"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."

(note : please read facts in the end of this chapters.)


Kata orang, rumah tidak selalu berarti empat dinding. Kata orang, terkadang rumah adalah sepasang mata dan sebuah detak jantung. Kata orang, kau bisa memilih rumah termewah yang pagarnya berdiri kokoh melindungimu dari dunia luar, tapi rumah paling nyaman adalah pelukan orang tersayang. Kata orang, kau bisa memberi warna rumahmu dengan warna-warni dari pastel hingga gelap, tapi rumah yang Lu Han inginkan, adalah hari-hari seperti masa lalu di mana Sehun akan mewarnai tiap detiknya dengan seribu warna kontras yang membuat hatinya menghangat.

Namun, kini hatinya meragu.

Apakah Sehun juga menganggapnya sebagai rumah, atau hanya persinggahan belaka?

Laju bis yang Lu Han naiki bergerak pelan, berhenti di beberapa tempat, namun Lu Han terlanjur acuh untuk peduli. Keningnya ia tempelkan pada kaca bis di samping kanannya, matanya terpaku pada bangunan yang bergerak di luar sana, namun tak ada satupun yang terproses di kepalanya.

Di benaknya, hanya ada potongan kalimat Myungsoo yang masih mengambang jelas di pikirannya. Sehun. Soojung. Paris.

Dan hatinya terasa membeku beberapa detik.

Bis biru tua yang ia naiki berhenti, tepat di sebuah perhentian yang nampak familiar. Lu Han bergegas bangun dari duduknya, berjalan keluar bersama dua perempuan dan satu kakek-kakek dengan cucu lelakinya di genggaman tangan kanan.

Meninggalkan perhentian bus, Lu Han berjalan kearah barat daya tanpa sadar. Yang ia tahu, kakinya hanya terus berjalan, berjalan, berjalan—pergi, kata hati kecilnya.

Pergi dan sembunyi.

Entah apa yang ia pikirkan, namun saat lima belas menit kemudian, tubuh lelahnya yang telah basah oleh rintik hujan beberapa menit yang lalu tiba-tiba berhenti di sebuah dorm minimalis berwarna putih gading.

Lu Han berdiri, mematung di depan pintu magoni di depannya, tak yakin ingin mengangkat tangannya dan mengetuk atau tidak. Tapi, ia sudah sejauh ini. Ia sudah berlari sampai sini.

Dan tidak, ia takkan kembali ke studio lukisnya ataupun apartemennya.

Dan seakan orang di dalam sana mengerti kegundahan Lu Han, lima detik kemudian—tepat sesaat setelah Lu Han berpikir akan pergi lagi—pintu di depannya terbuka.

Lu Han menengadah, matanya bertatap pandang dengan seorang pemuda yang menatapnya skeptis. Di tempatnya berdiri, Lu Han merasa tak yakin. Ia merasa tak puguh, merasa begitu lelah dan lemah, seakan semua kejadian dan semua aktivitasnya akhir-akhir ini menguras tenaganya.

"Lu Han?"

Lu Han masih menatap pemuda di depannya dengan tatapan lelah, dan ia sungguh ingin berhenti. Ia sungguh—ingin berhenti.

Maka Lu Han menghiraukan panggilan Zhang Yixing, sahabat karibnya yang berdiri di depannya dengan ekspresi bingung, dan ia memeluknya. Lu Han memeluk Yixing, erat dan semakin erat seakan ia mencoba mencari kehangatan, seakan ia mencoba mencari arti rumah.

Namun retak di hatinya mengatakan bahwa rumah baginya adalah Sehun.

Yixing mengeratkan pelukannya pada tubuh basah Lu Han sahabatnya, tak bisa berbuat apa-apa kecuali mematung dan semakin mengeratkan pelukan sambil mendesah lelah.

"Masuklah," katanya lirih, membelai punggung Lu Han penuh kasih sayang. Yixing sudah hapal benar sikap Lu Han, dan ia berani bertaruh bahwa yang Lu Han inginkan saat ini adalah pelarian.

Dan Yixing lebih dari bersedia untuk menjadi persinggahan Lu Han.

Lu Han mengira selimut hangat dan cokelat panas di dalam rumah adalah kenyamanan paling mewah yang ia dapat setelah menghabiskan waktu dibawah guyuran hujan, namun ia salah. Pelukan, pikirnya. Pelukan seseorang.

Namun ketika Yixing mendekat dan ikut duduk di atas kasur empuk dengan satu selimut tambahan di tangan kanan, Lu Han tahu pelukan Sehun adalah jawabannya.

