"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."


Baekhyun mematung menatap pemandangan Paris di waktu subuh lewat jendela kaca apartemen lantai duapuluh dua yang ia tempati. Ia memeluk dirinya begitu erat sembari matanya menjelajahi pemandangan eksotis di depannya—bagaimana mentari mencoba bangkit melawan keheningan waktu subuh dan ia bergidik merasakan hawa dingin kota Paris yang menyentuh kulitnya.

Sesekali pemuda Byun itu akan mendesah, mengingat kejadian semalam.

Ia merasa bahwa ia berada di posisi yang sama bingungnya dengan Sehun maupun Lu Han.

Tadi malam, sesaat setelah Sehun bertanya apakah benar orang yang baru saja menelepon Baekhyun adalah Lu Han, Baekhyun mau tak mau mengiyakan pertanyaan tesebut. Saat itu Sehun langsung berlari kearahnya dan menggoyang-goyangkan lengannya, menyuruhnya berbicara akan apa yang Lu Han katakan karena Sehun merasa bahwa ada sesuatu yang penting yang mereka bicarakan dan...

Dan Baekhyun terpaksa mengatakan bahwa Lu Han akan pergi ke Paris. Kala itu Sehun tak bisa menahan rasa senangnya, berharap bahwa ini adalah satu kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya, semuanya, dan Baekhyun tak kuasa untuk mengatakan bahwa mungkin, mungkin saja, kesempatan yang Sehun harapkan takkan pernah datang.

Baekhyun bahkan tak kuasa mengatakan pada Sehun bahwa Lu Han sudah berhenti, Sehun, ia sudah berhenti dengan berat hati karena melihat Sehun yang begitu lega dan bersemangat seperti itu, ia tak kuasa.

Baekhyun tak kuasa mematikan sepercik harapan di kedua mata Sehun yang bahkan baru saja muncul.

Ia mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut dari benaknya, kembali menatap pemandangan kota Paris dan kerlip lampu menara Eiffel yang mulai redup seiring dengan pancaran matahari di ufuk timur. Lima jam dari sekarang, ia harus sudah berada di dalam sebuah pesawat yang akan mengantarkannya kembali ke Seoul.

Dering ponsel di saku piyama mengagetkannya dan ia segera mengangkat dering telepon tanpa mengintip siapa yang menghubunginya, karena dering khas itu selalu ia hapal.

"Halo?"

"Baek? Kau sudah bangun?"

Baekhyun mengeluarkan gumaman kecil, jemari lentiknya menyentuh kaca jendela besar di depannya seakan mencoba meraba seluruh kota Paris lewat jarinya.

"Kau pulang hari ini, kan? Kapan pesawatmu akan tiba di Seoul?" tanya Chanyeol, terlihat sangat bahagia dan tak sabar dalam satu waktu.

Baekhyun tertawa, kemudian berjalan mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari kaca jendela apartemen. "Jam delapan malam, kurasa."

"Aku akan menjemputmu."

"Lu Han?"

"Huh?"

Baekhyun membawa jari telunjuknya pada bayangan menara Eiffel yang hanya berukuran sejengkal tangannya dan ia mengusapnya perlahan, seakan ia ingin merekam Eiffel lewat sentuhan tangannya.

"Lu Han akan kesini dengan Henry Lau, kan?"

"Yah—tentang itu, kurasa... yeah. Apa—Baekhyun, apa Sehun tahu tentang hal ini?"

"Tentang hal yang mana? Kurasa banyak sekali hal yang terjadi di antara mereka," kata Baekhyun selagi ia kembali mengusap kaca jendela tersebut seakan ingin mematri emosinya pada sebuah menara di ujung sana.

"Tentang ia yang—tentang mereka yang takkan mungkin bersama."

Baekhyun bahkan tak tahu ia harus menjawab bagaimana.

"Entahlah, Chanyeol," katanya. "Entahlah. Aku juga tak tahu."

Ada sebuah keheningan yang meraja di antara mereka dan Baekhyun rasa hatinya ikut sakit melihat betapa Sehun mungkin memang takkan mendapat kesempatannya.

