.
.
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T
Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
Cerita Sebelumnya...
Tim Fairy Tail dan Special Magic High School sampai di Dunia Virtual yang mengagumkan!
Jellal yang terpilih menjadi raja pun telah ditransfer ke Istana Edo. Erza, Macbeth, dan juga Sawyer lah yang akan menyelesaikan misi-misi dalam permainan ini. Mereka bertiga pun meninggalkan markas utama yang dijaga Erik dan Hibiki dengan bersemangat.
Tapi dibalik semangat itu, sang Erik melontarkan pertanyaan tak terduga!
"Oi.. kau tahu dia wanita, kan?"
Saat itu juga Hibiki tersentak.
.
Hal paling tak terduga terjadi!
Rombongan Fairy Tail yang bekerjasama dengan tim Special pun berhasil tiba di Dunia Virtual Sihir, yang amat mencengangkan. Tiga orang diantaranya mendapatkan jabatan penting, antara lain: Hibiki dan Erik (sebagai kapten/captain) dan Jellal (sebagai raja). Sedangkan Erza, Macbeth dan Sawyer akan menjadi prajurit yang aktif.
Untuk memenangkan permainan ini, mereka harus dapat menyelesaikan semua misi dengan baik.
Dikatakan menang, jika:
1. Raja Jellal yang ditahan di istana Edo terselamatkan dan sampai di Markas A.
2. Berhasil merebut kuda legendaris milik Pangeran Sting.
3. Kelima bendera berhasil dikumpulkan.
Dikatakan kalah, jika:
1. Raja Jellal dikalahkan (mati) sebelum sampai markas.
2. Markas utama berhasil direbut musuh.
Semua misi ini terasa cukup berat jika hanya dijalankan oleh kelompok orang yang tidak solid. Mau tidak mau, Fairy Tail dan Special harus menggabungkan kekuatan.
Apakah mereka berhasil memenangkan permainan ini?
CHAPTER 13
Double-S Class Wizard Chapter
[3]
'Raven vs Fairy'
Suara langkah kaki mereka yang sedang berlari terdengar menegangkan di tengah suasana masa perang ini. Meski demikian, mereka sama sekali tidak memiliki rasa bimbang. Sebab mereka yakin dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat.
"Dari radar ini, kita juga bisa melihat musuh yang akan mendekati markas. Meski kita tidak dapat melihat musuh yang akan mendekati kita, sih. Setidaknya cukup mudah karena kita memiliki lacrima portable ini." ucap Sawyer sambil menunjuk lacrima portable di telapak tangannya.
Macbeth dan Erza menoleh pada Sawyer lalu mengangguk pelan. "Ya, kau benar. Tapi bagaimanapun kita sedang berada di posisi tidak menguntungkan." Kata Erza, "yang menjadi prajurit aktif di tim kita ada tiga. Sedangkan dari tim B ada enam. Jumlahnya dua kali lipat dari jumlah kita." Sambungnya datar.
Macbeth tersenyum kecil, "Jangan khawatir!" serunya dengan wajah cerah, "kuantitas belum tentu menang melawan kualitas. Benar, kan, Sawyer?"
"Percaya diri sekali kau! Jangan meremehkan musuh kita juga, baka!" balas Sawyer dengan wajah stoic-nya.
"Huh, kau ini memang selalu bersikap jahat padaku!" sahut Macbeth tidak terima. Akhirnya mereka berdua mendengus dan memalingkan wajah satu sama lain.
Erza tertawa melihat tingkah dua orang itu. Rasanya seperti melihat Jellal dan Hibiki yang sedang bertengkar tanpa sebab.
Ketiga prajurit penyihir itupun berhenti di sebuah pertigaan yang masing-masing dibatasi oleh hutan bambu lebat. Jalanannya kecil dan terlihat cukup gelap.
"Yeah, ini akan jadi perpisahan kita..." ucap Macbeth setelah mengedarkan mata pada daerah sekeliling. "menurut radar, jalan pertama akan membawa kita kepada Jellal. Jalan kedua menuju markas utama tim B dan Jalan ketiga adalah jalan menuju jembatan merah yang sepertinya ada benderanya." Terangnya sambil kembali melihat radar dengan seksama.
Erza mengangguk sekali dan ikut melihat radarnya sendiri, "Tapi kurasa ada prajurit musuh yang sudah berjaga di jembatan merah itu. Jika perasaanku benar, maka ada dua yang berjaga di jembatan. Dua berjaga di markas dan dua lagi berjaga di istana." Tambahnya dengan nada serius.
Sawyer terkekeh mendengar penjelasan panjang dari kedua rekannya, "Yeah. Tak perlu cemas. Kita akan menghabisi musuh yang menghalangi kita." Ucap Sawyer seraya membenarkan posisi kacamata hitamnya serta merapikan rambut jingkraknya.
Macbeth tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depan. "Ayo, kita serukan api semangat kita!"
Erza dan Sawyer ikut mengulurkan tangan, menaruh telapak tangan mereka di atas tangan Macbeth, lalu saling melemparkan senyum bersama. "Tim A... SUKSES!" seru mereka dengan bersemangat.
