.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo

.

A/N:

Waah, akhirnya update lagi. Maaf ya agak telat, tapi yang penting masih update, kan? Hehe. Thanks ya untuk yang review, ngefav dan ngefollow. Semoga tidak bosan dengan cerita ini. Okey, tidak perlu banyak kata2 lagi.

HAPPY READING! ^0^


CHAPTER 7

AKAISHI...


Erza sedang duduk di kursi belajarnya sembari menopangkan kepala di tangan kiri dan tangan kanannya memainkan pensil yang ia pegang daritadi. Memutar-mutar pensil itu sampai ia benar-benar melamun hanya untuk memikirkan siapa orang ketiga yang pantas untuk masuk timnya.

"Tadaima." Jellal baru saja datang lalu langsung menaruh sepatunya di rak.

"Okaeri, Jellal." sahut Erza datar. Jellal pun segera ke ruang belajar dan menghampiri Erza.

"Akaishi, aku sudah memberitahukannya pada Precht-sensei. Ia setuju kita mengikuti Ajang Double-S Class Wizard tahun depan." Terang Jellal yang menarik kursinya ke belakang kursi Erza dan mendudukinya.

Erza memutar kursinya ke belakang untuk berhadapan dengan Jellal. "Kalau begitu tinggal mencari orang ketiga." Tuturnya dengan bersemangat.

Jellal menghela napas kecil dan mengacak rambut Erza. "Siapa kira-kira yang cocok menjadi nomor tiga?" tanya Jellal.

Sekilas Erza memutar matanya lalu memasang pose berpikir. "Kurasa sebaiknya seseorang yang mudah diajak kerjasama." ucap Erza, "dan lebih baik lagi dia memiliki sihir yang berguna bagi kerja tim kita nanti." Tambahnya.

"Hm, kau benar." Sahut Jellal menyetujui, "kudengar di ajang itu tidak harus tiga-tiganya bertarung. Dengan kata lain, satu orang lagi boleh menjadi sekadar operator untuk mengatur taktik dan juga memberi informasi kepada kita tentang musuh saat bertarung."

"Hmm, apa sebaiknya kita minta Loke saja. Setahuku dia pintar mengatur strategi." Usul Erza.

Pemuda berambut biru itu langsung menggeleng, "Tidak! Loke itu mudah lengah dan tidak fokus!" cetus Jellal. 'Apalagi kalau sudah melihat wanita cantik..' tambahnya dalam hati.

"Hm, bagaimana kalau Gray?"

"Tidak mungkin dia mau. Dia tidak ingin mengikuti ajang ini sejak awal." Timpal Jellal seraya menghela napas.

Erza menggembungkan pipi. "Kita paksa saja!"

"Heh, Gray bukanlah orang yang akan menurut jika dipaksa. Lagipula dia itu pemalas. Dia pasti tidak mau latihan terus-terusan." Terang Jellal panjang lebar. 'Lagipula ia akan membuat masalah karena hobi telanjangnya itu.'

Si Scarlet menghela napas dan menghempaskan punggungnya di punggung kursi. Begitupula Jellal. Mereka berdua berpikir keras siapa yang mau dan cocok menjadi nomor tiga.

Di saat keduanya sedang berpikir. Ketukan pintu terdengar, Jellal segera ke pintu untuk melihat siapa yang mendatangi kamarnya sore hari begini.

"Oh, selamat sore, tuan muda Jellal!" ucap sang pengetuk pintu itu yang tak lain dan tak bukan adalah Hibiki Lates. Si aktor dan model yang sedang naik daun belakangan ini. Meski demikian, ia adalah seorang penyihir kelas S di Fairy Tail berkat sihir Archive dan kejeniusannya. Meski tidak sejenius diriku, sih. Pikir Jellal.

"Sedang apa kau kemari?" tanya Jellal ketus. Yeah, mau bagaimana lagi. Pria pirang ini adalah rival Jellal.

"Untuk apa lagi selain bertemu Akai-kun? Minggir!" Hibiki menepis Jellal ke pinggir agar ia bisa masuk ke dalam kamar. Jellal terhuyung, untung saja tidak sampai jatuh.

Erza yang mendengar suara Hibiki itu segera ke ruang tengah untuk bertemu Hibiki. "Oh, Hibiki!" sapa Erza dengan seulas senyum. Jellal cemberut melihat Erza bisa tersenyum semanis itu kepada Hibiki.

"Akai-kun! Aku ingin menyalin catatan Ur-sensei yang kemarin, dong!" pinta Hibiki seraya menunjukkan buku catatan yang ia bawa.

"Hm, sebentar aku ambil dulu, ya." balas Erza yang langsung berlari ke ruang belajar untuk mengambil catatannya. Hibiki duduk di sofa depan TV seraya menunggu. Jellal yang memicingkan mata pada Hibiki itu memilih untuk kembali ke ruang belajar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja belajar.

