nutzcry presented—
Inaudible
Masashi Kishimoto is the sole owner of Naruto. I'm only borrow the characters.
All standart warnings applied! For any mistakes, I were so sorry. SasuSaku alternate universe fanfiction, dldr!
This fanfiction is very far from the "perfect" word. I didn't take any advantage from maked this story.
Note: Italic words is sentence or speech written by Sakura.
.
[Chapter 3]
"Kau yakin akan ke sekolah hari ini? Aku bisa meminta izin untukmu," Sakura mengulas senyum simpul saat Ino menatap khawatir padanya. Lalu, mengangguk. "Pendengaranmu sudah lebih baik?"
"Ya, sedikit. Setidaknya telingaku mampu menjangkau getaran yang jauhnya tidak lebih dari tiga puluh sentimeter. Alat bantu pendengarannya sangat membantu," jelas Sakura.
"Syukurlah. Mulai saat ini, cobalah untuk berbicara dengan menggunakan suaramu."
Ino mengeryit saat Sakura menggeleng cepat. "Kenapa?"
"Tidak tahu. Aku hanya merasa tidak ingin melakukannya. Mungkin, aku hanya ingin berbicara lisan dengan kau dan kakak saja," tutur katanya melemah.
"Kenapa?"
"Sudah kukatakan tadi, aku tidak tahu," ulangnya.
"Kenapa?"
Sakura menyatukan alisnya bingung. "Apanya yang 'kenapa'"?
"Kau mengatakan bahwa kau 'tidak tahu'. Lalu, apa alasannya?" Sakura menatap Ino jengkel.
"Apa kau kehilangan fungsi otakmu hari ini? Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apa alasannya. Mengapa kau menanyakan 'alasan dari sebuah alasan'?" Ino terkekeh garing.
"Mungkin, kau benar. Yahiko memberiku air berbakteri kemarin, efeknya timbul sekarang. Keterlaluan dia itu," upatnya. Sakura tertawa kecil.
"Kau jahat sekali. Mana mungkin kakak melakukan itu. Kau itu sudah seperti adiknya sendiri."
Ino menyangkalnya. "Adik? Kami ini musuh abadi, Sakura."
Yang gadis berhelaian merah muda itu lakukan hanya menghela napas panjang sembari membentuk segaris kurva tipis yang melengkung ke bawah. Sepanjang jalan, ia harus siap mendengarkan ocehan sahabatnya yang mustahil akan habis. Ia akan berterima kasih pada Ino karena itu dapat melatih indera pendengarannya. Terapi tidak langsung.
"Rasanya perjalanan menuju sekolah cepat sekali, bukan, Sakura? Apa yang membuatnya terasa seperti itu, ya?"
Setelah memarkirkan motornya di parkiran sekolah, Uchiha Sasuke langsung disambut oleh suara berintonasi tinggi milik Yamanaka Ino yang sangat mengganggu. Ia merotasi kedua bola matanya. Beberapa hari belakangan ini, suara gadis pirang buntut kuda itu membuatnya alergi. Telinga Sasuke menjadi terasa panas saat suara melengking itu menusuk gendang telingannya. Jika diibaratkan, gendang telinga Sasuke itu balon, sedangkan suara gadis itu adalah jarum, maka gendang telinganya sudah meledak dari hari-hari sebelumnya. Ia percepat langkahnya sebab tak ingin berpas-pasan dengan gadis bar-bar itu di gerbang sekolah.
"Kenapa kau memikirkan hal sekecil itu, Ino?"
Langkah Sasuke terhenti. Suara lembut yang diakhiri oleh tawa kecil itu mengalun di telingannya. Milik siapa itu? Ia berbelok dan berdiri bersandar pada dinding yang menghimpit gerbang sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Tentu saja. Bukankah kau juga merasa demikian, Sakura?"
Sakura mengangguk. "Begitulah. Tetapi, kau ini peduli sekali, ya?"
Sasuke menampilkan ekspresi tidak percaya sesaat. Jadi, itu suara si gadis tuli? Sasuke tak menyangka gadis itu dapat berbicara. Ia mengira gad—tidak, maksudnya—Sakura adalah seorang tunarungu yang tuli dan hanya mampu berbicara denga bahasa yang sulit dipahami. Namun, pemikirannya salah ternyata.
"Apa-apaan itu? Sudah berapa lama kita bersahabat, Sakura? Kau bahkan tidak tahu sesuatu yang sangat 'tidak penting' itu tentangku?"
"Jika 'tidak penting', mengapa aku harus tahu, Ino?"