"Okey. Kalau begitu, Akai-kun ke istana Edo dan menyelamatkan Jellal. Aku yang akan merebut kuda dari Sting. Lalu Sawyer yang akan mengumpulkan bendera. Bagaimana?" usul Macbeth dengan penjelasan cepat.
"Hm, aku setuju!" sahut Erza bersemangat.
"Ya, aku juga tidak keberatan." Tambah Sawyer.
Macbeth menghela napas lalu tersenyum lebar lagi, "Yosh! Kita berpencar! Eh, tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, Akai-kun..."
Erza tertegun dan bertanya, "Apa itu?"
Macbeth mendekatkan wajahnya ke telinga Erza dan membisikkan sesuatu. Suatu hal yang tak dapat didengar oleh siapapun (termasuk Author Karu), meski demikian hanya satu orang yang dapat mendengarnya...
"Aku dapat mendengarmu, Macbeth..." dari markas yang jauh itu. Sang dragon slayer, Erik, menyeringai dengan menunjukkan barisan gigi tajamnya.
.
.
SWUUUS!
Ia berlari bagai secepat angin. Kecepatan berlarinya belum ada yang dapat mengalahkan sampai detik ini. Dialah sang kebanggaan Sekolah Sihir Special, Sawyer. Hobinya adalah bermain gitar dan merupakan anggota grup band terkenal yang bernama Oracion Seis. Nama panggungnya adalah Racer.
Tak sampai lima menit, ia sudah tiba di jembatan merah yang dimaksud. Tangannya langsung menyibak dua bendera biru yang tertancap di sisi jembatan. "Fiuh, dua sudah dapat! Tinggal tiga lagi!" seru Sawyer dengan bangga. "sekarang, tinggal menunggu dua prajurit perangkap keluar..." desisnya pelan.
Sawyer berdiri tegak di depan jembatan dan menanti untuk beberapa saat. Satu menit, dua menit, lima menit... dan sepuluh menit.. tak ada musuh sama sekali yang datang mendekatinya. "Payah! Padahal aku sudah menyiapkan strategi jitu untuk melawan dua musuh." Gerutunya dengan kecewa.
Pemuda itupun tak punya pilihan. Memilih untuk berjalan lurus dan mencari bendera yang lain. Namun, di saat yang sama tiba-tiba seseorang memasuki pikirannya.
"Halo, Sawyer!" seru Macbeth menembus pikiran Sawyer. Dengan kata lain, berbicara dengan Sawyer melalui telepati.
"E-Eh, Macbeth.. ada apa?" tanya Sawyer yang langsung menghentikan langkahnya.
"Lihat radar!"
Sawyer belum terlalu mengerti, kemudian melihat pada radar yang sedari tadi hanya ia abaikan. Kedua alisnya langsung terangkat begitu menyadari ada musuh yang sedang mendekati markas. Jumlahnya ada tiga orang. "Ga-gawat! Hibiki tidak bisa bertarung langsung dan Erik akan kewalahan menanganinya sendiri!" serunya panik.
"Sawyer, kau kembali ke markas segera! Sisanya biar aku dan Akaishi yang menangani!"
"Roger!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sawyer langsung memutar arah dan kembali ke markas dengan kecepatan penuh. "Bertahanlah sampai aku tiba, Erik!" ucapnya dalam hati. Yeah, dan Erik dapat mendengar itu.
Beralih pada Erza yang sudah tiba di benteng depan istana Edo. Ia meluncur masuk melalui gerbang yang terbuka lebar tanpa ragu. Bagaimanapun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Dan...
Musuh menghadangnya di depan pintu masuk istana. Erza tercekat. Kedua alisnya terangkat begitu melihat seringaian ketiga orang yang tengah menghadangnya.
Tunggu dulu...
"TIGA?!" Erza mengepalkan kedua tangannya dan rahangnya mengeras begitu melihat seringaian jelas juga lebar dari wajah bengal 3 pria yang ada di hadapannya. "Raven Tail..." desis Erza dengan dingin.
"Yo, akhirnya kita bisa berhadapan, Akaishi-kun."
Lawan membentuk strategi di luar dugaan. Entah kenapa, Erza sangat yakin musuh hanya ingin menjebaknya saja. Yeah, ia tidak harus berlarut dengan pikirannya sendiri. Ia harus siap melawan ketiga musuhnya dengan sekuat tenaga. "Kanso.." Erza sudah memanggil sebuah pedang berkilatnya.
"Hm, seperti yang diharapkan dari Akaishi. Tidak akan pernah menyerah sebelum mencoba!" gumam Obra.
Tanpa menunggu waktu lama, Erza langsung berlari menerjang ketiga orang itu dan melawan mereka dengan berani satu per satu...
.
.
Pertarungan sengit ini, baru saja dimulai!
"Needle Blast!" Nullpudding mengulurkan kedua tangannya ke depan dan menyerang Erza dengan tangannya yang tajam itu.