Erza kembali dalam sepersekian detik. "Ini, Hibi!" ucap Erza seraya memberikan buku catatannya. "kau akan menyalinnya di sini?" tanyanya kemudian.

Hibiki mengangguk. "Ya. Tak apa, bukan?"

"Oh, tidak apa. Santai saja." Erza tersenyum. Hibiki membalasnya.

Mendengar perbincangan manis Hibiki dan Akaishi itu, Jellal merasa tersulut api. Ia memutuskan untuk berdiam diri di ruang belajar sambil bermain games di ponselnya.

"Hibiki kemarin ada pemotretan lagi?" tanya Erza membuka pembicaraan.

"Bukan. Kemarin adalah hari shooting episode terakhir film drama baruku, 'Kill To Learn'." Terang Hibiki seraya sibuk menyalin catatan Erza ke catatan miliknya sendiri. "film drama itu bergenre Crime dan Mystery, loh."

Erza beroh ria. "Wah, hebat ya. Memang berapa episode?" tanya Erza penasaran.

"Hm, sampai episode 25." Sahut Hibiki.

"Oh... Lalu setelah drama itu, Hibiki ada shooting film lagi?"

"Tidak. Aku sedang ingin fokus pada sekolah sihirku. Karena aku ingin mengembangkan kemampuan sihirku." Terang pria pirang itu dengan seulas senyum.

Jellal yang tidak suka pada pembicaraan Erza dan Hibiki, membesarkan volume suara ponselnya. Sehingga suara dari games yang sedang dimainkannya itu terdengar memenuhi seluruh ruangan hingga di sofa.

"Jellal, berisik!" tegur Erza tidak suka. Jellal bersungut-sungut dan pura-pura tidak mendengar. Suara keras dari gamesnya ia biarkan menggaduhkan kamar. "Jellal!".

"Yaya, baiklah!" Jellal pun menurut dan kembali mengecilkan volume-nya.

Hibiki tersenyum lebar mengetahui Jellal yang sedang dongkol. "Kalau boleh tahu, sihir Hibiki itu apa?" tanya Erza penasaran. Jellal yang mulai bosan keluar dari ruang belajarnya dengan melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Matanya memandang kedua orang yang duduk di sofa itu.

"Sihir Archive, selain itu aku juga bisa Telepathy." Terang Hibiki dengan nada bangga. Setelahnya ia tertawa kecil.

"Wah, sihir Archive itu apa?" tanya Erza lagi yang belum terlalu mengerti.

"Sihir yang memperbolehkan penggunanya 'mencuri' informasi mengenai berbagai sihir lalu mengonversinya ke dalam data. Penggunanya bebas melakukan apa saja terhadap data itu." Cetus Jellal dengan ketus.

Hibiki dan Erza menoleh pada pria berambut biru itu. "Eh, Jellal..." tutur Erza heran.

"Kejamnya. Yah, memang benar sih seperti itu, tapi selain mencuri informasi aku juga bisa mentransfer-nya kepada orang lain." Terang Hibiki membetulkan.

Erza mengangkat sebelah alisnya. "Mentransfernya?"

Hibiki mengangguk, "Benar. Aku bisa membagikan informasi kepada seseorang melalui pikirannya. Berguna juga untuk melacak keberadaan seseorang, hm, yah bisa juga untuk melacak keberadaan musuh yang berbahaya." Jelas Hibiki panjang lebar.

"WAH! Hebat sekali!" seru Erza dengan terkagum-kagum. Berbeda dengan Jellal yang mendengus. "kalau begitu kau juga bisa merencanakan strategi tim sendiri tanpa diketahui musuh, dong!"

"Yah sejenis itu bisa juga..." Hibiki terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Wah, kalau begitu, Hibiki..." cetus Erza.

"Eh, Akaishi, jangan-jangan kau akan..." tutur Jellal yang tak dihiraukan.

"Bergabunglah dengan timku!" seru Erza dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan wajah Hibiki.

Mendengar itu, Hibiki tidak mengerti. "Tim..?" tanyanya.

Erza mengangguk keras. "Benar, aku dan Jellal membentuk tim untuk mengikuti Ajang Double-S Class Wizard. Kami sedang mencari satu orang lagi agar tim ini diperbolehkan mengikuti ajang tersebut tahun depan." Jawab Erza panjang lebar.

"Jellal...?" gumam Hibiki dengan melirik Jellal yang tengah berdiri seraya bersender pada dinding itu.

"Kau mau, kan, Hibiki?!" ucap Erza bersemangat.

"Eh, Akaishi.. tapi aku.. aku.." terang Hibiki terbata.

"Cih, aku tidak mau satu tim dengannya!" cetus Jellal dingin. Erza langsung mendongak padanya dan sedikit bertanya-tanya mengapa Jellal dan Hibiki seperti selalu perang dingin.

