"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."
Pagi itu, Lu Han bangun dengan perasaan yang sangat tak mengenakkan. Dua hari menghilang dari semua teman-temannya dan meninggalkan seluruh kegiatannya di kampus rupanya tak membuat hatinya tenang—malah sebaliknya. Dua hari itu penuh dengan pikiran-pikiran tentang; bagaimana konser akan berlangsung? Apakah Kyungsoo dan yang lainnya bisa menyelesaikan persiapan konser? Bagaimana Baekhyun dan lukisannya? Bagaimana Chanyeol bisa berlatih tanpaku?—namun, yang paling penting adalah—Bagaimana Sehun?
Apa dia mencariku?
Apa dia mengkhawatirkanku?
Mengingat bahwa ia tak terlalu sering menyebut Yixing, dan mereka berdua hanya pernah bertemu dua kali, ia tak yakin jika Sehun akan punya pikiran jika Lu Han bersembunyi di sini. Lagian, Sehun tak pernah tahu dorm di mana Yixing tinggal, jadi—yah... Hal itu tak mungkin terjadi.
Terlepas dari kehadiran Yifan setiap lima jam sekali—terdengar berlebihan, tetapi nyatanya demikian—setiap harinya, Lu Han merasa sangat bersalah akan semuanya.
"Chanyeol dan Kyungsoo sangat khawatir padamu," kata Yifan sambil menatapnya sedih, kemarin sore saat ia membawakan daftar-daftar yang diperlukan untuk konser. Yifan mengatakan bahwa tanpa Lu Han, Chanyeol dan Kyungsoo bisa meng-handle semuanya, namun itu tak berarti bahwa mereka bisa latihan sempurna tanpa Lu Han.
"Untung kau sudah berulang kali berlatih dengan mereka berdua hari-hari kemarin, jadi pasti kau akan tampil dengan baik," katanya mengakhiri kunjungannya hari itu.
Lu Han tersenyum lemah.
Namun hari Sabtu akhirnya datang juga. Hari ini adalah hari di mana ia berjanji akan kembali dari pelariannya. Hari ini, di konser sore ini, apapun yang terjadi nantinya, ia akan kembali. Kembali pada kehidupannya.
Karena esok hari, nyatanya ia harus mampu melepas kepergian Sehun ke Paris.
Mengingat keputusan Sehun untuk mengambil beasiswanya membuatnya takut, kecewa, ingin marah—sedih, namun apa yang bisa ia perbuat? Apa yang bisa Lu Han lakukan?
Jawabannya—tentu tidak ada.
Kekasih mana yang mampu menyodorkan dua pilihan yang sama-sama berat? Kekasih mana yang tega membiarkan orang yang ia cintai melepas impiannya? Kekasih mana, yang tega menghalangi mimpi yang ingin digapai orang yang ia kasihi? Kekasih mana, Lu Han bertanya, yang mampu membuat halangan agar lelakinya tersenyum.
Tak ada—bisik Lu Han dalam hati. Nyatanya, Lu Han menyerah. Lu Han mencoba ikhlas. Lu Han mencoba baik-baik saja—Lu Han mencoba menerima.
Apa yang lebih penting dari kebahagiaan Sehun, Lu Han tanya? Apa yang lebih membuat hatinya menghangat dari senyum gembira Sehun saat ia tahu bahwa kelak, ia akan pergi ke Paris, negara favoritnya, untuk meraih impiannya?
Paris—Lu Han rasa ia membencinya.
Paris.
Terkadang, saat Lu Han terbangun dari tidur malamnya, ia berandai. Apakah jika itu Jerman, atau Australia, Sehun akan tetap menerimanya? Atau terkadang, Lu Han ingin bertanya pada Sehun—Sehun, mengapa harus Paris? Mengapa kau sangat ingin pergi ke sana? Mengapa kau lebih memilih pergi?
Namun semua itu langsung ia tepis kuat-kuat karena—
"Jika Sehun benar-benar ditakdirkan untukmu, dia akan kembali. Bukankah rumah tidak selalu bangunan megah?"
Kalimat Yixing menggema di ujung hatinya, menetap di sana, mengendap beberapa hari lebih lama.
Jika Sehun benar-benar rumahnya, ia akan kembali dengan senang hati.
Ya, Sehun pasti akan kembali. Bagaimanapun caranya.
Asalkan—Lu Han rela menanti sedikit lebih lama lagi.
Lu Han merapikan ujung tuksedo yang ia kenakan, warna putih gadingnya serasa sangat pas dengan rambut cokelat madu yang tersisir rapi, namun ketika ia melihat bayangannya sendiri di cermin, ia merasa hatinya turun ke lantai.
Sinar matamu menghilang.
Menghela napas panjang, Lu Han menggelengkan kepalanya, kemudian mencoba tersenyum. Senyum, ulang Lu Han dalam hati. Jangan terlihat begitu lemah, bisiknya.
Dan dalam sekali lirik, ia beranjak dari depan cermin, melangkah keluar dari kamar Yixing. Di ruang depan, ia melihat Yixing dan Minseok sama-sama telah rapi.
Lu Han melemparkan senyum pada keduanya, namun Minseok buru-buru berkata—"Lu Han, maaf, aku tak bisa ikut mengantarmu. Aku ada praktek hari ini."
Lu Han mengangguk maklum. "Tak apa, Minseok. Sungguh."
Mendengar bahwa Lu Han akan baik-baik saja, pemuda Kim tersebut langsung pamit, dengan tepukan lembut di pundak Lu Han seraya bergumam semoga sukses dan kemudian menghilang di balik pintu depan.
Yixing menatap Lu Han dengan senyum tulusnya, kemudian melirik lukisan yang telah Lu Han selesaikan. Lukisan itu diam berdiri di ujung ruangan, tertutupi kain perca, dan Yixing melirik sahabatnya lagi.
"Kau mau berangkat sekarang?"
Lu Han mendesah, kemudian melirik lukisannya, lalu beralih menatap Yixing. Sebuah anggukan menjadi jawaban untuk Yixing berjalan menuju lukisan Lu Han dan membawanya pergi dengan kedua tangannya.
Keduanya pergi dari dorm, menuju ke mobil milik Yifan yang memang sudah disediakan untuk keduanya.
