"Sometimes home isn't four walls. Sometimes it is two eyes and a hearbeat."


Aku hanya ingin bersamamu, apakah itu permintaan yang terlalu besar? Aku hanya ingin mendengar tawamu selama yang aku bisa, apa kau tak bisa mengabulkannya? Aku hanya ingin berada di sisimu dalam waktu yang bahkan tak bisa kita tentukan berapa puluh tahun lamanya. Aku ingin, sekali saja, memiliki hidup yang indah—namun bersamamu.

Jemari Sehun berhenti menari di atas keyboard miliknya. Ia menggigit bibir bawahnya seraya mengerutkan kening, berpikir akan beberapa bait kalimat yang bisa menuntaskan karyanya.

"Sehun?"

Sehun mendongakkan kepalanya, hanya untuk bertemu dengan sapa lembut dan senyum hangat seorang pemuda yang baru saja datang, muncul dari balik pintu kamarnya.

Langkah kecil pemuda tersebut bergema nyaring, sementara kekehan kecilnya bergantung lembut di ujung telinga Sehun. Mata cokelat besarnya terpasung pada wajah tampan Sehun, lembut dan menakjubkan seperti biasa.

Aku hanya ingin bersamamu, apakah itu permintaan yang terlalu besar? Aku hanya ingin mendengar tawamu selama yang aku bisa, apa kau tak bisa mengabulkannya? Aku hanya ingin berada di sisimu dalam waktu yang bahkan tak bisa kita tentukan berapa puluh tahun lamanya. Aku ingin, sekali saja, memiliki hidup yang indah—namun bersamamu. Dengan senyum bahagia di wajah manismu, tawa yang berdenting indah di sekelilingku, dan pandangan mata yang terasa seperti hangatnya selimut tebal di sekujur tubuh kala musim dingin meradang.

"Sehun, kubawakan kopi!" serunya nyaring seraya mengangkat plastik putih berisi dua kopi—pastinya Macchiato ketika sang pemuda ikut duduk di samping Sehun di atas kasurnya.

Lalu aku bertanya pada Tuhan—kebaikan macam apa yang pernah kulakukan di masa lampau, yang bisa membawamu datang ke dalam hidupku?

Sehun membalas senyum Lu Han sama manisnya, membalas tatapan Lu Han sama hangatnya, dan membalas cinta Lu Han sama besarnya.

Aku mencintaimu.

"Aku mencintaimu."

Lu Han terkekeh, menutupi mulutnya sebelum memukul lengan Sehun dan menyodorkan sebuah cup Macchiato untuk Sehun.

"Aku tahu," jawabnya ringan, masih dengan senyum yang sama.

Sebenarnya, Sehun tak perlu repot-repot berpikir untuk menulis karyanya karena kehadiran Lu Han saja cukup untuk membuatnya menjadi seorang penulis roman picisan.


Selain kenyataan bahwa ia sekarang sudah bersama dengan Lu Han hampir setahun, Sehun sangat bahagia karena hubungannya dengan teman-temannya masih baik-baik saja. Mereka masih selalu berkumpul untuk makan siang selagi mereka sempat, yang mana Sehun akan menarik Lu Han untuk duduk bersama mereka.

Makan siang mereka akan berlangsung ricuh, dengan Baekhyun yang akan selalu berbicara dan bertanya mengenai lukisan-lukisan Lu Han dan jurus jitu-nya dalam melukis, yang mana akan disambung dengan Kyungsoo yang akan bertanya beberapa hal tentang tugas musik, lalu Chanyeol yang akan memuji betapa Lu Han hebat dalam segala hal dan tentu saja perkataannya akan membuat Baekhyun meradang. Sehun dan Jongin, hanya akan mendengarkan mereka semua berdebat, memilih memakan kentang dan wortel mereka dalam diam.

"—dan ada sebuah hal yang ingin kukatakan pada kalian semua," kata Jongin, dengan suara yang lirih dan terkesan hati-hati. Sehun dan Lu Han bisa melihat bahu Kyungsoo yang menegang dan tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya.

