"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."
Sehari setelah mereka sampai di Paris, Lu Han kembali menyibukkan dirinya untuk berlatih dengan Henry dan pemusik lainnya. Ia berlatih di sebuah studio musik yang khusus disediakan oleh promotor acara, tidak terlalu jauh dari apartemen yang mereka tinggali.
Sesaat setelah menyetujui ajakan Henry untuk menjadi salah satu pengisi acara di konsernya, Lu Han telah diberitahu bahwa konser ini akan bertempat di sebuah hall tepat di luar sibuknya jantung kota Paris—atau lebih tepatnya di sebuah hotel di pinggir salah satu pantai di sana, Paris Plages.
Saat ini, menjelang sore di Paris, Lu Han pergi dengan Henry sebagai perwakilan dari penyelenggara konser untuk pergi meninjau lokasinya. Tidak terlalu jauh memang, namun cukup jauh bagi Lu Han untuk dapat tertidur di samping Henry di kursi belakang kemudi.
Tepat pada pukul lima sore waktu Paris, Henry membangunkannya dengan hati-hati dan berkata bahwa mereka sudah sampai.
Mengangguk dan meminta maaf karena tertidur tanpa sengaja, Lu Han langsung keluar dari mobil, mengikuti Henry yang berjalan dengan promotor acara menuju ke tempat yang rencananya akan mereka gunakan lusa nanti.
Lu Han merenggangkan tubuhnya dan ia merasa sendinya sangat kaku karena perjalanan jauh di pesawat kemarin yang belum juga hilang dan posisi tidurnya di mobil yang membuat lehernya tertekuk menyakitkan. Baru saja ia hendak menyusul Henry, ia dikejutkan dengan getar keras ponsel di saku celananya. Ia segera merogoh sakunya kemudian menilik ponsel putihnya.
Lima pesan masuk, sebelas panggilan tak terjawab.
Dari satu orang yang sejujurnya, sangat ia hindari.
Oh Sehun.
Ia membuka pesan yang ada, yang mayoritas isinya hanya Sehun yang menanyakan kabar dan apakah ia akan ada agenda hari ini.
Membalasnya singkat dengan satu kalimat berisi 'maaf, aku harus pergi ke tempat konser', Lu Han langsung memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya, menghela napas dan berlari mengejar Henry yang ternyata telah berhenti berjalan untuk menunggunya.
"Maaf," kata Lu Han pada Henry dan Mr Jean, promotor konser mereka.
Mr Jean mengangguk dan melemparkan senyum pada Lu Han, seolah mengerti bahasa Korea, sedangkan Henry langsung menarik lengan baju Lu Han dan tersenyum sambil berkata:
"Menerima pesan?"
Lu Han mengangguk, kemudian berjalan pelan.
"Dari orang yang ada di bandara kemarin?"
Lu Han terkesiap, dan sejurus kemudian ia mengangkat kepalanya. Mr Jean telah berjalan lebih dahulu, meninggalkan keduanya di belakang, memberikan ruang untuk pembicaraan mereka.
"Kau—tahu?"
Henry tertawa, kemudian ia menyedekapkan tangannya di depan dada. Ia berjalan pelan, matanya terpasung ke depan sana, lurus, lurus melewati ruang hampa yang kepingnya hanya akan mampu memandang biru laut yang bergelombang tenang.
"Tak susah menebakmu, kau tahu? Kau hanya punya dua ekspresi selama ini," katanya. Ia terdiam sesudahnya, dan langkah kakinya berhenti. Ia menoleh kearah Lu Han, dan Lu Han sendiri melihat satu tatapan dari Henry yang sampai saat ini belum pernah ia lihat.
"Adalah ekspresi bahagia," lanjut Henry, "dan ekspresi ketika kau sedang berhadapan dengan hal yang menyangkut tentang Oh Sehun."
Lu Han termenung.
Henry meneruskan langkahnya, meninggalkan Lu Han di belakang sana.
Di ujung telinganya, Lu Han mendengar bagaimana ombak pantai berdebur kencang, menabrak karang dan bebatuan di bawah sana, menimbulkan suara keras namun menenangkan.
Sehun tahu ia akan sangat merasa jahat jika ia terus menerus mengganggu Lu Han, bahkan saat ia tahu bahwa Lu Han pasti sedang sangat sibuk dengan acaranya yang akan segera dilaksanakan. Namun entah kenapa, keinginannya untuk menghubungi Lu Han dan kembali mendengar suaranya tak bisa tertahan lagi.
Ia tahu dari nada jawaban dari pesan yang ia kirim, Lu Han memang sedang sangat sibuk dan ia sedang tak ingin diganggu. Namun kali ini, Sehun kembali memberanikan diri untuk menghubungi mantan kekasihnya tersebut.
Ada jeda singkat dan bunyi tut tut tut yang membuatnya ingin menyudahi panggilan tersebut, namun beberapa saat kemudian, sebuah suara yang begitu ingin ia raih menyapa gendang telinganya.
"Halo?"
Jantung Sehun seolah berhenti, dan tanpa sadar, ia membasahi bibirnya, hal yang selalu ia lakukan saat ia sedang gugup.
"L—Lu Han?"
Jeda.
"Sehun, apakah ada hal penting yang ingin kaubicarakan saat ini?"
"U—uh. Ya. Maksudku, ya, tentu saja."
Dari ujung telepon Sehun bisa mendengar suara berisik dan beberapa orang beraksen Perancis berbicara.
Lu Han terdiam, dan Sehun pikir inilah saatnya bagi dirinya untuk berbicara.
"Uh—aku hanya ingin bertanya apakah—apakah kau... baik-baik saja?"
Ada tawa yang menyakitkan yang Sehun dapat dari Lu Han, dan tawa tersebut rasanya begitu aneh dan tak seperti tawa Lu Han yang selalu ia dengar dulu. Dan hati Sehun sakit mendengarnya, entah kenapa. Mungkin karena ia sudah lama tak mendengar suara Lu Han. Atau mungkin karena ia, tanpa sadar, sudah lupa akan beberapa hal tentang orang yang ia pikir sangat ia cintai itu.
Dan jawaban Lu Han tak kalah menyakitkan, tak kalah membuat hatinya seperti tersengat lebah.
"Oh Sehun, bukankah lucu kau baru menanyakan kabarku sekarang? Bagaimana dengan masa lalu? Kenapa kau tak pernah menghubungiku duluan dan bertanya aku sedang apa atau apakah aku baik-baik saja? Dan mengapa baru kini kau bertanya? Jika ingin bertanya hal-hal seperti itu, tolong temukan mesin waktu dan kembalilah ke saat di mana kau seharusnya bertanya seperti itu padaku."
Tut.
Telepon di matikan.
Dan Sehun tahu, bahwa sampai jumpa—kata terakhir yang Lu Han katakan di bandara—adalah kata yang kini terasa begitu menakutkan.
