dedicated to Sehunhan (i've read ur newest review in all of my hunhan stories aww ur so adorbs thank u so much /smooch/)
"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."
Sehun tak menyangka jika apa yang terjadi saat ini memanglah jalan hidupnya. Dua tahun lalu saat ia baru saja masuk bangku perkuliahan, Sehun tak pernah berpikir bahwa ia akan melalui masa-masa kuliahnya dengan seorang kekasih. Paska gagalnya hubungan antara dia dengan Soojung, Sehun tak pernah berniat lagi untuk mencari kekasih.
Namun kini apa yang ia alami jauh dari perkiraannya waktu dulu.
Sehun selalu setuju dengan ketidaksukaan Kyungsoo pada Seoul di musim dingin karena—well, salju yang 'tak berperikemanusiaan'. Hari itu adalah Sabtu yang sangat dingin, sepanjang jalan di seluruh distrik dipenuhi dengan warna putih dari salju yang terus turun memenuhi bumi.
"Kupesankan cokelat panas, ya?"
Lu Han, seseorang yang telah resmi menjadi kekasihnya selama lima bulan, yang kini sedang duduk di depannya tersebut menggeleng keras-keras. Sabtu pagi yang membeku itu mereka lalui dengan singgah ke sebuah kedai kopi langganan tepat di samping kampus mereka.
Memicing tajam, Sehun menurunkan daftar menu yang sedang ia pegang. Matanya memancang pada Lu Han, mengamati bagaimana sosoknya terus menggeleng seakan ia takkan pernah memesan menu selain apa yang ia sering pesan.
"Han, cokelat panas baik untuk tubuhmu di musim yang ngeri seperti ini."
"Macchiato saja," jawabnya final.
Sehun mendesah pasrah, merasa kalah dengan Lu Han yang sudah mengeluarkan ultimatum dengan nada suara yang tak terbantahkan seperti itu.
"Jangan karena itu adalah hal pertama yang kuberikan padamu, kau jadi tak ingin memesan kopi lain," cela Sehun sambil bersungut-sungut.
Lu Han tertawa kecil, matanya membentuk sebuah lengkungan indah seperti bulan sabit, dan ujung bibirnya tertarik keatas, membentuk satu simpul senyum yang menghangatkan. "Memang seperti itu," jawabnya jenaka.
Sehun mendecih, lalu kembali menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ia tempati seraya melihat kekasihnya yang pergi melenggang ke tempat di mana ia akan memesan pesanan mereka.
Ujung mata Sehun mengikuti tiap pergerakan Lu Han, melirik bagaimana sosok kekasihnya berjalan pelan, rambut berwarna cokelat madunya bergerak pelan di antara topi beanie yang ia kenakan.
Mungkin dua tahun lalu, Sehun takkan pernah mengira jika ia akan berpacaran lagi.
Hell—bahkan Sehun tak pernah mengira bahwa ia akan berpacaran dengan seorang lelaki. Sehun bahkan baru tahu kalau ia gay. Oh Tuhan...
Sehun terhenyak ketika ia tersadar bahwa Lu Han baru saja kembali dengan membawa dua cup pesanan mereka.
Ketika sosoknya kembali menjatuhkan diri di sebuah kursi empuk di depannya, Sehun melirik kembali kekasihnya yang masih tersenyum.
Lu Han mengulurkan tangan kanannya, menggesernya hingga cup tersebut berada di depan Sehun.
Melirik sekilas, Sehun melihat bahwa di badan cup tersebut tertulis sebuah nama.
"Shixun?"
Lu Han mengangguk antusias. "Namamu dalam bahasa China disebut dengan Shixun."
Sehun tertawa mendengar aksen Lu Han saat menyebutkan namanya. Lima bulan belumlah cukup bagi Sehun untuk terbiasa dengan aksen kekasihnya saat berbahasa Mandarin. Lucu sekali, pikirnya. (Lu Han akan selalu marah ketika Sehun menggunakan kata lucu untuk mendeskripsikan dirinya.)