Posisi Erza yang tengah dihimpit oleh Kurohebi dari belakang pun memutuskan untuk menghindar ke samping. Serangan Nullpudding berhasil dihindarinya, namun tak disangkanya Kurohebi yang bertubuh seperti pasir itu melesat ke arahnya dan ikut menyerang dengan sihirnya, "Sand Rebellion!"
"APA?!" Erza terkejut setengah mati, begitu pusaran badai pasir tengah berusaha melemparnya ke udara.
Kurohebi berdiri angkuh seraya terkekeh bersama Nullpudding. Berbeda dengan Obra yang masih saja berdiri diam jauh di belakang mereka. Penyihir itu sedikit aneh dan mencurigakan.
Tanpa terpikirkan oleh dua orang yang baru menyerangnya barusan, Erza melesat keluar dari gundukan pasir Kurohebi dan langsung melompat ke arah Nullpudding.
"KANSO!" Erza memanggil sebuah pedang lagi dan menyerang Nullpudding dengan dua pedang di tangannya.
"Dual Sword Attack..." gumam Kurohebi yang sedikit kagum. Ia sempat berdecak lidah melihat Erza tengah menyerang Nullpudding dengan gaya pedang bertubi-tubi di dua tangannya. Namun, ia bukanlah orang yang sabaran, ia ikutan menyerang Erza dan berusaha menyudutkannya.
Erza mulai kewalahan menghadapi dua orang itu. Ia mendecih lalu kembali melompat ke udara. "Tenrin – Circle Sword!" satu per satu pedang Erza datang dan melingkari Erza. "Menarilah pedang-pedangku!"
Tanpa menunggu kedua musuhnya mencerna kekuatan yang dimilikinya, pedang-pedang yang melingkarinya itu langsung berputar dan melesat ke arah mereka. Timbul cahaya terang di kedua mata Kurohebi dan Nullpudding, satu per satu pedang mulai melesat kepada mereka dengan indahnya.
SLASH!
"SAND REBELLION!" sekali lagi Kurohebi berusaha melindungi dirinya dengan sihir pasir miliknya. Nullpudding yang berlari menghindari lingkaran pedang milik Erza pun sedikit ketakutan, di tengah teriakan minta tolongnya, tiba-tiba saja dua puluh pedang tengah jatuh dari langit dan menghalangi jalannya.
Nullpudding menoleh ke belakang dengan keringat dingin dan dilihatnya Akaishi aka Erza yang tengah beraut menyeramkan. "Kau akan kupastikan mati di sini!" ujar Erza menyerupai desisan. Ia mengacungkan dua pedangnya dan menebas Nullpudding yang tengah kebingungan begitu saja.
SRAASH!
"Arrghh...!" Bruk. Nullpudding pun jatuh ke tanah dengan mata terpejam. Tidak mati, hanya pingsan. Melihat itu, Kurohebi jadi naik darah dan berpekik geram. "Kurang ajaaar!" serunya. "Obra, saatnya mulai rencana rahasia kita!"
Obra yang berwujud pria berwajah biru besar itu mengangguk, lalu mengangkat tangannya ke atas dan menyalangkan matanya yang tiba-tiba bersinar itu kepada Erza.
Entah kenapa Erza jadi sangat bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Sebuah kekuatan yang menguras sihirnya tanpa ia sadari lewat begitu saja. Yang Erza tahu hanyalah, ia terduduk ke tanah dan kedua pedang di tangannya perlahan menghilang.
'La-lagi... lagi-lagi seseorang menguras sihirku. Sama seperti saat Sabertooth menyerangku beberapa waktu lalu... ta-tapi kenapa..? Ke-kenapa?!'
"Kalau kulihat, kami telah berhasil menaklukkanmu lagi, Akaishi..." suara berat dan tidak asing itu mengusik telinga Erza.
Erza mendongak dan matanya langsung terbelalak begitu menyadari Sting tengah berdiri di hadapannya dengan menyeringai lebar.
"Kali ini, aku akan benar-benar menghajarmu.. Akaishi..."
Sang naga yang suka menguras sihir Erza ini akhirnya muncul. Kali ini ia membiarkan Erza bersenang-senang dulu dengan pedangnya dan Sting baru muncul setelah Erza lelah menari bersama pedang luar biasanya.
"Sting..." desis Erza dengan napas tersengal. Kedua tangannya mengepal berusaha menahan kekesalannya.
Sting menaikkan sebelah alisnya, lalu mencondongkan kepalanya tepat di depan wajah Erza. Ia kembali mengembangkan seringaiannya. "Kau memang istimewa. Lihat! Melawan tiga orang hanya dengan pedang. Aku sangat yakin, kau belum mengerahkan semua sihirmu, kan? Hah, tapi mengapa tiba-tiba sihirmu habis seperti ini?"
Erza memicingkan matanya. Tangan kanannya terulur dan langsung meninju hidung Sting keras-keras.
"AAARRRGH!" Sting merintih berlebihan sembari memegangi hidungnya yang bengkak dan berdarah. "KA-KA-KAU! APA YANG KAU PERBUAT?!"
