.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo

Tepat setelah tahun baru, Erza berpamit untuk kembali ke Magnolia. Pukul delapan pun ia sudah berada di ruang tamu kediaman Yajima dan sedang mengenakan sepatu.

Ia berpakaian kemeja kotak-kotak dan celana jeans denim layaknya Akaishi seperti biasa namun rambutnya masih terurai panjang. Erza berniat meminta ijin Kagura untuk memotongnya lagi saat berpamit nanti.

"Kau benar-benar harus kembali ke asrama sekarang?" tanya Simon yang sedang menghampiri Erza di sofa ruang tamu seraya mengunyah roti panggang berselai coklat.

Erza mendongak pada Simon dan tersenyum kecil. "Ya, begitulah." Sahutnya singkat. Kemudian kembali menatap sepatunya.

"Kau hanya menginap sebentar di sini, kau tahu maksudku bukan?" Simon bersidekap dan kali ini ia ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Erza.

"Aku tidak mengerti." Dusta Erza dengan enggan. "lagipula ini adalah saat-saat menuju hari pentingku. Jadi, aku tidak bisa bersantai terlalu lama." Ungkapnya tanpa memandang Simon.

Simon terhenyak. Ia menghabiskan sisa roti di tangannya dalam satu suapan lalu menghela napas keras. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena terlalu memaksamu untuk menginap di sini lebih lama." Terangnya dengan nada rendah.

Erza menepuk-nepuk lututnya lalu meluruskan tubuhnya dan menatap Simon yang ada di hadapannya lurus-lurus. "Tak apa. Aku mengerti mengapa kau bersikeras memaksaku untuk menginap lebih lama.." Erza menyunggingkan senyum manisnya.

"Kau tidak mengerti." Sahut Simon cepat.

"Aku mengerti."

"Kau mustahil untuk mengerti."

"Aku mengerti, Simon-nii! Kalian masih rindu padaku, bukan? Kau akan bekerja di luar negeri lagi, jadi kau ingin menghabiskan waktu lebih lama de-.." Erza belum menyelesaikan kata-katanya, Simon memotongnya.

"Salah. Benar, dugaanku. Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku."

Erza meredupkan matanya dan entah kenapa dadanya sedikit sakit mendengar pernyataan mendalam Simon barusan.

"Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu bukan karena aku yang akan bekerja di luar negeri, melainkan karena.." perkataan Simon terhenti sesaat, Erza terdiam dan menanti kata-kata yang akan meluncur dari mulut pria berambut hitam itu. "kemungkinan kau tidak akan kembali ke rumah ini."

Erza mengerutkan keningnya dan perasaan berat menyertai hatinya. "Apa maksudmu, baka?"

"Maksudku jika kau lolos menjadi penyihir kelas SS dan menjadi penyihir lingkup Dewan Sihir, maka kau akan menetap di Istana Era, bukan?" Erza menunduk. "dan penyihir lingkup Dewan Sihir tidak diperkenankan untuk keluar dari Istana Era. Kau mengerti, bukan? Sama seperti Laxus.."

Kali ini Erza tertegun dan ia jadi teringat wajah sang kakak berambut pirangnya itu. Senyum, tawa dan nada bicara sang kakak bahkan masih terekam di benaknya. Erza mengepalkan tangannya kemudian, teringat akan kedengkiannya pada kakak semata wayangnya.

"Hah, kau terlalu berlebihan, Simon-nii!" ucap Erza dengan memaksakan sesungging senyum, "peluangku untuk menang di ajang Double-S Class Wizard sangatlah kecil. Mungkin Laxus-niisan mudah memenangkannya karena ia berasal dari Special Magic High School, tapi berbeda denganku. Belum tentu aku memenangkan ajang ini, Simon-niisan."

"Erza..." gumam Simon tercekat. Entah kenapa, ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang sebelumnya. Sungguh, ia sangat mendukung Erza untuk menjadi penyihir kelas SS, tapi ia tidak rela ditinggal oleh saudaranya itu. "Jangan pesimis!" Simon mencengkeram kedua pundak Erza dan menatap mata Erza lurus-lurus. "Kami mendukungmu, maaf karena aku telah mengatakan hal yang tidak pantas. Berusaha keraslah, Erza! Kau pasti bisa melewati ajang itu dengan mudah!" kali ini Simon menyemangati Erza.

Erza menyentuh tangan kiri Simon dan tersenyum kecil. "Terima kasih, Simon-nii." Sahutnya dengan seulas senyum.

Setelah itu, Kagura bersama Yajima pun ikut menghampiri Erza di ruang tamu. Mereka berjalan pelan ke ruang tamu dengan wajah lesu karena enggan melihat kepergian Erza.

"Kau sudah siap, Erza-chan?" tanya Yajima pelan.

Erza mengangguk. "Ya, Yajima-ojisan."

"Simon akan mengantarmu sampai asrama dan.. karena kau akan menjalankan tugas besar setelah ini, aku selalu berdoa untuk keberhasilanmu, Erza-chan.."

Gadis berambut merah itu langsung memeluk Yajima dengan tangis harunya. "Terima kasih, ojisan. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu."

Yajima menepuk-nepuk lengan Erza. Usai memeluk Yajima, Erza gantian memeluk Kagura yang berdiri di sebelah Yajima. "Erza! Kumohon sempatkan dirimu untuk menemuiku! Aku pasti akan sangat merindukanmu!" seru Kagura dengan melengking.

"Tentu, Kagura. Jaga dirimu baik-baik, ya." sahut Erza dengan mata berkaca-kaca. Sebentar lagi pasti ia akan menangis karena terharu akan suasana ini. Ketiga orang ini adalah sosok yang telah menopang Erza untuk sampai sejauh ini. Sejak Yajima yang mengambil alih untuk merawat Erza, tak sekalipun Yajima melakukan hal buruk untuk Erza. Erza tahu, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan keluarga kecilnya.

Setelah beberapa lama berpelukan, Kagura menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Erza. "Apa ini?" tanya Erza heran.

"Bukalah."

Erza membuka kotak itu dengan mengintip isinya. "Wig?"

Kagura mengangguk dua kali. "Kumohon, jangan potong rambutmu lagi.. Rambutmu itu sangat indah.." Erza tercekat, ia menatap Kagura sejenak. "kudengar ini adalah wig dengan sihir khusus. Tidak mudah lepas, bahkan hanya bisa dilepas jika orang yang melepasnya itu tahu jika kau memiliki rambut panjang. Kau mengerti maksudnya, bukan?"

"Jadi, hanya aku dan orang-orang yang mengetahui identitasku yang dapat melepas wig ini, bukan?"

Kagura mengangguk lagi.

Erza menghela napas pelan, kemudian mengulaskan senyum kecil untuk Kagura. "Baiklah, aku tidak akan memotong rambutku lagi. Terima kasih, Kagura."

