"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."

.

.

.

Lu Han tahu hubungannya dengan Sehun tengah berada di persimpangan. Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dan dengan Sehun yang berada nun jauh di sana, iapun tak tahu. Yang ia tahu adalah Sehun tak pernah memberinya kabar, hanya melalui lima pesan singkat selama sebulan ia berada di Paris. Tak ada skype, chat, atau apapun. Semua yang Sehun janjikan akan ia lakukan tak ada satupun yang terealisasikan.

Akan tetapi di dalam hati kecilnya Lu Han masih berharap bahwa mereka akan baik-baik saja.

Hari itu adalah hari minggu dan kini, Baekhyun dan Kyungsoo berkunjung ke apartemen Lu Han, membantunya mempersiapkan segala sesuatu karena pada pukul delapan malam nanti, Lu Han akan menghadiri sebuah acara live di sebuah televisi swasta di mana ia akan hadir sebagai bintang tamu.

Pelukis muda berbakat Korea. Seniman kancah Internasional. Asian's heartthrob. Atau seribu julukan lainnya.

"Baekhyun, bisakah kau menggantikanku saja?" pinta Lu Han dengan muka memelas pada Baekhyun yang kini membelakanginya, mengobrak-abrik almari mahogani besarnya untuk menemukan sepasang pakaian yang ia rasa pantas untuk dikenakan.

Baekhyun meluruskan tubuhnya, menoleh kebelakang dan mengirim satu tatapan tajam dan sebuah jawaban tidak tegas sebelum kemudian kembali ke kegiatannya.

Lu Han cemberut, menghela napas lelah kemudian berbaring di atas tempat tidurnya, memejamkan mata. Dari awal pihak televisi menghubunginya, ia sudah akan menolak tawaran untuk pergi kesana namun Baekhyun dan yang lain bersikeras untuknya agar menerima tawaran tersebut, karena mereka semua ingin Lu Han melakukan satu atau dua aktivitas barunya terlepas dari mengurung diri di studio lukis atau begadang. Mereka tahu bahwa Lu Han telah banyak berubah—drastis bahkan—karena hubungannya dengan Sehun yang seperti berada di perbatasan tersebut, bahkan ketika kau melihat Lu Han yang sekarang, kau bisa melihat bagaimana kurusnya dan pucatnya ia. Matanya menjadi kosong dan wajahnya terlihat lelah bahkan saat ia hanya tidur-tiduran di kamar. Ia sering bolos kuliah, melupakan deadline lukisan yang harus dikirimkan pada pihak kurator atau bahkan ia lupa jika ia tak makan selama dua hari.

Namun tak ada satupun dari teman-temannya yang berhasil menggeretnya kembali.

Dan dengan ini, Baekhyun dan yang lain berusaha agar Lu Han menemukan aktivitas baru, kegiatan baru, agar ia tak lagi terjebak dalam rutinitasnya tidur-menangis-bangun-melukis-melamun-tidur.

"Baekhyun, kau menghancurkan almari Lu Han."

"Oh, diamlah Kyungsoo. Aku sedang berusaha mencari baju yang setidaknya pantas dan diterima."

Kyungsoo memandang Baekhyun bosan. Ia menyerah—karena ia merasa baju Lu Han tak ada yang pantas—dan memilih untuk duduk di pinggir kasur milik Lu Han. Matanya memancang menatap sosok Lu Han yang tengah tidur berbaring di atas kasur, dengan tangan yang memeluk lututnya seakan ia sedang ketakutan pada sesuatu. Matanya terpejam erat, napasnya teratur dan bibirnya mengoleskan sebuah sirat sedih. Hati Kyungsoo sakit melihatnya.

Lu Han dulunya adalah sosok yang mencerminkan ketulusan dan kesucian, di mana ketika orang melihatnya mereka akan terpesona bahkan ketika ia tak sedang tersenyum. Lu Han adalah sosok yang ketika ia tersenyum, semua orang akan jatuh melutut kearahnya. Lu Han adalah sosok yang dengan hatinya bisa menyentuh banyak manusia. Dengan kebaikannya bisa mengubah banyak kehidupan. Dengan ketulusannya bisa mengoleskan warna-warni hidup banyak orang.

