.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo

.

A/N:

Wah wah, maaf ya baru update. Karena kebanyakan main jadi lupa update, gomen. Hehe. Sebelumnya, Karu mengucapkan terima kasih lagi untuk yang masih mengikuti MLS sampai detik ini! Bahkan ada yang baru saja ngefav & follow, terima kasih terima kasih! Okey, tidak usah basa-basi lagi...

HAPPY READING! ^O^

.

Hari yang dinanti-nantikan bagi Erza, Jellal, Hibiki dan juga para reader (?) pun tiba!

Para peserta ajang Double-S Class Wizard ini pun sudah berkumpul di kota Crocus dan mulai menyiapkan diri masing-masing untuk mengikuti ajang yang akan dimulai esok hari.

Kurang lebih ada 20 sekolah yang ikut tahun ini dan yang sudah diakui kekuatannya setiap tahunnya antara lain, Sabertooth, Quatro Cerberus, Raven Tail, Phantom Lord dan sang juara-absolut dari SMHS (Special Magic High School).

Tim Fairy Tail dengan kekuatan dan aura baru di tahun ini pun membuat banyak tim dari sekolah lain bertanya-tanya. Seperti contohnya saja tim dari sekolah Quatro Cerberus yang terkenal akan motto-nya 'Wild Four' itu.

"Heh, Fairy Tail ikut serta tahun ini? Haha! Mana mungkin mereka punya kesempatan! Terakhir mereka ikut serta saja sudah kalah telak!" ucap Rocker, salah satu anggota tim S+ dari Quatro Cerberus.

"Betul! Betul! Peri yang sudah tidak bisa terbang apa gunanya berada di sini!" tambah anggota lainnya yang diketahui bernama Warcry.

"Baka! Jangan meremehkan orang lain semudah itu!" cetus anggota satunya yang kini sedang minum sake sambil mabuk-mabukkan itu. Tak salah lagi, dia bernama Bacchus. Penyihir Quatro Cerberus yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai 'Penyihir Elang Pemabuk Muda' dari Dewan Sihir.

Lalu, sang Kepala Sekolah bernama Goldmine pun berdeham di antara mereka kemudian ikut menanggapi, "Kudengar Jellal Fernandes juga ikut berpartisipasi dalam ajang ini. Sebaiknya kalian jangan lengah, yo!" ucapnya sambil menghela napas.

"Apa Jellal sehebat itu?!" tanya Rocker.

"Aku memang pernah mendengar rumor tentangnya yang katanya adalah putra dari petinggi dewan sihir, Siegrain Fernandes.." timpal Bacchus.

"Siegrain Fernandes?!"

"Sudah-sudah!" tukas Goldmine menghentikan gosip murid-muridnya itu, "daripada memikirkan sekolah lain, lebih baik memikirkan diri kalian sendiri. Mengerti?!"

"YA! Wild Four!" pekik mereka, mulai deh meneriakkan kata-kata aneh itu.

Beralih pada tim Sabertooth yang memang adalah rival abadi Fairy Tail.

"Cih, jadi Akaishi ikutan di ajang ini, ya? Kukira dia sudah mati! Kupastikan akan kubuat dia malu habis-habisan kali ini!" ucap Sting dengan seringaian lebar.

"Sudahlah, Sting. Jangan terlalu berambisi pada Akaishi saja! Lawanmu bukan hanya dia, tahu!" timpal Rogue.

Rufus mendengus, "Aku memang tidak pernah punya ingatan Fairy Tail menang dalam ajang Double-S Class Wizard ini. Mereka hanya ingin pamer gigi saja kurasa.."

Kemudian kita beralih lagi kepada tim Phantom Lord yang juga rival dari masa bebuyutannya Fairy Tail..

"Huhu, Fairy Tail akhirnya muncul tahun ini, menyedihkan-menyedihkan!" ujar sang penyihir berpenutup mata dan entah kenapa selalu menangis itu. Namanya Aria, yang dikenal sebagai salah satu dari Element 4-nya Phantom Lord.

Lalu, Boze pun ikut menimpali, "Tim Fairy Tail tahun ini memang cukup mengejutkan. Bukan hanya putra Siegrain-sama, tapi juga Akaishi dan Hibiki!"

"Memang apa yang hebat dari dua orang yang terakhir?" tanya anggota lainnya. Namanya Totomaru.

"Buaka!" seru Boze berlebihan, "kau tidak tahu Hibiki? Dia adalah model dan berturut-turut menjadi peringkat satu di 'Penyihir yang ingin kau jadikan pacar' sepanjang tahun ini! Dan Akaishi adalah 'Penyihir yang ingin kau jadikan pacar' peringkat tiga setelah Jellal!"

Baik Totomaru dan Aria pun membatu heran. Mereka baru menyadari, temannya yang bernama Boze ini taunya suka mengikuti hal seperti itu.

"Tim Kelas S+ Fairy Tail hanyalah berisi 'Penyihir yang ingin kau jadikan pacar'! Bukanlah yang harus kalian takuti! Tiga orang itu harusnya ada di ajang Asian Top Model, bukan di sini. Hahaha!" cetus Jose sang kepala sekolah dengan tidak jelas. "pemuda tampan bak pangeran seperti mereka tidak mungkin sekuat pemuda preman bak siluman seperti kalian!" tambahnya.

Ketiga muridnya itupun terdiam. Mereka tidak tahu, harus sedih atau senang dengan ungkapan kepala sekolahnya barusan.

Pada malam sebelum harinya ajang Double-S Class Wizard, jajaran dekat istana dipenuhi dengan stand bazaar makanan dan berbagai hiburan. Selain itu, band Oracion Seis juga ikut meramaikan malam ini dengan lagu-lagu mereka.

"Hoi, Jellal! Malam ini Oracion Seis akan menggelar penampilan di dekat istana, loh!" seru Erza seraya menghampiri Jellal yang sedang serius membaca aturan-aturan untuk kompetisi besok pagi.