"Chanyeol."

"Yeah?"

"Aku sekarang berada di sebuah apartemen, dan di depanku kini terpampang indahnya kota Paris. Di depan sana, menara Eiffel yang tingginya menjulang terlihat begitu kecil seolah hanya sejengkal tanganku. Pemandangan subuh di sini sangat indah, tapi hatiku rasanya tak kuat melihat kota ini. Rasanya begitu menyesakkan melihat sebuah kisah cinta hancur di kota semenakjubkan ini, bukankah begitu?"


Sehun tak pernah merasa harinya lebih baik dan buruk di saat yang bersamaan seperti ini. Buruk karena semalaman ia tak juga bisa melepaskan ingatannya dari deretan lukisan Lu Han dan semua tulisan yang ia berikan, baik karena pada akhirnya ia telah sadar akan sesuatu dan akhirnya, akhirnya, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk meluruskan semuanya dan meminta maaf.

Ia menggeliat di tempat tidurnya, mencoba bangkit dan duduk di atasnya seraya merenggangkan tubuhnya. Tangannya ia bawa untuk mengusap matanya yang telah penuh dengan air mata yang mengering dan ia berusaha untuk beranjak dari kasurnya.

Ia berjalan kearah pintu kamarnya dan telinganya menangkap suara-suara dari arah dapur apartemennya. Ia mengernyit tajam, bersiap siaga jika ada penyusup yang masuk ke rumahnya walau ia juga tak yakin dengan hal itu. Apartemen yang ia tinggali memiliki sistem keamanan yang ketat dan hal itu tak mungkin terjadi.

Ia berjalan keluar dari kamarnya, dan dengan langkah yang hati-hati ia melewati ruang televisi tepat di samping dapur dan saat ia melangkahkan kaki menuju ke konter dapur, ia terkejut.

"Soojung?!"

Jung Soojung tersentak dan menjatuhkan sendok yang ia pegang hingga jatuh ke lantai. Sehun mengamatinya bingung namun Soojung hanya melirik padanya.

"Kau mengagetkanku!" teriak Soojung sambil memungut kembali sendok yang terjatuh dan membersihkan bubuk kopi yang berceceran di sekitar kakinya.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Sehun bingung.

Soojung menegakkan tubuhnya dan kembali pada aktivitasnya membuat kopi untuknya dan Sehun seolah pertanyaan Sehun tidaklah penting.

"Soojung..."

"Aku memutuskan untuk segera pindah kesini..."

Mata Sehun membulat sempurna. "A-apa?!"

Soojung membalikkan badannya menatap Sehun dengan pandangan jenaka dan ia tertawa. "Tidak sekarang, Sehun. Mungkin minggu depan."

"Tidak—Soojung, biar kita luruskan dulu. Pertama, terangkan padaku bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku. Kedua, apa yang kaumaksud dengan pindah kemari. Seingatku, aku tak pernah mengiyakan hal itu bahkan kita tak pernah membicarakan tentang ini!"

Soojung menggeret tangan Sehun dan membawa dua cangkir kopi mereka ke ruang televisi. Ia duduk di atas sofa di samping kanan Sehun dan ia menawarkan satu senyum manis.

"Kopi?" tawar Soojung, namun Sehun menggeleng.

"Soojung, jawab pertanyaanku."

Soojung mendesah lelah dan ia membenarkan tatanan rambutnya dan menyesap kopi hitam buatannya sebelum menjawab Sehun.

"Aku tahu kau menyembunyikan kunci cadangan di bawah pot bunga di depan saat aku mengantarmu pulang saat kau mabuk. Aku masuk menggunakan kunci itu."

Sehun mengusap wajahnya lelah. "Soojung, kau tahu kau tak boleh sembarangan mengg—"

"Sembarangan?" tanya Soojung dengan nada sinis. Raut wajahnya berubah. "Kau pikir aku siapa, Sehun?"

Sehun mengernyit menatap mata Soojung. "Soojung, apa maksudmu?"