Memang tidak akan banyak yang tahu namun lingkar pertemanan mereka—Kyungsoo, Baekhyun, Jongin, Chanyeol dan beberapa teman dekat Lu Han yang lain seperti Yifan dan Yixing tahu jika Lu Han adalah jelmaan malaikat.

Lu Han telah melukis ratusan karya yang selalu ia kirim ke berbagai kurator di negeri. Lu Han mengirimkannya untuk dipajang bahkan dijual untuk akhirnya uangnya akan langsung dikirimkan pada lima belas panti asuhan yang selama ini berada dalam usapan lembut tangan Lu Han. Terkadang Lu Han akan mengirimkan lukisannya untuk acara amal, untuk penggalangan dana atau sekadar untuk dipajang di sebuah pameran amal.

Lu Han hidup untuk menghidupi kebahagiaan orang lain.

Lu Han hidup karena ia harus menciptakan, setidaknya, satu kebahagiaan di dalam hati orang lain.

"Setidaknya aku ingin membahagiakan orang lain, jika aku tidak bisa bahagia," kata Lu Han suatu hari.

Mengingat kalimat tersebut membuat Kyungsoo sakit, sakit karena Lu Han berhasil membahagiakan banyak orang, banyak anak-anak kurang mampu namun ia sendiri belum berhasil meraih kebahagiaan yang ia impikan.

Suatu hari Lu Han pernah menemukan kebahagiaan yang baginya nampak semu itu. Suatu hari ia berhasil meraihnya, mendekapnya, menciumnya dan bahagia bersamanya namun kebahagiaannya pergi, terbang melayang dengan kedua sayap lebarnya. Pergi, pergi, pergi kesebuah tempat di mana Lu Han tak bisa menjangkaunya.

Sebuah tempat tertinggi di mimpinya bernama puncak menara Eiffel.

Kyungsoo mengamati Lu Han dalam diam dan ia berjanji dalam hati jika Sehun tak bisa membahagiakan Lu Han, ia lebih rela jika Lu Han bersama orang lain.

"Kyungsoo?"

Kyungsoo mendongak, menatap Baekhyun yang menatapnya sedih.

Mereka saling bertatapan hingga akhirnya Kyungsoo kembali menoleh kearah sosok Lu Han yang merintih kecil dalam tidurnya, menyuarakan dua silabel nama yang membuat mereka merasa begitu sedih.

"Jika tidak bersama Sehun, asal temanku ini bahagia, aku akan mendukungnya," kata Kyungsoo lirih, tangannya bergerak untuk mengusap lembut surai cokelat Lu Han yang terlihat tak terawat.

.

.

.

"Baekhyun, kurasa aku tak—"

"Hush."

"Kyung-ie, tolong a—"

"Lu Han, kau diam saja, oke?"

"Tap—"

"Astaga, Lu Han! Kubilang diam saja! Kyungsoo, pegang tangannya erat-erat! Lihat, kalau kau banyak bergerak eyelinernya tak akan rata!"

Lu Han cemberut, melebarkan matanya dan menatap Baekhyun dan Kyungsoo bergantian, memohon dalam diam agar mereka menghentikan kegiatan mereka sekarang ini.

Dia sudah duduk selama hampir sejam untuk dirias sehingga mukanya menjadi sedemikian rupa dan oh, jangan lupakan pakaiannya yang sama sekali bukan style-nya ini.

"Done!" Baekhyun berseru nyaring, melempar eyeliner miliknya keatas meja Lu Han dan memandang sosok di depannya dengan mata yang berbinar ceria.

"Oh Tuhan, Kyungsoo! Lihatlah teman kita yang satu ini!"

Kyungsoo terkekeh pelan ketika memandang bagaimana Baekhyun memuji hasil karyanya sendiri sementara Lu Han hanya bisa mengerucut tak setuju.

"Aku terlihat seperti anak gangster."