Sesaat setelah seatbelt miliknya terpasang, Lu Han memasungkan atensinya lurus-lurus pada jalan, menghiraukan kata-kata Yixing dan suara gas yang mulai dinyalakan. Tatapannya lurus ke depan, seperti bangau yang tersihir anggun. Air matanya tersimpan di ujung mata, pandangannya kosong, dan dari samping Yixing bisa melihat bagaimana keping yang terlihat seperti kaca itu penuh dengan kesedihan yang tak berhasil Lu Han tutupi.
Selama perjalanan, baik Yixing maupun Lu Han tak mau repot-repot mengawali pembicaraan.
Satu hal yang ingin Sehun lakukan ketika ia tiba di arena konser adalah mencari Lu Han. Sudah setengah jam, ia mengitari panggung konser dan backstage, lalu memutari arena dalam kampus, kemudian menyusuri area-area tempat di mana para panitia berada. Di jalan, ia bertemu dengan Joonmyun dan Jongdae yang mengiriminya tatapan penyesalan seakan mereka meminta maaf karena belum menemukan Lu Han. Lalu ia bertemu dengan Taehyung, junior Lu Han, yang memberitahunya bahwa Lu Han belum datang, yang mana sedikit melegakan Sehun karena itu artinya Lu Han pasti akan datang. Lalu sesaat ketika ia melangkahkan kaki ke dalam area konser, matanya bertemu dengan sebuah bayang yang mengejutkannya.
Kim Myungsoo.
Berjalan dengan tergesa-gesa, Sehun tak peduli jika ia memotong jalan dan mengganggu aktivitas para panitia, namun yang ingin Sehun lakukan saat ini adalah berbicara pada sang pemilik nama.
Myungsoo menoleh kebelakang, senyumnya mengembang ketika ia tahu bahwa teman lamanya sedang berjalan kearahnya. Ia mencoba melambaikan tangan, namun Sehun terlalu malas untuk peduli.
Hingga akhirnya saat keduanya berdiri berhadap-hadapan, sesaat ketika Myungsoo hendak membuka suara untuk menyapa, Sehun telah lebih dahulu menyuarakan pikirannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Lu Han kemarin?" Tegas, absolut, seperti tak ingin menerima penolakan apapun.
Myungsoo mengerutkan keningnya, "Sehun—apa yang kaubicarakan?" tanyanya bingung.
Sehun menggerutukkan giginya, rahangnya mengeras dan kuku jarinya memutih karena tangannya ia kepalkan erat-erat. "Kau mendengarku, Myungsoo. Apa. Yang. Kau. Bicarakan. Dengan. Lu Han."
Myungsoo nampak memerlukan waktu untuk memproses pertanyaan Sehun, sebelum akhirnya ia ingat akan kejadian tempo hari. Matanya membola sempurna, lalu ia kembali menatap Sehun.
"Ah—Lu Han sunbae jurusan seni musik? Kemarin aku bertemu dengannya dan kita berbicara tentang banyak hal."
"Langsung ke intinya, Myungsoo," kata Sehun, kehabisan kesabaran. "Apa kau mengatakan sesuatu tentang Soojung?"
Myungsoo mengernyit bingung, lalu mengangguk. "Ya, kami bica—"
"Berengsek!" kata Sehun, mendekat dan mencengkeram lengan Myungsoo erat-erat. Matanya memerah menahan amarah, dan Myungsoo tersentak seketika. "Apa yang kaulakukan, bodoh?! Lu Han adalah kekasihku!"
Mata Myungsoo membulat sempurna. "Sehun, aku—"
"Seharusnya kau tak mengatakan apapun," desis Sehun sembari mengeratkan cengkeramannya. "Seharusnya Lu Han tak pernah ta—"
Belum juga Sehun menyelesaikan kalimatnya, ia merasa ada tangan yang mencengkeram lengannya hingga ia melepaskan lengan Myungsoo. Sehun tersentak sehingga membuat Myungsoo mundur dan hampir jatuh.
Pemuda Oh tersebut berbalik ke belakang dan sedetik kemudian, pipinya memanas.
Hal berikutnya yang bisa ia proses adalah tangan Baekhyun yang terkepal erat, Chanyeol dan Kyungsoo di belakangnya dan tatapan mereka sungguh menakutkan.
"Katakan sekali lagi," desis Baekhyun berbahaya. "Katakan sekali lagi di depan kami."
Sehun mencoba bangkit menegakkan tubuhnya seraya memegangi pipi kirinya, dan matanya langsung menatap Baekhyun lelah.
"Katakan sekali lagi apa yang menjadi keharusan. Katakan, bocah, katakan apa yang seharusnya tak diketahui Lu Han."
Kyungsoo berjalan maju, mengabaikan peringatan Chanyeol hingga kini tubuhnya berada tepat di depan Sehun. Tatapan Kyungsoo langsung mengarah pada keping hitam Sehun, tepat di dasar irisnya, dan Sehun merasa tubuhnya mengerdil karena—
Ia tak pernah melihat Kyungsoo semarah itu.
Suasana di sekitar mereka menjadi hening, namun Kyungsoo tak gentar.
"Seharusnya Lu Han tak pernah apa? Seharusnya Lu Han tak pernah tahu, begitu?" tanya Kyungsoo. Suaranya begitu rendah namun sangat jelas. "Seharusnya ia tak pernah tahu, lalu kau dengan enaknya bisa terus berhubungan dengan Soojung di Paris sana sementara kau meninggalkan Lu Han di sini, tanpa tahu sebuah halpun tentang ini semua? Tentang masa lalumu dan semua kelabilanmu?"
Sehun mendongak, menatap Kyungsoo, lalu beralih menatap Baekhyun dan Chanyeol. Amarah mendadak terkumpul di ubun-ubunnya, rahangnya mengeras dan—
"Aku tak percaya kalian terus memojokkanku dalam situasi ini," jawabnya tegas. "Aku tak percaya kalian, sahabatku sendiri selama lebih dari sepuluh tahun, tak ada satupun yang membantuku."
Baekhyun bergerak mendekat, penuh amarah, namun Kyungsoo memblokirnya.
Kyungsoo kembali menatap Sehun, pandangan mereka bertemu. Keduanya sama-sama penuh dengan kemarahan dan tak ada yang mampu menahan apa yang akan dikatakan Kyungsoo selanjutnya.
Lirih namun lugas, Kyungsoo menjawab.