"Apa maksudku?! Sehun, apa kau serius?!"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Soojung, aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang kaubicarakan. Dan tolong jelaskan padaku kenapa kau mau pindah kemari tanpa membicarakan padaku dulu. Aku—Soojung, kau tak bisa pindah denganku."

"Kenapa?" tanya Soojung tak percaya. Ia mengirimi Sehun tatapan terluka dan Sehun, sedetik dalam hidupnya, merasa bersalah.

"Karena—" Karena aku sudah tahu bahwa keputusanku meninggalkan Lu Han itu salah. "—Soojung, kupikir kita takkan bisa kembali seperti dulu."

Air mata telah mengancam untuk meleleh dari kedua maniknya namun Soojung tak gentar. "Lu Han, huh?"

Sehun tak mau hal ini menjadi buruk—hal terakhir yang ingin ia lakukan adalah menyakiti banyak orang namun ia terlalu terlambat untuk sadar jika keputusannya pasti telah menyakiti banyak pihak, terutama Lu Han dan Soojung.

Namun Sehun juga tahu, semakin lama ia membiarkan hubungannya dengan Lu Han hancur seperti ini, semakin hilang pula kesempatan untuk mendapatkan Lu Han untuk kembali ke pelukannya. Jadi, dengan tatapan tegas—ia menatap lurus pada dua keping Soojung yang telah berair.

"Maafkan aku, Soojung."

Soojung menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau air mata yang keluar namun gagal. "Semudah itukah?"

Pemuda Oh di sampingnya menghela napas lelah dan pandangannya jatuh ke lantai apartemennya, tak kuasa menatap air mata yang mengalir diam-diam melewati pipi Soojung.

"Semudah itukah kau memutuskan untuk pergi dari pemuda itu, kemudian kesini dan berkata seolah Soojung, aku bisa melepaskan Lu Han untukmu dan kemudian di detik-detik selanjutnya kau berubah pikiran untuk kembali padanya?! Semudah itu?!"

Sehun tahu ia berengsek dan apa yang perempuan ini katakan memang benar, namun ia tak bisa membiarkan pendiriannya goyah kali ini.

Dan dengan satu pandangan terakhir tepat di mata Soojung yang memerah, Sehun berbisik lirih.

"Maafkan aku," katanya final. "Tapi akhirnya aku sadar, jika Lu Han adalah satu-satunya hal yang kuinginkan."

Soojung tertawa, namun tawanya terdengar sangat sumbang dan kosong.

"Kau terdengar begitu berengsek, Oh Sehun."

Sehun mengangguk dalam diam. "Kau benar. Aku memang berengsek, namun aku akan menjadi orang paling menyedihkan jika aku melepaskan Lu Han lagi."

"Kaupikir semuanya akan baik-baik saja hanya dengan kau menyadari hal ini?" Soojung tertawa mengejek, dan ia tak pernah melepas tatapannya dari wajah Sehun. "Jangan berlagak bodoh, Sehun. Kau takkan mendapatkan apa yang telah kaubuang semudah itu. Dan aku—aku takkan melepasmu segampang ini."

Baru saja Sehun ingin mengatakan sesuatu tentang hal tersebut, ingin mengatakan pada Soojung dan memohon bahwa inilah yang ia inginkan, perempuan berambut panjang tersebut langsung berdiri dengan tegap, matanya menusuk pandangan manik Sehun dengan tajam dan dalam bisik lirih ia berkata—

"Jangan kauharap aku bisa menyerah begitu saja."

Dan hal selanjutnya yang bisa Sehun rasakan adalah ketakutan dan kekalutan luar biasa yang menyerang perasaannya.

Sehun lebih dari tahu jika mendapatkan Lu Han kembali adalah suatu hal yang tak mudah, apalagi dengan Soojung yang mengatakan bahwa ia takkan mundur teratur dari permainan ini.

Sehun tahu benar akan Soojung.

Dan sialnya, Jung Soojung selalu memiliki segala jalan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Frustrasi, Sehun mengacak rambut hitamnya.