Kurohebi dan Obra tengah menyaksikan perbincangan panas Erza dan Sting itu dengan datar. Tadinya mereka menanti suasana yang lebih panas baru akan menghajar Erza lagi, namun Kurohebi ikutan meninju Erza dengan Obra yang memegangi kedua tangan Erza agar tidak melawan.
DUAK! DUAK! DUAK!
Beberapa tinjuan mendarat di pipi dan perut Erza.
"HAH! Ohok...!" Erza terbatuk dan darah yang merah pekat mengalir di ujung bibirnya.
Sting yang telah pulih dari kesakitannya itu pun kembali berdiri dan langsung menekan kedua pipi Erza dengan satu tangannya. "Aku tahu. Sihirmu bukan hanya ini, Akaishi.. Selama ini kau meremehkanku hanya dengan pedangmu!" suara parau Sting membuat Erza merinding ngeri.
"A-apa maksudmu?" tanya Erza susah payah.
"Kau begitu sombong dengan pedangmu! Kau tahu itu?!" ujar Kurohebi ikut-ikutan.
Sting mendengus dan melempar Erza ke tanah begitu saja hingga Erza terkulai lemah. Erza terdiam dan melirik ke pintu masuk istana yang tidak terbuka. Dengan sisa kekuatannya, Erza berusaha mengangkat tangan kirinya lalu melihat radar yang masih menyala. Usai melihat sekilas lalu menghela napas, ia kembali menatap Sting dengan nyalang kemudian bergumam, "Daerah timur istana Edo... turun dua kali, cari pilar pertama dan belok ke kiri, keluar pintu samping selatan tiga kali tanpa berbelok sedikit pun..."
"Apa yang kau gumamkan itu, baka?!" Sting yang terperanjat heran itu hanya bisa angkat alis. Begitupula Kurohebi dan Obra yang tidak mengerti.
Tanpa menggubris kebingungan Sting, Erza melanjutkan dengan terputus-putus karena sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "...sampai di luar istana, berbelok ke kiri lagi dan baru ke kanan.. kau akan menemukan halaman besar tanpa semak sedikitpun. Kecuali semak belukar berbisa dan pengecut yang ada di depanku.."
Sting melebarkan kedua matanya tiba-tiba. "Ja-jangan bilang..!" Erza gantian menyeringai.
Belum sempat mencernanya, dua serangan dari arah berlawanan menyerbu dengan bringasnya dan..
DUAK!
Dalam sekejap, Sting tersungkur di tanah usai mendapatkan pukulan telak di rahangnya. Obra dan Kurohebi juga mendapat serangan luar biasa kuat, melayang hingga ke udara dan terjatuh keras ke tanah.
Sting berusaha bangkit namun gagal, "Ku-kurang.. ajar.."
Dua serangan dari arah berlawanan itu dilancarkan oleh dua orang yang baru saja tiba sebagai tim penyelamat. Mereka adalah Macbeth dan juga Jellal!
Macbeth tersenyum lebar seraya memainkan kedua alisnya, "Misi penyelamatan tahap dua, sukses dilaksanakan!" cetusnya bangga. "Yo, terima kasih atas kerja sama kalian, Hibiki, Erik." sambungnya.
"Akaishi, kau baik-baik saja?" Jellal yang baru saja melesat datang segera menghampiri Erza. Ia membantu Erza duduk dengan memapah bahu Erza.
Erza mengangguk dan tersenyum kecil pada Jellal. "Hm, baik-baik saja, Jellal.." Jellal balas tersenyum, meski ia sangat cemas melihat berbagai babak belur di wajah Erza. Jellal mengambil saputangan di sakunya dan memberikannya pada Erza. "pakailah." Ucapnya.
Erza menerima saputangan Jellal dan segera menyeka darah di ujung bibirnya dengan saputangan itu. "Terima kasih karena telah membantuku, Macbeth.. Jell..."
Perkataan Erza terputus karena dipeluk Jellal begitu saja. Jellal mengeratkan pelukannya dan Erza dapat merasakan hembusan napas Jellal di lehernya.
Pelukan itu memang hanya berlangsung singkat. Meski begitu, Erza sangat terkejut dan jantungnya bergemuruh dengan hebatnya. Ia pun yakin, Jellal dapat merasakan detak jantungnya yang cepat itu.
"Tak perlu mengatakan terima kasih seperti itu..." sahut Jellal setelah melepas pelukannya.
Macbeth pun mendekat "Karena kita adalah TIM!" sambungnya dengan tersenyum lebar.
Sting, Kurohebi, Obra tidak percaya pada apa yang ada di dua mata mereka.
Mana mungkin?! Bagaimana bisa Jellal dan Macbeth tiba-tiba muncul?!
.
.
Mari kita buka rahasia yang sangat dipertanyakan oleh Tim B!
"Okey. Kalau begitu, Akai-kun ke istana Edo dan menyelamatkan Jellal. Aku yang akan merebut kuda dari Sting. Lalu Sawyer yang akan mengumpulkan bendera. Bagaimana?" usul Macbeth dengan penjelasan cepat.
