"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat"


Luhan tidak tahu bahwa berlatih dengan Henry akan seasyik ini. Ia pikir berlatih dengan bintang top macam dia akan sulit karena jam terbang mereka terpaut jauh—namun ia salah. Henry adalah tutor yang baik dan asyik. Ia mampu membimbing Luhan untuk membawakan lagunya dengan baik, dan terkadang, mereka akan saling membenarkan letak kesalahan satu sama lain.

Ada kalanya di mana Henry akan meminta Luhan untuk memainkan piano untuknya seraya ia bernyanyi, dan kemudian mereka bertukar tempat. Luhan tak bisa menyangkalnya, karena ia merasa bahwa sakit hatinya sedikit terobati karena kesibukan ini.

Maka dari itu, saat hari Rabu, sehari sebelum keberangkatan mereka ke Paris, Henry mengatakan bahwa mereka telah berlatih dengan sangat baik. Ia mengundang Luhan untuk makan di apartemennya, yang mana Luhan sanggupi dengan senang hati.

Mereka berbicara lama, tentang banyak hal dan mengulas kembali hal-hal yang telah mereka lalui selama latihan, kemudian Henry akan bertanya beberapa hal tentang kehidupan Luhan sebelum ke Korea, dan lain sebagainya.

Untuk pertama kali semenjak hubungannya dengan Sehun berakhir, Luhan merasa hatinya kembali terasa ringan.

Maka hari Rabu pukul delapan malam, ketika Luhan telah pulang kembali ke apartemennya dan menemukan sebuah kotak pesan dari Baekhyun yang bertanya apakah ia boleh mampir ke apartemen Luhan, ia langsung menghubunginya untuk memperbolehkan pemuda Byun tersebut untuk mampir.

Sejam lebih sepuluh menit kemudian, bel apartemennya berbunyi nyaring, dan Luhan, yang baru saja selesai mandi dan berpakaian langsung pergi untuk membukakan pintu.

Sebuah senyum lebar dari Baekhyun menyapanya saat ia membuka pintu, dan di detik selanjutnya ia merasakan dua lengan kokoh Baekhyun menariknya dalam sebuah pelukan hangat. Luhan tersenyum sambil memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Baekhyun yang menguar hangat dan tertawa ketika Baekhyun berkata "Aku merindukanmu!"

Beberapa hari—atau minggu?—berpisah dengan Baekhyun membuatnya rindu, dan ia langsung menyuruh mereka berdua untuk masuk kedalam apartemennya.

"Apakah kau sempat berjalan-jalan di Paris?" Luhan bertanya dari arah konter dapur. Tangannya bergerak untuk membuat dua cokelat panas untuk ia dan Baekhyun yang kini duduk di depan televisi tersebut.

Baekhyun mendengus, melipat kakinya dan membawanya keatas sofa dan menyenderkan badannya pada sofa yang ia duduki. "Aku sibuk melaksanakan pameran itu, mana bisa aku pergi jalan-jalan?"

Tangan Luhan terhenti sementara saat mendengar Baekhyun yang menyebut pameran, dan sebuah senyum kecil terlintas di bibirnya.

Ia pergi, membawa dua cangkir cokelat tersebut dan berjalan. Tangannya meletakkan dua cangkir tersebut di atas meja di depan mereka bertiga, kemudian ia beranjak untuk duduk di samping kanan Baekhyun.

"Baekhyun-ah."

Baekhyun menoleh, menatap Luhan dengan sebuah tatapan sendu namun ia tak menjawab.

"Apa—apa Sehun baik-baik saja?"

Baekhyun bangkit, duduk dengan tegap hingga ia kini menghadap Luhan yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit ia artikan.

Menghela napas, Baekhyun membawa tangannya untuk meraih kedua tangan Luhan dan meremasnya pelan.

"Ia bilang padaku bahwa ia akan menunggu kedatanganmu ke Paris."

Luhan tahu tak seharusnya ia berharap lebih akan perkataan Baekhyun tentang Sehun, namun sebuah percikan di hatinya bilang bahwa Sehun memang menantinya.