Mungkin benar—inilah ganjaran yang harus ia terima karena telah bermain-main dengan perasaan orang lain.


Beberapa peralatan musik tertata rapi, dan sebuah piano yang Lu Han prediksi sangatlah mahal terpampang di sebuah ruangan paling belakang studio. Ia meliriknya sejenak kala Henry memberinya tur singkat keseluruh studio. Ada beberapa gitar, biola, bahkan sekilas ia melihat ada harpa yang menganggur tak terpakai.

"Dan ini adalah ruang musik utama." Henry berhenti tepat di depan sebuah pintu. Ia menoleh kebelakang tepat di mana Lu Han berdiri, dan satu senyum terpasang di wajahnya. "Mau melihat kedalam?"

Lu Han tak bisa berkata apa-apa kecuali menampilkan satu anggukan kecil.

Henry tertawa, kemudian membuka pintu di depannya. Ia mempersilakan Lu Han untuk masuk terlebih dahulu sebelum ia menyusul.

Dan tepat sedetik setelah mereka memasuki ruangan tersebut, Lu Han tak bisa melepas pandangannya pada sebuah piano yang diletakkan di tengah ruangan.

Aneh memang, namun Lu Han merasa piano tersebut sangat berbeda dari semua alat musik koleksi Henry yang lain. Lu Han berjalan, berjalan hingga ia kini berada tepat di depan piano tersebut. Dan entah kenapa, ada sesuatu tentang piano tersebut yang mengetuk pintu hati dan pikirannya seolah-olah ia pernah melihat piano model lama ini di sebuah tempat.

Detik demi detik berlalu dan Lu Han masih memandangi piano tersebut sambil jemari lentiknya menyusuri permukaan piano, meninggalkan Henry yang masih berdiri di ambang pintu.

Henry terdiam mengamati Lu Han, dan sebuah senyum terlintas di wajah tampannya. Ia melihat dengan kedua matanya betapa Lu Han terlihat sedang mengamati piano tersebut seakan ia melihat sebuah harta karun yang tak ternilai harganya, dan betapa gerakan tangan Lu Han yang menyusuri piano tersebut—sungguh berhati-hati dan lembut seakan ia mencoba mematrinya.


Sehun mendesah lelah.

Ia tahu—dan sejujurnya ia sudah menduganya—bahwa mendapatkan Lu Han kembali setelah ia meninggalkan dan memutuskannya begitu saja akan menjadi hal yang sangat rumit dan sulit.

Namun ia akan terus mencoba.

Ia menekan tombol nomor dua dalam speed dial dan bunyi tut terdengar dari ujung telepon.

"Tolong tinggalkan pesan setelah bunyi beep. Beep!" adalah suara Lu Han yang bisa Sehun dengar di ujung telepon setelah beberapa kali mencoba namun gagal.

Sehun lega dan ia tersenyum kecil ketika mendengar suara Lu Han—walau itu hanya berupa kotak pesan—namun ia sungguh bahagia. Hatinya menghangat dan ia merasa sangat bodoh karena merindukan suaranya.

"Lu Han," katanya setelah bunyi beep terdengar. "Apakah kau akan ke Paris? Jika iya, maukah kau bertemu denganku? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan ini tentang kita. Aku—aku tak bisa mengatakannya lewat pesan atau telepon, karena aku ingin meluruskan semuanya saat kita bertemu langsung. Jadi, kumohon. Bisakah kita bertemu saat kau ada di sini? Hubungi aku jika kau sempat, oke?"

Sehun tahu semuanya akan berat namun setidaknya, ia ingin mencoba.

Tidak, coret itu. Ia harus mencoba karena ia tak lagi bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Lu Han. Karena pada akhirnya ia sadar jika tanpa Lu Han, masa depannya takkan jadi apa-apa.


Lu Han yakin, yakin sekali bahwa ia tak pernah lagi menyentuh tuts piano namun sekarang, saat ini, ia sungguh heran mengapa ia bisa memainkan Nocturne milik Frederic Chopin dengan baik.