Erza menghela napas, "Oh, ayolah. Aku tahu kalian sering bertengkar karena kalian adalah rival. Hibiki memiliki sihir yang langka dan sihirnya sangat berguna untuk tim bagiku. Jadi..."

"Aku tidak sudi, Akaishi." Tegas Jellal. Kali ini dengan nada tajam dan mutlak, seolah tak bisa diganggu gugat.

"Jellal!" seru Erza tidak terima.

"Kalau Hibiki bergabung, maka aku keluar. Titik!" tukas Jellal begitu dingin. Ia langsung membalik badannya dan kembali ke ruang belajar.

Melihat itu, Erza jadi kesal sendiri. Kenapa sih Jellal begitu egois?!

Hibiki menepuk pundak Erza pelan, "Maaf, Akai-kun. Aku sebenarnya ingin bergabung denganmu, tapi aku memang tidak bisa akur dengan Jellal. Jadi, maafkan aku.." terangnya dengan murung. Erza sedikit heran. Hibiki kemudian mengembalikan buku yang dipinjamnya, "ini. Terima kasih sudah meminjamkannya, Akai-kun. Kalau begitu aku kembali ke kamar. Sampai jumpa."

Pemuda pirang itu pun keluar dari kamar G-088 tanpa sepatah kata lagi. Erza mendesah karena bertanya-tanya apa alasan dibalik perang dingin Jellal dan Hibiki ini.

.

.

Siang hari, Erza bersantai di kantin bersama Loke dan Gray. Natsu, Gajeel dan Jellal sedang latihan khusus dengan sensei mereka. Erza menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja.

"Hoi, Akaishi, kenapa lesu begitu?" tanya Gray yang sedang memakan es serut-nya dengan lahap. Berbeda dengan Loke yang sedang senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.

"Aku mengajak Hibiki bergabung dalam timku dan Jellal, tapi kenapa si pria biru itu begitu dingin pada Hibiki. Hah, Hibiki jadi tidak mau bergabung, deh." Curhat Erza dengan desahan lelahnya. Yah, ia sungguh lelah belakangan ini entah kenapa.

Gray dan Loke menghentikan kegiatan mereka lalu saling bertatapan satu sama lain. Kemudian Loke pun yang memutuskan untuk berdeham dan menjelaskan semuanya.

"Hibiki sebenarnya adalah saudara jauhnya Jellal." terang Loke dengan mencondongkan tubuhnya pada Erza.

Erza menautkan sepasang alisnya, "Kalau begitu bukankah malah bagus kalau jadi satu tim?" tanya Erza cepat.

"Baka. Yang dimaksud dengan saudara jauh itu adalah saudara dari ibu tirinya sekarang." Jelas Gray yang kembali memakan es serut itu.

Sekilas Erza terkejut, ia membulatkan matanya karena masih bertanya-tanya. "Ibu tiri...?" Ia juga jadi teringat pada perkataan Ikaruga tempo lalu.

"Itu masih misteri. Tapi ada rumor mengatakan, bahwa mereka telah dicuci otaknya oleh seorang kerabat Dewan Sihir, namanya Ultear – ibunya Jellal."

"Ibu kandung Jellal itu sudah meninggal. Yang sekarang adalah ibu tiri, Jellal sangat membenci ibu tirinya." Terang Loke dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh siapapun. "Nah, Hibiki itu adalah kerabat dari ibu tiri Jellal. Awalnya Jellal juga tidak tahu, tapi karena suatu hal Jellal jadi mengetahuinya."

"Sebenarnya Hibiki adalah pria yang baik. Bagaimanapun Jellal tetap bersikeras menjauhinya dan menganggap Hibiki sama saja seperti ibu tirinya sekarang." Tambah Gray.

Penjelasan kedua orang di hadapannya membuat Erza menghela napas. Benar apa yang dikatakan kakeknya dulu, sesuatu yang bersinggungan dengan Dewan Sihir akan terasa rumit. Kita lihat saja Jellal, hidupnya sangat rumit berkat posisi ayahnya di Dewan Sihir.

"Hm, kalau kupikir-pikir.. Jellal itu memang banyak mengalami trauma berkat ayahnya.." sambung Gray lagi dengan menaruh jarinya di bawah dagu.

"Ya, benar. Aku jadi kasihan pada Jellal." sahut Loke sambil mengangguk-angguk.

Perkataan Gray membuat Erza teringat pada cerita Jellal beberapa waktu lalu...

"Itulah pertama kalinya aku mendengar lagu ini. Setiap ada konser band yang menyanyikan lagu-lagu The Beatles, entah kenapa aku selalu tidak dapat menyaksikannya dengan orang lain dan itu membuatku teringat saat ayah meninggalkanku yang berumur 7 tahun di mall sendirian, di tengah keramaian."

Pemuda itu memang sering sendiri sejak masa kecilnya...