"Lalu mana yang kausuka? Sehun atau Shixun?"
"Sehun," jawab Lu Han mantap. "Ada banyak Shixun di China namun aku lebih memilih Sehun. Oh-Se-Hun."
Sehun tertawa sambil menggelengkan kepalanya sembari membawa tangannya untuk terulur ke kepala Lu Han, kemudian menyentil dahinya hingga ia mendengar gerutuan Lu Han dan sebuah erangan sakit.
"Sori," kata Sehun.
Lu Han memutar matanya bosan, sebelum akhirnya mulai menyesap Macchiato di hadapannya.
Mereka terdiam beberapa detik, larut dalam minuman masing-masing hingga akhirnya Lu Han mulai berbicara.
"Sehun, apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"
Sehun mengerutkan keningnya setelah cup cokelat panasnya kembali ia letakkan di atas meja. "Tentu saja. Saat musim dingin, di sebuah halte bus sebelum aku pergi ke pameran lukisan, kan?"
"Sebenarnya, hari ini genap tiga ratus enam puluh hari semenjak kita bertemu."
"Setahun kurang lima hari, maksudmu?"
Lu Han menatap Sehun bosan, hingga akhirnya Sehun kembali tertawa.
"Serius, Sehun."
"Aku juga serius, Lu Han."
"Tapi Sehun..."
"Hmm?"
"Apa kau suka padaku sejak pandangan pertama?"
Sehun, yang nampak sedang berpikir, menggosokkan jemarinya ke dagunya sambil mengamati Lu Han. "Kupikir—tidak juga."
"Serius, Sehun."
"Aku serius, Lu Han. Aku hanya menganggapmu menarik saat aku melihatmu pertama kali—"
"Sampai kau lupa untuk menutup mulutmu saat memandangiku?"
"—Shut up."
"Tapi itu fakta."
"Dan aku juga berbicara fakta. Aku hanya berpikir bahwa kau cantik..."
"Sehun."
"Oke, oke. Kuralat! Aku hanya berpikir bahwa kau—menarik saat itu."
"Lalu kapan kau jatuh cinta denganku?"
"Entahlah," jawab Sehun tak yakin. "Mungkin saat kau berkata bahwa melukis adalah hidupmu setelah sebulan kita berkenalan?"
Lu Han memandang Sehun tak percaya. "Bagaimana bisa sesuatu seperti itu bisa membuatmu mencintaiku?"
Sehun menyeringai seraya membawa kedua tangannya kedepan dada. "Yah, kau mengatakannya di saat timing dan tempat yang tepat."
"Huh?"
"Kau tak ingat? Kau mengatakan padaku hal itu saat kita sedang berduaan, melakukan tur kecil kesekeliling ruang lukisan di mana hampir empat puluh persennya adalah lukisanmu. Sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas kampus kita, dengan pencahayaan matahari dan sinar peraknya yang menembus kaca jendela, terbias oleh wajahmu dan jatuh pada tiap helai ram—OW!"
"Berhenti bersastra!"
"Kau sendiri yang bertanya!"
"Sehuun! Aku sedang berusaha menciptakan flashback yang romantis!"
Sehun memutar matanya saat ia melihat kekasihnya sedang menjambaki rambutnya sendiri, frustrasi akan tiap jawaban yang ia lontarkan.
"Serius, Lu Han, apa pentingnya kapan aku mulai jatuh cinta padamu?"
"Karena jika aku duluan yang jatuh cinta denganmu, itu namanya aku yang berusaha mengejarmu!"
"Omong kosong, Han. Semua orang tahu kita saling mencintai."
"Aww..."
"Namun aku yakin bahwa kau duluan yang mencintaiku."
Lu Han menampilkan wajah paling malas di depan Sehun, membuat kekasihnya tertawa terpingkal-pingkal, mengabaikan fakta bahwa mereka masih di publik.
