Married?!
A Taekook Fanfiction by Rain
Remake dari novel "Istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan
.
.
.
Jungkook membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur kecil, di kamar apartemen sederhana miliknya. Ucapan Dokter Kang kemarin masih memenuhi kepalanya.
Operasi, hanya itu satu-satunya jalan.
Tapi bukankah resiko dari operasi itu juga besar? Belum tentu kan, operasi itu berjalan lancar dan ia bisa hidup lebih lama dari yang divonis Dokter, bisa saja dia justru kehilangan nyawa saat melakukannya.
Hah~~
Jungkook berguling, hingga kini ia telungkup di kasur, membenamkan wajahnya dalam-dalam di bantal.
Kanker otak...
Dari sekian banyaknya penyakit, kenapa harus penyakit mematikan itu yang bersarang di tubuhnya? Bahkan dulu Eommanya saja akhirnya menyerah pada penyakit itu.
"Eomma..." Gumam Jungkook pelan. Ia jadi merasa rindu. Dulu, Eommanya meninggal saat Jungkook baru duduk di bangku kelas satu SMA, dan 2 tahun kemudian sang Appa menyusul karena kecelakaan kerja. Meninggalkan Jungkook terkatung-katung sendirian karena ia memang anak tunggal. Beruntung Jungkook adalah anak yang tekun dan rajin. Ia bekerja keras membiayai hidupnya sendiri dengan bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah. Mengejar beasiswa saat masuk Universitas. Sesekali mengajar les bahasa inggris pada anak-anak SMP. Apapun Jungkook lakukan untuk bertahan hidup di dunia yang kejam.
Dan sekarang, di 23 tahun hidupnya, penyakit yang dulu merenggut sang ibu juga menyerangnya. Kenapa hidup begitu tak adil padanya? Sejak kecil Jungkook sudah hidup pas-pasan, dan ketika dewasa ia malah menderita penyakit mematikan. Apa Jungkook juga harus menyerah? Sama seperti ibunya dulu? Biaya operasi bukanlah hal yang murah, dengan hidupnya yang serba pas-pasan darimana Jungkook bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gajinya sebagai karyawan swasta saja hanya cukup untuk membayar sewa apartemen dan biaya sehari-hari. Tapi Jungkook tak ingin menyerah begitu saja. Ia tak ingin bersikap pasrah tanpa berbuat apa-apa.
Lamunan Jungkook buyar ketika ia mendengar pintu kamarnya di buka. Ia menoleh dan mendapati Do Kyungsoo -tetangga sebelah sekaligus sahabatnya- masuk sambil membawa gulungan koran di tangannya.
"Hei kookie coba lihat, ada orang iseng yang kurang kerjaan nih. Masa' dia pasang iklan aneh begini. Buang-buang uang saja." Katanya sambil duduk di pinggir kasur dan melambai-lambaikan koran di tangannya.
"iklan aneh apa Hyung?" Tanya Jungkook tak berminat. Ia masih betah telungkup di kasur.
"Ini lho. Dia pasang iklan konyol. Katanya mencari wanita atau pria uke yang mau menjalani nikah kontrak, gila kan?! Dia bahkan mencantumkan alamat kantor pengacara yang bisa di datangi bagi yang berminat. Astaga, ada-ada saja." Cerocos Kyungsoo.
Jungkook mengernyit dan akhirnya bangkit untuk ikut melihat iklan yang dimaksud sahabatnya itu. "Mungkin orang itu punya alasan khusus Hyung."
Ia memperhatikan kolom dimana iklan itu tertera. Halamannya cukup besar, pasti yang buat adalah orang kaya.
"Hmm, mungkin. Dia juga menyediakan bayaran yang pantas- ah sudahlah lupakan." Kyungsoo melempar koran itu ke sudut ruangan. "Kookie-ya, kita keluar yuk. Cuci mata di mall. Hehe..." Ia mengalihkan pandangannya pada Jungkook yang justru tengah terdiam.
"Yah! kenapa melamun? Kau tertarik ya?" Goda Kyungsoo, menyenggol pelan bahu kanan Jungkook.