"Hm, aku setuju!" sahut Erza bersemangat.
"Ya, aku juga tidak keberatan." Tambah Sawyer.
Macbeth menghela napas lalu tersenyum lebar lagi, "Yosh! Kita berpencar! Eh, tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, Akai-kun..."
Erza tertegun dan bertanya, "Apa itu?"
"Jika sudah sampai tujuan dan bertemu dengan musuh, teriakkan jumlah musuh yang berhadapan denganmu. Meski terasa tak berguna, tapi itu sangat berguna bagi kita, karena kita memiliki Erik Cobra. Ia dapat mendengarmu dengan jelas dari jarak jauh sekalipun. Dan juga, di sebelah Erik ada seorang Archiever yang bisa menggunakan telepati, bukan? Kita akan memanfaatkan kekuatan mereka semaksimal mungkin!"
Beberapa saat kemudian, Erza berlari ke istana Edo dan bertemu dengan musuh yang di luar dugaannya. "Tiga..?!" ungkapnya tidak terima.
Dan dari kejauhan, Erik yang tengah beradu kekuatan dengan tiga penyihir Quatro Cerberus – yang menyerang markas – bersama Sawyer dan Hibiki, dapat mendengar ungkapan Erza itu.
"Hibiki! Akaishi berhadapan dengan tiga musuh dan lagi mereka adalah Raven Tail!" teriak Erik tanpa memalingkan konsentrasinya dari Bacchus yang menyerangnya dengan liar.
"Apa?! Tiga? Raven Tail?!"
Hibiki mencoba untuk tetap tenang dan berusaha menghubungi Macbeth.
"Macbeth! Akai-kun diserang Raven Tail. Perasaanku tidak enak, bisakah kau membantu Akaishi karena ia melawan tiga musuh seorang diri?"
Dari wilayah markas utama tim B, Macbeth nyengir setelah berhasil menaklukkan Rufus dan juga Rogue yang merupakan kapten markas. Macbeth juga telah mendapatkan kuda milik Sting. "Hm, aku mengerti. Perasaanku juga jadi tidak enak, karena kuda ini ditinggalkan di markas begitu saja." Cetus Macbeth seraya menaiki kuda putih tersebut, "kalau dugaanku benar, pasti Akai-kun berhadapan dengan empat orang. Bukan tiga."
Beralih pada Jellal yang tengah tersekap di dalam istana Edo. Istana yang luas, banyak sekat, banyak dinding, banyak penghalang dan sangat sepi. Tidak, tepatnya hanya Jellal yang ada di istana ini sekarang.
Jellal berjalan memutari sekeliling istana dan tak disangkanya, ia menemukan tangga turun. Jellal menuruni anak tangga perlahan sambil waspada jika tiba-tiba ada musuh yang menyerangnya. Begitu sampai di lantai bawahnya, Jellal mengangkat kedua alisnya. Istana ini benar-benar di luar akalnya. Terlalu banyak jalan dan terlalu banyak penghalang.
"Sebaiknya aku turun sampai ke lantai dasar dan mencari pintu keluar." Tutur Jellal dengan angguk-angguk sendiri. Pemuda berambut biru itu kembali melangkah menuruni setiap anak tangga yang ditemuinya.
Turun..
Turun..
Dan turun.. selalu saja ia bertemu dengan tangga. "Berapa tingkat sebenarnya istana ini?!" Jellal mulai kesal. Di dalam hatinya, ia sangat cemas dengan Erza. Ia takut sesuatu akan terjadi pada Erza. "Aku harus cepat-cepat keluar dari tempat ini!"
Jellal memutuskan untuk kembali menuruni setiap tangga yang ia temui. Lalu mencoba untuk berbelok di segala belokan yang ada di istana. Menerka-nerka setiap jalur yang bercahayakan lentera di hadapannya. Benar, istana ini, adalah istana labirin! Sampai akhirnya ia kehabisan tenaga dan beringsut duduk kelelahan di sebuah anak tangga.
"Biarkan aku istirahat sejenak! Istana ini benar-benar membuatku gila!" ucapnya dengan terengah-engah karena kecapaian. Jellal menyenderkan punggungnya ke dinding dan meluruskan kakinya serta mengatur napasnya.
"Jellal..."
Suara yang tipis itu tidak terdengar oleh Jellal yang tengah terengah-engah itu.
"Jellal.. halo, Jellaaaaal...?"
Jellal memejamkan matanya dan tidak menggubris suara aneh itu.
"HOI, JELLAL!"
Panggilan ketiga yang mengejutkan itu mengembalikan Jellal ke dunia nyata akhirnya.
"Hei, siapa ini?" Jellal bertanya-tanya dan sedikit ngeri sendiri begitu menyadari ada seseorang memanggilnya namun tidak ada siapapun di sekelilingnya.
"Bodoh! Ini aku Hibiki!"
Jellal tertawa renyah begitu baru ingat teman satu timnya itu memang bisa telepati dan bisa berkomunikasi dengannya melalui pikiran. Kekuatan yang kadang tak terpikirkan.
