Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat.
.
.
.
Sebelumnya, Baekhyun tidak pernah bermimpi jika ia bisa menginjakkan kaki ketempat selain Seoul dan Gangwon-do, kampung halamannya. Walaupun ia punya impian untuk pergi dan tinggal di Novaskotia, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa hal itu akan terjadi.
Namun saat itu ketika ia turun dari pesawat yang baru saja mengantarkannya dari bandara Incheon menuju ke salah satu bandara di Paris, Baekhyun baru sadar jika ia sedang berada di luar negeri.
Paris, Perancis tepatnya.
Walaupun bukan Novaskotia, namun Baekhyun tak bisa tak terkesima. Awalnya saat Lu Han mengatakan padanya bahwa ia akan menyerahkan kesempatan untuk menjadi penyelenggara pameran lukisan di Paris, ia ragu.
Ia sadar diri bahwa kemampuannya masih berada jauh di bawah Lu Han, yang notabene telah dijuluki Asian's Heartthrob, namun dengan Lu Han yang memohon dan terus memohon kepadanya, ia tak punya kuasa untuk menolak. Apalagi alasannya menyangkut hubungannya dengan Sehun.
"Aku tak bisa bertemu dengannya," kata Lu Han. "Tak bisa bertemu dia maupun nona Soojung."
Awalnya Baekhyun terkejut mendengar nama Soojung keluar dari bibir Lu Han, karena pada dasarnya selama ini Lu Han tak pernah menunjukkan gelagat bahwa ia ingin menyinggung masalah Soojung atau semacamnya, bahkan Kyungsoo dan yang lain tak ingin menyebut-nyebut masalah Sehun dan Soojung di depan Lu Han. Maka saat Lu Han akhirnya menyebut nama Soojung, Baekhyun terkejut.
Lu Han, yang melihat raut keterkejutan di wajah Baekhyun, langsung tersenyum kecil sambil menepuk lengannya lembut. "Hanya karena aku tak pernah membicarakan nona Soojung, aku tak tahu apa yang terjadi, Baekhyun."
Baekhyun tak tahu harus menjawab apa saat itu, makanya ia hanya diam saja.
"Aku memang orang yang lemah, namun bukan berarti aku idiot. Aku bisa menarik kesimpulan atas apa yang terjadi, atas keputusan Sehun. Dan aku tak senaif itu untuk berpura-pura tak tahu jika tujuan Sehun bukanlah sekadar karier dan sekolah, namun ada nona Soojung di antara alasannya mengambil beasiswa itu."
Lalu beberapa hari setelah Lu Han mengatakan hal itu, Sehun memutuskannya.
Malam itu ketika Lu Han pergi ke apartemen Kyungsoo untuk mencurahkan air matanya, semuanya langsung pergi kesana, mencoba menenangkan Lu Han. Kala itu, Kyungsoo ikut meneteskan air mata, duduk bersimpuh di lantai bersama Lu Han, menggumamkan kata maaf berkali-kali dan berkata, "Maafkan sahabatku."
Baekhyun tak tahu bagaimana rasanya menjadi Lu Han, karena semuanya tahu bagaimana ia mencintai Sehun. Semuanya masih baik-baik saja sebelum Sehun pergi ke Paris, dan mereka turut berbahagia atas Sehun dan Lu Han. Mereka mengira hubungan mereka akan baik-baik saja namun Baekhyun dan yang lain harus menelan pil kecewa.
Ternyata, Sehun tak pernah berubah. Masih menjadi lelaki yang tak puguh pendirian, bodoh dan tak bisa menentukan pilihan hatinya sendiri.
Dering ponsel di saku celananya membangunkannya dari lamunan panjang, dan Baekhyun tak perlu berlama-lama untuk mengambilnya.
Beberapa pesan singkat dari Chanyeol dan yang lainnya, menanyakan apakah ia sudah sampai. Ia berjalan menuju kesebuah kafe, masuk dan memesan espresso sambil duduk di sebuah meja di sana. Ia mengetikkan balasan untuk kekasihnya dan Kyungsoo serta Jongin hingga akhirnya jemarinya berhenti pada pesan dari Lu Han.