Yixing bergerak mendekat hingga tempurung kakinya menyentuh paha Lu Han, tangannya bergerak tak yakin membelai lengan sahabatnya yang menatapnya kosong. Ada sesuatu dengannya dan Sehun, terka Yixing.

"Lu Han..."

Lu Han sudah bersahabat dengan Yixing bahkan dari mereka masih masuk sekolah dasar, dan ia sungguh yakin jika Yixing sudah tahu apa yang membuatnya kemari. Namun pemuda itu mendesah lelah sambil memejamkan matanya erat-erat, seakan memberitahu Yixing bahwa ia sedang lelah dan sedang tak ingin membicarakan apapun.

"Lu Han, kau tahu, kan kalau aku tak in—"

"Lu?"

Baik Lu Han dan Yixing sama-sama menoleh kearah belakang, di mana Kim Minseok—teman satu dorm Yixing dan juga teman baik mereka berdua—berdiri di ambang pintu dengan kaos yang basah kuyup.

Lu Han melemparkan sebuah senyum lemah pada Minseok, sementara Yixing mendesah lelah. Pemuda Korea itu berjalan mendekat, mengabaikan lantai yang akan basah karena ia belum berganti pakaian, hingga dirinya kini sudah duduk di depan Lu Han dan Yixing. Matanya menatap Lu Han tajam dan penuh arti, lalu beralih pada Yixing yang mendesah pasrah sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Lu?"

Lu Han mendongak dari perhatiannya pada cangkir cokelat di pangkuannya, dan iris matanya menatap mata Minseok tak nyaman.

"Minseok, aku—"

"Apa ini ada kaitannya dengan Oh Sehun?"

"Minseok." Yixing memeringatkan.

Minseok menggeleng keras kepala, namun raut wajah Lu Han mengeras. Dan itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban absolut. Minseok mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih—Yixing melihatnya, namun Lu Han terlalu larut dalam pikirannya sendiri untuk tahu.

"Lu Han, dulu sudah kuperingatkan bahwa anak itu sungguh tak pa—"

"Keluar." Yixing bangkit dari duduknya, tangannya menggeret lengan Minseok untuk ikut bangkit dan berjalan keluar, meninggalkan Lu Han yang mematung—namun terlanjur acuh untuk memahami keadaan di sana.

Minseok ingin memberontak, tapi ketika Yixing menoleh kebelakang dan tatapan mata mereka bertemu, pemuda Kim itu memilih untuk menurut.

Yixing menggeret Minseok hingga mereka berada di jarak yang aman untuk bicara setelah Yixing menutup pintu kamarnya yang ditempati Lu Han, kemudian memandang teman se-dorm-nya tajam.

"Minseok, kumohon, berhenti menyampuri urusan Lu Han dan Sehun."

"Yixing," jawab Minseok penuh penekanan. "Aku tidak akan diam saja melihat bocah itu menyakiti Lu Han. Aku sudah memeringatkan Lu Han jika Sehun itu hanya bocah yang bakal menyakiti hatinya! Seharusnya Lu Han tahu hal itu! Seharusnya Lu Han sadar jika Sehun bukanlah yang terbaik baginya!"

"Dan apa?!" pekik Yixing dengan nada tinggi. Minseok terperanjat, namun tetap berdiri puguh. "Dan apa, Minseok?! Kau ingin berkata bahwa Sehun tidak baik bagi Lu Han namun kau adalah pilihan terbaik, iya?! Apa kau mau mengatakan bahwa Lu Han, seharusnya kau memilihku dari pada bocah bangsat itu, begitu, Minseok?!"

"Iya! Iya, Yixing!" pekik Minseok tak kalah kasarnya. "Memang! Sehun hanya bocah bangsat yang tak jauh lebih baik dariku! Kau tahu bagaimana aku mencintai Lu Han," katanya sambil mendesis, bergerak mendekat kearah Yixing. "Kau tahu bagaimana besar rasa cintaku padanya dibanding si tolol Oh Sehun itu."

Yixing yang merasa amarahnya sampai ke ubun-ubun bergerak mendekat mencengkeram lengan Minseok yang mengernyit kesakitan, namun sama-sama tak peduli. Matanya memicing tajam, dan suaranya sangat lirih namun begitu jelas dan lugas.