Jellal mendongak pada Erza yang sedang tersenyum lebar dengan Hibiki di belakangnya. Oracion Seis? Entah kenapa Jellal jadi biasa saja mendengar nama itu.. di saat mengingat nama itu, Jellal malah teringat saat ia sakit dan Erza merawatnya. Tiba-tiba kedua pipinya merasa panas dan mengalihkan pandangannya kepada buku aturan.

"Aku dan Akaishi berencana ingin menontonnya. Penampilan mereka dimulai setengah jam lagi. Jadi kau mau ikut tidak?" tanya Hibiki.

Jellal menghela napas, lalu menaruh buku yang cukup tebal itu di atas meja sebelum akhirnya ia bangkit dari kursinya. "Te-tentu saja aku ikut!" balasnya kemudian, 'tak kubiarkan kau berduaan dengan Erza!' tambahnya dalam hati.

Akhirnya mereka bertiga pun berjalan bersama ke tengah kota dekat istana Fiore. Kawasan istana memang sangat luas, oleh karena itu ajang Double-S Class pun juga diadakan di istana. Oh ya, memang benar kediaman untuk Dewan Sihir ada di Istana Era, yang terletak di kota sebelah kota Crocus. Kota itu seluruhnya adalah bagian Dewan Sihir dan dianggap sebagai kota suci, oleh karena itu hanya penyihir resmi dan petinggi Dewan Sihir saja yang boleh mendatangi kota tersebut.

Suasana sudah ramai oleh lautan manusia begitu mereka sampai di panggung Oracion Seis. Mereka hanya dapat melihat penampilan Oracion Seis itu dari kejauhan.

"Yo! Minna! Bertemu lagi dengan Oracion Seis! Sebelum memulai, kami akan memperkenalkan diri kami lagi. Ada aku yang merupakan vokalis utama, Midnight, yey! Dan sang gitaris yang luar biasa cepat, Racer! Juga sang drummer dengan indera pendengaran yang sangat tajam, Cobra! Dan pemain keyboard manis kami yang adalah bintang tamu malam ini, Angel!"

Seruan perkenalan dari sang Midnight itupun mendapatkan respon sangat meriah dari penontonnya. Oracion Seis memang sudah sangat terkenal di Fiore. Padahal personilnya masih muda-muda, tapi mereka sudah tampil di sana sini dan dikenal banyak orang. Bukan hanya anak remaja yang tahu Oracion Seis, bahkan orang tua dan kakek-nenek pun tahu karena mereka sering menyanyikan lagu-lagu nostalgia dengan gaya mereka yang sangat khas.

"Untuk pembukaan, akan kami nyanyikan lagu rock dari sang legendaris, 'Bohemian Rhapsody by Queen!'" sorakan dan tepuk tangan dari ratusan penonton pun kembali terdengar. Suasana menjadi sangat berisik. Sedang Erza dkk hanya duduk di pohon terdekat seraya menyaksikan grup band itu dalam diam.

Begitu sang vokalis dan anggota lainnya bersiap untuk bernyanyi, penontonpun diam dan serius menyaksikan.

'Is this the real life?

Is this just fantasy?

Caught in a landslide no escape from reality.

Open your eyes, Look up to the sky and see

Anyway the wind blows doesn't really matter to me...

To me...'

"Mereka membukanya dengan cukup baik." Komen Hibiki. Kemudian ia menyesap minuman dingin yang baru saja ia beli di salah satu stand. Hibiki juga membelikannya untuk Jellal dan Erza, ia memberikannya pada dua orang itu.

"Terima kasih." Balas Erza dan Jellal dengan menerima minuman dari Hibiki.

Pemuda berambut pirang itu kembali duduk di sebelah Erza dan menyaksikan penampilan Oracion Seis dengan seksama. "Katanya kau penggemar Oracion Seis ya, Jellal?" tanya Hibiki yang menoleh pada Jellal.

Jellal menoleh kepada Hibiki sekilas dan kembali menatap ke depan. "Hn, begitulah. Sebenarnya aku hanya menyukai lagu-lagu yang mereka nyanyikan." Tambahnya mengoreksi.

"Ooh.." sahut Hibiki.

"Itu loh! Jellal paling suka lagu The Beatles!" timpal Erza dengan nada riang.

"Hoh, The Beatles?"

"Aku juga hanya menyukai salah satu dari lagu The Beatles. Tidak menyukai seluruhnya.." koreksi Jellal lagi.

Hibiki dan Erza pun menatapnya dengan bingung. Ada apa dengan pria ini. Hibiki menghela napas dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

"Akaishi, tapi.. mengapa Oracion Seis berbaik hati sekali nyanyi di sini hanya untuk memeriahkan malam sebelum ajang Double-S Class Wizard? Kerajaan tidak mungkin mengundangnya secara pribadi, bukan?" tanya Jellal sekaligus. Sebenarnya ia sudah penasaran daritadi.

Erza menoleh kepada Jellal dan hendak menjawab dengan ragu. "Hmm, sebenarnya.. Tiga dari Oracion Seis itu juga penyihir S+ yang akan ikut dalam ajang Double-S Class Wizard esok hari." Terang Erza datar.

"Hehh?" Jellal terkejut setengah mati. Ia sama sekali tidak kepikiran akan hal itu! Oracion Seis? Penyihir?! "Kau sungguhan?"

Hibiki dan Erza mengangguk bersamaan.

"Ta-tapi, mereka dari sekolah mana?" tanya Jellal dengan mata membulat dan hampir saja gelas minuman di tangannya terlempar karena gerakannya.

Lagi-lagi, Hibiki dan Erza ragu untuk mengatakannya. Mereka bertatapan sesaat lalu kembali menatap Jellal, "Sekolah unggulan nomor satu.. Si juara absolut.. Special Magic High School.."

JRENG!

Tim Penyihir S+ dari Special Magic High School: Midnight, Racer dan Cobra! Adalah lawan yang harus dihadapi Fairy Tail untuk menjadi penyihir kelas SS!


