.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo (maybe)

.

A/N:

Yuhuu, akhirnya Karu bisa kembali bergelut dalam dunia FFN ini. Fiuhh, akhirnya blok neraka itu terlewati *curhat*. Maaf terlalu lama menunggu, kalau ada yang menunggu. (?) Dan Karu kembali dengan chapter 6! Makasih loh ya untuk review, fav, follow plus reader setia yang benar2 menjadi alasan Karu untuk melanjutkan cerita ini :') Semoga tidak bosan dengan chapter ini! Hehe, okeydeh HAPPY READING! ^O^


CHAPTER 6

Siegrain's Son Arc

Part 3

KEKUATAN JELLAL


Di dalam mobil, Siegrain dan Jellal menatap luar jendela. Tidak ada rasa keinginan untuk melihat wajah masing-masing. Siegrain memang bukanlah tipe ayah yang dapat mencairkan suasana dan bisa mengerti perasaan putranya. Terlebih Jellal, ia sungguh dongkol. Rasanya ia benar-benar ingin meledakkan mobil ini lalu berlari kembali ke Fairy Tail, bagaimanapun caranya. Di belakang mobil yang dinaiki mereka, ada mobil hitam yang ditumpangi oleh Zancrow dan Azuma.

"Aku akan menjadi penyihir SS meski aku bersekolah di Fairy Tail." Ujar Jellal dingin, memecah keheningan. Matanya masih menatap luar jendela tanpa menoleh pada Siegrain sedikitpun.

Mendengar pernyataan Jellal, Siegrain melirik putra di sebelahnya dengan ekor matanya. "Hm. Ayah tidak terlalu percaya kau bisa melakukannya. Kau seharusnya tahu, seleksi untuk Penyihir Double-S Class kini diperketat. Jadi tidak sembarang penyihir bisa menyandang gelar itu." tutur ayahnya dengan tenang. "sekarang kau pilih. Bersikeras di Fairy Tail dan ayah akan menyegel sekolah itu atau bersekolah di SMHS (Special Magic High School) dan ayah akan melupakan perbuatan kurang ajar teman-temanmu tadi."

Tanpa merespon Jellal meledakkan pintu mobil dengan sihirnya, sehingga timbul suara ledakan yang amat keras. Untung saja jalan sedang sepi, jadi tidak ada adegan jeritan karena ledakan besar itu. Zero yang shock segera menepikan mobil. Siegrain pun terkejut melihat tindakan nekat Jellal.

"Kukira ayah sadar suatu hal.." ucap Jellal seraya mendengus. Entah ia mendapat keberanian darimana.

Siegrain memicingkan matanya pada Jellal yang kini menatapnya dengan intens. "Apa maksudmu?" tanyanya.

"Perbuatan jahatmu beberapa tahun lalu. Kau kira aku akan diam selamanya, ayah?" ujar Jellal dengan menyeringai. Kini ia mengancam ayahnya.

Siegrain sedikit tercekat. Ia berdeham singkat seraya memalingkan wajahnya. "Ayah tidak mengerti maksudmu." Sahutnya pura-pura tidak mengerti.

"Kasus Penyihir Pembunuh. Jangan pikir kau bersama perempuanmu itu telah menghanguskan seluruh barang buktinya. Aku mengetahui semuanya, ayah." Ucap Jellal dengan melangkahkan kakinya ke luar mobil. Siegrain hanya menggertakkan giginya dengan wajah marah.

Tiba-tiba saja, Jellal mendapatkan surat pindahnya dari Fairy Tail yang disimpan dalam saku dalam jubah ayahnya. Ia menunjukkan kertas itu tepat di depan kedua mata ayahnya lalu merobek-robeknya sampai benar-benar kecil kemudian membuangnya kepada angin luar begitu saja.

"Aku sudah menentukan tujuanku untuk ke depan. Aku akan tetap berada di Fairy Tail dan menjalankan tujuanku di sana." Ungkap Jellal mantap. Setiap katanya ia ucapkan dengan tajam.