"Jellal juga menyukai seseorang.." ucap Loke seraya menatap atap kantin itu dengan kosong, "tapi ia tidak pernah bertemu dengannya. Kalau dipikir, Jellal benar-benar memiliki nasib yang sial."

Mendadak napas Erza terhenti sesaat. Gadis yang disukai Jellal adalah... Erza.. dirinya sendiri. Jantung Erza berdegup kencang tiba-tiba.

Erza menundukkan kepalanya. Ia bertanya-tanya apa lagi cerita mengejutkan yang berhubungan dengan Jellal?

.

.

Pemuda berambut biru itu membuka pintu kamarnya dan menguncinya lagi setelah berada di dalam. "Tadaima." Tuturnya dengan lemah. Mengingat ia sangat kelelahan setelah berlatih habis-habisan tadi. Jellal melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Ia menghela napas menyadari sepatu Akaishi yang tidak ada.

Tanpa pikir panjang, pria itu pun menaruh tasnya di meja belajar kemudian beralih ke ruang tengah untuk membuka seragamnya yang lusuh lalu melemparnya ke keranjang baju kotor. Setelah itu ia langsung mandi dengan air dingin untuk mendinginkan tubuhnya. Usai mandi, Jellal pun meraih kaos hitam dengan celana putih dari lemari dan segera memakainya.

Begitu menyadari Akaishi yang belum datang juga itu, Jellal mendesah. "Padahal aku sengaja mandi berlama-lama.." desahnya dengan lesu. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke ruang belajar.

Sesampai di ruang belajar, Jellal mendapati laci meja Akaishi yang terbuka. Jellal hendak menutup laci tersebut. Begitu ia memegang knop laci, matanya menangkap benda yang membuatnya penasaran. "Ponsel..?" gumamnya begitu melihat ponsel dengan casing berwarna merah muda itu tergeletak di dalam laci Akaishi. Jellal sempat mengambil ponsel itu, lalu ia membalik-balikkannya untuk mencari tahu. "ponsel siapa ini?" tanyanya pada diri sendiri.

Yah, Jellal mengurungkan niatnya untuk mengeruk hal tentang ponsel itu lebih lanjut. Toh, sepertinya ponsel tersebut milik Akaishi. Tidak sopan mengambil barang pribadi milik seseorang tanpa ijin, pikirnya.

"Tadaima!" seruan dari Akaishi itu sontak membuat Jellal terkejut dan refleks menutup laci setelah menaruh ponsel tadi ke tempat semula.

"O-okaeri, Akaishi!" sahut Jellal yang langsung melesat ke ruang tengah untuk menyambut Akaishi. "kau darimana?" tanya Jellal yang penasaran.

Sekilas Erza menggendikkan bahunya, "Habis dari kamarnya Hibiki." Sahutnya dengan nada ragu.

Mendengar nama Hibiki, Jellal terdiam. Terlihat sorot mata tidak sukanya hanya dengan mendengar nama pria pirang itu. "Oh begitu." Ujar Jellal dingin.

Melihat perubahan sikap Jellal, Erza jadi canggung. Ia takut Jellal marah atau bagaimana. "Kau masih marah?" tanyanya hati-hati. Jellal mendelikkan matanya ke arah lain.

"Aku tidak marah." Sahut Jellal yang kemudian berlalu, tapi langkahnya terhenti sesaat. "jadi.. kau lebih menginginkan Hibiki yang bergabung dengan tim-mu?" tanyanya sedikit dingin. Nada bicara Jellal membuat Erza merasa sangat tidak enak.

"Aku ingin kalian berdua yang menjadi teman tim-ku." Balas Erza tegas.

Sesaat Jellal menelengkan kepalanya untuk melihat kesungguhan Erza atas kata-kata itu. "Maaf, aku tidak bisa. Aku harap kau mengerti maksudku." Jellal kembali melangkahkan kakinya dan menuju ruang belajar lagi.

Sepeninggal Jellal, Erza menghela napas keras. "Dasar keras kepala." Sungutnya dengan tertahan. Meski demikian Jellal mendengarnya.

Erza yang lelah dengan pertikaian Jellal itu pun akhirnya memutuskan untuk cuci muka dan segera tidur. 'Bagaimanapun Jellal dan Hibiki adalah orang yang sangat cocok untuk masuk tim. Mereka harus berdamai!' pikir Erza.

.

.

Keesokan sorenya, Erza bersiap pergi ke suatu tempat. Ia mengenakan jaket berwarna abu-abu dan celana jeans hitam.

"Hari kamis malam-malam begini kau mau kemana?" tanya Jellal begitu melihat Erza yang telah berpakaian rapi dan kini tengah menalikan sepatu talinya perlahan.

"Aku ingin bertemu dengan adikku. Kemarin siang ia memberiku kabar bahwa ia sudah tiba di Fiore. Sore ini ia bilang ingin bertemu denganku." Sahut Erza beralasan. Padahal sebenarnya ia ingin bertemu saudara angkatnya.

