Married?!

A TaeKook Fanfiction by Rain

Remake dari Novel "istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan

.

.

.

Jungkook tak henti-hentinya menggerutu semenjak pulang dari kantor Pengacara sore itu. Dari sekian banyaknya penduduk di Korea Selatan, kenapa harus pria bermata tajam itu yang memasang iklannya? Dan sekarang ia harus menghabiskan waktu enam bulannya sebagai istri kontrak dari pria itu.

Dan lagi, 500 juta?! Astaga... Bisa-bisa kedua orangtuanya bangkit dari kubur jika tau putra tunggal mereka menikah kontrak demi uang 500 juta.

Jungkook mungkin sudah gila, tapi ia memang telah berniat untuk sembuh. Ia akan berjuang demi kesembuhan itu dan jalan ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa mendapatkan uang banyak untuk biaya operasi dan pengobatan lainnya. Tapi, bagaimana jika pria itu mengira bahwa Jungkook adalah seorang matrealistis? Karena jujur saja, Jungkook merasa tidak ingin kalau sampai pria itu berfikir hal-hal yang buruk tentangnya.

.

.

.

Hari ini Taehyung akan menjemput Jungkook untuk makan malam bersama seluruh anggota keluarganya di rumah, sekaligus sebagai acara perkenalan. Seharian, Jungkook sudah membongkar seluruh isi lemarinya untuk mencari pakaian apa yang sekiranya cocok ia kenakan nanti. Tapi apa mau dikata, berapa kalipun Jungkook mengobrak-abrik isi lemarinya, pakaiannya akan tetap sama. Hanya ada pakaian kerja, beberapa potong celana jeans dan kaos oblong. Sama sekali tak bisa disamakan dengan pakaian mahal yang dikenakan oleh Taehyung.

Menyerah, akhirnya Jungkook memilih mengenakan kemeja dan celana jeans saja, yang penting terlihat rapi.

Dan benar saja. Ketika Taehyung datang menjemputnya, lelaki itu terlihat semakin tampan dengan celana katun hitam yang pasti terbuat dari bahan yang mahal. Di saku kemeja biru muda berlengan pendek yang di pakainya, terdapat logo merk pakaian yang mahal. Belum lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri pemuda itu. Rasanya Jungkook jadi minder sendiri. Entah bagaimana reaksi keluarga Taehyung bila melihat penampilan Jungkook nanti.

"Hei, kenapa melamun? Kau sudah siap, kan?" Tegur Taehyung yang sudah berada di depannya.

Jungkook hanya mengangguk lemah dan mereka bergegas memasuki mobil Taehyung.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Taehyung, Jungkook hanya diam. Ia masih sibuk menerka-nerka. Bagaimana bila keluarga Taehyung itu seperti orang kaya kebanyakan? Yang memandang status dan derajat diatas segalanya. Mungkin nanti ia akan dicela dan dicemooh disana. Atau jangan-jangan keluarga Taehyung tidak akan merestui pernikahan mereka? Kalau sampai itu terjadi, darimana lagi Jungkook mendapatkan dana untuk operasi?

"Tenang saja, itu tidak akan terjadi." Tiba-tiba suara rendah Taehyung memecah keheningan.

"Uh? Apa?" Jungkook menoleh dan mendapati Taehyung tengah tersenyum sambil sesekali meliriknya.

"Kau mengkhawatirkan reaksi keluargaku kan? Tenang saja, mereka semua itu sangat ramah. Apalagi hyung dan sepupuku, mereka benar-benar ramah." Taehyung berucap misterius, ia seolah-olah bisa membaca isi kepala Jungkook saat itu juga.

Jungkook menghela napas, "Yeah, semoga saja." Sahutnya malas. Taehyung tertawa mendengarnya, suara tawanya terdengar ramah di telinga Jungkook, membuat hatinya berdesir. Perasaan apa ini?

Mobil Taehyung berhenti tepat di halaman sebuah rumah mewah, dengan beberapa mobil berjajar disana. Jungkook menggigit bibir bawahnya gugup. Kekayaan keluarga Taehyung memang bukan main-main. Rasa khawatir semakin merayapi hatinya namun tepukan Taehyung kembali menyadarkannya. "Ayo masuk."