"Aniya. siapa yang tertarik." Elak Jungkook, "Hidupku ini sudah susah, Hyung. Masa' iya mau semakin dibuat susah." Kekehnya kemudian.
"Ya sudah, kita jalan-jalan yuk." Ajak Kyungsoo lagi.
"Tidak Hyung, aku lelah. Hyung saja yang pergi." Tolak Jungkook halus. Namun raut wajah Kyungsoo berubah cemas kemudian.
"Kau baik-baik saja? Dokter Kang bilang apa kemarin?"
Jungkook tersenyum menanggapi kecemasan Hyungnya itu. Memang hanya Kyungsoo yang tahu perihal penyakitnya. "Bukan apa-apa Hyung, kau tidak perlu khawatir. Jja, pergilah. Cari lelaki tampan dan baik yang mau menikah denganmu." Kekeh Jungkook.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Kau yakin, saeng?"
Jungkook hanya mengangguk mengiyakan, Kemudian Kyungsoo akhirnya pergi setelah sebelumnya mendaratkan satu kecupan di pipi kanan Jungkook.
Tak lama, setelah Kyungsoo pergi, Jungkook buru-buru bangkit dan meraih koran yang tadi dilempar Kyungsoo. Kembali dibacanya kalimat yang tertera di iklan itu.
'Pernikahan kontrak ya?' Gumamnya dalam hati.
.
.
.
Taehyung mengerang frustasi dibalik meja kerja Hoseok yang dipinjamnya. Sudah tiga hari, dan hari ini adalah hari terakhir ia membuka audisi itu. Namun sampai sekarang, ia sama sekali belum menemukan seseorang yang kriterianya cocok dengan keinginan sang Ayah. Orang baik-baik yang bisa mengurusnya? Yang benar saja! Bukankah Irene dan mantan-mantannya yang dulu juga termasuk orang baik-baik (menurutnya)? Dan ngomong-ngomong soal Irene, beruntung gadis itu sekarang menetap di London, jadi Taehyung tak perlu repot-repot menjelaskan semua ini padanya jika gadis itu tahu.
Seorang peserta masuk, membuat Taehyung juga Hoseok -yang duduk di sofa sebelah Taehyung- membelalakan mata. Seorang pria bertubuh tegap dan atletis, rambut cepak ala militer dengan garis wajah tegas dan sorot mata yang tajam. Taehyung refleks meneguk ludah,
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanyanya ragu-ragu.
"Boleh saya duduk terlebih dahulu?" Ujar pria itu dengan suaranya yang berat.
"Oh, tentu. S-silahkan. Tapi maaf, kami saat ini sedang mengadakan audisi pencarian 'istri', mungkin anda salah tempat."
"Tidak, saya memang berniat mengikuti audisi ini." Katanya mantap.
Taehyung dan Hoseok berpandangan untuk sesaat, "Nama anda?"
"Oh Jang Suk."
"Well,, begini Jang Suk-ssi." Mulai Taehyung, sedikit cemas. "Seperti yang tertera di kolom iklan tersebut, saya memang mencari wanita maupun pria yang bersedia menikah kontrak dengan saya. Namun untuk pria, saya juga mencantumkan kata 'uke' dalam tanda kurung disampingnya, jadi saya rasa..."
"Oh, kalau soal itu... saya bisa berada di posisi apa saja yang anda inginkan." Jawab Jang Suk, namun suaranya kali ini terdengar lembut dan mendayu-dayu, bahkan lelaki itu berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
"Ppffttt."
Taehyung sukses memasang blank expresionnya, sementara Hoseok mati-matian menahan tawa di balik koran yang -pura-pura- dibacanya.
"Baiklah, Jang Suk-ssi... akan saya pikirkan nanti. Silahkan, pintu keluar disebelah sana." Ucap Taehyung masih dengan ekspresi blank sambil menunjuk pintu keluar. Bahkan ia mengabaikan wajah Jang Suk yang berubah sendu dengan kedua mata tajamnya yang sudah mulai berkaca-kaca. Sungguh, Taehyung syok luar biasa.