Siegrain yang jadi merasa lebih lemah itu mendengus. "Tujuanmu?" desis Siegrain dengan nada rendah.

Putra sematawayangnya itu mengangguk, "Menjadi Penyihir Double-S Class bersama temanku bernama Akaishi. Aku menentukan tujuan sesuai keinginanmu, bukan? Aku akan menjadi penyihir dalam lingkup Dewan Sihir tanpa bersekolah di Special Magic High School!" terang Jellal lantang.

Mendengar itu, Siegrain tersenyum hambar. Seolah mengejek. "Kalau begitu, aku akan lihat tahun depan. Jika kau tidak bisa menjadi penyihir Double-S Class tahun depan, maka aku akan menyeretmu keluar dari Fairy Tail tanpa belas kasihan."

Perkataan Siegrain barusan terdengar seperti ancaman yang tidak diindahkan Jellal. Anaknya yang berambut biru itu hanya menyeringai lalu pergi dengan sihir Meteor-nya.

"Sieg-sama?! Apa perlu kita mengejar dan menangkapnya lagi?" tanya Zancrow yang berlari dari mobil belakang bersama Azuma.

Siegrain menyeringai. "Tidak perlu. Kita kembali ke Istana Era saja." Tuturnya yang dimengerti oleh ketiga ajudannya. "lagipula, mustahil untuk mengejar Jellal dalam mode Meteor." Gumam Sieg sambil menghela napas keras. Siegrain pun pindah ke mobil yang tadi ditumpangi Zancrow dan Azuma. Sedangkan Zero membawa mobil sedan silver metalik yang ia kemudikan itu ke bengkel.

.

.

BRAK!

Pintu kamar G-088 sore menjelang malam itu terbuka dengan sekali gebrakan setelah sang pemuda berambut biru itu membukanya dengan kunci miliknya. Untungnya ia tidak lupa untuk selalu mengantongi kunci kamar. Membuat Erza yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi itu menoleh kaget.

"Jellal?!" mata Erza membulat tidak percaya melihat siapa sosok yang terengah-engah di hadapannya itu. Erza mengedipkan matanya berkali-kali. Tak percaya pada apa yang dilihatnya. "kau kembali?!" tanya gadis itu lagi dengan bangkit berdiri dan miring-miring ke kiri dan kanan untuk melihat wajah Jellal dengan seksama.

"Ya, aku kembali!" sahut Jellal yang masih mengatur napasnya. Ia tersenyum kecil pada gadis berambut merah yang selama ini ia ketahui sebagai pria itu.

Entah dorongan dari mana, Jellal memeluk Erza begitu saja. Kepala gadis itu didaratkannya di dada bidangnya. Jelas-jelas Erza dapat mendengar degup kencang jantung pria itu. Ia pun tersentak begitu menyadari apa yang dilakukan pria itu padanya. Masalahnya kan Jellal tahunya Erza itu pria, kenapa memeluknya? Jangan-jangan Jellal sudah mengetahui identitasnya? Erza mulai berpikiran yang aneh-aneh.

Daripada masalah semakin runyam, Erza segera mendorong tubuh Jellal jauh-jauh dengan mengomel. "Apa yang kau lakukan, baka?!" teriak Erza dengan wajah merah.

"Tadaima, Akaishi!" pria itu sama sekali tidak menggubris wajah marah Erza dan malah membalasnya dengan cengiran berseri-seri.

"Hei, aneh!" tukas Erza dengan nada tinggi. "kau barusan meratap dan pergi begitu saja, kenapa sekarang kembali lagi?" tanya Erza pura-pura tidak suka. Padahal dalam hati ia begitu bahagia Jellal kembali. Heh, pertanda apa itu.

"Kau tidak suka aku kembali?" balas Jellal dengan nada tersinggung. Ia menyempitkan matanya lalu mencondongkan kepalanya pada Erza yang tidak lebih tinggi darinya itu.

Wajah Erza jadi memanas tiba-tiba. Ia tidak tahu apa sebabnya.

"Dengar, aku kembali untuk membantumu menjadi Double-S Class Wizard!" tuturnya bangga. Seolah ialah satu-satunya orang yang dapat membuat Erza menjadi penyihir kelas SS.

