.
.
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T
Genre: Romance, Supernatural, Action, Friendship
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
.
A/N:
Hai haai~! Akhirnya Karu bisa update lagi, fiuh. Jadi ceritanya minggu lalu Karu habis ujian dan mendapat banyak sekali tugas. *curhat sedikit* okey, meski demikian Karu kembali lagi! Dan pasti akan menyelesaikan ff ini, walaupun lama ^^ Hehe. Wah, di chap lalu akhirnya Jellal tahu kalau Akaishi adalah wanita?! Jengjeng!Bagaimana ini?! #Karubawel
Omong2 terima kasih banyak, ya untuk readers yang sangat2 setia menanti fanfic ini. :") sampai ada yang PM, terima kasih banyak loh! Karu senang sekali. *terharu karena jarang dapat PM*
Okaylah, silakan baca chapter 8! Karu tunggu pendapat dan saran kalian di review! Happy Reading! ^0^
CHAPTER 8
BERGABUNGNYA 'HARVEST GOLD'
Sang surai Scarlet, Titania, membuka matanya perlahan dikala sinar matahari yang menembus jendela menyilaukan mata coklat miliknya. Ia kembali menutup matanya lalu membuka lagi dengan sempit.
Dilihatnya dinding, langit-langit, dan perabotan kamar yang terasa asing baginya. Tak sengaja bau obat-obatan juga tercium oleh hidungnya. Begitu sudah sadar sepenuhnya, ia langsung melonjak dari bangsal tidur dengan mata bulat dan napas terengah karena panik.
"Hoh, kau sudah sadar rupanya?" ucap Porlyusica yang sedang meracik obat-obatan itu. Erza menoleh cepat ke sumber suara dan ia belum sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang berada di UKS.
"Porlyusica-sensei, aku dimana?" tanyanya cepat.
"Kau sedang ada di UKS." Sahut Porlyusica tanpa mengalihkan perhatiannya dari tabung-tabung obat yang sedang dia reaksikan.
Mendadak Erza langsung melotot horror begitu menyadari pakaiannya kemarin telah dilepas semua dan diganti dengan pakaian yang baru. Ia mulai takut rahasia penyamarannya terbongkar, lebih-lebih ia tidak tahu apa yang terjadi semalam. Maksudnya siapa yang telah menyelamatkannya.
"Tenang, aku yang mengganti bajumu." Ucap Porlyusica menenangkan. Ia berjalan menghampiri Erza yang masih sedikit ketakutan itu. "tenang. Tidak ada yang mengetahui rahasiamu." Tambah Porlyusica selaku dokter di UKS ini dengan seulas senyum hangat. Ia juga merupakan salah satu sensei senior di sekolah sihir ini dan merupakan salah satu dari sekian sensei yang mengetahui penyamaran Erza sebagai Akaishi.
"Te-terima kasih, Porlyusica-sensei!" sahut Erza membalas senyuman hangat tersebut. Meski seluruh tubuhnya masih sulit digerakkan, tapi Erza dapat berdiri sendiri.
Gadis Scarlet itu memutuskan untuk keluar UKS dan kembali ke asramanya. Ia sedikit bertanya-tanya berapa lama ia tak sadarkan diri. Bodoh, kenapa tidak tanya pada sensei tadi. Pikirnya setelah berada di luar UKS.
Erza berjalan menuju asrama dengan langkah tersendat-sendat karena masih kesakitan. Ia melirik pada lingkungan sekelilingnya yang sangat sepi dan ia menebak bahwa sedang berlangsung jam pelajaran, jadi semua murid sedang di kelas.
Begitu sampai di depan gedung asrama, seorang wanita berbando pita itu berseru dengan wajah sumringahnya, "ERZAAA!" pekiknya dengan keras dan panjang. Erza langsung terlonjak kaget terlebih melihat gadis itu langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
"Jangan panggil aku dengan nama itu, baka!" tegur Erza dengan setengah berbisik. Kagura terkekeh. Ia mendongak sembari menghapus air matanya.
"Kau ceroboh sekali! Untung saja kau tidak mati!" cetus Kagura.