"Baiklah, saya permisi." Dan tubuh tegap Jang Suk menghilang dibalik pintu.
"Phhff- hahahaha..." tawa Hoseok akhirnya pecah setelah kepergian Jang Suk. Menyadarkan Taehyung dari keterkejutan untuk kemudian mendelik sebal ke arah Hoseok, "Hentikan Hyung !" Hardiknya. Memang, Hyungnya ini senang sekali menggodanya. Sama seperti Hyung-Hyungnya yang lain. Menyebalkan.
"Kenapa tak kau terima, Tae? Ku rasa Jang Suk-ssi cocok untukmu." Goda Hoseok, sesekali ia masih terkikik geli. Benar kan?
"Apa kau gila?! Jika aku membawa calon 'istri' seperti Jang Suk kehadapan Appa, aku berani jamin Appa akan meninggal saat itu juga !" sentak Taehyung galak. "Aku ini cari istri, Hyung. Bukan cari security." Sungutnya sebal.
Hoseok hanya mengangkat bahu acuh.
Hening kemudian.
"Hei, Taehyung... bagaimana jika sampai hari ini berakhir dan kau belum juga menemukan'nya'?"
Taehyung menatap balik Hoseok yang menatapnya kemudian berujar pelan, "yah, kalau memang begitu,terpaksa..."
"Terpaksa apa?" Tanya Hoseok, menanggapi ucapan ambigu Taehyung.
"Terpaksa, kau yang harus menikah kontrak denganku." Taehyung tersenyum jahil sambil menaik turunkan alisnya.
Hoseok melongo sebelum kemudian balas menyeringai, "Tak masalah, itu pun jika kau bersedia menjadi 'uke'ku."
Taehyung berubah cemberut, "dalam mimpimu, Hosiki Hyung !"
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka dan Taehyung harus kembali membelalak karenanya. Bukan karena yang berdiri disana itu orang yang seperti Jang Suk tadi, melainkan seorang pemuda berambut hitam, bertubuh tinggi yang menggunakan kemeja kotak biru dan celana jeans dengan warna yang senada. Pemuda itu, pemuda yang Taehyung temui di lift rumah sakit tiga hari yang lalu.
'Mau apa lelaki ini kesini? Mau ikut audisi juga?' Pikiran-pikiran itu mulai memenuhi kepala Taehyung.
Sesaat mereka berdua saling bertatapan. Raut kaget juga kentara sekali di wajah sang pemuda. Membuat Hoseok yang menyaksikannya mengernyit. Selama tiga hari berturut-turut, baru kali ini Hoseok melihat Taehyung menunjukan reaksi yang berbeda terhadap para peserta yang datang. Tak ingin berlama-lama karena penasaran, akhirnya ia berdeham demi memecah keheningan.
"Saya Pengacara Jung, silahkan duduk, Tuan."
Pemuda itu mengangguk dan segera duduk di hadapan Taehyung, terlihat tenang dan begitu percaya diri. Kemudian mengangsurkan sebuah map yang langsung diraih cepat oleh Taehyung untuk dibaca.
'Namanya Jeon Jungkook, nama yang manis. Umur... selisih 6 tahun lebih muda dariku' batin Taehyung meringis,
Ia memperhatikan wajah Jungkook dengan seksama, 'memang kelihatan sih, dia bahkan terlihat sangat manis' batinnya lagi.
Taehyung menutup map yang sudah selesai dibacanya, "Baiklah, coba perkenalkan diri anda dulu." Suara Taehyung terdengar berat dan berwibawa.
"sebenarnya semua informasi tentang saya sudah tertera di map itu. Saya menyarankan anda menanyakan hal-hal yang tidak tercantum disana saja." Sahut pemuda itu datar.
Taehyung melotot, sementara dari sudut matanya, Taehyung bisa melihat Hoseok tengah menunduk menahan tawa. Sialan.
"Oke! Jungkook-ssi,bisa anda jelaskan tujuan anda datang kemari?" Ucap Taehyung pada akhirnya.