"Omong kosong, Lu Han," bantah Baekhyun. "Kau terlihat seperti diva. Begitu mempesona. Lihatlah ke cermin. Matamu tak lagi terlihat mengerikan, dan wajahmu juga tak sekotor seperti sebelumnya."

Lu Han menatap Baekhyun ragu. "Benarkah?"

Baekhyun melempar senyum lebarnya seraya mengangguk cepat, menggeret Lu Han agar ia berdiri tepat di depan cermin besar miliknya.

Lu Han, yang kini tengah berdiri di depan cermin, memandang sosok pantulan dirinya di cermin, mengamati bagaimana ia sungguh sedang bertransformasi menjadi orang lain—menjadi sosok Lu Han yang berbeda karena seingatnya, sosoknya adalah Lu Han yang bahkan tak pernah lagi punya waktu untuk memedulikan penampilannya. Satu-satunya riasan di wajahnya adalah senyum sedih, mata yang sembab karena air mata atau kening yang berkerut dalam karena sering berpikir dan melamun. Atau bahkan, wajahnya akan terias dengan berbagai macam warna cat dari lukisannya yang bahkan takkan repot-repot ia bersihkan.

Namun kini saat ia melihat refleksi dirinya, ia tertegun. Ia bahkan hampir lupa bagaimana sosoknya yang berambut cokelat madu, dengan mata almond bersih mengkilat dan kulit putih sehat dengan warna bibir merah cerah. Ia lupa bagaimana ia dulu pernah terlihat seperti ini ketika ia pernah bahagia.

Dalam satu kedipan mata, ia berhasil ingat bagaimana dulu ia memang tampak seperti ini—sehat, menawan, bahagia, hidup.

Di belakang sana, Kyungsoo masih mengharap kebahagiaan untuknya karena apa yang ingin ia lihat adalah Lu Han dan sebuah senyum bangga seperti apa yang sedang ia lihat di pantulan cermin saat ini.

Sehat, menawan, bahagia, dan terlihat begitu hidup dan bercahaya.

.

.

.

Pukul tujuh malam, mereka bertiga keluar dari apartemen Lu Han dan tepat di depan apartemen, mobil milik Chanyeol telah menunggu. Ia datang bersama Jongin dan mereka langsung melesat ke gedung televisi yang akan dituju Lu Han.

"Kalian tahu, kan kalau kalian semua tak seharusnya melakukan ini. Aku bisa pergi dengan taksi," kata Lu Han menundukkan wajahnya malu-malu.

Chanyeol melirik dari kursi kemudi lewat spion depan, mengernyit menatap Lu Han. "Kau tak berpikir kami akan membiarkanmu pergi sendiri, kan?"

"Aku hanya tak ingin kalian menjadi repot. Lagian aku tahu Kyungsoo ada latihan paduan suara nanti malam."

"Ah," Kyungsoo menjawab. "Jangan pedulikan hal itu. Aku sudah izin pada Ryeowook hyung, kok. Jadi kau tenang saja, Lu Han."

Lu Han menatap Kyungsoo yang duduk di sampingnya dengan tatapan memelas namun Kyungsoo hanya tertawa.

"Kau harus melakukan sesuatu yang baru, bukankah begitu?" lanjutnya.

Lu Han mengangguk dan ia tersenyum tipis. "Ya," jawabnya. "Aku harus mencoba merangkak untuk kembali hidup."

Tak ada yang bisa mereka semua doakan kecuali untuk Lu Han dan kebahagiaannya.

Walau tak bersama Sehun, mereka akan rela dan mendukungnya. Karena Lu Han terlalu baik untuk orang macam Sehun.

.

.

.

Ketika mereka sampai di gedung televisi swasta tersebut, jam baru saja menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit dan Kyungsoo langsung mengantar Lu Han kedalam, mencari tempat siaran sementara yang lain akan menunggu di lantai pertama di kafetaria.

Gedung satu, lantai lima ruang dua belas. International Story, kata Lu Han, menyebutkan judul acara yang akan dihadirinya.