Erza menggembungkan pipinya, "Lagian siapa yang mudah sekali tertangkap orang lain, hah?!" tukasnya dengan dongkol.
"Maafkan aku.. Lagipula salahmu lama sekali datangnya!" balas Kagura yang jadi ikut-ikutan dongkol.
Mendengar itu, Erza menelan ludah karena bingung harus membalas apa.
"Untung saja ada pemuda berambut biru di depan asrama, begitu aku meneriakkan namamu dan menjelaskan beberapa hal sebelum aku pingsan, ia langsung menyelamatkanmu." Terang Kagura tanpa ditanya.
"Eh, siapa itu?" Erza berhenti berkedip. Ia berpikir sejenak dan langsung merasa kaku begitu mengira siapa yang telah menyelamatkannya. "Maksudmu Jellal?!"
Kagura mengangguk keras, "Benar, teman sekamarmu. Begitu aku pingsan, ia segera mencarimu dan menyuruh temannya untuk mengurusku. Kudengar dia mencarimu dengan susah payah, loh! Wahh, jangan-jangan dia pacarmu, ya?!"
"Kau meneriakkan namaku?! Ma-maksudmu ka-kau.."
"Tidak, untungnya saat itu aku refleks menyebut nama asramamu itu. Akaishi.."
Erza menghela napas pelan tapi ia tetap tidak bergeming dan malah masih khawatir. Ia merasa ada hal yang tidak seharusnya terjadi. 'Jangan-jangan, Jellal mengetahui rahasiaku...' batinnya.
"Begitu dia menemukanmu ia langsung membawamu ke UKS dan menemuiku saat aku sudah sadar. Setelah itu, dia juga memintaku untuk tinggal semalam sampai kau sadar." Sambung Kagura tanpa menghiraukan wajah pucat Erza itu. "Hoi, Erza! Kau dengar tidak?!"
"Apa Jellal tahu kalau aku wanita?" tanya Erza to the point.
Sepintas Kagura berpikir dengan menaruh jari telunjuknya di bawah bibir seraya memutar matanya ke atas kemudian menggeleng cepat, "Tidak mungkin!" sahutnya seraya tersenyum lebar, "Jellal langsung membawamu ke UKS. Aku dan sensei-mu lah yang mengganti pakaianmu. Jadi tidak mungkin Jellal tahu."
"Oh. Begitu..." sahut Erza sedikit lega. Meski demikian, perasaan tidak beres tetap menghinggapinya. Ia masih ragu sebelum bertemu Jellal. Kalau Jellal tahu rahasia Erza, pastilah Jellal akan berubah drastis pada Erza mengingat Jellal telah dibohonginya selama ini. Kemungkinannya, Jellal akan menjauhi Erza dan mungkin akan mengusir Erza dari sekolah ini.
"Nee-nee, Erza omong-omong kau mengatakan aku adalah adikmu, ya pada Jellal? Huff, untung saja aku tanggap jadi Jellal tidak curiga." Celotehan panjang dari Kagura terdengar mengambang di tengah pikiran kalutnya. "tapi kau memang sangat tampan kalau jadi pria! Wahh, tepatnya pria tampan dan cantik!" celoteh Kagura lagi tanpa henti. Kagura mungkin adalah saudara angkat Erza, meski begitu mereka sangatlah akrab.
Mereka berdua dulu mengikuti Akademi Sword Art di Fiore. Meski demikian, hanya Erza yang bisa melakukan Sihir. Orang pertama yang menentang keputusan Erza untuk menjadi penyihir dan bersekolah di Fairy Tail adalah Kagura. Walau begitu, Erza tetap keras kepala dan masuk ke Fairy Tail di saat Kagura melanjutkan akademinya di China.
Kagura juga tahu keseluruhan Erza mulai dari latar belakangnya. Kagura tahu, Erza menjadi terkenal di Fiore karena gaya bertarung pedangnya dan karena ia adalah adik dari Laxus Dreyar, penyihir muda kelas SS populer di Fiore.