Jellal mengangkat sebelah alisnya, "Adikmu? Kau punya adik? Dan apa maksudnya 'sudah tiba di Fiore'?" tanyanya berentetan.

Erza yang selesai bersiap-siap itu pun mengetuk kening Jellal dengan keras. "Kau tidak perlu tahu, baka. Memang kau ini pacarku, hah?!"

Mendengar kata pacar, Jellal malah jadi malu dan bersemu merah. Bodoh, sesama pria tabu untuk berpacaran, baka. Ia pun mengurungkan rasa penasarannya dan membiarkan Erza pergi sendiri. "Aku pergi dulu." Pamit Erza begitu membuka pintu itu. Jellal yang masih bersemu malu itu hanya mengangguk dan mengucapkan hati-hati.

Sebenarnya Jellal ingin menemani teman sekamarnya itu. Hah, tapi si Akishi bakal marah-marah, deh. Jellal menghela napas. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu sendirinya dengan menonton TV sembari tiduran di sofa. Sesekali Jellal melirik jam dinding yang menggantung dekat TV.

Pukul 19.00.

"Kenapa harus pergi malam-malam begini, sih." Rutuknya tidak jelas. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Hah, Jellal memang suka berlebihan.

Di sisi lain, Erza berjalan santai di sepanjang trotoar. Ia janjian untuk bertemu dengan Kagura, saudara angkatnya, di pinggir danau Fiore. Sekitar lima belas menit, Erza tiba di danau Fiore yang kini tengah diterangi cahaya lampu dan rembulan. "Kagura belum datang. Tumben sekali.." ucapnya dengan heran. Erza merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ya ampun, ada banyak panggilan dari Kagura. Tidak kedengaran karena ponsel Erza di-silent. Kemudian ia mencoba untuk memastikan pesan yang dikirim Kagura tadi siang.

'Ini Kagura. Jam tujuh malam nanti aku ingin bertemu denganmu di dekat danau Fiore, ya.. Sampai bertemu!'

"Benar di danau Fiore.." gumam Erza pada diri sendiri. Kemudian Erza mengecek jam dan sudah pukul 19.15. "tumben sekali Kagura terlambat. Aneh.." Gumamnya lagi dengan heran.

Begitu Erza kembali menaruh ponselnya di saku jaket. Tak lama setelah itu, ia merasakan aura aneh di sekelilingnya. Begitu ia menyadari, sekelompok orang berjumlah empat orang tengah melingkarinya.

"Yo, Akaishi! Selamat datang!" ucap seseorang yang berambut hitam dengan wajah datar. Sebelahnya ada seseorang berambut pirang bermodel jingkrak yang tengah tersenyum licik pada Akaishi.

"Kau... Sting... Rogue.. dari Sabertooth.." ujar Erza tanpa berkedip. Perlahan ia melangkah mundur untuk menjauh dari Sting dan Rogue yang mengintimidasinya itu. Sayangnya, Rufus dan Orga menghalanginya dari belakang. Erza pun menggertakkan gigi dan amarahnya mulai meledak begitu melihat apa yang sedang dibelenggu di antara kedua tangan pria besar bernama Orga itu. "Brengsek! Lepaskan Kagura!" teriaknya dengan nada murka.

Kagura dibelenggu oleh kedua tangan Orga dengan mulut yang disumpal oleh kain putih serta kakinya yang diikat dengan tali, bagaimana Erza tidak murka melihat hal itu?!

Sekilas Sting menggendikkan bahu. "Siapa yang lemah, ya. Sampai-sampai membiarkan adiknya menunggu lama dan akhirnya diikat oleh pria lajang yang beranjak dewasa."

"Lepaskan Kagura!" pekik Erza dengan tertahan. Berusaha meredam amarahnya.

"Eits, tidak semudah itu!" balas Rufus seraya cekikikan bersama Orga.

"Apa yang akan kalian lakukan pada Kagura, hah?!" seru Akaishi dengan nada dengki.

Sting tertawa licik, "Kagura? Aku hanya menjadikannya umpan, kok! Aku sangat berterimakasih pada Rufus yang berhasil mengetahui rencana ketemuan dengan adik tercintamu di taman ini pukul tujuh malam." Terang Sting seraya menyeringai lalu ia menjentikkan jarinya. Orga mengangguk dan menendang Kagura ke samping hingga ia terguling-guling di atas rerumputan. Erza makin naik darah melihat Kagura yang tengah mengerang kesakitan dengan tubuh bergeta. "Yang aku inginkan adalah kau, Akaishi!" tukas Sting seraya menunjuk Akaishi dengan jari indeksnya.

"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Erza dengan dingin. "tidak perlu melibatkan Kagura, pecundang!"

Tak langsung menjawab, Sting dan tiga temannya malah tertawa keras di tengah kesepian danau Fiore ini. "Balas dendam atas apa yang kau lakukan pada kami tahun lalu!"

