nutzcry presented—
Inaudible
Masashi Kishimoto is the sole owner of Naruto. I'm only borrow the characters.
All standart warnings applied! For any mistakes, I were so sorry. SasuSaku alternate universe fanfiction, dldr!
This fanfiction is very far from the "perfect" word. I didn't take any advantage from maked this story.
Note: Italic words is sentence or speech written by Sakura.
.
[Chapter 2]
Yahiko mendapati Yamanaka Ino sebagai tamu mengetuk pintu rumahnya, lantas segera dipersilahkan untuk masuk. Gadis blasteran Jerman-Jepang itu mengangguk dan tersenyum riang. Melempar asal tasnya ke sofa tersekat dan duduk sambil meletakkan kaki kanan ke atas kaki kirinya. Mungkin sudah seperti rumah sendiri. Yahiko menggeleng maklum.
"Apa sekolah berakhir lebih awal?" Ino mengangguk. Kemudian, Yahiko berlalu menuju dapur. "Teh atau kopi?" teriaknya.
"Segelas air saja cukup. Tapi, pastikan itu tak mengandung bakteri," gadis pirang itu tertawa kecil saat terdengar decihan tak suka Yahiko dari dapur. "Dimana Sakura? Dia tidak masuk hari ini. Semua baik-baik saja?"
Yahiko mengangguk dan memberikan segelas air pada tamunya. "Aa, Sakura sedikit tidak enak badan sejak pagi tadi. Jadi, tak aku izinkan dia berangkat ke sekolah," jelasnya. Yahiko terdiam sesaat menunggu sahabat adiknya ini selesai meminum air. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah menyiapkan alibi tentang 'mengapa kau tak mampir sepulang sekolah kemarin'?" sindir Yahiko. Ino tersedak berat.
"Sudah kuduga, kau rindu padaku, 'kan?" Ino meletakkan gelas di atas meja dan memandang mengejek dengan dagu yang sedikit diangkat pada Yahiko. Yang dipandang merotasi kedua manik kembar berwarna oranye miliknya.
"Tingkat kepercayaan dirimu sanggat tinggi, nona. Jadi, ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin," Ino terdiam sesaat. "Apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Pasti ada suatu hal yang telah terjadi, bukan?" lelaki berhelaian yang serupa dengan matanya itu berdeham singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari lawan bicara.
"Tidak ada apapun yang terjadi. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya," Ino mengalihkan atensinya pada sebuah vas bunga di atas meja. Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Yahiko membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa lembar kertas, kemudian meletakkannya di meja. "Benarkah? Lalu, apa maksudnya dengan ini?" ia tersenyum penuh kemenangan. Putri tunggal keluarga Yamanaka itu menghela napas pelan.
"Sakura telah menceritakannya padamu?" Yahiko mengiyakan. "Baiklah, itulah yang kemarin terjadi," ungkapnya jujur.
"Kertas itu berisi cerita Sakura mengenai apa yang telah terjadi dan kau menghindariku? Jadi, itu adalah alasan kau tidak mampir. Apa aku salah?" gelengan diberikan sebagai jawaban. "Kenapa kau tidak langsung mengatakannya padaku? Kau tahu, aku percaya padamu," Yahiko tersenyum. "Mungkin aku bisa mengerti mengapa kau tidak mengatakannya padaku, dan aku memaafkannya. Tetapi, tak bisakah kau menghentikan Sakura untuk melakukan hal itu? Kau ada bersamanya, bukan?"
"Dengan mengatakan padanya bahwa ia tidak pantas untuk menyukai seseorang? Begitukah?" intonasi bicaranya sedikit ia tingkatkan. "Aku tidak ingin melukai hatinya. Aku menyayanginya," air wajah Ino menyendu. "Bagaimana cara aku menghentikannya? Sakura juga berhak bahagia, 'kan? Sakura juga punya hak untuk menaruh hati pada seseorang, sama seperti kita. Lalu, apa yang harus aku katakan padanya?" Yahiko menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Bagaimanapun, Ino juga ada benarnya.
"Uchiha ... Sasuke, ya? Kenapa aku seperti familiar dengan nama itu?" desis Yahiko. Ia mengusap dagunya sebelum memusatkan atensinya pada lawan bicaranya. "Ino, boleh aku minta bantuanmu?"
"Sakuraaa ... Si Idiot Yahiko mengatakan kau kurang enak badan, yaa? Apa sekarang sudah lebih baikan?" Tentu itu bukanlah sebuah desisan, melainkan teriakan kencang sambil mendekap erat sahabatnya. Sakura tersenyum dan mengangguk.
Ya, aku tidak pernah merasa sebugar ini. Sekolah usai lebih awal? Ino mengangguk.