Karena ia tak tahu lagi akan jadi apa dia dan hubungannya dengan Lu Han ketika mereka bertemu.
Ketika Mr Jean menerangkan arena dan denah tempat sekaligus panggung yang akan mereka gunakan untuk konser, dan kemudian dengan senang hati Henry akan menerjemahkannya dalam bahasa Korea untuk Lu Han, tak mampu meredam emosi dan mengalihkan pikirannya dari panggilan Sehun yang ia terima beberapa saat lalu.
Ia hanya mengangguk dan menjawab dengan satu ya kemudian tersenyum pada Henry, dan sepertinya, Henry tahu jika ada sesuatu dengan dirinya. Namun untunglah, ia tak bertanya ada apa.
Itulah yang paling Lu Han suka dari Henry—ia tak pernah kelewat batas dan tak ingin bertanya tentang apa yang akan menyulitkan Lu Han untuk bicara. Karena Lu Han tak tahu akan ia jawab dengan alasan apa jika Henry bertanya.
Malam telah menjelang, dan tanpa terasa, kini jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Lampu-lampu yang memang terpasang untuk menerangi arena konser di panggung dan sekitarnya di nyalakan, dan beberapa promotor acara baik dari Perancis dan Korea mulai berdatangan. Salah satunya, Tuan Kim, selaku Event Organizer dari Korea datang.
Ia kemudian bergegas menyapa Henry dan Lu Han dengan senyum ramahnya.
"Apakah tempat ini sesuai dengan bayangan Anda, Tuan Henry?" tanya Tuan Kim penuh antusias.
Henry tertawa, melambaikan tangannya jenaka. "Lebih dari sempurna, Tuan Kim, terima kasih. Suasananya dan penataan dan segala yang sudah kalian tata dengan baik, terima kasih. Aku dan yang lain sangat kagum dengan tempat ini."
Tuan Kim mengangguk lega, kemudian kembali berucap. "Ah, ya. Saya dengar Anda akan menambahkan satu lagu di akhir konser, dan sampai sekarang masih belum Anda bicarakan judulnya untuk dimasukkan pada rundown, apakah benar?"
Mendengarnya, Lu Han yang berdiri di samping kanan Henry mengerutkan keningnya sambil memandang Henry bingung. Sementara pemuda Lau tersebut hanya tersenyum pada Tuan Kim.
"Apakah hal itu mengganggu Anda, Tuan Kim?"
Tersentak, Tuan Kim menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Tidak, tentu saja tidak, Tuan Henry! Saya hanya ingin mengklarifikasi hal tersebut, saya pikir—"
Henry tertawa, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Kim, tentu saja tidak. Anggaplah ini adalah bonus, dan saya takkan meminta bayaran lagi," kata Henry selagi mengedipkan matanya, membuat Lu Han tersenyum dan Tuan Kim tertawa.
"Baiklah kalau begitu, saya akan meninggalkan kalian berdua untuk melihat-lihat sekitar. Dan, jangan lupa jaket Anda, Tuan-Tuan sekalian."
Lu Han dan Henry berterimakasih, kemudian berjalan mengitari arena konser.
Lampu-lampu yang berkelap-kelip di atas kepala mereka, bintang-bintang dan bulan yang sinarnya jatuh memantul di antara gelombang laut, desir angin dan suasana malam yang jauh dari hiruk-pikuk jantung kota membuat Lu Han merasa bahwa mereka sangat jauh dari Paris, dan lebih seperti mereka sedang berada di salah satu pantai terindah di Jeju.
"Kau ingin berjalan-jalan di bibir pantai?" Henry bertanya ketika mereka berdua telah mengelilingi arena konser. Lu Han mendongak menatap Henry yang tersenyum, kemudian mengangguk mengiyakan.
Merekatkan jaket tebal yang ia kenakan, Lu Han berjalan mengekor di belakang Henry mendekat kearah ombak pantai di depan sana.
Angin laut yang begitu besar menerpa keduanya namun tumpuan kaki mereka yang begitu kuat tak membuat mereka tumbang. Henry tertawa ketika ia menoleh dan mendapati Lu Han berjalan terhuyung karena badannya yang kecil harus tertempa angin malam yang sangat kuat.
"Ayo," kata Henry tiba-tiba, memegang tangan Lu Han dengan erat dan memintanya untuk berjalan di sampingnya.
Lu Han menenggelamkan kepalanya pada syal merah yang melingkar di lehernya, menyembunyikan wajahnya yang memerah—entah karena angin malam atau kenyataan bahwa ada pemuda selain Sehun yang kini memegang tangannya ketika mereka hanya sedang berdua.
Ia tak ingin memikirkan alasan kedua, karena entah kenapa, hatinya begitu sakit mengetahui bahwa lelaki yang selalu memegang tangannya kini bukan lagi lelaki yang selalu bertahkta dalam hatinya, tetapi lelaki yang ia kenal dari sebuah acara televisi.
Genggaman tangan Henry menguat setiap kali angin laut berderu kencang menerpa mereka, dan Lu Han selalu bergerak mendekat kearahnya. Di tengah perjalanan, mereka telah melepas alas kaki mereka dan kini, telapak kaki keduanya seakan membeku ketika diterpa air pantai yang sangat dingin. Di bawah kulit kaki mereka, pasir putih berada di sela-sela jari, menggelitik dengan perasaan menenangkan, membuat mereka sejenak melupakan hawa dingin di sekitarnya.
Di atas kepala mereka, bintang-bintang berjejer dengan apik, membentuk gugus yang entah apa namanya. Sinar rembulan memantul di atas air laut yang damai, membentuk cahaya putih berkilauan di mata kedua pemuda China tersebut.
Dari kejauhan, sinar lampu yang dinyalakan untuk keperluan konser mereka semakin lama semakin meredup saat mereka mengambil langkah menjauh dari arena konser. Riuh suara orang-orang mulai mereda, dan satu-satunya suara yang terendam oleh telinga mereka adalah riuh gelombang pantai dan gesekan badan mereka dengan angin malam.
Kaki mereka berjalan tepat di bibir laut, membiarkan keheningan dan kedinginan menyelimuti keduanya dengan nyaman.
Lu Han tak keberatan berjalan berdua dalam sepi seperti ini, rasanya begitu damai dan aman, dan sesaat ia merasa ia bisa melupakan semuanya tentang Sehun.
"Kau mau duduk di sini?" Henry berhenti dan bertanya pada Lu Han, menunjuk satu bongkah batu besar yang ada tepat di pinggir bibir pantai.
Lu Han mengangguk, kemudian mengawasi bagaimana Henry mendudukkan dirinya tepat di atas batu tersebut, kemudian mengulurkan tangannya agar Lu Han duduk di sampingnya.
Keduanya duduk menghadap pantai, bagaimana beberapa kapal telah berlayar membawa lentera, dan sinar bulan yang menerpa permukaan air terpantul jelas di keping ganda keduanya.