Alis Erza terangkat mengingat kejadian satu tahun lalu. Saat itu terjadi keributan antara Fairy Tail dan Sabertooth akibat Natsu yang tak sengaja menghancurkan gedung sekolah Sabertooth. Pemuda berambut pink itu memang tidak pernah jera membuat keributan. Murid Saber pun tidak terima dan segera menyerbu Fairy Tail diketuai oleh Sting, sayang di tengah perjalanan Sting dihadang oleh Erza dan Sting dikalahkan dengan cara memalukan di depan orang banyak.

"Kejadian tahun lalu sudah kami pertanggungjawabkan, Sting. Jangan kau ungkit lagi!" balas Erza dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Sting mendengus. "Memangnya aku terima dipermalukan di depan orang banyak seperti itu? Jangan mimpi kau, Akaishi! Aku sangat membencimu!"

Degup jantung Erza berderap karena rasa takut yang mulai menjalari dirinya. Firasat buruknya benar-benar menunjukkan hal buruk yang akan terjadi.

"Bersiaplah tersiksa, AKAISHI!" Sting mulai menyerang Erza dengan brutal. Dibantu oleh Rogue, Rufus dan Orga.

"Kanso..." Erza memanggil pedangnya dan balas menyerang Sting dengan pedangnya. Sting menghindar serangan pedang Erza, terpaksa Erza mengeluarkan pedang satu lagi untuk melawan keempat orang itu.

SRAK! DUAK!

Rogue berhasil ditendang tengkuknya oleh Erza. Kemudian Erza menyikut pria besar bernama Orga itu hingga Orga menubruk Rufus dan terjatuh ke tanah bersama Rogue. Kini tinggal Sting, sang dragon slayer. Sting sempat mengeluarkan sihirnya tanpa memikirkan keadaan sekitar yang mulai hancur akibat sihirnya. Tapi karena Sting lengah, Erza pun berhasil membuat Sting terduduk di tanah karena serangan pedangnya. Erza menyeringai senang melihat Sting yang berada di bawahnya itu.

Namun...

"Mphmza!" jerit Kagura yang masih tersumpal mulutnya. Tangannya masih terasa nyeri karena belenggu Orga beberapa saat lalu.

"Rufus, sekarang!" seru Sting menyambut seringaian Erza.

"Siap!"

Belum dapat mencerna segalanya, tiba-tiba rantai panjang telah meliliti kedua tangan Erza. Pedang Erza pun perlahan menghilang karena itu bukanlah rantai biasa. "Rantai penekan sihir..." gumam Erza dengan mata membulat.

SLANG!

Bunyi desingan pedang dengan permukaan kulit pinggang Erza itu terdengar merdu di telinga Sting. Erza yang masih belum mencerna semuanya pun tiba-tiba saja sudah tergeletak lemas di tanah. Ia sempat melihat pedang miliknya yang digenggam Sting itu perlahan pudar karena sihirnya menghilang.

Rufus menarik rantainya dan membawa Erza ke tempat lain hingga Erza berteriak kesakitan karena tubuhnya yang terluka diseret paksa ke suatu tempat yang jauh dari danau Fiore, meninggalkan Kagura begitu saja. Darah yang mengalir dari pinggangnya itu tak sanggup dihalanginya.

"Rantai itu bukan hanya penekan sihir, Akaishi.. tapi juga pelumpuh tubuh!" setelah mengatakan hal itu, Sting dan lainnya tertawa membahana yang terasa begitu menyakitkan di telinga Erza saat ini.

Begitu mengetahui itu, Erza baru menyadari tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkan. Meski demikian, darahnya terus mengalir keluar dari tubuhnya.

"Ayo pergi. Hari ini sudah cukup. Kuharap kau tidak mati, Akaishi!" hina Sting yang meninggalkan Erza begitu saja.

Erza menggertakkan gigi, namun kesadarannya mulai memudar. Pandangannya mulai kabur.. dan hanya ada kegelapan yang meliputi setelahnya.

Tepat di saat itulah, sang malaikat penyelamat datang. "Akaishi!" pekik malaikat itu yang hanya terdengar bagai suara angin bagi Erza.

Ia benar-benar kehilangan kesadarannya.

.

.

Pukul 19.45

Tiba-tiba saja, ponsel yang Jellal temukan di laci meja belajar Akaishi menghampiri benaknya. Rasa penasaran Jellal mulai berkoar. Tak lama, Jellal pun sudah di depan meja belajar Erza dan mengambil ponsel dengan casing merah muda itu dengan lihai.

"Mana mungkin Akaishi memiliki ponsel pink seperti ini." gumam Jellal seraya mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ponsel. "jangan-jangan ini adalah bom waktu dalam bentuk ponsel." pikirnya ngawur. Kemudian jari Jellal menekan tombol di samping ponsel yang berguna untuk menyalakan ponsel. "eh, aneh sekali." Gumamnya lagi begitu melihat ponsel itu baru diaktifkan kembali. "jangan-jangan ini ponsel adiknya Akaishi..."