Keduanya langsung menaiki lift dan melesat ke lantai yang tertera di tempat dimana Lu Han akan hadir sebagai bintang tamu.

"Kau kenal seseorang di acara itu, kan?" tanya Kyungsoo saat mereka masuk kedalam sebuah lift yang—untungnya—kosong.

Lu Han mengangguk, berusaha merapikan rambutnya namun Kyungsoo memarahinya karena tatanannya sudah benar. "Tenang saja," jawab Lu Han. "Aku kenal dengan Pengarah Acaranya. Dia adalah Munsoo hyung, seorang adik kurator langgananku."

"Jadi kami tak perlu khawatir, kan?"

Lu Han tertawa kecil mendengarnya dan menepuk lengan Kyungsoo. "Aku bukan anak kecil!"

Kyungsoo tersenyum, menatap Lu Han dan mengangguk pelan.

Lift yang mereka naiki berdenting pelan dan sejurus kemudian, terbuka lebar, mempersilakan mereka untuk keluar. Keduanya berbelok kearah kiri dan berjalan lurus menyusuri koridor, dan ketika mereka sampai di ujung koridor, sebuah suara memanggil nama Lu Han hingga mereka menoleh kearah timur.

"Lu Han!"

Lu Han dan Kyungsoo memandang sosok yang sedang berlari kearah mereka, mengenakan pakaian khusus kru berwarna biru tua dan di genggaman tangan kanannya ia mengayunkan sebuah walkie-talkie.

Lu Han tersenyum, dan baik dia dan Kyungsoo langsung menunduk menyapa orang tersebut.

"Munsoo hyung," sapa Lu Han, mengulurkan tangan kanannya dan sosok di depannya tersenyum lebar.

"Kukira kau akan terlambat!" jawabnya sambil melepas genggaman tangan mereka. Sekilas, ia melirik ke sosok di samping Lu Han. "Oh? Apakah pemuda ini temanmu?"

Lu Han mengangguk. "Munsoo hyung, kenalkan, ini Kyungsoo. Do Kyungsoo. Dia dan tiga temanku yang lainnya yang mengantarkanku kesini."

"Salam kenal, Munsoo hyung," sapa Kyungsoo sambil tersenyum kecil dan menjabat tangan lelaki di depannya.

Munsoo terkekeh, menjabat tangan Kyungsoo sambil memujinya. "Pemuda yang ramah dan sopan, rupanya."

Mereka bertiga berbincang sebentar, sebelum seorang kru muncul dari sebuah ruangan dan berteriak sesuatu pada Munsoo hingga akhirnya ia harus mengambil Lu Han dari tangan Kyungsoo karena mereka akan melakukan briefing sejenak.

"Tolong jaga teman saya, dia sungguh tak pernah menghadiri acara semacam ini."

"Hei!"

Munsoo tertawa melihat bagaimana Lu Han terlihat begitu malu dan Kyungsoo yang hanya memutar bola matanya. "Baiklah, aku yakin Lu Han akan melakukan pekerjaannya dengan baik. Kalau begitu, aku harus pergi dengannya sekarang. Apakah kau bisa pergi ke lantai dasar sendiri, Nak?"

Kyungsoo mengangguk pelan, kemudian menjabat tangan Munsoo dan berbisik pada Lu Han jika ia dan yang lain akan menunggunya di kafetaria tadi walaupun Lu Han akan menolaknya.

Lu Han mengangguk patuh pada akhirnya sebelum kemudian mereka berpisah—Lu Han berjalan bersama Munsoo menyusuri dua koridor, dan tiga menit kemudian mereka telah berada di sebuah ruangan yang penuh sesak dengan kru dan para bintang tamu.

Munsoo langsung menggeret Lu Han agar ia berada di pojok ruangan di mana beberapa sofa dan satu meja panjang berada, diterangi sorot lampu utama dan di sana, ia bisa melihat dua lelaki sedang berbincang-bincang.

Munsoo berteriak pada semuanya sesuatu seperti C2 sudah datang dan Lu Han mengernyit tak mengerti. Tahu-tahu, ia sudah digeret menuju kesebuah sofa di mana dua lelaki yang tadi dilihatnya telah tersenyum padanya.

