.
.
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T
Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
.
A/N:
Happy Chinese New Year! :D
Untuk liburan hari raya ini Karu update lagi sesuai janji yang kemarin. Oh ya, sebelumnya Karu juga mau ucapin terima kasih nih untuk yang udah baca, review, fav dan follow fic ini. Nah, di chap ini sedikit flat juga nih menurut Karu. Semoga tidak bosan deh! Hihi, HAPPY READING! ^0^
CHAPTER 5
Siegrain's Son Arc
Part 2
KEPUTUSASAAN JELLAL
Jellal menyeret kakinya sepanjang koridor sekolah dengan kedua tangan meremas tali tas ranselnya. 'Bodoh, kenapa menyatakan semuanya pada Akaishi, baka!' rutuknya dalam hati.
Jelas-jelas Jellal berkata, ia menyukai Erza.. Erza Dreyar. Tapi kenyataannya kau sudah tidak pernah bertemu gadis itu, baka! Tambah Jellal dalam hati.
Kini ia mengacak-acak rambutnya. Yang kemudian kepalanya malah ditempeleng seseorang dari belakang. "Siapa ini?!" omel Jellal emosi. Well, mood-nya sedang sangat buruk hari ini. Banyak pikiran menumpuk di benaknya.
"Eits-eits, ada serigala ngamuk!" ledek Gray yang kemudian merangkul Jellal dan berjalan beriringan menuju kelas. Di sebelahnya ada Loke yang menyapa Jellal sambil cekikikan. "Yo, Jellal! Bagaimana kencanmu?" tanya Gray penasaran.
"Lancar, kah?" tanya Loke.
"Cantik, bukan, si Meredy?" tanya Gray lagi.
"Hah, imut, ya?" tanya Loke lagi.
"Dibanding Erza cantikan mana?" tanya Gray lagi.
"Oh ya, kalian ngapain saja?" tanya Loke lagi.
"HENTIKAN!" bentak Jellal yang mulai meledak telinganya karena dilontarkan pertanyaan bertubi-tubi tanpa henti. Jellal menghentikan langkahnya dan menghela napas keras. Di saat yang tidak tepat, si Natsu datang bersama Gajeel dan langsung menyambar Jellal. "Hoi, Jellal! Bagaimana kencanmu kemarin?" cetus Natsu yang tidak peka terhadap aura menyeramkan yang berkoar-koar di sekitar tubuh Jellal.
Gajeel yang peka pun menarik Natsu untuk segera menjauh dari Jellal.
"Kenapa, sih?!" cetus Natsu tidak terima.
Gray dan Loke langsung menjitak kepala Natsu agar pria berambut pink itu diam.
"Dengar, tidak usah bertanya tentang kencan kemarin lagi!" ucap Jellal mutlak. Ia pun meninggalkan keempat orang lainnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Baik Loke, Gray, Natsu maupun Gajeel saling memandang satu sama lain lalu mengangkat bahu bebarengan. "Dengar! Kalau Jellal berkata begitu, berarti ia sama sekali tidak tertarik!" ucap Natsu yang disetujui Gajeel dengan angguk-anggukkan.
Loke dan Gray menghela napas keras. "Hah! Rumit sekali, sih perasaannya Jellal!" rutuk Loke sambil membenarkan posisi kacamatanya yang dikira turun.
"Jadi perasaan yang ditanyakannya kemarin itu untuk siapa?" tanya Gray dengan sebuah alis terangkat.
Gajeel berdeham. "Siapa tahu si Erza Dreyar itu." tebaknya dengan wajah datar.
"Tidak mungkin." Balas ketiga pria di hadapannya serempak membuatnya sedikit kaget.
"Lagian kapan ia bertemu dengan Erza.." tambah Loke yang kemudian memasang pose berpikir itu.
"Tapi bukankah Jellal baru pernah memuji seorang gadis yaitu si Erza Dreyar yang ada di majalah?" tanya Natsu begitu mengingat Jellal adalah tipe orang cuek yang bahkan melirik cewek saja malas.
Gray, Loke dan Gajeel terdiam. Mencoba menklarifikasikan karakter si teman biru mereka itu. "Woah, keajaiban sih memang jika Jellal benar-benar menyukai Erza hanya dengan melihatnya dari majalah." Terang Loke sambil manggut-manggut.
Gray mendesah. "Yah, kalau seperti itu, seharusnya kita mempertemukan Jellal dengan Erza, bukan dengan Meredy, dong."
"Gehee, tapi Erza sedang ada di luar negeri, bukan?" ucapan Gajeel itu sukses membuat ketiga orang lainnya menurunkan bahunya seolah pupus harapan.
"Lagian memang Jellal sudah mengirim pesan email kepada Erza?" tanya Gray.
"Entahlah." Balas Loke dengan menunduk.
"Kalau begitu, nanti sore saat makan sore di kamarnya akan aku pastikan Jellal mengirimkan pesan email itu untuk Erza!" pekik Natsu dengan cekikikan anehnya. Untung saja tidak ada api keluar dari mulutnya.
Mereka berempat mengangguk seolah telah sepakat. Mereka juga saling high five dan beranjak ke kelas.
.
.
Sore hari, di kamar G-088.
Di pintu tertulis: Akaishi dan Jellal Fernandes
TOK TOK TOK!
Natsu mengetuk pintu itu dengan cengingisan bersama yang lain. Tak sabar untuk melakukan hal yang telah mereka persiapkan matang-matang. Benar, sebelum ke kamar Jellal dan Akaishi itu, mereka berempat sempat berunding dulu di kamar Gray dan Loke tepatnya kamar G-105.