Baekhyun dan Chanyeol saling pandang, seakan tahu jika apa yang akan dikatakan Jongin bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Well—setidaknya bagi Kyungsoo.

"Ada—masalah?" tanya Lu Han hati-hati.

Jongin menggelengkan kepala, namun sesaat setelah pandangannya dan Kyungsoo bertemu, ia berhenti menggelengkan kepala, berganti dengan helaan napas berat.

"Ada sesuatu, yang harus aku beritahukan pada kalian."

"Apa itu?" tanya Baekhyun, terlalu penasaran.

Jongin sesaat terlihat gugup, selalu menghindari kontak mata, dan Lu Han melihat bagaimana Kyungsoo tak nyaman dalam duduknya.

"Jongin," panggil Sehun, menyadarkan Jongin bahwa ia terlalu lama berdiam diri dalam pikirannya.

Jongin menggigit bibir bawahnya, takut, namun akhirnya bicara. "Kemarin siang aku pergi ke ruang jurusan, dan di sana aku bertemu dengan dosenku—dosen kita, Sehun. Aku berbicara banyak dengannya, dan dia berkata... bahwa aku... aku... Kyungsoo," potong Jongin sembari memandang kekasihnya yang duduk tepat di seberangnya dengan pandangan yang teramat putus asa.

Kyungsoo membatu, sementara pandangan matanya tak pernah lepas dari makanan di atas meja. Semua mata tertuju padanya, namun ia tetap diam.

"Kyungsoo..."

"Jongin mendapatkan beasiswa ke Perancis," kata Kyungsoo tegas, lugas, lancar, namun terdengar begitu getir—entah mengapa.

Sehun memandang Jongin tanpa berkedip, namun suara Kyungsoo membuatnya membatu.

"Kau juga mendapatkannya, Sehun."


"Apakah kau akan membiarkannya pergi?"

Lu Han memandang kanvasnya dalam diam. Warna emas dan biru yang ia goreskan seakan terasa hampa—tanpa makna. Lukisan bulan dan langit yang ia gambar seakan kehilangan jiwa, sepi, sendiri, sampah.

"Lu Han."

Lu Han mengambil kuas yang ia anggurkan, lalu menarikan tangannya, membentuk lengkungan-lengkungan indah dan sejajar, seperti mengajak warna-warna berdansa, menari sampai mati di satu titik di ujung kanvas.

Biru, kuning, merah—lalu hitam.

Lu Han ingat bagaimana dulu ada seorang temannya yang selalu memuji semua lukisannya. Ia selalu bisa menebak apa yang Lu Han bawa dalam lukisannya, perasaan apa yang tertuang. Kali ini Lu Han ingin bertemu dengannya lagi, ingin bertanya—apa kau merasakan kedinginan dan ketakutan yang sama di dalam lukisan ini?

Baekhyun menghela napas. "Kau tahu, Lu Han, jika kau tak ingin Sehun pergi, kau tinggal bilang. Dan ia akan melepaskannya demi dirimu."

Tangan Lu Han berhenti bergerak, meninggalkan warna biru tergantung di atas, mungkin akan dibiarkan mengering sampai menjadi kerak.

Si pelukis menghela napas sambil menutup mata.

Kuas yang ia pegang jatuh di pangkuannya tanpa ia sadari.

Sedetik kemudian, ia mengangkat kepalanya hingga manik cokelatnya bertemu pandang dengan keping hitam Baekhyun.

"Apakah Kyungsoo juga melarang Jongin pergi?"

Baekhyun terlihat gelagapan, dan Lu Han tahu jawabannya.

Baekhyun terlihat ingin berkata sesuatu, namun kemudian ia sadar, sejauh apapun ia ingin Lu Han tahu, ia juga harus mengerti bahwa ini bukan tempatnya untuk berbicara lebih banyak.