Munsoo berlutut di lantai, membisikkan sesuatu pada Lu Han.

"Yang diujung sofa adalah Siwon, Choi Siwon," katanya, menunjuk sosok pria tampan denga porsi tubuh bak model, kini tengah melambaikan tangan padanya dengan senyum ramah. Lu Han membungkuk kecil dan mencoba tersenyum. "Dia adalah MC di acara ini."

Lu Han sudah menduganya karena ia pernah melihat acara ini sekali. Lalu suara Munsoo kembali terdengar.

"Dan yang itu," katanya, menunjuk sosok pemuda yang pernah ia lihat beberapa kali, sering muncul di berbagai acara televisi namun Lu Han tak pernah repot-repot menontonnya dengan jelas. "Adalah Henry Lau. Kau pasti sudah tahu dia, kan? Kali ini dia akan jadi bintang tamu disini bersamamu."

Lu Han mengangguk, menatap Henry yang sedang melempar senyum padanya sebelum kemudian kembali berbincang pada Siwon. Ia mengamati sosok Henry sampai ia tak sadar bahwa Munsoo telah pergi dari sana. Ia menatap Henry, menelisiknya lebih jauh dan bertanya kenapa ia baru sadar jika pemuda tersebut nampaknya cukup tampan.

Walau ia tahu bahwa ia tak mungkin menganggapnya lebih tampan dari seseorang yang sering menjadi mimpi di tidur lelapnya.

Lu Han bangkit dari sofa kecil tersebut, menghampiri keduanya karena Siwon menyuruhnya dan ia duduk tepat di sisi kiri Henry.

Pemuda yang dikenal sebagai pemain piano terkenal sekaligus penyanyi berbakat tersebut menoleh kearahnya dan menawarkan tangan kanannya.

"Halo," sapanya ramah dengan senyum menawan yang terlihat begitu lebar dan Lu Han menjabat tangannya. "Henry Lau, kau boleh memanggilku Henry. Dan kau pasti Lu Han, our Asian's Heartthrob, kutebak?"

Lu Han tak pernah suka akan panggilan semacam itu namun ketika Henry mengatakannya, ia merasa begitu tersanjung karena menurutnya, ia tak ada apa-apanya ketika disandingkan dengan seorang Henry Lau.

"Senang bertemu dengan Anda, Henry-sshi," sapa Lu Han, mengangguk padanya.

Henry berdecak, melepas genggaman tangannya dan mengibaskan tangannya. "Tak perlu begitu formal. Panggil Henry saja," katanya.

Lu Han mengangguk dan tersenyum sebelum kemudian berjabat tangan dengan Siwon, bertukar nama dan berbincang-bincang pada mereka berdua.

Mereka mulai briefing singkat untuk acara tersebut dan Lu Han belajar dengan cepat. Awalnya ia tak mengerti dengan beberapa perintah namun Henry, dengan senyum maklum dan raut wajah yang menenangkan, mengajarinya bahkan di sela-sela guyonan yang ia lontarkan.

Lu Han akan bohong bila ia bilang bahwa Henry bukan orang yang menarik namun hatinya berdenyut sakit saat dua silabel nama Sehun kembali teringat di otaknya.

Setengah jam mereka lalui untuk briefing dan akhirnya Lu Han menguasai apa yang harus ia lakukan selama acara yang akan berlangsung selama sejam tersebut, terimakasih untuk Henry yang mengajarinya. Teriakan Munsoo kembali menggema—Lu Han heran bagaimana mereka harus selalu berteriak—dan semuanya telah siap di tempat masing-masing untuk memulai acara.

Lu Han, yang memang baru pertama menghadiri acara semacam ini, merasa bahwa ia sangat gugup dan ia rasa ia bisa kencing di sini namun sebuah tepukan tangan Henry di punggungnya dan senyum menenangkannya bilang bahwa ia akan baik-baik saja.