Ia takkan bilang bahwa apa yang barusan ia mainkan bisa dibilang baik kalau tidak karena sosok Henry yang duduk di samping kanannya, tengah bertepuk tangan meriah sambil memujinya.

Lu Han tersenyum dan hatinya menghangat kala ia membawa jemarinya kembali ke permukaan tuts di depannya, tak menekannya, hanya mengusapnya lembut seakan ia rindu bermain piano.

"Kau melakukannya dengan sangat baik!" kata Henry sambil tersenyum dan bertepuk tangan.

Lu Han di samping kirinya tertawa, menggaruk belakang kepalanya malu. "Begitukah? Padahal aku sudah lama tak bermain piano."

Henry tertawa, kemudian menepuk pundah Lu Han pelan. "Kan sudah kubilang, orang bertangan emas sepertimu pasti bisa dengan mudah bermain tuts piano."

Lu Han menoleh kearah Henry dan ia tak bisa menahan dirinya untuk tak tersenyum.

"Mungkin aku harus bermain piano lagi kapan-kapan."

Henry mengangguk antusias. Kemudian ia memandang Lu Han dengan tatapan berbeda.

"Harus," katanya lirih, membuat Lu Han tertawa.

Bias cahaya mentari yang meredup lewat pantulan jendelanya turun dan mendarat tepat di wajah Lu Han yang sedang menatap piano di depan mereka—dan Henry merasa bahwa masa lalu kembali terulang.

Sejenak ia ingin berpikir tentang hal itu, namun ia kembali meyakinkan dirinya bahwa ia tak boleh terlalu lama berendam dan menyelam pada waktu lampau jadi ia berdehem kecil.

"So, apakah kau sudah memutuskan lagu apa yang ingin kaunyanyikan? Biar aku bisa belajar memainkan piano untukmu."

"Kau akan bermain piano saat aku menyanyi?" tanya Lu Han terkejut, memandang Henry tak percaya.

Pemuda Lau tersebut tertawa keras. "Tentu saja, Lu Han! Ini adalah duet, kau ingat? Dan kau harus ingat, uh, bahwa aku raja di recital itu."

Lu Han pura-pura mendengus namun senyum tak hilang dari wajahnya.

"So? Sudah tahu lagunya?"

Lu Han mengangguk, dan kali ini, Henry mengerutkan keningnya ketika melihat bahwa senyum yang terpasang di wajah pemuda Lu tersebut hilang tak berbekas.

Lu Han memainkan jemarinya keatas tuts di depannya dan ia memainkan sejumlah nada, namun nada-nada yang dihasilkan terdengar sangat sedih dan Henry menatapnya bingung.

Beberapa detik terlewati dalam diam, dan hanya akan ada suara dari nada-nada yang diciptakan oleh tangan Lu Han namun Henry tak mampu untuk mengulang pertanyaannya hingga akhirnya—

"All Too Well."

Henry mengernyit, dan merasa bahwa jawabannya sungguh rancu, Lu Han tertawa. Tawanya terdengar tak begitu hidup dan hati Henry jatuh mendengarnya.

"Taylor Swift, All Too Well."

Ah...

Henry mengangguk, dan ia memandang piano di depannya dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan.

"All Too Well adalah lagu ironis," katanya pada akhirnya. Lu Han mengangguk, dan jarinya masih betah untuk menciptakan nada-nada tak beraturan yang sialnya membentuk sebuah alunan melodis.

"Kau memilih lagu yang sangat menyedihkan, Lu Han."

Lu Han tertawa tanpa suara. Ia berpikir sejenak, betapa sebuah lagu yang dikira orang sangat menyedihkan pun tak bisa mewakili apa yang telah ia lalui bersama Sehun.

Ia memilih lagu tersebut bukannya tanpa alasan, dan khusus untuk acara ini, ia ingin sekali membawakan lagu tersebut.

"Terkadang, kita memiliki kisah yang lebih menyedihkan," kata Lu Han lirih. Nada yang dihasilkan jemarinya masih acak namun terdengar begitu menyakitkan. "Dan terkadang, sebuah lagu yang teramat sedihpun tak bisa membungkus semua perasaan sakit yang tersisa."