Namun lagi-lagi, ia meyakinkan diri bahwa apa yang Henry katakan tempo hari ada benarnya juga. Luhan tak boleh terluka lagi—ia tak boleh jatuh pada kesalahan yang sama berulang kali.

"Baek—"

"Luhan-ah, aku tahu kau sudah membulatkan tekadmu untuk merelakan ini semua, tapi Sehun telah sadar. Ia sudah sadar akan apa yang ia perbuat. Jangan kaupikir aku membelanya kali ini, Luhan, karena aku tidak. Aku hanya ingin mengatakan hal ini karena... karena Sehun begitu terlihat menyesal."

Luhan menurunkan pandangannya kearah dua tangan Baekhyun yang menggenggam miliknya erat, dan pikirannya penuh dengan semua hal yang berkecamuk di antara hubungannya dengan Sehun belakangan ini.

"Menyesal saja tak cukup, Baekhyun-ah..."

Baekhyun mengangguk, mengusap punggung tangan Luhan lembut. "Aku tahu, Lu. Aku tahu. Dan aku tak akan memaksamu untuk memaafkannya, pun kembali padanya. Aku hanya ingin kau tahu jika Sehun benar-benar terlihat menyesal, dan kukira jika kau memang berniat untuk menyelesaikan semuanya, maka inilah saatnya."

Luhan mendongak, menatap Baekhyun yang tersenyum sendu kearahnya. Ada satu percik kepercayaan di kedua mata Baekhyun, namun Luhan terlalu takut untuk melakukan semuanya. Namun kemudian, semua perkataan Henry, semua tekadnya dan semua rasa sakit hati yang ia rasakan kembali menerjangnya seperti badai di siang bolong, meninggalkan Luhan dengan puing-puing perasaan yang begitu asing.

Dan hal yang bisa Luhan lakukan kala itu hanyalah mengangguk di bawah tatapan penuh harap dari Baekhyun.

Pemuda Byun di sampingnya mendesah, membawa Luhan kembali ke pelukannya dan Luhan mengucapkan terimakasih pada Baekhyun dalam pelukannya, mengatakan betapa ia telah berhutang karena Baekhyun telah membantunya melaksanakan pameran tersebut dan menyampaikan semuanya pada Sehun.

"Aku yang harusnya berterimakasih," jawab Baekhyun sambil melepas pelukannya. "Kau sudah memberiku kesempatan untuk pergi ke Paris dan menghelat acara semenakjubkan itu."

Luhan tertawa, kemudian mengangguk.

Mereka diam beberapa waktu, menikmati cokelat milik masing-masing hingga Baekhyun tiba-tiba ingat akan suatu hal.

"Luhan-ah."

"Hm?"

Baekhyun terlihat begitu ragu untuk berkata-kata, dan Luhan tahu itu. Namun sebelum ia bisa bertanya ada apa, Baekhyun buru-buru menoleh kearahnya.

"Sehun—kala itu, ia sedang bersamaku kala kau meneleponku dan berkata bahwa kau akan pergi ke Paris dan ia tahu akan hal itu. Dan sehari sebelum aku pulang, ia bertanya kapan kau akan kesana dan—dan aku mengatakannya," kata Baekhyun dengan suara lirih, dan dari dua matanya Luhan bisa melihat sebuah rasa bersalah yang besar. "Maafkan aku, aku sungguh tak bisa berbohong pada Sehun tentang hal ini dan—"

"Baekhyun."

Baekhyun mengangkat pandangannya dan ia melihat betapa Luhan begitu menarik ketika ia tersenyum kecil seperti itu.

"Tak apa," lanjut Luhan, dan tangannya bergerak untuk mengusap tangan kiri Baekhyun—seolah meyakinkan dirinya bahwa ia sungguh tak keberatan jika Sehun tahu.

Toh ia juga yakin jika Sehun takkan benar-benar menunggunya.