—yang tidak baik-baik saja adalah kenyataan bahwa ketenangan semacam ini dulunya selalu ia miliki dari seseorang yang berbeda.

Namun ia segera melupakan hal tersebut, mengingat-ingat dalam otaknya bahwa Henry sedang berlaku profesional dan mencoba berbaik hati.

.

.

.

Acara berlangsung lancar bahkan ketika Lu Han pikir ia akan merusak suasana. Lima belas menit awal, Henry akan mendominasi percakapan dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan Siwon tentang berbagai prestasi yang ia capai—baik kancah nasional maupun luar negeri. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya.

Lu Han tahu jika Henry berangkat dari seorang pemain biola nasional di usia delapan tahun, kemudian mencoba merambah dunia piano di umurnya yang kesepuluh hingga saat ini. Ia baru mulai menyanyi di tahun 2010 namun yang membuatnya sangat terlihat hebat adalah koleksi pialanya yang ditampilkan di layar belakang mereka.

Dua puluh menit kemudian, Lu Han akan masuk ke dalam inti pembicaraan dan anehnya, ia merasa begitu nyaman dan tenang.

Henry akan sesekali menyahut dan menimpali ketika Lu Han menjawab pertanyaan, menyela dengan lelucon seperti bagaiman orang seusia Lu Han bisa menghasilkan berratus-ratus karya dalam waktu singkat bahkan ketika ia tak bisa menggambar gunung dan matahari di tengahnya.

Namun Lu Han tak bisa memprediksi—dan juga mereka tak melakukan briefing tentang hal ini—karena selanjutnya, pertanyaan dari Siwon mengagetkannya.

"Dan kami semua penasaran akan pertanyaan ini, Lu Han. Apakah kau punya seseorang di dalam kehidupanmu sekarang?"

Lu Han ingin menjawab ya namun ia ragu. Apakah ia sungguh memiliki seseorang di dalam kehidupannya? Bukankah yang dinamakan seseorang adalah dia yang memang ada, ada untuk menemaninya dan mencintainya?

Bukankah pertanyaan Siwon sejujurnya mudah ia jawab? Lu Han hanya perlu menjawab ya karena seseorang bernama Oh Sehun masih resmi menjadi kekasihnya. Ia hanya sedang pergi kesebuah benua jauh di seberang, ia hanya sedang berada jauh darinya namun, tanpa ia sadar, sebulan ini ia meragu.

Apakah Sehun memang seseorang di hatinya?

Kalau ya, kenapa ia butuh waktu lama untuk menjawabnya? Kenapa hatinya merasakan sakit yang luar biasa ketika mengingat kehidupan cintanya bersama Sehun? Kenapa ia harus menunggu hingga Siwon kembali memanggil namanya, menuntut sebuah jawaban untuknya agar mendongakkakn kepalanya?

Kenapa hatinya merasa begitu ragu?

Namun, bagaimanapun juga, Lu Han takkan bisa berhenti mencintai Sehun. Walau Sehun tak menepati janjinya, walau rindu yang tak terbendung tak pernah Sehun hiraukan, walau ia tak pernah tahu apa yang sedang kekasihnya lakukan di sana, namun satu yang Lu Han tahu dan yakin...

"Ya," jawabnya, begitu lirih namun ia tak mau mengulanginya lagi. Ia mendongak, menatap Siwon tepat di kedua matanya dengan sebuah tatapan tegas. "Aku sedang bersama dengan seseorang."

Lu Han tahu sampai kapanpun, akan selalu Sehun dan jawabannya akan selalu ya.

Siwon tersenyum, tak mengerti kenapa Lu Han memerlukan waktu yang lama untuk sebuah jawaban namun ia tak bertanya.

"Ah, rupanya begitu. Pasti orang yang menjadi kekasihmu akan sangat beruntung memiliki seseorang yang menawan lagi berbakat sepertimu, bukan?"

Lu Han tersenyum mendengar kalimat tersebut namun hatinya berantakan mengetahui bahwa realita yang ia milik tak semudah kalimat Siwon.