"Sehun, Oh Sehun."

Henry menoleh kearah Lu Han, dan ia menyesal karena apa yang ia lihat hanyalah tatapan kosong dan gurat kecewa di matanya.

"Namanya adalah Oh Sehun," lanjut Lu Han lirih, dan sedetik kemudian Henry tahu apa yang sedang Lu Han bicarakan. Mengangguk lemah, Henry memberi isyarat untuk Lu Han meneruskan bicaranya.

"Aku mencintainya, Henry. Begitu mencintainya hingga aku yakin bahwa di masa depanku hanya akan sebuah nama—dan itu adalah namanya."

Lu Han berhenti di sini, berhenti tepat di kalimat ini dan dia meletakkan tangannya di atas pangkuannya. Ia memandangi jemarinya, memandangi kedua tangannya dan sebuah keping memori memasuki jaringan otaknya—membawanya terbang ke waktu di mana masa lalu dengan tangan Sehun yang menggenggam tangannya sungguhlah indah.

"Namun rupanya, tidak semua kisah akan berakhir bahagia. Tidak semua masa kini akan berlanjut ke masa depan. Tidak semua cinta bisa tumbuh dan berkembang di antara dua insan."

Henry menelan perasaan aneh di dalam dadanya, dan hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mendengarkan dan menatap tuts piano di depannya yang dalam sekejap seakan berubah menjadi dingin dan menyebalkan.

"Saat menghadiri acara Siwon hyung bersamamu dulu, aku pernah mengirimkannya sebuah pesan, yang mana aku pikir takkan sampai padanya karena saat ini ia berada di Paris. Itu juga alasan mengapa aku menolak permintaan Profesorku untuk pergi kesana."

"Dan kau malah menerima ajakanku?" tanya Henry lirih, tanpa menoleh pada Lu Han.

Lu Han menggeleng walau ia tahu Henry tak bisa melihatnya. "Aku ingin memberinya sebuah hadiah perpisahan."

Henry tersenyum, namun senyumnya menampilkan gurat luka.

"Aku hanya ingin ia bahagia, dan apapun itu, aku akan mencoba rela untuknya. Jika memang wanita itu lebih baik dariku, aku bisa apa? Bukankah aku hanya bisa bersyukur; karena lelaki hebat dan baik sepertinya pantas mendapatkan yang terbaik."

Alunan nada kembali terdengar dan hal yang bisa Henry tatap adalah jemari Lu Han yang memencet tuts piano di depannya terlalu keras, namun terlalu lembut dalam satu waktu.

Simfoni aliran nada piano memenuhi ruangan yang sunyi tersebut, dan di tiap kali Lu Han memencet nada, ada satu perasaan di hatinya yang ikut terbias udara seakan mencoba lepas dari kungkung yang selama ini menyakitinya.

Pergi, pergi—pergi seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Di tengah-tengah alunan nada Lu Han, Henry tahu ia harus mengatakannya. Ia tahu ia harus mengatakan hal ini—

"Orang sepertimu tak seharusnya terluka," kata Henry lirih. Suaranya begitu lemah seakan berusaha untuk membunuh semua alunan yang Lu Han ciptakan namun untungnya, Lu Han mendengarnya.

Lu Han menciptakan sebuah senyum sambil menoleh kearah Henry, dan ia bersumpah, ia bersumpah bahwa baru kali ini ia melihat Henry terlihat begitu sedih—begitu sendu.

Lalu ia menghentikan tangannya untuk membuat nada. Ia hanya diam, diam di sana sambil menatap Henry bingung, namun detik selanjutnya adalah hal yang paling membuatnya terkejut, karena—

"Jangan sampai terluka."

—semuanya terasa begitu familiar.


Sekembalinya ia dari studio musik Henry, Lu Han kembali mengulang semua hal yang terjadi di sana. Ia merasa bahwa perkataan Henry yang ia ucapkan pada saat ia berhenti bermain piano sangat familiar.