'Sabar Tae... sabar.'
"Baiklah. Alasan utama saya datang kemari dan bersedia mengikuti pernikahan kontrak ini adalah uang!" Jawab Jungkook tegas.
Taehyung kembali terbelalak. Selama tiga hari ini ia sudah menanyakan hal yang sama pada puluhan orang yang datang dan jawaban mereka semua terlalu berbelit-belit, walaupun Taehyung tahu tujuan mereka sama, uang. Tapi pemuda dihadapannya ini tanpa basa-basi mengakuinya terang-terangan.
"Apa anda tidak bisa bekerja sehingga rela menjalani nikah kontrak ini?" Pertanyaan sinis itu tanpa sadar meluncur begitu saja dari bibir Taehyung.
Jungkook tersenyum manis, "sebelum saya menjawab, bisakah anda jelaskan lebih rinci mengenai pernikahan kontrak ini?"
"Tentu. Jadi pernikahan ini hanya berlaku selama enam bulan saja, itu demi memenuhi keinginan Ayah saya yang sedang sakit dan ingin melihat saya menikah."
"Hanya enam bulan?" Jungkook membeo, "itu berarti anda mengharapkan Ayah anda meninggal sebelum kontrak ini selesai, jadi beliau tidak mengetahui semuanya?" Tanya Jungkook tak kalah sinis.
Taehyung terenyak, wajahnya merah padam mendengar ucapan Jungkook barusan.
"Jangan sembarangan bicara, anda pikir saya ini orang seperti apa? Tidak bermoral, begitu?"
Jungkook masih duduk tenang di kursinya, "jangan marah dulu. Bukankah tadi secara tidak langsung anda juga mengatakan saya tidak bermoral dengan menjalani nikah kontrak ini hanya demi uang?"
"Bukankah anda sendiri yang mengatakannya?" Balas Taehyung tak mau kalah.
"Tapi anda baru mendengar satu kalimat dari saya dan langsung menyimpulkan begitu saja. Ternyata anda termasuk lelaki picik juga." Jungkook tersenyum sinis.
Taehyung terdiam, amarahnya serasa sudah mencapai ubun-ubun dan siap meledak. Seumur hidup, baru kali ini Taehyung bertemu seseorang yang sangat keras kepala seperti pemuda di hadapannya ini.
Hoseok yang merasakan ketegangan itu segera berdeham untuk mencairkan suasana.
"Jungkook-ah, bagaimana kalau anda menjelaskan pada kami, apasaja yang bisa kami ketahui tentang anda?"
Jungkook menatap pengacara itu lalu tersenyum tulus. "Saya bekerja sebagai salah satu kayawan di perusahaan swasta. Gaji saya tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan saya sehari-hari. Jika bukan karena keadaan mendesak, saya tidak akan mau mengikuti pernikahan kontrak ini. Tapi saat ini, saya benar-benar sedang membutuhkan uang. Sangat butuh uang. Hanya itu yang bisa saya katakan."
"Untuk apa kau membutuhkan uang banyak dalam waktu singkat? kau terlibat hutang eoh?" Potong Taehyung, tanpa sadar ia tak lagi menggunakan kata 'anda' pada Jungkook.
"Bukan, bukan itu. Alasannya cukup pribadi. Saya akan sangat menghargai bila anda tidak menanyakannya lebih lanjut. Sama seperti saya yang tidak mengungkit lebih dalam mengenai pernikahan kontrak ini."
Taehyung kembali terdiam, menimbang-nimbang apakah harus menerima pemuda ini atau tidak. Tapi kalau boleh jujur, sejak awal bertemu, Taehyung memang sudah punya ketertarikan pada Jungkook. Dan melihat bagaimana pemuda itu berbicara dan bersikap di depannya barusan, Taehyung tau, pemuda di hadapannya ini... berbeda.
"Saya tahu masih banyak kandidat lain yang mungkin lebih baik dari saya, tapi karena kita saling membutuhkan disini, saya bisa menawarkan kerjasama untuk membuat pernikahan ini sukses sampai batas waktu yang ditentukan." Jungkook kembali bersuara, namun kali ini dengan nada yang lebih lembut dan sopan.