CHAPTER 11

Double-S Class Wizard Chapter

[1]

'Scarlet Letter'


[Crocus, Pukul 09.00 Pagi]

"Yo! Berjuanglah kalian!" Sontak Erza, Jellal dan Hibiki menoleh pada sumber suara. Baru saja mereka akan memasuki area istana, lalu ada suara orang yang tidak asing berseru pada mereka..

Mata ketiganya pun membulat tak percaya akan sosok yang mereka lihat.

"NATSU!" seru mereka bertiga serempak.

"Yo!" balasnya seraya tertawa keras. Di sebelahnya ada Gildarts yang juga ada Precht dan juga seorang anak gadis berambut biru panjang.

"Apa yang kau lakukan di sini, baka?!" tanya Jellal yang langsung menghampiri Natsu dengan wajah tak percaya.

Natsu kembali cekikikan, "Entahlah! Awalnya aku hanya ingin menemui adikku ini.." ucapnya seraya mengenalkan gadis berambut biru di sebelahnya.

"Halo, namaku Wendy. Salam kenal.." ucap adik Natsu itu dengan sopan.

"Salam kenal, Wendy!" sahut Erza dengan tersenyum. Begitupula Hibiki.

Lalu Gildarts berdeham dan melanjutkan, "Setelah itu mereka langsung menemuiku dan Precht-sensei di sini." tambahnya datar.

"Tepat! Karena rumahku tidak jauh dari sini." terang Natsu lagi.

"Hoh, memang sekolah sedang diliburkan, sensei?" tanya Jellal penasaran.

Precht mengangguk pelan lalu memalingkan wajah, "Yah, begitulah." Ucapnya.

"Curang sekali!" seru Jellal tidak terima.

Erza kemudian menghampiri Natsu, "Dimana Gray dan Loke dan Gajeel?" tanyanya ikut penasaran.

"Entahlah! Mereka ada urusan di asrama katanya. Oh Eve dan Ren juga katanya ada urusan kelas. Jadi tidak bisa kemari. Hehe." Sahut Natsu dengan santai. "tapi jangan khawatir! Hanya aku sebagai supporter kalian sudah cukup kok! Benar kan sensei?"

"Yeah, lakukan sesukamu." Sahut Precht dengan melipat tangannya di dada. Usai menanggapi Natsu ia menoleh pada tiga penyihir kelas S+ nya, "Kalian.. berjuanglah. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Lakukan semampu kalian, yang terpenting adalah usaha keras kalian, mengerti?!"

"Ya, sensei!" sahut Erza, Jellal dan Hibiki serempak.

Gildarts ikut menambahkan, "Kalian adalah tim Fairy Tail setelah lima tahun terakhir Fairy Tail mengikuti ajang ini. Aku memang berharap besar pada kalian, tapi aku juga tidak boleh memaksakan keinginan egoisku. Yang penting, jangan sia-siakan hasil latihan panjang yang telah kalian jalani!"

"Mengerti, sensei!" sahut mereka lagi dengan serempak.

"Aku berdoa untuk keberhasilan kalian, Fairy Tail!" tambah Wendy menyemangati.

"Yosh! Jangan berbuat hal yang memalukan, Jellal!" cetus Natsu seraya nyengir.

"Aku tidak seperti dirimu, baka!" timpal Jellal marah-marah.

Usai percakapan singkat, mereka pun masuk ke dalam istana seraya melambaikan tangan kepada Precht, Gildarts, Natsu dan juga Wendy.

Penyihir dari masing-masing sekolah berbaris di lapangan terbuka sesuai dengan intruksi. Kebetulan Tim Fairy Tail kedapatan barisan paling depan dan menempati bagian tengah lapangan.

Erza yang berbaris di depan, lalu Jellal baru Hibiki di belakangnya. Sebagai satu tim dari Fairy Tail, mereka diberi seragam oleh Precht berupa atasan berkerah lengan panjang yang menjuntai hingga lutut menyerupai jubah berwarna biru tua dan di masing-masing bagian punggung serta dada kiri mereka tertera logo Fairy Tail yang berwarna kuning keemasan. Dipadankan dengan celana panjang berwarna abu-abu muda yang seukuran dengan kaki masing-masing juga sepatu boots hitam.

Hampir semua peserta memandangi barisan Fairy Tail itu dengan mengernyitkan dahi. Memang benar mereka meremehkan Fairy Tail, tapi kenapa dengan melihat tiga orang Fairy Tail tersebut sedikit mengintimadasi beberapa dari mereka.

"Cih, percaya diri sekali mereka!" gumam Sting tidak suka.

Berbeda sekali dengan penyihir dari SMHS yang berbaris di sebelah barisan Fairy Tail – Midnight yang baris paling depan (berarti di sebelah Erza), lalu di belakangnya Cobra dan Racer – entah mengapa mereka malah tersenyum ramah pada Fairy Tail.

"Hai, Akai-kun. Selamat berjuang, okey? Jangan memaksakan dirimu, okey?" ucap Midnight dengan nada aneh. Jellal dan Hibiki yang mendengar hal itu entah kenapa jadi naik darah dan ingin sekali menempeleng kepala Midnight agar jauh-jauh dari Erza.

"Tidak usah sok perhatian pada teman kami!" cetus Jellal tidak suka. Hibiki pun menyahuti untuk mendukung perkataan Jellal.

"Oi-oi, kita hanya mencoba bersikap ramah, tahu!" balas Racer ikutan tidak suka.

Cobra mendengus, "Lagian, Midnight hanya tertarik dengan sihir yang dimiliki oleh pemuda merah bernama Akaishi ini. Tidak tahu dia lihat dimana, tapi katanya sihir pedang Akaishi itu sangat menakjubkan." Timpalnya dengan datar.

"Oho, aku juga sering lihat kau dan juga kau!" kini Midnight menunjuk Jellal dan Hibiki bergantian, kedua orang yang ditunjuk pun tercekat karena kaget. "berbulan-bulan masuk majalah sebagai 'Penyihir yang ingin dijadikan pacar' kalau tidak sebagai 'Pangeran Populer dari Fairy Tail'. Sejak saat itu aku berpikir Fairy Tail hanya memiliki pemuda-pemuda berkelas yang hanya bisa berpose memamerkan wajah di muka umum.."