"Dengar, Minseok. Sebaik apapun kau dan seburuk apapun Sehun, nyatanya Lu Han sudah memilih rumahnya. Dan apapun yang terjadi, aku yakin kau takkan bisa berada di antara mereka," desisnya tajam. "Dan satu lagi, jangan kaupikir aku terlalu tolol untuk sadar bahwa kau tak pernah mencintai Lu Han dengan tulus. Cinta pantatmu," ejeknya sambil menyeringai menakutkan, "orang waras pasti tahu kalau kau hanya dibutakan oleh obsesimu dengan Lu Han. Dan obsesi, berbeda jauh dari kata cinta. Maka jika kau memang benar-benar mencintai Lu Han, harusnya kau merelakannya untuk berbahagia bersama pilihannya. Camkan itu."

Yixing melepaskan cengkeramannya, melirik Minseok dengan tajam hingga akhirnya ia berlalu, pergi meninggalkan teman se-dorm-nya dan kembali ke kamarnya.

Pemuda Kim itu mematung, berdiri tak beranjak, dengan kalimat Yixing yang masih berputar di ujung telinganya seperti kaset rusak yang membuat bising.


Oh Sehun kehilangan akal.

Ia sudah mengunjungi semua tempat yang ia tahu—kedai ramyun favorit mereka, danau tempat mereka berkencan, taman tempat mereka sering menghabiskan sore, perpustakaan di mana Lu Han sering datang, apartemen Lu Han, seluruh kampus mereka, dan kini ia sudah lebih dari sejam mematung di depan studio lukis Lu Han yang terkunci tanpa tanda-tanda ada kehidupan di dalam.

Oh Sehun merasa retak di hatinya berkata bahwa kali ini, ia harus sadar bahwa ia sudah bertingkah berengsek dengan Lu Han.

Ia mengecek ponselnya, memencet nomor telepon Lu Han yang sudah ia hubungi puluhan kali hari ini, namun ketika tersambung, panggilan itu akan selalu terputus.

Lu Han mematikan ponselnya.

Dan tak ada yang tahu ia di mana.

from Baek 17.08

jika terjadi sesuatu dengan Lu Han, aku akan berdoa agar kau tak menyesal nantinya

from Kyungsoo 17.27

kadang aku berharap bahwa kalian tak bersama dari awal, jika akhirnya seperti ini. Oh Sehun, jika kau masih memiliki harapan dengan soojung, mengapa kau bermain api dengan pemuda yang tulus seperti lu han?

from Baek 17.39

kau tahu sesuatu, Sehun? Kupikir kau pantas mendapatkan beasiswamu. Lu han pantas terlepas dari dirimu

from Kai 17.41

untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku kecewa padamu.

from PCY 18.01

man up, Sehun. Man up. Selesaikan apa yang tak ingin kaumulai dari awal.

One new email from sjsjung 18.03

Ah, aku sangat bahagia. Kuharap kita bisa menghabiskan waktu bersama di sini, aku merindukanmu, Sehun. Sangat. Ah, rasanya sungguh tak sabar menunggumu di sini!

Sehun mengusap wajahnya lelah.

Apakah ini yang ia inginkan? Terkadang, ia bertanya dalam hati kecilnya. Dan jawabannya akan selalu berupa bayangan seorang Lu Han dengan senyum kecilnya, tawa merdunya, pelukan hangatnya dan rambut cokelat madu yang bergerak pelan menutupi wajahnya. Lalu bayangan itu berubah menjadi raut wajah sendu dan air mata.

Dan Sehun merasa tubuhnya berubah lemas.


"Yixing, bolehkah aku menginap sampai minggu depan?"

Yixing menoleh kearah samping kanan kemudian mengernyit tajam. "Boleh saja," katanya, "namun kenapa selama itu?"

Lu Han menghela napas, kemudian menggeleng. "Aku harus menenangkan pikiran."

Memilih untuk tak terlalu ikut campur, Yixing mengangguk sambil melemparkan sebuah senyum. Baru saja ia ingin berbicara mengenai aktivitas Lu Han, sebuah dering ponsel mengagetkan mereka berdua.

Ponsel Yixing berdering di atas meja nakas, kemudian dalam dua detik ia mengambilnya.

Yifan.

Kening Yixing berkerut, namun ia segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Yixing? Apa Lu Han ada di sana?"

"Hah?"

"Yixing, Lu Han menghilang dan aku berani jamin jika ia ada di sana. Maka sekarang, tolong buka pintu apartemenmu karena aku sudah mengetuknya ribuan kali dan tak ada yang mau membukanya."

Beep. Sambungan dimatikan dari seberang telepon. Yixing menatap ponselnya skeptis, kemudian beralih menatap Lu Han yang ternyata sedang menatapnya dengan mata yang menyiratkan pandangan mengerti akan sesuatu.