Lu Han tersenyum sambil menutup matanya.
Ia begitu rindu keheningan semacam ini. Keheningan di mana hanya ada ia dan suara yang menenangkan, tanpa masalah-masalah yang harus ia pikirkan sampai membuatnya sesak dan sulit bernapas.
Ia terus memejamkan matanya, memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya dalam tangannya yang bertaut di lutut, tak sadar bila Henry mengamatinya dalam diam.
"Lu Han..."
"Hmm..." Lu Han menjawab tanpa bergerak ataupun membuka matanya. Ia membiarkan pikirannya mengalir dengan suara air dan angin yang beradu di atas gelombang pantai.
"Pernahkan aku berkata padamu bahwa kau terlihat bersinar saat kau tersenyum?"
Lu Han membuka mata, kemudian mengangkat kepalanya sehingga ia bisa melihat Henry yang tersenyum, namun matanya kini terpaku pada pantai di depannya.
Ada sinar yang terpantul dari kedua mata Henry, bergerak bebas dan berkilau tajam.
Lu Han tersenyum kecil, kemudian kembali menyembunyikan wajahnya.
Keheningan membuat keduanya membeku, namun terasa begitu nyaman dan menenangkan. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara, namun keheningan itu justru memberikan kata-kata yang berteriak bahwa mereka menikmati suasana ini.
"Henry, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Lu Han, akhirnya membuka pembicaraan.
Henry menoleh, kemudian mengangguk kecil di antara senyumnya.
"Katanya kau akan memberikan satu lagu lagi, dan kau tak pernah mengatakannya padaku sebelumnya. Kalau boleh tahu, kau akan menampilkan apa lagi? Bukankah sepuluh lagu sudah cukup banyak? Lalu kenapa kau bersikeras menambah satu lagu lagi?"
Henry tersenyum, melempar pandangannya pada gelombang air pantai yang mendekat.
"Sebenarnya, ide itu tercetus begitu saja. Untuk persembahan pada seseorang, sebenarnya. Tapi karena kau bertanya, yah—kurasa aku harus membeberkannya."
"Uh—kau tak perlu mengatakannya jika—"
"Lu Han..."
Lu Han melirik Henry yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menatap benda tersebut lama. "Y—ya?"
"Pernah dengar lagu ini?"
Dan sebuah lagu mengalun lembut.
Bukan lagu berbahasa Inggris, bukan juga bahasa Korea, pun bukan bahasa Mandarin, bahasa ibu mereka.
Namun bahasa Jepang.
Dan anehnya, Lu Han merasa begitu familiar ketika mendengarnya.
Saat lagu tersebut mengalun semakin lama, dan ketika mereka sampai di bagian reff, satu ingatan di dasar otak Lu Han muncul kembali ke permukaan, seakan ada satu ingatan yang ia lupakan namun saat ia mendengar lagu dan bait tersebut, ia kembali ingat akan hal tersebut.
Lu Han ingin berbicara, apa saja, yang kini telah membuncah dalam dadanya, namun lagu tersebut tak juga sampai pada lirik terakhirnya, membuatnya urung berbicara.
Ada sesuatu dari lagu itu yang meneriakkan sebuah kisah.
Ada sesuatu dari lagu itu yang mengingatkannya pada piano, tangisan, tarikan tangan, penyesalan, dan kebahagiaan hakiki yang rasanya begitu singkat.
Ada sesuatu dari lagu itu yang berteriak memanggil waktu agar memberinya sekejap saja detik untuk menggali ingatan.
Dan lagu tersebut berhenti.
Angin, ombak dan sinar yang terbias di permukaan air seolah memberinya kesempatan untuk berbicara, namun ia tak juga mengucap satupun kata.
"Lu Han, bukankah lagu itu terasa begitu familiar bagimu?"
Henry menoleh, memandang Lu Han dengan satu senyum layu yang jarang ia tampilkan, dan hal yang keluar dari bibir Lu Han hanyalah—
"One more time—"
"—One more chance..." lanjut Henry, meneruskan jawaban Lu Han yang terputus.
"Apakah kau merasa kau pernah mendengarnya di suatu tempat, namun lupa di mana dan kapan?"
Lu Han mengerutkan keningnya, memandang Henry yang tetap memandang lurus ke depan sana tanpa bergeming.
"Bagaimana kau—"
"Mungkin kau harus ingat, Lu Han, tentang masa lalu yang telah terpendam jauh di dalam otakmu. Bagaimana jika kau mencoba mengingat sepuluh tahun silam lebih, saat kau duduk di sebuah ruangan, dengan sebuah piano hitam, tepukan tangan, suara orang yang memujimu, dan—"
Lu Han menahan napas dan matanya menatap Henry tak percaya.
"—ketika kau mengingatnya, cobalah tengok kebelakang di hari itu. Bukankah kau melihat seorang anak kecil yang selalu ada di sana, menungguimu sampai kau selesai pada nada terakhir pianomu?"
Hening, dan Lu Han hanya bisa berujar—"Henry, bagaimana kau—tahu?"
Henry tersenyum, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Lu Han, tepat memandangnya di tengah kedua keping matanya.
"Menurutmu bagaimana aku tahu semua hal itu, jika aku tidak berada di sana langsung, teman bintang-ku?"
Dan napas Lu Han tercekat ketika ia mendengar nama panggilan itu.
"H—Henry..."
Tersenyum, Henry turun dan bangkit dari duduknya. Kaki telanjangnya menyentuh air laut yang menjalar mendekat melewati bibir pantai.
"Sebenarnya, aku agak terluka ketika menyadari bahwa dari kita berdua, hanya kau yang nampak telah terbiasa dengan masa depan dan melupakan masa lalu, sementara aku terpasung di masa di mana aku masih percaya bahwa kau adalah reinkarnasi bintang paling terang di angkasa."
Deburan ombak dan nyiur pantai tak menghalangi suara Henry agar terdengar sampai di ujung telinga Lu Han. Dan di tiap frasa yang Henry ucapkan, Lu Han merasa bahwa otaknya terbuka sedikit demi sedikit, mengingat masa di mana ia merasa menjadi dewasa pasti akan menyenangkan.
"Lu Han, apakah kini kau mengingatku?"
Lu Han terdiam, dan di ujung ingatannya, ia melihat sesosok anak lelaki yang berdiri di belakangnya dengan senyum malu-malu, bertepuk tangan dan memandangnya kagum.
Ia ingat anak itu.
Ia ingat.
Mengangkat kepalanya, ia memandang Henry yang tersenyum sayu padanya.
Lu Han mengingatnya.
"Aku—Henry, kau..."
"Kurasa kau sudah ingat, ya?" tanya Henry, kembali membalik badannya hingga kini yang bisa Lu Han lihat hanyalah punggung tegapnya yang terlihat begitu kokoh menerjang angin.