"Kau memang sahabat kami lebih dari sepuluh tahun. Kau memang sudah kami anggap seperti adik kami. Kau memang segalanya, namun..."
Sehun merilekskan rahang dan tubuhnya, namun tatapannya masih terpasung pada pemuda di depannya.
"...namun kau harus tahu apa yang kaulakukan ini salah."
"Salah?" tanya Sehun dengan nada mengejek. Seringainya mampu membuat Kyungsoo mengepalkan tangannya dan Baekhyun berbalik memunggungi Sehun, tak ingin kemarahannya lebih dari ini. "Aku hanya ingin mengejar impianku, Kyungsoo. Mananya yang salah?!"
Kyungsoo mengambil napas panjang, mencoba menetralkan emosinya sambil memejamkan mata, sebelum akhirnya kembali menatap Sehun.
"Salah, karena kami semua tahu, bahkan Myungsoo tahu," katanya tanpa melirik Myungsoo yang terperanjat di belakang sana. "Jika disamping alasan itu, kau ingin kembali ke Soojung. Kami tahu bagaimana akhir kisah kalian dulu kala. Kami tahu kau masih ingin mencari kebenaran dalam hatimu. Kami tahu kau masih bingung."
"A—"
Seolah tak ingin memberi Sehun kesempatan untuk berbicara, Kyungsoo melanjutkan.
"Namun maaf, kali ini, kami akan membela Lu Han. Kau harus tahu, manusia macam apa Lu Han itu. Dia begitu mencintaimu, dia bahkan sangat menyayangi lebih dari apapun. Dia menyayangimu dan kehidupanmu. Dia menyayangimu, dan dia ikut menyayangi kami semua, sahabatmu. Dia menyayangiku sampai kau tahu apa, Sehun? Dia rela memberikan semua beasiswanya di kampus ini untukku."
Sehun menahan napas, matanya membola, namun tak ada kata-kata yang keluar.
"Kau tak tahu hal itu?" tanya Kyungsoo, nadanya mengejek, namun ia tak berhenti sampai di situ. "Kau tahu apa yang ia katakan?—Kyungsoo, kau lebih berhak untuk mendapatkannya dari pada aku. Lagian, aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi saudaraku sendiri. Sahabat Sehun sama berharganya untukku. Begitu katanya, Oh Sehun. Begitu, katanya. Apa kau tahu?"
Sehun diam mematung, dan kini ia menundukkan kepalanya. Lu Han...
"Ia begitu menyayangi kami semua karena ia tahu, kami berharga bagimu. Dan apa kau tahu? Lu Han memberikan semua kesempatannya di bidang lukis untuk beberapa pameran dan pekerjaan pada Baekhyun. Sehun, apa kau pernah tahu semua hal itu?"
Sehun menutup matanya, tak kuasa menatap semua sahabat yang ada di depannya.
"Semua itu dilakukannya karena kami sahabatmu, dan karena kami sahabatnya juga mulai saat itu. Semua itu dilakukannya karena ia menghargaimu lebih mahal dari apa yang ia punya. Ia melepas beasiswanya, ingat? Namun, kau—"
"Kami tak pernah memojokkanmu." Baekhyun akhirnya berbalik menatap sosok Sehun yang masih menunduk. Nadanya mengisyaratkan bahwa ia sudah lelah. "Kami hanya ingin kau berlaku adil. Oke, baik, kami serahkan padamu masalah beasiswa Paris. Tapi kami mohon, Sehun. Kami mohon dengan sangat, jangan pernah menyakiti Lu Han hanya karena Soojung."
Sehun merasa kemarahannya kembali muncul—namun kali ini ia marah pada dirinya sendiri. Sekelebat bayangan Lu Han yang selalu tersenyum padanya terlintas di benaknya begitu saja, seakan mencoba mencemoohnya karena kini—
Lu Han...
Kini, ia telah kehilangan kendali akan Lu Han.
Matanya masih menolak untuk bertemu dengan sosok Kyungsoo maupun Baekhyun dan Chanyeol sampai ia merasakan bahwa si pemuda Do yang sedari tadi berdiri di depannya tiba-tiba melangkahkan kakinya, berbalik meninggalkan Sehun.
Baekhyun melakukan hal yang sama, namun ia tak segan-segan untuk mengerling pada Sehun hingga akhirnya, Chanyeol berjalan kearahnya.
Ia menepuk pundak Sehun lembut dan meremasnya seakan memberi kekuatan. Sehun mendongak, melihat seutas senyum dari bibir sahabatnya.
"Aku berharap kau bisa melakukan sesuatu. Jangan menjadi pecundang lagi, Sehun-ah. Jangan ikuti langkah Soojung."
Dan dengan itu, Chanyeol mengikuti kepergian kekasihnya dan Kyungsoo.
Lakukan sesuatu—pikirannya berbisik. Lakukan sesuatu atau kau akan kehilangan Lu Han.
Ia mengerti ia harus melakukan sesuatu, namun sekali lagi, Sehun tak tahu harus bagaimana.
Merasa frustrasi, Sehun menjambak rambutnya sambil berteriak, mengabaikan beberapa pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya, kemudian pergi dari sana.
Meninggalkan Myungsoo mematung tak paham di belakangnya.
Yixing sesekali melirik Lu Han yang berjalan dengan sangat, sangat lamban di sampingnya. Sesekali ia ingin bertanya apa ia baik-baik saja, namun sedetik kemudian pemuda Zhang itu mengurungkan niatnya.
"Lu Han."
"..."
"Lu?"
"..."
Yixing mendesah lelah ketika ia sadar bahwa pikiran Lu Han sedang tak ada di sana, lalu dengan gestur lembut, ia meremas lengan Lu Han, membuatnya menoleh dengan pandangan kaget.
"Uh—yeah?"
Yixing mencoba tersenyum, namun ia rasa senyumnya berubah dari senyum tulus menjadi senyum penuh kesedihan dan kekhawatiran.
"Kita sudah—uh... sampai."
Lu Han memandangnya tak mengerti. Ia membuka mulutnya, "Apa?"
Yixing menahan keinginannya untuk tertawa, kemudian ia menatap Lu Han dengan pandangan menarik. "Aku—tak tahu di mana tempatnya?"