"Lalu jika kau ingin mengatakan sesuatu padanya, Lu Han, karena kuyakin dia akan melihat tayangan ini dirumah, adakah yang ingin kausampaikan padanya?"

Lu Han tersenyum dan hampir tertawa karena kalimat tersebut terdengar begitu ironi dan seakan mengejeknya tanpa sadar.

Namun Lu Han mengangguk, ia mengangguk bahkan ketika hatinya menyuruhnya untuk diam saja karena ia sendiri tahu jika apa yang akan ia ucapkan takkan terdengar bahkan terlihat oleh sosok Oh Sehun.

Yang pada dasarnya, Lu Han tak mengerti sedang dimana keberadaannya.

Namun Lu Han mengangguk juga. Namun ia menegakkan tubuhnya juga. Ia membenarkan posisi duduknya dan Siwon menyuruhnya untuk menghadap ke kamera.

Lu Han membuka suaranya, ia membuka suaranya dan ia heran mengapa itu terdengar begitu lemah dan menjijikkan—seperti sedang meminta dan memelas.

Namun, Lu Han pada akhirnya mengatakannya juga.

"Katamu rumah bukanlah empat dinding dan satu atap, namun rumah adalah pelukan di mana akan kautemukan kebahagiaan karena dua mataku dan satu detak jantungku adalah rumahmu. Maka, aku selalu bertanya kapan kau akan pulang karena pintu rumahku masih terbuka lebar menyambutmu."

Lu Han mengakhiri kalimatnya dengan degup jantung yang berdetak hebat dan ia merasa ingin menangis karena sungguh ironis—ia sedang berkata pada seluruh dunia namun seseorang yang ia kirimi pesan takkan mendengarkannya.

Acara terus berlangsung namun memori, emosi dan pikiran Lu Han seakan berkelana. Ia tertawa, tersenyum, mengangguk dan menjawab beberapa pertanyaan namun pikirannya tak ada di sana.

Dan iapun tak tahu—dan tak sadar—jika pertanyaan Siwon untuk Henry setelahnya melibatkan dirinya.

"Karena Lu Han sudah memberitahu kami semua kehidupan pribadinya, bagaimana denganmu, Henry? Apakah kau memiliki seseorang di dalam hidupmu?"

Henry tertawa dan ia melirik Lu Han yang matanya berubah kosong sejak pertanyaan yang sama menghampirinya.

"Aku tidak punya kekasih," katanya. "Namun dulu aku sungguh mengidolakan seseorang. Aku berpikir dan bermimpi ah, bagaimana jika ia bisa jadi kekasihku,namun aku tahu aku tak sehebat itu untuk dapat mewujudkannya."

"Dan kenapa kau berpikir seperti itu?"

Henry mengulum senyum, ia menatap Siwon dengan pandangan lelah. "Karena aku tak pernah berani mendekatinya. Karena dia tak pernah mengenalku."

Siwon mengeluarkan suara kasihan namun Henry tak peduli—bahkan ia masih sempat melirik Lu Han yang ikut tersenyum sedih dan Henry tertawa pada pernyataannya barusan.

"Jadi, kisah cintamu hanyalah sebatas pengagum dari jauh?" tanya Siwon.

"Yah, bisa dibilang seperti itu. Orang-orang mengira aku akan jatuh cinta dengan para aktris, penyanyi atau para entertainer lain namun tidak, aku menyukainya. Dia hidup di dunia yang berbeda, bukan dunia hiburan sepertiku namun dia adalah bintang di dunianya sendiri. Betapapun orang lain pikir seberapa tenar dan berbakatnya aku, dia takkan pernah menyukai bahkan melihat kearahku...

...karena akhir-akhir ini aku juga baru tahu jika dia sudah tak sendiri lagi."

.

.

.

Satu jam telah berlalu dan Lu Han bahkan tak sadar jika Munsoo telah menghampirinya, berkata bahwa ia sangat berterimakasih dan bahwa Lu Han sangat luar biasa hari ini. Lu Han tersenyum, menjabat tangan semua kru yang terlibat hingga akhirnya ia duduk di sebuah spot untuk para bintang tamu, di mana di sana sudah ada Henry yang tengah menelepon seseorang sambil memegang minumannya.