"A-apa maksudmu?" tanya Erza tidak mengerti. Ia mengedipkan matanya dua kali sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Jellal menyeringai. "Kau ingin membuat tim kuat untuk mengalahkan tim dari sekolah lain, bukan? Dan aku rasa tidak ada penyihir lain yang lebih hebat dariku di sekolah ini.." cetusnya dengan angguk-angguk yang tak dimengerti Erza.

"Hah, percaya diri sekali!" cibir Erza sambil mengetuk pelan kening Jellal, tapi pada akhirnya Erza tersenyum kecil.

Sang pemuda berambut biru itu pun ikut tersenyum. "Jadi, Akaishi.. Perkenankan aku membentuk tim denganmu dan kita kalahkan penyihir-penyihir sekolah lain kemudian meraih peringkat Double-S Class dengan gemilang!" pekik Jellal bersemangat. Heh, kenapa pria ini jadi bersemangat seperti ini, pikir Erza.

"Heh, bukankah kau tidak terlalu minat menjadi penyihir Double-S Class?" tanya Erza seraya mengangkat sebelah alisnya.

Jellal berdeham pelan sebelum menjawab, "Memang tidak minat, tapi hanya itu alasan yang dapat kubuat agar aku tetap berada di sini." terangnya mendalam.

Erza dapat melihat sinar emosi di mata Jellal dan mengetahui Jellal kini sedang mengepalkan tangannya sendiri. Erza jadi semakin bertanya-tanya, tapi biarlah.

"Hn. Baiklah, kalau begitu tinggal mencari satu orang lagi. Baru kita lapor Precht-sensei untuk mendaftarkan ajang Double-S Class Wizard tahun depan." Sahut Erza dengan seulas senyum lebar.

Yosh, tim untuk meraih kelas SS pun mulai mendeklarasikan pembentukannya. Tapi.. siapakah gerangan orang yang akan menempati nomor 3..?

Jellal lupa mengunci pintu kamarnya dan tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar oleh dorongan seseorang dari luar.

"JELLAL!" pekik Loke dari ambang pintu. Kemudian disusul Gray, Natsu dan Gajeel yang masuk seraya memeluk-meluk Jellal. Pelukan keempat orang itu benar-benar menyesakkan bagi Jellal.

"Le-lepaskan, baka! A-aku tidak bisa bernapas.." ucap Jellal yang kesulitan bernapas. Keempat sahabatnya tidak menggubris dan sekarang mereka malah makin mempererat pelukan mereka. Melihat itu, Erza tertawa-tawa. Terlebih melihat wajah Jellal yang bercampur aduk antara kesal dan senang.

Sudahlah.. yang penting pria azure itu tidak jadi pergi.

.

.

BZZ! BZZ! BZZ! BZZ!

Ponsel Erza yang lama bergetar cukup lama. Untung Jellal masih tidur jam segini, jadi pria itu tidak mengetahuinya. Setelah sekian lama, Erza membuka ponsel lamanya yang merupakan ponsel Erza sesungguhnya. Mungkin sudah dua minggu kali, ya, Erza tidak membukanya.

Ini masih pukul lima pagi, Jellal masih terpulas-pulas dalam tidurnya. Berbeda dengan Erza yang sudah terbangun dan langsung ke ruang belajar untuk mengecek ponsel lamanya.

Seperti biasa deh, setiap menyalakan ponsel lamanya pasti banyak email, pesan, dan lain sebagainya berdatangan dalam jangka waktu cukup lama. Maksudnya karena banyak pesan yang menumpuk.

Begitu ponsel itu berhenti memberikan notifikasi, Erza meraih ponselnya setelah memastikan Jellal benar-benar masih tertidur. Erza pertama membuka pesan dari akun FSM (Fiore Social Media) yangmana banyak teman lamanya menanyakan kabarnya. Erza membaca dan membalasnya satu per satu. Kemudian ia beralih ke email-nya yang mana ada 155 email belum dibaca. Begitu membaca cepat beberapa pesan, kebanyakan berasal dari pria yang tidak dikenal. Hah ini pasti ulah teman lamanya yang sudah menyebar alamat email Erza kepada penggemar Erza.