Setelah Yixing menjawab, barulah Lu Han mau memperhatikan sekitar, dan dia membuka mulutnya dan menyumpah dalam bahasa Mandarin ketika ia melihat bangunan besar di depannya. Mereka sedang berdiri di depan gedung kuliah Lu Han, dan sedetik yang lalu ia baru sadar jika Yixing belum pernah kesana sama sekali dan—well, dia tak mungkin tahu area konsernya.
Tertawa kecil, Lu Han mengisyaratkan Yixing untuk berjalan mengikutinya.
"Apa kau yakin ia akan datang, Yifan?"
Sang pemuda China yang disebut namanya terlihat berjalan mondar-mandir di depan seorang Kim Joonmyun yang sedang berdiri gelisah, mencoba menengok ke arah pintu masuk area.
"Seharusnya dia sudah sampai," kata Yifan, melirik sekilas pada pintu masuk. "Dia sudah berjan—Lu Han! Yixing!" teriaknya nyaring ketika ia melihat kedua sosok itu masuk melalui pintu depan, dengan Yixing yang membawa lukisan Lu Han yang masih ditutupi oleh kain putih.
Keduanya menoleh padaYifan dan melempar senyum sambil berjalan menghampirinya.
"Dia sudah datang. Bisakah kau beritahu Chanyeol dan Kyungsoo?" tanya Yifan ketika ia berbalik memandang Joonmyun. Sang pemuda Kim mengangguk patuh hingga kemudian pergi dari sana.
Yifan berjalan menghampiri keduanya.
"Kupikir kau takkan datang."
Yixing dan Lu Han tersenyum, kemudian Yifan mengulurkan tangannya untuk menerima lukisan di tangan Yixing.
"Maaf merepotkan," katanya.
Yixing menggeleng sambil mendengus pelan. "Apakah kau perlu berkata seperti itu? Meh, bukan masalah besar. So, aku pikir tugasku sudah selesai?"
Lu Han mengatakan terimakasih dan memeluk sahabatnya dengan erat, mengatakan sesuatu seperti aku berhutang banyak padamu yang mana hanya dijawab dengan suara tawa yang mengalun pelan.
"Bawa mobilku, akan kuambil besok pagi," kata Yifan sambil tersenyum.
Yixing menolak, mengatakan bahwa dia akan ada acara dan akan membawa mobil temannya, lalu mengembalikan kuncinya pada pemuda Wu.
Setelah melambaikan tangan seraya berseru terimakasih untuk kesekian kalinya, Lu Han dan Yifan pergi menuju ke area acara.
"Chanyeol dan Kyungsoo sudah menunggu," katanya sambil tersenyum saat menoleh kearah Lu Han.
Lu Han mengangguk, tak ingin repot-repot menoleh untuk mengembalikan senyumnya. Dan tanpa ia sadari, tatapan Yifan yang diarahkan kepadanya berubah menjadi lebih—sedih?
"Kau tahu, kau tak ha—"
"Lu Han!"
Sebuah teriakan yang memanggil namanya memaksa atensi Lu Han untuk kembali sadar, kemudian menoleh kearah sumber suara di depan sana. Ketika ia melihat sosok Kyungsoo dan Chanyeol sedang berlari kearahnya, Lu Han tersenyum kecil.
"Hey Kyu—"
Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, ia telah disambut oleh pelukan erat dari Kyungsoo dan tatapan haru dari Chanyeol di belakang Kyungsoo.
"Kemana saja kau selama ini, huh?!" Kyungsoo bertanya sedikit agak keras, membuat Lu Han mau tak mau tertawa dan mengusap lembut punggungnya. "Kami semua khawatir dan berusaha kesana kemari mencarimu! Aku, Baekhyun, Chanyeol dan Jongin bahkan sudah ingin menelepon polisi kalau saja Yifan tak menghalangi kami dengan mengatakan bahwa kau butuh waktu sendiri!"
Lu Han mengeratkan pelukannya ketika ia melewatkan nama seseorang yang saat ini sungguh ia ingin temui namun juga sungguh ingin ia hindari, dan itu membuat Kyungsoo sepertinya mengetahui hal itu.
"Bahkan—" Kyungsoo melanjutkan, agak tidak yakin, "Bahkan Sehun sudah berubah seperti mayat hidup semenjak kau pergi."
Pegangan Lu Han di tuksedo hitam Kyungsoo melemah, kemudian tangannya jatuh kesamping tubuh Kyungsoo, membuat Chanyeol memberinya tatapan sedih dan Kyungsoo berhenti memeluknya, namun beralih untuk menatapnya tepat di kedua iris gelapnya.
"Lu Han..." Kyungsoo kembali memanggil namanya. Kali ini nadanya sungguh terasa hangat dan Lu Han ingin sekali menangis akannya. "Kami sudah tahu semuanya."
Hati Lu Han seperti jatuh tercecer di lantai. Pikirannya ingin menolak fakta bahwa akhirnya, akhirnya ia mengetahui alasannya, namun ia tidak bisa.
"Kyungsoo," katanya dengan nada yang begitu parau, "bisakah kita tak membicarakan tentang hal itu?"
Kyungsoo mengangguk mengetahui, kemudian memeluknya singkat hingga akhirnya ia melepasnya lagi. Kali ini, ia tersenyum sambil menggenggam tangan Lu Han dengan begitu erat. "Aku tahu. Aku tahu. Aku yakin kalian akan menyelesaikannya dengan baik."
Lu Han tersenyum ketika ia menatap ketulusan dan kepercayaan yang bergelimang di mata Kyungsoo dan ketika ia beralih untuk menatap Chanyeol, sang pemuda Park mengangguk dan mengangkat jempolnya.
"Nah, sekarang mari kita pindahkan kanvas sialan ini ketangan para panitia yang bersangkutan." Yifan membuka suaranya, membuat ketiga temannya tertawa.
Satu hal yang tak mereka tahu, adalah sosok Sehun yang mematung di balik tembok di dekat mereka, menatap lantai di bawahnya dengan pandangan nanar.
Ia merasa perutnya seperti habis ditonjok oleh sesuatu yang tak kasat mata ketika mendengar betapa lemah suara Lu Han dan ketika ia berkata bahwa ia sedang tak ingin membicarakan hal itu. Namun di sisi lain ia bersyukur, bahwa setidaknya, Lu Han telah kembali.
Lu Hannya telah kembali.
Diatas itu semua, ia bahagia karena Lu Hannya baik-baik saja.