Gadis berambut hitam di hadapan Erza itu mencondongkan tubuhnya sedikit pada Erza dan membisikkan sesuatu. "Lagipula nanti Jellal tidak jadi naksir loh kalau rambutmu pendek seperti lelaki." ledeknya.

"Kagura!" elak Erza dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Simon menaikkan sebelah alisnya karena heran dengan respon Erza seperti itu. Kalau tidak salah, Simon mendengar Kagura mengucapkan 'Jellal'. Siapa Jellal itu? Simon bertanya-tanya.

"Baiklah, sampai berjumpa lagi dengan kalian, ojisan, Kagura.." ucap Erza seraya membungkukkan tubuhnya.

"Ya, hati-hati, Erza-chan." Sahut Yajima.

"Hati-hati, Erza!" seru Kagura seraya melambaikan tangan di udara.

Simon berjalan keluar mendahului Erza. Setelah berpamitan, Erza melambaikan tangan sambil menyusul Simon yang sudah menuju mobil duluan. "Sampai jumpa, Kagura, ojisan!" ucapnya berulang-ulang.

Begitu sampai di parkiran mobil, Simon memasuki mobil dan menyalakan mesin mobil. Erza ikut masuk ke dalam mobil di kursi sebelah bagian pengemudi. Kagura dan Yajima berdiri di pagar untuk melambaikan tangan.

Erza membuka jendela dan membalas lambaian tangan orang itu dengan seulas senyum lebar. Perlahan mobil Simon pun melaju, Yajima dan Kagura pun lama-kelamaan menghilang dari penglihatan Erza.

Baik Simon maupun Erza tidak ada yang memulai percakapan pada awalnya, sehingga atmosfer di dalam mobil menjadi pekat hening. Simon yang kemudian berdeham dan memecah keheningan.

"Omong-omong, kau sudah memiliki pacar?" tanyanya tanpa menoleh pada Erza, melainkan tetap fokus melihat ke depan.

Erza memiringkan kepalanya. "Mengapa kau berpikir seperti itu?" tanyanya bingung.

Simon melirik sesaat, lalu menatap ke depan lagi. "Yah, aku hanya bertanya." Ungkapnya singkat.

"Hm, begitu." Sahut Erza yang kemudian memasang wig di kepalanya. Simon kembali melirik pada Erza yang sedang mengaca dengan menggunakan kamera ponsel itu.

"Hey, belum ada yang menyadari kau wanita?" tanya Simon membuka pembicaraan lagi.

Erza mengangkat bahu pelan, "Kurasa belum ada." Sahutnya yang lagi-lagi singkat karena ia sedang asyik menata rambutnya.

"Pantas saja. Kau kan memang benar-benar seperti pria."

Mendengar itu Erza hanya mendecih sebal. Simon tertawa kecil.

Pemasangan wig-nya pun berhasil, Erza tersenyum puas dan ia merasa rambut Akaishi sekarang lebih baik daripada sebelumnya. Hah, pasti Jellal akan iri dengan rambutku yang sekarang. Pikirnya sambil mesam-mesem sendiri. Tanpa disadarinya, Simon melihat hal itu dan tambah bertanya-tanya tentang kehidupan Erza di asramanya.

BZZ! BZZ!

Ponsel Akaishi bergetar dan Erza langsung menyambar ponselnya untuk melihat ada pesan apa. Simon kembali meliriknya dengan tatapan menyelidik dan benar saja saat melihat ponselnya Erza kembali menyunggingkan senyumnya. Kemudian Erza mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan yang baru ia baca. Usai mengetik dan menunggu beberapa detik, ponselnya bergetar lagi pertanda sebuah pesan masuk. Akhirnya untuk beberapa saat, perhatian Erza tersita pada ponsel itu.

Dan entah kenapa Simon harus merasa kesal melihat Erza yang seperti itu. 'Apakah Erza benar-benar memiliki pacar?' pikir Simon dalam hati.

"Ups!"

Saking banyaknya penasaran, hampir saja Simon menabrak kucing yang menyeberang jalan di depannya.

"Berhati-hatilah, Simon-nii. Apa yang kau pikirkan sampai hampir menabrak kucing barusan?" tanya Erza yang pada akhirnya terlepas dari ponselnya.

"Uh, maaf. Aku memang sedang memikirkan sesuatu." Balas Simon yang kemudian menstabilkan lagi laju mobilnya.

Erza mengerutkan keningnya. "Boleh kutahu apa itu?"

"Heh, jangan jangan. Kau tidak perlu tahu, kok." Sahut Simon cepat sambil tertawa hambar. Hal itu membuat Erza semakin menyipitkan matanya.

Gadis berambut merah itu memutuskan untuk menghela napas dan kembali melanjutkan kegiatan chatnya dengan seseorang.

"Kau sedang chat dengan siapa?" tanya Simon penasaran dan entah kenapa jantungnya berdebar-debar begitu menantikan jawaban Erza. Ia melirik sesaat pada ponsel dengan case biru tua yang dipegang Erza. "itu ponselmu saat menyamar, bukan?" sambungnya.

"Hm, benar. Ini ponselku saat menjadi Akaishi." Erza hanya menjawab pertanyaan Simon yang terakhir.

"Jadi kau sedang chat dengan siapa?" tanya Simon lagi yang terdengar sedikit memaksa. Yeah, mau bagaimana lagi, ia sungguh penasaran.

Erza menghela napas sesaat. "Teman sekamarku." Ucap gadis itu seadanya.

"Hah, teman sekamarmu?! Laki-laki?!" Simon tercekat mengetahui selama ini Erza satu kamar dengan laki-laki.

Erza mengangguk santai. "Benar. Namanya Jellal."

Deg!

Simon lupa bernapas saat itu juga.. dan jantungnya semakin berdebar kencang.

Jadi ia tidak salah dengar saat di rumah tadi? Jellal.. jadi dia teman sekamar Erza selama di asrama Fairy Tail.

Simon berdeham, berusaha mengontrol dirinya atas segala keterkejutannya. "Orang seperti apa Jellal itu?" tanya Simon dengan nada rendah.

Erza tidak terlalu peka pada perubahan sikap Simon, ia menerawang langit-langit mobil dan berpikir sejenak mengenai Jellal. "Yeah, sebenarnya dia adalah pemuda yang sangat baik. Tapi terkadang ia menjadi sangat menjengkelkan dan kekanakan." Ungkap Erza.

Simon tertawa renyah. "Jadi.. dia bukan pacarmu?" ucapnya dengan nada bergurau. Padahal sebenarnya ia sedang menginterogasi Erza saat ini.

"Bu-bu-bukan! Tentu saja bukan!" sela Erza dengan tegas.