Namun gerak tangan Erza terhenti begitu melihat pesan dari alamat email yang ia kenal. Sebenarnya Erza benar-benar tercekat melihatnya. Erza segera membuka pesan itu untuk melihat keseluruhan isi pesannya.

To:

From: fernan_jellal

Salam kenal, Erza-san. Senang berkenalan denganmu. Omong-omong aku ingin mengenal tentang dirimu lebih lanjut, bolehkah? Seandainya kau tidak keberatan tolong balas pesan ini.

Penggemarmu,

Jellal Fernandes.

Erza membuka mulutnya akibat tercengang. Tapi mendadak degup jantung Erza dua kali lebih cepat dan wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Benar-benar aneh. Gadis itu sempat menampar pipinya saat ia berpikir menyukai Jellal.

Tapi, apa benar Jellal mengirimkan pesan ini untuknya? Mungkinkah? Apakah perasaan suka Jellal kepada gadis bernama Erza itu benar adanya?! Mungkinkah? Bolehkah Erza mempercayainya?

'Salam kenal juga, Jellal-san dan senang berkenalan denganmu juga. Hm, silakan saja apa yang ingin kau tahu...'

Erza berpikir sejenak. Kemudian menghapus apa yang telah ia ketik itu.

'Salam kenal, Jellal-kun! Oh, silakan saja! Aku tidak keberatan!'

Erza menggeleng-geleng. Tidak, ini tidak pantas. Lagian sejak kapan Erza berlaku mudah terbuka dan bertabiat cerah seperti kata-katanya barusan. Erza kembali menghapus pesan yang telah ia ketik dan berpikir lagi.

'Hai, salam kenal juga, Jellal-san.. Panggil saja aku Erza. Hehe. Aku tidak keberatan, silakan mau tanya apa...'

"Bodoh! Kenapa jadi seperti ini?! Argh, aku pusing!" raung Erza sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hanya untuk membalas pesan itu, Erza merasa otaknya diperas habis-habisan.

Daripada kepalanya meledak, Erza memutuskan untuk menyimpan ponselnya dulu dan membalas pesan itu setelah ia mendapatkan pencerahan. Untuk pesan dari penggemar lain Erza tidak terlalu memikirkannya. Kenapa begitu? Entahlah.

Gadis Scarlet itu keluar dari ruang belajarnya setelah menaruh ponsel lamanya di laci meja belajarnya. Gadis itu menyeret kaki menuju kamar mandi untuk cuci muka dan menyikat gigi. Begitu selesai dari kamar mandi, ia mendapati Jellal yang sudah terduduk di sisi ranjang dengan mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya. Mendadak Erza malah merasa panas menjalari seluruh pipinya melihat Jellal. Teringat pada pesan yang baru ia baca beberapa saat lalu.

"Owhayouoo, Akaishi!" tutur Jellal yang sambil menguap lebar. Ia berdiri menghampiri Akaishi dan mengacak rambut Akaishi yang terbengong-bengong itu. Setelah puas, Jellal tersenyum lebar dan berlalu ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.

Erza yang masih baru tersadar dari lamunannya langsung menampar pipi kirinya hingga merah. Ia pun menuju kulkas di dapur untuk meminum jus pagi harinya. 'Kalau perasaanku selalu aneh seperti ini saat dekat Jellal, bisa-bisa gawat.' Pikir Erza dalam hati. Ia menaruh gelasnya di meja makan dengan keras. 'ini semua gara-gara Jellal yang harus bilang menyukai Erza segala! Haah! Seandainya pria itu tahu aku adalah Erza, pasti dia tidak akan mengatakannya! Huah, aku gila!' kini Erza mengacak rambutnya dengan brutal.