Oh ya, sewaktu kakek Erza meninggal, Erza diasuh oleh orangtua Kagura, yang merupakan kerabatnya Makarov. Kebutuhan Erza pun dibiayai oleh kedua orang tua Kagura. Sebenarnya tiga bulan sekali, Kagura memang selalu bertemu Erza sekaligus memberikan uang untuk kebutuhan Erza dari pamannya. Yah, kalau dipikir, pamannya itu memang sangat kaya raya. Ia memiliki banyak perusahaan yang tersebar di hampir seluruh Fiore ini.
Begitu pikiran kalutnya makin meradang, Erza malah kepikiran sesuatu. Ia langsung menatap Kagura tajam, "Kau yang menyebarkan alamat emailku di internet, kan?" tanya Erza dengan nada menyeramkan.
"Ya, siapa lagi kalau bukan aku." Sahut Kagura enteng padahal sudah di-deathglare oleh Erza. "Ayolah, kasihan tahu penggemar yang ingin berkenalan denganmu! Jangan pelit begitu! Lagipula baru alamat email.. Mungkin besok aku akan menyebarkan nomor ponselmu." Candanya sambil tertawa kecil. Langsung dipelototi Erza.
Erza pun mengelitiki pinggang Kagura berkali-kali hingga Kagura meminta ampun.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, Jellal langsung melesat keluar kelas begitu saja tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Gray, Natsu dan Loke sedikit bertanya-tanya, hari ini Jellal memang terlihat aneh. Menyendiri dan menjadi diam. Seolah memikirkan suatu hal yang besar.
"Aneh, tumben sekali si Jellal.." rutuk Natsu begitu melihat Jellal yang cuek pada mereka itu.
Gray pun memandang kepergian Jellal dengan heran. Memang tidak biasanya. Ia juga bertanya-tanya apa yang terjadi semalam. Jellal sangat panik dan menyuruh Gray membawa Kagura ke UKS. Begitu Gray bertanya kepada Jellal apa yang sedang terjadi, Jellal hanya membungkam. Itu adalah saat dimana Jellal ke UKS dengan membawa Akaishi di punggungnya.
"Pasti terjadi sesuatu.." gumam Gray dengan mengerutkan dahinya.
"Hey, kau bergumam apa, mesum?" tanya Gajeel yang tak sengaja menyadari gumaman tidak jelasnya Gray.
Gray hanya mendengus sambil menjitak Gajeel. "Aku tidak mesum, tahu!"
Hibiki pun keluar kelas bersama Eve dan Ren sambil bersenda gurau bersama. Hibiki sempat melihat Jellal yang menaiki tangga menuju atap.
"Heh, tumben sekali Jellal menyendiri tanpa ditemani teman berisiknya itu." komen Eve yang juga melihat Jellal menaiki tangga.
"Mungkin ia sedang ada konflik dengan Natsu dan yang lain." Sahut Ren menduga-duga. Berbeda dengan Hibiki yang hanya menatap arah perginya Jellal dalam diam.
Eve sedikit heran. "Heh, tumben sekali mereka bertengkar." Ucapnya, "mereka kan selalu bersama seperti kembar siam, masalahnya."
"Tidak.." Hibiki akhirnya membuka mulut, "bukan konflik dengan Natsu dkk, melainkan konflik dengan batinnya sendiri." Ujarnya yang langsung ditertawakan oleh Ren dan Eve. Meski begitu, Hibiki tetap diam, acuh pada tertawaan dua orang temannya tersebut. Sehingga Eve dan Ren pun berhenti tertawa. "kalian duluan saja, aku ingin ke ruang guru dulu." Ucap Hibiki.
Ren dan Eve mengangguk serempak. "Baiklah, sampai jumpa!" tutur mereka seraya melambaikan tangan dan meninggalkan Hibiki.
Begitu dua orang itu sudah tak tampak lagi di matanya, Hibiki pun menaiki tangga menuju atap, mengikuti Jellal. Sesampainya di atap, Hibiki menemui Jellal yang tengah berdiri di dekat pembatas seraya melamun di hembusan angin siang hari ini. Hibiki berjalan mendekat dan Jellal menoleh heran begitu mendengar suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai.
"Kenapa kau juga kemari?" tanya Jellal datar.