"Tapi serius, Han. Tentang siapa yang mencintai siapa duluan, itu tidak terlalu penting. Intinya adalah kita sama-sama saling menemukan di tengah jalan, kan?"
"Sehun..."
"Ew, jangan tersipu seperti gadis macam itu."
Lagi-lagi Lu Han menatap Sehun malas. Mereka melanjutkan obrolan mereka dalam tawa dan umpatan, sesekali disela oleh seruputan kopi atau cokelat, mengabaikan tumpukan salju yang enggan mencair di luar sana.
"Mengenai pameran akhir tahun nanti," kata Sehun melanjutkan obrolan ketika ia teringat akan sebuah pameran akhir tahun yang terus dibicarakan oleh Baekhyun. "Kau akan memamerkan karyamu lagi, kan?"
Lu Han, nampak gelisah, mendesah lelah. "Entahlah. Aku belum melukis lagi."
"Bagaimana dengan pondok kecil yang kaugambar tempo hari?"
Lu Han menggelengkan kepalanya. "Sudah kupajang di museum di Mokpo."
"Anak kecil di tengah jalan yang kaubuat bulan lalu?"
"Sudah ditampung oleh USU."
"Bagaimana dengan membuat yang baru?"
Lu Han menatap Sehun skeptis, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya lelah. "Aku tak yakin bisa melukis dengan cepat. Tugasku di bidang musik terus menumpuk karena banyak proyek dengan lukisanku."
Sehun mengamati wajah Lu Han yang meredup seketika. Selama mereka bersama, satu-satunya hal yang akan membuat Lu Han memasang tampang seperti ini adalah orang tuanya yang berada di China. Namun kali ini, ia harus ikut sakit hati melihat Lu Han bersedih dengan alasan yang berbeda.
"Tapi bukankah pihak pameran memintamu untuk mengirimkan satu lukisan?"
Lu Han mengangguk, namun tak puguh. "Tak ada yang lainnya, Hun. Semua sudah kukirim ke kurator. Lagian untuk melukis yang baru, aku sama sekali tak memiliki ide."
"Bagaimana jika kau belajar menggambar obyek?"
Sehun tahu Lu Han tak bisa menggambar obyek, kekasihnya sendiri yang memberitahunya dulu. Lu Han hanya akan menggambar apa yang ada di benak dan imajinya. Ketika ia dihadapkan dengan sebuah obyek, maka apa yang ia gambar akan sama sekali berbeda. Terlihat jelek dan bukan Lu Han sekali. Itu jugalah yang menjadikan Lu Han memilih musik sebagai majornya. Karena ia takkan pernah bisa menggambar obyek.
Lu Han menghela napas, mengubur kepalanya dalam lipatan tangannya di atas meja. "Mustahil," katanya lirih, suaranya tertahan oleh kedua lengannya.
Sehun menatap Lu Han dengan tatapan sayang dan iba, namun ia tahu jika ia tak bisa membantunya.
"Bagaimana dengan proyek anak kecil yang kau pajang di pameran saat pertama kali kita bertemu?"
Lu Han menggigit bibir bawahnya, sedangkan matanya menolak bertemu dengan mata Sehun, mencari obyek yang bisa ia pandang kecuali mata Sehun.
Hal itu mau tak mau membuat Sehun mengangkat alisnya heran.
"Han?"
"Sehun—"
Sehun memiringkan kepalanya ketika Lu Han mulai memandangnya.
"Sebenarnya, ada sesuatu tentang lukisan itu yang ingin kukatakan padamu."
Entah mengapa, Sehun merasa bahwa apa yang akan ia dengar bukanlah sesuatu yang akan membuatnya senang.
Entah mengapa.
"Ya?" tanya Sehun, suaranya terdengar lebih serak dan samar.
Lu Han menghela napas, menurunkan pandangannya sambil kedua tangannya yang mencengkeram erat cup kopinya.
"Ini juga adalah alasan mengapa aku memintamu untuk bertemu."