Tolong bantu aku.
Hati Baekhyun ikut riris mengingat semua rencana Lu Han, dan ia berjanji dalam hati jika ia akan melakukan yang terbaik.
Rombongan yang datang bersamanya dari Seoul memanggil namanya, menyuruhnya agar bergegas karena mobil yang akan mengantarnya telah menunggu di luar.
Baekhyun beranjak dari tempat duduknya, menghampiri salah satu lelaki di rombongannya dan berkata, "Aku akan pergi sendiri kesana."
Lelaki bertubuh jangkung bernama Haejin tersebut mengerutkan keningnya, bertanya kenapa dan Baekhyun hanya menjawab bahwa ia akan dijemput oleh teman kenalannya dan akan diantar kembali ke hotel nanti.
Haejin mengangguk mengerti, meninggalkan Baekhyun untuk mengabarkan hal tersebut pada ketua rombongan.
Baekhyun tidak bohong.
Dia memang sudah menyuruh Sehun untuk menjemputnya di sini.
Awalnya Sehun kaget mendengar kabar darinya bahwa ia akan pergi ke Paris, namun Baekhyun takkan mengatakan suatu halpun sebelum pameran tersebut terlaksana. Tidak tanpa titah dari Lu Han.
Maka lima belas menit kemudian, sedetik setelah ia mendapat pesan singkat dari Sehun yang menanyakan posisinya, ia langsung berjalan keluar kafe, menuju kesebuah tempat di mana Sehun berada.
Bohong jika Baekhyun bilang ia tak merasa ingin memukul Sehun. Bohong bila ia bilang jika ia tak ingin membunuhnya.
Bohong jika ia bilang bahwa ia tak ingin mengatakan semuanya.
Namun ia tahu bahwa ini bukanlah tempatnya untuk memberi tahu. Yang memiliki kuasa penuh akan apa yang akan dikatakan sepenuhnya adalah Lu Han, dan Baekhyun tak ingin mengatakan satu halpun saat ini.
Maka saat ia sudah berdiri tepat satu meter jauhnya di depan sosok Sehun, sahabat yang kini menjadi alasan kemarahan tak berujungnya, ia tak bisa berbuat apapun kecuali tersenyum.
Sakit, memang, harus tersenyum pada seseorang yang ingin kaumaki betul.
Namun sekali lagi, dalam hatinya, Baekhyun berkata bahwa ini bukanlah tempatnya.
Karena Lu Han sendirilah yang akan berkata.
"Hai, Sehun," sapanya.
Sehun menegang pada pijakannya, memandang Baekhyun takut-takut dan dari sana Baekhyun bisa melihat sorot matanya yang nampak redup.
Baekhyun tertawa dalam hati karena sebenarnya saat ini ia sungguh ingin mencela Sehun dengan kalimat seperti, "Mengapa kau terlihat begitu sedih? Bukankah kau harusnya bahagia, sudah terlepas dari Lu Han dan akhirnya bisa kembali pada jalangmu itu?"
Namun Baekhyun memilih diam, berjalan mengikuti Sehun dari belakang saat ia menjawab dengan satu 'hai hyung' pendek.
.
.
.
Lu Han melangkahkan kakinya dengan pelan namun pikirannya tak tahu ia ingin pergi ke mana. Yang ia tahu, ia hanya sedang ingin berjalan-jalan di pusat kota, menyegarkan pikirannya dan berharap semoga Baekhyun segera membalas pesannya apakah ia sudah sampai atau belum.
Ia menunduk, berhati-hati ketika melangkah dan saat ia tiba di depan sebuah kedai kopi, ia langsung masuk kedalamnya.
Hawa hangat dan nyaman masuk menyeruak kedalam nadinya dan Lu Han, pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, tersenyum kecil.
Ia melangkahkan kakinya, berjalan menuju ke konter di mana beberapa orang sedang menunggu antrean.