Hibiki menghentikan langkah kakinya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tidak langsung menjawab Jellal, tapi memalingkan wajahnya kepada pemandangan sekitar atap itu.
Hening dan entah kenapa Jellal menantikan jawaban Hibiki walaupun ia masih tidak suka pria itu ada di sebelahnya. "Kau mengetahuinya?" tanya Hibiki selang beberapa saat.
Jellal menghembuskan napasnya. "Ya, aku tahu." Akunya dalam tundukan.
Hibiki menatap Jellal sekilas dan ikut menghembuskan napas, "Erza Dreyar, adik perempuan Laxus Dreyar... itulah Akaishi yang sebenarnya." Tuturnya.
Jellal bersikap biasa saja dan mengangkat kepalanya untuk menghadap langit biru. "Itu sangat mengejutkanku." Terangnya datar. "tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau dia adalah perempuan dan dia adalah Erza?" tanyanya tanpa memandang Hibiki.
"Aku dapat mengetahuinya dari sihir Archive-ku. Aku dapat melacak seseorang hanya dengan tahu nama atau nomor ponselnya." Jawab Hibiki datar. "saat aku melacak seseorang, sebenarnya aku sama saja menyusup ke dalam data pribadi miliknya. Dan saat itu aku sangat terkejut begitu melihat data miliknya yang tertulis bernama Erza Dreyar, bergender wanita..." terangnya datar.
Jellal kembali menghela napas, "Oh, begitu." Sahutnya juga datar.
"Jadi bagaimana?" tanya Hibiki terlihat khawatir.
"Entahlah..."
"Ia sudah melalui semuanya dengan susah payah, demi bertemu lagi dengan aniki-nya." Terang Hibiki. "kau tahu, bukan? Laxus Dreyar, penyihir muda yang masuk ke dalam sepuluh peringkat penyihir lingkup Dewan Sihir terhebat."
"Hn, aku tahu itu." sahut Jellal datar.
"Beberapa tahun yang lalu, ia menjadi penyihir kelas SS lalu diangkat sebagai penyihir dalam lingkup dewan sihir. Setelah itu, ia tidak pernah kembali kepadaku dan kakekku sampai pada akhirnya kakekku meninggal."
'Ia melalui banyak kesakitan dan kesusahan hanya untuk anikinya. Untuk apa ia harus mengalahkan Laxus? Balas dendam, kah...?' batin Jellal.
Hibiki menghela napas lalu memijat-mijat tengkuknya sendiri.
"Kalau begitu, ayo kita wujudkan mimpinya, Hibiki." Ucap Jellal tiba-tiba yang sontak membuat Hibiki berpikir kalau ia sudah salah dengar.
"Apa maksudmu?" tanyanya tidak percaya.
Jellal menghadap pada Hibiki lalu mengulurkan tangannya. "Menjadi penyihir Double-S Class seperti yang ia inginkan. Karena hanya kau dan aku yang mengetahui identitasnya, kurasa kita-lah yang lebih baik untuk menjadi rekannya."
"Kau yakin?"
"Aku memang tidak menyukai fakta bahwa kau adalah saudara dari Ultear, tapi kini aku sadar bahwa kau tidak seburuk yang kukira. Dan kurasa kaulah yang pantas untuk menjadi orang ketiga itu, sesuai yang Akaishi inginkan. Jadi, aku menerimamu."
Hibiki sangat tercengang mendengar pernyataan Jellal. Sungguh, ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah Jellal ucapkan kepadanya. Sungguh keajaiban bagi Hibiki sendiri. Pria pirang ini tersenyum hangat dan menjabatkan tangannya ke tangan Jellal. "Mohon dukungannya, Jellal." Jellal mengangguk dan balas tersenyum hangat.
Perang dingin pun terpecahkan oleh kedua ulas senyum hangat itu dan sebuah tim untuk mengejar gelar Double-S Class pun terbentuk. Inilah tim baru, yang berjuang untuk tujuan mereka masing-masing.
.
.
Begitu sampai di kamar asramanya, entah kenapa perasaan canggung menggerogotinya habis-habisan. Bahkan di saat Jellal membuka sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu tangannya tremor hebat. Sedikit berlebihan.
