey, Akaishi! Aku belum mau tidur!" gerutu Jellal yang dikira disuruh tidur secara paksa oleh Akaishi.

Akaishi diam dan malah menghampiri Jellal sambil menaruh laptop yang telah dinyalakannya di atas bantal dekat Jellal. Akaishi duduk bersila di sebelah Jellal yang sedang linglung itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jellal bingung.

"Diam saja!" balas Akaishi dengan tegas. Jellal memilih untuk menurut dan memperhatikan gerak tangan Akaishi yang bermain di atas Track Pad untuk membuka suatu data.

Jellal sedikit bertanya-tanya pada apa yang dilakukan gadis itu. Jellal menatap layar laptop itu dengan datar. Namun matanya tidak berkedip begitu Akaishi memutar sebuah video dari laptop itu, lalu beberapa saat suara alunan musik yang tidak asing bagi Jellal terdengar.

Mulut Jellal terbuka setengah karena tercengang. Ia benar-benar tidak menyangka...

"Akaishi... kau..."

"Aku kasihan melihatmu begitu memelas ingin ke konser Oracion Seis, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Pasti memang sangat berbeda sih dengan yang sedang ditampilkan di Fiore Art Tower, tapi paling tidak lagunya sama, kan?" terang Akaishi dengan datar.

Jellal membungkam akibat tercengang. Ia melihat video klip lagu kesukaannya, tepatnya lagu yang sangat ingin ia dengar saat ini.. bagaimana Akaishi bisa tahu?

"Aku sempat meminjam CD Lagu Oracion Seis pada Gildarts-sensei, lalu aku dengarkan satu-satu dan mencari video klipnya di internet. Bagaimana? Ini lagu kesukaanmu, bukan?" tanya Erza setelah penjelasannya yang menjawab pertanyaan batin Jellal.

"Hn... ini lagu kesukaanku." Sahut Jellal dengan mata berkaca-kaca.

Terlihat Erza tertawa kecil, "Benarkah? Baguslah kalau begitu, silakan menonton!" Erza hendak beranjak pergi namun dicegah Jellal dengan menarik pergelangan tangan gadis itu.

"Temani aku." Pinta Jellal yang sendu menatap layar laptop itu.

"Apa?"

"Temani aku." Ulangnya dengan mantap. Erza menurut dan akhirnya menonton video klip lagu itu bersama Jellal. Jellal memutar lagu itu sekali lagi. Erza mendengarkan lagu itu bersama Jellal.

'Hey Jude, don't make it bad

Take a sad song and make it better

Remember to let her into your heart

Then you can start to make it better

Air mata Jellal mulai berlinang. Antara terharu pada perhatiannya Akaishi dengan mengenang masa lalu kelamnya. Mungkin lagu ini tidak berhubungan sama sekali dengan kisah hidupnya, tapi lagu ini yang mengingatkan segala tentang masa lalunya.

Hey Jude, don't be afraid

You were made to go out and get her

The minute you let her under your skin

Then you begin to make it better

Yah, masa lalunya. Mungkin banyak orang beranggapan masa lalunya sangat membahagiakan. Ternyata salah. Ia tidak merasa bahagia sama sekali, bahkan sekarangpun ia tidak dapat bernapas lega karena tetap dihantui ayahnya..

And anytime you feel the pain, hey Jude, refrain

Don't carry the world upon your shoulders

For well you know that it's a fool who plays it cool

By making his world a little colder

Na na na na na na na na na

Lagu tetap mengalir begitupula airmata Jellal.

"Dulu..." Jellal mulai bercerita, Erza menoleh padanya. Membiarkan pria itu meluapkan isi hatinya. "ayah mengajakku ke mall pada Sabtu Malam, yang mana ada band yang menyanyikan lagu-lagu The Beatles di atas panggung. Begitu baru sampai di mall itu, ayah ditelpon seseorang dan ia berakhir meninggalkanku sendirian di sebuah kursi dekat panggung yang ramai..."

Jellal menghapus air matanya dengan satu tangan lalu menatap Erza dengan senyum terpaksa. "Itulah pertama kalinya aku mendengar lagu ini. Setiap ada konser band yang menyanyikan lagu-lagu The Beatles, entah kenapa aku selalu tidak dapat menyaksikannya dengan orang lain dan itu membuatku teringat saat ayah meninggalkanku yang berumur 7 tahun di mall sendirian, di tengah keramaian." Air mata kesepian itu mulai menggenangi mata hazzle itu lagi.

"Baka, sekarang kau menontonnya denganku, bukan? Yah walaupun bukan live, sih.." ucap Erza mencairkan suasana.

"Aku tidak tahu harus bilang apa padamu, Akaishi.." sahut Jellal yang kemudian mengacak-acak rambut Akaishi. "terima kasih sudah menghiburku, Baka Scarlet!" cetusnya dengan tersenyum tipis.

Erza memiringkan kepalanya sambil menepis tangan Jellal yang mengacak-acak rambutnya. "Panggilan apa itu?"

"Yah, sejenis tanda terima kasih, aku memberimu panggilan yang begitu berharga.." jawab Jellal dengan menatap langit-langit hitam itu.

"Panggilan begitu berharga?" tanya Erza masih tidak mengerti.

"Scarlet. Itu warna rambutmu.." ujar Jellal dengan menatap Erza dengan dalam. "Dengan begitu aku tidak akan melupakanmu, sama seperti aku tidak akan melupakan lagu ini."

Erza tercengang mendengarnya. Kata-kata itu membuat jantung Erza berdebar kencang. Matanya tak berkedip pada sosok pemuda berambut biru itu, Jellal. Oh, Tuhan, sebenarnya perasaan apa ini? Pikir Erza.

Dan dengan demikian, hubungan Jellal dengan Akaishi alias Erza, makin rumit ke depannya...

Hey, Jude, don't let me down

You have found her, now go and get her

Remember to let her into your heart

Then you can start to make it better

.

So let it out and let it in, hey Jude, begin

You're waiting for someone to perform with

And don't you know that it's just you, hey Jude, you'll do

The movement you need is on your shoulder

Na na na na na na na na na na...

CHAPTER 3 END!

*) Kutipan Lagu: Hey, Jude – The Beatles

Okey, begitulah chapter 3. Terima kasih sudah membaca fanfic ini sampai chap ini ^^ Ditunggu review-nya!

BALASAN REVIEW CHAPTER 2

tamiino = Hehe, terima kasih yaa sudah review! ^^

helza fernandes (Guest) = Okey, sudah dilanjut, ya.. Semoga tidak bosan dengan chap ini ^^ Terima kasih review-nya!

.

Sampai bertemu di Chapter 4! ^^