"Hm, begitu, ya.." sahutan Erza yang sedikit terputus itu entah kenapa membuat hati Simon sedikit nyeri karena cemburu.

"Di-dia, Je-jellal benar-benar bukan pacarku! Dia bahkan tidak mengetahui kalau aku adalah seorang wanita, niisan!" elaknya lagi dengan berbagai argumen.

Sayang, seluruh alasan itu tidak menutupi sakit di hati Simon saat ini. Entah mengapa, sebagian dari hatinya terasa lari dari hatinya melihat reaksi Erza akan Jellal.

"Kita lihat saja nanti.." gumam Simon pada diri sendiri yang tak dapat didengar Erza.

Beberapa jam kemudian, mobil Simon tiba di depan pagar Fairy Tail. Ia parkir di dekat pagar taman depan sekolah. Begitu mematikan mesin mobil, Simon dan Erza keluar dari dalam mobil. Kemudian Erza menuju bagasi untuk mengambil kopernya, dibantu oleh Simon.

"Terima kasih, Simon-nii." Ujar Erza setelah Simon menaruh koper Erza di tanah. Simon hanya membalas dengan seulas senyum. Kemudian Simon melongo ke pagar depan Fairy Tail dan Erza sedang menarik kopernya menuju pagar. Saat itulah, Simon melihat seorang pemuda berambut biru membuka pagar depan dan berjalan menghampiri Erza.

'Apa dia yang namanya Jellal?'

Jellal berjalan perlahan dengan memasukkan kedua tangan di saku celana panjangnya, Erza tidak menyadari keberadaan Jellal karena ia sedang mengambil tas ranselnya yang ketinggalan di dalam mobil. Setelah itu Erza kembali menutup pintu mobil dan menggeret kopernya.

"Biarkan aku yang menggeret kopermu, Erza!" ucap Simon terbirit seraya menarik koper Erza dengan kasar.

Simon mendongak pada Jellal. Pemuda berambut biru itu memandangnya dan entah kenapa Jellal sedikit berlari kepadanya. 'Heh, kesempatan untuk menunjukkan rasa perhatianmu pada Erza telah direnggut, Jellal. Jadi kau berusaha merebutnya dariku, huh?' Simon menyeringai melihat wajah Jellal yang datar itu.

"Hey, hati-hati! Kopernya-..!" seru Jellal seraya menunjuk koper yang digeret Simon.

"Awas, Simon!" tambah Erza.

KRAAK!

Simon tersandung jalan yang tidak rata. Roda koper itupun rusak karena terjungkal batu kasar. Ditambah Simon terjatuh dan menimpa koper tersebut. Jellal menghampiri Simon, begitupula Erza.

"Hey, kau baik-baik saja?" tanya Jellal pada Simon.

Simon mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab pertanyaan Jellal. Ia memalingkan wajahnya pada Erza. "Maaf, aku merusak kopermu." Ungkapnya.

Erza menoleh pada roda kopernya yang kini telah rusak. "Hm, tak apa. Lagipula ini memang koper lama dan rodanya sudah rapuh. Apa Simon-nii terluka?"

"Hah.. tidak kok tidak!" sahut Simon dengan cepat. Jellal menyipitkan matanya pada pria yang dipanggil Simon oleh Erza itu.

"Benarkah?" tanya Erza lagi.

Simon bangkit berdiri kemudian mengangkat koper Erza yang sangat berat itu. "Lihat, aku bisa membawanya. Aku tidak apa-apa!" ucapnya. Ia pun mencoba berjalan, namun ia mengerang kesakitan karena kakinya yang terkilir.

"Bung, jangan paksakan dirimu." Tutur Jellal. Koper Erza yang dibawa Simon pun diambil Jellal dan akhirnya Jellal yang menjinjingnya seolah koper itu sangat ringan.

'Sialan! Pria ini menantangku!' batin Simon.

"Wah, tidak apa-apa kau yang membawanya, Jellal?" tanya Erza.

Jellal menyempitkan matanya pada Erza. "Tidak apa. Kau papah kakakmu ini ke kamar untuk diobati kakinya." Ucap Jellal datar.

"Senangnya memiliki pembantu seperti Jellal." gurau Erza seraya menepuk-nepuk bahu kanan Jellal.

"Aku bukan pembantumu, baka!"

Pertengkaran kata kedua orang itu, entah kenapa membuat Simon sedikit merasa panas. Akhirnya ia pun dipapah Erza menuju kamar Erza dan Jellal.

Sesampainya di kamar, Simon didudukkan di sofa dan Erza meluruskan kedua kaki Simon serta melepaskan sepatunya.

"Biar aku saja yang mengurusnya, Akaishi." Tawar Jellal datar.

Erza mengangguk dan bergeser dari Simon digantikan oleh Jellal yang kemudian memeriksa kaki Simon. "Hmm, untung saja bukan terkilir parah." Tutur Jellal setelah memijit-mijit pergelangan kaki Simon.

"Mengerti apa kau soal ini?" tanya Simon dengan ketus.

Jellal menatapnya dengan tajam. "Tenang, Simon-nii. Jellal memang mengerti soal cidera. Selama ini bahkan ia yang selalu mengobati luka-lukaku, loh." Ungkap Erza yang berdiri di sebelah Simon.

"Bagaimana? Kau masih meragukanku?" tanya Jellal dengan nada menantang. Simon mengangkat kedua alisnya. Jellal mendekatkan mulutnya ke telinga Simon dan berkata, "Bahkan aku pernah mengobati luka di dadanya, loh." Bisiknya yang tak didengar Erza karena Erza sudah beranjak ke dapur untuk menyiapkan minuman.

Sontak wajah Simon langsung berubah jadi merah padam mendengar dustaan Jellal barusan. "Ja-jangan bercanda kamu!" seru Simon terperanjat. Erza menelengkan kepalanya dan mengintip kedua pria itu.

Jellal menyeringai dan kembali memijit-mijit pergelangan kaki Simon. "Ya sudah kalau tidak percaya." Ucapnya seraya tertawa-tawa kecil.

'Keterlaluan pria ini!' murka Simon dalam hati.

Begitu Simon merasa sedikit baikan, ia pun pamit dan hubungannya dengan Jellal malah semakin menjadi. Erza dan Jellal mengantarnya ke luar lagi.

"Simon-nii, terima kasih sudah mengantarku dan hati-hati di jalan." Kata Erza seraya membungkukkan badannya.

Simon tersenyum kecil. "Bukan masalah. Maaf karena aku telah merusak kopermu dan merepotkan." Ucapnya lagi sambil mendelik pada Jellal. Sang pemuda berambut biru itupun hanya menyeringai puas.

"Hati-hati. Jangan sampai tersandung lagi." Tambah Jellal.