Apalagi di saat dua langkah kaki terdengar menghampirinya dan Jellal tahu, siapa yang berjalan menghampirinya itu. Tak lain dan tak bukan adalah Akaishi alias Erza. Jantung Jellal benar-benar serasa ingin lepas dari dadanya.
"Jellal, kau sudah kembali ternyata?!" ujar Erza pada Jellal yang masih membelakanginya.
Jellal membalik badannya dan memalingkan wajahnya dari Erza. "Hm, ya." sahutnya singkat dan langsung meninggalkan Erza lalu beranjak untuk mandi.
Menyadari tingkah aneh Jellal, Erza jadi merasa takut. "Jangan-jangan Jellal benar-benar mengetahui identitasku.. bagaimana ini..." Erza menggigiti jemarinya bergantian dan ia berdiri di depan pintu kamar mandi hingga Jellal selesai mandi. Jellal terkejut begitu melihat Erza yang tengah menunggunya di depan pintu itu.
Mereka pun tidak bicara dalam waktu cukup lama. Jellal merasa sangat canggung karena orang yang selama ini sekamar dengannya ternyata adalah Erza. Erza! Sekali lagi, Erza! Gadis yang disukainya. Bahkan di saat Jellal berpikir dia adalah Akaishi sang pria, Jellal tetap menyukainya. Memang hati tidak bisa berdusta.
Jellal menghela napas untuk mengenyahkan perasaan berkecamuk di hatinya. "Ka-kau ingin bertanya sesuatu...?" tanya Jellal masih memalingkan wajahnya dari Erza karena terlalu malu.
Erza menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. "Kudengar kau yang menolongku kemarin malam?" tanyanya hati-hati dan Jellal hanya mengangguk. "apa kau tahu jika aku..."
"O-oh, ya. Dimana, Kagura? Dia sudah pulang?" tanya Jellal mengalihkan pembicaraan. Membuat Erza semakin merasa canggung.
"Hm, begitulah. Ia harus membantu ayahnya di Crocus." Terang Erza dengan menundukkan kepala.
"Hoh, begitu.."
Erza menelan ludahnya dan mencoba untuk memberanikan diri, "Je-jellal.. se-se-sebenarnya... sebenarnya.. apa kau.. kau.."
"Haah, lapar sekali! Akaishi, buatkan aku udon, sekarang!" sebelum Erza selesai bertanya, Jellal memotong pembicaraan. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan Erza.
"A-apa..? ta-tapi.."
"Tidak usah tapi-tapian, anggap saja ini adalah balas budi karena aku telah menyelamatkanmu dari maut kemarin."
Erza makin tercengang mendengar itu.
"Apa? Kenapa kau memasang wajah seperti itu?" tanya Jellal pada ekspresi tercengang Erza itu. "Benar, aku yang menyelamatkanmu. Begitu aku membawamu kembali ke Fairy Tail aku langsung membawamu ke UKS. Puas? Kau ingin bertanya apalagi? Aku sudah lapar." Terang Jellal beruntun. Tepatnya ia menjelaskan semua itu agar hubungannya tetap berjalan baik seperti biasa saja.
Erza menghela napas lega setelah mendengar semuanya. Yeah, dari sikap Jellal yang masih sama seperti biasa itu, Erza berpikir Jellal belum mengetahui identitasnya. "Baiklah, terima kasih, Jellal."
"Ucapkan terima kasihmu dengan semangkuk udon!" perintah Jellal dengan melangkah lebar menuju meja makan. Erza menuruti kemauan Jellal dan langsung memasak pesanan Jellal. Tidak sampai setengah jam, Erza sudah menghidangkan semangkuk udon itu di hadapan Jellal. Membuat air liur Jellal menetes tanpa disadarinya.
"Itadakimasu!" Jellal langsung melahap udon itu dengan cepat tanpa menghiraukan Erza yang tengah menatapnya sambil senyum-senyum melihat tingkah Jellal.