"Tapi mengapa butuh lagu itu untuk membuatmu ingat? Apakah kau begitu merasa asing ketika aku mengatakan bahwa kau seperti bintang, atau ketika aku bilang padamu bahwa kau jangan sampai terluka? Ataukan—namaku begitu asing di telingamu, atau memang kau tak pernah menyimpan namaku dalam ingatanmu, sehingga kau tak menyadari bahwa aku adalah sosok lelaki di masa lalumu?"
Shenzen, 2 Februari 1998
Lu Han menarikan jemarinya pada tuts di depannya, dan semakin lama, ia semakin tahu bila nada adalah satu-satunya hal yang paling ia sukai di dunia ini. Di dalamnya, ia bisa menenggelamkan diri tanpa takut terjebak dan takkan pernah kembali. Ia kembali menarikan jemarinya, membuat nada harmoni dalam tiap detik yang ada.
Dan setelah ia berada di ujung lagu, keheningan yang ada langsung di susul oleh tepuk tangan dari belakang punggungnya.
Di sana, berdiri sosok bocah lelaki yang kerap mengawasinya berlatih dan bertepuk tangan ketika ia selesai memainkan piano.
Shenzen, 19 Juni 1998
Lu Han merasa tangannya bergerak sendiri, ia bahkan tak harus susah-susah menghapal nada dan tuts mana yang harus ia pencet setelah ini dan itu, bahkan kini ia bisa mengalihkan pandangannya dari tuts di depannya atau ia bahkan bisa memejamkan mata, hingga nada-nada yang diciptakan dari jemarinya bisa ia dengarkan sampai ke dasar hatinya.
Dan ketika ia memencet satu nada terakhir dengan panjang, keheningan adalah hal yang ia jumpai saat ia membuka matanya.
Hening.
Seperti hari-hari biasa, Lu Han sendiri.
Ia adalah murid terakhir yang akan pulang dari latihan, dan akan menghabiskan sorenya untuk melatih kemampuannya bermain piano di tempat ini sebelum ibunya menjemputnya.
Ia mendesah kecewa, masih duduk di bangkunya tepat di mana di depannya, piano besar milik tempat pelatihan ini ia mainkan.
Minggu depan adalah hari di mana ia akan mengikuti lomba pianis cilik tingkat nasional sekaligus kompetisi terakhir yang akan ia ikuti.
Ia kembali membawa jemarinya untuk menyusuri tuts di depannya, memencet sembarang tombol tanpa sadar. Dan anehnya, ia malah memainkan lagu milik Joe Hisaishi, The Rain.
Ia mengumandangkan lagu lewat sentuhan jemarinya dengan pelan, pelan, pelan dan penuh penghayatan seakan anak sekecilnya tahu makna apa yang ingin disampaikan lewat nada-nada yang tercipta.
Dan ketika ia sampai di akhir nada, bukan keheningan yang menyambutnya, namun tepuk tangan.
Lu Han mengerjap, membuka matanya dan menoleh kebelakang, tepat di mana sosok lelaki yang sering menungguinya latihan dalam diam, yang sering memberinya tepukan tangan namun tak pernah bersuara.
Lu Han menoleh kearahnya, dan ketika bocah tersebut berhenti bertepuk tangan, Lu Han tersenyum.
"Terima kasih." Adalah satu-satunya hal yang bisa lolos dari bibir kecil Lu Han. Dan seperti biasa, ia tak mengharapkan bahwa bocah tersebut akan berbicara karena selama setahun ia berada di sini, dan selama lima bulan bocah itu selalu ada di sana, di belakang sana bertepuk tangan untuknya dan melihatnya berlatih dalam diam, dia tak pernah berbicara maupun memperkenalkan dirinya.
Namun sepertinya hari ini berbeda.
Alih-alih pergi dari sana tanpa kata seperti biasa, bocah tersebut berjalan mendekat, membuat Lu Han mengerutkan keningnya keheranan.
Ia berjalan, walaupun malu-malu seperti biasa, kearah Lu Han. Dan ketika ia sampai di sampingnya, bocah tersebut langsung duduk di sebelah Lu Han, menghadap piano yang sama.
Lu Han menahan napasnya, menatap bocah tersebut keheranan.
"Uhm—"
"Namamu... Lu Han, kan?"
Lu Han tak bisa mengatakan apapun, dan ia hanya bisa mengangguk.
Bocah tanpa nama di sampingnya menunduk menatap tuts piano di depannya. Jemari kecilnya menyusuri permukaan piano tersebut namun ia menolak untuk memencetnya, membiarkan keheningan menjadi musik sementara.
Matanya yang berkilau membuat Lu Han penasaran akan siapa namanya, namun ia tak ingin bertanya tentang hal tersebut. Kata ibunya, ia tak boleh bertanya hal yang akan memberatkan orang lain, dan ia berpikir bahwa ia tak seharusnya memaksanya untuk menyebutkan nama.
"Kau adalah bintang di sini, kan?" tanyanya, masih belum mau menyebutkan nama.
Lu Han menggeleng keras-keras. "Aku bukan bintang, aku Lu Han."
"Tapi, kenapa kau bersinar?"
Lu Han langsung memegang wajahnya setelah bocah tak bernama itu melihatnya sembari berkata seperti itu. Ia mengernyit, bertanya-tanya apakah tubuh dan wajahnya bercahaya.
"Tubuhku bercahaya?" tanya Lu Han, memandang bocah di sampingnya dengan mata yang terbelalak lebar.
Bocah tersebut tertawa pelan, kemudian mengangguk.
"Kau bersinar ketika kau bermain piano. Kau seperti bintang ketika duduk di sini dan memainkan lagu-lagu itu. Kau sungguh hebat!" katanya sambil mengangkat dua jempolnya.
Lu Han tertawa, kemudian berkata, "Jadi, aku seperti peri?"
"Peri, malaikat, bintang, semuanya! Kau terlihat sungguh hebat!"
"Tapi, bukankah bulan terlihat lebih hebat dari pada bintang? Bukankah bulan lebih besar dari pada bintang?" tanya Lu Han sambil memiringkan kepalanya memandang bocah di sampingnya.
Bocah tersebut menggeleng sambil tertawa. "Kata Babaku, sebesar apapun bulan di mata orang-orang, mereka akan melihat kerlip bintang lebih dulu. Jika saat malam hari tak ada bintang satupun, mereka akan berpikir bahwa langitnya begitu sepi, kan? Makanya, kau jadi bintang saja!"
Lu Han mengucapkan terima kasih, kemudian kedua bocah itu kembali diam.
"Uhm—aku sering melihatmu mengawasiku bermain piano dan kau kerap bertepuk tangan di belakang punggungku, kan? Tapi kau tak pernah mau berbicara denganku."
"Saat ini aku sedang berbicara denganmu, Lu Han."
"Maksudku, sebelum hari ini."