Simon hanya mendengus. Ia pun masuk ke mobil lalu menyalakan mesin. "Begitu sampai rumah aku akan menghubungimu." Kata Simon dari jendela mobil. Erza mengangguk dengan seulas senyum.

Sesaat Simon menatap Jellal dengan tatapan tidak suka. Erza menyadari hal itu dan jadi bertanya-tanya. "Tolong jaga adikku." Kata Simon pada Jellal dengan nada rendah.

"Hmm, serahkan padaku." Usai sahutan dari Jellal, Simon melambaikan tangan dan melajukan mobilnya.

Mobil Simon pun menjauh dan kemudian menghilang dari pandangan kedua orang yang berdiang di depan pagar Fairy Tail itu.

"Dia saudaramu?" tanya Jellal menoleh pada Erza.

"Hm," Erza mengangguk. "dialah kakak Kagura."

Jellal memiringkan kepalanya. "Kakak Kagura berarti saudaramu juga, bukan?"

Erza terdiam sesaat. "Ya, begitulah." Ucapnya pelan.

"Hmm, ternyata kau memiliki banyak saudara, ya.." tutur Jellal datar. Kemudian Jellal membalik badannya dan hendak kembali masuk ke asrama. Erza pun mengikutinya. "bagaimana kabarmu?" tanya Jellal memecah keheningan di sepanjang perjalanan menuju asrama.

"Hah?" Erza yang tidak terlalu mendengarnya berbalik tanya.

Jellal menghela napas pelan. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya lagi.

Erza sedikit tercekat, tumben sekali Jellal bertanya seperti ini. "Ba-baik. Rasanya sangat menyenangkan bertemu dengan keluargaku. Bagaimana denganmu?" Erza berbalik tanya.

Pemuda berambut biru disisinya itupun mengulum senyum menawan, ia teringat pada momen malam natalnya yang dihabiskan berdua saja dengan Erza. Meski tidak terlalu lama. "Sangaaat baik." Ucap Jellal dengan nada datar. Tidak cocok sekali dengan apa yang ia katakan barusan.

"Hey, kau benar-benar sedang baik?" tanya Erza mengangkat sebelah alisnya.

Jellal tersenyum lalu refleks tangannya mengacak-acak rambut Akaishi. "Kau habis potong rambut, bukan?" tanyanya tidak menjawab pertanyaan Erza.

"Hm, begitulah. Bagaimana? Aku menjadi sangat keren dan tampan, bukan?!"

Jellal tertawa kecil. "Jadilah lebih tinggi dariku baru aku akan mengakui ketampananmu." Cibirnya seraya mengukur-ukur tinggi badan Erza yang lebih pendek dari Jellal.

Erza mendengus sebal dan Jellal jadi tambah tertawa. Tanpa diketahui Erza, Jellal memandanginya dengan dalam.

'Bodoh! Sharusnya kau bukan menjadi tampan, melainkan menjadi sangat cantik, baka!'

CHAPTER 10

Tim Dua Penyerang

Tahun ajaran baru telah digelar. Berhubung sebuah tim telah dibentuk, kelas S pun kehilangan beberapa murid dan digantikan oleh murid yang berasal dari kelas A. Entah mengapa kelas menjadi sedikit sepi karena tiga teman mereka harus pergi dari kelas S.

"Huhh, rasanya ada yang kurang ya jika tidak melihat Akaishi dan Jellal." gerumbul si Natsu yang menaruh kepalanya di atas meja.

"Karena tidak ada Akaishi, aku jadi diangkat menjadi Ketua Kelas. Menyebalkan." Gerutu Ren yang sama-sama menaruh kepalanya di atas meja.

"Huaah. Aku merindukan Hibiki!"

"Diam kau, Eve!" tegur Gajeel tidak suka.

Kita beralih pada sisi tiga orang yang kini sudah berstatus S+ itu. Mereka kini sedang berada di lapangan 2, berbaris satu baris dan menghadap Gildarts yang merupakan pelatih mereka saat ini.

"Aku yang akan bertanggungjawab penuh melatih kalian menuju Ajang Double-S Class Wizard. Aku tidak tertarik sebenarnya, tapi apa boleh buat karena Precht-sama menyerahkan tanggung jawab ini padaku." Tutur Gildarts dengan mantap. Baik Hibiki, Akaishi, maupun Jellal mendengarkan seksama dalam pose istirahat di tempat.

"Banyak hal yang harus kalian ketahui dari ajang tersebut. Ajang ini, bukanlah ajang untuk kalian bermain atau menguji kekuatan. Jadi camkan kata-kata ini dalam otak kalian..."

"Gildarts-sensei, kumohon sudahi ceramahmu ini." gerutu Jellal yang tak didengar Gildarts.

"Jellal, jangan membuat Gildarts-sensei marah!" peringat Erza dengan pelan.

Panas teriknya mataharipun menerpa tubuh keempat orang di lapangan 2 ini dan Gildarts tidak mempedulikan keringat yang bercucuran dari ketiga muridnya itu. "Mungkin kalian tidak akan mengerjakan PR dan tidak masuk ke kelas seperti sehari-hari kalian mulai saat ini. Tapi, kalian akan dilatih dengan lebih keras. Untuk belajar lebih dalam mengenai SIHIR, PERTAHANAN, STRATEGI, KECEKATAN, REFLEKS, dan yang terpenting adalah KERJA SAMA TIM!"

Ketiga anak muda di hadapan Gildarts pun diam mendengarkan Gildarts yang sedang berbicara bijak itu. "Menyatukan kekuatan sihir kalian, mengombinasikannya dan mengeluarkannya menjadi sebuah ledakan luar biasa. Itu bukanlah hal yang mudah!" Gildarts mulai meninggikan suaranya untuk menunjukkan semangat berapi-apinya.

Ia memandang satu per satu murid yang ada di hadapannya kemudian pandangannya tertuju pada Jellal. "Jellal!" serunya yang membuat Jellal sedikit tersentak.

"Ya!" sahutnya dengan lantang.

"Katakan, apa saja sihir yang kau kuasai?" tanya Gildarts. Hibiki dan Erza menoleh pada Jellal yang sedang berpikir sejenak itu.

"Altairis.. Meteor.. Grand Charriot.."

"Cukup! Sekarang Akaishi!"

Akaishi tersentak. "Sword Magic..."

Gildarts terdiam sesaat lalu mengangguk-angguk dan beralih pada Hibiki. "Hibiki?"

"Archive, Telepathy.." sahut Hibiki datar.

Gildarts mengangguk, "Semua sihir yang barusan kalian sebutkan itulah yang harus disatukan dan diubah menjadi ledakan yang luar biasa! Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan tim yang solid, dan tidak ada tim yang bisa menang jika anggotanya tidak solid."

"Kami mengerti." Ucap mereka bertiga serempak.

