.
.
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T
Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
Cerita Sebelumnya...
Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba! Ajang Double-S Class Wizard kini ada di depan mata! Tim Fairy Tail melewati babak penyisihan tahap pertama dengan gemilang, meski sang Jellal Fernandes berakhir di ruang kesehatan istana.
Babak penyisihan tahap kedua pun tetap dijalani dengan Natsu sebagai pengganti Jellal. Ia memberikan bantuan yang sangat berarti hingga tim Fairy Tail menempati posisi pertama dalam penghitungan kekuatan sihir dengan MPF.
Berikutnya adalah babak setelah babak penyisihan yang pastilah jauh lebih sengit dari babak penyisihan! Tim yang maju ke babak selanjutnya adalah Fairy Tail, SMHS, Sabertooth, Raven Tail dan Phantom Lord yang memiliki jumlah kekuatan sihir setara dengan Quatro Cerberus. (Yang seharusnya hanya 5 tim yang lolos, jadi ada 6 yang lolos)
Jadi bagaimana aksi tim Fairy Tail di babak ini?!
"Fairy Tail Natsu's Coming!"
Natsu = Yo, minna! Maaf mengganggu kalian semua! :D Namaku Natsu! Yeay! Terima kasih atas pujian untuk chapter sebelumnya! Kha-khakhakha! Tau gitu aku aja yang ikut ajang ini, bukan, ketimbang Jellal?! Hahaha..
SKIP!
Sekarang, aku akan menjelaskan sedikit mengenai seluk-beluknya ajang Double-S Class Wizard, yey!
Sebelumnya, ajang ini memang hanyalah ajang atau audisi untuk perekrutan penyihir Dewan Sihir, namun seiring perkembangan waktu petinggi Dewan Sihir menetapkan ajang ini sebagai ajang untuk menilai sekolah-sekolah sihir serta penyihir di Fiore dan juga sebagai jalur lain penyihir muda untuk melanjutkan hidupnya selain menjadi penyihir di guild.
Setiap tahun, hanya tiga orang dalam satu tim yang terpilih menjadi penyihir Dewan Sihir. Juga hanya ada satu sekolah yang dinyatakan sebagai pemenang dan pemenang absolutnya selama bertahun-tahun tak lain adalah Special Magic High School (SMHS) – sekolah sihir yang memang didirikan oleh Dewan Sihir.
Ajang ini pun dibagi menjadi beberapa babak. Yang pertama ada babak penyisihan – meliputi tahap pertama dan kedua, babak random, lalu babak survival, babak semi-final dan babak final!
Naah-nah, kalau dilihat, ternyata Akaishi dan kawan-kawan baru menyelesaikan babak penyisihan.. Sayang sekali! Ternyata rintangan dan perjalanan mereka untuk menjadi penyihir Dewan Sihir secara resmi masih sangaaaaaat jauh...!
Akaishi = Kau terlalu berlebihan!
Natsu = Okey, aku tidak ingin membuat kalian menunggu lebih lama! Jadi, selamat membaca! Jangan lupa beri pendapat, kritik atau saran kalian di review, ya! Sampai bertemu lagi! :)
~0o0~
Hari pertama, hari yang menegangkan pun sudah mencapai puncaknya.
Malam sudah menjemput lagi dan di saat itu juga, Akaishi dan kawan-kawan sudah dapat tersenyum lega karena Jellal sudah siuman dari pingsannya.
"Kau sudah tahu kekerenanku, kan, Jellal?! Lihat! Berkat diriku, Fairy Tail jadi peringkat satu, loh!" si Natsu tertawa-tawa keras seraya berulang-ulang memekikkan hal itu dengan bangga. Jellal pun hanya menjawab seadanya dengan setengah-setengah.
"Hoi, Natsu! Pergi dari sini, jangan ganggu Jellal dulu. Dia perlu memulihkan tenaganya untuk membahas pertarungan sesungguhnya di esok hari." Cetus Gildarts yang sudah memelintir telinga Natsu hingga pemuda berambut sakura itu meringis seperti anak kecil.
"Yaya, sensei! Aku mengerti, lepaskan! Lepaskan!" serunya keras. Erza, Hibiki dan Jellal pun hanya terkekeh melihat hal itu.
Wendy yang masih berada di dalam ruang kesehatan, ia menghampiri ketiga orang di dekat tempat tidur Jellal lalu berpamit untuk pulang. "Kalau begitu, aku pulang dahulu, Hibiki-nii, Jellal-nii dan Akaishi-nii. Semoga kalian berhasil dalam ajang ini dan berhati-hatilah." Ucapnya sebelum pergi.
Erza tersenyum kecil sambil mengangguk. "Ya, kami tahu itu. Terima kasih banyak, Wendy-chan." Ujarnya.
"Benar. Terima kasih karena sudah menyembuhkanku, Wendy." Tambah Jellal yang juga tersenyum kecil.
Wendy mengangguk girang dan tersenyum lebar, "Sampai jumpa, minna. Sampai bertemu lagi!" ia pun melambaikan tangan dengan manisnya sebelum akhirnya keluar bersama Natsu dan Gildarts.
"Hati-hati. Sampai bertemu lagi, Wendy-chan!" balas Hibiki.
"Nanti aku akan kembali! Nanti aku kembali!" teriak Natsu sebelum benar-benar sampai di luar ruangan. Sangat berisik hingga Jellal menutup matanya dan menyentuh dahi.
"Cepat ke luar, baka! Berisik sekali!" gerutuan Gildarts itu sempat terdengar sebelum pintu ruangan tersebut benar-benar tertutup rapat.
Begitu ketiga orang itu pergi, ruangan tersebut diisi oleh keheningan dan ketiganya menghela napas bersamaan. Sebenarnya mereka sudah sangat lelah dan rasanya ingin langsung ke atas kasur yang empuk untuk membawa mereka ke alam mimpi dengan segera.