"Owh."
Lu Han merasa tak nyaman, namun ia sungguh ingin bertanya.
Namun belum ia membuka mulutnya untuk bertanya nama, bocah di sampingnya itu membuka mulutnya kembali.
"Kau tahu lagu apa yang kaumainkan barusan?" ia bertanya dalam nada lirih suaranya.
Lu Han mengernyit, kemudian mengangguk. Jemarinya menari di atas tuts, kemudian memencet nada-nada awal lagu yang baru saja ia mainkan.
"The Rain, Joe Hisaishi."
"Kau tahu lagu itu tentang apa?"
Kali ini, Lu Han menggelengkan kepalanya. Ia menoleh ke samping kanan, tepat di mana bocah tersebut memandanginya dengan tatapan ingin tahu.
"Tidak. Memangnya apa?"
Bocah berambut cokelat itu tersenyum, kemudian jemarinya kembali menyusuri tuts piano tanpa menyentuhnya.
"Orang sering mendengarkan lagu itu ketika mereka sedang kecewa dan sakit hati, itu kata tentorku. Ketika orang ingin memaafkan seseorang—itulah lagu yang kaumainkan barusan. Kau tak tahu?"
Lu Han lagi-lagi menggeleng. "Aku hanya tahu jika ini lagu yang sangat sedih. Tentorku yang memberiku notnya untuk dipelajari. Dan kupikir, lagu ini begitu bagus."
"Apakah kau sedang sedih?" bocah tersebut kembali bertanya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Lu Han dengan mata besarnya.
Lu Han memainkan jemarinya sendiri, kemudian mengangkat bahunya.
"Aku sedang memikirkan sesuatu," jawabnya.
"Apakah sesuatu yang menyakitkan?" tanya bocah itu lagi.
Lu Han mengangguk. "Seperti ada yang menggangguku."
"Itu berarti kau sedang sedih," jawab bocah tersebut, tersenyum memandang Lu Han. "Tapi, bukankah bintang sepertimu tak seharusnya bersedih? Tak seharusnya terluka? Bukankah kau seharusnya tetap bersinar?"
Mata Lu Han berkilau mendengar perkataan tersebut. "Benarkah?"
Bocah tersebut mengangguk mantap. "Kau kan pianis hebat, dan kau seharusnya tetap bersinar di manapun kau berada. Jangan sampai bersedih, karena kata Mama dan Baba, ketika kau bersedih, sinar di dalam hati kita akan meredup. Dan jangan sampai terluka!"
Lu Han tertawa, kemudian mengangguk. "Akan kucoba."
Bocah tersebut terlihat tidak terlalu senang dengan jawaban Lu Han. Ia memajukan bibirnya, memasang tampang memelas. "Kenapa dicoba? Kau harus melakukannya!"
Lu Han menurunkan senyumnya, kemudian menunduk kaku.
"Apakah jika bintang itu berpindah dari angkasa satu ke angkasa lain, apakah sinarnya masih bisa terlihat terang?"
Bocah di sampingnya terlihat berpikir keras ketika Lu Han memandanginya. Ada jeda beberapa detik dan Lu Han lelah menunggu jawaban darinya, namun kemudian, bocah tersebut kembali berkata:
"Setidaknya, ketika sebuah bintang berpindah dari satu tempat ketempat lain, orang yang pernah melihatnya sebelumnya akan selalu ingat bahwa ia pernah melihat sebuah bintang yang sangaaaaat terang, kan?"
Dan dengan itu, Lu Han tersenyum. "Begitukah?"
"Mhm!"
Baru saja Lu Han ingin bertanya satu hal yang dari tadi ingin ia tanyakan, bel berdering nyaring, menandakan bahwa pintu gerbang akan ditutup sebentar lagi dan semua anak-anak tak boleh ada yang masih tinggal di tempat itu.
Setelah mendengar bel terakhir itu, bocah di sampingnya langsung berdiri dan bergegas pergi.
Namun belum juga ia meraih gagang pintu di ujung sana, bocah tersebut kembali menoleh ke tempat di mana Lu Han berada.
"Ah—aku belum menyebutkan namaku. Aku Henry! Henry Lau! Aku mengambil kelas suara di samping kelas ini! Dan Lu Han..."
Lu Han tersenyum. "...Ya?"
"Jangan sampai terluka!"
Dan dengan itu, Henry kecil berlalu dari ruang tersebut, meninggalkan Lu Han yang tersenyum seorang diri.
Shenzen, 24 Juni 1998
Kali ini, ketika ia membuka mata setelah menyelesaikan lagunya, ia tak disapa oleh tepuk tangan dari Henry—teman barunya—namun dengan keheningan.
Sontak Lu Han menoleh kebelakang, kemudian mengernyit ketika ia tak melihat sosok yang selalu berada di sana, mengawasinya berlatih. Alih-alih menemukan bocah berambut cokelat, ia menemukan bangku yang di atasnya tergeletak sebuah kertas yang ditahan oleh penghapus papan tulis.
Penasaran, Lu Han kecil berjalan menuju ke arah bangku tersebut dan mengambil kertas itu.
Dibacanya pelan-pelan deretan tulisan tangan yang rapi dan kecil-kecil itu dalam kerutan keningnya.
'Lu Han, maafkan aku tak bisa menemanimu latihan dan memberikan tepukan tanganku seperti biasa. Hari ini aku dan ibuku pergi ke tempat administrasi dan menemui Guru Zhu! Aku telah memaksa ibuku untuk memasukkanku ke kelasmu. Aku akan mengikuti dua les sekaligus! Piano dan suara! Bukankah itu hal yang hebat?!
Aku ingin masuk ke kelasmu karena aku begitu kagum denganmu. Aku ingin bisa bermain piano sepertimu, Lu Han! Aku ingin bersinar bersamamu!
Jadi jangan marah jika aku tak bisa menemanimu latihan hari ini, ya? Karena aku janji, mulai tanggal 27 nanti, kata ibuku, aku sepertinya sudah akan diperbolehkan untuk masuk kekelasmu sesuai jadwal, karena aku dan ibuku yakin jika Guru Zhu pasti akan setuju!
Jadi, mulai tanggal 27, kita akan berlatih bersama dan bermain piano bersama, bukankah hal itu terdengar begitu mengasyikkan?
Salam,
Henry Lau
Lu Han memandangi kertas di tangannya dengan harapan bahwa Henry takkan marah padanya pada saat di mana ia masuk kelas di tanggal 27 nanti.
Shenzen, 26 Juni 1998
Di hari di mana Lu Han seharusnya bersinar di depan panggung ketika ia mengikuti kompetisi pianis cilik tingkat nasional, ia malah menghabiskan waktu untuk menangis di atas panggung sebelum namanya dipanggil untuk tampil.