"Bagus! Oleh karena itu, aku telah menyusun daftar latihan wajib untuk kalian. Meliputi latihan fisik, psikologi, sihir, material, dan lain-lain. Oh ya, kita akan melakukan latihan pembukaan kita besok di Gunung Hakobe." Gildarts tertawa licik. Sedangkan Hibiki, Erza dan Jellal terperangah tak percaya.

Gunung Hakobe, gunung berapi yang tertutup salju lebat saat musim panas. Sangat dingin bahkan kereta kuda pun tak ada yang mau melewati daerah pegunungan itu. Jalan satu-satunya untuk mencapai puncaknya adalah dengan berjalan kaki atau dengan mobil pribadi.

"Sensei, apa kau tidak bercanda?" tanya Hibiki yang sudah murung itu.

"Tidak sama sekali!" cetus Gildarts yang sangat bersemangat. Ketiga muridnya pun menghela napas keras.

Usai tertawa puas, Gildarts berdeham. "Jadi, hari ini kita akan berdiskusi saja mengenai akan bagaimana Ajang Double-S Class Wizard nanti."

"Baiklah, sensei."

"Okay, jadi apakah kalian sudah punya rencana atau strategi?" tanya Gildarts yang kemudian duduk bersila di atas lapangan. Diikuti Erza, Jellal dan Hibiki.

Jellal mengangguk. "Rencananya kita akan memanfaatkan kemampuan telepati Hibiki untuk membagi informasi dan strategi satu sama lain." Ungkap Jellal.

"Hmm, begitu."

"Tapi aku memiliki pemikiran lain, sensei!" Erza mengacungkan tangannya dan mengatakannya dengan lantang. Hibiki dan Jellal pun menoleh padanya dengan heran. "Aku berpikir untuk membentuk tim dua penyerang dan satu tetap berada di belakang sebagai pengatur strategi."

Jellal dan Hibiki melebarkan kedua mata mereka. "Bagaimana mungkin tim kita bisa menang jika begitu?!" ujar Jellal penuh penekanan.

"Dengar, lawan kita kuat dan kemungkinan besar tiga-tiganya akan bertarung, Akai-kun. Dengan begitu kekuatan kita akan kalah satu orang, Akai-kun!" terang Hibiki membela pernyataan Jellal.

Erza menghela napas lalu menyeringai. "Justru karena itulah.." tuturnya. Jellal dan Hibiki menautkan kedua alis mereka. Erza menginstruksi Jellal dan Hibiki untuk mendekat kemudian mengatakan alasannya.

"Hmm, begitu. Ada benarnya juga." Komen Hibiki tersenyum kecil.

"Yosh, kita ikuti rencana Akaishi demi meraih kemenangan." Seru Jellal ikut tersenyum.

Mereka mengulurkan tangan dan menumpuk tangan mereka satu sama lain. "Hidup Fairy Tail!" sorak mereka bersemangat. Gildarts tersenyum bangga melihat semangat api yang dimiliki ketiga murid di hadapannya itu.

.

.

Keesokan harinya pun datang. Di pagi hari, tepatnya pukul lima pagi, Gildarts bersama ketiga muridnya sudah berangkat menuju Gunung Hakobe dengan mobil sedan yang disewa. Gildarts yang mengemudi, Hibiki duduk di kursi sebelahnya, sementara Jellal dan Erza yang duduk di barisan belakang.

"Hoi yang di belakang, jangan berpelukan karena kedinginan, ya!" goda Gildarts yang sukses membuat Jellal dan Erza bersemu merah. Padahal mereka sedang melihat ke jendela luar di sisi mereka.

"Hah, kau benar-benar reseh, sensei." Ujar Hibiki tertawa kecil. Gildarts hanya membalasnya dengan tawaan membahana.

Tiga jam kemudian, mereka sampai di sebuah villa kecil. Gildarts memarkirkan mobilnya lalu mereka berempatpun turun dari mobil sambil membawa barang bawaan masing-masing.

Tak ada hal lain yang dapat mereka lain selain salju. Untunglah pagi ini tidak ada badai salju, matahari pun bersinar samar di atas langit biru pekat.

Seorang wanita berkacamata keluar dari dalam villa untuk menyambut. "Selamat datang di villa saya. Udara sangat dingin ayo kita segera masuk ke dalam." Ucap wanita berkacamata itu seraya mengarahkan mereka masuk ke dalam villanya.

"Permisi.." gumam Erza, Jellal dan Hibiki begitu memasuki villa tersebut.

Wah, mereka takjub seketika. Villa ini memang terlihat kecil dan sederhana dari luarnya, namun di dalamnya sangatlah di luar perkiraan. Ada penghangat ruangan, perapian, ruang tengahnya di dominasi oleh karpet merah maroon dan cat berwarna coklat tua. Di lantai satu, terlihat lega dan sedikit perabotan, mungkin kamar tidur dan lain sebagainya ada di lantai dua.

Begitu di dalam, wanita berkacamata itu menyilakan Gildarts dan yang lain untuk duduk di sofa besar hitam yang ada di ruang tengah, lalu wanita itu pun ikut duduk di sofa single yang ada di sisi sofa besar yang diduduki tamunya.

"Perkenalkan, namaku adalah Evergreen. Kalian bisa memanggilku Ever atau apa saja. Sebenarnya villa ini milik Fairy Tail juga loh, pasti Gildarts-sensei belum memberitahukannya pada kalian, kan?"

Erza, Jellal dan Hibiki langsung menggeleng seraya menengok pada Gildarts yang sedang garuk-garuk kepala itu.

"Jadi, kau juga dari Fairy Tail, Ever-san?" tanya Erza penasaran.

"Ahh, pria manis ini. Benar, aku berasal dari Fairy Tail. Oh ya, sebenarnya Fairy Tail itu sangat besar, loh. Setelah kalian lulus dari akademi Fairy Tail, kalian bebas memilih jalan kalian sebagai penyihir masing-masing. Sebagian besar memilih untuk menjadi anggota guild." Celoteh Evergreen panjang lebar.

Erza mengangguk-angguk, sedangkan Jellal dan Hibiki sedikit enggan untuk mendengar celotehan wanita berkacamata itu.

"Ever, mengapa kau tidak memberitahuku kalau tamu kita sudah sampai?" seorang pria bertubuh besar dan berambut silver menuruni anak tangga kemudian menghampiri ruang tengah. Semua mata jadi melihat pada sosok pria itu.

"Ara-ara, aku lupa sekali memberitahumu. Nah, dia adalah suamiku. Namanya adalah Elfman." Terang Evergreen yang berdiri dan menyebelahi Elfman itu.

"Selamat datang di villa kami, penyihir muda Fairy Tail. Kalian benar-benar LAKI!" ucap Elfman dengan penuh penekanan di kata 'Laki', entah apa maksudnya.