Awalnya, Jellal mencengkeram selimut yang menutupi kakinya dengan keras, hingga buku-buku tangannya memutih. Erza dan Hibiki menyadari hal itu. Tak lama Jellal pun terlihat menyerah dan menghela napas keras. "Maaf karena telah membuat kalian khawatir! Aku berjanji tidak akan mengulang kejadian seperti ini lagi dan aku akan berjuang keras untuk mengganti ketidakhadiranku di babak ini!" ucapnya dengan lancar dan serius.
Erza dan Hibiki pun tertegun. Jellal menatap Erza dan Hibiki bergantian dengan tatapan serius membuat Hibiki menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja kering.
"Sudahlah, lagipula kau seperti ini karena melindungi Akai-kun. Benar kan, Akai-kun?"
"Hm, benar." Sahut Erza sambil mengangguk sekali, "dan lagi bukan hanya kau yang akan bekerja keras, Jellal. Aku dan Hibiki juga harus bekerja keras!" tambahnya dengan mantap. Ujung bibirnya menyunggingkan seulas senyum di akhir kalimatnya.
Jellal menghela napas, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kau benar." Ia pun tersenyum pada Akaishi.
Hibiki mengangguk-angguk dengan wajah serius, kemudian ia berdeham. "Ada beberapa hal yang sangat menggangguku.." ungkapnya dengan mendalam. Jellal dan Erza pun menoleh padanya, menantikan kelanjutan perkataannya. "tim lain.. ada tim lain yang memang berniat untuk menncelakai kita." Terangnya.
"Ma-maksudmu Sabertooth?" tanya Jellal memastikan.
Hibiki menggelengkan kepalanya dan menghela napas. "Bukan.. tim selain Sabertooth, benar-benar ingin menghancurkan kita. Aku yakin tim itulah yang memanahmu, Jellal."
"Ta-tapi, kenapa?! Apa karena Jellal adalah putranya petinggi Dewan Sihir?" tanya Erza bertanya-tanya.
"Bukan.." potong Jellal dengan cepat. Sontak Erza dan Hibiki menatapnya. Terlebih Erza, wajahnya sangat kebingungan saat ini. Situasi ini benar-benar tidak diinginkannya lagian. "mereka berniat menyakitimu, Akaishi. Bukan aku."
Kedua mata Erza melebar sesaat, Jellal menyadari itu. "A-aku? Kenapa aku?" tanyanya masih tidak mengerti.
Jellal dan Hibiki saling bertatapan sebentar. Kemudian mereka kembali menatap Erza yang tertunduk bingung.
"Yeah, mungkin mereka hanya iri padamu." Kata Hibiki seraya menepuk-nepuk pundak Erza pelan, "kau tahu, kan? Sudah berapa penyihir muda yang iri padamu?" kali ini Hibiki tersenyum pada Erza dengan sebelah alis terangkat, seolah mengisyaratkan Erza untuk tidak terlalu memikirkan akan hal itu.
Erza tersenyum hambar dan mengangguk pelan. "Yah, sebaiknya tidak usah dipikirkan." Ungkapnya.
"Benar. Lebih baik, melihat ke depan pada tujuanmu, Akaishi. Menjadi penyihir Dewan Sihir dan mengalahkan aniki, benar?" sambung Jellal yang tersenyum jahil entah kenapa itu.
"Hm-hm, benar benar.. terima kasih Jellal, Hibiki. Aku sangat senang kalian menjadi rekan timku saat ini!" balas Erza dengan ekspresi leganya. Yeah, memikirkan para pencelaka memang hanya menghabiskan waktu.
Hibiki dan Jellal pun mengangguk kemudian mereka tertawa kecil karena bahagia. Ya, mereka bahagia karena bersama seperti ini.
"Tapi, hey, Jellal. Jangan sembarangan memanggil niisan-ku dengan sebutan 'aniki' sepertiku, dong!" protes Erza pada akhirnya.
"Well, suka-suka aku." Sahut Jellal yang melipat tangan di depan dada sambil memalingkan wajah seolah tak peduli pada protesan Erza.
Hibiki tertawa kecil lagi melihat Erza yang kemudian bersungut-sungut, "Cih, dia itu bukan kakakmu, tahu! Jangan ikut-ikutan menjadi adiknya! Aku tidak sudi menjadi saudaramu!"
Jellal masih memalingkan wajah dan pura-pura tidak mendengar.
Hari Kedua Ajang Double-S Class Wizard
Hari kedua ajang ini akhirnya dibuka! Arenanya berbeda dengan yang kemarin. Sekarang berpindah ke arena indoor luas berlantai kayu yang khusus untuk babak duel.
Berhubung ada kesamaan poin antara tim Phantom Lord dan Quatro Cerberus, maka diputuskan untuk diadakan duel agar jumlah tim yang tersisa tinggal lima tim.
Masing-masing tim sudah duduk rapi melingkari area tengah. Tim Fairy Tail juga sudah duduk bersila di lantai berkayu itu dengan Akaishi ada di ujung. Tak lama, tim SMHS datang dan Midnight langsung duduk di sebelah Akaishi.
"Yo, Akai-kun! Selamat pagi!" sapa ketua tim SMHS alias Midnight itu dengan wajah berseri-seri.
Hibiki dan Jellal yang menyadari itupun langsung memasang wajah sangar, meski demikian Midnight tidak menanggapi.
"Oh, pagi, Midnight-san..." sahut Erza sedikit bingung. Yeah, kenapa pria bernama Midnight ini sangat baik kepadanya.
Selain Midnight, Racer dan Cobra juga menyapanya dengan ramah. Jellal yang duduk di sebelah Erza pun langsung menarik Erza agar tidak terlalu dekat-dekat dengan ketiga orang itu.
"Hm, btw, Akai-kun. Panggil saja aku Macbeth. Midnight itu nama panggungku." Sambung Midnight seraya tertawa kecil. Ternyata nama aslinya adalah Macbeth.
"dan aku Sawyer." Tambah si Racer.
"Aku Erik." Tambah Cobra.
Erza tambah tercengang bingung. "Uh-oh, baiklah. Akan kuingat..." sahut Erza ikut tertawa renyah.