KLEK! Pintu itu terbuka, mereka berempat langsung berdiri tegak dengan bertingkah seperti biasanya.
Ternyata Jellal yang membukanya lalu wajahnya datarnya jadi berubah akibat terkejut setengah mati. Gray dan Loke tertawa dalam hati melihat ekspresi itu.
"KALIAN?!" teriak Jellal hingga menggema di lorong asrama. Tapi begitu menyadari suaranya terlalu keras, Jellal berdeham dan berusaha biasa lagi. "Apa yang kalian lakukan di sini, baka?!" protesnya dengan nada rendah.
"Ouh, kalian sudah datang?" Erza datang dari belakang tubuh Jellal. Kedatangan sosok Scarlet itu membuat keempat sahabat Jellal tersenyum senang karena terbebas dari usiran Jellal. Berbeda dengan si rambut biru yang menoleh dengan wajah super herannya.
"Kau yang mengajak mereka kemari, hah?" tanya Jellal dengan nada seolah tidak terima. Lagi-lagi keempat temannya itu malah cekikikan untuk meledeknya.
Erza mengangguk pelan. "Begitulah, sebenarnya mereka yang ingin ke sini, sih." Terang Erza meluruskan.
Jellal menghela napas dengan kerutan di keningnya. "Jadi itu sebabnya kau masak sebanyak itu?!" cetus Jellal lagi masih tidak terima.
"Hey, ayolah, Jellal! Jangan membuat temanmu pegal berdiri di sini." cetus Gajeel dengan memamerkan barisan giginya. Dengan cepat dan tanpa disuruh mereka langsung menyerbu masuk ke dalam kamar 088, bagai rombongan bebek yang memasuki kandang.
Jellal mendecih kesal, Erza hanya mengulum senyum geli melihat ekspresi kesal Jellal. Erza menutup pintu lalu beranjak ke dapur bersama Jellal.
"Wuaah! Kamar Jellal dan Akaishi rapi sekali!" seru Natsu dengan terkagum-kagum melihat ruang belajar kamar temannya yang tidak hanya terbilang rapi, namun juga bersih dan teratur. Gray ikut ke ruang belajar yang sedang dikagumi Natsu itu.
"Benar! Benar-benar bersih!" tambah Gray dengan tercengang. Mulutnya terbuka saking tercengangnya, untung tidak kemasukan nyamuk.
Berbeda dengan Gajeel dan Loke yang sedang menyerbu kamar mandinya. "Lihat! Kamar mandinya juga sangat bersih, sugoi!" pekik Loke sambil berputar-putar di depan kaca dalam kamar mandi.
"Hei! Awas kalau kalian membuat berantakan!" peringat Jellal sembari menyeret Loke dan Gajeel keluar dari kamar mandi. Erza yang sedang menata meja makan itu hanya geleng-geleng.
"Ya, tenang saja! Pasti akan tetap tertata rapi, kok!" seru Gajeel sambil mengacungkan jempolnya. Si Natsu tidak sengaja mendapati ponsel Jellal di atas meja belajar. Ia pun menoleh ke kiri kanan untung hanya ada Gray, Natsu segera mengantongi ponsel itu dan pura-pura ingin ke kamar mandi.
"Ah, Akaishi, aku pinjam kamar mandinya, ya!" cetus Natsu yang menoleh pada Akaishi yang sedang beres-beres di dekat meja makan dibantu Jellal itu.
"Hn, silakan." Balas Akaishi singkat. Berbeda dengan Jellal yang mengangkat sebelah alis dengan ekspresi curiga. Natsu pura-pura tidak melihat Jellal yang curiga itu dan hanya memasuki kamar mandi dengan menyembunyikan keringat dinginnya. Di dalam kamar mandi itulah ia memulai aksinya.
Beberapa menit kemudian, Akaishi menyilakan tamunya untuk makan. Saat itu kebetulan Natsu juga keluar dari kamar mandi dan diam-diam kembali menaruh ponsel Jellal di atas kasur. Piringnya sudah disiapkan, berhubung hanya ada dua kursi jadi Akaishi menarik dua kursi dari ruang belajar dan sebagian makan dengan duduk di sofa.
"Aku dan Akaishi saja yang makan di sofa." Ucap Jellal seolah dengan nada mutlak. Lima pasang mata menatapnya dengan heran.
Gray dkk yang sejak awal ingin membuat Jellal jengkel habis-habisan pun menyangkalnya. "Tidak, kau dan aku saja yang makan di sofa, kawan!" ucap Gray seraya merengkuh Jellal itu dan membawanya ke sofa.
"Sial! Aku yang sudah biasa bersama Akaishi, tahu! Bukankah kalian kesal dengan Akaishi?!" pekik Jellal tidak terima.
"Tidak sama sekali. Justru kita ingin membahas sesuatu dengan Akaishi, jadi kau bersama Gray saja, ya.." ucap Loke sambil diikuti oleh angguk-anggukan Gajeel dan Natsu.
"Cih!" decih Jellal yang akhirnya menyerah dan duduk di sebelah Gray dengan sepiring makan di tangannya. Gray menyeringai puas melihat Jellal yang menerima kekalahan itu.
Gray menepuk-nepuk punggung Jellal seolah untuk menghibur, namun Jellal malah merasa Gray sedang meledeknya kali ini. "Sudahlah, sekali-kali mengalah!" tutur Gray sambil cekikikan.