Hari itu, Kamis pagi pukul delapan, Luhan telah bersiap dengan sebuah koper di tangan kanannya. Hari itu, Kamis pukul sembilan pagi, Henry menjemputnya untuk pergi ke bandara.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh lima belas saat ia tiba di bandara Incheon, dan ketika ia keluar dari mobil manajer Henry, saat ia masuk kedalam bandara, ia menemukan empat orang yang begitu familiar dengannya selama ini.

Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo dan Jongin rupanay telah berada di sana jauh sebelum Luhan sampai, dan saat ia melihat mereka berempat di ruang tunggu keberangkatan, ia langsung berlari, meninggalkan kopernya di tangan Henry yang sebelumnya telah menawarkan diri untuk membawakannya.

"Luhan!"

Luhan berlari dan jatuh dalam pelukan Kyungsoo dan Baekhyun.

"Aku akan merindukanmu," kata Kyungsoo, memeluk Luhan erat. Pemuda China tersebut mengangguk dan tersenyum, dan dari belakang punggung Kyungsoo ia mengangguk pada Chanyeol dan Jongin yang melambaikan tangan padanya.

Ia melepaskan pelukannya pada Kyungsoo, kemudian beralih pada Baekhyun dan memeluknya sejenak.

"Maafkan aku," kata Baekhyun dalam pelukannya. "Aku telah memberitahu Sehun tentang hal ini."

Luhan melepas pelukan tersebut, membawa dirinya untuk menatap Baekhyun dan ia tersenyum maklum. "Bukankah sudah kubilang tak apa-apa? Lagian aku tak yakin ia akan pergi menjemputku di bandara."

Baekhyun terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Luhan langsung mengalihkan perhatiannya untuk berpamitan pada Chanyeol dan Jongin sebelum sebuah suara memanggil namanya.

"Luhan."

Semua pasang mata di sana beralih kebelakang, kearah sosok Henry yang kini tengah membawa dua koper. Bintang terkenal tersebut menunduk dan mengirim sebuah senyum lebar kearah empat teman Luhan.

"Tolong jaga Luhan," kata Baekhyun, berjalan mendekat kearah Henry untuk menjabat tangannya.

Henry mengangguk dan tertawa, menjawab pasti dengan nada penuh optimisme. Kyungsoo, Chanyeol dan Jongin bergantian menjabat tangannya dan mengatakan hal yang sama, membuat Luhan menggerutu karena ia pikir ia bisa menjaga dirinya sendiri.

Dan setelah beberapa menit berlalu, Henry harus memutus percakapan mereka karena setengah jam lagi pesawat yang akan membawa mereka ke Paris akan berangkat, dan saat itu juga, Luhan langsung berpamitan, merengkuh semua teman dekatnya tersebut erat-erat.

Henry membungkuk untuk yang terakhir kalinya dan berjalan di samping Luhan, mengamati betapa Luhan tersenyum ketika melambaikan tangannya kearah teman-temannya.

Andai, andai saja senyum itu tak pernah terlukai—pikirnya.

Dan setengah jam kemudian, di atas pesawat yang akan membawanya ke Paris, ia memejamkan mata, bersandar pada kursinya dan mencoba untuk menenangkan dirinya karena dalam hitungan jam, ia akan bertemu dengan Sehun sejak sekian lamanya.

Dan Luhan terlalu nyaman untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tertidur, tak menyadari bahwa sebuah tangan hangat menggenggam tangan kanannya erat.


Ketika Luhan membuka matanya, ia tak tahu jika ia telah melewati seluruh perjalanan. Sesaat setelah kelopak matanya terbuka yang bisa ia lihat adalah sosok Henry yang tersenyum padanya sambil berkata, "Kita sudah mendarat."

Luhan merenggangkan tubuhnya yang kaku karena posisi tidurnya yang tak nyaman, kemudian berdiri sambil menggerutu—dan Henry hanya bisa tertawa sambil mengacak rambutnya—sebelum akhirnya berjalan keluar dari pesawat, mengekor tepat di belakang Henry.

Hal pertama kali yang terlintas di pikirannya saat ia keluar dari pesawat adalah—kosong. Ia tahu benar jika kota ini telah merenggut cintanya, dan seindah apapun malam di Paris yang bisa ia rasakan saat ini, ia tak bisa merasakannya.