"Yifan?" tanya Lu Han.

Yixing mengangguk. "Dia sudah berdiri di depan pintu," katanya sambil bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari kamar dan berpapasan dengan Minseok yang hendak membuka pintu, hingga mereka bertatapan dan si pemuda Kim mengangkat bahunya tak mengerti. Yixing berkata bahwa itu adalah Yifan, kemudian mereka sama-sama berjalan membuka pintu.

Melihat Yifan yang basah kuyup dan menggigil kedinginan, dengan raut wajah khawatir sungguh membuat keduanya merasakan perasaan ganjil yang tak mengenakkan.

Sudah menjadi rahasia umum jika di antara semua yang menyukai Lu Han, Yifan adalah yang paling awal jika disebut sebagai orang yang terlalu mencintai Lu Han.

"Bisakah sedikit lebih cepat?" gerutu Yifan sambil masuk ke dalam rumah, berjalan melewati keduanya dan langsung menuju kesebuah kamar yang sudah ia hapal betul letaknya.

Yixing dan Minseok menghela napas lelah.

"Aku harus pergi. Ada praktek di kampus dan—" Minseok diam sejenak, tidak yakin akan apa yang ia katakan, namun ketika ia memandang mata tulus Yixing, ia melanjutkannya. "Tolong jaga Lu Han."

Yixing mengangguk sambil tersenyum dan menepuk pundak Minseok, sebelum sang pemuda Kim beranjak dengan payung di tangan kanan.

Yixing berjalan kembali ke kamarnya, dan ketika ia berada di ambang pintu, sosok Yifan yang duduk di depan Lu Han sambil menatapnya sendu membuatnya tersenyum lemah.

"Apa kau akan meninggalkan konser itu begitu saja?" tanya Yifan lembut, sambil memandang Lu Han penuh arti.

Yixing tak ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Ia hanya mematung di sana, mengamati bagaimana Lu Han menunduk menyembunyikan bekas air matanya dan bagaimana Yifan menatap pemilik hatinya dengan tatapan yang diinginkan oleh semua orang di dunia ini—penuh kasih sayang dan cinta.

Namun semua orang tahu, bahwa tatapan itu tak bisa dikembalikan sama rupanya oleh Lu Han. Karena Lu Han, hanya menyediakan tempat oleh Sehun.

Dan Yifan juga paham hal itu.

Lu Han menggeleng lemah, masih menolak menatap Yifan. "Tidak," bisiknya lirih.

Yifan mendesah lelah, kemudian mendongak menatap langit-langit kamar, seolah meminta kekuatan pada Tuhan agar ia tak menangis melihat Lu Han seperti ini.

"Lalu kapan kau akan berhenti berlari?"

Yifan menanti jawaban, namun yang ia dapat adalah keheningan.

Yixing bisa merasakan bagaimana Yifan sangat terluka melihat Lu Han seperti ini. Selama ini, Yifan dan Yixing selalu bersama-sama, mereka adalah pemuda China yang datang ke Seoul bersama, dan tumbuh bersama. Di pertengahan jalan, mereka saling jatuh cinta, namun Lu Han tak menyadarinya. Mereka berdua saling jatuh cinta pada Lu Han, namun Lu Han berhenti memberikan hatinya sejak lama.

Lu Han tak pernah mencintai, karena cinta artinya ia akan jatuh, dan terluka. Dan pada akhirnya, orang yang repot-repot jatuh cinta akan hancur ditinggalkan—begitu pikirnya. Namun di pertengahan kisahnya, ada tokoh bernama Oh Sehun, yang dalam sekejap mampu merobohkan keyakinannya tentang cinta. Oh Sehun, seorang pemuda yang hanya butuh waktu beberapa bulan untuk menaklukkan Lu Han. Berbeda dengan mereka berdua, yang rela menghabiskan bertahun-tahun.

Namun Yifan sungguh berbeda dengan Minseok. Yifan sangat mencintai Lu Han, namun ia tak pernah punya keinginan untuk membuat Lu Han dan Sehun pisah karena ia lebih dari paham jika cinta adalah sebuah pengorbanan yang nyata.

Karena cinta, Yifan rela menunggu Lu Han walau akhirnya, tak ada yang ia dapat.

Yixing terlalu larut dalam pikirannya hingga ia tak sadar jika kini Yifan sudah bangkit dari duduknya, hendak pergi dari sana. Ia melewatkan percakapan mereka, namun saat Yifan mulai melangkah, suara parau Lu Han menghentikannya.