Pemuda berambut biru itu tidak peduli dan hanya melahap makanannya dengan tidak nafsu. Sesekali matanya melirik meja makan yang sedang ramai oleh obrolan Natsu, Loke dan juga Gajeel. Entah kenapa Jellal merasa cemburu pada tiga orang yang menempel pada Akaishi itu. Terlebih saat Loke tertawa-tawa bersama yang lain sambil merangkul-rangkul Akaishi, Jellal langsung men-deathglare ketiga teman resehnya tersebut meski tidak digubris.
"Terima kasih untuk makanannya, Akaishi!" tutur Gray setelah selesai makan dan berbincang sebentar. Mereka berempat berdiri di luar ambang pintu sedangkan Jellal dan Erza berdiang dalam ambang pintu.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 PM. Sudah begitu larut malam dan Jellal sudah benar-benar terlihat kacau akibat rasa jengkel.
"Hn, sama-sama." Sahut Erza dengan seulas senyum kecil. Begitu Gray melirik Jellal, pria itu membuang muka. Membuat Natsu dan yang lain cekikikan.
"Tak kusangka, masakanmu selezat masakan ibuku, Akaishi!" ucap Loke dengan tersenyum lebar.
Mendengar itu, Erza hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan tersenyum malu. Jellal mendengus.
"Nah, kalau begitu sampai jumpa! Selamat malam!" ucap mereka kemudian seraya berlalu dengan lambaian tangan. Erza membalas lambaian tangan, sedangkan Jellal hanya melipat tangan di dada dengan mata menatap tajam untuk memperingati keempat orang itu agar jangan pernah kembali lagi.
"Hei, bagaimana, Natsu?" tanya Loke memastikan kesuksesan rencana mereka.
Natsu nyengir lebar, "Tenang! Berjalan lancar! Aku sudah mengirimkan pesan ke email Erza dengan emailnya Jellal!" terang Natsu yang diikuti cekikikan liciknya.
"Bagus, Salamander!" Gajeel menggeblak punggung Natsu. "Tinggal kita tunggu reaksi Jellal selanjutnya, gehee." Sambungnya.
Begitu ketiganya tertawa kecil, Natsu malah terdiam karena sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa, Natsu?" tanya Gray yang menyadari tingkah aneh Natsu.
"Tadi... ah tidak apa-apa.." sergah Natsu yang kemudian tidak jadi mengungkapkan pikirannya.
"Hm, okelah."
Tanpa disadari oleh tiga orang Fairy Tail itu, Natsu menyembunyikan sesuatu yang sangat aneh dan patut dipertanyakan.
Pada beberapa waktu lalu, Natsu segera masuk ke kamar mandi kamar Akaishi dan Jellal lalu langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel Jellal yang ia ambil barusan. Untunglah ponsel Jellal tidak ada password-nya, jadi Natsu mudah melancarkan aksinya.
Dengan lihai tangannya membuka email dari ponsel Jellal dan segera mengetik pesan untuk alamat email Erza ( ).
'Salam kenal, Erza-san. Senang berkenalan denganmu. Omong-omong aku ingin mengenal tentang dirimu lebih lanjut, bolehkah? Seandainya kau tidak keberatan tolong balas pesan ini.
Penggemarmu,
Jellal Fernandes.'
Natsu cekikikan dengan licik usai mengetikkan pesan itu dan mengirimnya. Ia pun terpekik bisu sambil lompat-lompat begitu mengetahui pesan itu telah terkirim. Tangannya aktif menekan-nekan layar touch screen ponsel itu untuk mengembalikan ke halaman awal seperti semula.
Namun tak sengaja jarinya menekan Gallery dan terbukalah foto-foto yang tersimpan di ponsel Jellal.
Yah, Natsu rasa Jellal tidak akan menyimpan foto yang memalukan jadi tidak ada salahnya juga dilihat. Begitulah pikirannya, tapi..! Justru gallery itulah yang membuat Natsu sukses tercekat dengan mengerutkan keningnya.
"Je-jellal... apa kau... kau... benar-benar... g-g-..gay..?" ucap Natsu pada diri sendiri dengan tersendat-sendat. Tangannya juga jadi tremor karena tatapan horrornya pada ponsel Jellal.
Jellal menyimpan begitu banyak fotonya Akaishi. Ada foto saat Akaishi dari belakang yang sepertinya sedang bersila di karpet untuk memakai sepatu, Akaishi yang sedang mengerjakan sesuatu di atas meja belajarnya, ada foto Akaishi yang sedang tertidur di atas kasurnya, dan gerak jari Natsu terhenti sesaat begitu melihat foto yang kini terpampang di layar.
Foto itu menampilkan wajah Akaishi dari dekat, latarnya gelap seperti ruangan yang gelap gulita dan ada sebuah laptop. Wajah Akaishi menyentuh keyboard laptop tersebut dengan menghadap ke samping. Sepertinya Akaishi saat itu sedang ketiduran di atas laptop lalu Jellal memotretnya diam-diam. Tapi untuk apa semua foto ini? Natsu belum bisa mencernanya.
Kalau hanya sekadar iseng, yah, Jellal tidak suka iseng, ia mengetahui itu. Kalau untuk mempermalukan Akaishi, yah Jellal juga bukan tipe orang yang mempermalukan orang dengan cara seperti ini. Jadi hanya satu kesimpulan Natsu..
Jellal menyukai Akaishi..
Tanpa satu orangpun yang tahu.