"APA KATAMU?!" seru Jellal dan Hibiki serempak. Erza susah payah menahan mereka agar tidak menyerang ketiga murid SMHS begitu saja.

"Hei, tenanglah kalian!" ucap Erza yang mulai kewalahan.

Ketiga orang dari SMHS itupun tertawa keras. "Yah, tapi bukan berarti kami meremehkan kalian. Kami berharap kalianlah yang akan menjadi lawan kalian di final nanti." Ungkap Midnight lagi. Meski senyumnya masih terkembang, namun nada bicaranya sama sekali bukanlah bergurau.

Jellal, Hibiki dan Erza pun tercengang mendengar itu. Ternyata penyihir SMHS tidak seburuk yang mereka kira. "O-oh, ya. Terima kasih.." ucap Erza dengan mengangguk kecil.

BABAK PENYISIHAN TAHAP PERTAMA DIMULAI!

Seorang pria tinggi berkacamata berdiri di podium depan dengan sangat berwibawa. Beberapa pengawal menemaninya dengan berdiri di belakangnya.

"Namaku Lahar, Ketua sekaligus Pengawas Utama Babak Penyisihan ini. Langsung saja ke intinya, satu kelompok akan mendapatkan satu gulungan kertas yang memiliki isi yang berbeda antarkelompok yang lain. Tugasnya mudah, kalian hanya perlu menjalankan tugas berdasarkan apa yang tertera di gulungan itu. Ada pertanyaan?"

Setelah menunggu beberapa detik dan mengedarkan pandangan pada seluruh lapangan Lahar kembali berbicara, "Kalian memiliki waktu selama satu jam untuk babak ini. Dan 10 kelompok tercepatlah yang lolos babak ini. Areanya meliputi hutan dalam istana." Lahar menunjuk hutan yang tidak terlalu rimbun di dekat lapangan itu. "Segala macam sihir boleh dilakukan asal tidak untuk menyakiti penyihir dari tim lain. Dan kalian baru dapat membuka gulungan itu setelah keluar dari area lapangan ini. Begitu kalian sudah menyelesaikan tugas masing-masing, antar hasil tugas kalian itu ke petugas yang ada di lapangan ini dan poin akan diinput secara otomatis. Bagi yang melanggar aturan akan langsung didiskualifikasi. Okey, petugas silakan bagikan gulungan kertasnya!"

Pengawal yang berdiri di belakang Lahar pun berlarian dan membagikan gulungan kertas kepada masing-masing kelompok. Begitu Lahar sudah memastikan seluruh kelompok kebagian gulungan kertas, ia melihat jam tangannya dan berseru. "Babak Penyisihan Double-S Class Wizard dimulai sekarang!"

Peserta pun berlarian menuju dalam hutan. Masing-masing kelompok berkumpul dan membuka gulungan kertas itu begitu sudah di dalam hutan.

"Cepat buka, Akai-kun." Ucap Hibiki yang tak sabaran.

"Sabar sedikit, Hibiki." Celetuk Jellal.

Erza pun membuku gulungan kertas itu dengan perlahan dan hati-hati. Gulungan itu berupa kain beludru dengan kertas tebal yang dijahit di dalamnya. Begitu dibuka...

JRENG!

Mulut ketiga orang itu terbuka setengah karena heran, tercengang, dan panik. "Apa maksudnya ini?!"

Bahkan untuk seorang yang terkenal pintar seperti Hibiki pun mengaku tidak mengerti akan gulungan kertas itu.

Kertas kosong yang tidak berisi apa-apa!

"I-ini hanya kertas kosong! Apa yang harus kita lakukan?" ujar Jelall tidak percaya.

"Hibiki, apa kau mengerti maksud dari ini?" tanya Erza.

Hibiki menaruh jarinya di bawah dagu untuk berpikir sejenak. "Aku belum tahu maksudnya." Kemudian ia mengaktifkan sihir Archive-nya untuk mencari informasi, "tidak ada data yang pernah memuat tentang hal ini juga.." tambahnya seraya menghela napas.

Jellal dan Erza ikut menghela napas.

"Bagaimana ini.." gumam Erza yang mulai cemas tidak dapat memecahkan teka-teki ini.

"Mungkin kelompok lain juga sama bingungnya seperti kita. Jadi tidak usah khawatir, Akaishi. Kita pasti dapat memecahkannya!" ujar Jellal menyamangati. Mendengar itu Erza sedikit percaya diri.

"Ya, kita pasti bisa!" sahut Erza seraya tersenyum lebar.

Hibiki mendecakkan lidah sambil menyipitkan mata pada Jellal dan pemuda biru itu pura-pura tidak melihat Hibiki. "Um, Akai-kun, aku pinjam sebentar kertasnya."

Erza menyerahkan gulungan kertas itu pada Hibiki. Kemudian Hibiki menerawang, mencium, mengelus-elus permukaan kertas itu siapa tahu menemukan jalan keluar.

"Bagaimana?" tanya Jellal yang sudah menanti-nanti.

Hibiki menaikkan bibir bawahnya ke atas seraya menyipitkan mata, "Kertas ini kertas tahan air.. dan mengapa harus dijahit di atas kain beludru yang sudah jelas menyerap air seperti ini.." ungkapnya tidak mengerti.

"Kurasa kainnya hanya untuk hiasan agar terlihat indah." Timpal Erza menebak-nebak.

"Hm, bisa jadi sih seperti itu.." tambah Jellal.

Dan di saat mereka sedang berpikir keras, sebuah tangan tiba-tiba saja muncul lalu melempar gulungan kertas ke dalam danau terdekat. Ketiga Fairy Tail terkejut setengah mati, Erza segera berlari ke danau untuk mengambil gulungan kertas itu lagi. Hibiki dan Jellal menoleh kepada pemilik tangan kurang ajar itu.