Ia memandang keadaan sekitar, mencoba mengamati orang-orang dengan segala macam aktifitasnya karena memang Lu Han tak punya hal lain untuk mendistraksi pikirannya dengan hal lain yang bukan Sehun.
Beberapa menit kemudian, saat antrean makin berkurang, Lu Han melangkah mendekat, namun baru saja ketika ia hendak menoleh kebelakang, sebuah suara yang nampak begitu familiar memanggil namanya.
"Lu Han?"
Pemuda China tersebut menoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati Henry sedang berada di sana, kopi espresso di tangan.
Ia melemparkan senyum teduhnya seperti biasa pada Lu Han, membuat sang pemuda Lu terdiam sejenak hingga Henry harus mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Lu Han.
Namun baru saja Henry hendak menyapanya lagi dengan lebih baik, suara orang yang berdiri di depan meja konter mengagetkan mereka berdua.
"Tuan, apa boleh saya mencatat pesanan Anda? Anda menghalangi antrean'" katanya sambil menunjuk antrean dibelakang Lu Han yang masih mengular.
Lu Han menoleh kebelakang, terkejut ketika melihat beberapa orang mengernyit padanya lalu ia buru-buru menghadap kedepan.
Henry tertawa kecil, menganggap Lu Han yang malu terlihat begitu lucu. Ia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Bisa aku bicara denganmu sebentar? Ada yang ingin kutanyakan."
Tanpa menunggu jawaban dari Lu Han, Henry pergi dari sana, berjalan menuju kesebuah meja di ujung ruangan dengan sebuah senyum lebar dan lambaian tangan.
"Tuan?"
Lu Han menghadap kearah penjaga konter.
Kali ini, ia sedang berpikir akan memesan apa.
Sedetik dalam otaknya, ia ingin kali ini memilih espresso daripada Macchiato.
Bukankah ini saatnya ia berpindah dari Macchiato yang telah menjadi rutinitas? Lagian espresso terlihat tak buruk juga.
"Espresso saja, tolong," katanya sambil tersenyum kecil, untuk kedua kalinya hari itu.
.
.
.
Perjalanan di dalam taksi yang ditumpangi Baekhyun dan Sehun terasa begitu kikuk dan kaku. Baekhyun menolak bicara selama perjalanan, hanya menjawab beberapa pertanyaan kecil seperti kabarnya.
Dan yang membuat Baekhyun hampir hilang kendali adalah karena Sehun tak pernah bertanya tentang keadaan Lu Han sekalipun. Namun ia tahu lebih baik diam saat ini.
Jadi saat Sehun berseru padanya bahwa hotel tempat Baekhyun akan menginap sudah dekat, pemuda Byun tersebut buru-buru mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jaketnya.
"Ini," katanya singkat, menyodorkan amplop tersebut pada Sehun yang nampak kebingungan.
"Hyung, apa ini?"
Baekhyun memandang kedepan, tepat di mana hotelnya telah terlihat dan berusaha menghindari kontak mata dengan sahabat bodohnya itu.
Menghela napas panjang, Baekhyun menjawab, "Ini adalah surat dari mantan kekasihmu."
Baekhyun merasa tubuh Sehun di sampingnya menegang namun ia terlanjur tak peduli.
"Sebenarnya, yang harusnya kesini adalah Lu Han. Namun ia menyerahkan kesempatan ini padaku. Namun ia punya beberapa permintaan padaku, dan salah satunya adalah menyampaikan padamu hal ini: Sehun, jika kau berkenan, setidaknya demi aku sahabatmu dan demi Lu Han, orang yang pernah mengisi hari-harimu walau singkat, tolong, tolong datang ke acara pameran lukisan yang kuhadiri. Tepatnya di museum La Petite, dan acara akan dimulai pukul sembilan malam besok lusa. Kau boleh masuk kesana jam delapan, tapi kau hanya punya waktu lima belas menit.