Atau setidaknya—itu yang ia pikirkan.
"Sehun, apa yang kaulakukan di sini?" Sehun beralih menoleh kearah sumber suara, di mana ia menemukan sosok Joonmyun di sana, melihatnya dengan tatapan bingung, namun ia menolak untuk menjawabnya sebelum akhirnya, Joonmyun kembali bicara. "Apa kau disini untuk membantu Chanyeol atau datang sebagai penonton? Dan apa kau tahu di mana Baekhyun?"
Ia terus menerus menatap Joonmyun yang nampak sangat terlihat berbeda dengan setelan jas berwarna kelabu, dan ia terus menatapnya sampai—
"Hyung," Sehun memanggilnya dengan nada serius, membuat Joonmyun tersentak. "Bisakah aku minta tolong satu hal?"
Konser mereka akan dimulai lima belas menit lagi dan dari ruang latihan, Lu Han mendengar beberapa penonton sudah datang. Dan ketika Kyungsoo menyuruh untuk mereka latihan sekali lagi, Lu Han langsung mengiyakannya.
Sesekali, ia akan menoleh keluar ruangan lewat jendela panjang di dinding, berharap ia dapat menangkap bayangan Sehun yang ia harapkan akan—well, mencoba mencarinya?
Namun setelah ia dan Kyungsoo beserta Chanyeol telah mengulang latihan mereka empat kali, ia harus rela menelan kekecewaan karena—
Sehun ternyata takkan repot-repot mencarinya kesini.
Setelah lebih dari sejam berlatih, mereka akhirnya memutuskan untuk bersiap-siap di belakang panggung setelah Yifan mengisyaratkan pada mereka bahwa acara sudah di mulai.
Saat mereka keluar dari ruang latihan, Lu Han bersumpah melihat bayangan Sehun sedang berjalan melewati koridor yang sepertinya mengarah ke kamar mandi, namun saat Kyungsoo bertanya ada apa, ia sepertinya langsung tersadar dan menganggap bahwa ia hanya sedang berhalusinasi.
Menghela napas panjang, Lu Han memegang lengan Kyungsoo, yang mana dijawab dengan sebuah senyum lembut seakan berkata bahwa—semua akan baik-baik saja.
Beberapa waktu saat mereka bersiap di panggung, Lu Han terlihat selalu menghindar dari Myungsoo—yang nantinya akan berduet dengan Jongdae—saat sang pemuda itu menangkap wajahnya dan hendak mengejarnya.
Tiba saat penampilan keempat di mana Kyungsoo dan Lu Han akan berduet menyanyikan sebuah lagu diiringi alunan piano dari Chanyeol, Kyungsoo merasa Lu Han berubah menjadi gugup. Ia kemudian memeluknya sejenak, mengatakan bahwa ia akan tampil hebat, sebelum Jongin dan Baekhyun berlari kearah mereka dan memeluk Lu Han sama seperti apa yang dilakukan Kyungsoo sambil bertanya kemana saja ia bersembunyi beberapa hari ini dan menggumamkan kata maaf karena mereka sedari tadi sibuk akan sesuatu, yang mana hanya dijawab oleh Lu Han dengan jawaban seperlunya.
Lu Han mengusir perasaan nyeri di hatinya yang terus berharap bahwa setidaknya Sehun akan muncul di sini.
Namun sialnya, ia salah.
Tepat saat Amber yang bertugas menjadi pembawa acara malam ini menyebutkan nama mereka bertiga, Lu Han harus menerima kenyataan bahwa Sehun takkan ada di sini untuk memberinya semangat.
Mereka bertiga masuk ke panggung, di mana tepuk tangan dan sorak sorai riuh memenuhi aula, dan Lu Han bisa mendengar Jongin berteriak dari ujung paru-parunya, menyebut nama Kyungsoo fighting berulang kali sedangkan Baekhyun menyebut nama Chanyeol dan namanya tak kalah kerasnya entah di baris keberapa mereka duduk.
Kyungsoo duduk di salah satu bangku di sana, di samping kanan Lu Han. Tatapan mereka bertemu sejenak, sebelum kemudian keduanya memberikan sebuah anggukan setelah menatap Chanyeol dan alunan piano segera terdengar dari ujung jemari Park Chanyeol.
Sebuah lagu dengan bahasa Mandarin bertajuk A Little Happiness mulai mengalun lembut dari bibir Kyungsoo dan riuh suara yang menggema di seluruh ruangan mereda.
Kyungsoo memejamkan matanya, berusaha menghayati lagu dan Lu Han melihat dari ekor matanya bahwa Kyungsoo tersenyum dalam alunan melodinya sendiri.
Dan saat Lu Han tahu jika bagiannya datang, ia mulai mendekatkan microphone yang ia pegang, menyapu seluruh kursi penonton di depannya dan berharap ia menemukan bayangan Sehun—namun yang ia dapatkan adalah kekecewaan.
Ia mulai menyanyi, suaranya bergetar di awal nada namun ia terus menyanyi sampai ia ikut memejamkan matanya, mencoba tenggelam dalam lirik, nada dan melodi anggun.
Dan itu semua berubah, kita menjadi sangat dekat dengan apa yang dinamakan cinta.
(Ia ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sehun yang terasa baru kemarin, ia ingat bagaimana minggu-minggu pertama mereka mencoba dekat satu sama lain hingga akhirnya ia merasa nyaman.)
Kesungguhan yang membuatmu berjuang melawan dunia untukku, dan juga tetes hujan yang kaudapat ketika bersamaku.
(Ia ingat bagaimana pelukan Sehun yang terasa begitu nyaman setelah mereka berlari menerjang hujan di sore hari.)
Setiap memori di dalam pikiranku, semuanya adalah tentang hatimu yang tak lagi sepi.
(Ia ingat bagaimana Sehun menciumnya dan mengatakan betapa ia mencintainya dan Lu Han tahu, kesungguhan dan ketulusan di matanya tak pernah berbohong.) Lu Han merasakan air matanya hendak jatuh dan nadanya meleset di beberapa bagian, namun ia tetap menyanyi. Ia merasakan tangan Kyungsoo menggenggam tangannya yang satu, mengatakan bahwa ia pasti akan baik-baik saja.
Aku merasa sangat beruntung bertemu denganmu. Namun saat itu juga, aku kehilangan hak untuk menangis untukmu.