Begitu tampilan home terlihat, ponsel itu bergetar dengan waktu cukup lama. Puluhan mungkin ratusan pesan mendatangi ponsel itu. "Aneh, sepertinya ponsel ini jarang dibuka." Ucapnya pada diri sendiri.

Jellal mendesah dan mengurungkan rasa penasarannya. Ditaruhnya lagi ponsel itu dan ia tutup laci meja Erza rapat-rapat. Ia kembali tidur di atas ranjang dan firasat buruk terus menghantuinya. Ia bolak-bali di atas tempat tidur berulang kali.

"Haaah!" Jellal membuang napas keras sambil bangkit dari tempat tidur. "sebaiknya aku keluar dan mencari si Scarlet." Utusnya pada akhirnya. Jellal mengenakan jaket lalu mengantongi ponsel dan segera beranjak keluar asrama. Begitu keluar dari pagar asrama, ia terkejut begitu melihat seorang gadis berambut coklat panjang dengan penampilan berantakan tengah berlari kepadanya.

"TOLONG AKU!" pintanya sambil menangis tersedu-sedu. Jellal jadi bingung dibuatnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Jellal perlahan.

"Akaishi! Saudaraku! Dia-dia dihajar oleh empat orang dan-dan..." belum selesai mengatakannya Kagura sudah rubuh tidak sadarkan diri. Tapi jelas hanya dengan penjelasan tersebut, firasat buruk yang menghadang Jellal sedari tadi itu ternyata sungguhan. Jellal langsung berlari kencang ke danau Fiore. "Halo, Gray, di luar asrama ada adiknya Akaishi yang pingsan. Tolong kau urusi dia." Pinta Jellal yang menelpon Gray itu seraya berlari.

"Hah? Adik Akaishi? Kau memangnya kenapa?"

Tanpa menjawab lagi, Jellal langsung memutus sambungan telponnya. Jellal tidak mempedulikan napasnya yang mulai habis karena ia berlari terlalu kencang. Hanya dalam waktu kurang lebih lima menit, Jellal tiba di danau Fiore. Bulu kuduknya mulai meremang karena hal-hal mengerikan terbayang di benaknya.

"AKAISHI!" teriak Jellal di sepanjang tepi danau. Ia tidak menemukan Scarlet itu. Kemana? Kemana Akaishi?!

Pria berambut biru itu kembali berlari ke arah lain tanpa arah yang jelas. Tapi ia tidak menemukannya dimana-mana. "SIAL!" teriaknya seraya memukulkan tangannya yang terkepal pada pagar pinggir jalan. Tubuhnya mulai kelelahan dan napasnya tidak teratur. Kalau dikuasai rasa panik begini, sulit untuk menemukan satu hal yang ingin dicari. Jellal mencoba menghubungi ponsel Akaishi berkali-kali.

'Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif...'

"Sial!"

Setelah mengambil napas sebentar, Jellal kembali memutari daerah sekitar danau seraya terus menelpon Akaishi tapi hasilnya tetap nol. Akaishi tidak ada dimanapun. Perasaan tidak enaknya pun mulai berkata hal yang tidak-tidak.

"...Aku bisa membagikan informasi kepada seseorang melalui pikirannya. Berguna juga untuk melacak keberadaan seseorang, hm, yah bisa juga untuk melacak keberadaan musuh yang berbahaya."

Percakapan beberapa tempo lalu itu terlintas di benak Jellal. Tanpa pikir panjang, Jellal pun segera menelpon Hibiki.

"Halo, Hibiki di sini.." ucap Hibiki dari ujung sana.

"CEPAT CARI KEBERADAAN AKAISHI, BRENGSEK!" teriak Jellal dengan napas tersengal. Hibiki yang terkejut itu menjauhkan ponselnya sesaat.

"Hei, orang gila. Jangan meminta hal aneh." sahut Hibiki dongkol karena Jellal berkata kasar kepadanya. Ia hendak memutus hubungannya dengan Jellal.

"Tunggu, brengsek!" sergah Jellal dengan nada terputus-putus, "Akaishi menghilang dan firasatku buruk. Cepat cari posisinya sekarang dengan sihir Archive yang kau banggakan!"

Mendengar itu, Hibiki tercekat. Tanpa bertanya lagi Hibiki segera mengaktifkan sihir Archive-nya dan melacak keberadaan Akaishi dengan cepat. "Jellal, kau sedang ada di utara pintu masuk danau Fiore?" tanya Hibiki perlahan.

"Hm, benar!"

"Akaishi ada di jarak dua kilometer darimu. Sekarang kau jalan lurus lalu berbelok ke kanan lalu belok kanan lagi, lalu ke kiri kiri lagi kiri lagi dan kau akan menemukan hutan pinus."

