"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."

.

.

.

Satu hari setelah Sehun mendarat di Paris, Lu Han meyakinkan dirinya bahwa Sehun masih lelah dengan perjalanan yang jauh atau sedang jetlag hingga ia tak membalas pesan Lu Han. Dua hari, mungkin Sehun sedang sibuk mengurus pindahannya, menata barang-barangnya atau hal lain. Tiga hari, mungkin Sehun sedang pergi ke kampus barunya untuk mengurusi surat-surat pindahan. Empat hari, lima hari, hingga akhirnya satu minggu.

Lu Han ingin percaya bahwa Sehun tidak akan melupakannya dan akan menepati janjinya. Lu Han ingin percaya bahwa Sehun sedang disibukkan untuk sehari dua hari—namun tidak, tidak, ini sudah seminggu dan satupun pesan Lu Han tak terbalas.

"Sehun, apa kau sudah sampai?"

"Sehun, kenapa tak membalas pesanku?"

"Sehun, aku rindu."

"Sehun, apa kau baik-baik saja?"

"Sehun?"

"Hun..."

Entah mengapa, Lu Han kali ini sungguh lelah.

Memandang kosong kanvas di depannya, di mana ia penuhi dengan warna kelabu dan merah serta hitam kelam, Lu Han menorehkan kuas dan warna putih, membentuk lengkungan indah sekali lagi. Dua kali lagi. Tiga kali lagi.

Satu senyuman muncul di bibir Lu Han.

Kelabu mengingatkannya pada langit temaram saat ia berada di musim dingin. Merah mengingatkannya pada syal yang ia berikan untuk Sehun di hari ulangtahun kekasihnya. Hitam mengingatkannya pada rambut Sehun yang jika ia hirup lebih lama, ia merasa bahwa rasanya antara mint dan jasmine. Dan putih mengingatkannya pada kulit pucat Sehun.

Sehun.

Sehun.

Ah, bagaimana Lu Han menyebut namanya dalam hati membuat dirinya sendiri rindu.

Sehun.

Lu Han menangis dalam hati untuk kesekian kalinya minggu ini.

.

.

.

Paris di malam hari adalah epitom dari keindahan absolut. Sehun selalu mendambakan hal ini—duduk di pinggir kota Paris di malam hari, dengan lengking suara melodius melankolia Edith Piaf dengan secangkir brandy di tangan dan—

"Sudah merasa nyaman di Paris?"

—Jung Soojung.

Sehun tersenyum, mempersilakan gadis tersebut duduk di depannya.

"Aku selalu mendambakan hal ini," katanya. "Jadi takkan terlalu sulit untuk beradaptasi."

Soojung mengangguk, menyenderkan tubuh sintalnya pada kursi yang ia duduki. Tangannya ia lipat di depan dada, memandang lurus kearah Sehun yang sedang menatap arah barat daya di mana kerlap-kerlip lampu kota terbias indah melalui sorot matanya. Rambut hitam panjangnya terbang lembut tergerai terbawa angin malam, matanya meradiasikan sesuatu yang hampir, hampir tak terbaca kala ia memandang Sehun lebih intens.

"Sehun..."

Dan Sehunpun menoleh.

"Kudengar dari Victoria, kau sudah punya kekasih di Korea."

Pupil Sehun membesar dan ia memandang Soojung dengan sorot mata yang terkejut—seperti sedang teringat akan sesuatu.

"Sehun?"

Sehun mendongak, matanya bertubrukan pandang dengan keping ganda Soojung namun Sehun ingat, ia ingat sesuatu yang ia lupakan seminggu belakangan ini.

Lu Han.

Ia ingat campuran warna cokelat karamel, merah muda, putih suci, cokelat tua sebagai warna penghias kehidupannya di Korea selama ini dan warna tersebut seakan meneriakkan nama Lu Han dan Sehun masih ingat benar bagaimana rambut cokelat karamel, bibir merah muda, cokelat putih bersih, dan pupil cokelat tua miliknya terlukis nyata di depannya seakan keseluruhan eksistensinya meneriakkan sifat sempurna—breathtaking.

Dan Sehunpun ingat, ia ingat sesuatu yang ia tinggalkan di belakang sana.

Lu Han adalah kekasihnya, ya, ia tahu itu dan seberapa kalipun ia ingin berbohong, hatinya merasa sakit kala ia tahu bahwa ia sedang berkhianat.

"...hun? Sehun?"

Sehun mendongak, kali ini memaksakan atensinya untuk terpasung pada sosok gadis di depannya dan ia tersenyum lemah.

"Ya," jawabnya kaku. Suaranya lirih dan terdengar ragu namun Sehun tak bisa berbohong untuk hal ini. Karena bagaimanapun juga, Lu Han adalah kekasihnya.

"Ya," ulangnya lirih. "Aku telah bersama seseorang."

Dan Soojung menurunkan pandangannya, maniknya terpaku pada brandy miliknya yang dingin tak terjamah namun ia tak peduli.

Bohong jika ia bilang bahwa dia telah berhenti mencintai Sehun. Bohong jika ia bilang bahwa satu percik harapan di hatinya meneriakkan nama Sehun. Bohong jika ia tak terluka. Bohong jika ia telah tak ingin bersama.

Bohong bila hatinya tak merasa sakit.

"Ah... Siapa perempuan beruntung itu, jika kau mau berbagi cerita?"

Sehun tersenyum dan senyumnya terlihat seperti senyum pahit yang Soojung jarang lihat, namun sedetik kemudian, Sehun membuka suara.