"Mau pergi bersamaku hari ini? Kita bisa belanja banyak barang, dan kau tahu apa yang lebih menyenangkan daripada itu? Yahiko akan membayar semua belanjaan kita. Itu yang dia katakan padaku tadi saat kami berbicara di bawah. Oh, kakakmu sungguh sangat baik hati—meskipun hatiku berkata yang sebaliknya," Ino memperlihatkan jajaran gigi putihnya hingga matanya terpejam. Sakura baru hendak menulis sesuatu sebelum tiba-tiba Yahiko muncul di area bingkai pintu sambil menggerutu.
"Aku merasa ada yang menyebut namaku dengan tittle yang tidak pantas, boleh aku tahu siapa yang mengucapkannya?" tanyanya sakartis sambil mendelik tanpa minat pada Yamanaka Ino yang menggidikkan bahunya sembari membuang arah pandang ke samping.
"Aku tidak tahu. Mungkin, kau salah orang. Bisa jadi tetangga sebelah memiliki dendam pribadi terhadapmu dan menghinamu dengan intonasi yang super tinggi hingga terdengar sampai kesini. Huss, huss, pergilah! Jangan mengganggu waktuku dengan Sakura!" Haruno Yahiko berdecak dan menjauh dari kamar.
Kau ini terlaluan, Ino. Tapi, tadi sedikit menghiburku. Terima kasih.
Ino tertawa kecil. "Tak perlu berterima kasih, Sakura. Bukan masalah besar bagiku, kok," Sakura menggelengkan kepalanya. "Oh, ya, Sakura. Coba ucapkan beberapa kata. Kau itu tidak bisu, jadi berbicaralah."
Gadis dengan helaian merah muda itu membuka mulutnya, hendak berbicara. Namun, cepat-cepat ia mengatupkannya kembali. Yamanaka Ino meghela napas dan tersenyum. "Kenapa kau mengurungkan niatmu? Jangan takut, Sakura. Berbicaralah, kau memiliki alat pembantu pendengaran, bukan? Ucapkan beberapa kata saja."
Sakura mengangguk. "A—aku ... ini ... sedikit s—sulit ..." Ino mengangguk dan mengambil notes yang disodorkan Sakura. Apa yang kuucapkan tadi itu benar? Rasanya sedikit sulit karena aku tak dapat mendengar apa yang aku katakan.
"Ya, benar, 'kok. Tadi kau mengatakan, 'ini sedikit sulit', meskipun dengan sedikit terpatah-patah. Coba katakan dengan jelas, Sakura." Si Bungsu Haruno mengulum bibir bawahnya dan menggeleng. Kurasa, aku tidak mampu melakukan itu. Aku bahkan tak mendengar dengan jelas apa yang aku ucapkan.
"Jangan seperti itu, jika tidak mencoba kita tidak akan tahu, bukan?" Sakura tersenyum kecil dan mengangguk. Benar kata Ino, jika tidak mencoba, ia tidak akan tahu bagaimana hasilnya nanti. Lagipula, dirinya memang tidak bisu.
"T—terima kasih karena telah mendukungku, Ino."
Setelah makan malam, tidak ada suatu kegiatan yang bisa dilakukan Uchiha Sasuke selain berbaring terlentang di atas ranjang kamarnya. Dalam perjalanan pulang sekolah tadi, Naruto menceritakan banyak hal mengenai gadis tuli yang memberikan surat cinta padanya. Ah, siapa namanya? Sakura?
Jika dipikir-pikir, memang Sasuke telah bersikap sangat buruk terhadap Sakura. Ia juga tidak mengerti mengapa dirinya melakukan itu. Entah itu karena mood-nya sedang buruk atau karena hal lain. Apapun itu, hatinya menjadi gundah tak menentu. Ia merasa tidak enak karena telah bersikap 'tak seharusnya' terhadap gadis itu. Saat beberapa gadis lain menyatakan cinta kepadanya, ia menolaknya dengan baik. Namun, mengapa pada gadis tuli itu sikapnya malah berbeda.
Ah, siapa juga yang peduli tentang apa yang telah ia perbuat. Lagipula, kenapa juga dirinya malah mengingat hal yang tidak penting? Seharusnya ia lebih baik melakukan hal yang bermanfaat daripada harus uring-uringan dan memikirkan hal yang tidak jelas. Sasuke mengambil ponselnya di atas nakas. Telunjuknya bergerak, mencari nama 'Naruto' di daftar kontaknya. Sasuke berniat menghubungi Naruto, namun ia mengurungkan niatnya.
Apa yang bisa ia lakukan untuk menebus sikap kasarnya terhadap gadis itu?
Tokyo, 10 tahun yang lalu ...