Pertama kali sejak Yifan datang, itulah saat di mana Lu Han mau mengangkat wajahnya.

"Ya?" tanya Yifan.

Lu Han terlihat agak ragu ingin menyuarakan kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, namun sedetik kemudian ia kembali menatap Yifan. "Bisakah—bisakah kaubawakan lukisan yang sedang kukerjakan kesini?"

Yifan awalnya ingin bertanya sesuatu, namun ia urungkan. Ia menghormati keputusan dan privasi Lu Han lebih dari apapun. Maka, dengan sekali senyum, ia mengangguk dan berjalan keluar.

Yifan memberi tepukan pelan di pundak Yixing seraya berbisik tolong rawat dia dan berlalu pergi.


Jika ada sesuatu yang sedang tak ingin Yifan lakukan saat ini, itu adalah bertemu dengan Oh Sehun.

Namun malang, kini ia harus bertemu dengan sosoknya yang sedang duduk meringkuk di depan studio lukis Lu Han. Dilihat dari penampilannya, Sehun sudah berada di sana lebih lama. Menghela napas lelah, Yifan keluar dari mobilnya, kemudian berjalan mendekati studio Lu Han.

Sehun terperanjat ketika ia merasa ada yang berjalan menuju kearahnya. Punggungnya menegak dan ia berdiri dari duduknya, namun pundaknya segera merosot ketika yang ia temui adalah lelaki asing—bukan Lu Han.

Namun saat lelaki itu berjalan semakin dekat hingga ia sejajar dengan Sehun, hal itu membuat sang pemuda Oh mengernyit tajam. Ketika pemuda itu menjulurkan tangannya kedalam sebuah pot bunga narcissus di samping kiri pintu masuk studio, Sehun membuka suara.

"Permisi—apa Anda ta—"

"Wu Yifan, teman dekat Lu Han," kata Yifan dingin sambil memilah kunci studio, hingga akhirnya ia mampu membuka pintu di depannya.

"Tunggu!" pekik Sehun, menghalau Yifan yang hendak masuk.

Pemuda China itu berhenti di ambang pintu, kemudian menoleh kebelakang.

"Lu Han tak pernah bilang padaku jika ia punya teman bernama Wu Yifan?"

Yifan mendengus, merapatkan tangannya ke dalam saku mantolnya. Apa itu yang terpenting sekarang, Oh Sehun? Kapan terakhir kali kau peduli pada Lu Han, memangnya?

Namun, ia memilih untuk diam sampai pertanyaan Sehun selanjutnya menarik minatnya.

"Di mana Lu Han?"

Yifan menatap Sehun dalam tepat di kedua matanya. Ia mencoba mencari sesuatu di dalamnya, dan kemudian ia mendesah pelan.

"Aku tak tahu," jawabnya berbohong. Ia menutup matanya, kemudian membukanya hingga ia menatap Sehun dengan tatapan lelah. "Aku hanya kesini untuk mengambil lukisan yang akan dipamerkan untuk konser."

Yifan berlalu pergi kedalam, meninggalkan Oh Sehun yang mematung putus asa.

Ketika Yifan berjalan hendak pergi dari studio dengan sebuah kanvas besar di dekapan lengannya, ia telah kehilangan sosok Sehun.

Di dalam hati, Yifan bertanya—apakah hanya sampai situ saja, penantianmu?

Yifan menolak untuk peduli lebih jauh, kemudian ia kembali mengunci studio itu dan membawa kuncinya, sedang kanvas milik Lu Han—yang mana belum jadi seratus persen—ia bawa menuju ke dalam mobilnya.

Menghela napas putus asa, Yifan mengendarai mobilnya kembali ke dorm milik Yixing dan Minseok.


Yixing merapatkan tubuhnya kedalam selimut, sementara Lu Han memiringkan badannya hingga kini wajahnya bisa melihat sosok Yixing dengan jelas. Satu senyum kecil terlintas di bibirnya, dan Yixing merasa lebih dari bahagia akhirnya bisa melihat senyum itu kembali hari ini.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Yixing yang kini ikut memiringkan tubuhnya.

Lu Han menendang-nendang selimutnya, kemudian tersenyum. "Melelahkan, namun mengasyikkan. Kau?"

Yixing pura-pura menampilkan ekspresi marah bercampur dengan lelah, dan Lu Han terkekeh. "Melelahkan dan menyebalkan. Menjadi mahasiswa teknik tak semudah yang kubayangkan."