Lengan jas hitamnya basah karena air mata, dan di depan ibunya yang berlutut menyejajarkan diri untuk dapat menatap wajah mungilnya Lu Han menangis, meminta ibunya untuk membatalkan kepergian mereka.
"Lu Han, sayang, Mama tak bisa melakukannya," jawab Mrs Lu dengan nada yang lembut, sambil mengusap lembut lengan dan rambut anak semata wayangnya.
Lu Han kecil terus menangis dan meronta, tak lagi menghiraukan tatapan anak dan orang tua lain yang berada di sekitarnya.
"Mama bohong! Kata Mama, kita takkan pindah ke Beijing jika Lu Han bertingkah baik selama berada di sini! Lu Han sudah menjadi anak baik, Ma! Lu Han bahkan sudah menjadi bintang! Lu Han juga membawakan berbagai piala untuk mama dan memainkan piano!"
Mrs Lu menatap anaknya dengan tatapan sedih, dan sejurus kemudian, ia merengkuh anak lelakinya, membiarkannya menangis dalam dekapannya. Lirih, Mrs Lu menggumamkan kata maaf berulang kali, berharap anaknya akan mengetahui dan paham walau ia tak bisa menjelaskan lebih lanjut. Karena setelah Lu Han selesai dengan penampilannya nanti, ia akan membawa Lu Han untuk pindah ke Beijing, tepat di mana suaminya akan bekerja.
Setengah jam lebih kemudian, Lu Han telah menghentikan tangisnya dan selama itu pula, Mrs Lu tak pernah melepaskan pelukannya.
Tepat ketika jam telah menunjukkan pukul 07.02, pembawa acara menyebutkan nama Lu Han untuk tampil dan naik ke atas panggung.
Mrs Lu melepaskan pelukannya, membisikkan kata semangat ke telinga anaknya yang mengangguk patuh.
Lu Han berjalan ke atas panggung, menundukkan kepala dan sorak sorai serta tepuk tangan terhenti ketika ia telah duduk di depan piano. Matanya mengawasi tuts putih di depannya, dan dalam sekejap, jemarinya ia bawa kearah depan, menyusuri permukannya dan ia mulai bermain piano.
Jemarinya menari dengan lincah dan kuat, penuh dengan tekanan dan resonansi tinggi yang membumbung di ruangan tersebut.
Para penikmat musik dan semua yang hadir terdiam, menikmati permainan solo Lu Han tanpa kata. Hanya ada nada-nada melodi yang ringan dan hangat yang menyentuh di antara kekosongan yang ada.
Lu Han memejamkan matanya seperti biasa, tak sadar jika di antara ratusan orang di depannya, lebih tepatnya di baris nomor dua, ada sosok bocah lelaki yang begitu familiar—yang tepuk tangannya selalu berada di not terakhir permainan pianonya, yang selalu menungguinya hingga ia selesai berlatih, yang dari beberapa hari yang lalu selalu mengatakan padanya bahwa ia tak boleh terluka.
Senyum kecil mengembang di bibir Henry. Mata besarnya berkilau tajam melihat bagaimana Lu Han bermain piano, dan Mrs Lau di sampingnya hanya bisa tertawa dan menepuk pundaknya pelan melihat antusias anaknya.
Delapan menit berlalu, dan ketika Lu Han mencapai not terakhir, keheningan yang ada langsung disusul oleh tepuk tangan dan sorak sorai penonton di depannya. Beberapa, Lu Han kenali sebagai tentor piano dan teman-teman Mamanya serta beberapa teman-teman Sekolahnya. Matanya memicing tajam ketika ia melihat sosok Henry yang berjingkat-jingkat di kursinya, seakan ingin menarik perhatian Lu Han.
Lu Han kemudian bangkit dari duduknya kemudian membawa dirinya untuk berdiri di depan para penonton dan membungkuk tajam, memberi penghormatan terakhir.
Penghormatan terakhir pada penampilannya yang terakhir.
Ketika ia sampai di belakang panggung, air mata kembali lolos dari kedua mata besarnya, di dekapan Mamanya yang terus menerus membisikkan kalimat untuk menenangkannya.
Dan Lu Han tahu, jika piano dan segala piala tak mampu membuat Mama dan Baba-nya tetap membiarkannya tinggal di Shenzen, kota yang ia sayangi ini, ia takkan mau repot-repot bermain lagi.
Namun tetap, Lu Han harus mematuhi keputusan orang tuanya, karena Mamanya telah berkata bahwa pindah adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan. Lalu belum sempat acara selesai dan pengumuman pemenang di lakukan, Mrs Lu berbisik pada Lu Han bahwa mereka harus pergi sekarang, karena Baba telah menunggu di luar.
Lu Han mengangguk, menggenggam tangan Mamanya erat. Ia sudah tak peduli dengan tepuk tangan, piala atau menjadi juara—karena ia hanya melakukan semuanya agar ia bisa tinggal di sini.
Lalu saat Mrs Lu menggandeng tangan anaknya erat dan menuntunnya untuk pergi dari sana lewat jalur memutar, ia harus melewati beberapa penonton yang tadi menyaksikannya.
Ia berjalan saat kontestan bernama Zhoumi tampil di atas panggung dengan lagu yang tak ia ketahui. Ia berjalan, melewati para penonton dan matanya tiba-tiba bertemu pandang dengan mata Henry di baris kedua.
Sosok bocah kecil itu kemudian melambaikan tangannya, lalu berlari dari samping Mamanya menuju kearah Lu Han.
"Lu Han!" teriaknya tertahan, dan saat ia berdiri tepat di depan Lu Han dan ibunya di tengah jalan, ia menampilkan senyum riangnya. "Kau mau kemana?"
Lu Han beringsut menjauh, bersembunyi di antara tangan Mamanya, namun Mrs Lu menepuk kepalanya sayang, membuat Lu Han berdiri tegak dan menatap Henry ragu-ragu.
"Aku—" Ada jeda yang membuat Lu Han ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya, karena jika ia berkata jujur, pasti bocah di depannya akan sangat kecewa karena lusa ia akan memasuki kelas yang sama dengan kelas piano miliknya.
Jadi, ia berbohong.
"Aku harus pergi. Tidak enak badan."
Mrs Lu mengangkat alisnya ketika memandang anaknya, namun tak berkata apa-apa.
"Oh." Suara Henry terdengar begitu kecil. Dari raut wajahnya Lu Han bisa melihat ada yang aneh, seperti ia begitu takut dan khawatir akan sesuatu. Namun kemudian, bocah kecil tersebut kembali berkata, "Semoga lekas sembuh!"
Lu Han mengangguk, kemudian melemparkan senyum kecil. Namun senyumnya jatuh dan keningnya tiba-tiba berkerut ketika ia melihat Henry merogoh saku celana yang ia kenakan, dan sedetik kemudian, bocah tersebut menjulurkan tangannya.
"Apa—itu?" tanya Lu Han ketika melihat sebuah barang di tangan kanan Henry. Di depannya, tertulis frasa "One More Time, One More Chance".