Di sana, kau akan langsung diperbolehkan masuk tapi bilang pada petugas bahwa kau adalah tamu spesial Lu Han. Kau akan langsung diantar kesebuah ruangan dan ingat, kau hanya punya waktu lima belas menit. Di sana akan ada beberapa lukisan yang mana di atasnya akan ada amplop serupa dengan amplop itu, dan aku ingin kau membuka semuanya. Oh Sehun, apa kau paham?"
Sehun tak tahu mengapa ia menangguk, namun yang ia tahu adalah saat Baekhyun menyebut nama Lu Han, tubuhnya seolah mati rasa.
Ia bahkan tak sadar jika Baekhyun telah pamit padanya ketika taksi berhenti dan ia membuka pintu mobil dan keluar dari sana, menenteng kopernya.
Satu keping kecik di hati Sehun berdenyut menyakitkan ketika membaca surat Lu Han.
Untuk terakhir kalinya, maukah kau mengenang perjalanan cinta kita?
.
.
.
Hari Rabu datang begitu cepat dan kimi, Sehun telah bersiap dengan sepasang tuksedo. Ia harus menghadiri pameran Baekhyun karena ia merasa bahwa surat Lu Han akan membawanya pada sesuatu.
Lalu ketika ia sampai di museum La Petite, ia langsung mengatakan pada seorang petugas di sana bahwa ia adalah tamu spesial Lu Han, dan hati Sehun berdenyut ketika mengatakannya. Karena dulu, kata 'spesial' sangatlah cocok untuk menggambarkan keadaan dan hubungan mereka. Namun kali ini, rupanya Sehun hanya menjadi seorang tamu.
Petugas tersebut langsung mengantarkan Sehun menuju kesebuah ruangan di mana cahaya terang menyilaukan matanya dan Sehun bisa melihat beberapa lukisan terpasang rapi, membujur dan dari ekor matanya Sehun melihat bahwa di atas lukisan-lukisan tersebut telah diletakkan amplop-amplop seperti yang Baekhyun katakan. Di atas lukisan-lukisan tersebut, terpampang huruf-huruf Mandarin yang bahkan Sehun tak tahu artinya.
人生若只如初見
Tak ingin membuang-buang waktu, Sehun berjalan menuju lukisan pertama, paling dekat dengan pintu masuk.
Lukisan yang berada di depannya menggambarkan sosok lelaki berbadan kecil yang meringkuk di sebuah tempat tidur. Mukanya tertutup oleh lengan tangan dan kakinya ia lipat hingga menyentuh dadanya sendiri. Gambar yang bisa Sehun lihat hanya lengan, kaki dan rambut berwarna cokelat madu namun warna tersebut telah berhasil membuat efek kejut dan nyeri hebat di hatinya. Ia tahu benar siapa orang di dalam lukisan ini.
Di atasnya, sebuah amplop bertengger, dan sesuai apa yang Baekhyun minta, Sehun mengambilnya, membuka amplop tersebut.
Keningnya berkerut saat melihat deretan kode-kode yang nampak tak asing baginya, kemudian lamat-lamat, dalam otaknya, ia mencerna kode tersebut hingga menghasilkan sebuah arti.
(44 61 6e 20 74 61 68 75 6b 61 68 20 6b 61 75 20 62 65 74 61 70 61 20 6b 61 75 20 74 65 6c 61 68 20 6d 65 6e 79 61 6b 69 74 69 20 68 61 74 69 6b 75 3f 20 50 61 64 61 68 61 6c 2c 20 20 6b 75 70 69 6b 69 72 20 63 69 6e 74 61 6d 75 20 74 61 6b 20 68 61 6e 79 61 20 73 65 6d 75 2e) [1]
Dan hatinya seolah habis terpukul palu godam tak kasat mata.
Sehun tak tahu harus bereaksi bagaimana karena sungguh, lukisan dan kode tersebut membuat hatinya runtuh seketika.
Namun ia kembali teringat perkataan Baekhyun. Ia hanya punya lima belas menit.