Sejenak Jellal yang baru keluar kamar mandi dengan handuk kecil untuk mengelap wajahnya itu, sangat bingung melihat teman sekamarnya yang bertingkah aneh. "Hoi, aneh!" tutur Jellal dengan suara keras seperti yang dilakukan Erza kemarin padanya. "kenapa bertingkah seperti orang gila begitu?" tanya Jellal yang kini sudah berdiri di hadapan Erza.

Erza melengos dan langsung menuju rak sepatu untuk memakai sepatu olahraganya. Jellal menggendikkan bahu lalu mengambil jus dari dalam kulkas. Kemudian mengikuti Erza memakai sepatu untuk berolahraga.

"Hei, Akaishi. Mau adu lari bersamaku?" tanya Jellal seraya menalikan tali sepatunya.

"Adu lari?" sahut Erza berbalik tanya.

Pemuda itu mengangguk, "Yang kalah harus mentraktir Milkshake di Exceed Cafe, ya?"

"Hn, siapa takut!" balas Erza dengan mendongakkan kepalanya dengan angkuh.

Jellal mendecih pelan melihat tingkah Erza. "Siapa yang mencapai Lapangan Lima duluan, dialah pemenangnya. Setuju?"

"Setuju!"

Keduanya mulai keluar kamar. Setelah Erza mengunci kamar dan menaruh kuncinya di saku celana training-nya, ia berdiri di sebelah Jellal untuk bersiap-siap lari.

"Okey, kita mulai." Baik Erza dan Jellal mulai mengambil ancang-ancang. "1.. 2.. 3!" mereka pun berlari kencang setelah aba-aba dari Jellal itu. Jellal dan Erza tidak ada yang mau mengalah dalam pertarungan kecil mereka. Suara lorong asrama pagi itu terdengar berisik sekali, seperti suara banteng sedang berkejaran. (?)

Sesekali Jellal yang mendahului Erza, tapi Erza langsung menyalipnya lagi. Lalu Jellal tidak mau kalah dan segera mempercepat langkah kakinya, akhirnya ia mendahului Erza lagi. Kemudian Erza lagi.. Jellal lagi.. Erza lagi..

Beberapa murid yang sedang olahraga santai di taman terheran-heran melihat Scarlet dan Azure itu berlari super cepat layaknya ninja.

Lapangan lima pun di depan mata. Jellal melirik Akaishi yang masih berlari tanpa terengah sedikitpun. Sial, orang ini memang besar staminanya. Rutuk Jellal dalam hati. Tapi Jellal tidak ingin kalah begitu saja.

Kemudian akhirnya sampai di lapangan lima. Pemenangnya adalah...

SERI!

Mereka sampai bersamaan. Jellal dan Erza mengontrol napas mereka yang memburu. "Aku tidak terima kita seri!" seru Jellal dengan terengah-engah.

"Memangnya aku sudi seri denganmu!" balas Erza yang juga terengah itu.

Jellal menegakkan tubuhnya dan mengangkat dagunya pada Erza. "Ayo kita ulang!" ucapnya lantang. Erza membalasnya dengan anggukan mantap dan mata berkilat. "Yang sampai di gerbang depan duluan, dialah pemenangnya!" sambung Jellal yang diangguki oleh Erza. Mereka mengambil ancang-ancang lagi, lalu berlari setelah aba-aba.

Pada akhirnya mereka berlari hingga lima kali putaran dan hasilnya selalu seri. Jellal dan Erza langsung menghempaskan tubuh lelah mereka di bawah pohon taman. Suara angin yang bersentuhan dengan dedaunan dan suara napas cepat mereka yang terdengar di pagi cerah ini.

Pemuda berambut biru itu menoleh pada Erza yang berada di sampingnya. "Memang sulit, ya, bertarung denganmu." Komennya dengan tersenyum hambar.

"Baka! Aku tidak mau kalah denganmu!" balas Erza mengangkat alis sebelahnya seolah meledek Jellal. Keduanya tertawa ringan setelah menyadari betapa anehnya mereka.

Usai istirahat sebentar, mereka kembali ke kamar untuk mandi. Erza mandi setelah Jellal. Setelah Erza selesai dan keluar dari kamar mandi, ia mendapati Jellal yang sedang mengoles roti dengan selai itu.