Yang tak lain dan tak bukan adalah Sting!

"Hoo, kalian tidak akan lulus babak penyisihan ini dengan mudah, peri berekor!" katanya dengan wajah menyebalkan. Di belakangnya ada Rogue dan Rufus yang cekikikan.

"KAU!" Jellal mulai mengaktifkan sihirnya dan cahaya bintang terang sudah menyelubunginya.

"Jellal! Hentikan!" cetus Hibiki seraya menahan Jellal.

Sting dan temannya pun pergi begitu saja usai tertawa terbahak-bahak dengan puasnya.

"Kalian mencari musuh yang salah, Sabertooth!"

Kemarahan Jellal di babak penyisihan ini akankan menjadikan hal yang baik, atau hal yang buruk?

.

.

Jellal dan Hibiki yang sudah lelah hati pun memilih untuk duduk di tepi danau seraya memandang langit di atas mereka dengan pasrah. Gulungan kertas mereka sudah masuk ke sungai, basah dan tak ada gunanya. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Erza berlari kecil kepada dua temannya dengan menggenggam gulungan yang sudah basah kuyup seperti dirinya. Yeah, Erza sampai rela berenang di danau hanya untuk meraih gulungan kertas itu kembali.

Melihat si Scarlet yang basah kuyup dan berlari kecil, Jellal dan Hibiki menoleh kepadanya dengan heran. Lebih-lebih saat melihat Erza malah tersenyum lebar kepada mereka.

"A-ada apa, Akaishi?" tanya Jellal heran.

Hibiki pun demikian. Erza ikut duduk lalu menunjukkan gulungan kertas yang sudah basah itu kepada dua temannya. "Lihat!" Hibiki dan Jellal melihat kertas itu sejenak, lalu kedua mata mereka membulat secara bersamaan. Kertas yang tadinya kosong itu, kini sudah ada tulisannya berkat terendam air. Terima kasih kepada Sting.

Jellal pun bersorak senang dan langsung membaca pesan dalam kertas itu dengan seksama.

'Tangkap sepuluh ikan terbang yang ada di jurang dalam hutan!'

Jellal meraih gulungan kertas itu dan mengantunginya di saku. "Yosh! Ayo kita jalankan tugasnya dengan cepat!" mereka pun berlari menuju jurang yang dimaksud. Tanpa disadari, ada tiga pasang mata mengawasi mereka.

"Oohh, peri-peri itu sudah mulai menjalankan misinya, ya." ucap salah satu orang pengintai misterius itu.

"Hoho, kita pun jangan sampai kalah dengan mereka..." ucap yang lainnya seraya menyeringai ngeri.

"Ehem, sedikit sulit melawan mereka secara langsung. Bagaimana kalau kita menyingkirkan salah satunya? Si penyihir pedang, Akaishi itu sedikit menyilaukan mataku.." tambah yang satunya lagi yang kemudian menyeringai lebar pada Akaishi.

Siapa gerangan tiga orang misterius ini?

.

.

Menangkap ikan terbang memang tidak semudah yang dikira meski jumlahnya sangat banyak di jurang dalam hutan ini. Susah payah menangkapnya, namun pada akhirnya mereka dapat menangkap sepuluh ekor dalam waktu dua puluh menit.

Usai mengelap keringat lelah, ketiga Fairy Tail itupun langsung berlari menuju lapangan. Masing-masing membawa ikan terbang di kedua tangan mereka. Meski lelah, namun wajah mereka menyiratkan kepuasan karena dapat menyelesaikan tugas dengan lancar.

"Biar tahu rasa si Sting! Mau berbuat jahat malah itu membuat kita mudah menyelesaikan tugas babak penyisihan ini!" cetus Jellal seraya tertawa licik.

"Heh, sudah jangan bangga seperti itu dulu.." ucap Erza mengingatkan.

Jellal hanya mendengus.

Perjalanan mereka memang tidak terlalu jauh, namun sedikit menyulitkan karena banyak semak belukar yang menghalangi. Belum lagi akar-akar gantung dari pohon beringin dalam hutan ini.

Di saat itu, ketiga orang misterius beberapa saat lalu mulai meluncurkan aksinya!

"Sampai jumpa, rambut api!" salah satunya memanahkan anak panah dari atas pohon beringin tepat ke arah Erza. Anak panah tersebut melesat cepat membelah angin dan...

Jellal menyadari keberadaan anak panah itu, refleks langsung mendorong Erza dan melindungi gadis yang ia sayangi.

SAAT! JLEP! BRUK!

Salah satu Fairy Tail tumbang ke tanah!

Jellal Fernandes, mengerang kesakitan di lengannya akibat panah yang diluncurkan oleh orang misterius! Ia pun segera mencabut panah di lengannya dan menutupi pendarahan dengan tangannya sendiri.

"Ku-kurang ajar..." desis Jellal yang sempat melihat tiga sosok gelap di atas pohon. Tiga sosok itupun langsung pergi agar tidak dikenali.

"JELLAL!" Erza dan Hibiki yang melihat Jellal terduduk di tanah itu sangat shock. "Kau tidak apa-apa?!"

"Hmph, tidak apa. Hanya luka kecil, jangan khawatir." Sahut Jellal tersenyum kecil. Menutupi rasa nyeri di lengannya dan efek racun dari anak panah yang mulai mengambil alih kesadarannya.

Kedua wajah temannya itupun masih pucat karena khawatir sekaligus terkejut. Jellal pun kembali tersenyum getir, "Jangan berangsur cemas seperti itu! Lebih baik kita cepat ke lapangan untuk menyerahkan ikan-ikan ini, okey?" kali ini Jellal menatap Erza untuk meyakinkan gadis itu bahwa dirinya baik-baik saja.

"Uhm, okey." Sahut Erza ragu. Hibiki pun mengangguk dan mencoba percaya bahwa Jellal baik-baik saja. Mereka akhirnya kembali berlari untuk mengejar waktu.