Natsu berniat menyembunyikan hal ini untuk sementara dan pura-pura bertingkah seperti biasanya.
.
.
Tak terasa, pagi sudah datang lagi. Sudah hari Kamis.
Hari ini Akaishi dan Jellal sarapan dengan cornflakes yang disiram susu full-cream cair. Akaishi juga menyiapkan jus jeruk untuknya dan juga Jellal. Usai makan dan menghabiskan jus, Jellal kembali merenung untuk mempersiapkan diri menghadapi ayahnya yang akan datang esok hari. Ah sial, tersisa satu hari lagi.
Ah, apakah ia benar-benar akan pergi dari Fairy Tail?
Tidak! Ia sama sekali tak ingin meninggalkan sekolah Fairy Tail. Sekolah dan Kamar ini sudah seperti rumah sendiri baginya.
"Hoi, kenapa belakangan ini sering melamun?" tanya Erza yang baru saja memakai sepatu talinya dan beranjak mengambil tas selempangnya di sofa.
"Ah, tidak ada apa-apa.." ujar Jellal menutupi. Ia pun ikut mengambil tas ranselnya dan mengikuti Akaishi yang akan keluar kamar itu untuk ke sekolah.
"Yakin?" tanya Akaishi ragu. Jellal hanya balas mengangguk dengan seulas senyum. Seolah menandakan ia benar-benar baik. "Hm, baiklah kalau begitu." Sahut Akaishi setengah percaya.
Mereka pun keluar kamar bersamaan dan mereka tercekat begitu mendapati Natsu yang sudah berdiang di depan kamar mereka seraya menunjukkan cengiran khasnya.
"Natsu?!" cetus Akaishi dengan melotot karena kaget.
"Hai! Selamat pagi, Akaishi!" seru Natsu bersemangat. Kedua tangannya diangkat seolah menunjukkan semangat berapi-apinya.
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku pagi-pagi begini, baka?" tanya Jellal dengan mengangkat sebelah alisnya. Yeah, jujur saja ia masih curiga dengan Natsu sejak kemarin.
Natsu mengangkat bahunya. "Aku hanya ingin mengobrol tentang sesuatu dengan Akaishi!" balas Natsu yang langsung merangkul bahu Akaishi begitu saja. "Kau tidak keberatan, kan, Akaishi?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya pada Akaishi. Jellal langsung merasa panas tanpa sebab.
"Uh, ya, kurasa tidak masalah." Sahut Akaishi dengan heran.
Jellal langsung menyingkirkan tangan Natsu dari bahu Erza dengan sekali gerakan. "Jangan sok akrab dengannya. Ayo kita pergi, Akaishi!" tutur Jellal yang langsung mendorong bahu Erza agar pergi bersamanya.
"Heh, Akaishi tidak masalah, baka!" tukas Natsu yang langsung menarik tangan Akaishi dan membawanya lari begitu saja.
Melihat tingkah aneh kedua orang itu, Erza langsung menempeleng Natsu. "Sebenarnya apa yang kau inginkan, baka?!"
Pria berambut pink itu mengusap-usap kepalanya sambil merintih pelan. "Ayolah, Akaishi. Jangan hanya baik pada Jellal." sahut Natsu sambil nyengir lagi. Erza yang kebingungan itu hanya menghela napas pasrah. Meninggalkan Jellal yang berjalan dengan menyeret kaki di belakangnya.
'Ini adalah pembuktian pertama, bahwa Jellal benar-benar menyukai teman sekamarnya.' Pikir Natsu dalam hati.
Tak lama, merekapun sampai di koridor sekolah. Jellal berada dua meter di belakang mereka. Natsu terengah-engah karena harus berjalan cepat untuk menarik Akaishi menjauhi Jellal. Hah, usahanya seorang diri memang sangat ekstra. Begitu menoleh pada Akaishi yang biasa saja itu, Natsu memiringkan kepalanya. Ia baru menyadari warna rambut Akaishi yang menurutnya langka. "Hoi, Akaishi, warna rambutmu itu asli?" tanya Natsu sambil menunjuk rambut Erza yang berdiri di sebelahnya.
Erza mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"
"Ah, maksudku itu warna asli? Bukan karena dicat atau apalah.." balas Natsu meluruskan.
Erza mengangguk sekali. "Ya iyalah, aku tidak minat mengecat-ngecat rambut seperti itu." sahutnya yang kemudian melangkah menuju kelas mendahului Natsu.
Sedangkan Natsu malah berpikir sejenak, "Benar, dugaanku. Akaishi memang mirip dengan Erza, jadi itulah kenapa si Jellal menyukainya." Gumamnya pada diri sendiri. Mengangguk-angguk sendiri begitu membuat hipotesis sendiri.
Jellal tiba-tiba saja sudah berdiang di belakangnya dengan sebuah deathglare yang mencekam. "Apa yang kau katakan pada Akaishi, hah?" tanya Jellal dengan nada rendah seolah mengintimidasi Natsu.
Melihat itu, Natsu berlari meninggalkan Jellal begitu saja. Ia segera masuk ke kelas untuk mendapat perlindungan.
.
.
Sepulang sekolah, Gray, dkk menggeromboli Erza yang sedang beres-beres itu. "Kenapa?" tanya Erza datar. Mendengar suara khas Akaishi itu, Jellal menoleh ke arah mejanya yang mana sudah dipenuhi oleh teman-teman dekatnya sendiri.
Jellal membulatkan matanya karena heran.