"Apa-apaan! Nama panggung apanya?!" gumam Jellal bersungut-sungut.
"Benar, apanya yang bagus punya dua nama seperti itu!" tambah Hibiki ikut bersungut-sungut.
Erza yang mendengar itu tertawa kecil jadinya. Kedua temannya benar-benar bertingkah seperti anak kecil belakangan ini.
"Saya adalah Jura Neekis, ketua penyelenggara dan pengawas babak tahap dua ajang ini, yaitu babak random. Mengapa dinamakan babak random? Karena babak ini diatur sesuai dengan kemauan hati sang ketua penyelenggara." Jelas pria tidak berambut alias gundul itu dengan wajah serius dan bijak. "sekarang, karena ada 6 tim yang lolos, akan diadakan duel agar hanya 5 tim yang tersisa."
Sementara Erza berbincang dengan tim SMHS, dan Jellal serta Hibiki sedang bersungut-sungut sendiri, pertarungan antara tim Quatro dan Phantom Lord pun berlangsung.
Pertarungan Duel adalah pertarungan satu orang dari satu tim melawan satu orang dari tim lain. Saat ini yang terpilih untuk duel adalah Bacchus melawan Totomaru.
Bacchus melawannya dengan gaya mabuk-mabukkan, membuat Totomaru sedikit kewalahan menghadapinya. Begitu Totomaru mengeluarkan sihir apinya, Bacchus dapat menghindarinya dengan mudah.
"Wow, refleks dan kelincahan yang dimiliki Bacchus itu luar biasa, ya.." ungkap Hibiki yang fokus menyaksikan pertarungan kedua orang penyihir di hadapannya.
Jellal mengangguk pelan.
"Kudengar dia pernah menerima penghargaan dari Dewan Sihir, loh. Keren sekali." Tambah Erza yang melongo pada Hibiki dan tersenyum padanya. Hibiki balas tersenyum.
Pertarungan antara Bacchus dan Totomaru hanya berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Dimenangkan oleh Bacchus. Yeah, Totomaru sedikit kewalahan menghadapi kecepatan si Elang Pemabuk itu.
Jura pun kembali ke tengah arena dan menyilakan Bacchus juga Totomaru untuk saling berjabat tangan lalu kembali ke barisan mereka. "Dengan ini, pemenangnya adalah Bacchus. Jadi yang akan maju ke babak selanjutnya adalah tim Quatro Cerberus." Putus Jura yang diikuti tepuk tangan dari para penontonnya.
"Babak Random akan dimulai pukul satu siang, setelah makan siang. Untuk saat ini, para peserta silakan beristirahat dan menyiapkan diri kalian untuk babak selanjutnya. Terima kasih." Usai mengatakan hal itu, Jura pun pergi bersama beberapa pengawal.
Tim yang ada dalam arena itupun sedikit heran, kenapa babak random ini baru dimulai nanti siang. Ada beberapa yang sedikit dongkol karena diharuskan bangun pagi, ternyata pertarungan mereka baru dimulai siang hari. Mereka pun memutuskan berdiri dan meninggalkan arena indoor untuk berjalan-jalan ke luar.
"Haaah! Tau begini aku tidak usah datang pagi-pagi!" gerutu si Sting.
Rufus dan Rogue yang kini berjalan di sebelah Sting pun ikut menggerutu. Kedua wajah mereka masam karena sebal. Tak sengaja, mereka bertiga melihat tim Fairy Tail yang tengah mengobrol sambil tertawa-tawa gembira.
"Hoi, lihat yang di sana. Rasanya bahagia sekali." Cetus Sting dengan menyipitkan mata.
Rogue pun ikut menyipitkan mata kepada tim Fairy Tail yang kini sedang dihampiri oleh anggota tim SMHS. "Hoh, mereka sudah berteman dengan tim juara-absolut ternyata." Timpalnya seraya melipat tangan di depan dada.
"Ya ampun, ya ampun. Tidak perlu terusik dengan kedekatan mereka. Selama kita bisa mengalahkan kedua tim itu, maka tidak perlu ada yang dirisaukan, Sting, Rogue." Ucap Rufus sambil membenarkan posisi topinya dengan elegan.
Rogue dan Sting hanya mendengus. Membuang muka dan pergi menjauh dari kerumunan.
Beralih pada tim Fairy Tail yang tengah diajak bicara oleh SMHS.
"Ayolah, Akai-kun! Kita makan bersama saja! Kau belum sarapan, bukan?" ajak Macbeth dengan antusias. Erik dan Sawyer di belakangnya pun angguk-angguk menyetujui.
Belum sempat Akaishi menyahut, Jellal dan Hibiki langsung berdiri di antara Akaishi dan Macbeth.
"Tidak bisa. Kami harus membahas beberapa hal dengan sensei kami." Balas Hibiki dengan nada mutlak.
"Benar. Babak selanjutnya pasti akan lebih sulit dari babak pertama. Jangan mengajak anggota kami bermain dan bersantai-santai bersamamu!" tukas Jellal sambil berkacak pinggang. Melihat respon Jellal dan Hibiki itu, Erza semakin heran. Mereka benar-benar seperti anak kecil, atau ada alasan lain?
Ketiga Oracion Seis itu mematung untuk sesaat. Protesan dari dua Fairy Tail itu cukup mengejutkan mereka.
"U-oh, ma-maafkan kelancangan kami.." ketiga Oracion Seis itu malah membungkuk minta maaf. Selisih beberapa saat, mereka pun pergi meninggalkan Jellal dan Hibiki. "Sampai jumpa, Akai-kun. Selamat berjuang di babak selanjutnya, ya..."
Jellal dan Hibiki menghela napas keras setelah kepergian Oracion Seis. Entah kenapa, hanya untuk menjauhi Oracion Seis dari Akaishi benar-benar menguras seluruh tenaga mereka.