Erza dan Jellal tercengang melihat dua pasangan tak terkira itu. "Rasanya ini lebih cocok disebut rumah daripada villa..." gumam Erza. Jellal mengangguk menyetujuinya.

Perkenalan singkat pun rasanya seperti memakan waktu sangat lama. Evergreen dan Elfman benar-benar orang yang bawel. Setelah itu, mereka menunjukkan kamar masing-masing. Karena hanya ada dua kamar tersisa, maka satu kamar diisi berdua.

"Yosh, kalau begitu Jellal tidur dengan Akaishi dan Hibiki denganku!" utus Gildarts seenaknya.

Hibiki sempat tersentak dan tidak terima. Erza dan Gildarts sudah langsung masuk ke kamar yang dimaksud dengan membawa tas bawaan mereka. Sementara untuk Hibiki dan Jellal masih tidak bergeming di dekat tangga. Hibiki menoleh pada Jellal sambil memicingkan matanya. "A-apa?" tanya Jellal bingung.

"Hah, tidak apa-apa. Hanya saja suasana di sini sungguh romantis, bukan.." kata Hibiki seraya mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai aneh.

Jellal menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Sahut Jellal datar. Ia memang benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Hibiki.

Hibiki berdeham pelan dan kembali menyeringai aneh. Ia pun mendekatkan mulutnya ke telinga Jellal. "Akaishi adalah Erza, loh. Jangan berbuat macam-macam, ya." bisiknya yang sontak membuat Jellal tercekat dan bersemu merah.

"A-aku tidak sepertimu, baka!"

Puas melihat ekspresi lucu Jellal, Hibiki pun memasuki kamarnya lalu menutup pintunya rapat-rapat. Jellal mendengus.

"Jellal, apa yang kau lakukan? Cepat masuk, aku ingin menutup kamarnya." Ucap Erza yang melongo Jellal dari daun pintu kamarnya.

"U-uh, maaf." Jellal pun meluncur ke dalam kamar.

.

.

Tiga hari di Gunung Hakobe ini memang tidak boleh disia-siakan begitu saja. Tim Fairy Tail langsung memulai latihannya. Pagi mereka akan melakukan lari keliling gunung sejauh 30 km tak lupa untuk latihan fisik lain dan juga latihan sihir mereka secara bebas. Karena daerah pegunungan ini sepi dan luas, jadi mereka bebas melakukan sihir mereka.

"Latihan untuk hari ini cukup sampai di sini!" ucap Gildarts usai latihan duel dengan tangan kosong antara Jellal dan Erza.

Erza dan Jellal pun menghentikan pertarungan mereka dan langsung terbaring di atas salju saking lelahnya. "Gildarts-sensei memang tak tahu ampun!" gerutu Jellal.

"Sudahlah. Lagipula ini menyenangkan." Ucap Erza tersenyum. Jellal menoleh pada Erza dan jantungnya mulai berdegup kencang melihat senyum itu, ia memutuskan untuk memalingkan muka. Erza bingung.

Sebuah bayangan menutupi cahaya Erza, ia pun mendongak dan dilihatnya Hibiki sedang berdiri di sisinya. "Hey, duel tangan kosong kalian benar-benar keren, loh. Ayo kita tonton bersama."

Selama latihan duel, Hibiki memang tidak ikut bertarung karena ia disuruh Gildarts untuk memperhatikan gaya bertarungnya Jellal dan Erza. Mulai dari titik lemah, kebiasaan menyerang dan hal sebagainya. Selain itu, Hibiki juga mereka latihan mereka jadi bisa ditonton untuk mengoreksi kelemahan dan kekurangan.

"Akaishi, sepertinya kau terlalu sering menyerang dari arah yang sama. Selain itu, kau sering mengulangi gerakan yang sama." Komen Jellal begitu menonton rekaman video pertarungan mereka dari komputer Hibiki.

"Hm, kurasa kau benar." Sahut Erza.

Dan seterusnya begitulah proses latihan mereka berlangsung. Belajar dari kekurangan dan terus meminimkan kelemahan mereka.

.

.

Hari Kedua.

Sang fajar telah menunjukkan peran harinya, walau matahari tidak terlalu menyilaukan di daerah gunung bersalju ini. Ketiga anak muda Fairy Tail sudah memulai latihannya sejak subuh, karena disuruh Gildarts, tetapi Gildarts masih tidur mendengkur di kamarnya.

Di tengah putihnya hamparan salju dengan langit nan cerah, tanpa badai, Erza berdiri dengan mata tertutup. Mempersiapkan diri untuk latihan duel melawan Jellal. Sedang Hibiki jauh berada di balik pohon-pohon pinus, jemari tangannya sibuk berlarian di atas tombol-tombol depan layar dari sihir Archive-nya. Sesekali ia menguap karena ia benar-benar mengantuk.

"Akaishi, kau bisa dengar aku?" tanya Hibiki dengan telepati pada Erza.

Erza mengangguk dari tempatnya dalam diam, ia dapat mendengar suara Hibiki jelas sekali di pikirannya. Inilah telepati. 'Ya, aku dapat mendengarnya, Hibiki.' Ungkap Erza melalui benaknya.

Hibiki menghela napas pelan. Setidaknya ia berhasil meraih pikiran Erza saat ini. Ia memang sedang dijadwalkan untuk latihan bekerjasama dengan Erza dan melawan Jellal. 'Dengar, Jellal berada lima kilometer darimu dan ia sedang berjalan kepadamu.'

'Apakah dia menggunakan sihir Meteor-nya?'

'Tidak. Ia hanya berjalan biasa sambil memperhatikan salju yang berjatuhan dari pohon di sekitarnya.' Ungkap Hibiki. Heh, aku dapat melihatnya dengan jelas. 'yang jelas, berhati-hatilah. Karena saat ini matamu tertutup dan tidak boleh membukanya sampai latihan selesai, jadi kau harus merasakan aura kehadirannya.'

Erza mengangguk mengerti. Ini adalah latihan kepekaan dan pertahanan yang tidak menggantungkan pada satu indera saja. Di lain pihak, Hibiki mengerutkan kening karena ada penyihir tak diketahui datang mendekati Erza dengan kecepatan penuh. "Si-siapa orang ini?! Jellal masih jauh sekali, jadi tidak mungkin Jellal..." Hibiki cemas tiba-tiba.

'Akaishi! Hati-hati di belakangmu!' peringat Hibiki.

"Terlambat!" sosok tak dikenal itu sudah berada di atas Erza, langsung mengaktifkan spell sihir dan cahaya terang yang amat menyilaukan menghujam Erza.