"Hoi, Akaishi! Kita main PS di kamar Natsu, yuk!" ajak Loke dengan bersemangat. Jellal terhenyak mendengar ajakan Loke itu, sejak kapan mereka jadi sok dekat dan sok akrab dengan Akaishi.
"Hm, aku tidak suka main PS. Maaf." Sahut Erza yang menolaknya dengan halus. Mendengar itu Jellal menyeringai dan tertawa puas dalam hati.
Erza berdiri dan beranjak untuk keluar kelas namun dihalangi oleh keempat temannya Jellal.
"Ayolah! Bagaimana kalau membaca majalah bersama? Ayolah, Akaishi!" ucap Natsu dengan memelas. Melihat itu Jellal entah kenapa jadi deg-degan, takut Akaishi terusik dengan melasan si Natsu. Yah, setahu Jellal Akaishi itu kan orang yang tidak tegaan. Jadi, bisa saja ia menerima ajakan si Natsu yang memelas itu.
"Hm, maaf, aku lebih suka membaca novel daripada membaca majalah, Natsu." Sahut Erza halus. Kini Erza menyelipkan dirinya di antara celah sempit empat orang tersebut untuk pergi. Melihat itu Jellal menghela napas lega entah kenapa.
Begitu berjalan menuju pintu keluar, Erza berhenti pada Jellal yang memperhatikannya itu. "Hei, hari ini jadwalmu yang membersihkan kamar. Jangan lupa!" peringat Akaishi dengan datar.
"Oke, aku tidak lupa. Tenang saja." Balas Jellal dengan seulas senyum. Erza membalas senyumannya itu. "Ayo kembali bersama, Akaishi." Ucap Jellal kemudian.
"Hn, ayo." Balas Erza cepat, membuat Jellal tersenyum meledek pada keempat orang temannya yang gagal mengajak Akaishi itu.
Jellal dengan bangga berjalan beriringan dengan Akaishi. Keempat orang temannya membuntutinya, Jellal mengetahui itu.
BZZ BZZ!
Ponsel Jellal bergetar di sakunya. Jellal sempat berhenti, Akaishi yang heran itu pun ikut berhenti. "Ada apa?" tanya Erza penasaran.
Jellal menunjukkan ponselnya pada Erza, "Ada sebuah pesan. Aku ingin melihatnya sebentar." Terangnya yang kemudian membuka pesan yang masuk ke ponselnya itu.
'Besok ayah akan datang malam hari. Lebih baik mengepak barang-barangmu mulai malam ini. Ayah juga sudah mendaftarkanmu ke kelas S di Special Magic High School. Lebih cepat pergi dari sekolah pemberontak itu, lebih baik. Salam hangat dari ayahmu, Siegrain.'
Di saat itu, Natsu dan rombongan sudah mengerubungi Erza lagi. "Akaishi! Ayolah, main ke kamarku!" ucap Natsu lagi sambil memancarkan puppy eyes di kedua matanya.
"Ya! Mainlah ke kamarku dan Salamander." Tambah Gajeel sambil menunjuk si Natsu. Si Gray dan Loke angguk-angguk menyetujui perkataan Gajeel.
"Hm, maaf mungkin lain kali saja. Maaf, ya." tolak Erza secara halus. Kemudian matanya menoleh pada Jellal yang bergeming di tempat dengan ponselnya. Pria berambut biru itu menatap ponselnya dengan intens seolah mendapat berita buruk. "ada apa, Jellal?" tanya Erza. Natsu dkk ikut menoleh kepada Jellal.
Jellal mendongak kemudian memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana. "Tidak penting. Ayo kembali ke asrama." Sahutnya datar. Tapi jelas-jelas Jellal menyembunyikan sesuatu.
"Hei, Jellal, belakangan ini kau seperti menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya ada apa?" tanya Gray yang cemas itu. Ia membiarkan ketiga temannya bersama Akaishi berjalan mendahului dirinya dan Jellal.
"Justru yang seharusnya aku bertanya, kenapa kalian jadi sok dekat dengan Akaishi?!" tanya Jellal dengan memicingkan matanya. Gray hanya berdeham untuk membalasnya. Karena kenyataannya mereka berempat ingin menjadi lebih dekat dengan Akaishi yang mereka kira ketus sebelumnya itu.
Natsu dan Loke juga Gajeel kini sedang menghimpit Akaishi yang mana ketiga orang itu berjalan beriringan sembari terus melontarkan pertanyaan ataupun cerita pada Erza. Bisa dilihat dengan jelas bahwa Erza mulai lelah menanggapi kebawelan tiga orang itu. Jellal menatap tidak suka pada tiga orang temannya yang berdempetan dengan Erza.
"Hoi, Akaishi, omong-omong kenapa kau lebih memilih menjadi penyihir dibandingkan profesi yang lain? Padahal kan kau akan memiliki lebih banyak uang dengan menjadi bussinessman!" tanya Natsu dengan nada bersemangat seperti biasanya.
"Tujuanku hanya satu. Menjadi penyihir Double-S Class dan mengalahkan niisan-ku." Sahut Erza dengan datar. Jellal tahu akan hal itu.
Natsu, Loke dan Gajeel manggut-manggut mengerti seraya ber-Oh ria.
"Seleksi untuk penyihir kelas SS diadakan tahun depan, ya?" tanya Gajeel seraya memutar matanya.
Erza mengangguk. "Ya, kau benar."