Begitu, ya? Sasuke tersenyum—mungkin, tepatnya—menyeringai tipis. Tapi, ada satu hal yang tidak Sasuke pahami. Sakura bisa mendengar apa yang dikatakan si gadis pirang buntut kuda. Apa itu artinya ... Sakura tidak tuli? Baiklah, Sasuke mulai tertarik. Haruskah ia bertanya pada seseorang? Tetapi, pada siapa?
Naruto? Tidak, tidak! Harga dirinya bisa hancur.
Sakura dan Ino berjalan melewati gerbang, tak mengetahui bahwa Uchiha Sasuke tengah berdiri memandang punggung mereka yang kian menjauh, kemudian ditelan tikungan bangunan kelas. Sasuke tak menyadari bahwa sebuah tangan tengah merangkul pundaknya.
"Sedang apa sendirian disini, Sasuke?"
Ah, tangan milik Uzumaki Naruto ternyata.
Pertukaran tempat dilakukan oleh Hatake Kakashi—selaku wali kelas—hari ini. Dan sialnya, Sasuke malah duduk di belakang Yamanaka Ino yang semeja dengan Haruno Sakura. Si pirang buntut kuda itu sempat-sempatnya berbalik dan melayangkan tatapan sengit padanya. Naruto tertawa kecil di sebelah Sasuke.
"Nasibmu buruk sekali, ya?" ejek Naruto yang dibalas dengan tatapan tanpa minat dari si bungsu Uchiha tersebut.
"Tugas ini tidak akan dikerjakan secara individu, Tetapi secara berkelompok atau berpasangan. Kalian bebas memilih pasangan kalian, setelah itu beritahu padaku. Waktu kalian lima menit. Mengerti?" Hatake Kakashi menghempaskan bokongnya di atas kursi guru dan mengeluar buku oranye kesayangannya. Menghiraukan seisi kelas yang mulai bertransformasi menjadi pasar ikan karena kegaduhannya.
"Sakura, kau sudah pasti denganku, 'kan?"—Yamanaka Ino, 17 tahun.
"Sasuke-kun, aku dan kau takkan terpisahkan ... Tenang saja."—Uzumaki Karin, 17 tahun.
"Berisik kau, Karin! Sasuke berpasangan denganku! Menyingkir kau dari sana!" Kalau ini—Uzumaki Naruto, 17 tahun.
Dan masih banyak lagi kalimat yang diucapkan, membentuk suara besar yang tidak ingin didengar.
Kemudian—
BRAKK!
—meja digebrak oleh Uchiha Sasuke.
Sontak seisi kelas terdiam. Jeda sejenak. Ada yang berbisik-bisik, ada yang mengupat, ada yang mempertontonkan ekspresi kagetnya, dan lain sebagainya.
"Sensei," Hatake Kakashi memusatkan atensinya pada Uchiha Sasuke. Kelas menjadi hening kembali. "Aku dan Haruno Sakura."
.
.
.
.
.
"HAH?! SERIUS?! DEMI APA?!"
"MUNGKINKAH INI MIMPI DI DALAM MIMPI?!"
"DEMI MODEL RAMBUT DURIAN NARUTO! KATAKAN BAHWA INI HANYALAH ILUSI SEMATA!"
"HEII! KENAPA JADI BAWA-BAWA MODEL RAMBUTKU?!"
"SASUKE-KUN, APAKAH KAU TELAH DIGUNA-GUNA?!"
"MANTRA SERUMIT APA YANG TELAH KAU BACAKAN HINGGA MEMBUAT SASUKE-KUN INGIN BERPASANGAN DENGANMU, HARUNO SAKURA?!"
"DIAM KAU, KARIN!"
"TOLONG TAMPAR WAJAHKU, KIBA!"
"HAHH?! OH, DENGAN SENANG HATI ..."
"APA MAKSUDNYA INI, PANTAT AYAM?!"
"HATIKU TELAH HANCUR BERKEPING-KEPING ..."
"APAKAH INI YANG DIMAKSUD DENGAN 'HIDUP SEGAN, MATI TAK MAU'?!"
"OII! APA HUBUNGANNYA?!"
"HARAP TENANG SEMUANYA!"
Hatake Kakashi tampak berekspresi lelah dari balik maskernya. Sebesar inikah pengaruh Uchiha Sasuke terhadap kelas? Sungguh di luar dugaannya. "Tolong diam semuanya!" teriak Kakashi, namun tak membuahkan hasil apapun. Pilihan terakhir, yaa—
BRAKK!
Kelas menjadi hening kembali. Kakashi menghela napas berat. "Kenapa hanya karena hal sekecil ini kalian menjadi gaduh tak terhentikan?"
Semuanya diam, hingga Uzumaki Karin menyela—
"HAL KECIL?! SENSEI BILANG INI HANYA HAL KECIL?! INI MENYANGKUT MASA DEPAN SAYA, SENSEI!" Oke, Kakashi rasa gadis itu sudah berlebihan.