"Okey, jadi apakah kita benar-benar akan membahas tentang babak selanjutnya dengan Gildarts-sensei?" tanya Erza dengan menaikkan sebelah alis. Hibiki dan Jellal menoleh kepada Erza bersamaan dan langsung tertawa kecil. Erza langsung menyipitkan mata untuk meminta penjelasan.
"Hoh, bagaimana kalau kita jalan-jalan pagi di sekitar istana, Akai-kun? Menyenangkan, bukan?" tanya Hibiki berusaha menjauhkan perasaan curiga Erza terhadap mereka berdua.
Erza tidak langsung menjawab, membuat Hibiki salah tingkah dan langsung menyikut Jellal. "O-oh, ya. Lebih baik kita jalan-jalan mengelilingi istana." Jellal tertawa renyah bersama Hibiki, "setelah itu kita kembali ke penginapan untuk bertemu Precht-sensei dan Gildarts-sensei. Bagaimana?"
Melihat tingkah aneh kedua temannya, Erza menghembuskan napas keras dan menyerah untuk bertanya. "Baiklah. Ayo kita berkeliling!" ucap Erza dengan senyum manisnya.
Melihat itu, Jellal dan Hibiki tersenyum lega. Mereka berbalik lalu memutari daerah istana Fiore ini dengan berjalan perlahan. Mulai dari taman bunganya yang indah, pancuran air raksasa di dekat pintu masuk istana, sampai segala isi dalam istana mereka singgahi termasuk museum lukisan dan hiasan kuno. Itu sama sekali tidak membosankan bagi mereka bertiga.
Setelah puas melihat-lihat, mereka kembali ke luar istana dan hendak kembali ke penginapan untuk menemui sensei mereka.
Di saat itu, Jellal tiba-tiba berhenti karena terkejut dan terdiam di tengah jalan. Kedua matanya merlebar begitu melihat serombongan pengawal dari Dewan Sihir yang tengah ramai mengawal seseorang.
"Jellal? Ada apa?" tanya Erza yang bingung begitu melihat Jellal berhenti di belakangnya.
Jellal terdiam dan matanya masih terpaku pada rombongan yang baru saja melangkah ke dalam area istana itu. "To-toosan..." gumamnya serak.
Erza dan Hibiki ikut memandang ke arah pandang Jellal, mereka sama terkejutnya. Melihat ayah Jellal sekaligus petinggi Dewan Sihir alias Siegrain Fernandes itu kini memasuki istana Fiore dengan diikuti pengawalnya.
Kejadian mengejutkan dan tak terduga sebelum menghadapi Babak Random...
CHAPTER 12
Double-S Class Wizard Chapter
(2)
'Berperang di Dunia Virtual'
Kini mereka sedang makan siang. Erza dan Jellal duduk bersebelahan, di hadapan mereka adalah Gildarts yang bersebelahan dengan Hibiki. Precht sedang mengikuti rapat mingguan di sekolah jadi tidak bisa ikut hadir di sini.
Sedari kembali ke penginapan sampai makan siang sekarang, Jellal masih saja murung. Menunduk dan makan dengan ogah-ogahan. Melihat itu Erza dan Hibiki sedikit bingung bagaimana menghadapi Jellal yang seperti ini.
Yang mereka tahu, Jellal sangat takut dan patuh pada Siegrain, ayahnya. Entah bagaimana Jellal bisa kembali lagi ke Fairy Tail setelah Siegrain sudah menjemputnya dan menariknya secara paksa, tapi pastilah Jellal melewatinya dengan cara yang luar biasa nekat. Begitulah menurut Hibiki.
"Hoi, Jellal.. Jangan murung seperti ini." ucap Erza lembut. Ia menatap mata hazzel Jellal untuk menyegarkan perasaan hatinya.
Jellal tersenyum kecil pada Erza lalu mengusap rambut Erza perlahan. "Terima kasih untuk perhatianmu, Akaishi. Hanya saja, aku sedikit takut akan terjadi sesuatu."
"Hooh begitu.." sahut Erza. "sudahlah tenang saja. Apapun tantangan dari Toosan-mu, kita akan menghadapinya dengan siap sedia!" hibur Erza. Ia mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar itu, Jellal sedikit tercengang tapi kemudian ia kembali tersenyum. "Maaf, aku jadi memikirkan hal yang tidak perlu."
"Benar. Kau ini hanya memikirkan hal yang tidak berguna. Kau tidak lihat, di sini ada si kepala batu Akaishi?! Meskipun toosanmu itu menyuruhnya untuk berenang di dalam palung laut, pasti akan tetap ia lakukan selama ia menjadi penyihir kelas SS. Benar begitu, Akaishi?" ujar Gildarts yang sambil mengunyah makanan itu.
"Kau ada benarnya juga, sensei. Tapi mana mungkin toosan-nya Jellal menyuruh hal aneh seperti itu!" balas Erza mengerucutkan bibirnya.
Gildarts tertawa keras, "Mana kutahu! Tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kita berbicara mengenai penyihir kelas SS, Akaishi!"
"Telan dulu makananmu, sensei, baru boleh berbicara!" tukas Erza dengan nada menggerutu. Melihat gerutuan Akaishi itu, Jellal dan Hibiki ikut tertawa.
Dan... waktu yang membuat jantung banyak orang berdebar-debar pun tiba! Kini semua peserta sudah kembali berkumpul di arena indoor 2 dalam istana. Arena indoor ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Di tengah depan terdapat panggung besar dan ada kursi penonton yang berjejer seperti di bioskop. Kurang lebih ada 100 kursi. Masing-masing tim duduk di kursi sesuai keinginan. Oh ya, panggung ini sebagian ditutupi oleh tirai hitam dan sebagiannya terdapat podium kecil yang terdapat mic. Di sanalah Jura berdiri untuk menyambut kembali tim yang tersisa.