"Ada apa, Hibiki?" begitu Hibiki menembus alam pikirannya, Jellal jadi sedikit lupa dengan rasa lelahnya. Paling tidak, keletihannya itu terabaikan karena penasaran dengan Hibiki yang tiba-tiba bertelepati dengannya.
"Dengar dan jangan membantah sedikitpun! Saat ini Akaishi sudah sampai di istana Edo, tapi ia sedang bertarung dengan Raven Tail yang menghadang pintu masuk istana."
"APA?! Akaishi menghadapi Raven Tail sendirian?!"
"Kubilang jangan membantah!"
Jellal menurut karena entah kenapa Hibiki menjadi sangat galak saat ini.
"Jadi dilihat dari kondisi ini, Akai-kun benar-benar terhimpit, bukan?"
"Cepat katakan intinya, baka!"
Hibiki berdeham sesaat, meski demikian Jellal dapat mendengar betapa riuhnya tempat Hibiki berada saat ini. Ia menduga markas sedang diserang dan Hibiki sedang bertarung bersama Erik.
"Aku akan mengatakannya singkat saja," memang itu yang kuinginkan, bodoh, pikir Jellal. "sebaiknya kau keluar dari istana itu secepatnya seorang diri kemudian bantu Akai-kun yang kesulitan. Karena menurut Macbeth, Sting juga ikut menyerang Akaishi.."
Rasa lelah yang mengujuri Jellal benar-benar langsung menguap begitu saja. Digantikan dengan perasaan marah, tegang dan panik tiba-tiba. Jellal langsung berdiri dari tempat duduknya dan memandang lurus ke dinding terbuat dari kayu yang mengelilingi tangga.
"Tapi kumohon untuk tenangkan dirimu, Jellal.." Hibiki mengatakan hal itu sesaat sebelum Jellal hampir saja menghancurkan dinding istana dan berniat untuk melompat turun lewat jalur nekad. "Macbeth sedang menuju ke tempat Akaishi. Lalu, sebelumnya kami telah berhasil berkomunikasi dengan Akai-kun lewat telepati." Inilah bukti kecemasan yang menyelimuti Hibiki, ia selalu saja tidak konsisten menyebut 'Akaishi' atau 'Akai-kun' ketika sedang cemas, khawatir, dan panik.
"Apa yang dikatakan Akaishi?! Apa dia baik-baik saja?!"
"Oi oi, bukan hanya kau yang cemas di sini, Fernandes-kun.." sebuah suara ikutan menembus pikiran Jellal bagai petir saja. Suara itu adalah milik Macbeth. "telepati kami terputus begitu saja. Jika dugaanku benar, kemungkinan Akai-kun sedang dihajar habis-habisan oleh Raven dan juga Sting, sampai-sampai telepati terputus secara paksa begitu saja."
Penjelasan Macbeth barusan membuat Jellal benar-benar membulatkan tekadnya untuk menghancurkan dinding, bila perlu satu istana.
"Tunggu-tunggu jangan mengaum seperti itu, Jellal-kun.." Jellal menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras untuk menenangkan dirinya. "aku sudah mengatakan pada Akai-kun, untuk mengkonfirmasi lokasinya kepadamu sebelum akhirnya telepati mesra kami terputus."
"Tidak perlu bertele-tele, Mac-san.." ujar Hibiki.
"Okey. Jadi, yang kita perlukan sekarang konfirmasi dari Akai-kun dan kemampuan istimewa milik Erik." Ucap Macbeth kemudian.
Mendengarnya, lutut Jellal merasa lemas entah kenapa. Ia memilih untuk bersender di dinding kayu sesaat untuk meredakan kecemasannya. Bagaimanapun, ini bukan hanya soal Akaishi yang terjebak dalam pertarungan tidak adil itu.. tapi Erza.. Erza!
Di sisi lain..
"HAH! Ohok...!"
"Aku tahu. Sihirmu bukan hanya ini, Akaishi.. Selama ini kau meremehkanku hanya dengan pedangmu!"
"A-apa maksudmu?" tanya Erza susah payah.
"Kau begitu sombong dengan pedangmu! Kau tahu itu?!" Kurohebi ikutan mendekati Erza dan ikutan menempelengnya juga.
Sting mendengus dan melempar Erza ke tanah begitu saja hingga Erza terkulai lemah.
Ia masih ingat betul telepatinya bersama Macbeth sebelumnya. "Konfirmasi lokasimu segera. Kami akan segera membantumu. Lagipula kau sedang tidak ingin melihat Jellal yang marah denganmu karena kau mengambil resiko besar ini sendirian, bukan?"
Erza terdiam dan melirik ke pintu masuk istana yang tidak terbuka. "Benar.. Jellal sangat merepotkan kalau sedang marah. Lebih tepatnya... aku tidak ingin melihatnya marah atau mengacuhkanku.." pikirnya dengan tersenyum pahit. Ini memang tanggung jawabnya, tapi.. ini adalah tim dan ia merasa sudah lemah juga tak berdaya.. jadi..