Oh, Tuhan! Kesialan apa lagi yang akan menimpa Fairy Tail ke depannya?

.

.

"Fairy Tail, lulus! Kalian berada di posisi ke lima. Selamat!" ucap sang petugas setelah Erza, Hibiki dan Jellal menyerahkan ikan terbang. Ketiganya menghela napas lega karena dengar-dengar babak penyisihan ini adalah babak yang cukup sulit untuk dilewati, mungkin kalau Sting tidak sengaja menceburkan gulungan mereka ke danau, tidak akan selesai secepat ini.

Jellal tersenyum puas, darah yang bercucuran di lengannya tidak terlalu ia hiraukan agar Hibiki dan Erza tidak terlalu cemas. Ia mengambil gulungan kertas yang ia taruh di saku dan membukanya lagi. "Kita dapat menjalankan tugas ini dengan mudah. Terima kasih, teman-teman.." ungkap Jellal dengan senyum dipaksakan dibalik wajah pucatnya.

"Hey, Jellal.. kau yakin baik-baik saja?" tanya Erza khawatir.

Lagi-lagi Jellal tersenyum pucat, "Ya. Tidak usah mencemaskanku, A-kai..."

BRUK!

Pemuda berambut biru itu terhuyung, jatuh dan tidak sadarkan diri, sebelum kepalanya mendarat di tanah Erza berhasil memapahnya. Ia sangat terbelalak begitu melihat gulungan kertas yang dipegang Jellal, kini dipenuhi tetesan darah merah nan pekat. Matanya langsung beralih pada telapak tangan Jellal berlumuran cairan merah pekat yang bersumber dari lengannya dan baru disadarinya, Jellal menahan semua rasa sakit sejak dari dalam hutan.

Inilah kertas yang telah terlumur oleh darah kental yang menggenang, darah sang Jellal Fernandes. Surat yang awal mulanya kosong, kini telah menjadi Scarlet Letter!

Hibiki yang juga panik, memanggil petugas untuk meminta pertolongan. Jellal pun dipapah Erza menuju ruang kesehatan istana. "Jellal.. Bertahanlah!"

.

.

Mengetahui Jellal tak sadarkan diri dengan pucatnya di ruang kesehatan, Precht dan Gildarts langsung datang diikuti Natsu dan juga Wendy. Sesampainya di ruang kesehatan, Hibiki berdiang di dekat bangsal tidur dengan cemas dan Erza tengah duduk di sisi ranjang dengan menggenggam tangan Jellal erat-erat.

Hibiki yang menyadari kehadiran senseinya, langsung menghampirinya. "Sensei, bagaimana ini? Sebentar lagi akan diadakan babak penyisihan tahap dua, tapi Jellal..."

"Aku sudah menanyakannya pada Lahar-san. Ia sendiri juga bingung siapa yang telah berani memanah Jellal dan ia juga sedang mencari pelakunya. Karena itulah, Fairy Tail diperkenankan untuk mengganti anggotanya untuk sementara." Terang Precht dengan lancar.

Gildarts menghampiri bangsal Jellal dan memperhatikannya dengan iba. "Kenapa ini terjadi padamu, Jellal..?" gumamnya.

"Je-jellal seperti ini karena ia melindungiku, sensei!" ujar Erza yang terisak. Air matanya menetes bertubi-tubi.

"Sudah, jangan menyalahkan dirimu seperti ini, Akaishi. Jellal tentu tidak ingin kau menangis seperti ini setelah bagaimana ia berusaha melindungimu." ucap Gildarts dengan mengusap-usap punggung Erza agar gadis itu tenang.

Wendy dan Natsu pun ikut mendekat. Mereka terdiam karena tidak percaya, terlebih Natsu. Kedua tangannya mengepal saking emosinya.

"Jellal-nii sepertinya terkena racun. Lihat wajahnya pucat dan bibirnya mulai membiru, Natsu-nii!" pekik Wendy seraya menunjuk Jellal yang pucat dan mengucurkan keringat dingin.

Natsu menoleh pada Wendy, "Heh, benarkah itu? Gawat! Apa kau bisa menyembuhkannya, Wendy?" tanya Natsu.

Wendy mengangguk, "Hn, akan kucoba!" kemudian Wendy mengulurkan kedua tangannya pada Jellal dan memulai sihir penyembuhannya.

"Heh, adikmu bisa menggunakan sihir, Natsu?" tanya Hibiki tercengang.

Pemuda berambut pink itu langsung menoleh pada Hibiki dengan jari telunjuk di depan mulutnya sendiri, "Jangan bilang siapa-siapa! Ia menguasai sihir penyembuhan ini sejak lahir! Kudengar perempuan di Fiore tidak boleh menjadi penyihir, jadi aku merahasiakannya.." terang Natsu dengan pelan.

Hibiki mengangguk-angguk mengerti dan kembali melihat Wendy yang mencoba untuk menyembuhkan Jellal.

"Fiuh, setidaknya aku telah menghentikan penyebaran racun di tubuh Jellal-nii, tapi ia tidak mungkin sadar dalam waktu dekat." Terang Wendy.

Semua yang ada di dalam ruangan itu menghela napas lega, namun Hibiki dan Erza menunduk lesu memikirkan kelanjutan babak penyisihan tahap dua mereka.

"Tak perlu khawatir. Karena kita diperkenankan untuk mengganti Jellal untuk sementara, jadi Natsu yang akan menggantikan Jellal." ucap Precht yang disambut keterkejutan Natsu.

"Heh, aku?!" Natsu sedikit melompat karena terkejut.

Gildarts terkekeh, "Tidak ada murid Fairy Tail lain di sini selain dirimu, baka. Cepat bersiap untuk maju ke babak selanjutnya. Jangan berbuat hal memalukan, mengerti?!" tegasnya berurutan.

"A-ah, ya. Aku mengerti, sensei." Ucap Natsu terbata, tapi kemudian ia tersenyum dan menatap Jellal yang tak sadarkan diri, "aku akan tunjukkan kekuatan Fairy Tail sesungguhnya! Terima kasih kesempatannya, Jellal!"