"Jadi, Uchiha Sasuke. Permintaanmu telah membuat keributan. Bisakan kau jelaskan mengapa kau memilih Haruno Sakura sebagai rekan sekelompokmu?"
"Hn, karena dia yang paling normal di antara seisi kelas ... mungkin?" jawab Sasuke seadanya.
BRAKK!
Meja kembali digebrak. Kali ini oleh Yamanaka Ino. Gadis itu berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. "Saya keberatan, sensei!" ujarnya.
"Boleh beritahu apa alasannya, Yamanaka Ino?"
"Mana mungkin saya biarkan Sakura berpasangan dengan si brengsek Uchiha Sasuke, sensei! Lagipula, yang akan menjadi pasangan Sakura itu saya!" jawab gadis bermanik aquamarine itu tegas.
"Hm, ada dua hal yang ingin saya katakan padamu, nona Yamanaka. Pertama, tolong jangan gunakan kata-kata mutiara seperti 'brengsek' di kelas saya. Kedua, tidak mungkin jika kau menjadi pasangan Haruno Sakura ..." Kakashi setelah memasukkan bukunya ke dalam saku celana.
"Saya bisa mengerti dengan maksud opsi pertama, sensei. Tetapi, kenapa saya tidak mungkin berpasangan dengan Sakura?!"
"Jawabannya sederhana. Karena kau dan Haruno Sakura berjeniskelamin sama," ungkap lelaki berusia dua puluh enam tahun itu santai.
Krik, krik.
"BUKAN ITU MAKSUD SAYA, SENSEI!"
"Aa, begitu. Kalau begitu, mengapa tidak kau katakan lebih awal, Yamanaka?" Ino mendesah pasrah.
"Karena keributan yang telah terjadi, biar rekan sekelompok kalian saya yang tentukan."
"Sakura, kau baik-baik saja?" Sakura menoleh, tersenyum, dan mengangguk. "Maaf karena pada akhirnya kau berpasangan dengan Uchiha Sasuke," gumam Ino.
Sakura menggeleng. "Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu, Ino."
"Yaah, aku tahu. Hanya saja, aku terlambat mengatakannya pada Kakashi-sensei. Dan si Uchiha Sasuke itu, mau apa dia itu? Kenapa tiba-tiba ingin berpasangan denganmu? Karena kau yang paling normal? Maksudnya, aku ini abnormal, apa?" Sakura tertawa kecil.
"Entahlah. Tidak perlu dipikirkan, Ino. Makan saja bekalmu." Ino mengangguk.
Waktu istirahat Ino habiskan bersama Sakura untuk makan siang di taman sekolah. Selalu seperti ini. Banyak hal yang mereka lakukan disana. Mulai dari curhatan dari keduanya, bualan Ino, tawa Sakura, ataupun umpatan Ino kepada seseorang yang menghancurkan mood-nya. Terlepas dari semua itu, taman itu memanglah tempat yang tepat untuk bersantai atau menjernihkan pikiran dikarenakan suasananya yang lumayan sepi.
"Aku ingin ke toilet sebentar. Tolong jaga bekalku, ya. Ingat, 'jaga' bukan 'dimakan'!" Sakura mendelik sesaat pada Ino yang tengah mengacungkan jari telunjuknya.
"Iya, iya. Lagipula, bekalmu hari ini tidak menarik minatku, 'kok. Jadi, tenang saja." Ino membuang arah pandangnya sembari stersenyum dan segera berlalu dari sana.
Roknya sedikit kotor karena dinodai oleh kare yang tumpah. Dalam perlajanan menuju toilet, ia tak memperhatikan jalanan di depannya. Atensinya fokus menatap noda yang nakal—menurutnya—sembari menepuk-nepuk pada bagian yang kotor. Tanpa sadar, ia telah menabrak seseorang.
Mari kita lihat, siapa yang ia tab—
—oh, tidak!
Uchiha Sasuke dan ekspresi dinginnya yang menjengkelkan.
"Kau—?!"
"Tunggu sebentar. Sebelum kau menceramahiku panjang lebar, aku akan segera pergi karena aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu." Sebelum Sasuke mempunyai kesempatan untuk menyingkir, Ino buru-buru menahan tangan lelaki itu.
"Tapi, aku mempunyai urusan denganmu, Uchiha Sasuke!"
Sasuke mendecih. "Baiklah. Lepaskan dulu tanganmu dariku lebih dulu. Lalu, aku akan mendengarkanmu." Ino menurut dan melepaskan tarikannya. "Katakan."
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Melakukan apa maksudmu?" Ino berdecak tak sabar.