Jungkook mengangguk, mengikuti langkah Taehyung keluar dari mobil.

"Ah, aku lupa. Mulai detik ini biasakan untuk memanggilku 'Hyung' ne, Kook-ah." Pinta Taehyung sambil tersenyum ketika mereka berjalan beriringan menuju pintu utama.

"Kenapa?" tanya Jungkook polos. Taehyung jadi gemas sendiri di buatnya.

"Tentu saja karena aku lebih tua darimu, bocah."

Jungkook mencibir lucu, "Tapi, kau kan bukan Hyung-ku."

Taehyung terkekeh, "Memang bukan. Tapi aku ini adalah calon suamimu, Kookie-ya."

Saat sampai di pintu utama, Taehyung -entah refleks atau sengaja- merangkul bahu Jungkook dan mengusapnya pelan. Aksi itu sedikit banyak mengurangi keresahan di hati Jungkook. Lalu mereka segera masuk menuju ruang tamu dan disana sudah ada beberapa orang yang hanya dengan sekali lihat saja, sudah dapat ditebak bahwa mereka adalah orang-orang berkelas.

Jungkook kembali menggigit bibir, diam-diam ia memantapkan hati.

'Bertahanlah Jungkook... bertahanlah. Demi uang 500 juta dan juga kanker sialan ini.'

.

.

.

Suasana di kediaman Kim terlihat ramai. Taehyung benar, keluarganya memang sangat ramah.

Saat pertama berkenalan, sang kepala keluarga, Tuan Kim menyambutnya hangat dan langsung meminta Jungkook memanggilnya Appa. Lalu ada Seokjin, yang langsung bisa akrab dengannya begitu saja. Baekhyun, yang meski terlihat galak namun sebenarnya begitu baik, belum lagi pasangan mereka -Namjoon dan Chanyeol- yang begitu ramah. Dan jangan lupakan Jimin juga Yoongi. Pasangan yang menurut Jungkook sangat unik.

Setelah selesai acara makan malam. Mereka berkumpul di ruang keluarga dan mengobrol berasama.

"Ceritakan pada kami mengenai orangtuamu, Kook-ah. Dimana mereka tinggal sekarang?" tanya Tuan Kim kala itu.

Jungkook tersenyum sopan. "Eomma meninggal saat aku baru masuk SMA, lalu 2 tahun kemudian, Appa menyusul. Aku hanya hidup sendirian setelahnya karena aku anak tunggal, Appa."

Serentak terdengar helaan napas yang tertahan. Jungkook mati-matian menahan air mata yang siap menggenang dikedua pelupuknya. Perhatian dan tatapan keluarga Taehyung padanya terlihat tulus tanpa dibuat-buat.

Lalu, tanpa sengaja maniknya menangkap tatapan tajam Taehyung yang di arahkan padanya. Dalam hati, ia bertanya-tanya. Apa yang dipikirkan laki-laki itu tentangnya? Kaget? Kasihan? Atau hanya menganggapnya cari perhatian?

"Lalu, bagaimana dengan masa kecilmu, Kook-ah. Ayo cerita lebih banyak." Pinta Seokjin sambil menggenggam erat jemarinya.

Jungkook membalas genggaman Seokjin dengan lembut, mengabaikan tatapan Taehyung yang masih sama tertuju ke arahnya.

"Appa bekerja sebagai buruh pabrik, sementara Eomma hanya menjadi ibu rumah tangga. Kami menetap di Busan waktu itu."

"Bagaimana dengan sekolahmu?" Baekhyun bertanya antusias.

"Setelah lulus SMA, aku ke Seoul untuk mengadu nasib. Mengejar beasiswa dan masuk Universitas. Sayang, Appa dan Eomma tak bisa menyaksikan saat aku wisuda. Setelah tamat kuliah, aku diterima kerja di perusahaan swasta tempatku bekerja sekarang."

Tuan Kim mengangguk-angguk mendengar penuturan Jungkook. Ada kepuasan tersendiri di wajahnya.