Erza dan Hibiki pun menghela napas. Mereka berjalan keluar ruangan dalam diam. Mereka sedih akan Jellal dan juga murka akan pelaku yang telah berani memanah teman mereka.

Sampailah mereka di arena untuk babak penyisihan tahap kedua!

"Namaku adalah Doranbalt. Komando sekaligus Pengawas Utama babak penyisihan tahap dua. Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian karena telah berhasil sampai pada tahap ini. Di babak ini kalian hanya diukur kemampuan sihirnya per orangan. Tiga orang dalam satu kelompok kekuatan sihirnya dijumlahkan dan 5 kelompok dengan jumlah terbesarlah yang berhak maju ke babak selanjutnya." Terang seorang penyihir dewan sihir yang bernama Doranbalt itu, "kalian cukup melancarkan sihir pada mesin MPF (Magic Power Finder) ini." sambungnya seraya menunjukkan mesin MPF yang ada di sebelahnya.

Penyihir dari sekolah lain pun memperhatikan anggota baru Fairy Tail dengan heran. Beberapa mulai berbisik-bisik.

"Kemana Jellal? Kenapa digantikan oleh pemuda sakura seperti itu?"

"Kudengar ada seseorang mencelakai Jellal hingga dia tak sadarkan diri. Jadi digantikan."

"Heh, bukankah itu melanggar aturan?"

Dan begitulah desas-desus berlangsung, hingga suasana menjadi sedikit ribut. Doranbalt pun berdeham keras untuk memusatkan perhatian para peserta lagi. "Oke, dimulai dari Special Magic High School!" serunya dengan lantang. Midnight, Cobra dan Racer pun maju tanpa keraguan sedikitpun. Mereka pun melancarkan sihir masing-masing dengan menakjubkan, setidaknya membuat kagum para penontonnya.

"Total keseluruhan, 16870 point!" ujar petugas usai menghitung kekuatan sihir mereka.

"Woow! Tinggi sekali!"

"Katanya 10000 point saja sudah hebat, loh!"

"Itulah Oracion Seis, selalu mengagumkan!" gumam peserta satu sama lain. Hal itu malah membuat Natsu semakin geregetan.

Doranbalt mengangguk dengan tersenyum kecil, "Selanjutnya, Sabertooth!"

Sabertooth maju dan satu per satu melancarkan sihirnya pada MPF.

"Total keseluruhan, 16750 point!"

"Waah, gila! Hanya beda tipis!" komen kerumunan peserta lagi.

Sting dan dua temannya pun sengaja berjalan melewati tim Fairy Tail seraya mendongakkan dagu dengan angkuh serta tersenyum merendahkan.

"Selanjutnya, Raven Tail!" pekik Doranbalt untuk kesekian kalinya.

"Total, 14200 point!"

Satu per satu tim pun diukur kekuatan sihirnya. Sampai akhirnya datanglah kesempatan Fairy Tail untuk unjuk kehebatan mereka!

"Yang terakhir, Fairy Tail!"

Kerumunan peserta itu mulai riuh dan memperhatikan ketiga Fairy Tail tersebut dengan seksama. Bahkan mereka berbisik satu sama lain hanya untuk menebak kekuatan Fairy Tail. "Heh, berapa ya point mereka?"

"Mereka kan sudah lama tidak ikut serta, masih untung kalau pointnya sama dengan Raven!" timpal yang lain.

"Heh, di sana ada Akaishi. Katanya dia cukup kuat, loh."

"Tapi, Hibiki kan hanya punya sihir Archive. Kurasa dia akan melemahkan tim. Bagaimana dengan pemuda rambut pink yang asing itu?"

"Hmm, aku tidak tahu."

Tim Fairy Tail sudah berdiri di hadapan MPF dan masing-masing sudah siap melancarkan sihir terkuat mereka. Dimulai dari Hibiki yang melancarkan sihirnya dan hanya menunjukkan angka 200. "Maafkan aku, Akaishi, Natsu. Aku memang tidak terlalu kuat." Ucap Hibiki penuh penyesalan.

"Bukan masalah. Aku akan menutupi kelemahanmu dengan kekuatanku!" sahut Erza yang mendapatkan giliran berikutnya untuk diukur kekuatannya. Sihir apa yang akan ia keluarkan.

Erza pun memijakkan kakinya kuat-kuat pada tanah, menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan sihir sebanyak-banyaknya. "Datanglah, wahai pedang-pedangku!" kemudian satu per satu pedang muncul di sekitar Erza. Selama beberapa menit ia memindahkan ratusan senjata yang ia simpan di dimensi lain ke tempatnya berdiri sekarang.

"Wooh, keren. Banyak sekali senjata yang dimilikinya..." komen yang menyaksikannya. Bahkan Natsu dan Hibiki pun tercengang menyaksikan kekuatan Akaishi aka Erza!

Ia pun mulai kelelahan karena kekuatan sihirnya terkuras banyak untuk sihir ini.

"Akaishi, jangan paksakan dirimu.." bisik Natsu yang mulai khawatir Erza akan pingsan karena kehabisan kekuatan sihir.

"Ini masih belum cukup!" balas Erza yang tidak menggubris kekhawatiran Natsu.

Hibiki pun juga jadi mulai cemas. 'Kekuatan Akaishi sesungguhnya bukan hanya Sword Magic, melainkan Spatial Magic, kemampuannya mengeluarkan dan mengganti senjata untuk bertarung dalam waktu dekat. Sama saja dengan kekuatan Penyihir Roh Bintang yang memanggil roh bintangnya. Tapi, tak kusangka Akaishi mempunyai senjata sebanyak ini. Hm, dia memang penyihir yang hebat.'

Dan akhirnya Erza berhasil mengumpulkan 220 berbagai senjatanya yang siap dilancarkan ke MPF. "SERANG!" pekik Erza dengan sekuat tenaga. Lingkaran senjata di sekitarnya pun segera menyerbu mesin MPF itu dan ledakan yang cukup besar terjadi. Kepulan debu sebagai efeknya pun menutupi MPF untuk sesaat dan.. angka menunjukkan...