Ia berjalan, berjalan dengan pikiran yang kosong bahkan saat mereka telah mendapatkan kembali koper mereka, ia baru sadar jika sedari tadi ia hanya melamun tanpa memperhatikan bahwa kopernya kini berada di tangan Henry.

Melihatnya, Luhan langsung melebarkan matanya dan berkata, "Biar aku saja!"

Namun Henry adalah Henry, dan ia menolak untuk peduli sambil memberinya satu senyum kecil seakan meyakinkannya bahwa itu bukan masalah besar.


Sehun tahu ia mempercayai Baekhyun. Ia tahu sebenci apapun Baekhyun padanya karena ia telah banyak menyakiti Luhan, ia tahu jika Baekhyun takkan berbohong padanya.

"Kamis, dan mungkin akan tiba saat penerbangan terakhir karena ia mengambil penerbangan pertama dari Seoul. Itu jika pesawatnya tak mengalami delay."

Dan di sinilah Sehun, berdiri tepat di depan bandara, terpaku seolah ia tak memedulikan hawa dingin Paris di malam hari karena ia bahkan lupa untuk memakai pakaian tebal.

Ia tak peduli bahwa segelas Macchiato di tangannya—hadiah untuk kedatangan Luhan, tentu saja—telah mendingin sempurna.

Namun setelah sejam lebih berdiri di sana, dengan kakinya yang hampir kesemutan dan ia bisa merasakan semua tubuhnya menggigil dan kaku, akhirnya penerbangan terakhir telah mendarat di bandara.

Matanya menelisik penuh antusias saat beberapa rombongan keluar dari area passanger, meneliti satu persatu sosok yang keluar dari sana dan lima menit berlalu sampai—

Sebuah senyum mengembang di bibir tipis seorang Oh Sehun ketika manik matanya menangkap satu bayangan yang begitu familiar di matanya, begitu ia hapal tiap sisi wajah dan tubuhnya, begitu membuat hatinya bergetar karena—ia tak tahu bahwa sebuah sisi di dalam dirinya begitu merindukan Luhan... begitu merindukannya.

Ia bisa merasakan matanya memanas walau ia masih bisa melihat bagaimana orang yang ia buang itu berjalan, berjalan mendekat kearahnya namun matanya terlihat begitu kosong, kosong dan kosong hingga Sehun merasa sakit melihatnya.

Karena jauh di dalam hati kecilnya ia tahu bahwa ialah orang yang membuatnya memiliki tatapan macam itu.

Namun sesaat setelah Luhan mengangkat wajahnya dan tatap mata dinginnya bertemu dengan Sehun, ia membatu.

Semakin membatu karena akhirnya, akhirnya, ia bisa bertemu dengan Luhan.


Luhan tak tahu apakah ia siap bertemu dengan Oh Sehun—lelaki yang telah menorehkan luka padanya, namun yang ia tahu adalah bahwa ini adalah hal yang harus ia lakukan.

Ia masih ingat dengan jelas kata perkata yang keluar dari mulut Yixing sesaat sebelum ia berpamitan padanya.

"Lakukan apa yang membuatmu merasa bahagia dan bebaskan semua rasa yang membelenggumu secara tak sadar."

Dan Luhan tahu bahwa ini adalah hal paling benar yang telah ia lakukan selama ia bersama dengan Oh Sehun.

Melepaskannya.

Bandara Paris di malam hari terasa begitu ramai dan dingin, namun di antara hiruk pikuk para pendatang dan semua orang di sekitarnya, Luhan masih bisa mendengar derap langkahnya yang menggema di ujung hatinya—seakan ia begitu sendiri dan hanya deru napas dan derap langkahnya yang bisa diterima oleh kedua telinganya. Matanya menatap lurus kedepan sana, menusuk jauh kedepan melewati beberapa pasang mata yang terlihat bersinar dan beberapa tawa dan senyum yang terlihat hidup.

Mungkin jika pikirannya tak sedang sekalut ini Luhan bahkan akan menertawai dirinya sendiri yang terlihat sangat memprihatinkan.