"Tapi untuk menjadi Double-S Class bukankah kau harus membentuk kelompok penyihir beranggotakan tiga orang?" tanya Loke memastikan. "apa kau sudah memikirkan siapa saja yang akan kau ajak untuk menjadi setim denganmu?" tanyanya lagi sekaligus. Mendengar pertanyaan dari Loke itu, Jellal yang berjalan tak jauh di belakangnya tertegun.
Sekilas Erza berpikir sejenak lalu menghela napas. "Sayangnya aku belum menentukannya. Yang jelas aku ingin mencari seseorang yang kuat dan bisa menggunakan banyak sihir. Kalau bisa sihir yang langka." Sahutnya dengan nada murung. Gajeel menepuk-nepuk kepala Erza yang tidak lebih tinggi darinya itu.
"Tenang, sebentar lagi kau akan menemukannya." Hibur Gajeel dengan sesungging senyuman. "kalau tidak kau ajak aku dan Salamander saja! Kami kan dragon slayer, gehee!"
"Betul, betul! Kami bersedia menjadi teman setim-mu!" timpal Natsu.
Erza terkekeh, "Aku tidak ingin sekelompok dengan orang bawel dan ceroboh seperti kalian." Ucap Erza.
"Heh! Kenapa?!" sahut Gajeel dan Natsu serempak.
"Kalahkan aku dulu, baka! Baru kuterima kalian menjadi teman setimku!" timpal Erza dengan menyeringai. Mendengar itu, Natsu dan Gajeel membungkuk lesu, yah lagian mereka merasa tidak akan pernah mengalahkan Akaishi.
Di belakangnya, Jellal menghentikan langkah kedua kakinya. Membuat Gray bingung.
"Ada apa, Jellal?" tanyanya memiringkan kepala. Jellal tidak menjawab, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Aku sudah menemukan tujuanku..' pikirnya dengan mantap.
.
.
Hari Jumat pun akhirnya datang. Tidak sesuai perkataannya, Siegrain datang pada sore hari. Kini mobil silver metalik telah berparkir di depan gerbang utama Fairy Tail Magic High School. Seorang henchman-nya yang memakai tuksedo hitam mengkilap itu pun membuka pintu belakang untuk Siegrain.
"Terima kasih, Zero." Ucap Siegrain begitu keluar dari mobil dengan merapikan jubah putih panjangnya serta kacamata yang bertengger di depan matanya. Zero membungkuk hormat kemudian ia berjalan di belakang Siegrain bersama pengawal khusus Siegrain yang lain – Azuma dan Zancrow.
Siegrain berjalan tegak dan berwibawa menuju area asrama melewati lapangan utama sekolah. Beberapa murid yang melihatnya sedikit bertanya-tanya mengapa orang itu terlihat begitu mirip dengan Jellal. Si Natsu dan Gray yang kebetulan sedang lari sore bersama, tercekat melihat sosok yang mirip Jellal tersebut. "Heh, Jellal memakai kacamata! Dan kenapa ia berjalan dengan diiringi pengawal berkacamata hitam seperti itu?" seru Natsu yang terheran-heran itu.
"Bodoh! Itu ayahnya Jellal!" balas Gray dengan menyeka keringatnya. Wajahnya sedikit was-was, takut akan ada hal besar terjadi. "sebaiknya kita buntuti mereka." Ucap Gray yang diangguki Natsu. Mereka pun membuntuti keempat orang dari Dewan itu dengan hati-hati. Gray berlari kecil sembari menghubungi Jellal.
Kacamata baca yang dikenakan Siegrain, seolah menambah kharisma inteleknya. Menunjukkan bahwa ia adalah seorang petinggi yang bermartabat tinggi. "Cepat cari kamarnya Jellal dan tarik ia ke mobil." Perintah Siegrain dengan tegas. Langsung dijalankan oleh ketiga pengawalnya.
Zero, Zancrow dan Azuma mendahului Siegrain masuk ke dalam asrama menaiki tangga dan mencari kamarnya.
"Jellal-boochama tinggal di kamar G-088." Tutur Azuma menginformasikan pada dua rekannya. Azuma lah yang biasa melacak keberadaan Jellal melalui ponselnya.
"Roger!" balas Zancrow dan Zero.
Sepanjang perjalanan di dalam asrama, banyak murid bertanya-tanya dan menghentikan kegiatan mereka hanya untuk mencari tahu siapa orang-orang berjas hitam itu. Terlebih di belakangnya ada seorang berambut biru yang benar-benar mirip Jellal. Hanya saja mengenakan kacamata. Wajahnya juga terlihat lebih tua dari Jellal.
Di dalam kamar, Jellal terduduk dekat rak sepatu sedang mengelap sepatu olahraga dan sepatu latihannya yang kotor akibat terkena hujan tadi siang, sementara Erza sedang mengerjakan PR di ruang belajar. Ponsel Jellal ditaruh laci meja belajarnya, jadi ia tidak mendengar panggilan dari Gray.
TOK TOK!
Sebuah ketukan pintu terdengar. "Ya, tunggu sebentar." Sahut Jellal dari dalam. Ia berdiri dan membuka pintu. Begitu mengetahui siapa yang mengetuk, Jellal membulatkan matanya. "Kalian?!" serunya terkejut begitu mendapati tiga pengawal pribadi ayahnya yang sudah bertengger di depan kamar. "bukankah ayah bilang datang malam hari?!"