"Jangan berpura-pura bodoh! Katakan apa tujuanmu sekarang!" Sasuke mendapati kilatan marah di mata gadis itu. Ya, kalau begini, ia juga tidak akan menghindar.
"Karena aku ingin. Punya masalah akan hal itu?" tantangnya. Ino menggeram tak suka.
"Apa maksudmu, brengsek?! Jangan bermain-main! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan tindakan buruk terhadap Sakura!" Sasuke mengernyit bingung. Apa lagi maksud si pirang ini?
"Aku tak mengerti apa yang—" kalimat Sasuke terinterupsi.
"Ino? Sedang apa kau? Aku menunggumu sejak tadi."
Haruno Sakura tengah berdiri di belokan menuju toilet yang jaraknya tak terlalu jauh dari posisi mereka saat ini.
Ino menoleh dan mendapati Sakura tengah berdiri dengan dua kotak bekal yang telah tertutup. Ia menatap Sasuke tak suka dan bergegas meninggalkan Sasuke. Kemudian, menghampiri Sakura.
"Sedang apa disana, Ino? Dan—"
"Ah, bukan apa-apa, 'kok. Aku baru saja keluar dari toilet," Ino memotong pertanyaan Sakura sebelum gadis itu dapat menyelesaikannya. Sakura mengangguk.
Sasuke diam memandangi sepasang sahabat itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berlalu meninggalkan tempatnya bendiri.
Sakura menunggu jemputan tak jauh dari gerbang sekolah. Hari ini kakaknya mengatakan akan menjemputnya. Tapi, batang hidung milik Haruno Yahiko itu sama sekali belum terlihat. Ino pulang lebih dulu karena Sakura mengatakan Yahiko akan menjemputnya. Jadilah ia sendirian disana.
Sakura memandang ponselnya. Berniat menghubungi Yahiko, namun diurungkannya. Tanpa sadar, sebuah motor ninja hitam berserta pemiliknya mengambil tempat di hadapannya. Sakura menengadah dan mendapati Uchiha Sasuke tengah menatapnya.
"Naik," perintahnya absolut.
Bergegas Sakura mengeluarkan notes dan bolpoin dari dalam saku roknya. Ada apa?
"Naik! Kau tak mendengarku?" Sakura mengangguk.
Tapi kenapa?
Uchiha Sasuke mendesah berat. "Apa kau bisu? Biacaralah menggunakan mulutmu!" Sakura diam tak bergeming. "Ini waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas yang diberikan Kakashi-sensei, bukan? Jadi, cepatlah naik!" lanjutnya.
Sakura memilih untuk menurut. "Ya, tapi aku akan mengabari kakakku lebih dulu. Sebentar," ujarnya. Sasuke tak mengubris dengan kata apapun. "Hm, sudah. Tapi, kita akan kemana?" tanya Sakura sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Ikut saja. Aku tidak akan menculikmu," rona bewarna serupa dengan rambutnya terlihat di kedua belah pipi Sakura. "Naik," anggukan diberikan sebagai jawaban. Tungkai-tungkai milik Sakura bergerak mendekat. Kemudian, mengambil posisi di belakang Sasuke.
Sasuke bertanya memastikan, "sudah?" yang dijawab dengan gumaman singkat oleh Sakura. "Pegangan! Aku tidak ingin mengambil resiko kau akan terjatuh dalam perjalanan." Ragu-ragu Sakura meletakkan tangannya di kedua pundak Sasuke. Namun, Sasuke mendengus berat. "Pegangan di pinggangku jika kau tak ingin jatuh dan terluka!"
"Eh?"
"Aku yakin kau bisa mendengarku karena di masing-masing telingamu sekarang ada alat bantu pendengaran. Cepatlah, aku tidak ingin mengulangi perkataanku," Sakura tersenyum gugup, belum memberikan respon apapun. Sasuke berdecak dan memegang kedua tangan gadis itu dan melingkari tangan lembut itu di sekitar pinggangnya. Sakura sama sekali tak dapat menyembunyikan rona merahnya.
"Eratkan peganganmu karena aku tidak ingin perjalanan ini memakan waktu yang lama."
To Be Continue
a/n: saya tidak akan mengatakan banyak hal di chapter ini selain himbauan berhati-hati terhadap typo(s), hohoho xD. balasan reviews di bawah ;)).
lightflower22 aku harap di chapter ini moment SasuSaku-nya terasa yaa ;;D. DaunIlalangKuning ini sudah saya tambahkan dialog SasuSaku-nya—meskipun tidak banyak, hehe ;D. comet cerry sudah dilanjut ya ;))). bear28 sudah dilanjut :D. Guest (shynuo) sudah dilanjut yaa xD.
Terima kasih sudah membaca /bungkukbungkuk/ 8'D ...
bloom