Sehun melangkahkan kakinya, berjalan mendekat kearah lukisan nomor dua. Dalam lukisan tersebut ada dua sosok, satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Hatinya langsung mencelos kala ia melihat sang lelaki, yang mana sudah pasti adalah gambaran dirinya karena sosok tersebut sungguh seperti bayangannya sendiri. Di depannya, berdiri seorang gadis yang tingginya hanya sepundaknya. Helai rambutnya tersibak angin, menutupi seluruh mukanya namun tubuhnya tetap tegak seakan ia tak ingin beranjak dari hadapan lelaki di depannya. Warna-warni lampu dan menara Eiffel menjadi latar belakang gambar dua insan tersebut dan Sehun merasa perutnya mual seketika.
Matanya menangkap amplop yang berada di atasnya dan tangannya bergerak mengambilnya pelan-pelan.
Kode-kode tertulis rapi, dan Sehun perlu beberapa detik lebih lama untuk mengetahui maknanya.
(54 65 72 6e 79 61 74 61 2c 20 6b 61 75 20 6d 61 6c 61 68 20 6d 65 6d 69 6c 69 68 20 75 6e 74 75 6b 20 70 65 72 67 69 20 6b 65 20 50 61 72 69 73 2c 20 74 65 6d 70 61 74 20 64 69 20 6d 61 6e 61 20 70 65 72 65 6d 70 75 61 6e 20 64 6k9 20 6d 61 73 61 20 6c 61 6c 75 6d 75 20 62 65 72 61 64 61 2e 20 41 70 61 20 61 6b 75 20 74 61 6b 20 63 75 6b 75 70 20 62 61 67 69 6d 75 3f 20 41 70 61 20 61 6b 75 20 74 61 6b 20 6d 65 6e 61 77 61 72 6b 61 6e 20 6d 61 73 61 20 64 65 70 61 6e 20 79 61 6e 67 20 6d 65 6e 6a 61 6e 6a 69 6b 61 6e 3f) [2]
Sehun merasa mati rasa sampai di sini, dan air mata telah meleleh dari ujung matanya.
Namun ia tetap memaksakan kakinya untuk berjalan menuju lukisan ketiga, di mana ia mendapati dirinya berdiri kaku di depan lukisan lain. Kali ini dengan dua lelaki di sana. Satu lelaki berambut hitam berjalan membelakangi lelaki berambut cokelat madu. Lelaki cokelat madu tersebut terlihat sedang menangis, dan kedua tangannya sedang memegang ujung baju lelaki bersurai hitam, seakan sedang mencoba untuk menahannya.
Ia buru-buru mengambil amplop berisi kode-kode, dan air matanya tak bisa ia tahan lebih dari ini.
(41 70 61 20 61 6b 75 20 74 61 6b 20 6c 61 79 61 6b 20 6b 61 75 70 65 72 74 61 68 61 6e 6b 61 6e 3f) [3]
Sehun mencengkeram kertas berisi kode tersebut erat-erat, meremasnya seakan karena kertas itulah hatinya berdenyut menyakitkan.
Ia melangkah meninggalkan lukisan tersebut dengan langkah berat seakan di tiap langkahnya ia memikul dosa yang makin bertambah.
Di depan lukisan keempat ia benar-benar ingin pergi dari sana.
Ia tahu, di depannya adalah gambaran mereka berdua, Lu Han dan Sehun. Mereka berdua sedang berbaring di atas ranjang berwarna putih, dengan kedua mata masing-masing yang tertutup erat namun sebuah senyum ada di wajah mereka berdua, Tangan mereka bertaut erat memisahkan kedua tubuh yang saling berhadapan.
Amplop berisi kode yang awalnya diletakkan di atas lukisan tersebut jatuh ke lantai setelah Sehun membaca isinya.
(53 65 62 65 6c 75 6d 6e 79 61 20 6b 69 74 61 20 62 61 69 6b 2d 62 61 69 6b 20 73 61 6a 61 2c 20 62 75 6b 61 6e 3f) [4]
Ia melangkah, mengetahui bahwa ia hanya punya sedikit waktu yang tersisa.