Tanpa menjawab, Zancrow dan Azuma pun langsung merengkuh kedua lengan Jellal dan menyeretnya pergi. "Hei! Lepaskan! LEPASKAN!" Jellal berteriak-teriak dengan rontaan agar mereka melepaskan tangan Jellal, "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Erza langsung melongo ke pintu dan ia kaget melihat Jellal yang diseret oleh orang-orang tak dikenalnya itu. "JELLAL!" seru Erza seraya menghampiri Jellal dan berusaha melepaskan tangan kedua orang itu dari Jellal. "Siapa kalian?!" tutur Erza kemudian dengan nada rendah. Juga dengan pancaran aura menyeramkan.
Mendengar keributan di lorong asrama itu, murid-murid dari dalam kamar lain ikut keluar untuk melihat apa yang terjadi di lorong depan kamar mereka.
Begitu Erza berhasil melepaskan pegangan tangan Zancrow pada lengan Jellal, Zero memukul Erza hingga Erza terpental menubruk dinding. Seseorang membantunya. "Kau tidak apa, Akaishi?" tanya Eve yang membantunya itu. Erza mengangguk ia makin bingung siapa orang-orang yang seperti mau menculik Jellal itu.
"Beraninya kau memukul temanku!" seru Jellal tidak terima. Ia memberontak agar Zancrow dan Azuma melepaskan kekangan mereka.
"Maaf, boochama. Tapi Siegrain-sama sudah menunggu anda." Sahut Zero dengan datar. Seolah tak terusik dengan aura menyeramkannya si Jellal.
Erza mengeluarkan pedangnya dengan sihir lalu mengacungkan pedang itu tepat di leher Azuma. "Lepaskan Jellal atau pedang ini akan menebasmu." Ancam Erza dengan nada rendah. Azuma tak gentar sama sekali.
"Akaishi.." gumam Jellal. Saat itu juga, Loke, Gajeel bersama Gray dan Natsu ikut meramaikan dengan si Natsu menyemburkan api dan Gajeel yang mengeluarkan pedang besinya.
Tiga orang yang menyeret Jellal itu pun terpaksa melepas Jellal sesaat untuk menghindar serangan brutal dari teman-temannya Jellal. Begitu lengah, Erza menendang punggung Zero hingga pria tua itu terlentang di lantai dengan wajah menghadap lantai kemudian Erza menancapkan pedangnya tepat di sebelah telinga Zero. "Apa yang kalian lakukan di sini, hah?" tanya Erza dengan dingin.
"Kenapa kalian menyeret Jellal seperti itu, hah?!" tambah Gray dengan wajah dengki. Jellal terdiam dan kini sedang bersender di dekat ambang pintu seraya memegangi lengannya yang kesakitan.
"Hoh, maaf mengganggu kalian, penyihir-penyihir muda!" suara berat itu seolah membuat keadaan lorong asrama blok G membeku. Erza dan yang lain langsung mendongak ke sumber suara dan mata mereka membulat lebar.
"Je-jellal...?" gumam Erza yang tercekat melihat sang empunya suara itu ternyata adalah seorang yang memiliki rupa seperti Jellal.
"Nama saya Siegrain Fernandes, Petinggi Dewan Sihir sekaligus ayahnya Jellal." terang Siegrain dengan tenang. Mendengar itu, mata Erza semakin membulat lalu ia menoleh kepada Jellal dan pemuda itu mengangguk dengan tatapan redup.
Erza mengangkat pedangnya lalu menyimpannya. Setelah itu Zero berdiri dibantu Zancrow. Kini ketiga orang yang sumbernya keributan di lorong ini, alias pengawal pribadi Siegrain, berdiri di sisi Siegrain. Semua mata yang ada di lorong itu kini menatap tidak percaya pada Jellal dan Siegrain.
"Maaf membuat keributan, kami di sini ingin menjemput Jellal-boochama di Fairy Tail dan membawanya pulang." Terang Zero setelah berdeham dan mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Seperti itukah caramu menjemput tuan mudamu sendiri?!" cetus Natsu seraya menekuk lengan bajunya untuk siap-siap bertarung lagi. Untung ditahan Ren dan Gajeel yang ada di dekatnya. "Lepaskan! Lepaskan aku!" ronta Natsu dengan heboh hingga beberapa orang harus memeganginya agar Natsu tidak menyerang liar lagi.
Kini ketegangan terjadi, dengan Siegrain yang menatap kedua bola mata Jellal. "Jellal?" ujar Erza dengan kerutan di keningnya. Gadis itu belum mengerti maksudnya. Jellal menatap Erza sesaat lalu menatap Toosan-nya lagi.
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkan Fairy Tail." Ujar Jellal dengan tegas. Wajahnya lurus-lurus menghadap Siegrain tanpa gentar.
"Ini semua demi dirimu sendiri, Jellal." sahut Siegrain datar namun tajam seolah itu merupakan perintah mutlak.
Jellal menggertak giginya. "Tidak! Aku memiliki banyak teman yang tidak mungkin kutinggalkan di sini!" sahut Jellal dengan berani. Teman-temannya sedikit tersentuh mendengar pernyataan itu.
Siegrain tidak langsung menjawab. Melainkan merogoh saku dalam jubahnya dan mengambil lipatan kertas yang rapi. Siegrain membuka kertas itu lalu menunjukkannya pada Jellal. "Ayah sudah mengurus surat pindah-mu dari sekolah ini. Juga sudah ditandatangani oleh kepala sekolah ini, yaitu Tuan Precht. Jadi, kau tidak ada alasan untuk berada di sini lagi." ujarnya seraya menyodorkan surat pindah yang ia urus beberapa saat lalu itu.