"AKAISHI!" seru Hibiki panik. Tangannya kembali sibuk untuk memeriksa siapa orang yang menyerang teman berambut merahnya itu. Lalu ia malah tercengang heran begitu tahu siapa orang tak dikenal tersebut. "ma-mana mungkin.."

Seseorang yang menghujamkan cahaya bintang itu adalah Jellal. Ia mendarat tepat di depan Erza dengan tersenyum puas. "Akhirnya kau kalah, Akaishi." Ucapnya dengan nada menyebalkan.

Erza terbaring di atas salju dengan lusuh, ia juga batuk-batuk. Jellal mendekat dan mengulurkan tangannya. Erza menatap Jellal sesaat, pemuda itu tersenyum kecil. "Maaf kalau sihirku barusan membuatmu kesakitan." Ucapnya. Entah kenapa Erza merasakan panas di kedua pipinya dengan melihat senyum Jellal.

Erza menerima uluran tangan Jellal dan berdiri dengan helaan napas. "Kau sungguh licik. Kau boleh menang kali ini." desahnya.

Jellal mengacak-acak rambut Erza dengan tertawa kecil. "Tenang. Aku akan selalu menang melawanmu mulai saat ini." ungkapnya yang dibalas cih oleh Erza, tapi pada akhirnya ia tertawa kecil bersama Jellal.

"Hoi! Jellal! Mengapa kau tiba-tiba bisa ada di sini tanpa terdeteksi oleh sihirku?" teriak Hibiki yang berlarian menuju dua temannya.

"Oh.." Jellal mengalihkan pandangannya pada Hibiki yang sudah ada di hadapannya itu. "yang kau lihat itu bukan aku yang sebenarnya, itu adalah Thought Projection. Alias, proyeksi yang sangat menyerupai diriku hanya untuk mengelabuhimu dan karena kau sudah berpikir bahwa itu adalah aku, jadi kau tidak kepikiran kalau aku sebenarnya sudah ada di dekat Akaishi. Begitu." Terang Jellal datar.

Hibiki mengerucutkan bibirnya karena merasa dibodohi, "Sial. Kau mengalahkan dua orang sekaligus." Ucapnya dengan menyilangkan tangan di depan dada.

"Itu tandanya kalian harus berlatih lebih keras." Jellal kembali menatap Erza dengan mata menyempit. Menyadari Jellal yang menatapnya itu, Erza tersadar. Ia memang tidak bisa menggunakan banyak sihir selama menjadi Akaishi, jadi ia harus lebih berhati-hati.

"Hoi! Kalian anak-anak muda tampan!" mereka menoleh ke sumber suara dengan serempak. Di sana ada Evergreen yang sedang berdiri di depan pintu villa seraya melambaikan tangan di udara.

Erza, Jellal, Hibiki pun menghampirinya karena bertanya-tanya ada apa. "Ada apa, Evergreen-san?" tanya Hibiki datar.

Evergreen tiba-tiba saja tersenyum jahil, lalu berdeham pelan. "Aku kehabisan kayu bakar untuk perapian. Suamiku, Elfman, sedang pergi ke kota dan tampaknya Gildarts-sensei masih tertidur pulas. Jadi, bisakah kalian mencari beberapa kayu bakar di hutan?"

Mendengar permintaan Ever, ketiganya saling menatap satu sama lain. Erza adalah orang pertama yang senang hati menerima permintaan Ever itu. "Baik, Ever-san. Kami akan ke hutan dan kembali dengan beberapa kayu bakar." Ucapnya dengan seulas senyum hangat. Seolah-olah ia bahagia dengan permintaan itu.

"Eh, Akaishi!" seru Jellal dan Hibiki tidak terima.

Di saat itu, Gildarts keluar dengan wajah kusut dan menginterupsi pembicaraan. "Hibiki, kau ikut denganku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Pintanya dengan datar. Hibiki terkejut, ia bertanya-tanya ia salah apa dengan senseinya itu.

"Cepat kemari!" tutur Gildarts lagi penuh penekanan. Hibiki pun tak bisa menolak dan ia mengangguk patuh lalu mengikuti Gildarts yang sudah masuk ke dalam villa lagi.

Jellal dan Erza sempat terdiam bingung melihat sikap Gildarts.

"Alala, sepertinya hanya kalian berdua jadinya yang ke hutan. Apa tak masalah?" tanya Evergreen dengan nada mendayu.

Erza memang masih bertanya-tanya mengapa Gildarts ingin berbicara pribadi dengan Hibiki, namun untuk Jellal, kesempatan ini tak sering datang dua kali. Ia tersenyum samar, sudah lama rasanya tidak 'berduaan' saja dengan Akaishi aka Erza ini.

"Tak masalah, Evergreen-san. Serahkan saja pada kami. Benar kan, Akaishi?" tukas Jellal dengan pertanyaan yang membuat Erza menatapnya dengan heran.

"O-oh, ya."

Apa yang akan terjadi pada dua insan ini ketika hanya berdua saja di tengah hutan?

Begitu Jellal bersama Erza sudah berbalik dan beranjak pergi, Evergreen memperingatkan sesuatu. "Jangan gunakan sihir dalam hutan! Karena itu dilarang! Jika ada penjahat atau hewan berbahaya, lebih baik kabur saja, oke?!"

Entah mengapa peringatan itu membuat Jellal dan Erza sedikit merinding.

.

.

Setengah jam lamanya mereka berjalan untuk mencapai hutan dekat pegunungan Hakobe. Hutan ini memang terlihat sangat gelap, terlebih pepohonannya basah dan lembab karena selalu tertutupi oleh salju. Meski demikian, masih ada beberapa kayu-kayu dan ranting yang dapat dipergunakan sebagai kayu bakar untuk perapian.

Erza dan Jellal memungutinya satu per satu ranting juga dahan yang telah jatuh ke tanah lalu mengikatnya jadi satu dengan kain panjang.

"Kurasa ini sudah cukup. Sekarang kita kembali, Jellal." ucap Erza sambil bersiap untuk mengangkat seikat besar kayu.

Jellal menghampiri Erza dan membantunya mengangkat kayu tersebut. Mereka pun beriringan menuju villa yang sebenarnya cukup jauh. Udara dingin pun terasa menusuk siang ini, membuat Jellal dan Erza enggan untuk berbicara banyak.

Sepanjang perjalanan mereka pun membungkam, tak terasa mereka sudah keluar dari hutan dan kurang lebih dalam waktu 15 menit lagi mereka sampai villa. Namun, tiba-tiba sebuah angin besar menyerbu udara di sekitar. Salju berarak liar dengan kencang. Jellal dan Erza pun kesulitan berjalan.

"Badai salju..." tutur Erza seraya menutupi depan wajah dengan tangan sebelahnya yang bebas.