Erza mengangkat tangan kirinya dan melihat posisi Jellal dengan seksama. Dalam waktu singkat ia merekam lokasi detail Jellal dan kembali menatap Sting dengan nyalang.
"Daerah timur istana Edo... turun dua kali, cari pilar pertama dan belok ke kiri, keluar pintu samping selatan tiga kali tanpa berbelok sedikit pun..."
Erik yang menangkap suara Erza melalui daun telinganya segera berteriak keras pada Hibiki. "Hibiki! Daerah timur istana Edo... turun dua kali, cari pilar pertama dan belok kiri. Lalu keluar pintu samping selatan tiga kali, jangan belok sama sekali!"
"Jellal dengarkan baik-baik!" Hibiki langsung menelepatikan segala yang diucapkan Erik kepada Jellal, di dalam istana, Jellal mengaktifkan Meteor-nya dan langsung melesat ke segala arah sesuai petunjuknya. Melesat bagai kilat, membawanya ke luar istana, akhirnya.
"Tinggal belok kiri lalu ke kanan, kau akan bertemu Akai-kun."
"YOSH!" Jellal berpekik keras, meluapkan segala amarah kepada kepalan tangannya yang sudah ia siapkan untuk meninju sosok yang menghajar Erza. Ditambah, begitu sampai di lokasi, ia dengan jelas melihat Erza terkulai di tanah dengan lemah serta Sting bersama Kurohebi dan juga Obra berdiri mengelilingi Erza.
Jellal menginjak tanah berbatu di bawahnya dengan keras, hingga menimbulkan suara keras. Saat itu Sting dan yang lain langsung menoleh kepadanya. Tanpa basa-basi lagi, Jellal langsung melancarkan tinju yang ia siapkan sebelumnya ke arah rahang orang angkuh itu – Sting.
"Guooh...!" Sting terpental keras ke udara lalu menabrak dinding benteng. Keras dan terdengar sangat menyakitkan apalagi saat terdengar suara krek yang mungkin saja berasal dari tulang belakang atau rusuknya.
Di saat yang bersamaan, Kurohebi dan Obra melesat ke udara bagai diserang angin tornado lalu terjatuh ke tanah dengan bagian muka menabrak tanah. Terdengar suara klak-klak juga kali ini, mungkin bersumber dari tulang Mandibula atau mungkin os Frontal-nya.
"Misi penyelamatan tahap dua, sukses dilaksanakan!" cetusnya seraya menaik-turunkan kedua alisnya kepada Jellal. Seolah mengatakan, 'Aku teman tim yang sangat keren, bukan?' "Yo, terima kasih atas kerja sama kalian, Hibiki, Erik." Imbuhnya lewat telepati. Dari kejauhan, Hibiki yang tengah berusaha mempertahankan markas menghela napas lega, karena paling tidak salah satu tugasnya terselesaikan dan berhasil melindungi Erza.
Jellal tidak terlalu peduli bagaimana semua ini terjadi, yang ia pikirkan hanya Erza. "Akaishi, kau baik-baik saja?" ia langsung bertanya dan menghampiri juga membantu Erza yang berusaha untuk bangkit itu.
Ia mencengkeram bahu Erza kuat-kuat sembari mengamati wajah Erza yang bengkak dimana-mana. 'Teganya, pengecut ini!' umpat Jellal dalam hati.
Erza memaksa tersenyum kecil pada Jellal dikala wajah berantakannya. "Hm, baik-baik saja, Jellal.." Jellal balas tersenyum, meski ia sangat tidak yakin Erza baik-baik saja. Jellal mengambil saputangan di sakunya dan memberikannya pada Erza. "pakailah." Ucapnya.
Erza menerima saputangan Jellal dan segera menyeka darah di ujung bibirnya dengan saputangan itu. "Terima kasih karena telah membantuku, Macbeth.. Jell..."
Memang seharusnya tidak boleh ditunjukkan di sini. Tapi mau bagaimana lagi.. Jellal benar-benar tidak bisa menahannya kali ini. Ia langsung memeluk Erza begitu saja. Ia pun bahkan tahu betapa terkejutnya Erza saat ini.
Jellal mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di bahu Erza. Sekitar sepuluh atau lima belas detik, Jellal melepaskan pelukannya, setelah menyadari bagaimana degup jantung Erza yang jadi tak karuan itu.
"Tak perlu mengatakan terima kasih seperti itu..." Jellal memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan dan bersikap biasa. Terlebih teringat ada Macbeth yang sedang memperhatikan, Jellal entah kenapa yakin Macbeth akan menggodanya, jadi sebaiknya jangan bersikap malu-malu, deh.
Macbeth pun mendekat "Karena kita adalah TIM!" sambungnya dengan tersenyum lebar. Kemudian menggoda Jellal dengan mengedipkan sebelah mata berulangkali, seolah mengatakan 'Oh jadi begitu ya, Jellal..' begitu. Abaikan.