Taehyung melirik kearah Hoseok disampingnya, yang memberikan isyarat setuju melalui bahasa tubuhnya dan Taehyung segera menghela napas. Sesaat, ia ingin mundur dan lari saja dari ide gila ini. Tapi bayangan Ayahnya selalu muncul di saat terakhir, memaksa Taehyung untuk terus melanjutkan ini semua.
"Baiklah, Jungkook... kau diterima. Surat perjanjiannya akan segera dibuat oleh Pengacara Jung." Putus Taehyung akhirnya. Entah harus bersyukur atau menyesal dengan keputusan ini. Namun pemuda yang sedang menatapnya itu benar-benar membuatnya hilang akal.
"Tapi maaf, sebelum surat perjanjiannya dibuat, saya ingin mengajukan beberapa persyaratan."
Sebelah alis Taehyung terangkat, 'persyaratan? Apa lagi sekarang?'
"Katakan saja." Hoseok yang menyahut, pengacara itu mengeluarkan kertas dan pena, bersiap untuk mencatat.
"Yang pertama. Untuk enam bulan pernikahan, saya meminta sejumlah uang kompensasi. Setengahnya dibayar di awal pernikahan dan setengahnya lagi di akhir perjanjian. Selain dari itu saya tidak akan menerima pemberian apapun dari anda, baik berupa barang ataupun uang." Jelasnya.
"Oke, berapa yang kau inginkan?"
"500 juta."
"500 juta?!" Ulang Taehyung.
"Saya rasa jumlah uang itu tidak seberapa bagi anda, berbeda dengan saya yang memang sangat membutuhkannya."
Taehyung menghela keras, "baiklah aku setuju. Cek akan segera kau terima saat upacara pernikahan selesai. Lanjutkan."
Jungkook mengangguk, "Yang kedua. Tidak ada sex dalam pernikahan ini."
"Uhukk!" Hoseok tersedak kopi yang memang sedang diminumnya sementara Taehyung -lagi-lagi- mendelik tak percaya, "A-Apa?!"
"Tentu karena pernikahan ini hanya sementara, jadi saya tidak ingin menanggung resiko apapun setelah kontrak ini selesai. Baik itu secara fisik ataupun psikis. Lagipula tujuan utama ide gila ini bukan untuk hal-hal seperti itu kan? Saya bisa bekerjasama menunjukan kalau kita adalah pasangan bahagia di depan semua orang. Tapi, jangan berharap lebih dari itu."
Taehyung mengangguk-angguk, ternyata pemuda ini cerdas juga. Tapi, dia kan belum kenal siapa Kim Taehyung. Diam-diam Taehyung menyeringai dalam hati. "Baiklah, ada lagi?"
"Tidak. Untuk saat ini, itu saja sudah cukup."
"Baiklah kita sepakat. Surat-suratnya akan segera diurus secepatnya."
Hoseok menyerahkan kartu namanya pada Jungkook, "ada nomor saya disana, saya akan menghubungi anda bila surat-surat itu telah selesai dibuat."
Jungkook membaca sekilas kartu nama itu sebelum mengantonginya. "Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu."
"Biar ku antar." Taehyung buru-buru bangkit dari kursi.
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri. Permisi." Ucap Jungkook lembut lalu membungkuk dan pergi dari ruangan itu.
Taehyung menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi.
"Pemuda yang menarik,eoh?" Hoseok tersenyum jahil.
"Yeah, menarik. Calon istriku yang sangat menarik." Jawabnya sambil tersenyum lebar.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
A/N :
Hai... /lambailambai/plak
It's fast update right? Kkk...
Well... karena ff ini remake dri novel dan ff sbelumnya jd saya cma tinggal edit dan tambah sedikit di sana sini... jadi kemungkinan (kalau saya lg ga males/plak) ff ini bsa cepet di update...
Makasih untuk respon kalian para Readers-san...
Last... gimana dgn chap ini... mau di lanjutkah? /kedipkedip