"Seriously, kalian tinggal menolaknya, jangan berlagak seperti kalian sedang dihadapkan pada pilihan hidup atau mati," teriak Chanyeol frustrasi pada kedua temannya yang bertingkah sangat berlebihan.

Jongin mengangguk. "Chanyeol benar."

Sehun mengangkat kepalanya hingga matanya yang membesar bertemu pandang dengan Jongin. "Fuck, Jongin! Jangan bercanda!"

Jongin melemparkan pandangan jijik kearah Sehun. "Aku tidak bercanda."

"Maksudmu kau akan melepaskan beasiswa itu? Jongin kau gila."

"Sehun tidakkah kau bisa melihat kekasih kita?! Tatapan mereka seakan bilang bahwa mereka tak ingin kita pergi namun juga tak bisa mencegah kita!"

Sehun meradang, mengepalkan tangannya hingga kuku jari-jarinya memutih. "Jongin, beasiswa ini adalah satu jalan yang sangat kita impikan selama ini."

Jongin bangkit dari duduknya, menatap Sehun garang. "Dengar, Sehun. Aku percaya bahwa ini bukanlah satu-satunya kesempatan yang kita miliki. Lagian, kita diikutkan secara terpisah. Kau masih bisa mendapatkan tawaran itu bahkan jika aku menolaknya."

Sehun tertawa mencela sambil meremas surainya sendiri. "Kau benar-benar tidak waras."

Jongin melempar pandangan mencela kearah Sehun, ingin mengucapkan sesuatu namun tertahan. Tak ingin terlibat terlalu dalam dengan otak kacau milik sahabatnya, Jongin memutuskan untuk meninggalkan Sehun dan Chanyeol. Namun ketika ia baru berjalan empat langkah, ia membalikkan badannya untuk bertemu pandang dengan keping milik Sehun, menatapnya dalam dan tajam.

"Katakan saja jika kau tak hanya ingin mendapatkan beasiswanya, tapi juga karena alasan lain, Oh Sehun."

Dengan kalimat itu, Jongin berlari keluar dari ruangan itu.

Sehun tak pernah merasa tertohok seperti itu sebelumnya.


Hari itu pertengahan musim gugur, di mana Baekhyun sangat membenci suasana yang diciptakan, juga jangan lupakan angin yang terus berdesir kencang, membuatnya harus selalu pergi dengan syal tebal dan jaket.

Hari itu hari selasa, dan kebetulan ia dan Chanyeol bisa pulang bersama setelah selesai kuliah. Dengan tas yang bergantung di punggung dan tangan yang bertaut menyebarkan kehangatan, Baekhyun mulai bersenandung kecil.

"Chanyeol," panggil Baekhyun setelah selesai dengan lagu favoritnya.

Kekasihnya hanya bergumam pelan, sembari meremas tangan si pemuda Byun lebih erat.

"Jongin—dia..."

Seakan tahu akan apa yang dikatakan kekasihnya, Chanyeol mengangguk pelan. "Jongin menolak beasiswanya."

Baekhyun menghela napas yang tanpa ia sadari telah ia tahan untuk beberapa detik lamanya. Ia memandang jauh ke depan, tepat di mana jalanan penuh dengan dedaunan kering yang berjatuhan dan mengotori permukaan berwarna hitam.

"Aku masih ingat bagaimana Kyungsoo datang padaku dan menangis, berkata bahwa ia berpikir jika dirinya adalah kekasih yang buruk karena tak ingin Jongin pergi ke Perancis," kata Chanyeol, menatap langit di atas sana dengan pandangan yang sayu. "Dia sungguh mencintai Jongin, namun takut untuk mencegahnya pergi."

"Karena itu impian Jongin," kata Baekhyun, menebak-nebak.

Chanyeol, di lain sisi, menggeleng. "Impian Jongin hanyalah Kyungsoo."