"Selamat datang kembali, semuanya. Sekarang akan dimulai Babak Random yang masih dirahasiakan ketentuannya. Tim yang tersisa sekarang jika diurutkan berdasarkan poinnya yaitu:
1. Fairy Tail - 28 points (Urutan 5 tahap I = 3 poin dan Urutan 1 tahap II = 25 poin);
2. Special Magic High School/SMHS - 25 points (Urutan 1 tahap I = 5 poin dan Urutan 2 tahap II = 20 poin);
3. Sabertooth - 20 points (Urutan 2 tahap I = 5 poin dan Urutan 3 tahap II = 15 poin);
4. Raven Tail - 12 points (Urutan 6 tahap I = 2 poin dan Urutan 4 tahap II = 10 poin); dan
5. Quatro Cerberus - 8 points (Urutan 4 tahap I = 3 poin dan Urutan 5 tahap II = 5 poin)."
Jura berhenti sejenak untuk membalik kertas yang dipegangnya. "Dengan begitu, sekarang akan saya jelaskan tugas kalian untuk lolos di babak ini dan agar dapat tetap bertahan di babak selanjutnya. Pertama-tama..." perkataan Jura terpotong.
"Nomor Lima Penyihir Suci yang baru, Jura Neekis-san.." suara keras dan lantang itu menggema di seluruh arena yang menyerupai gedung bioskop ini. Jellal yang tidak asing dengan suara tersebut mendadak bergidik ngeri. Ia menoleh kaku kepada sumber suara, begitupula Erza dan Hibiki.
Dari atas mereka, tepatnya di kursi balkon dekat panggung, seorang pria dengan kacamata, berambut biru dan sangat mirip Jellal tersenyum angkuh kepada Jura.
Beberapa peserta yang duduk di kursi penonton pun tercengang melihat orang yang sangat mirip dengan Jellal. Yang tak lain dan tak bukan adalah Siegrain!
Jellal menggertakan gigi, kedua tangannya mengepal. Melihat dan mendengar suara keangkuhan dari ayahnya.
Dari tempat podium, Jura mendongak heran. "Y-ya, ada yang bisa saya bantu, Siegrain-sama?" tanya Jura dengan hormat.
Siegrain mendecakkan lidah, kemudian ia berdiri tegak dan menaruh kedua tangannya di pembatas balkon. "Di balik tirai hitam itu adalah ruang virtual sihir yang akan kau gunakan untuk babak random ini, bukan?" tanyanya masih dengan gaya angkuhnya.
Jellal hanya menunduk untuk meredam kekesalannya. Hibiki menepuk-nepuk bahu Jellal untuk menenangkan pemuda itu. "Tenanglah, Jellal. Jangan luapkan amarahmu. Ingat, kita ke sini untuk memperlihatkan kemampuan kita pada ayahmu, loh!"
"Ya, aku mengerti." Sahut Jellal usai menghela napas keras.
Jura pun menjawab dengan segan. "I-iya, kurang lebih begitu, Sieg-sama." Balas Jura.
Dari balkon, Siegrain mengangguk-angguk. Kemudian ia memicingkan mata pada Jellal yang kini tengah menatap nyalang padanya. "Kalau begitu.. serahkan babak ini kepadaku. Tugasmu cukup sampai di sini, Jura-san." Ucap Siegrain dengan penuh penekanan. Masih menatap Jellal yang tengah terbelalak kaget itu.
'Ti-tidak.. kumohon jangan toosan..!' batin Jellal.
Siegrain menyeringai dan kembali menatap Jura yang kebingungan."Ta-tapi, Siegrain-sama... Babak Random ini sudah disesuaikan dengan kemauan saya dan tidak mungkin mempersiapkan sesuai keinginan anda sekarang.."
"Hm, aku tahu itu. Tenang. Aku tidak akan mengubah pola pemikiran tentang tema permainan dalam babak ini. Yang kuubah hanyalah aturan permainannya." Tambah Siegrain datar. Mendengar sanggahannya, Jura tidak dapat menentang lagi. Ia membungkuk dan berkata, "kalau begitu. Untuk penjelasan mengenai babak ini, saya serahkan kepada Siegrain Fernandes, selaku petinggi Dewan Sihir."
DENG...
Sebuah udara dingin bagai melintasi telinga Jellal. Babak ini tidak akan dilaluinya dengan mudah, mengingat sudah seperti ini keadaannya. Jellal hanya mampu menggenggam kedua tangannya erat-erat seraya berdoa dalam hati agar paling tidak ia dapat lulus di babak ini.
"Terima kasih untuk kesempatannya." Ucap Siegrain masih dengan berdiri di balkon dan memandang para peserta dengan berwibawa. "Babak Random ini akan berlangsung di Dunia Virtual Sihir yang dirancang oleh Penyihir Divisi Intelektual Dewan Sihir sendiri." Jelasnya panjang lebar. Seluruh peserta mendengarkannya dengan seksama. Termasuk Jellal, meskipun hatinya sangat tidak terima akan hal ini.
"Dunia Virtual Sihir ini akan terasa seperti biasa saja hanya latar dan suasananya diatur sesuai dengan keinginan. Untuk babak ini, akan kunamakan Babak Prajurit Penyihir dan latar diatur menjadi latar pada saat masa perang zaman dahulu." Mendengar itu, beberapa peserta malah bergumam kagum.
"Di sana kalian akan bertindak sebagai prajurit perang. Tugas kalian hanyalah menjalankan misi yang nanti akan diberitahu oleh seorang Messenger saat kalian sudah memasuki dunia virtual. Di babak ini kalian harus menjalankan misinya dengan baik untuk mempertahankan poin kalian. Seperti bermain games, bukan?"
"Untuk prosedur permainannya, akan mudah. Hanya ada satu kali permainan dan dimainkan oleh tim gabungan.. jadi misalnya tim Sabertooth yang berkoalisi dengan tim Quatro melawan tim Special dan tim Raven. Mengerti?"
Beberapa peserta mulai berbisik satu sama lain. Kemudian Erik alias Cobra mengacungkan tangan ke atas untuk bertanya.
"Ada apa, Erik?" tanya Siegrain yang memang mengenal Dragon Slayer dari SMHS itu.