Hening merajai mereka, dan Sehun ingat keheningan semacam ini ia kira hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya, yaitu ketika Soojung memutuskan hubungan mereka.
Tidak—Sehun menolak untuk berpikir semacam itu. Lu Han tidak mungkin bersikap sama seperti Soojung. Tidak setelah mereka baik-baik saja beberapa detik yang lalu.
Sehun meneguk liurnya gugup ketika mata Lu Han berbalik menatapnya.
Dalam, namun penuh rasa bingung.
"Lukisan anak kecil itu kukirim ke Jerman. Dan salah satu universitas di sana memberikan full scholarship padaku."
Sehun merasa ini lebih buruk dari yang ia bayangkan.
"Man, drama sekali."
Sehun mendesah pasrah. "Aku pusing," keluhnya seraya mengubur kepalanya di antara dua lengannya di atas meja makan, tepat di salah satu spot di dalam sebuah kafe.
Kafe bernuansa Italia itu dipilih Sehun sebagai salah satu tempat nongkrong resmi Sehun, Jongin, Baekhyun, Chanyeol dan juga Kyungsoo—sama seperti apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini.
"Lalu apa yang kaulakukan?" tanya Kyungsoo yang duduk di samping Sehun, mengelus punggung Sehun lembut seraya menatapnya iba.
"Aku bisa apa lagi?" kata Sehun seraya mengangkat kepalanya, memandang Kyungsoo dengan tatapan lelah. "Kami baru bersama selama lima bulan, Kyungsoo. Dan aku tidak akan pernah bisa memintanya untuk memilih satu di antara aku atau beasiswanya."
"Yeah, Lu Han memang sangat menginginkan Jerman," jawab Chanyeol. "Tapi Sehun, jika kau memintanya untuk tinggal, dia pasti akan tinggal."
"Benar," sambung Baekhyun. "Dia sangat mencintaimu."
"Untuk ukuran orang yang tak terlalu mengenal Lu Han, aku juga bisa melihat dia begitu mencintaimu," kata Jongin, berusaha meninju bahu Sehun, memberinya kekuatan dengan sebuah senyum.
"Tapi aku lebih mencintainya dan aku takkan bisa membiarkannya melepas impiannya."
Keempat sahabatnya memandang Sehun iba, namun jauh di dalam hati mereka, semuanya tahu jika tak ada yang bisa mereka lakukan. Tak ada yang bisa Sehun lakukan.
Sehun sempat terkejut ketika Lu Han berkata bahwa ia mendapat tawaran beasiswa. Ia sempat tercengang sebelum akhirnya Lu Han menatapnya sambil menangis tanpa suara, menggumamkan kata maaf berulang kali sambil menundukkan kepalanya, seolah-olah menjadi seseorang yang berbakat adalah sebuah kesalahan.
Seolah-olah mendapatkan impiannya adalah sebuah kesalahan.
Sehun masih terdiam kala Lu Han menangis saat itu.
Ketika Sehun membuka suaranya dengan bertanya apa yang akan Lu Han lakukan, kekasihnya tersebut hanya terdiam sambil terus menangis.
Sehun tak sejahat itu untuk melarang Lu Han hanya karena status mereka. Pun ia takkan bisa memutuskan hubungannya dengan Lu Han.
Tidak setelah kegagalannya di waktu lampau.
Sehun terlalu takut untuk sebuah rasa kehilangan.
Dengan Lu Han yang menangis di depannya, Sehun merasa hatinya pecah menjadi serpihan kaca.
Hari itu, walau tanpa kata, Sehun memberi isyarat pada Lu Han bahwa ia menyerahkan semua keputusan pada Lu Han. Ia tahu Lu Han juga berat untuk memilih, namun sekali lagi, Sehun yakin Lu Han tahu yang terbaik.
Dalam ciuman mesra mereka sesaat setelah Sehun berhenti di depan rumah Lu Han, di antara rintik salju yang turun menyapa jaket mereka hingga akhirnya turun ke tanah memberi warna putih bersih, di antara jerit frustrasi Sehun dan ketakutan serta kebimbangan Lu Han, mereka saling memberi tahu pada masing-masing bahwa apa yang akan Lu Han ambil, itu adalah yang terbaik.