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Ia begitu salut dengan Jongin yang bahkan segera menolak tawaran beasiswanya, mengatakan dengan tegas bahwa ia akan melepas satu-satunya kesempatannya untuk beasiswa itu dan pergi memeluk Kyungsoo sambil mengucapkan berjuta maaf.

"Namun Chanyeol..."

"Ya?"

Baekhyun menggigit bibirnya erat-erat seakan takut untuk bertanya, atau bahkan berbicara. Karena ia sendiri sudah tahu jawabannya.

"Bagaimana dengan—Sehun?"

Chanyeol menghela napas pasrah sembari memperlambat langkah kakinya. Ia sendiri juga tidak menyangka jika ini semua akan terjadi, setelah apa yang Lu Han lakukan dengan beasiswanya dulu, dengan apa yang mereka umbar selama ini, dan dengan apa yang teman-temannya percayai.

"Sehun ternyata masih menjadi Sehun yang berengsek, bukankah begitu?"

Baekhyun hanya bisa menutup matanya erat-erat sambil menyebut nama Lu Han dalam hati. Bahkan ia saja bisa merasakan pahitnya. Lalu bagaimana dengan Lu Han jika ia tahu?


Hari itu Sehun ingin berbicara tentang semuanya kepada Lu Han. Jika Lu Han ingin Sehun tetap tinggal, maka ia akan membatalkan beasiswa yang di dapatnya, namun jika Lu Han membiarkannya pergi—

Sehun sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika Lu Han membiarkannya pergi.

Mengetuk pintu studio lukis Lu Han yang ia sewa pertahun, Sehun menghela napas gugup. Entah mengapa, kali ini ia sangat takut. Cinta, harapan, impian—semuanya sungguh membuatnya mual dan pusing.

Vokal Lu Han yang indah bergema, mengutarakan kata sebentar dari dalam studio, dan Sehun menebak bahwa kekasihnya sedang menyelesaikan lukisannya.

Derap langkah Lu Han semakin terdengar begitu dekat, sementara Sehun mengepalkan tangannya erat seraya bedoa dalam hati akan apa yang terbaik untuk mereka. Memejamkan matanya erat, Sehun bisa mendengar suara kenop pintu yang terbuka.

"Sehun!" seru Lu Han riang, dan Sehun membuka matanya.

Siluet Lu Han yang berdiri di depannya, menyunggingkan senyum tipis dengan warna biru yang tercoreng di pipi kanannya dan baju yang semrawut—membuat Sehun kehilangan napas dalam sedetik dan seakan lupa dengan kegelisahannya beberapa saat yang lalu.

Senyum Lu Han selalu berhasil membawa Sehun ikut tersenyum, yang mana sedetik kemudian tangannya akan menemukan pinggang kecil Lu Han dan membawanya dalam satu pelukan hangat. Sehun memeluk kekasihnya erat seakan itu adalah kali pertama mereka bertemu selama bertahun-tahun. Ia membenamkan hidungnya pada surai Lu Han, menghirup aroma citrus dan merasakan bagaimana kehangatan yang sesungguhnya. Lu Han tertawa kecil seraya menggesekkan hidungnya pada kaos putih Sehun tepat di dadanya.

"Kau datang?" tanya Lu Han.

Sehun tak berhasil meresonasikan jawabannya kecuali dengan sebuah anggukan.

Lu Han melepaskan pelukan Sehun, namun sesaat kemudian ia tersenyum dan menggeret tangan kekasihnya erat. "Ayo masuk," ajaknya.

Seakan lupa dengan tujuan awalnya, satu jam setelah kedatangannya Sehun malah sibuk berkeliling studio lukis Lu Han, mengamat-amati lukisan Lu Han yang baru. Ada sekitar lima belas lukisan baru setelah terakhir kali Sehun berkunjung kesini dua bulan lalu.

Lu Han menggenggam tangannya erat, seakan enggan melepasnya karena jika ia melakukannya, ia seolah-olah akan kehilangan Sehun selamanya.

"Ini untuk pameran di Pameran Seoul minggu depan," kata Lu Han sembari menunjuk sebuah lukisan di depannya.