Jellal menoleh pada Erza dengan cemas, "Ya, kau benar. Hati-hati, Akaishi.." ucapnya mengingatkan. Langkah kaki mereka pun melambat dan mereka tidak sempat mengeluh akan cuaca siang ini. Badai memang tidak bisa ditebak datangnya. Di saat yang tak menguntungkan seperti ini, dua ekor monyet putih raksasa menghalangi jalan mereka.

"Hwaaaa-..!" Erza dan Jellal melompat kaget, terlebih kedua monyet raksasa itu berjingkrak-jingkrak seraya bersuara keras.

Jellal mendecih, betapa sialnya hari ini. Ia kembali menoleh pada Erza yang belum lepas dari keterkejutannya. "Akaishi..." gumam Jellal yang dapat didengar Erza.

Erza pun menoleh pada Jellal dan menatap kedua mata pemuda itu dengan heran.

"Sepertinya ini adalah latihan babak kedua untuk kita." Ungkap Jellal dengan tersenyum samar. Dalam nadanya terselip nada kecewa karena suasana yang tidak berpihak padanya hari ini.

Erza pun balas tersenyum lebar. Setidaknya senyuman itu membuat Jellal sedikit bersemangat. "Yosh, ayo kita hajar mereka, Jellal!"

Jellal kembali tersenyum lebar, "Yosh!"

Kedua penyihir muda itupun menaruh kayu-kayu bakar untuk sesaat dan segera berlari ke depan untuk menghajar kedua monyet raksasa yang menghalangi jalan mereka.

.

.

Mereka memang penyihir, tapi karena takut akan peringatan Evergreen, kedua manusia itu tidak menggunakan sihir sama sekali. Yah, hitung-hitung untuk melatih kekuatan fisik dan stamina mereka.

Kedua monyet raksasa tadi pun kabur dan badai salju berkekuatan sedang pun sudah usai. Kini, matahari mulai menyelipkan cahayanya di antara awan-awan pekat di atas langit gunung Hakobe.

Erza dan Jellal tersenyum puas, pertarungan kecil mereka barusan mungkin terdengar lucu – melawan monyet raksasa. Mereka pun kelelahan sampai berbaring terlentang di atas salju yang putih.

Baik Erza maupun Jellal sama-sama menghadap bentangan langit putih yang amat luas.

"Monyet itu sangat menjengkelkan, bukan?" ujar Jellal membuka pembicaraan. Matanya tetap menatap langit, tanpa dialihkan pada Erza.

Begitupula Erza. "Hn. Benar-benar menjengkelkan. Tapi, dengan mengalahkan mereka akhirnya badai berhenti." Balas Erza dengan tersenyum tipis. Jellal juga ikut mengulum senyum kecil.

Mereka pun kembali terdiam untuk beberapa saat, dengan pemandangan langit polos di kedua mata mereka. Langit yang sangat jauh sekali untuk dijangkau. Erza dulu sempat berpikir, seperti itulah perasaannya untuk menjadi seorang penyihir. Ia mengira, menjadi seorang penyihir hanyalah angan-angan belaka. Namun, mengingat sekarang ia berada di Fairy Tail, bertemu Jellal dan membentuk tim bersamanya juga Hibiki, ini pasti adalah campur tangan takdir dan keajaiban.

"Aku sama sekali tak menyangka, pada akhirnya menjadi seorang penyihir Fairy Tail. Oleh karena itu, aku tidak akan menyerah dan akan selalu berusaha keras untuk menjadi penyihir Doble-S Class." Perkataan Jellal yang pelan dan mendalam, membuyarkan pikiran Erza. Gadis itu pun menoleh ke samping dan menatap Jellal yang juga telah menatapnya itu. Erza sedikit terperangah melihat Jellal yang tersenyum padanya.

'Jellal belakangan ini lebih sering tersenyum..' ungkap Erza dalam hati.

"Jika aku gagal menjadi penyihir kelas SS, maka aku akan meninggalkan Fairy Tail... untuk selamanya.."

Erza merasakan sakit di dadanya dengan mendengar perkataan itu, seolah ia dapat merasakan bagaimana perasaan Jellal.

Pemuda berambut biru itu pun bangkit dan terduduk di atas salju, Erza pun mengikutinya dan menatap Jellal yang sendu itu dengan prihatin. "Jellal..."

"Awalnya aku memang menganggap Fairy Tail sebagai tempat pelarianku, tapi kini aku menyadari Fairy Tail adalah keluargaku. Jadi, aku mengikuti ajang Double-S Class Wizard itu bukan demi ayahku atau diriku sendiri.. tetapi untuk Fairy Tail..." perkataan Jellal menggantung dan ia menatap Erza yang ada di sebelahnya sebelum melanjutkan.

Dilihatnya Erza yang terdiam dengan wajah bertanya-tanya. Jellal tersenyum tipis. Sebelah tangannya meraih dagu Erza dan mengusapnya pelan dengan jemarinya. "dan juga untukmu.. Akaishi.."

Deg!

Gejolak di dada Erza pun kembali bergemuruh, seperti suara gendang yang bertabuh pada saat perang. Wajahnya memerah, sangat merah, terlebih saat senyum hangat itu terukir di wajah tampan milik Jellal.

'Oh-.. perasaan apa.. ini..?' batin Erza.

Perkataan dan sikap Jellal membuat gejolak aneh pada Erza. Meski demikian, Erza tidak terlalu memikirkannya dan memilih untuk melihat ke depan.

Hari-hari yang tersisa memang tidak banyak. Tim Fairy Tail ini memanfaatkannya dengan baik. Belajar, berlatih, dan berjuang setiap hari.

Dan hari yang ditunggu-tunggu pun sudah di depan mata. Di bulan Juli ini, Erza bersama Jellal dan Hibiki akan mewujudkan cita-citanya dan tujuan mutlaknya...

Mengalahkan Laxus!

CHAPTER 10 END!

Jellal: Terima kasih untuk dukungan, motivasi, dan kesetiaan membaca cerita My Lovely, Scarlet ini! Dukungan, review, fav kalian sangat berguna bagi author sok sibuk ini! Nantikan babak pembuka yang penuh keanehan di chapter depan!

Hibiki: Semoga para reader tidak bosan dengan kisah petualangan kami! Dan jangan lupa untuk marahi dan serbu Author Karu yang sudah lama minggat!

Erza: Dukung kami untuk menjadi juara, ya! Jaa ne~

.

Apakah Tim Fairy Tail akan berhasil memenangkan ajang Double-S Class Wizard tahun ini? Atau mereka harus mengulang lagi tahun depan? Silakan ikuti chapter ke depannya!

Untuk beberapa chapter depan, akan menjadi chapter khusus Double S-Class Wizard. Sampai bertemu di chapter selanjutnya~!

Chapter 11 – Double-S Class Wizard Chapter 1: Scarlet Letter!