"Apa yang lebih menyebalkan dari fisika, memangnya?" tanya Lu Han sambil tertawa.

Yixing tersenyum, berterimakasih pada Tuhan dalam hati akhirnya Lu Han sudah membaik. "Kami harus melakukan praktek seminggu sekali dan tugasnya—Lu Han, kau akan gila jika seminggu di sana."

Lu Han tertawa, kemudian memukul lengan Yixing pelan. "Dan kau akan diusir dari ruangan jika tidak berhasil memainkan setidaknya dua lagu baru dengan saxophone milikmu."

"Ah, aku lebih memilih untuk masuk jurusan dance."

"Hmm, sejak dulu aku memang suka dengan musik dan kau dengan tarian, ya. Tapi, kukira kau suka mengomposisi lagu?"

"Ah, ah, tidak lagi," kilah Yixing, tersenyum menatap langit-langit kamar. "Terlalu sibuk dengan kuliah di jurusan teknik."

Lu Han mengangguk, kemudian menendang selimutnya lagi. "Kukira bisnis lebih susah. Bagaimana Minseok?"

Yixing menatap Lu Han seolah ia adalah anjing berkepala lima. "Kau gila?! Jurusan bisnis adalah jurusan paling cool! Tak ada praktek dan tugasnya tak sebanyak kita berdua!"

Lu Han memekik kaget, kemudian menyumpah. "Aku akan pindah ke jurusan bisnis jika bisa!"

Kemudian mereka tertawa bersama.

Menit-menit selanjutnya, yang ada hanyalah keheningan dan suara rintik hujan di luar sana yang beradu dengan denting jam dinding. Yixing turut lega melihat Lu Han yang kelihatannya tak semurung tadi.

"Xing..."

Yixing menoleh dan dari sana, ia bisa melihat bagaimana pancaran mata Lu Han meredup. Ia mengernyit, menatap Lu Han yang sedang memandangi langit-langit kamar.

"Apa kau masih ingat jika aku punya Atelophobia?"

Yixing terperanjat, namun tak punya kata-kata untuk menjawab.

Lu Han menoleh kearahnya dan tatapan mereka bertemu. "Apa kau masih ingat?" desaknya.

Yixing masih menatap Lu Han dengan dalam, seolah menyelami keping ganda sahabatnya, mencari keraguan dan ketakutan yang ada. Sedetik kemudian, Yixing mengangguk.

Lu Han tersenyum kecil, hingga akhirnya atensinya kembali terpaku pada langit-langit di atas sana.

"Kukira, punya satu fobia saja sudah cukup. Kau tahu, kan, dulu aku juga fobia terhadap ketinggian? Kau sampai harus rela tak naik roller coaster karena aku terlalu takut."

"Aku juga malas naik begituan."

"Yah, dulu aku berpikir fobia satu saja sudah merepotkan. Tapi, dua tahun kemudian, saat kita berada di kelas dua SMP, aku malah sadar jika aku juga Atelophobia. Apa itu hal yang buruk?" tanyanya sambil mengerakkan tangannya keatas, membuat gerakan seperti akan meraih sesuatu.

Yixing memerhatikan Lu Han dan setiap gerakannya, tak yakin harus membalas apa, tapi—

"Tidak ada hal yang buruk dari ketakutan akan ketidaksempurnaan, Lu Han. Semua orang takut tak cukup baik di mata orang lain," katanya final.

Lu Han diam sejenak.

"Benarkah?"

Yixing mengangguk, walau ia tahu Lu Han tak bisa melihatnya. Dan dengan suara parau ia kembali menjawab—"Yeah."

Lu Han tersenyum, namun rasanya sungguh menyakitkan melihat senyumnya kali ini. Jadi, Yixing memindah atensinya, ikut menatap ke atas sana.

Putih dan datar—kosong. Gelap.

"Yixing..."

"Hm?"

Lu Han berhenti sejenak, kemudian lanjut memainkan tangannya. Senyumnya masih terlihat lemah, dan Yixing tak berani untuk menoleh lagi.

"Apa kau ingat ketika kita menjadi senior di SMP?"

"Y-yeah?"

Lu Han menoleh kearah Yixing, yang mana mau tak mau harus membalas tatapan Lu Han.

Lirih, suara Lu Han kali ini terdengar begitu putus asa dan ketakutan. "Saat itu, aku baru tahu kalau aku punya tiga fobia. Apa kau ingat? Eremophobia-ku muncul saat itu."

Yixing menelan ludahnya, mencegah bibirnya mengucap kata yang tak sesuai.