"Hoi, Akaishi! Aku sudah mengoleskan roti ini dengan selai strawberry kesukaanmu!" pekik Jellal dari dapur itu. Tangannya ceria mengoleskan selai untuk rotinya sendiri.

Sementara mata Erza beralih pada roti beralaskan piring putih di atas meja makan. Ia tersenyum kecil kemudian duduk di kursi meja makan dan menyantap roti panggang berselai strawberry buatan Jellal. Semenjak Jellal dan Erza berada dalam satu kamar kurang lebih hampir satu bulan, mereka saling mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing.

Begitu Erza menggigit roti panggangnya perlahan, Jellal ikut duduk di hadapannya dengan roti panggang di tangannya. "Lihat! Aku membuat roti panggang dengan selai choco-cornflakes!" ucap Jellal seraya menunjukkan rotinya yang diberi selai coklat dan ditabur cornflakes.

Erza hanya manggut-manggut. "Cornflakes siapa yang kau ambil, baka?" tanya Erza dengan nada tajam. Jellal menelan ludah mendengar pernyataan Erza itu. Karena memang cornflakes itu milik Erza. Kalau untuk selai serta roti Erza dan Jellal patungan membelinya. Beberapa perlengkapan di kulkas, seperti sayuran, telur, keju, susu kadang Erza dan kadang pula Jellal yang membelinya.

"Maaf-maaf, aku lupa minta ijin padamu." Ucap Jellal dengan menyentuh tengkuknya. Bagaimanapun ia tetap menyantap rotinya itu tanpa rasa bersalah.

"Tak usah dipikirkan. Traktir aku milkshake saja, ya.." sahut Erza dengan mengangkat alis sebelah.

Jellal tertawa kecil. "Baiklah baiklah!" ujarnya pasrah.

.

.

Siang hari, kebetulan sekali Erza dan Jellal sedang bersiap ke Exceed Cafe, rombongan Natsu dkk mengetuk-ngetuk pintu untuk mengajak Erza dan Jellal ke tempat yang sama.

Akhirnya mereka bersantai siang di Exceed Cafe bersama.

Sesampai di cafe dan memesan apa yang mereka inginkan, mereka duduk di kursi barisan tengah dan berdekatan dengan jendela klasik khas Benua Ishgar.

Beberapa gadis yang sedang berkunjung ke cafe itu langsung mengerubungi meja Jellal dkk untuk mencari perhatian pada pemuda yang masuk peringkat tertampan sepuluh besar di majalah Sorcerer edisi lalu.

"Jellal-kun! Kyaa!"

"Wahh, aku minta tanda tanganmu, Akaishi-kun!"

"Akai-kun! Aku menyukaimu! Kyaa, kau yang asli sangat manis, ya..!"

Dikerubungi gadis tiba-tiba seperti itu, Erza tercekat dan sedikit salah tingkah. Sejujurnya ia merasa sedikit risih. Karena hal ini seharusnya tak ia alami.

"Ah, maaf, jangan memeluk-melukku seperti ini." ucap Erza berusaha melepaskan pelukan dari belakang beberapa fansnya. Jellal juga demikian. Di tengah ramainya fans ini, Jellal sempat mengintip pada Akaishi yang sedang senyum terpaksa pada gadis-gadis penggemarnya. Begitu melihat gadis yang mengerubunginya, Jellal memiringkan kepalanya. 'Kenapa aku berpikir Akaishi lebih cantik daripada gadis-gadis ini..' batinnya.

Gadis-gadis itu untungnya hanya mengerubung untuk meminta tanda tangan dan foto bersama lelaki idaman mereka. Begitu seluruh gadis itu pergi, Jellal, Erza, Loke dan Gray menghela napas lelah. Berbeda dengan Gajeel dan Natsu yang iri seraya menggigiti sedotan minumannya.

"Enak sekali diidolakan banyak gadis seperti itu, ya.." ucap Natsu yang bersungut-sungut.

"Hn. Gadis genit itu seleranya buruk!" rutuk Gajeel mencibir gadis-gadis yang mengerubung barusan.