"Sakura-chan, sudah lebih baik?" Sakura mengangguk lemah sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur dari Naruto. Lelaki berhelaian pirang itu tersenyum prihatin. "Makan yang banyak, agar kau menjadi sedikit berisi. Berat badanmu menurun dalam dua tahun terakhir."
"Kak Yahiko sudah memesan alat bantu pendengaran untukmu. Ah, malam ini aku dan Ino akan menginap disini karena kak Yahiko sedang di luar kota. Lusa mungkin dia akan kembali," jelas Naruto. Kemudian, memberikan suapan terakhir. "Apa ada yang kau butuhkan, Sakura-chan?" Sakura menggeleng.
"Hey, Naruto. Usiamu baru menginjak tujuh tahun sebulan yang lalu, tapi kau bisa juga bertingkah sebijaksana ini," Sakura tertawa. "Aku terkejut, lho! Padahal aku lebih tua lebih kurang enam bulan darimu. Kau dan Ino baru saja menginap kemarin malam. Jadi, malam ini pulanglah, jangan khawatirkan aku. Bibi Kurenai akan bersamaku malam ini," Sakura tersenyum. "Bibi Kushina juga akan khawatir kalau putra semata wayangnya terus-terusan tidak pulang."
"Ah, Sakura-chan, jangan perlakukan aku seperti anak-anak," rajuknya.
"Kita memang anak-anak, 'kan? Anak-anak yang berbicara dan bersikap seperti orang dewasa," Naruto ikut tertawa. "Ngomong-ngomong, mungkin aku akan pindah ke Las Vegas bulan depan dan menetap disana."
"Apa? Serius?" Sakura mengangguk.
"Kata dokter, semakin lama pendengaranku akan semakin parah. Jadi, kakak memutuskan untuk melakukan rehabilitasi disana. Sekarang, aku mungkin masih bisa mendengar suaramu dari jarak satu meter, Naruto. Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan? Mungkin jarak pendengaranku bisa jadi kurang dari tiga puluh sentimeter, atau bahkan lebih parah dari itu." Naruto terdiam, tak menanggapi apapun. "Kau adalah sahabatku dan akan selamanya seperti itu, terima kasih karena telah mendukung dan mendorongku untuk tetap maju. Kau dan Ino selalu ada untukku, membantuku berdiri saat setiap kali aku terjatuh. Jadi aku berterima kasih banyak, Naruto." Sakura menangis. Sementara Naruto masih tak bergeming di posisinya.
Sakura melepaskan cicin yang melingkari jari manisnya dan meletakkannya di telapak tangan Naruto. "Simpan ini. Saat kita bertemu kembali, pastikan kau mengembalikan ini padaku. Jadi, jangan pernah lupakan aku ya..." Mau tak mau, Naruto tetap menerimanya dan tersenyum. Meskipun senyum itu adalah senyum yang terasa dipaksakan.
Naruto membuka laci nakasnya dan mengambil kotak kecil berbeludru merah. Saat dibuka, cicin silver dengan tiga titik mata berkilauan terlihat di dalamnya. Tangannya bergerak mengambil kalung berwarna serupa dan memasukkannya dalam lingkaran cicin tersebut. Lalu, memakainya di leher. Ia memegang cicin itu dan memandangnya sesaat.
"Ha? Jangan pernah melupakanmu? Nyatanya, kau yang tidak mengingatku, Sakura-chan," gumamnya, lalu terkekeh kecil.
Tahun pertama Naruto di SHS, ia bertemu Sakura di upacara penyambutan siswa-siswi baru. Ia meneriaki nama gadis itu, namun ia tak kunjung menerima respon apapun. Sepertinya, pendengarannya belum sepenuhnya membaik. Rehabilitasinya mungkin tidak berhasil dengan maksimal. Tapi, Naruto senang ketika ia dan Sakura kembali bertemu. Sakura adalah sahabat satu-satunya yang ia miliki. Dulu, Naruto dikucilkan dan dijadikan bahan olok-olokan teman-temannya karena rambut ibunya yang sangat eksotis. Namun, Sakura datang dan menawarkan pertemanan di antara mereka.
Awalnya, Naruto tidak menyukai—bahkan membenci Sakura. Ia tidak menyukai anak perempuan. Anak perempuan itu cerewet, merepotkan, dan berisik. Begitu anggapannya saat ia masih berusia empat tahun. Namun, semakin lama, Naruto tahu bahwa Sakura berbeda. Ia mulai menerima Sakura sebagai temannya. Rumah Sakura tepat bersebelahan dengan rumahnya. Jadi, Naruto sering berkunjung ke sana.