Lu Han menghampirinya, membawa minuman yang diberikan oleh salah satu kru dan duduk di sebuah kursi di samping Henry.

Sayup-sayup Lu Han mendengar suara Henry yang sedang berbicara lewat ponselnya dan Lu Han baru sadar jika ia berbicara dengan bahasa Mandarin.

Belum sempat bangun dari rasa penasarannya, Henry langsung menutup teleponnya dan melemparkan sebuah senyum kearah Lu Han.

"Henry?"

"Ya, Lu Han?"

"Apakah kau adalah orang China?"

Sebuah senyum yang datang dari bibir Henry mengingatkannya dengan senyumnya sendiri karena kali itu, bukan senyum menawan dan menenangkan yang datang dari bibir tipisnya melainkan sebuah senyum sedih yang begitu sendu dan terlihat begitu menyesakkan. Lu Han tak tahu apa yang salah dari pertanyaannya namun saat ia baru akan membuka suara untuk meminta maaf, Henry sudah menjawabnya.

"Aku memang dari China," jawabnya. "Beijing, tepatnya. Bukankah nama Henry Lau terdengar seperti bunyi bel bagimu?"

Lu Han mengernyit heran, merasa pernah mendengar nama Lau sebelumnya namun satu hal yang berhasil ia ingat adalah teman masa kecilnya bernama Shizu Lau. Dan ia kembali berpikir bagaimana nama Lau di China memang sangat banyak digunakan, ia mengangguk.

"Kau benar," katanya, dan Lu Han melewatkan satu sinar mata Henry yang bangkit dan memercikkan satu keingintahuan. "Nama keluarga Lau memang cukup banyak di China, harusnya aku sadar jika kau dari China."

Sedetik kemudian, Henry tersenyum lemah.

Dan Lu Han heran bagaimana senyum seperti itu terlihat asing di wajah Henry.

Baru saja ia ingin berbincang lebih jauh tentang China dengan Henry, namun suara Munsoo kembali terdengar dari ujung ruangan dan Lu Han mencoba bangkit. Saat ia melihat Munsoo sedang membuka pintu depan ruangan tersebut, ia bisa melihat bagaimana Baekhyun dengan tergesa-gesa masuk dan mengedarkan pandangannya di antara para kru yang sibuk membereskan peralatan. Ia memanggil nama Baekhyun, berjalan meninggalkan Henry yang ikut berdiri—yang mana hendak memanggil Lu Han namun urung ia lakukan—dan berjalan kearah Baekhyun.

Baekhyun berlari, menggumamkan kata maaf pada beberapa kru yang nampak kesal namun Baekhyun tak peduli karena—

"Baekh—"

"Lu Han..."

Lu Han mengernyit, heran mengapa Baekhyun yang kesini bukan Kyungsoo dan kenapa ia berlari-lari seperti ada sesuatu yang penting namun begitu ia membuka suara, Baekhyun memotongnya dan kalimat yang ia utarakan membuat botol air mineral yang ia pegang sedari tadi terjatuh ke lantai.

"Profesor Jaehan dan Profesor Namhyun mengirimmu untuk pergi ke Paris."

.

.

.

tbc

.

.

.

a/n : hello (again?!)... as I promised I will bring a new chapter for you and this is kinda longer than the seventh chaps so... I guess I made it yey.

Sebelumnya Sachi minta maaf (again?!) karena di sini ga ada hunhan karena Sehunnya kan lagi di Paris sama Soojung ye kan ye kan hehe. Disini ada Henry nih hehe. Awalnya Sachi bingung mau pilih siapa karena LuHan kayaknya nggak deket sama member dari grup lain jadi Sachi pilih Henry aja hwhwh. Apakah Lu Han akan pergi ke Paris di chapter selanjutnya? Apakah dia bakal ketemu Sehun? Apakah yang akan terjadi di chapter selanjutnya—?

Nantikan kelanjutannya bulan Mei. Paipai~~