"Hahh, sebenarnya kemana, sih Lucy..?" sungut Natsu dengan memberengut. Natsu memalingkan wajahnya kepada teman-temannya yang sibuk meladeni fans itu. Tak sengaja ia melihat Jellal yang curi-curi pandang melihat Akaishi.

Melihat itu, Natsu jadi semakin yakin bahwa Jellal benar-benar menyukai Akaishi. Aduh bagaimana ini... pikir Natsu sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau baik-baik saja, Salamander?" tanya Gajeel dengan heran.

Natsu mengangguk cepat. "Ya, baik kok!" ucapnya meyakinkan. Namun hal seperti itu yang malah membuat Gajeel bertambah bingung. Tingkah teman sekamarnya itu belakangan ini memang tidak seperti biasanya. Sebenarnya ada apa. Gajeel mengangkat bahu, ia tidak peduli.

Setengah jam kemudian, mereka keluar dari cafe dengan wajah lesu. Yah, jujur saja memberikan respon untuk para fans itu benar-benar menguras tenaga.

Natsu melirik Jellal yang sedang berjalan berduaan dengan Akaishi di belakang. Sekilas ia malah merasa was-was melihat Jellal yang bergurau dengan Akaishi sambil mengacak rambutnya.

"Apa yang harus kulakukan..." gumam Natsu dengan lemas. Sepintas Gray menaikkan alisnya melihat Natsu bergumam aneh itu.

"Kau berkata sesuatu?" tanya Gray menyelidik.

"Tidak. Abaikan saja." Ucap Natsu dengan helaan napas.

.

.

Sore hari, beberapa murid Fairy Tail bermain voli di lapangan. Pertandingan kali ini grup Jellal yang terdiri dari Jellal, Natsu, Gajeel, Loke, Gray, dan Akaishi melawan grup Hibiki yang terdiri dari Hibiki, Ren Eve, Lyon, Max dan Yuka.

Mereka bermain dengan ramai dan bersemangat membuat para murid yang menonton mereka pun ikut bersemangat. Jellal dan Hibiki memang terkenal sebagai rival di sekolah ini. Mereka sering beradu dalam banyak hal, baik dalam pelajaran, sihir maupun olahraga.

"AKAISHI! TOSS PADAKU!" pekik Natsu yang berlari dan bersiap melompat untuk spike bola itu. Erza yang berperan sebagai setter itu men-toss bola pada Natsu dan Natsu langsung spike dengan keras namun sayang, Ren dan Lyon berhasil memblock-nya.

"SIAL!" rutuk Natsu sambil marah-marah.

"Lewati block kami dulu, baru kau boleh menang." Ucap Lyon dengan nada meledek. Membuat Natsu tambah marah-marah.

Mest yang sebagai wasit membunyikan peluitnya menandakan pertandingan berakhir. "Pemenangnya, Team Hibiki!" pekiknya seraya menunjuk sisi Team Hibiki.

Meski ini hanyalah games, tapi tetap saja Team Hibiki itu bersorak dengan senangnya. Team Jellal yang kelelahan itu hanya bisa melihat kemenangan Team Hibiki dengan kesal.

"Cih, sial." Decih Jellal jengkel. Mereka pun menuju kursi panjang dan minum dengan rakusnya. Mata Jellal tak teralihkan pada Hibiki yang sedang berbicara dengan senyum manisnya pada Eve.

"Hoi, Jellal, kau membenci Hibiki?" tanya Erza yang kebetulan duduk di sebelahnya.

Jellal menoleh pada Erza cepat. "Yang benar saja! Aku membenci tukang 'tebar pesona' itu." sahut Jellal dongkol. Melihat reaksi Jellal, Erza jadi tahu kalau sebenarnya Jellal memang benar-benar membenci Hibiki. Si scarlet itu tertawa kecil, terlebih melihat Jellal yang seperti bersungut-sungut saat melihat Hibiki.