(Sekelebat bayangan di mana ia telah menemukan kebahagiaannya dengan Sehun...)
Aku hanya bisa berdoa di ujung langit, ketika aku tak bisa bertemu denganmu, aku ingin berdoa agar kau sedang mengepakkan kedua sayapmu.
Dan iapun meneteskan air mata selagi Kyungsoo menggenggam tangannya begitu erat.
(Sehun...)
Menemukan takdir sepertimu—perempuan itu pasti sangat beruntung.
Dan ia berhenti, membuka matanya, membiarkan air matanya jatuh tak terbendung selagi alunan piano Chanyeol tetap menerjang di atas panggung.
Matanya menatap kedepan, dan irisnya menangkap bayangan Sehun yang sedang duduk di salah satu bangku, mengenakan jas berwarna cokelat sambil menatapnya sendu.
Ia ingin berlari kearahnya dan memeluknya, mengatakan bahwa ia sungguh mencintainya dan melarangnya pergi karena ia tak ingin ada orang lain seperti Soojung di antara mereka—namun ia tak bisa.
Alunan musik masih terdengar dan Kyungsoo menyanyikan bagiannya.
Ia masih mendengar bagaimana lirik terakhir yang dinyanyikan Kyungsoo menggema di ujung telinganya—
Dan aku akhirnya tahu, kaulah kebahagiaan yang ingin kusimpan sendiri.
Tepuk riuh penonton menghampiri sesaat setelah nada piano Chanyeol selesai dimainkan dan ketiganya bangkit, membungkuk. Lu Han menoleh kearah kursi yang sebelumnya diduduki oleh Sehun namun ia sudah tak ada di sana.
Dengan hati yang terasa sangat berat, Lu Han langsung pergi dari atas panggung bahkan sebelum tepuk tangan penonton mereda.
Ia berjalan dengan lesu kebelakang panggung, dengan genggaman tangan Kyungsoo yang mengerat dan Chanyeol yang memberinya senyum tipis. Amber kembali keatas panggung dengan tepukan yang masih mengiringi ketiga sosok itu sampai ketiganya menghilang dibalik tirai hitam.
"Kau tak apa?" Kyungsoo bertanya, menurunkan pandangannya hingga ia bertemu mata Lu Han yang menunduk dalam diam. Sejurus kemudian Lu Han mendongak, namun kedua irisnya terpasung pada sosok Sehun di ujung ruangan yang sedang menatapnya.
Lu Han merasa tenggorokannya tiba-tiba mengering namun ia ingin bicara. Ia ingin memanggil nama Sehun, menyuruhnya berjalan kemari agar ia bisa mendekapnya, erat, sangat erat hingga ia takkan melepaskannya lagi—namun kata-kata Myungsoo kembali terngiang di ujung telinganya.
Ah—Paris memang menjadi penengah kisah cinta Sehun dan seseorang yang sama sekali tak ia kenali.
Matanya tiba-tiba berubah menjadi buram ketika Sehun menatapnya seolah-olah lewat tatapan ia sedang meminta maaf, ia sedang bersimpuh dan memintanya kembali.
Namun ia kira, ia butuh penjelasan. Tak sekadar permintaan maaf sebegitu gampangnya.
"Lu?"
Lu Han menoleh ke samping kanannya. Yifan menatapnya iba—ia bisa melihatnya. Namun kali ini ia tak mau peduli, kali ini ia—
"...Dan penampilan kali ini, adalah penampilan khusus yang diminta oleh teman kami dari jurusan Literature." Suara Amber memecah keheningan yang menyiksa di sekeliling Lu Han, dan ia menatap Yifan ketika pemuda itu bertanya apa ia baik-baik saja. Lu Han mengangguk, dan suara Amber kembali terdengar begitu jernih. "Kali ini ia tak akan menyanyi atau melukis, ia hanya akan mengucapkan sepatah dua patah kata. Dan karena tema konser ini adalah A Little Happiness, maka sahabat kita yang satu ini akan membacakan sebuah surat untuk seseorang, kebahagiaan kecil untuknya. Kita sambut dengan tepuk tangan meriah, ini dia—Oh Sehun dari jurusan Sastra."
Lu Han mematung, seakan di tiap tepuk riuh penonton membawanya ke alam bawah sadarnya. Kyungsoo, Chanyeol dan Yifan di sampingnya juga terperanjat. Lu Han menoleh ke belakang, tepat di saat Sehun sedang berjalan menuju panggung, tak memedulikan beberapa panitia yang memanggil namanya entah karena apa. Namun sesaat ketika Lu Han ingin berteriak memanggil sosoknya, kekasihnya telah masuk area panggung, menghilang di balik tirai hitam.
Sehun tak tahu apa yang sedang ia lakukan, apalagi dengan penonton di depannya yang sedang memandang kearahnya penuh ekspektasi, sinar lampu yang menerangi sosoknya yang berdiri tegap bak model di tengah panggung. Keringat dan rasa frustrasi menghampiri dirinya, namun saat di ujung panggung Joonmyun memberikannya anggukan mantap, ia menghela napas panjang.
Denting piano terdengar dari ujung kanan panggung, di mana sosok Jongdae duduk di depannya. Jemarinya bergerak lincah memainkan alunan Beethoven lawas dengan lincah dan lembut.
Sehun, di lain sisi, membuka catatan di tangan kanannya.
Ia mendekat, dan saat bibirnya hampir menyentuh mikrofon, ia membuka suaranya.
Setahun yang lalu, aku tak pernah berpikir kau akan jadi bagian di hidupku. Kukira, kau hanya satu paragraf dari satu buku penuh kehidupan cintaku. Kukira, kau hanya pelengkap. Dan ternyata, aku telah salah.
Setahun yang lalu, aku tak pernah mengira hidupku akan jadi seperti ini. Tidak jika aku tak bersamamu.
Setahun yang lalu, aku ingin menyapamu dahulu. Ketika laju bis yang mengantarkanku kesini berhenti, aku ingin tinggal dan menyapamu dengan satu "hai" atau "halo". Kukira perkenalan kita akan manis seperti itu, apalagi senyummu kala itu begitu samar namun aku berhasil menangkapnya. Kala itu, aku ingat. Musim dingin, namun sebuah celah di hatiku menghangat ketika kau berada di sana, memandangku dengan tatapan anehmu dan senyum samarmu. Rambutmu bergerak-gerak, sebagiannya tertutup salju. Namun aku tetap bisa melihatnya—cahaya di matamu.