Sehun bukanlah orang yang suka pergi keluar saat salju sedang lebat-lebatnya, tapi demi Lu Han, ia rela. Buktinya, saat ini ia sedang berdiri tepat di depan rumah Lu Han dengan jaket tebalnya dan syal pemberian Lu Han berwarna cokelat tua yang senada dengan topi beanie miliknya.
Setelah menekal bel rumah, ia menunggu beberapa detik hingga suara kekasihnya terdengar dari dalam rumah, membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Beberapa detik kemudian Sehun mendapati pintu rumah di depannya terbuka, menampakkan sosok Lu Han yang telah siap untuk pergi. Mukanya memerah, dan Sehun mengerutkan keningnya. Ia tak suka melihat Lu Han yang sudah pucat harus memerah karena suhu yang sangat dingin. Lu Han pernah bercerita bahwa ia sangat sensitif terhadp suhu dingin.
"Kau butuh banyak kain," kata Sehun ketika Lu Han menggeretnya paksa untuk mulai berjalan.
Lu Han di dalam himpitan lengannya mendengus kecil. "Sudah biasa, kok."
"Tapi mukamu memerah."
"Hanya tersipu karena ada kamu," katanya konyol sambil tertawa.
Sehun melepaskan genggaman tangan Lu Han sambil mendorongnya keras-keras hingga kekasih mungilnya itu terjerembab ke depan, jatuh di antara salju yang menumpuk. Sehun tertawa melihat Lu Han yang memasang tampang bosan sekaligus marah, namun sedetik kemudian, ia mengulurkan tangannya untuk menggeret Lu Han.
Merasa bahwa ia tak ingin menjadi satu-satunya pihak yang tersiksa, Lu Han balik menggeret tangan kekasihnya. Sehun tersentak ketika Lu Han menariknya hingga ia jatuh tepat di samping Lu Han dengan wajah yang menabrak tumpukan salju, membuatnya merinding karena dinginnya.
Sehun bangkit ketika ia mendengar tawa Lu Han di sampingnya yang menggelegar. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat kekasihnya memukul salju di bawahnya, membuatnya terlihat konyol karena tertawa seperti itu.
Sehun menyentil dahi Lu Han—yang sudah menjadi kebiasaannya—hingga kekasihnya lagi-lagi terjatuh kebelakang dengan bunyi ow pelan, membuat Sehun merasa kembali menang.
Lu Han, seperti orang yang keras kepala, bangkit seraya melemparkan salju yang berada di genggamannya kearah Sehun yang naasnya sudah siap akan lancaran serangan Lu Han, menjadikan tangannya sebagai tameng.
Mereka berdua tetap dalam keadaan duduk di atas salju di tengah jalan, tertawa seperti orang gila sambil sesekali memukul satu sama lain. Sesekali, Sehun akan mendorong atau menggeret Lu Han hingga ia terjungkal dan Lu Han akan melemparkan salju kearahnya.
Ah, Sehun tak pernah merasa bahwa jatuh di tumpukan salju akan sehangat ini.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah Sehun merasa bahwa mereka akan membeku jika lama-lama berada di sana, dan Lu Han akhirnya menerima uluran tangan kekasihnya untuk bangkit sebelum melemparkan satu salju terakhir ke jaket Sehun.
"Dulu waktu aku kecil, aku suka sekali bermain lempar salju," kata Luhan yang mulai bercerita tatkala mereka lanjut berjalan beriringan dengan tangan kanannya yang mengapit lengan kiri Sehun. "Aku akan bermain dengan Yiu Wen—"
"Seorang lelaki?"
"Sehun."
"Lelaki?"
Lu Han memutar matanya jengah. Cemburu Sehun keterlaluan. "Lelaki, ya, lelaki. Namun lelaki berumur tujuh tahun."