Hal tersebut bukan rasa familiar karena ia pernah membacanya di sebuah novel, bukan. Familiar ini merupakan familiar yang sangat nyata seakan ia pernah mendengarnya di sebuah tempat di suatu waktu.

Sesaat setelah ia merebahkan badannya di atas sofa di studio lukisnya, dan ketika tangannya memencet telepon rumah di pojok ruangan di samping sofa yang ia duduki, beberapa pesan yang tersimpan di kotak pesan memenuhi keheningan ruangan Lu Han.

Ada Baekhyun, yang bilang bahwa ia akan tida di Korea tepat pukul delapan—dan pastilah saat ini ia sudah sampai, batin Lu Han—namun Baekhyun berkata bahwa ia akan mampir ke studio Lu Han hari berikutnya. Ada Chanyeol dan Kyungsoo yang bilang bahwa ia tak perlu ikut karena mereka tahu Lu Han sedang sibuk, dan pesan selanjutnya—

Beep!

"Lu Han—"

Hati Lu Han turun ke perut saat mendengar suara yang sangat familiar, amat sangat familiar hingga ia rasanya ingin menangis.

"Apakah kau akan ke Paris? Jika iya, maukah kau bertemu denganku? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan ini tentang kita. Aku—aku tak bisa mengatakannya lewat pesan atau telepon, karena aku ingin meluruskan semuanya saat kita bertemu langsung. Jadi, kumohon. Bisakah kita bertemu saat kau ada di sini? Hubungi aku jika kau sempat, oke?"

Jika boleh jujur, Lu Han ingin sekali menghubungi Sehun seperti yang ia minta. Ia ingin sekali kembali berbicara—bahkan mendengar sepatah kata darinya pun Lu Han sudah bahagia—namun detak lemah dan perasaan yang tak bisa ia jabarkan artinya itu melarangnya.

Ia tak bisa.

Ia tak bisa bersikap lemah seperti ini—atau ia akan kembali terluka. Atau orang seperti Sehun akan datang lagi dalam kehidupannya dan pada akhirnya, ia yang harus terluka. Ia yang harus merasakan sakitnya. Ia yang harus menangis di tiap malamnya.

Ia tak bisa.

Dan entah mengapa, kata-kata Henry tiba-tiba saja terngiang di benaknya, membuat Lu Han mengembalikan gagang telepon yang baru saja ia ambil.

"Jangan sampai terluka."


tbc


a/n : hallo, di sini sachi mau ngucapin maaf udah bikin nunggu lama sebelum-sebelumnya. Sachi juga mau bilang kalo mungkin fanfic ini bakal jadi long-multichap mungkin bisa juga sampe 20 an so jangan bosen hehe. Terus satu lagi, sachi bakal ngepos juga background characters di fanfic ini. Semisal kenapa sehun itu plin-plan banget, kenapa luhan itu sachi buat begitu, dan lain-lain. Untuk background characters ini bakal ada hunhan, soojung, henry dan beberapa karakter lain. Mulai di pos ini, sachi udah ngepos tentang karakter sehun. Dan update-nya nggak di ffn melainkan di wordpress sachi. Hal ini sachi lakuin karena banyak banget yang benci sehun padahal sehun itu karakter paling realistis di sini sekaligus karakter favorit sachi hehe.

p/s : semua tulisan fanfiksi dan semua pos hunhan dan exo lain bakal ada tag nya. Kalau di sana ada tag hunhan ff, berarti itu ff hunhan yang nggak sachi pos di sini atau semua penjabaran karakter di ff home ini. semuanya di lock, dan passwordnya menyesuaikan.

Untuk semua pos yang ada tag hunhan, password-nya "sachimalffhunhan" (tanpa tanda petik dan 'f' nya dobel yah). Nanti di masa depan (elah) kalau ada pos ff chanbaek atau kaisoo, passwordnya sama. Cuman kalau kaisoo ya "sachimalffkaisoo" dan kalau chanbaek ya "sachimalffchanbaek".

Wordpress sachi : sachimalff dot wordpress dot com