Seorang yang patah hati di kota Paris.

Ironi.

Ia tersenyum, mengabaikan pandangan aneh dari Henry yang berjalan di samping kirinya dan ketika ia mengangkat kepalanya, ia terpaku.

Hal yang dari tadi mengganggu pikirannya, pikiran yang dari tadi menolak percaya, dan kepercayaan yang telah lama hilang—

Adalah ia, sosok yang selama ini menghantui semua keputusannya dalam diam. Adalah ia, sosok yang selalu berada di antara ya dan tidak. Adalah ia, yang sosoknya masih menyelimuti ketidakberdayaannya dalam mengambil keputusan. Adalah ia, sosok yang terlalu nyata untuk sebuah rigiditas di tengah kekalutannya yang membumbung tinggi.

Ia—Oh Sehun, sedang menatap sosok Luhan dengan senyum yang masih sama hangatnya seolah senyum tersebut kembali mengantarkan Luhan pada kue jahe di malam Natal tahun kemarin. Yang matanya menawarkan satu jumput kebahagiaan yang rasanya begitu familiar. Yang sosoknya ingin ia rengkuh sedetik setelah kedua mata Luhan menatapnya.

Namun, kata-kata Yixing dan satu kalimat Henry kembali menghantuinya, menjadikan tubuhnya kaku bak arca yang tersihir sempurna.

Dan detik itu juga, ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang tepat.

Berhenti untuk terluka dan melukai diri sendiri.

Sehun mungkin menyadari perubahan raut muka Luhan saat ia memilih untuk berhenti berjalan—bahkan menolak untuk beranjak menyusulnya. Ia mungkin menyadari bahwa tatapan Luhan nampak begitu kosong dan redup.

Sehun mungkin menyadarinya, dan senyum yang terpasang di wajah tampannya luntur seketika saat Henry berjalan mendekat kearah Luhan, memegang lengannya erat setelah melirik kearah Sehun.

"Kupikir kau harus menyelesaikan satu atau dua hal. Kutunggu di kedai kopi di sebelah barat?"

Luhan terkejut mendengar suara Henry yang begitu dekat, dan ia terkesiap sampai akhirnya menoleh kearah kiri, mendapati Henry yang tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit dan Luhan tak bisa menjawab sepatah katapun kecuali satu anggukan kecil.

Henry berlalu, mengatakan bahwa ia takkan tergesa-gesa dan Luhan takkan membebaninya karena Henry tahu jika ada seseorang yang telah menunggu Luhan.

Dan kini, Luhan menyadari bahwa sosok di depan sana, yang sudah lama sekali ingin ia dekap erat dan menangis di dalam dua lengan kokohnya, tengah berjalan mendekat kearahnya. Ia tak ingin menatap, namun kedua keping cokelat miliknya tertuju pada sebuah cup yang terasa sangat familiar tergenggam nyaman di tangan Sehun.

Macchiato.

Sebuah kopi yang membawa seribu kenangan, namun Luhan lebih dari tahu bahwa ia, setidaknya mulai saat ini, harus mendengarkan nasihat Yixing dan Henry.

"Jangan sampai terluka," kata Luhan lirih dalam hati. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adlaah pilihan paling tepat, dan ia menundukkan kepalanya, tak kuasa menatap kedua mata Sehun karena ia tahu, ia akan kembali jatuh. Jatuh.

"Hai."

Luhan terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai ia tak menyadari bahwa sosok yang sedari tadi terus bergelut dengan otaknya telah berada tepat di depannya.

Ia mengangkat kepalanya, dan sesaat setelah ia menatap dua keping mata Sehun, hatinya berdenyut menyakitkan.

Dua keping itu seolah seperti badai yang menyapu semua kenangan hingga hanyut, lalu datang lagi dengan hantaman luar biasa yang memporak-porandakan semua yang telah ia bangun dengan susah payah.

Dan Luhan adalah orang yang lemah, sayang, ia sungguh lemah sampai rasanya ia ingin menangis saat itu juga dan merutukinya dan memeluknya—namun ia tahu bahwa ia tak bisa.