"Kalau tim gabungan dan hanya ada satu permainan, berarti akan menjadi 3 tim lawan 2 tim, begitu?" tanyanya hati-hati.
Siegrain mengangguk sekali, "Tepat!"
Bacchus berdecak kesal, "Bukankah itu jadi tidak adil?" teriaknya hingga terdengar Siegrain.
"Peraturan tetaplah peraturan!" sahut Siegrain dengan mutlak. Jellal sudah hapal akan watak ayahnya itu.
"Ta-tapi, Siegrain-sama, bukankah seharusnya ajang ini setiap babaknya adalah untuk mengadu satu tim dengan tim lainnya? Menggabungkan tim seperti ini, bukankah tidak pernah terjadi?" tanya Jura yang sedikit keberatan.
Siegrain menggeleng pelan seraya mendecakkan lidah. Seisi gedung ini jadi diam dan memusatkan perhatian padanya. "Tahun ini adalah tahun yang amat spesial." Ucapnya seraya menunduk dan menatap Jellal, "aku ingin melihat kerjasama tim yang sesungguhnya, bahkan kerjasama dengan tim lain yang mungkin saja tidak diinginkan. Jadi aku putuskan untuk melakukan penilaiannya seperti ini." sambungnya dengan panjang lebar.
Jellal memalingkan wajah dari Siegrain.
Semua orang yang mendengarkan perkataan Siegrain itu tidak ada yang berani membantahnya. Bahkan Jura pun sudah menyerah untuk membantah petingginya itu. "Ba-baik, saya setuju, Siegrain-sama." Ucapnya.
"Bagus." Siegrain tersenyum puas, "sekarang aku minta Nadal-san tolong berdiri di atas panggung dan pegangi gelas berisi nomor itu." pintanya pada seorang pengawalnya.
Seorang pengawal pun naik ke atas panggung dengan membawa gelas bulat yang cukup besar dan berisi bola-bola kecil.
"Bola-bola itu akan menunjukkan nomor sesuai dengan nomor urut kalian. Nomor satu berarti Fairy Tail, dua adalah Special Magic High School, tiga Sabertooth, dan seterusnya. Nomor yang kalian ambil adalah nomor yang akan menjadi rekan kalian. Oh ya, hampir aku lupa. Yang mengambil nomor itu, hanyalah yang mendapat peringkat satu. Jadi kalian hanya memiliki satu tim rekan saja." Tambah Siegrain yang mengejutkan Erza, Jellal dan Hibiki.
Dengan begitu, sudah dipastikan mereka berada di posisi yang tidak diuntungkan. Karena mereka hanya dapat berkoalisi dengan satu tim.
"Ta-tapi, kenapa bisa begitu, Siegrain-sama?" tanya Jura tidak mengerti.
Siegrain mengangkat bahu sekilas. "Bukankah mereka peringkat satu saat babak penyisihan tahap dua? Dengan penghitungan dari MPF, maka sudah jelas mereka memiliki kekuatan sihir yang superior dari tim lain. Bukankah tidak adil kalau menyetarakan mereka dengan tim lain?" sahut Siegrain.
"Oh, anda benar juga, Siegrain-sama.."
"Kalau begitu, sekarang kuminta Akaishi dari Fairy Tail!" Erza langsung mendongak dengan terkejut. Sungguh tiba-tiba namanya disebut.
"Y-ya, Siegrain-sama?"
"Maju dan ambil nomornya." Ucap Siegrain datar.
Erza tercekat. Sungguh mendebarkan rasanya diberi perintah tiba-tiba seperti ini. Bisa-bisa kesialan yang dimiliki Erza berdampak untuk timnya. Erza takut membayangkan bagaimana jika Sabertooth yang menjadi rekan mereka...
"Sudahlah, Akai-kun. Jangan takut seperti itu, apapun pilihanmu, kita tidak akan menyalahkanmu." Bisik Hibiki begitu melihat Erza menggigiti kuku jarinya sendiri.
Jellal tersenyum dan ikut menambahkan dengan nada lembut, "Benar. Majulah dan ikuti perkataan ayahku."
Erza mengangguk dan tersenyum tipis sebelum akhirnya maju ke panggung dengan kikuk. Jantungnya sangat berdebar-debar. Sungguh berdebar-debar. Ia baru merasakan hal yang sangat mendebarkan seperti ini, selain kalau sedang berduaan saja dengan Jellal. (Eh salah!)
Begitu sampai di atas panggung, Erza menghampiri Nadal dan mengambil salah satu bola dalam gelas setelah memilih-milih. Tangannya terangkat dengan sebuah bola dalam genggamannya. Erza masih sangat takut dan memejamkan matanya sampai kerutan di dahinya terlihat sangat dalam. Setelah sudah berserah diri, Erza akhirnya membuka matanya dan melihat angka yang ada di bola.
Jellal, Hibiki dan seluruh peserta terdiam karena penasaran pada angka yang ditunjukkan. Hibiki yang tidak sabaran itupun menggigiti bajunya sendiri. Yeah, jantungnya berdebar dengan sangat entah kenapa saat ini. Benar-benar suasana yang menegangkan.
Ekspresi wajah Erza berubah drastis begitu ia melihat angkanya, menjadi ekspresi tercengang, tercekat, tak menyangka atau tak terima, campur aduk semua.
"Nomor berapa yang ditunjukkan bola itu, Akaishi-kun?" tanya Siegrain datar.
Erza menghela napas, lalu menunjukkannya pada Siegrain dan seluruh penontonnya. "Nomor 2!" sahut Erza dengan lantang.
"APAA?!" Hibiki dan Jellal berteriak serempak begitu suasana dalam gedung itu berubah menjadi kegaduhan karena 3 penyihir SMHS yang malah bernyanyi-nyanyi, lalu tim lain yang tidak terima kedua tim jago digabungkan.
"Itu tidak adil!"
"Tolong ulangi, Siegrain-sama!" protes masing-masing tim.