Sehun mengamati lukisan itu, dan seketika ingat perkataan Kyungsoo bahwa lukisan Lu Han memang menakjubkan.

Di depannya, terpampang sebuah lukisan seorang perempuan yang sedang berdansa dengan seorang lelaki di tengah ruangan yang megah, gemerlap cahaya terang, orang-orang yang melingkar dan hanya ada mereka berdua. Sang perempuan sedang memeluk lelaki tersebut, menyenderkan kepalanya di dada si pria, matanya tertutup namun air mata menggenangi pipinya. Lelaki yang memeluknya memiliki mata yang besar namun terlihat begitu sedih.

"Apa ini?" tanya Sehun tak mengerti.

Lu Han tersenyum kecil. Tangannya terjulur untuk meraba lukisan di depannya. "Sepasang kekasih yang merasa tertekan. Sepasang kekasih yang telah terlalu lama bersedih hati bahkan ketika orang-orang di sekelilingnya telah mendapatkan kebahagiaan mereka."

Sehun tak bisa berucap sepatah katapun bahkan sampai Lu Han membawanya berkeliling dari satu lukisan ke lukisan lain. Sehun bisa melihat beberapa lukisan yang membuat hatinya terketuk dan terjerat akan keindahan dan maknanya yang menyedihkan dan mengharukan.

Ada lukisan seorang lelaki yang duduk di tepi danau di malam hari, ada lukisan perempuan yang sedang menghadap cermin, yang mana ia sedang melhat refleksi dirinya sendiri yang sedang tersenyum dalam tangis, lalu ada sepasang anak kecil yang sedang bermain ayunan—duduk bersebelahan. Ada juga lukisan abstrak, namun warna yang digunakan seakan mengatakan pada Sehun bahwa lukisan ini membawa perasaan yang begitu dalam—dan sedih.

Lu Han berhenti di lukisan yang akan ia sumbangkan ke salah satu badan amal, seketika saat mata Sehun jatuh pada sebuah kanvas yang berdiri tepat di ujung ruangan. Kain yang digunakan untuk menutupinya jatuh membentur lantai, mungkin Lu Han terlalu terburu-buru menutupnya. Palet, cat dan kuas memberi pertanda bahwa lukisan tersebut baru saja dibuat—atau baru dilanjutkan.

Mata Sehun menelisik lukisan tersebut, dan hatinya seolah terhantam palu godam saat melihatnya.

Di kanvas putih itu, tergores lukisan separo jadi, namun Sehun telah tahu akan jadi apa lukisan tersebut. Warna dan lengkung serta garis dan kontur yang dihasilkan, membuat mata Sehun enggan berpaling bahkan ketika hatinya tak kuasa melihatnya lebih lama.

"—akan menjadi salah satu proyekku untuk badan amal—" Sehun bahkan menghiraukan Lu Han yang bercerita tentang lukisan di depan mereka.

Sehun mengamati lukisan setengah jadi di ujung ruangan itu dengan sangat teliti walau hal itu mengusik hatinya.

Di sana, tergores lukisan dua pemuda. Ia tahu dengan jelas bahwa itu dirinya dan Lu Han ditilik dari warna rambut yang telah tergores. Di lukisan itu, Lu Han sedang memeluk Sehun, tangannya melingkar di leher sang pemuda Korea, namun yang membuat hatinya jatuh adalah dirinya di lukisan itu yang bahkan tak memeluk Lu Han balik.

"—dan aku sudah berbicara pada panitia aca... Sehun?"

Sehun buru-buru mengalihkan pandangannya kearah Lu Han.

"Lu Han... aku—ada yang ingin aku bicarakan, sebetulnya," kata Sehun, gugup setengah mati.

Lu Han masih menunggu dengan tenang, dengan patuh. Diam tanpa kata dan tanpa gurat senyum seperti yang selalu ia lakukan.

"Lu Han—aku..."