Lu Han berbalik lagi, menghindari tatapan sedih dari sahabatnya.

"Saat itu, kita sama-sama menjadi target bully."

"Lu Han."

Seolah tuli dengan peringatan Yixing, Lu Han terus berbicara. "Saat itu, kau selalu menjagaku. Masa itu adalah masa-masa terberatk, di mana orangtuaku selalu pergi bertugas di luar kota atau luar negeri, dan kita menjadi target bully. Selama itu, kau selalu membelaku, dan aku tak bisa apa-apa."

"Lu Han, cukup."

"Ssst." Lu Han menyuruh Yixing diam, menempelkan jari telunjuknya ke arah bibirnya. "Lalu pada suatu hari, aku berusaha membela diriku sendiri dan membelamu. Aku memukul semua anak-anak, hingga akhirnya orangtuaku dipanggil. Ibu dan ayahku kecewa, kemudian mereka lupa begitu saja seakan aku tak pernah membuat masalah apa-apa. Dari kejadian itu juga, tak ada lagi yang berani mendekatiku. Tak ada lagi orang yang mau menjadi temanku."

"Lu Han, aku masih di sana. Aku masih di sini," kata Yixing, menatap Lu Han dengan pandangan mata yang tulus.

Lu Han mengangguk, kemudian tersenyum kearahnya. "Aku tahu. Kau memang selalu ada di sisiku. Dulu, maupun sekarang. Tapi..."

Hening.

"Tapi... terkadang, aku ingin bersikap egois. Aku ingin dibutuhkan, aku ingin diinginkan. Aku—aku ingin diajak tinggal hingga tak ada yang melepasku. Aku masih takut, Yixing. Aku masih takut ditinggalkan."

Dan Lu Han, untuk pertama kalinya semenjak ia datang ke sana, menangis.

Yixing memeluknya erat, erat, sangat erat hingga ia takut Lu Han tak bisa bernapas. Namun pelukan itu seakan menjawab semua kalimat Lu Han, bahwa apapun yang terjadi, setidaknya masih ada seseorang yang menerimanya.

Walau bukan Sehun, setidaknya masih ada Yixing.

Malam itu, Lu Han tidur dengan air mata yang mengering.


Keesokan harinya, Yifan datang bahkan ketika jam baru menunjukkan pukul delapan. Ia datang dengan sebuah kanvas besar milik Lu Han dan kunci studio, yang mana diterima Lu Han dengan senyum tulus yang nyata. (Yifan membuat mental note untuk berterimakasih pada Yixing karena sudah mengembalikan senyum itu.)

Lu Han meletakkannya di ruang depan, di samping televisi tua milik Minseok, dan ia mulai melanjutkan lukisannya.

Yixing dan Yifan melihatnya melukis dari belakang, menatapnya sedih ketika kini, goresan cat yang ia torehkan hanyalah warna suram, kusam dan gelap.

Tak ada warna pastel, tak ada warna cerah yang biasa ia gunakan.

Lukisan bocah perempuan menangis dengan boneka rusak di dekapan yang dilukis dengan tema dasar biru tua itu menyakitkan hati Yixing dan Yifan.

Yifan berjalan mendekat kearah Lu Han, mengabaikan gerak lemah tangan Lu Han yang seakan ragu dan takut untuk menciptakan goresan baru.

"Tapi—apa kau... yakin? Apakah dosenmu takkan marah jika kau bolos selama itu?"

Lu Han mengangkat bahunya acuh, kemudian kembali menggoreskan kuasnya.

Tepat saat ia hendak menggoreskan warna hitam, ia berhenti.

"Lagian, hanya dua hari," katanya. "Dua hari lagi."

Yifan bertukar pandang dengan Yixing yang menghela napas panjang sambil mengangkat bahunya. Tatapannya lalu kembali pada Lu Han, lalu ia mengangguk paham sambil membelai punggungnya pelan.

"Baiklah. Asal kau harus tetap datang di acara itu."

Lu Han diam, namun Yifan tahu jika ia akan datang.


Hari itu adalah sehari penuh Lu Han menghilang, dan seantero sekolah dan teman-temannya tak mengetahui di mana ia berada. Sehun bahkan heran, kenapa ia masih punya tenaga dan perasaan untuk menginjakkan kaki ke kampus.

Setelah menyusuri semua area seni musik dan tak mendapati sosok Lu Han di mana-mana, Sehun mencoba menanyai semua teman-teman Lu Han. Joonmyun dan Jongdae tak tahu, bahkan mereka tak berhasil menemukan Lu Han setelah kemarin mereka mencari bersama-sama di beberapa tempat. Amber dan beberapa junior yang lain ikut bingung, dan Sehun putus asa.