"Akaishi-kun!" ucap Ren yang menghampiri Erza ke tempat duduknya. "setelah ini team kami akan bermain lagi melawan Team Bacchus, tapi Max yang sebagai setter sedang keseleo kakinya. Maukah kau menggantikannya?" tanya Ren dengan baik-baik.

"Hm, tentu saja." Balas Akaishi datar. Kemudian Ren tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Mereka berdua pun pergi dan segera bersiap di lapangan.

Melihat itu, Jellal kembali mendecih. "Akaishi jadi pengkhianat." Rutuknya sebal.

Kursi kosong di sebelahnya kemudian diduduki oleh Natsu. Pria berambut sakura itu menatap Jellal yang sedang intens-nya melihat Erza.

"Oi, Jellal." ucap Natsu yang dijawab Hn oleh Jellal. "kau menyukai Akaishi, bukan?"

Jellal tersentak dan langsung menoleh pada Natsu dengan keringat dingin. Jellal terdiam dan tak berkedip. "Ka-kau tahu?" tanya Jellal terbata.

Natsu mengangguk kemudian menundukkan kepalanya dengan murung. "Jadi benar.. jadi kau benar-benar gay.." sahut Natsu.

"Sepertinya begitu. Aku sudah berusaha meniadakan perasaan ini, tapi rasanya sungguh mustahil.. Akaishi benar-benar menaklukkan diriku." Terang Jellal yang hanya dapat didengar Natsu. Gray, Loke dan Gajeel sedang ramai mengomentari kemampuan Akaishi dan Hibiki dalam bermain voli.

"Jellal..."

"Aku tahu kekhawatiranmu, Natsu. Aku tidak mau seperti ini, sungguh! Aku ingin menyukai perempuan cantik sungguhan, bukan pemuda cantik seperti Akaishi!" terang Jellal lagi yang didengar Natsu baik-baik.

Natsu menepuk bahu Jellal. "Sudahlah, kawan... Kalau kau benar-benar menyukai dan tak bisa melepaskannya, kurasa itu memang pilihanmu dan juga takdirmu." Katanya bijak. Sampai Jellal tercengang mendengarnya. "aku tahu, kau berhasil lepas dari penangkapan paksa ayahmu dan kembali ke Fairy Tail karena Akaishi.. jadi aku rasa tak masalah. Aku akan merahasiakannya pada yang lain."

Jellal tertegun. Tak disangkanya, Natsu yang menyadari segala perasaannya selama ini. Jellal mengangguk dengan seulas senyum. "Terima kasih, Natsu." Balas Jellal.

Apakah Jellal ini benar-benar sudah gila? Sudah tidak normal? Berpikir ia benar-benar menyukai Akaishi yang seorang pria.. Jellal sudah tidak tahu juga harus bagaimana menghilangkan perasaannya pada Akaishi, teman sekamarnya itu.

Di tengah keriuhan teriakan pemain voli dan penontonnya itu, Jellal sedikit heran melihat kaki Akaishi yang tertutup sepatu itu. Jellal sempat memiringkan kepalanya dan mulai kepikiran hal aneh...

'Hah, mungkin hanya pikiranku saja.'

CHAPTER 6 END!

Taraa! Ga kerasa ya sudah chapter 6. Terima kasih bagi reader yang rela2 membuang waktu untuk membaca cerita ini. Omong-omong, maaf ya kalau chapter ini lebih pendek dari sebelumnya dan terasa flat.

BALASAN REVIEW CHAPTER 5

KurehaElf = Terima kasih, ya reviewnya! Hehe, maaf baru bisa update lagi. ^^

syivha (Guest) = Sudah selesai loh hiatusnya! (sepertinya) Haha, okey terima kasih, ya sudah review! ^^

Ailasca-chan = Makasih ya untuk review dan dukungannya! ^^ Terima kasih juga karena sudah menunggu2 cerita ini. Hehe :))

tamiino = Tidak jadi ditinggalin kok Erza-nya, hehe. Makasih ya udah review! ^^

Lulu (Guest) = Sudah diupdate :) Makasih ya dukungan dan reviewnya! ^^

.

Okeylah, sampai bertemu di chap 7, ya! Jaa nee~ (^o^)