"Appa tidak tahu bagaimana caranya kalian bisa bertemu, tapi untuk kali ini Appa bangga dengan pilihanmu, Taehyung." Ucap Tuan Kim, menepuk-nepuk bahu anaknya dengan bangga.

Taehyung hanya tersenyum menatap Jungkook yang tersipu.

"Semoga saja kau tidak menyesal telah memilih Taehyung sebagai suamimu ya, Kookie-ya." Celetuk Jimin dengan santainya. Semua yang ada disana sontak tertawa.

"Benar, masih ada kesempatan jika kau ingin berubah pikiran." Yoongi menambahi. Taehyung melempar deathglare andalannya kepada pasutri itu, tapi sepertinya hal itu sama sekali tidak mempan bagi mereka.

"Sudahlah, kalian ini. Bisa tidak sih sehari saja tidak bertengkar?" Ujar Chanyeol menengahi.

"Itu sulit Hyung. Menggoda Taehyung itu menyenangkan."

"Jimin..." kali ini Namjoon yang bersuara. Jimin hanya cengengesan dan bersembunyi di balik punggung Yoongi.

Jungkook mengamati semuanya itu dalam diam, ia sesekali ikut tertawa ketika Taehyung kembali memulai sesi adu mulutnya dengan Jimin. Terkadang Baekhyun juga ikut heboh menimpali. Suasana kekeluargaan begitu terasa disana. Hangat, berbeda sekali dengan kehidupannya yang sepi, dingin dan kering karena hanya sebatang kara.

.

.

.

Taehyung menenggak wine di depannya hingga tandas. Keluarganya memang salah satu penikmat wine, jadi wajar jika di rumahnya banyak tersedia aneka jenis wine. Gelas ke sepuluh dan Taehyung sudah mulai mabuk, tapi pikirannya masih saja kusut. Biasanya, wine mampu menghilangkan penat dan juga stressnya, tapi sepertinya kali ini tidak berlaku. Jeon Jungkook benar-benar membuat otaknya kacau. Seharusnya pemuda seperti Jungkook bisa ditebak dengan mudah. Berasal dari keluarga sederhana dan sekarang memimpikan untuk bisa hidup mewah meakipun harus dengan cara menikah kontrak. Tapi, Jungkook sepertinya bukan pemuda sembangaran. Dibalik penampilannya yang lugu, terdapat kepala yang keras dengan sejuta akal bermain disana.

Tak lama, Hoseok datang dengan membawa map di tangannya.

"Jungkook sudah menandatangani surat perjanjian ini tadi, kau bacalah dulu." Ucap pengacara itu sambil menyerahkan map ke tangan Taehyung.

"Dan aku juga sudah memberikan cek sebesar 250 juta padanya."

Taehyung mengangguk, "Lalu bagaimana tanggapannya?"

"Tidak ada, ia bahkan tidak menunjukkan ekspresi bahagia sama sekali." Terang Hoseok.

"Heh,, mungkin saja ia hanya bersandiwara. Mana ada orang yang tidak senang diberi uang sebanyak itu? Lalu tidak lama lagi ia akan menjadi menantu keluarga Kim yang terpandang. Setelah kontrak ini habis, ia bebas berkeliaran semaunya dengan uang 500 juta di kantong dan juga tubuh yang tak tersentuh. Yah, itupun kalau ia masih virgin." Cerocos Taehyung sinis. Entah kenapa emosinya selalu meluap-luap jika sudah membicarakan soal Jungkook.

"Kau mulai menyukainya ya?" Selidik Hoseok.

Taehyung mendengus, "Suka? Hyung, kalau aku mau mencari gadis atau pria matrealistis, di luar sana masih banyak. Tidak perlu dengan orang yang senang memakai topeng macam Jungkook."

"Yah... siapa tahu." Balas Hoseok acuh, lalu melenggang pergi meninggalkan Taehyung yang mengerang kesal.