Jellal mengangkat mangkuk udonnya dan menyeruput kuah udon itu tanpa tersisa. Bunyi mangkuk yang bersentuhan dengan meja itu mengakhiri kegiatan makan sang azure yang kelaparan. "Hm, kau tidak makan?" tanya Jellal begitu baru menyadari Erza hanya menyaksikannya makan.
Erza menggeleng. "Aku sudah makan." Balasnya datar.
"Hm, ba-bagaimana keadaanmu? A-apa tubuhmu masih terasa sakit?" tanya Jellal lagi dengan nada cemas.
"Sudah baikan. Tidak perlu cemas seperti itu."
Pemuda berambut biru di hadapan Erza itu masih tidak terlalu percaya. "Kudengar Sabertooth yang menyerangmu dan mereka melumpuhkan sihir serta tubuhmu."
"Ya, kurang lebih seperti itu."
"Lain kali jangan pergi sendiri. Kita tidak akan tahu kapan bahaya akan datang. Kau bisa ajak aku dan aku sangat dapat diandalkan, terlebih melawan si Sting Sabertooth yang berandal itu!" celoteh Jellal panjang lebar. Tiba-tiba saja ia jadi bersemangat sendiri untuk mempromosikan dirinya agar diajak Erza kemanapun ia pergi.
"Terserah." Erza menertawainya.
Jellal mendecih. "Aku sungguh-sungguh!" ujarnya meyakinkan, namun Erza masih tertawa. "omong-omong, aku juga setuju jika Hibiki bergabung menjadi yang nomor tiga."
Begitu mendengar pernyataan Jellal barusan, Erza baru berhenti tertawa. Ia menyipitkan matanya karena masih heran.
"Aku terlalu egois sebelumnya, maaf. Tapi aku kini sadar pada pemikiranmu itu ada benarnya, bahwa Hibiki dapat diandalkan sebagai orang ketiga." Tuturnya. Erza terdiam mendengar pernyataan Jellal membuat Jellal jadi canggung lagi.
Erza tersenyum lebar. "Yosh! Kalau begitu, tim sudah terbentuk. Besok kita akan mendaftarkannya pada Precht-sensei agar kita segera memulai pelatihan untuk Ajang Double-S Class!" balas Erza dengan bersemangat.
"Yap, kau benar. Kita pasti bisa menjadi penyihir Double-S Class, Akaishi.." Jellal ikut tersenyum. 'Aku akan mendukungmu agar menjadi penyihir kelas SS, Erza. Aku akan selalu menjaga rahasiamu, menemanimu selalu. Aku janji.' Kebahagiannya membuncah seiring melihat kebahagiaan Erza. Ia akan bahagia, di saat Erza juga bahagia.
'Ini akan menjadi kisah yang mengesankan... Sekarang aku baru menyadari, bagaimana menariknya dunia dongeng itu..' gumam Jellal dalam hati.
.
.
Hari Sabtu siang, ketiga orang murid kelas S andalan Fairy Tail; Jellal Fernandes, Akaishi dan Hibiki Lates tengah menghadap kepala sekolah Fairy Tail alias Precht untuk mendaftarkan diri sebagai kelompok yang akan berpartisipasi dalam Ajang Double-S Class Wizard.
"Yosh, kalian bertiga telah direstui olehku untuk mengikuti ajang penyihir kelas SS. Dan kalian harus tahu kalau ajang ini adalah ajang paling sulit bagi penyihir juga hanya penyihir bertalenta dan mengerikan yang mengikuti ajang ini." jelas Precht seraya menandatangani arsip persetujuan.
"Ya, kami sangat mengetahui itu, sensei." Sahut Erza dengan formal. Jellal dan Hibiki pun menyetujuinya dengan anggukan.
Precht terkekeh, "Besok aku akan ke Crocus untuk menyerahkan formulir pendaftaran kalian. Jadi, apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Precht seraya menyimpan beberapa data formulir ke dalam amplop coklat.
"Hm, sensei. Sebenarnya aku masih belum terlalu tahu mekanisme penilaian Ajang Double-S Class Wizard ini." ucap Jellal sembari mengacungkan tangannya. Precht mengangkat alis sebelahnya karena ia kira Jellal yang justru mengetahui keseluruhan mengenai kompetisi penyihir kelas SS ini.