"Biasanya teman lama sering menyimpan perasaan."
"Kau terlalu banyak menonton drama."
"Tapi itu benar."
"Oke, lalu bagaimana dengan kau dan Jongin?"
"Jongin sudah punya Kyungsoo."
"Dan aku sudah punya kau, Sehun. Berhenti menjadi idiot."
Sehun mendengus, namun sedetik kemudian tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangan Lu Han.
"Kau terlalu pendek. Makan yang banyak. Perhatikan porsi dan pola makanmu."
Lu Han tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Kalau aku pendek, kau harusnya menyuruhku untuk meninggikan badan, bukannya makan."
"Makan juga akan membantumu tumbuh tinggi, tolol."
Lu Han memutar matanya imajiner. "Siapa yang punya teori bodoh seperti itu?"
"Aku, kekasihmu."
Lu Han tersenyum, menyenderkan kepalanya ke lengan Sehun. Hatinya berdegup keras, walau mereka sudah cukup lama bersama, namun ia belum bisa menetralkan perasaan membuncah yang ada.
Di balik sifat dingin dan kolot Sehun, sebenarnya ia adalah pria yang sangat perhatian. Dibalik nama ejekan seperti tolol, kerdil, idiot, jelek, dan yang lainnya, ia adalah pria yang hangat. Hanya saja ia terlalu malu untuk memberikan kata-kata romantis untuknya.
"Kau juga semakin jelek dengan kantung matamu itu. Tidurlah yang cukup dan batasi pekerjaan melukismu atau aku akan malu punya kekasih jelek sepertimu."
Ah, ungkapan aku mencintaimu bagi Sehun tak melulu berwujud i love you.
"Dan lagi, kau harus memilih pakaian tebal. Aku tak ingin berjalan di samping orang yang pakaiannya tak kekinian. Kau tahu? Pakaian kekinian yang tebal dan hangat di musim dingin."
"Bilang saja kau khawatir padaku, Sehun."
"Ew, tidak. Kau hanya saaangat ketinggalan zaman."
Lu Han mendengus mencela, sebelum akhirnya ia mengiyakan permintaan kekasihnya.
"Hun, ngomong-ngomong, kita mau kemana?"
"Memangnya kau pengennya kemana?"
"Kemana saja."
"Ke neraka, ya?"
"Boleh. Asal bersamamu."
"Dasar iblis."
"Hun, serius, kita mau kemana sih?"
"Kencan. Memangnya apa yang biasa dilakukan sepasang kekasih?"
Lu Han merasa terkadang Sehun mengucapkan kata yang bisa membuat wajahnya memanas tanpa ia sadari.
from kim jong
hun bagaimana caranya mengucapkan kata-kata romantis untuk setahun masa pacaran? Apakah "kali pertama aku melihatmu, aku sudah merasa bahwa kau adalah jodohku" adalah hal yang tak terlalu cheesy?
to kim jong
tapi kau pertama kali melihat kyungsoo saat kita semua berada di playgroup
from kim jong
lalu bagaimana? Apa "aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hidupku?"
to kim jong
bagaimana jika setahun lagi dia khilaf dan menemukan seseorang yang lebih tepat? Kau akan terus mencintainya? Begitu?
"Kau jahat sekali," kata Lu Han di sampingnya sembari merapatkan dirinya pada Sehun dan menyeruput kopi panasnya. Mereka akhirnya pergi ke sebuah kafe untuk membeli dua kopi panas, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah taman dengan sebuah persinggahan beratap di ujung taman, lumayan untuk menghangatkan badan. Untung saja sepi, pikir mereka.
"Idiot sepertinya memang harus disadarkan."
Beberapa detik kemudian, balasan dari Jongin datang.
from kim jong
fuck u
"Lu Han."
Lu Han mendongak seraya menyep kopinya pelan. "Hm?"
"Apa yang kauinginkan nanti saat hubungan kita genap setahun?"
"Memangnya kenapa? Tumben sekali."