'Suka? Tidak mungkin! Iya kan'

Hah~~

Hoseok malah semakin menambah pikirannya saja. Akhirnya, Taehyung memutuskan untuk pergi ke kamar. Setelah sampai, direbahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Kepalanya berdenyut sakit, sepertinya ia benar-benar mabuk. Namun baru sebentar ia memejamkan mata, ponsel yang tergeletak di samping tubuhnya itu berdering.

"Hallo..."

"Taetae... i miss you." Bagus. Irene menelpon disaat yang tidak tepat.

"Hai bebh, me too. Bagaimana kabarmu?"

"Lebih baik jika ada kau~ kapan kau kembali ke London?"

"Entahlah, baby. Masih banyak hal yang harus ku urus disini."

'Yeah, pernikahanku lebih tepatnya.' Tambah Taehyung dalam hati.

"Begitukah? Memangnya bagaimana keadaan Appamu?"

"Sudah lebih baik. Hanya masih perlu banyak istirahat."

"Cepatlah kembali, aku merindukanmu, Taehyungie." Rengek Irene di sebrang telpon.

Taehyung menghela napas. Bagaimana mungkin Irene yang hampir tiap malam mendapat undangan party, sempat merindukannya? Kau pasti bercanda.

"Aku juga baby. Secepatnya aku akan kembali setelah urusanku disini selesai."

"Baiklah, jaga dirimu baik-baik dan jangan selingkuh! Oke?"

Taehyung tertawa dalam hati.

Selingkuh katanya? Ia bahkan akan menikah kontrak dengan orang lain!

"Yeah, kau juga jaga dirimu disana, bye Honey."

Bye Tae, I Love you."

"Me too..."

Pip

Taehyung melempar ponselnya sembarangan dan kembali memejamkan mata. Kepalanya makin terasa sakit. Menikah kontrak dengan seorang pemuda mata duitan? Taehyung pasti sudah gila.

.

.

.

Semua mata memandang takjub pada Jungkook yang baru saja keluar dari ruang ganti. Hari ini adalah jadwal fitting baju pengantin dan juga foto pre-wedding. Jungkook terlihat begitu cantik dan manis dengan setelan tuxedo yang membalut pas tubuh rampingnya, terlihat begitu elegan dan mewah.

"Kau sangat cantik, Kookie." Puji Seokjin tulus.

Jungkook tersenyum malu. Ia memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Seumur hidup, baru kali ini ia mengenakan pakaian mewah seperti ini.

Sedangkan Taehyung, mata lelaki itu tak lepas memandangi figur Jungkook di depannya. Ia akui Jungkook memang manis, apalagi saat pemuda itu tersenyum dan menampakkam gigi kelincinya yang terlihat imut. Saat memakai pakaian sederhana saja kecantikan alaminya tak bisa ditutupi. Dan sekarang, ketika ia mengenakan pakaian yang akan dikenakan saat resepsi nanti, kecantikan Jungkook semakin terpancar. Jika keadaannya berbeda, mungkin Taehyung sudah menghampiri Jungkook dan melumat bibir semerah cherry itu sampai habis.

"Wah, wah... saking terpesonanya, kau sampai tidak berkedip menatapnya eoh?" Goda Baekhyun yang memang ikut menemani mereka.

Taehyung hanya berdecak sebal sebelum pergi dari hadapan Baekhyun dan menghampiri Jungkook.

"ish, Dongsaeng kurang ajar!" Sungut Baekhyun.

Jungkook terenyak saat melihat pantulan Taehyung yang berdiri di belakangnya dari cermin.

"Ayo." Ucap Taehyung datar dan menggamit lengannya.

Jungkook hanya menurut, mengikuti Taehyung yang menariknya ke studio foto. Namun karena lengah, ia tak sengaja tersandung dan hampir terjerembab, kalau saja tak ada lengan Taehyung yang dengan sigap menahannya.

"Hati-hati. Baju itu mahal." Ucap Taehyung lagi.

Wajah Jungkook pias mendengarnya, ia seperti merasa terhina dengan kata-kata Taehyung barusan.

"Yeah, bahkan lebih mahal dari harga calon istrimu!" Balas Jungkook ketus.

Taehyung menatap tajam, "sepertinya lidahmu semakin tajam saja, Kook."