"Okey, misi kita sekarang.. Tinggal mengalahkan orang tersisa yang menyerang markas, membawa Jellal ke markas, dan kembali mencari tiga bendera." Ujar Macbeth yang masih semangat.
Jellal dan Erza mengangguk bersamaan, entah kenapa mereka menjadi dapat melihat hasil dari babak ini dengan jelas. Mereka yakin... pasti akan memenangkan babak ini!
Keyakinan mereka pun terjawab..
Setelah berhasil kembali ke markas, tercengang melihat Bacchus dkk sudah terkapar tak berdaya. Sawyer juga sudah mengumpulkan bendera yang tersisa dalam waktu singkat. Begitu Jellal bersama Erza dan Macbeth memasuki markas dengan wajah bertanya-tanya, bapak Messenger yang sebelumnya pun kembali datang. Ia mengucapkan selamat dan juga mengatakan jalan keluar dari Dunia Virtual ini.
Dengan perasaan bahagia, penyihir tim A ini pun keluar dari dunia luar nalar beriringan. Erza digendong di punggung Jellal secara paksa. "Jellal, aku bisa jalan sendiri.. turunkan aku.." ucap Erza dengan wajah memerah karena malu. Apalagi ia masih ingat momen Jellal memeluknya.
"Sudahlah, Akai-kun.. tidak perlu sungkan seperti itu." ungkap Macbeth yang berjalan di depan Jellal.
"Hm, rasanya tidak sesuai, ya. Harusnya aku yang menggendongmu, Akai-kun." Tambah Hibiki menggoda Jellal. Hibiki hendak menarik tangan Erza, namun Jellal langsung memiringkan tubuhnya dan tidak membiarkan Hibiki menyentuh Erza sedikitpun.
Jellal memicingkan matanya lalu membenarkan posisi Erza di punggungnya. "Hal berat seperti ini, kau tidak akan mampu melakukannya, Hibiki!"
Jellal berkata begitu saja, tanpa memikirkan maknanya. Dan begitu tersadar, ia menatap Hibiki dengan pucat lalu mulai merasakan aura mengerikan dari belakang punggungnya.
"Hoh, jadi begitu, ya..." kata Erza yang merasa tersindir.
"Bu-bukan itu maksudku!"
"Wah, ada yang sedang marah di punggungmu loh, Jellal." cetus Sawyer ikut-ikutan.
"Aku dapat mendengar Akaishi bilang, 'Aku akan membunuhmu malam ini juga'. Hati-hati, Jellal." tambah Erik.
"A-Aku tidak bilang begitu!" balas Erza gagap.
"Hm, aku dapat mendengarmu, loh."
"Ti-tidak! Kau salah!"
"Hmm, atau harus kubilang perasaanmu pada Jellal sesungguh-sungguhnya?"
"Ja-ja-jangan!"
Macbeth mendekat untuk menyudutkan Erza, "Memang.. apa perasaanmu sesungguhnya pada Jellal, Akai-kun?"
"Bu-bukan apa-apa.."
Yang lain tertawa melihat Erza yang merespon Erik dengan wajah gugup juga melihat ekspresi penasaran dan malu-malu di wajah Jellal.
Jellal tidak tahu harus berkata apa di tengah wajahnya yang ikutan memerah seperti Erza. Tidak, ia bahkan bingung harus marah atau merasa bersalah. Sungguh tidak enak di hadapkan situasi seperti ini.
Meski begitu, sebuah ikatan yang tak terlihat akhirnya terjalin. Meski 'Tim Special' memang suka menggoda dan begitu menyebalkan, Jellal Hibiki Erza tidak membenci mereka.
Bagi mereka, 'Special' memang sungguh-sungguh spesial...
CHAPTER 13 END!
Yoshaa! Tidak kerasa banget udah chapter 13 dan Ajang Double-S Class nya juga udah mau selesai. Haha. Btw, terima kasih karena sudah membaca The Magic School sampai chapter ini dan Karu tunggu review dari kalian semua tentang chapter ini! ^0^ Apalagi kalo ada yang mau request, Karu akan terima sepenuh hati.. ^^
Okay, sampai bertemu di chapter depan!
BALASAN REVIEW CHAPTER 12
CN Scarlet = Oh, tenang saja wig-nya Erza ga semudah itu kok lepasnya. Hehehe. Yaa, begitulah Erik. Sampai akhir chap ini masih aja nguping, haha. -,- Okey, makasih untuk reviewnya, Scarlet-san :)
Frwt = Ada dong! Tapi mungkin sihir rahasia buat di fanfic ini doang deh -,- Yang dimaksud chapter rahasia di ff ini tuh sebenernya sihir Exquipping-nya dia yang bisa ganti2 baju itu, loh.. Hehe, terima kasih ya sudah review! Aku tunggu reviewmu lagi ^^
cacao thedarkwitchfromnoir = Hehe, tenang tenang di chap ini bersambungnya ga di bagian yang menegangkan kok. Hehe. Okeydeh, terima kasih ya udah review! ^^
Yowa-Go = Terima kasih untuk reviewnya, ya. Semoga suka dengan cerita yang Karu tulis. ^^