("Jangan sampai terluka.")

Sehun memiringkan kepalanya, mencoba memiliki seluruh atensi Luhan dan ia memanggil namanya dengan lirih. "Luhan?"

Pemuda China tersebut mengerjap, kemudian memaksakan atensinya untuk menatap sosok lelaki di depannya.

("Jangan sampai terluka.")

Dan dalam satu hembusan napas, ia tersenyum.

"Hai, Sehun."

Hati Sehun mencelos karena ia begitu asing dengan senyum yang ditampilkan Luhan—begitu tak mengenal jenis senyum tersebut seakan ia tak pernah melihatnya. Seakan ia tak pernah mengenalnya.

"Luhan, apakah kau baik-baik saja?" tanya Sehun sambil mengernyit.

("Jangan sampai terluka.")

Luhan mengangguk dan menunduk.

("Jangan sampai terluka.")

Sehun semakin tak enak dengan keheningan yang ada dan ia berjalan mendekat, ingin meraih tangan Luhan namun Luhan beringsut menjauh hingga akhirnya ia berani mengangkat kepalanya dan—

("Jangan sampai terluka.")

"Sehun, kukira aku harus pergi sekarang."

"Tapi kuingin bicara denganmu."

"Kumohon, tidak sekarang. Ini bukan tempat dan waktu yang tepat."

Hati Sehun serasa jatuh ke perut mendengar nada suara Luhan yang begitu lirih dan terasa begitu penuh dengan kehati-hatian.

Ia menunduk dan mengulum senyum pahit.

"Kau benar. kau pasti kelelahan. Bagaimana kalau nanti malam aku menjemputmu untuk keluar menikmati paris?"

Luhan merasa ingin tertawa. Tapi ia hanya menampilkan senyum pahitnya.

"Aku harus latihan dengan Henry untuk waktu yang lama."

Sehun mengangkat kepalanya dan keningnya mengerut sempurna ketika ia mendengar sebuah nama yang begitu asing baginya.

"Henry?"

Luhan mengangguk dan menghindari pandang mata Sehun yang terasa sedang menghakiminya.

"Ia adalah penyelenggara konser yang akan kuhadiri," jawabnya simpel.

"Oh."

Ada jeda yang tak nyaman, terlepas dari hiruk pikuk orang di sekitar mereka yang terlihat telah memadati jalan di sekitar mereka—namun mereka takkan peduli.

"Lalu kapan aku bisa bertemu denganmu?"

"Aku sudah memikirkannya, dan kupikir kita bisa bertemu di tempat recital. Aku akan mengirimkan undangannya padamu lewat email. Dan jika kau tak keberatan, aku harus pergi sekarang, Sehun. Sampai jumpa."

Dengan itu, luhan pergi, meninggalkan Sehun seorang diri.

Ada nada dan perasaan yang sangat aneh ketika Luhan mengucapkan kata sampai jumpa, seolah Sehun begitu takut akan apa yang terjadi saat ia akan kembali bertemu dengannya.

Dalam keheningan hati dan pikirannya, dalam kekalutan akan hari esok dan dalam semua ketidakberdayaaannya, Sehun tak bisa melakukan apapun kecuali memandangi punggung Luhan yang bergerak menjauh, semakin mengecil dan tenggelam dalam lautan manusia di sekitar mereka.

Ini adalah kali pertamanya Sehun begitu takut akan hari esok, seolah-olah ia sudah tahu, ia sudah bisa memprediksi bagaimana jadinya hubungan mereka.

Dan adalah penyesalan, yang bisa ia rasakan—menyelimuti seluruh ruam dan ruang di dadanya.

Bahkan ia tak tahu, harus ia apakan secangkir Macchiato yang mendingin di tangannya itu.


tbc


a/n : sorry, no edit, but thanks to fenerill for doing a crosscheck. Jangan lupa cek character background buat luhan di wordpress sachi, dan passwordnya bakal tetep sama seperti background character buat sehun kemaren. Bakal di pos hari selasa sore yah. Thanks!