Setahun yang lalu, aku ingin mengetahui namamu sesaat setelah kita bertemu untuk yang kedua kali. Di depan lukisan seorang bocah dengan tatapan aneh, kau menyapaku dan satu gelas macchiato di tanganku akhirnya kauterima.
Setahun yang lalu, kau belum menjadi kekasihku. Dan aku tak pernah berpikir aku akan bisa jatuh cinta lagi.
Jika itu bukan kau, aku terkadang bertanya, apa aku bisa jatuh cinta?
Lalu jika itu bukan kau, apa yang akan terjadi?
Kesepian, sendirian, menyedihkan—hatiku berkata seperti itu, kasihku. Mungkin juga lebih buruk. Nyatanya, kehilangan kau dua hari saja aku sudah seperti mayat hidup.
Tanpa sadar, kau telah mengisi hari-hariku di tiap jam, menit, detik—nanodetik. Senyummu yang seperti virus telah masuk menginfeksi terlalu dalam dan telah menyebar, membuatku sesak dan merindukannya saat kau tak ada. Tawa ringanmu terlalu dalam menusuk, hingga rasanya aku kesepian jika tak mendengarnya. Peluk hangatmu terlalu menenangkan hingga rasanya enggan melepaskan. Ciumanmu terlalu memabukkan hingga rasanya sakit jiwaku saat kau tak ada di sampingku. Genggaman tanganmu terlalu nyaman hingga aku takut jika aku menggenggamnya terlalu erat, kau akan kesakitan, namun jika kulepaskan, kau akan pergi.
Lebih dari itu semua, ternyata yang paling menyihirku adalah hatimu, kasih. Hatimu yang semurni kapas, hatimu yang selembut awan, hatimu yang seindah bunga musim semi.
Bersamamu membuatku sadar, jika kau adalah segalanya. Aku belajar jika kau menyukai musim dingin karena kaupikir pelukanmu terasa seperti rumah dan selimut, kau menyukai bunga dafodil karena itu mengingatkanmu padaku, kau suka air hujan karena itu artinya aku akan menggendongmu agar sepatumu tak basah, kau menyukai piano karena dentingnya mengingatkanmu pada suaraku, dan kau menyukaiku karena aku adalah aku.
Kau mencintaiku karena aku adalah diriku.
Namun maaf, kasih.
Maafkan atas semua yang kulakukan. Aku tahu, aku telah menggores banyak luka di hatimu. Aku tahu, aku telah mengecewakan harapan-harapan yang telah kauimpikan padaku. Aku tahu, aku telah membuatmu menangis.
Maafkan aku, karena aku adalah payung yang melindungimu namun harus membuatmu kehujanan dan kedinginan.
Satu hal yang kau harus tahu, jika jauh di dalam hatiku, aku ingin menyimpanmu untuk hatiku seorang diri.
Dan aku berharap, di dunia paralel sana, kita bisa bahagia tanpa aku harus menyakitimu seperti ini.
Denting piano Jongdae mengalun lembut, Sehun mengakhiri kalimatnya dan sedetik kemudian piano itu berhenti.
Tanpa sadar, Sehun meneteskan air mata yang mana langsung ia hapus hingga tak ada yang tahu.
Tepuk riuh penonton segera bersahutan dan baik Jongdae maupun Sehun membungkuk beberapa kali hingga penonton di depan sana berdiri sambil terus bertepuk tangan.
Sehun tersenyum sekali, kemudian mengangguk pada Jongdae sebelum akhirnya berbalik dan berjalan kebelakang panggung.
Ketika ia menyibak tirai hitam itu, ia langsung dikagetkan oleh sebuah lengan yang menariknya keras-keras dan sebelum ia berhasil melepaskan diri, sosoknya dikagetkan oleh kumpulan rambut cokelat muda yang menempel di dadanya.
Lu Han.
Isak tangis Lu Han membuat para panitita menghentikan sejenak pekerjaan mereka, namun kemudian langsung kembali ke pekerjaan mereka sesaat setelah Amber kembali masuk panggung.
Sehun mematung, tangannya masih tak bisa ia gerakkan namun ketika Lu Han memeluknya lebih erat sambil meremas pakaiannya keras-keras di bagian punggung. Saat itu juga, Sehun mengangkat tangannya, melingkarkannya di pinggang kekasihnya dan memeluknya erat.
Ia membenamkan hidungnya di antara rambut Lu Han, menghirup aroma shampo favorit Lu Han dan menghirupnya lagi—seakan mencoba mematri aromanya hingga mengendap di dada dan pikirannya.
Ia memeluknya, memeluknya sampai tangis Lu Han mereda.
Di dalam hati kecil Sehun, ia merasa memang harusnya seperti ini. Aroma rambut Lu Han yang terasa seperti bunga mawar di musim semi, seperti cokelat panas dan kayu cengkeh di musim dingin, daun maple yang mengering dan teh hangat di musim gugur dan lembayung senja di musim panas. Terasa seperti rumah, pikirnya.
Di dalam hati kecil Sehun, ia merasa bahwa ini sungguh benar.
"Aku mencintaimu," bisiknya sambil menenggelamkan kepalanya di antara leher Lu Han.
Kekasihnya tertawa, namun masih menyeka air mata. Ia mendongak, dan tatapan keduanya bertemu. Jantung Sehun melewatkan sekali detakan ketika ia, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, melihat sinar di kedua mata Lu Han yang meredup.
Namun Lu Han masih tersenyum seakan ia telah memaafkan Sehun walaupun Sehun tak mengatakan apa-apa tentang masalah sebenarnya.
Tidak apa-apa, kata Lu Han dalam hati. Tidak apa-apa.
Lu Han melepaskan pelukannya, namun sedetik kemudian Sehun segera menariknya kembali, hingga wajah pemuda China itu tenggelam di dada bidangnya.
"Berjanjilah kau akan segera kembali dan selalu menghubungiku ketika di sana."
Sehun tersenyum lemah, merutuki dirinya sendiri karena saat ini Lu Han mencoba melupakan semuanya, melupakan perkataan Myungsoo dan saat ini, Lu Han mencoba baik-baik saja.
Lega namun hatinya masih merasa tak nyaman. Namun ketika suara Lu Han kembali hadir memanggil namanya, ia mengangguk.