Di lukisan selanjutnya, ada potret gambaran Lu Han yang sedang memeluk Sehun. Matanya terpejam erat namun satu senyum manis nan damai tertoreh di wajahnya. Sehun tak dapat melihat gambaran dirinya sendiri melainkan hanya punggung lebarnya.
Tak ingin membuang waktu lagi, ia meraih amplop dan membacanya.
(4b 69 74 61 20 62 61 68 61 67 69 61 20 64 61 6e 20 73 61 6c 69 6e 67 20 6d 65 6e 63 69 6e 74 61 2e 20 42 61 68 6b 61 6e 20 6b 69 74 61 20 74 65 6c 61 68 20 6d 65 6e 67 75 6b 69 72 20 6d 61 73 61 20 64 65 70 61 6e 20 62 65 72 73 61 6d 61 2e) [5]
Kali ini ia tertawa, namun tawanya terdengar begitu kosong dan ironis.
Lukisan keenam adalah gambaran paling berbeda, di mana Lu Han hanya menggambar dua mata. Satu mata di sisi kiri lebih kecil dan bersinar terang dengan warna cokelat muda, sedangkan mata di sebelah kanan berwarna hitam. Masing-masing adalah milik Lu Han dan Sehun.
Naasnya, mata di depannya menyiratkan kebahagiaan dan rasa cinta yang dalam, membuatnya merasa lebih baik ia mati daripada mengetahui lukisan tersebut. Sangat menyakitkan.
Amplop yang bertengger di atasnya membuat Sehun ingin kembali ke masa lalu.
53 61 61 74 20 6b 61 75 20 6d 65 6e 79 61 74 61 6b 61 6e 20 63 69 6e 74 61 2c 20 6b 75 70 69 6b 69 72 20 6b 69 74 61 20 61 6b 61 6e 20 6d 65 6e 75 61 20 62 65 72 73 61 6d 61 20 6b 61 72 65 6e 61 20 74 61 6b 64 69 72 20 62 65 72 61 64 61 20 64 69 20 73 69 73 69 20 6b 69 74 61 2e) [6]
Lukisan selanjutnya berukuran lebih besar, dan Sehun mulai merasa bahwa langkahnya semakin melemah ketika ia berdiri di depan lukisan tersebut.
Potret di dalamnya sungguh familiar, yaitu dua lelaki yang sedang berdiri di sebuah perhentian bus dengan salju yang menempel di jaket musim dingin dan rambut mereka. Sehun di dalam gambaran Lu Han sedang tersenyum, menyodorkan sebuah cup yang Sehun tebak adalah cup Macchiato.
Hal ini mengingatkannya pada saat di mana mereka pertama kali bertemu, dan benar saja, saat Sehun selesai membaca amplop yang ada bersama lukisan tersebut, ia merasa bahwa ia adalah bajingan paling keji.
Lukisan selanjutnya hanyalah lukisan Lu Han yang hanya menampilkan separuh wajahnya, namun di antara pipi dan seluruh wajah yang tergambar Sehun melihat air mata yang menetes. Anehnya, gambaran Lu Han kali ini, ia sedang tersenyum. Senyum pahit yang menakutkan.
Amplop yang menyertainya lolos dari genggaman Sehun sedetik setekah ia membacanya.
(42 61 68 6b 61 6e 20 73 61 61 74 20 61 6b 75 20 70 65 72 74 61 6d 61 20 6d 65 6e 67 65 6e 61 6c 6d 75 2c 20 6b 61 75 20 6d 65 6e 64 61 70 61 74 6b 61 6e 20 68 61 74 69 6b 75 20 70 61 64 61 20 73 65 6e 79 75 6d 20 70 65 72 74 61 6d 61 2e) [7]
Lukisan terakhir berada dua langkah di sampingnya namun ia terlalu lemah untuk berjalan. Ia duduk bersimpuh di depan lukisan terakhir, tak kuat untuk memandang bahkan mengambil amplop terakhir karena hatinya telah hancur bahkan dari awal ia melihat dan membuka amplop di sana.