10500 point!

"WAAAH, keren! Luar biasa!" seru Hibiki tercengang. Kerumunan peserta pun kembali riuh dan malah bertepuk tangan untuk keberhasilan Erza. Namun, point itu belumlah cukup untuk memenangkan babak ini.

Selanjutnya giliran Natsu!

"Yosh! Aku mulai bersemangat!" pekik Natsu yang mulai melipat lengan bajunya dan mengambil ancang-ancang.

"Tunjukkan sihir perusakmu yang luar biasa itu, Natsu!" seru Erza yang masih terengah-engah kelelahan itu.

Natsu menoleh pada Erza sesaat lalu menyunggingkan seulas senyum lebar, "Serahkan padaku!" ia pun melangkah maju dengan percaya diri, tanpa ragu sedikitpun. "akan kutunjukkan pertunjukkan api beruntunku! Ini semua demi Jellal!"

Usai berkata demikian, kobaran api mulai menyelubungi Natsu. Api nan panas, sepanas emosinya saat ini.

"Karyu no Hoko! Karyu no Kagizume! Karyu no Yokugeki! Dan.. Metsuryu Ogi: GUREN BAKUENJIN!" api beruntunnya benar-benar membuat penyaksinya tidak berkedip. Inilah Natsu. Naga api yang tak berhenti untuk menunjukkan taringnya!

Natsu pun berdiri mematung sesaat, menantikan angka yang akan ditunjukkan MPF. Dan...

15000!

"Yeeey! Aku berhasil!" pekik Natsu seraya loncat-loncat bahagia.

Petugas pun berdeham, "Total kekuatan sihir Fairy Tail adalah 25720 point! Dengan ini, Fairy Tail mendapat peringkat pertama!"

Erza, Hibiki dan Natsu pun bersorak keras. Ketiganya saling merangkul satu sama lain. Air mata bahagia pun keluar dari pelupuk mata Erza. Yeesh! Mereka berhasil maju ke babak selanjutnya!

Di balik kebahagiaan dan riuh tepuk tangan peserta, Sting mendecih kesal. Tiga orang dari Raven Tail menatap tim Fairy Tail dengan tatapan tidak suka.

"Sial, usaha kita untuk menjatuhkan Akaishi gagal!" cetus salah satu dari penyihir Raven, namanya Nullpudding.

"Berani sekali mereka mendapatkan kemuliaan ini. Cih!" sahut yang lainnya, bernama Kurohebi.

"Tenang saja, temanku. Kita akan benar-benar menyingkirkannya, di babak selanjutnya!" cetus yang satunya, yang bernama Obra.

Tragedi Scarlet Letter hari ini adalah perbuatan Raven Tail! Tiga orang misterius yang mengintai Fairy Tail sebelumnya adalah Obra, Kurohebi dan Nullpudding.

Kemenangan Fairy Tail di hari ini, mungkin akan menjadi malapetaka lagi di hari esok!

Dapatkah Fairy Tail bertahan hingga babak akhir?!

CHAPTER 11 END!

Naah, begitulah chapter 11. Mungkin babak penyisihannya ga terlalu seru, tapi tenang untuk babak selanjutnya akan ada banyak event dan rintangan yang Karu usahakan seru! Okey, untuk yang masih setia dengan MLS selamat bertemu lagi di chapter 12!

Oh, ya. Bagi yang menunggu sequel dari MLF, udah dipublish loh Prolognya! Syukur2 chapter 1-nya cepet diupdate ya.. Haha. Yosh, terima kasih sudah membaca.. dan sampai bertemu di chapter depan! ^^

BALASAN REVIEW CHAPTER 10

nuruko03 = Waaah, maaf dengan sangat loh lama update-nya. Kalau Karu galau aneh gitu suka begitu deh (?) Hehe. hayo kenapa pengen banget cepet2 Erzanya tau klo Jellal tau dia Erza?! Yaap, sekitar ending mungkin baru ketahuan.. Oh ya juga ya, rencananya fic ini sampai 20 chapter. Tapi lihat ke depannya aja ya. Hihi. Simon aslinya baik, kok, cuma ya jealous2 dikit sama Jellal mungkin. Kalo suka sm Erza atau ga mungkin samar2 (?) Iyoo, Karu usahakan ga lama2 ya update! Terima kasih banget loh udah review panjang.. Hehe, Karu jadi senang. ^^Hehehe, aminn, semoga mereka segera pacaran yaah..

CN Scarlet = Wah, maaf yaa aku baru update nih. Hehe. Syukur deh kalau chap specialnya ga membosankan, Hehe. Terima kasih Scarlet-san atas dukungannya untuk Erza ^^ Hehe, Makasih juga ya sudah review! ^^

Frwt = Benar! Selama jadi Akai-kun dia ga bisa mengeluarkan sihir sepenuhnya. Tenang pasti terjawab semua, kok. Hihi. Dikasih spoiler dikit tuh, gapapa deh. Hehe. Okeydeh, terima kasih yaa sudah review! ^^

cacao = Haha, maaf maaf karena baru update. Maaf juga ya romancenya monoton. Jujur aja, sebenernya Karu juga lebih suka nulis romance-nya Erza yang nyamar Akaishi sama Jellal daripada Jellal sama feminimnya Erza. Haha. Okeeey, terima kasih banyak ya sudah review! ^^ Sudah dilanjut, ya. Kutunggu review darimu lagi ;)

Khnisa31 = Hehe, okey sudah dilanjut ceritanya. Terima kasih ya sudah review ^^

syivha (Guest) = Huaa, benarkah? Makasih-makasih, dan maaf romancenya emang kurang romantis. Karu menyadari itu, kok. ^^ Okey, makasih ya sudah review dan mendukung tim Erza! Hehe ^^

yuura (Guest) = Sudah dilanjut... Terima kasih untuk reviewnya! ^^