Henry tersenyum, kemudian meraih tangan Lu Han dan menjejalkan kotak tersebut padanya. "Kaset! Ini adalah kaset yang berisi sebuah lagu yang kunyanyikan untukmu! Lagu Jepang, sih, tapi bagus kok lagunya! Aku juga menuliskan artinya ke dalam bahasa Mandarin untukmu!"
Lu Han ingin menangis, ingin berkata terima kasih namun ia tak bisa. Ia hanya bisa memandangi kaset tersebut dan mengeratkan pegangannya pada lengan Mamanya.
"Aku tahu kau pasti akan memenangkan kontes ini! Dan kau akan bisa maju ke Internasional! Aku yakin hal itu, makanya, aku ingin memberimu hadiah. Dan satu-satunya hal yang bisa kuberikan adalah suara emasku!"
Lu Han tersenyum, namun matanya meredup.
Mrs Lu berlutut, menyejajarkan wajahnya dengan wajah anaknya, kemudian mengusap rambutnya lembut. "Kita bisa pergi sekarang?"
Lu Han mengangguk, kemudian berjalan untuk memeluk Henry.
Terkejut karena pelukan Lu Han yang tiba-tiba, Henry memekik kaget, namun kemudian tertawa kecil. "Jangan mengagetkanku, dong!"
Lu Han tertawa, kemudian mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Terima kasih," katanya sambil mengangkat kaset yang diberikan Henry padanya. "Aku akan mendengarkannya di mobil."
Henry mengangguk, kemudian menyingkir untuk memberikan jalan bagi Lu Han dan Mrs Lu.
"Lusa kau akan masuk, kan?" tanya Henry sesaat setelah Lu Han berjalan dengan Mrs Lu.
Lu Han kembali menoleh kebelakang dan menghentikan jalannya.
Ada sebuah rasa ragu yang menyelimutinya, namun ia hanya ingin berbohong agar Henry tak menahan mereka lebih lama di sini. Maka, ia menjawab—
"Tentu saja, Henry. Sampai jumpa!"
Dan dengan begitu, Henry melambai riang sebelum akhirnya kembali ke kursinya.
"Lu Han sayang, kenapa kau berbohong? Bukankah Mama mengajarkanmu untuk tak berbohong dan mengatakan hal yang jujur?" Mrs Lu bertanya, menggenggam tangan anaknya erat untuk meminta jawaban.
Lu Han menyembunyikan wajahnya di lengan kirinya yang terbebas, dan air mata mengalir begitu saja, meredam jawabannya untuk sang ibu.
"Bukankah Mama juga berbohong pada Lu Han?"
Lu Han menatap punggung Henry yang bergetar—entah karena angin atau apa. Ia memakukan atensinya, tak peduli bahwa kini pegangannya pada jaket yang membungkus tubuhnya mengendur atau syal merahnya lolos jatuh keatas pasir putih—ia tak peduli.
Hening malam yang beradu dengan angin dan gelombang pasang surut air laut menemani pikirannya berkelana ke masa lalu, dan keping gandanya bergetar melihat sosok di depannya adalah sosok yang sama dengan bocah lelaki yang ia lupakan sejak lama.
"Lu Han..."
Lu Han menengadah menatap sosok Henry yang kini berpaling menatapnya. Matanya berkilau tajam, namun kesedihan jelas mewarnai gores cokelat kepingnya.
"Kukira ketika kau mengucapkan sampai jumpa, kau akan kembali keesokan harinya. Kukira kau akan masuk ke kelas piano, duduk di sampingku dan aku akan bisa menceritakan bagaimana pembawa acara menyerahkan piala juaramu ke guru lesmu karena kau sudah pulang. Kukira, kau akan menepati janjimu untuk datang latihan."
Lu Han menahan air matanya untuk tidak menetes melihat bocah kecil itu kini telah tumbuh sepertinya, tampan dan sukses melebihi dirinya.
"Tidakkah kautahu berkat siapa aku bisa memainkan piano dan sukses seperti sekarang? Kau. Tidakkah kautahu, semenjak kepergianmu, aku selalu bermain piano segiat mungkin, mengikuti berbagai macam lomba dan kompetisi dan berharap akan bertemu denganmu di salah satu lomba itu? Tidakkah kautahu aku telah memenangkan seribu piala namun tujuanku tetaplah satu; yaitu agar bisa, suatu saat nanti bertemu denganmu di salah satu lomba?
Tapi, Lu Han, ketika aku telah lelah memenangkan itu semua, dan ketika Mamaku berkata bahwa ia pernah berbicara dengan Mamamu dan Mrs Lu bilang bahwa kau tidak lagi bermain piano dan beralih untuk menjadi pelukis dan penyanyi, apa yang kaupikirkan? Karena saat mendengarnya, pikiranku hanyalah satu, Lu Han—mencarimu.
Aku mencarimu kemana-mana, berharap menemukan jejakmu, berharap aku bisa tahu bagaimana kabarmu sekarang, bagaimana rupamu sekarang, bagaimana hidupmu dan bagaimana kau menjalaninya. Kupikir kau akan mengenalku ketika kau bertemu denganku, namun nyatanya tidak. Kau telah berhubungan baik dengan masa depan, mengikhlaskan dan melupakan masa lalu sementara aku selalu ingin kembali ke hari di mana aku mengagumimu sebagai bintang. Ironis, bukan?"
Henry tertawa hampa, dan air mata mengalir dari kedua mata Lu Han.
"Ingatkah kau ketika aku berbicara di depan kamera mengenai kisah cintaku, yang mana aku selalu mengejar sinarnya, namun tak pernah dapat kuraih?"
Lu Han menatap keping ganda Henry yang kini menatapnya tajam, namun dengan sinar yang semakin meredup. Dan kalimat Henry selanjutnya adalah kalimat yang membuatnya semakin merasa bersalah—
"Sinar itu—tidak, bintang itu, ia adalah dirimu, Lu Han."
Satu air mata jatuh dari keping Henry, namun senyum di bibirnya tak pernah turun.
"Aku selalu mengejar bintang, walau ia telah pindah ke angkasa lain. Karena aku akan selalu mencari sinarnya, walau tak seterang sinar rembulan. Aku juga selalu menantimu untuk kembali karena aku percaya padamu. Dan karena aku masih mengira bahwa sampai jumpa yang kauucapkan, adalah berarti kau akan kembali, seberapa lama waktu bagimu untuk pergi.
Namun, Lu Han, ketika aku kemudian mendengar bahwa kau telah bersama Oh Sehun, yang kini mencampakkanmu, mengambil sinarmu dan membawanya lari dan tak kembali, aku ikut terluka. Lukanya lebih dalam dari luka saat kau pergi dan tak pernah kembali. Lukanya lebih lama sembuh dari pada luka saat kau hilang bagai ditelan bumi.