(53 65 68 75 6e 2d 61 68 2c 20 74 65 72 69 6d 61 6b 61 73 69 68 2e 20 41 74 61 73 20 72 61 73 61 20 63 69 6e 74 61 20 64 61 6e 20 73 61 6b 69 74 20 79 61 6e 67 20 6b 61 75 62 65 72 69 6b 61 6e 2e) [8]
Satu ruang kecil di hati Sehun yang dulunya selalu hangat, terjaga dan penuh cinta, hari ini berdenyut menyakitkan. Sangat sakit sehingga Sehun tak tahu apakah setelah ini ia bisa memaafkan dirinya sendiri dan bisa merasakan lagi.
Sangat sakit hingga ia menggumamkan nama Lu Han berulang-ulang sekaligus mengucapkan kata maaf beribu-ribu kali seakan Lu Han bisa mendengarnya.
Lukisan terakhir bukanlah lukisan, namun hanya gambar tulisan latin yang terbaca "I love you."
Amplop yang menyertainya jatuh ke lantai di depan Sehun karena tertiup angin namun Sehun tak punya tenaga untuk mengambilnya.
Amplop terakhir, adalah amplop yang Lu Han tulis dengan air mata berlinang dan bekasnya pun masih ada.
(41 6b 75 20 6d 65 6e 63 69 6e 74 61 69 6d 75 2e) [9]
.
.
.
a/n : Lu Han memanggil Soojung dengan sebutan nona karena bagaimanapun juga, Lu Han menghormati Soojung dan ia tak mengenalnya. Jadi ia lebih memilih untuk menggunakan honorific 'nona'. Such a polite boy we have here.
Tema pameran di Paris 人生若只如初見 artinya kurang lebih "Kisah kita akan lebih indah jika dibaca dari belakang."
Mungkin banyak yang tak terlalu paham dengan maksud ini, makanya akan coba aku jelaskan di sini. Kita tahu jika kisah hunhan di sini awalnya mereka nggak kenal kan, di chap 1 mereka kenal di perhentian bus dan pameran lukisan di kampus. Terus akhirnya mereka kenal, berteman lalu pacaran. Masa pacaran mereka memang singkat hingga pada akhirnya Sehun pergi ke Paris dan blam, mereka akhirnya putus. Lu Han mengira bahwa daripada ceritanya kayak gitu, bukankah lebih indah jika ceritanya dibalik dari akhir? Jika cerita cinta mereka dibalik dari akhir, walaupun awalnya Lu Han menderita karena disakiti Sehun, kan yang penting akhirnya mereka bahagia.
Ada yang belum ngeh? Kalau masih belum ngeh bisa pm sachi.
Arti tiap kode masing-masing amplop :
(Dan tahukah kau betapa kau telah menyakiti hatiku? Padahal, kupikir cintamu tak hanya semu.) [1]
(Ternyata, kau malah memilih untuk pergi ke Paris, tempat di mana perempuan di masa lalumu berada. Apa aku tak cukup bagimu? Apa aku tak menawarkan masa depan yang menjanjikan?) [2]
(Apa aku tak layak kaupertahankan?) [3]
(Sebelumnya kita baik-baik saja, bukan?) [4]
(Kita bahagia dan saling mencinta. Bahkan kita telah mengukir masa depan bersama.) [5]
(Saat kau menyatakan cinta, kupikir kita akan menua bersama karena takdir berada di sisi kita.) [6]
(Bahkan saat aku pertama mengenalmu, kau mendapatkan hatiku pada senyum pertama.) [7]
(Sehun-ah, terimakasih. Atas rasa cinta dan sakit yang kauberikan.) [8]
(Aku mencintaimu) [9]
Chapter ini Sachi buat sepenuh hati (elah) untuk para reviewer yang nggak pernah lelah memberikan apresiasinya. Semuanya, terimakasih telah setia sampai ff ini berakhir di sini.
Bercanda, deng.
tbc ya.
Lovyu paipai~