Kepala sekolah berjanggut putih itupun mengusap-usap dagunya dan berdeham sekali. Ketiga orang di hadapannya itu memandangnya dengan intens sekaligus menantikan penjelasan Precht dengan sungguh-sungguh meski Hibiki dan Erza sudah mengetahui seluk-beluk kompetisi yang akan mereka ikuti.
"Ajang Double-S Class merupakan ajang kompetisi antarpenyihir kelas S di seluruh Fiore, kompetisinya dilakukan secara berkelompok dan satu sekolah sihir hanya boleh mengirimkan satu kelompok. Kelompok yang berbakat serta bertalenta, handal dan beruntung akan mendapatkan gelar SS lalu akan diperkenankan untuk menjadi penyihir dalam lingkup Dewan Sihir. Sebenarnya inti dari ajang ini adalah bertarung satu sama lain dengan seluruh sihir, kekuatan, kerjasama, dan kecerdasan kalian. Namun, pada tahap penyisihan, akan diadakan tes yang unik dan selalu berbeda setiap tahunnya." Terang Precht.
"Hm, aku baru tahu." Komen Erza.
Precht mengangguk perlahan sambil terkekeh.
"Tapi, maksudnya tes yang unik itu bagaimana, sensei?" tanya Jellal penasaran.
"Aku tidak dapat menjelaskannya secara rinci karena tes tersebut benar-benar di luar dugaan. Oleh sebab itu dikatakan 'unik'." Cetus Precht.
Jellal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa mungkin tes ini membutuhkan keberuntungan?" tanya Jellal yang masih bingung.
"Tidak hanya sekadar keberuntungan, Jellal. Kau dituntut untuk memiliki semangat dan keyakinan tinggi dalam tes penyisihan." Ucap Hibiki datar. Jellal memiringkan kepalanya dan akhirnya malas untuk bertanya lagi.
"Hm, nanti kau juga akan mengerti, Fernandes-kun.." ujar Precht menenangkan. Kemudian Precht menatap layar komputer di mejanya dan membaca sesuatu. "Dewan Sihir telah menentukan tanggal penyisihannya. Akan diadakan bulan Juli, berarti masih sekitar 7 bulan lebih lagi dari sekarang."
Ketiga orang murid di hadapan Precht itu mengangguk pelan.
"Karena kalian membentuk tim untuk ajang ini, gelar kalian menjadi S+ Class dan mulai tahun ajaran baru bulan depan kalian akan mengikuti pelatihan khusus bersama sensei yang telah kupilih." Tambah Precht menerangkan. "ingat, ini bukanlah ajang untuk main-main. Pelatihan khusus ini pun akan sangat berbeda dengan pelajaran yang biasa kalian jalankan selama di kelas S, jadi bulatkan tekad kalian untuk maju ke ajang kelas SS ini."
"Ya, sensei!" sahut Erza, Jellal dan Hibiki secara serempak.
"Bagus! Pelatihan kalian akan dimulai setelah libur natal dan tahun baru. Oh, cepat sekali, ya minggu depan sudah natal. Jadi, silakan persiapkan diri kalian baik-baik, mengerti?"
"Mengerti, sensei!" pekik mereka bertiga dengan semangat.
Precht tersenyum kecil melihat kekompakan mereka bertiga. "Semoga sukses, Akaishi. Aku sangat menantikan pelantikan penyihir lingkup Dewan Sihirmu. Jangan pernah menyerah dan jangan putus asa!"
Mendengar dukungan dari Precht, Erza tertegun. Matanya sempat berkaca-kaca saking terharu. Jellal dan Hibiki pun menepuk bahu Erza untuk memberinya dukungan.
"Terima kasih, sensei!" balas Erza dengan tersenyum tulus. Ini adalah pijakan pertamanya sebelum reuni dengan anikinya, Laxus Dreyar. Erza tidak akan menyerah, impiannya akan tergapai sebentar lagi!