Baru saja ia ingin pergi pulang—karena ia tak punya semangat lagi untuk pergi kuliah—ia merasa ada sebuah lengan yang menggeret tangannya dan baru saja ia berbalik namun—

Bugh!

Sehun merasa tulang rahangnya berdenyut dan tubuhnya terjatuh ke lantai, sebelum pandangannya bisa menangkap sosok Kyungsoo yang berdiri menjulang di depannya, dengan tangan kanan yang mengepal erat dan tangan kiri yang ditarik oleh Jongin.

Sayup, ia mendengar Kyungsoo berbicara—"Untuk kau yang terlalu berengsek hingga membuat Lu Han tahu tentang Soojung dan semua masa lalumu dari Myungsoo."

Dan dengan itu, Kyungsoo berlalu meninggalkan Sehun yang masih tergeletak.

Badannya seperti hancur lebur karena terlalu lelah, namun denyut nyeri di hatinya tak seberapa. Ia merasa pantas mendapatkan bogem barusan—bahkan kalau bisa, lebih dari satu.

Dan kali itu, ia merasa bahwa semua keadaan ini sungguh salah.


tbc


fact : eremophobia adalah fobia akan ditinggalkan. Orang yang punya fobia ini sungguh takut akan ditinggalkan seorang diri. Kemungkinan, orang yang menderita fobia ini pernah merasakan bagaimana rasanya terus menerus ditinggalkan baik itu ditinggal pergi maupun mati. Eremophobia ini jadi alasan mengapa luhan sangat takut jika ditinggal sehun.

Atelophobia adalah fobia menjadi tidak sempurna. Dalam kata lain, penderitanya sangat takut jika ia tak bisa menjadi manusia yang cukup baik atau bahkan sempurna. Fobia ini menjadi alasan mengapa luhan tidak ingin menahan sehun pergi ke Paris, karena ia takut ia takkan bisa menjadi kekasih yang cukup baik.

[Buat hater fanfic ini yang bilang bahwa ceritanya terlalu lebay karena konflik sehun-luhan digede-gedein, maaf, sachi punya alasan kenapa luhan kayak gitu. Dan alasannya adalah karena luhan punya fobia kayak gitu. Fobia itu susah sembuhnya, lho. Semua author pasti punya alasan kenapa ceritanya begini begitu, kan? Jadi sachi mohon pengertiannya.]

Di chapter satu, dijelaskan bahwa Sehun lihat lukisan anak kecil yang punya tatapan aneh, kan? Nah itu sebenarnya adalah Lu Han. Tatapan aneh itu berhasil diketahui oleh Sehun. Lu han di dalam lukisan itu sangat takut akan kesendirian, kesepian, ditinggalkan dan dibuang karena ia pernah tahu rasanya sendiri dan ditinggalkan (eremophobia), juga karena lu han merasa bahwa dia tak pernah terlalu baik (atelophobia)

fact 2 : yixing, yifan dan minseok sama-sama menyukai luhan. (kecuali fakta bahwa minseok hanya terobsesi, sementara yifan tulus mencintai dan yixing sudah merelakan luhan bahagia dengan sehun, tapi di dasar hatinya, ia masih mencintai luhan.)

a/n : salah updatttteee. Harusnya ini gabung sama chap 4, tapi terlalu panjang kalau digabungin. Jadi sachi jadiin ini ch 4b ya. Chap depan bakal full hunhan, take place-nya di konser yang diceritain di ch yang lalu.

Mainnya sekarang fobia-fobiaan iiih hihi. Nah, ada nggak di antara kalian yang punya fobia? Kalau sachi sih, jujur, eremophobia.

Well, sachi bakal mulai aktif lagi kuliah semester 4 tanggal 9, jadi mungkin fanfic ini bakal selesai di minggu pertama sachi kuliah, mungkin deadline tanggal 14, insyaallah. Kurang dua chapter dan satu chapter epilog. Semoga bisa dikebut ya! Paipai~

Ah, anw, makasih juga buat para reader n reviewer yang baru datang, welcome! Terimakasih, review kalian lucu-lucu dan panjang-panjang, sachi makasih banget! Typo will be edited later! sachi balas review kalian semua lewat pm yah, di cek yaa, apalagi buat Yeoisseu sama Deathsugar, pokoknya semuanya udah sachi bales, yang log in. ty~