Jellal tercekat mendapati surat pindah yang ditunjukkan ayahnya itu, "Ayah!"
"Cepat bawa dia ke mobil. Tidak usah pikirkan barang-barangnya. Aku yakin dia belum membereskannya." Tutur Siegrain tidak menghiraukan ucapan dan tolakan dari Jellal.
"Baik, Sieg-sama!" tiga orang pengawal setianya itu membungkuk hormat. Siegrain membalik badannya dan berjalan mendahului. Zancrow dan Azuma kembali menarik Jellal agar tuan mudanya itu mengikuti mereka.
Jellal menunduk, ia tahu apa akibatnya jika menentang perkataan ayahnya saat ini. Pastilah ia akan menutup Fairy Tail.
Sekilas Jellal menatap Erza dan yang lain lalu melemparkan seulas senyum hambar yang mungkin mengisyaratkan ucapan selamat tinggalnya. Ia sudah dibawa oleh Siegrain secara paksa. Teman-temannya yang melihat itu terdiam meski sebenarnya emosi melihat kejadian itu. Terlebih Erza, ia mengepalkan tangannya dan tanpa disadarinya sebulir air mata menetes dari matanya. Natsu teriak-teriak memanggil Jellal sampai suaranya habis. "Hentikan. Jangan mencari masalah dengan petinggi dewan sihir." Ucap Gray mengingatkan. Mendengar itu Natsu mendengus kesal.
Begitu sampai di depan gerbang, Zero membuka pintu mobil untuk Siegrain dan Jellal. Kedua pria berambut biru itu kini sudah berada di dalam mobil. Jellal kembali menggertakkan giginya. Begitu marah karena kelemahannya. Ia tidak dapat menentang ayahnya yang kuat dan memiliki perintah mutlak itu.
"Jangan marah. Ayah akan membelikan baju dan segala keperluanmu untuk mengganti yang ketinggalan di asrama sekolah pecundang ini." Ucap Siegrain dengan datar. Lalu ia menyunggingkan seulas senyum kecil pada Jellal untuk mencairkan hati putranya. Mendengar itu Jellal hanya membuang muka.
Mobil silver metalik itu pun melaju perlahan. Meninggalkan Fairy Tail. Erza berlari ke luar dengan kacau, tak percaya hal ini adalah kenyataan. Jellal pergi begitu saja dengan cara seperti ini.. Erza tidak percaya. Ini pasti hanya mimpi.
Erza kembali menangis.. yang tidak ia ketahui apa sebabnya. Dengan lunglai ia pun kembali ke kamarnya. Teman-temannya yang tadi menonton keributan beberapa saat lalu sudah kembali masuk ke kamar masing-masing. Gray dan Loke juga sudah menarik Natsu dan Gajeel ke dalam kamar mereka.
Gadis itu merasakan keheningan pekat di dalam kamarnya yang masih terang. Kakinya melangkah pada ruang tengah lalu ke ruang belajar. Entah kenapa tangan Erza membuka laci meja Jellal begitu saja. Sebuah ponsel Jellal tertinggal di sana, Erza mengambilnya. Lalu menggenggam ponsel itu dalam genggaman tangannya seolah merasakan kehadiran Jellal hanya dengan menggenggamnya.
Bagaimanapun.. ia sudah terbiasa dengan kehadiran pemuda itu..
Apakah Jellal benar-benar pergi dari Fairy Tail..?o
.
CHAPTER 5 END!
Naah, begitulah chapter 5! Well, sekali lagi terima kasih kepada readers yang telah menghabiskan waktunya untuk membaca The Magic School hingga chap ini. Semoga tetap tertarik menunggu kelanjutannya, ya. Bagi yang bingung, mau marah2, mau komen atau kritik, mau nanya2 silakan tulis direview, ya.
BALASAN REVIEW CHAP 4
tamiino = Makasih ya udah review! Semoga tidak kecewa dengan chap ini! Terima kasih! ^^
jelza (Guest) = Okeydehh, sudah dilanjut, loh! Makasih ya untuk reviewnya! ^^
Indra-Fernandes = Sudah dilanjutkan! Selamat membaca kelanjutannya semoga tidak bosan! Makasih ya sudah review! ^^
Titania Princess = Hoho, udah dilanjut loh! Terima kasih ya sudah review! ^^
NlorenZo = Wahh, iya nih soalnya aku udah mulai masuk kuliah. Liburnya sudah habis. Huhu sedih(maaf jadi curhat) Yaaap, kalau libur dan lagi ga sibuk pasti Karu usahain update kok. Sudah dilanjut, ya! Terima kasih sudah review! ^^
tetsuyacchi = Pasti akan dilanjut terus sampai selesai. Terima kasih sudah review! ^^
.
[8 Februari 2016]
Sedikit pemberitahuan lagi sih, hari ini adalah hari terakhir update Karu sebelum Hiatus. Karu akan hiatus sampai pertengahan Maret atau mungkin lebih. Semoga para reader yang penasaran dengan kelanjutan cerita fic Karu sabar menanti. Karena setelah ini Karu akan menghadapi blok kuliah yang terbilang ekstra berat (lebay). Tapi pasti akan Karu lanjut, kok. Tenang saja, ya. Hehe. Terima kasih atas pengertian dan perhatiannya! :D
Salam,
Karura Clarera
.
Okey, kalau begitu sampai bertemu lagi di chap 6! (^o^)
Jaa~