"Dia lelaki."

Soojung tersentak, matanya membulat lebar karena ia tak percaya. Selama ini ia yakin seratus persen bahwa Sehun adalah pemuda straight. Ia yakin bahwa terakhir ia tahu, Sehun menyimpan ketertarikan pada lawan jenis dan sekarang, saat mereka bertemu kembali, Sehun dengan gampangnya menjawab bahwa—bahwa dia...

"Le...lelaki?"

Sehun tertawa kecil namun terdengar seperti tawa yang mengejek dirinya sendiri. Soojung mengamatinya lebih jauh, mencari raut wajah yang mengisyaratkan bahwa ia sedang bercanda namun wajah Sehun yang mengeras dan ragu dalam satu waktu menjawab bahwa ia sedang berkata jujur.

"Tapi... Tapi Sehun, kukira kau—"

"Aku tahu," jawab Sehun. Ia menurunkan gelas berisi brandy yang dia pegang dan ia menoleh keatas—langit hitam terbentang nyata, bersih dan begitu gelap seakan mengejeknya. "Aku tahu ini terdengar sangat mengejutkan, bukankah begitu?"

Soojung terdiam, mencoba mencerna informasi ini namun ia tetap tak bisa.

"Apakah—Sehun, apakah... kau yakin jika apa yang kalian punya adalah cinta?"

Sehun harusnya terkejut mendengar pertanyaan semacam itu. Ia bahkan harusnya dapat menjawabnya dalam satu detik tanpa rasa ragu yang menyelubungi pikirannya namun saat ia memandang ke arah barat daya, di mana kerlap-kerlip lampu membiaskan cahaya warna-warni dan terlihat begitu kecil, mengecil hingga tak terlihat lagi, dan saat ia kembali menoleh kearah Soojung; melihat sosoknya yang tak pernah berubah, tetap cantik, anggun, menawan dan dewasa sama seperti terakhir kali ia mencintai sosoknya—hatinya merasa malu.

Malu untuk menjawab bahwa tahta tertinggi hatinya berada atas nama Lu Han. Malu untuk menjawab bahwa cintanya hanya untuk Lu Han. Malu mengakui bahwa preferensi seksualnya telah berubah drastis.

Malu untuk mengakui kenyataan yang sekarang, terasa semakin bias.

"Entahlah," jawabnya pelan. "Entahlah, Soojung."

Karena Sehun merasa takut untuk menjawab dengan satu ya, padahal ia selalu mengagung-agungkan cinta yang ia miliki untuk Lu Han dulu di Korea. Padahal ia selalu memuja cintanya untuk Lu Han. Padahal ia selalu menjanjikan selamanya. Padahal ia mengatakan cinta untuk Lu Han seakan hanya akan ada satu nama dan hanya satu-satunya di hatinya.

Namun mungkin Paris memang mampu menyihir hati seseorang untuk berkata hal yang mengkhianati perasaan seseorang.

Atau mungkin ini semua gara-gara sosok gadis menawan yang masih sama seperti saat ia mencintainya dulu.

Atau mungkin ini semua gara-gara jarak.

Atau bisa jadi, cintanya pada Lu Han memang tak sebesar apa yang mulut berbisanya umbar-umbar.

Membawa gelas brandy kebibirnya, Sehun menelan semua isinya dalam sekali teguk dan Sehun heran mengapa rasanya menjadi lebih pahit dari yang tadi ia rasakan.

.

.

.

Hari kedelapan, tepat pukul sebelas malam waktu Korea, Lu Han mendengar ponselnya berdering dan ia segera mengambilnya, berharap bahwa itu adalah pesan balasan dari Sehun bahkan jika ia sudah lelah berharap kala itu.

Ia mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas di samping tempat tidurnya dan matanya membola mengetahui doanya terbalas.

from Sehunie

Lu Han, maafkan aku.

Lu Han tak tahu apa yang membuat Sehun minta maaf namun ia ingin meyakini bahwa ia meminta maaf karena ia telat memberi balasan—walau retak di hatinya mengatakan ada sesuatu yang salah dengan Sehun—atau hubungan mereka—namun ia memilih untuk percaya pada kekasihnya.

Dengan senyum—yang dipaksakan—dan debaran hati yang entah apa namanya, Lu Han mengirim satu balasan pendek.

to Sehunie

Tidak perlu meminta maaf, Sehun-ah! Aku tahu kau sedang sibuk mengurus ini itu...

Beribu-ribu kilometer di seberang benua sana, Sehun-pun bingung kenapa ia harus meminta maaf.

Mungkin permintaan maaf karena ia telat membalas pesan.

Mungkin permintaan maaf karena ia telah meragu.

Mungkin permintaan maaf karena tadi, dibawah pengaruh brandy dan indahnya kerlip lampu Paris, ia mencium bibir wanita lain.

.

.

.

tbc

.

.

.

a/n : hello this is me bringing a new shitty, unforgivable, a very-short chapter. Maafkan Sachi untuk update-nya yang ngaret karena sempat ketunda gara-gara oneshoots buat our thousand stories hehehe. Di sisi lain Sachi merasa susah buat nulis part Sehun-Krystal karena well... that Kaistal thing... Pokoknya chapter depan udah panjang lagi, kok! Besok udah mulai masuk ke konflik dan kita bakal liat gimana Sehun dan kelabilannya bakal bawa dia ke kehancurannya sendiri hehehe. (Still, I am sorry for this tooooooo short chapter. I am doing something bad, arent I T_T)