"Sehun," panggil Lu Han. Suaranya tegas, namun begitu rapuh, mengingatkannya pada suara Kyungsoo waktu mengatakan bahwa Jongin mendapatkan tawaran beasiswa.

Lu Han meraih tangan Sehun, menggenggamnya erat, dan menatap mata Sehun dengan keyakinan yang sangat besar dan kehangatan yang tak terkalahkan.

Apapun yang akan kaukatakan, aku akan melakukannya—kata Sehun dalam hati.

Dengan satu senyum yang bahkan tak sampai ke kedua matanya, Lu Han berucap lirih—"Pergilah."

Sehun mematung.

Lu Han mengangguk. "Pergilah. Karena itu impian terbesar Sehun, berarti Lu Han harus membiarkannya pergi, bukan begitu?"

Sehun merasa ini begitu salah, begitu salah, begitu salah, namun senyum dan tatapan Lu Han mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, ia akan terima jika Sehun pergi karena Lu Han adalah Lu Han, kekasih yang akan selalu mendukungnya.

Sehun merasa ini begitu salah, namun entah kenapa ia menggumamkan terimakasih sembari memeluk Lu Han erat-erat seolah Lu Han yang membiarkannya pergi adalah sebuah kelegaan.

"Sama-sama," jawab Lu Han, terasa begitu getir dan pahit.

Sehun memeluk Lu Han lebih erat, dan matanya kembali bersirobok dengan sebuah kanvas berlukis dua orang pria yang begitu mengusik hatinya.

Namun entah kenapa, ia masih menggumamkan kata terimakasih.

Seolah pergi adalah hal yang ia inginkan.

Seolah lukisan itu tak pernah menyadarkannya.


Setelah sampai di rumahnya, Sehun tak pernah merasakan perasaan lega yang begitu salah. Ia merasa jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini salah dan menyakitkan. Namun di sisi lain, perasaan senang menghantuinya.

Berbaring di atas kasur empuknya, matanya menjelajah jauh ke depan, melewati jendela kamarnya yang tembus jauh ke depan sana, di mana langit biru membentang bebas ditemani awan yang berarak ke selatan.

Tanpa sadar ia merogoh ponsel di saku celananya, membuka beberapa pesan.

Dari Jongin dan Chanyeol, isinya sama, menanyakan apa keputusan akhirnya. Dari Baekhyun yang menyarankannya supaya tinggal dan dari Kyungsoo yang membuatnya mengerutkan keningnya tajam.

dari Kyungsoo

Apakah Lu Han tidak cukup untukmu?

Sehun pura-pura tak membacanya.

Dan pesan yang paling baru adalah dari Lu Han, yang menanyakan apakah ia sudah sampai rumah.

Ia hanya membalas pesan Lu Han dengan ya singkat, lalu kemudian membuka fitur email.

Sehun merasa sangat berengsek, namun dalam hatinya ia berkata bahwa ia belum tahu seluk beluk Paris dan ia perlu menghubungi salah satu temannya yang telah lama tinggal di sana.

Ya, hanya itu.

Tidak ada yang lain.

Lalu, ia mulai mengetik beberapa kata.

Soojung, ini aku Sehun. Aku dengar dari Myungsoo kau masih tinggal di Paris. Hanya ingin kau tahu, bahwa aku mendapatkan beasiswa kesana untuk dua semester ini. Aku akan berangkat minggu depan. Hanya ingin kau tahu, kupikir kau bisa menunjukkanku beberapa jalan di sana? Tolong balas pesan ini agar aku tahu kau membacanya.

Salam, Oh Sehun.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sehun mencoba abai dengan perasaan ganjil dalam hatinya.


tbc


a/n : took me a very long time to write this, sowwy. i'm kinda busy with my exams. But—here it is. As I promise, I won't make it all fluffy duffy Sehunnie. Dan please jangan bash Soojung. Aku pake dia karena diabiaskudifx lol no, aku pake dia karena namanya bagus. I only ship hunhan tenang aja.