~Istana Era~
Kediaman Pusat Dewan Sihir
Istana yang megah dan sangat besar, didominasi oleh warna putih, para penjaganya pun mengenakan seragam putih yang elegan. Bahkan para penyihir dan petinggi juga mengenakan jubah putih yang mengesankan mereka adalah penyihir suci di negeri ini.
Kekuasaan tertinggi di istana ini adalah penyihir terkuat nomor satu se-tanah Ishgar bernama God Serena, bawahannya adalah penyihir terkuat lain yang mendapat gelar sebagai Petinggi Dewan Sihir. Di bawah para petinggi itu adalah penyihir lingkup dewan sihir yang bekerja sehari-hari di Istana Era.
"Kudengar sebentar lagi akan diadakan Ajang Double-S Class Wizard..." ucap seseorang berambut hijau di balkon belakang istana itu.
"Hm, begitulah."
"Benar-benar nostalgia, bukan? Hah, aku tidak menyangka aku ini benar-benar penyihir dewan sihir."
"Hn,"
"Eh ya, omong-omong bagaimana keadaan kakekmu? Kau yakin tidak ingin mengunjunginya?" tanya pria berambut hijau kepada teman yang berdiri di sebelahnya itu.
"Masa bodoh dengannya. Aku muak bertemu dengannya." Sahut temannya itu dengan mendengus.
"Kau sedikit berubah sejak 'hari itu'. Apa terjadi sesuatu, Laxus?"
Dia adalah Laxus Dreyar, anikinya Erza. Sosok yang merupakan target Erza!
"Tidak ada yang terjadi.." ucap Laxus dengan nada rendah. Ia mengerutkan dahi sedalam-dalamnya seolah ia dongkol untuk mengingat kejadian hari itu.
Pemuda berambut hijau yang bernama Freed itupun sedikit merinding mendengar perkataan Laxus. Entah kenapa aura menyeramkan menyelimuti Laxus tiba-tiba.
"Hanya saja.. aku sangat menyesal, mengetahui kakek tua itu terlibat dalam kasus Penyihir Pembunuh dan membiarkan putri pembunuh itu masuk ke dalam keluarga." Entah mengapa Laxus malah jadi tertawa keras. Freed semakin merinding dibuatnya.
'Erza.. Kaulah putri Penyihir Pembunuh itu. Begitu aku menjadi Petinggi Dewan Sihir, akan kupastikan untuk memenggal kepalamu dan mengakhiri hidupmu. Karena kau-lah yang harus bertanggungjawab atas semua antah-berantahnya keluargaku!'
CHAPTER 8 END!
Naah, demikianlah chapter 8! Bagaimana?
Okay, omong2 chapter selanjutnya adalah chapter spesial, loh. Tentang liburan natalnya Jellal dan Akaishi! (meski ini bukanlah bulan natal, tapi tak apalah, ya). Rencananya Karu mau buat cerita natal yang romantis *halah*. Kalau ada yang mau memberi saran tentang romancenya gimana, Karu sangat mau mendengarkan loh. (?) *tanda author lagi bingung berat*
Itu saja! Sampai bertemu di chap depan! Ja nee~ ^^
BALASAN REVIEW CHAPTER 7
Scarlet (Guest) = Sudah diupdate ya.. Selamat membaca dan mereview lagi! *Karu terlalu banyak minta* kalau chapter 9 udah selesai, Karu akan update lagi besok. Okay.. terima kasih sudah review! ^^
tamiino = Waah, maaf ya kalo aku manggilnya aneh, tamiino-san. Hehe. Nah iya nih Erza sudah ketahuan. Okay, terima kasih ya sudah review! ^^
NlorenZo = Sudah diupdate, loh :) Selamat membaca! Terima kasih untuk reviewnya! ^^
jelza (Guest) = Udah dilanjut, yaa.. Semoga tidak bosan dengan chapter ini! Terima kasih untuk reviewnya! ^^
Lulu (Guest) = Pasti update, kok, Lulu-san! Hehe. Makasih, ya, sudah review! Hehe, selamat membaca! ^^
Ailasca-chan = Sudah dilanjut, Ailasca-chan! :) Terima kasih sudah review, kutunggu komen darimu lagi. Hehe ^^