"Pasti," jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya dan mengeratkan pelukannya.
Lu Han tertawa, dan Sehun berpikir jika ini mungkin keputusannya yang paling berguna.
Malam itu, Lu Han menginap di apartemen Sehun.
Keesokan harinya, mobil Chanyeol telah menunggu di depan apartemen Sehun, sementara pemuda Oh dan kekasihnya sendiri terlihat sedang mengangkat masing-masing satu koper dan memindahkannya ke bagasi mobil.
Perjalanan menuju ke bandara entah kenapa terasa sangat tak mengenakkan kalau bukan karena Chanyeol dan Baekhyun di kursi depan yang mencoba membuat beberapa lelucon.
Lu Han akan tertawa sesekali pada candaan mereka, dan itu terkadang membuat hati Sehun merasa lebih baik. Sedikit.
Terlepas dari itu, sepanjang perjalanan tangan Lu Han tak mau melepaskan genggamannya dari tangan Sehun.
Lima puluh menit berlalu seakan seabad baik bagi Sehun dan Lu Han, dan akhirnya ketika mereka sampai di bandara, Baekhyun dan Chanyeol bersikeras membawakan koper Sehun.
"Sampaikan salamku pada Kyungsoo, Jongin dan yang lainnya."
Baekhyun mengangguk, memeluk Sehun erat sambil menyodorkan kopernya. Pemuda cantik itu menggigit bibirnya menahan tangis namun matanya telah memerah. "Maaf untuk kemarin," balasnya singkat.
Sehun tertawa, kemudian menatap Chanyeol yang berjalan kearahnya sambil tersenyum.
Mereka berdua berpelukan erat, dan Chanyeol menepuk pundak Sehun seperti ia adalah adik kandungnya sendiri.
"Baik-baik di sana."
"Pasti," jawab Sehun singkat.
Dan saat matanya beralih pada sosok Lu Han di belakang, tanpa ia sadari kakinya melangkah mendekatinya. Langkahnya terasa lamban karena kakinya terasa susah di gerakkan. Matanya memicing pada mata Lu Han yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Dan ketika ia berhenti tepat di depan Lu Han, ia langsung menciumnya. Dalam, lama—seakan ia ingin berkata bahwa ia akan kembali.
Karena pasti, Sehun akan kembali.
Mereka berbagi ciuman lama, menghiraukan keadaan sekitar, seakan Lu Han sedang menyalurkan keberatan di hatinya dan Sehun sedang mencoba meminta maaf dan meyakinkannya, sebelum akhirnya Sehun memutuskan tautan bibir mereka saat ia merasakan sesuatu yang asin mampir di bibir mereka.
Lu Han menangis.
Lalu Sehun memeluknya erat seakan meyakinkannya bahwa hanya Lu Han yang ia cintai.
Dan beberapa saat kemudian, pelukan itu terlepas.
Ia masih mengatakan bahwa ia mencintai Lu Han dan kalimat itu ia ulang-ulang bak mantra. Dan ketika ia merasa bahwa pesawatnya sebentar lagi akan pergi, ia segera meraih kopernya, pamit dan dengan sekali pandang, ia menatap Lu Han di belakang sana dengan pandangan penuh cinta—namun penuh penyesalan.
Perjalanan dari tempatnya semula ke arah area checking sungguh memakan waktu lama karena ia rasa kakinya masih sulit bergerak.
Namun beberapa menit kemudian di sinilah ia—duduk di salah satu bangku di dalam pesawat yang tak lama lagi, akan mengantarnya ke sebuah tempat impiannya.
Tempat impian, sungguh kata-kata yang sungguh asing karena itu bukan Seoul. Bukan Korea Selatan. Bukan Lu Han.
Perjalanan menuju ke Paris, Perancis membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam namun Sehun merasakannya dengan begitu cepat.
Mungkin karena pikirannya terlalu penuh dengan sosok Lu Han yang kini—sudah berjuta mil jauhnya.
Menghela napas panjang dan merenggangkan tubuhnya, Sehun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari pesawat.
Paris.
Beberapa menit kemudian di sanalah ia, di bandara duduk di sebuah kafe dengan dua koper di kedua tangannya. Dan beberapa menit setelahnya menyesap kopi hitamnya—ia menolak memesan macchiato—dering ponselnya mengejutkannya.
Ia mengambilnya dari saku celananya dan tersenyum ketika ia mendapat sebuah pesan.
Kau di mana?
Dalam sekejap, ia membalas.
Di kedai kopi di samping money changer.
Tak sampai semenit, datang balasan untuknya.
Okay, aku melihatmu.
Dan dengan itu, Sehun berdiri, beranjak keluar dan mengedarkan pandangannya. Ia mengernyit ketika tak menemui sosok yang baru saja mengirimi pesan, namun—
"Sehun!"
Sehun berbalik ke sumber suara.
Satu senyum lebar tak hilang dari bibirnya.
Dan sedetik kemudian, yang ia rasakan adalah sebuah pelukan hangat dan aroma parfum mahal khas Perancis, rambut cokelat tua yang tergerai lembut dan Sehun tanpa sadar membalas pelukan itu.
"Aku merindukanmu, Sehun," gumamnya dalam pelukan Sehun.
Sehun merasa ada yang aneh dalam pelukan itu, ia merasa ada yang salah namun ia menolak peduli. Tersenyum, ia mengeratkan pelukannya.
"Aku juga merindukanmu... Jung Soojung."
Hari itu, Sehun sama sekali tak membalas satupun pesan dari seseorang yang berada berjuta mil jauhnya dari rengkuhannya.
Lu Han.
end
nope, kidding.
tbc
fact : lagu yang dinyanyikan Lu Han dan Kyungsoo adalah lagu milik Hebe Tian – A Little Happiness yang menjadi soundtrack film Taiwan yang berjudul Our Times.
a/n : kemarin ada yang belum paham tentang athelophobia, ya. Athelophobia itu intinya si Lu Han tuh merasa dia itu selalu kurang, dia nggak cukup baik. Kayak seumpama dia pengen cegah Sehun tapi dia nggak mau karena dia pikir dia bakal jadi orang jahat kalau mencegah Sehun. Pokoknya, intinya athelophobia itu pengen jadi perfect, tapi selalu merasa kurang baik (baik hati).