"Hanya ingin tahu."
Lu Han terlihat sedang berpikir, dan Sehun terlalu penasaran dan takut jika Lu Han ingin meminta putus atau apapun yang takkan bisa ia lakukan.
"Aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin tahun-tahun berikutnya kita akan terus bersama. Apa kau mau memberikannya untukku?"
Sehun mendongak menatap Lu Han di sisi kirinya, dan ia bisa melihat bagaimana Lu Han tersenyum sambil menatapnya lembut. Sehun tak pernah bisa bosan dengan bagaimana Lu Han menatapnya, teduh dan penuh kasih sayang.n
"Lu Han..."
Lu Han mendongak, hingga ketika saat Sehun menarik tubuhnya, yang ia rasakan adalah bibir Sehun yang hangat menyentuh bibirnya lembut. Mereka bertukar cinta di tengah salju yang turun lewat atap kayu di atas mereka, lewat senandung mesra derap pejalan kaki dan aroma roti di seberang jalan, serta suasan sore yg membiaskan sinar mentari berwarna jingga yang mengitip di sela-sel langit kelabu.
Ciuman yang mereka bagi begitu mesra, hangat, lembut dan polos.
Sedetik setelah Lu Han mengakhiri ciuman mereka, ia disambut oleh peluk hangat Sehun yang membuatnya tersenyum di dada kekasihnya. Mereka melepaskan pelukan mereka seraya tersenyum bahagia, mengetahui bahwa mereka akan melewati tahun-tahun mendatang dengan satu sama lain, namun mereka telah berjanji bahwa mereka akan melaluinya bersama, seberat apapun keadaan di masa depan.
"Kau tak merasa kedinginan?"
Lu Han menggeleng sambil melempar senyum pada Sehun yang membelai sayang rambutnya. "Tidak ketika ada kau."
"Namun lain kali kau harus memakai banyak pakaian."
"Got it, Sehun."
Mereka mengonsumsi sunyi sesaat setelahnya, membiarkan keadaan sekitar mendominasi pikiran mereka, menikmati bagaimana kopi mereka berubah menjadi dingin hingga akhirnya mereka abaikan begitu saja.
"Sehun..." Lu Han membuka mulutnya setelah mereka memutuskan untuk berdiam diri.
"Ya?"
"Aku—mengenai beasiswaku..."
Hati Sehun serasa mencelos ketika Lu Han akhirnya membawa topik yang mereka hindari seminggu belakangan ini. Katakan mereka pengecut karena memutuskan untuk tak membahas lagi topik tentang beasiswa Lu Han, namun Sehun sadar jika cep atau lambat, mereka aka kembali membahasnya.
Namun Sehun tak menyangka jika hari yang sempurna inilah saatnya.
"Ya?" jawab Sehun lirih. Nada suaranya terdengar bergetar dan penuh rasa takut.
Lu Han menggigit bibir bawahnya, seakan takut menyuarakan jawabannya, yang mana membuat Sehun semakin frustrasi akannya.
"Aku—
—memutuskan untuk menolaknya."
Sehun mendongak menatap kekasihnya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok Lu Han sedang tersenyum begitu manis padanya.
Ah, bagaimana ia bisa sangat terlambat bertemu dengan sosok seperti Lu Han?
tbc
fact : alasan mengapa lu han tidak mengambil seni lukis menjadi menjadi majornya adalah karena ia tak bisa menggambar obyek. Ia hanya akan bisa melukis apa yang ia pikirkan.
a/n : wut dats unbelievable for the first time in forever i update my fic on time. Wuw the most unbelievable is that i write fluff hunhan heree gosh i cant believe myself
brace urself i never write fluff hunhan in every chaps. I'll make u hate sehun in the next chaps be ready.
It's gonna be longer than 3shots maybe 4chaps or so bcs it'll be too long to maintain 5-7k words in a chap im sorry. Plus i cant assure u that it will be a happy end hmm the ending shall be a mystery hihi