Jellal langsung berlari kencang sesuai apa yang dikatakan Hibiki."Hutan pinus, ketemu!" serunya dengan tak sabaran.

"Bagus. Akaishi tetap diam di posisinya, mungkin ia sedang pingsan atau apa." Mendengar itu Jellal jadi makin was-was. "sekarang kau berjalan ke arah jam sebelas dan mungkin kau akan menemukan seperti jurang kecil." Jellal terhenti di pinggir jurang yang dimaksud Hibiki.

"Aku sudah di pinggir jurang." Ucap Jellal.

Hibiki mengangguk pelan. "Gunakan sentermu dan coba cari Akaishi di situ. Saat kau menemukan Akaishi, cepat bawa dia keluar dari hutan. Sebab hutan itu banyak binatang buas." Tutur Hibiki dengan panjang lebar.

Begitu mengerti, Jellal segera menyenteri tanah di bawahnya dengan ponsel. Sinar senternya menyinari tubuh Akaishi yang tergeletak lemas tak berdaya di dalam jurang kecil itu. "AKAISHI!" teriak Jellal dengan keras. Ia segera menuruni jurang kecil tersebut dan membawa Akaishi pergi dari hutan itu.

"Aku sudah menemukannya, terima kasih, Hibiki." Ucap Jellal begitu menelpon Hibiki lagi.

"Syukurlah. Sama-sama, Jellal." sahut Hibiki dengan ramah. Jellal segera memutus panggilannya dan memasukkan ponselnya ke saku jaket.

Kemudian Jellal kembali mengangkat tubuh Erza dengan menggendongnya di punggung. "Untung saja orang ini ringan.." gumam Jellal lega karena berhasil menemukan Akaishi, meski dalam kondisi babak belur seperti itu.

Begitu sampai di kamar asrama, Jellal baru menyadari tangannya basah karena tertetes sesuatu yang pekat. Jellal melirik tangannya dan matanya membulat begitu menyadari hal yang membasahi tangannya itu ternyata darah.

Jellal menurunkan Erza sesaat di karpet dan dilihatnya pinggang kiri Erza yang tersayat pedang cukup dalam hingga darahnya masih keluar sampai saat ini. Di hutan tadi, Jellal tidak menyadarinya karena hutan dan sepanjang jalan begitu gelap.

Jellal berniat untuk mengobati luka dan mengganti baju Erza. Jellal membuka jaket Erza dengan hati-hati, kemudian baju kemeja yang menutupi tubuhnya. Dengan cepat Jellal membuka kancing kemejanya satu per satu. Dan...

Di saat itulah, kedua mata Jellal membulat sepenuhnya. Begitu mengetahui apa yang ada di balik kemeja Erza!

"Akaishi itu sedikit aneh, ya..."

"Mungkin karena ia tinggal sendirian di kamar jadi ia merasa tidak memiliki teman."

..

"Hoi, Akaishi, omong-omong kenapa kau lebih memilih menjadi penyihir dibandingkan profesi yang lain?"

"Tujuanku hanya satu. Menjadi penyihir Double-S Class dan mengalahkan niisan-ku."

Terjawab sudah, mengapa jantung Jellal selalu berdegup aneh begitu di dekat Akaishi? Mengapa Akaishi itu begitu rajin dan bersih? Mengapa Akaishi suka menyendiri, mengapa kakinya terlihat kecil seperti wanita? Mengapa ia pintar memasak?

Semua itu karena...

"Akaishi... seorang... wanita..." desis Jellal.

CHAPTER 7 END!

Jeng jeng! Yosh, sampai bertemu di chapter 8! Tak bosan Karu mengucapkan terima kasih kepada para reader yang masih setia membaca The Magic School sampai chapter 7 ini. ^^ Okeydeh, kalau begitu sampai bertemu di chapter depan! Chapter Delapan! Bye bye! :D

BALASAN REVIEW CHAPTER 6

NlorenZo = Sudah dilanjut! Selamat membaca dan mereview lagi! Hehe, terima kasih reviewnya! ^^

syivha (Guest) = Sudah diupdate ya, syivha-san! Terima kasih sudah review! ^^

: Wah, saking enaknya bisa dimakan ya? Hehe *jayus* Makasih untuk reviewnya! ^^ #SalamAF

bluenonoe: Hai juga! ^^ Wah, bagus deh kalau suka. Hehe, sengaja dong dibikin penasaran. Sudah diupdate, ya dan diusahakan untuk selalu update cepat. Terima kasih untuk review dan dukungannya, ya. ^^ :)

tamiino 30' = Okeey, dipeluk balik. Haha. Makasih yaa udah review! ^^

Ryou419 = Sudah dinext, selamat membaca! Terima kasih sudah review! ^^

Dede (Guest) = Sudah diupdate, yaa. Terima kasih untuk reviewnya! ^^