Siegrain pun berdeham keras untuk menenangkan para peserta. "Aku tidak akan mengulang pengambilan nomornya. Selanjutnya aku akan menjelaskan peraturan permainan selanjutnya." Perkataan Siegrain itu awalnya membuat para peserta kecewa. Mereka memutuskan untuk tenang dan mendengarkan kelanjutannya.
"Aturan pertama, jalankan misi bersama tim yang telah ditentukan. Dari hasil sebelumnya, diputuskan, tim A (Fairy Tail-SMHS) vs tim B (Sabertooth-Raven Tail-Quatro Cerberus)."
"Aturan kedua, dalam menjalankan misi, kalian harus menjaga markas pusat kalian. Masing-masing tim memiliki satu markas pusat yang harus dijaga oleh dua anggota. Dengan begitu, empat yang lainnya boleh keluar markas untuk menyelesaikan misi."
"Aturan ketiga, batas waktu untuk permainan ini adalah satu jam. Tidak kurang tidak lebih. Aturan terakhir, sihir diperbolehkan dalam permainan ini. Kalian juga boleh menyerang peserta lain."
Penuturan panjang dari Siegrain itu cukup dimengerti bagi para pendengarnya, terdengar rumit memang. Beberapa peserta mulai bisik-bisik untuk merencanakan strategi. Berbeda dengan Jellal yang merasa was-was mendengar aturan akhir, ia sangat takut hal buruk akan menimpa timnya lagi.
Saat itu, Siegrain kembali berdeham. "Tapi, aku ingin membuat ketentuan tambahan..." ucapannya ternyata belum selesai. Ia menatap intens kepada tim Fairy Tail dan SMHS. "sihir Archive tidak diperkenankan dalam permainan ini. Untuk Hibiki dari Fairy Tail dan Erik dari SMHS, kalian yang akan menjaga markas pusatnya. Jadi, hanya empat orang sisanya yang diperkenankan menyelesaikan misi."
DEG!
Siegrain menyeringai, "Apakah ada yang merasa keberatan?"
Perasaan tidak enak mulai menjalari para penyihir Fairy Tail. Meski demikian, mereka tidak berani mengelak perkataan mutlak petinggi sihir itu.
Begitupula Jellal, kali ini tubuhnya merasa panas, terbakar emosinya sendiri. Ia mengepalkan tangan erat, hingga kukunya menancap kulitnya yang memerah.
Perjuangannya, benar-benar dihadapkan dengan rintangan jeruji siluman!
.
.
Sampailah di Dunia Virtual Sihir buatan Dewan Sihir...
Tim Fairy Tail dan SMHS memasuki pintu bersamaan, tiba di lokasi yang sama. Seketika ekspresi mereka berubah menjadi kekaguman dan ketercengangan.
Lihat saja pemandangan di hadapan mereka saat ini!
Sungguh di luar nalar!
Dinding amat tinggi terbuat dari kayu mengelilingi tanah tempat mereka berdiri. Di belakang mereka terdapat tenda tua berwarna putih dan ada juga beberapa ekor kuda yang berjejer di sekitarnya. Bahkan dari segi tanah yang mereka injak, pohon yang menghiasi serta udara yang mereka hirup terasa amat sangat berbeda dengan dunia mereka namun nyata. Mereka sungguh-sungguh berada di zaman perang!
Tanpa mereka sadari, pakaian mereka juga telah berganti menjadi pakaian zirah perang.
Setelah mengedarkan mata ke segala penjuru, seorang pria berbaju prajurit menghampiri mereka dengan langkah tegap. Keheranan, mereka hanya menatap prajurit itu dengan bertanya-tanya.
"Selamat datang, prajurit baru. Aku adalah Messenger yang berada di pihak kalian. Mulai dari sini, aku akan menuntun dan menjelaskan misi yang harus kalian jalankan. Namun, sebelumnya, aku ingin bertanya, siapa kapten markas utama ini?" jelas pria itu dengan formal dan diakhiri pertanyaan.
Keenam penyihir itu bingung dan menoleh satu sama lain.
"O-Oh, mungkin maksudnya Hibiki dan Erik." Sahut Erza, sebagai wakil juru bicara tim A ini.
Pria di hadapan mereka itu mengangguk dengan wajah serius, "Markas utama ini adalah jantung dari tim kalian. Dengan kata lain, jika markas ini berhasil terenggut oleh musuh maka tim kalian otomatis mati." Terang pria itu lagi yang dapat dimengerti oleh penyihir di hadapannya.
"Yang menentukan direbutnya markas ini adalah dari kapten kalian. Jika kapten kalian kalah, maka sudah pasti tim kalian kalah." Tambah pria itu dengan serius.
"Oohh, begitu.." sahut Erza dkk dengan datar.
Pria itu pun berdecak lidah dan membuka gulungan kertas yang dibawanya, "Di sini adalah daftar misi kalian. Tapi sebelum aku membacakannya, kalian harus menentukan siapa yang akan menjadi Raja dalam tim ini."
"Eh, raja?" tanya Macbeth bingung.
Pria paruhbaya tersebut mengangguk pelan, "Selain membantu kapten melindungi markas, kalian juga harus melindungi raja kalian. Dan yang menjadi raja adalah salah satu dari kalian juga." Ungkapnya datar.
Erza, Jellal dan Hibiki berpikir keras dengan menaruh sebuah jari di bawah dagu. Begitu mereka berpikir keras seperti itu, SMHS mendekat dan Macbeth tersenyum. "Bagaimana kalau diputuskan dengan Rock-Paper-Cut?"
Mereka pun melakukan Rock-Paper-Cut berkali-kali, hingga akhirnya sampai pada keputusan, Jellal-lah yang menjadi raja. "Cih, raja apanya kau ini?!" gerutu Erik tidak terima.
Jellal mendengus. "Kau hanya iri padaku, bukan?"
"Are? Bukankah kau yang duluan iri padaku karena menjadi kapten, hah?" Erik balas bertanya dengan tawaan kecil menyerupai Gajeel.