Setelah hampir lima bulan lebih berteman, Sakura mengenalkan Ino padanya. Disini Naruto mendapatkan kesimpulan bahwa tidak semua anak perempuan memiliki sifat yang serupa dengan Sakura. Gadis bermata aquamarine itu begitu sombong dengan dagu yang dinaik-naikkan saat berbicara dengannya. Naruto menjadi ingin muntah dibuatnya. Sakura tertawa keras saat ia menceritakannya.
Sebulan setelah ulang tahun Sakura yang kelima tahun, keluarga Sakura diundang untuk hadir di pesta bisnis pada malam hari. Yahiko memutuskan untuk tidak ikut dan tinggal bersama bibi mereka—Kurenai di rumah. Malam itu, Naruto menghabiskan waktu bersama Yahiko untuk bermain bermacam video games sampai akhirnya ia tertidur dan menginap disana. Esoknya, ia diberitahu kabar bahwa mobil yang membawa Sakura ditabrak lari. Kedua orang tua Sakura meninggal, menyisakan Sakura yang kehilangan pendengarannya karena diduga mengalami benturan keras yang membuat saraf yang berhubungan dengan telinganya terganggu.
Naruto bisa melihat Sakura menangis kencang sambil berteriak bahwa gadis itu tidak dapat mendengar suaranya sendiri dengan jelas. Ada Yahiko dan Ino yang menenangkan Sakura. Dan setelah terdiam cukup lama, Naruto pun ikut membantu menenangkan gadis itu. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuat Sakura menerima apa yang terjadi terhadapnya. Dua bulan setelahnya, Sakura mulai menjalani hidupnya dengan normal. Meskipun dengan pendengaran yang kurang jelas. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa; waktu adalah obat yang cukup ampuh untuk menyembuhkan luka.
Rasanya menyakitkan melihat orang yang disayangi menderita. Tapi, inilah pilihan yang takdir inginkan terhadap Sakura. Tetapi, tidak hanya sampai disitu saja penderitaan yang Sakura alami. Teman-temannya satupersatu mulai menjauhinya tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu, Sakura jarang terlihat di luar rumah. Waktu-waktu bermainnya terbuang akibat kejadian yang dialaminya. Dua tahun setelahnya, Sakura mengatakan bahwa dia akan pindah ke luar negeri, tepatnya ke Las Vegas. Naruto kehilangan teman baiknya sejak saat itu.
Namun, fakta menyakitkan ia terima saat kembali bertemu Sakura setelah sepuluh tahun lamanya, gadis itu tak mengingat Naruto sama sekali. Entah ia disebabkan karena termakan waktu ataupun ada sesuatu hal yang terjadi lagi terhadap Sakura. Naruto tidak ingin mengungkapkannya. Ia mencoba untuk menjadi dekat dengan Sakura, Naruto ingin hubungannya dengan Sakura menjadi seperti dulu. Namun, mungkin sesuatu yang sama tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Meskipun begitu, Ino tetap mendukungnya. Dan Naruto senang akan itu.
Saat Sasuke merendahkan Sakura di muka umum siang tadi, Naruto tak dapat menerimanya. Sakura menyukai Sasuke, lalu apa salahnya dengan itu? Naruto tidak mengerti mengapa Sasuke tidak senang akan hal itu. Apa harga diri Sasuke akan tercoreng jika ada seorang gadis tuli yang menyukai lelaki itu? Naruto rasa, tidak. Lalu, apa alasan Sasuke melakukan itu? Jika hanya karena mood Sasuke yang sedang buruk, Naruto tidak dapat memaafkannya.
To Be Continue
a/n: ah, akhirnya chapter dua selesai saya publikasikan. Terima kasih karena telah membaca xD walaupun sudah saya edit, typo(s) pasti masih ada yang berkeliaran ;3 maafkan saya untuk itu, hoho :D balasan reviews di bawah ;;)
Tia TakoyakiUchiha ini dia chapter duanya. NSOUcHa461 ini dia lanjutannya. lightflower22 saya juga merasa begitu, hoho ;3. Nurulita as Lita-san hehe, kebenaran dari kalimat itu memang tidak jarang terjadi xD. DaunIlalangKuning saya harap sudah terjawab di chap ini :D. DeidaraTamvanJualPetasan sudah dilanjut ya :). Uchiha Nazura sudah dilanjut ya ;D. Desta Soo ini dia lanjutannya ;;). Guest nggak bakalan begitu 'kok. Charamelya Azalea daku tidak hibernate, Zhang. Daku hanya lelah ;3 btw, ini nggak lama, 'kan? xD. Ika Luthfiyyah Nurmawati sudah dilanjut ya ;;). Guest (erisakura) sudah dilanjut ya :D.
For the last, sampai jumpa di chapter depan ;))
bloom