Oh Sehun itu—Lu Han, aku ingin tahu. Apakah dia menjaga sinarmu dengan baik? Apakah ia membantumu bersinar dengan terang? Karena aku hanya ingin ia memilikimu dengan benar, aku hanya ingin ia membantumu menjulang ke angkasa, tepat di mana kau seharusnya berdiri, bukannya membuatmu jatuh menerjang bumi dan mengais sisa-sisa sinar yang meredup."
Dan Lu Han menangis dalam diam.
Karena ia tahu, Oh Sehun telah menghancurkan sinar yang tersisa dalam dirinya, ketika ia bahkan tak sadar jika sosok bocah di masa lalunya begitu dekat dengan jiwanya.
Dan Lu Han baru tahu dan sadar, mengapa selama ini ia begitu merasa telah mengenal Henry dengan baik dan seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.
Karena memang Henry adalah satu bagian utuh dari masa lalunya.
"Namun aku tahu, jika kau sangat mencintai Oh Sehun. Dan aku tahu, jika kau mau memberikan kesempatan kedua, aku akan sangat bahagia melihatmu bisa tersenyum kembali, walau bukan denganku sinarmu akan tetap terpancar."
Henry berjalan mendekat kearah Lu Han, dan sekejap kemudian, ia memeluk Lu Han.
"Berbahagialah, bintangku," bisiknya lirih, mendekap erat Lu Han seakan itu adalah dekapan dan hal terakhir yang ia bisa lakukan.
Lu Han memejamkan mata, kemudian tanpa ia sadari, Henry melepaskan pelukannya.
Suara langkah kaki dan deru napas menyapa telinga mereka berdua, dan Lu Han mengangkat pandangannya.
Ia melihat bagaimana Henry memandang sesuatu di belakang punggungnya, dan bagaimana ia tersenyum—mirip seperti senyumnya saat ia masih seorang bocah.
Dan kata selanjutnya yang keluar dari bibir Henry membuatnya tercengang.
"Hai, Oh Sehun."
Lu Han membelalakkan matanya, kemudian menoleh kebelakang.
Di sana, berdirilah Oh Sehun, sosok yang mati-matian ia hindari. Sosok yang menyakiti sekaligus memberinya arti. Sosok yang tak bisa ia pungkiri, masuk dalam kehidupannya lebih jauh dari yang bisa ia cegah dan obati.
Sehun menatapnya, hanya menatapnya, dengan dua keping tajam yang berkilat penuh dengan emosi—emosi yang sama saat setahun yang lalu ia menyatakan cinta di depannya.
Dan jika bukan karena Henry yang kembali berbisik di telinganya, Lu Han akan terus memandang sosok Sehun yang ia rindukan tanpa henti.
"Jangan tinggalkan sesuatu yang tak ingin kausesali, oke?"
Dan Henry pergi, dengan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Kakinya yang telanjang tersapu dinginnya air dan ombak yang menerjang. Punggungnya semakin mengecil, dan dari kedua matanya Lu Han bisa melihat bagaimana pemuda itu menunduk memandang garis pantai dan pasir putih di antara sela-sela jemari kakinya.
"Lu Han..."
Pemuda Lu tersebut menoleh ke arah Sehun yang berjalan mendekat. Ia berjalan mendekat kearahnya, namun Lu Han dengan jelas bisa melihat keragu-raguan yang terselimuti harapan terpancar dari wajah dan di tiap jejak yang ia titi, Lu Han bisa melihat ketakutan.
"Bagiamana—"
"Lelaki bernama Henry itu yang memberitahuku di mana kalian berada."
Jantung Lu Han tercekat ketika mendengar nama Henry, seolah ia bisa kembali mengingat detil masa lalunya dengan pemuda yang kini telah berlalu itu.
Dan saat Sehun kembali meniti langkahnya, Lu Han memandangnya tajam sambil berkata—
"Berhenti."
Sehun menatap Lu Han kecewa. "Lu Ha—"
"Kubilang berhenti, Oh Sehun."
Kilat harapan di mata Sehun kian memudar, dan ia membeku di tempatnya.
Angin malam menghembus tak wajar, menyapu semua yang ada di sekitarnya namun hal itu tak membuat baik Sehun maupun Lu Han bergeming.
Lu Han turun dari batu yang selama ini ia duduki, kemudian berlari, mengabaikan fakta bahwa suara Sehun yang memanggil namanya dan mengais perhatiannya menggema di udara di sepanjang pantai.
Lu Han berlari, menghindari tangisnya sendiri.
Ia berlari, menghindari baik Oh Sehun maupun Henry.
Ia berlari, walau tak tahu akan kemana ia berhenti, menghindari baik masa depan maupun masa lalu. Karena ia tahu, keduanya telah banyak memberinya beban.
Lu Han tahu ia telah menyakiti masa lalu dengan bengis dan kejam, membiarkannya menyusuri dunia untuk menemukan sosok Lu Han dan hanya akan mendapatkan fakta bahwa ia tak mendapat apa-apa kecuali sakit hati.
Lu Han tahu ia telah disakiti masa depan dengan begitu manis namun menyakitkan, membiarkannya berlutut untuk kesempatan kedua yang ia tak yakin akan diberikan atau tidak.
Karena Lu Han, sejujurnya telah lelah dengan semua yang berputar tak menentu di sekelilingnya—semuanya, baik itu masa lalu dengan Henry atau masa depan dengan Sehun.
tbc
a/n : fyuh /lap keringet/ akhirnya selesai juga, 6500+ kata. Maaf telat, dan maaf isinya hanya Henry Lu Han qiqiqiqi. Mulai besok udah masuk HunHan lagi yaaa. Semangat! Dan untuk kak kimkyungshoot i miss chuuuu... why u no login wkwkwkw. Please contact me juseyo at twitter or fb or line or what i wanna chat with u /kecup/
dan jika ada yang pengen dengerin lagu one more time one more chance atau pengen denger lagu the rain milik Joe Hisaishi, lagu yang dibawain Lu Han kecil di ruang latihan piano, ada di wp sachi ya. Untuk background chara Lu Han belum sempat di posting, qiqiqi maaf. Mungkin kalau sempat, besok sebelum update-an chapter 16 bakal sachi pos di wordpress. Masih inget wordpressnya kan? Karena kalo lagu one more time one more chance sama the rain ga di lock kok, dan di lagu one more time one more chance ada arti english indo nya juga. Last but not least, makasih udah mau menunggu dan baca! I love you all!
One more time, one more chance : sachimalff dot wordpress dot com/2016/10/23/one-more-time-one-more-chance-lyrics/#more-357
The Rain by Joe Hisaishi : sachimalff dot wordpress dot com/2016/10/11/304
(ganti 'dot' dengan titik dan hapus spasi)
Ps: jangan lupa ikut berpartisipasi dalam mass streaming EXO – Monster!