"Ti-tidak! Untuk apa aku iri!" sahut Jellal.
Erik tambah tertawa, "Tidak usah berbohong. Karena aku dapat mendengarmu! Suaramu, pikiranmu, ingatanmu aku dapat mendengar semuanya." Terang Erik dengan menyeringai.
Jellal yang tidak mengerti hanya mendengus.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan membacakan daftar misi untuk kalian..." ucap prajurit itu lagi dengan lantang,
"Misi satu – lindungi markas utama.
Misi kedua – selamatkan dan lindungi raja Jellal hingga ke markas utama lagi.."
Jellal tercekat mendengar misi kedua barusan, "A-apa maksudnya itu?"
Sang messenger tidak menggubrisnya, "Misi tiga – rebut kuda legendaris milik Pangeran Sting.."
"Apa?! Sting menjadi pangeran?!" seru Hibiki, Jellal dan Erza bersamaan. Macbeth dkk menoleh kepada mereka dengan heran.
"Misi keempat – kumpulkan lima bendera biru yang tertancap di beberapa tempat. Itu saja misi kalian. Apa ada pertanyaan?"
Sawyer mengangkat tangannya, "Apa tiga orang yang terbebas dari jabatan apapun bebas melakukan penyelesaian misi?" tanyanya datar.
"Ya, benar. Kalian boleh berpencar dan melakukan pembagian misi. Kalian juga boleh menyelesaikan misi satu per satu dengan bersama-sama. Silakan tentukan strategi sesuai keinginan kalian." Sahut prajurit itu datar pula. "Apa ada pertanyaan lain?"
Erza pun menggeleng pelan. Ia merasa sudah mengerti dengan permainan ini. Begitupula dengan yang lain.
"Yosh, kalau begitu. Akaishi, Macbeth dan Sawyer, kalian dapat melihat lokasi keseluruhan tempat ini melalui peta di lacrima portable kalian." Ketiga orang yang disebut mengerti begitu ada sebuah layar visual kecil muncul di telapak tangan kiri mereka masing-masing. "dan jika tidak ada yang bertanya... maka permainan akan segera dimulai.." prajurit pria itu kemudian menyentuh pundak Jellal, yang disentuh pun terkejut dan menoleh dengan cepat, "dan aku akan segera mentransfer Jellal ke istana Edo."
"Eh, apaaa?!" Jellal yang belum bisa mencerna semuanya, tiba-tiba saja menghilang dari pandangan teman-temannya.
Baru Macbeth dan Erza sadari, maksud dari misi kedua yang ditanyakan Jellal beberapa saat lalu.
"Kalian harus segera menyelamatkan raja kalian dan membawanya ke markas ini. Lokasi keberadaan raja kalian dan beberapa lokasi penting juga ada di lacrima portable itu, jadi selamat berjuang." Usai mengatakan itu semua, sang prajurit pun pergi dengan menunggang kuda.
"Yosh, ayo kita menangkan permainan ini dengan cepat!" pekik Erza bersemangat.
"Osu!" balas yang lainnya juga bersemangat. Setelah ber-toss satu sama lain, ketiga prajurit andalan pun pergi untuk menyelamatkan Jellal dan menyelesaikan misi yang lain.
"Hati-hati, Akai-kun!" teriak Hibiki, setelah Erza sudah berlari ke gerbang masuk markas bersama Sawyer dan Macbeth.
Erza melambaikan tangan dari kejauhan dan tersenyum lebar, "Jaga markasnya ya, Hibiki!" ujarnya dengan keras. Menggema ke seluruh markas terbuka ini.
Hibiki pun tinggal di markas besar ini bersama dengan Erik dari SMHS. Erik terdiam usai melambaikan tangan pada temannya dan gantian memperhatikan Hibiki dengan intens.
Sadar ditatap seperti itu, Hibiki menoleh kepada Erik. "Ada apa, Erik?" tanyanya datar.
Erik tidak langsung menjawab. Ia sempat memalingkan wajahnya lalu menghela napas, "Oi.." akhirnya Erik membuka mulut. Matanya menerawang ke tanah untuk mempertanyakan satu hal.. "kau tahu dia wanita, kan?"
Pertanyaan tak terduga dari Erik itu sukses membuat Hibiki terbelalak. Bagai mendapat serangan jantung hanya mendengar pertanyaan itu! Erik sudah tahu identitas sesungguhnya dari Akaishi!
Apa yang akan dikatakan Hibiki?! Apa yang akan terjadi selanjutnya?!
Ketegangan di dunia perang ini semakin berkecamuk panas!
CHAPTER 12 END!
Yahoo! Apa kabar, minna? Mohon maaf banget karena baru update lagi, ya. Minggu2 kemarin Karu malah sakit padahal lagi liburan setelah sembuh malah internet rumah rusak. (Nasib nasib) Okey, berhubung libur Karu sudah tidak panjang jadi kemungkinan akan update cepat untuk ke depannya bila perlu update 2 chap dalam satu minggu. Hehe, diusahakan, ya..
Yosh, Karu balas review secara umum saja, ya!
Yang pertama. Tepat betul sekali, chapter kemarin memang mirip Daimatou Enbu! Karu ga kreatif jadi ambil inspirasi dari itu aja, deh. Hehe :) dan rencana Karu untuk buat chapter kemarin menegangkan ternyata cukup berhasil. (Syukurlah)
Kedua, bagi yang sudah sangat penasaran kapan rahasia Erza akan terbongkar... Silakan tunggu jawabannya di chapter2 depan, ya! :)
Nah, kapan Jellal kissu sama Erza? Kapan ya? Mungkin chapter terakhir (boong deh) pasti ada kok, jadi harap bersabar saja ya.. Haha. :)
Baiklah, terima kasih untuk semuanya yang telah membaca MLS sampai saat ini. Agak ga nyangka, loh kalau banyak yang suka. Hehe. Silakan tulis kesan, kritik, saran kalian di review, ya. Karu tunggu pendapat kalian mengenai chapter ini. :D
See you di chapter 13! ^^