"Memang sejak dulu sudan begini. Kau menyesal, eh?"

"Apa aku punya pilihan lain?"

Brengsek! Maki Jungkook dalam hati, namun ia hanya memilih diam dengan wajah merah padam.

"Tsk, sudahlah. Nanti saja kita lanjutkan. Aku ingin hari ini cepat selesai."

.

.

.

Mobil Taehyung terparkir apik di depan gedung apartemen Jungkook. Kegiatan mereka hari ini akhirnya usai. Jungkook akhirnya bisa bernapas lega. Karena baginya foto pre-wedding itu adalah siksaan!

Bagaimana tidak, sepanjang pemotretran, mata tajam Taehyung tak pernah lepas menatapnya. Apalagi saat mereka harus berpose mesra dengan jarak yang hampir tidak ada. Tatapan intens yang Taehyung berikan membuat dadanya sesak. Jantungnya berdebar kencang dan hatinya bergejolak. Kalau terus seperti ini, mungkin Jungkook akan mati perlahan-lahan. Bukan karena kanker yang dideritanya melainkan karena seorang Kim Taehyung.

"Aku masuk dulu, terimakasih sudah mengantarku. Annyeong."

Namun, belum sempat Jungkook membuka pintu mobil, lengannya telah lebih dulu ditarik oleh Taehyung.

"Jeon Jungkook, katakan padaku. Untuk apa kau membutuhkan uang sebanyak itu?"

Jungkook tersenyum sedih. Jadi inikah alasan mengapa Taehyung bersikap sinis padanya seharian. Apa Taehyung benar-benar berfikir bahwa dia adalah seorang matrealistis?

"Aku... semua orang butuh uang, H-Hyung. Bahkan untuk mati saja, kita butuh uang untuk membeli peti mati dan pemakaman." Jawab Jungkook pelan. Ini pertama kalinya ia memanggil Taehyung 'Hyung' saat mereka hanya berdua. Karena biasanya panggilan itu ia gunakan saat sedang bersama keluarga Taehyung saja. Jungkook berharap Taehyung akan melepaskannya dan berhenti bertanya macam-macam.

Tapi, sepertinya cara itu tak mempan, meski sepintas ia bisa melihat Taehyung tertegun untuk sesaat.

"Aku serius Kook. Kau tidak terlihat seperti pria atau bahkan gadis lain yang ku kenal. Pasti ada alasan serius kenapa kau melakukan semua ini, iya kan?"

Jungkook menatap Taehyung, namun detik berikutnya ia kembali memalingkan wajah.

"Kau belum mengenal siapa aku, Hyung."

"Kalau begitu, jelaskan! Katakan semuanya padaku agar aku tahu siapa kau sebenarnya, Jungkook." Desak Taehyung.

Ia meraih dagu Jungkook dengan tangan kanannya, agar pemuda itu kembali menatapnya. "Katakan padaku." Ucapnya pelan.

Jungkook menelan ludah gugup. Debaran itu kembali muncul, wajahnya terasa panas mendapati Taehyung menatapnya dengan lembut dari jarak sedekat itu.

"Katakan padaku, Jungkookie." Bisik Taehyung lirih. Wajahnya semakin mendekat hingga kening dan hidung mereka bersentuhan. Tangannya yang semula berada di dagu Jungkook kini berpindah ke rahang, menyelipkan jemari panjangnya di sela helai rambut Jungkook, sementara tangan kiri Taehyung sudah berada di tengkuknya, membuat Jungkook tak bisa berkutik.

Astaga! Jungkook bisa mati kehabisan napas saat itu juga.

Buru-buru Jungkook memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan Taehyung yang masih setia bertengger di wajahnya. "Suatu saat kau juga akan tahu, tapi tidak sekarang."

Taehyung menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Aku masuk dulu, Hyung. annyeong." Jungkook cepat-cepat keluar dari mobil. Berlari memasuki gedung apartemennya tanpa menoleh lagi pada Taehyung.

"Shit!" Maki Taehyung sambil memukul keras stir mobilnya. Memikirkan semua kemungkinan yang ada membuat Taehyung nyaris gila.

Jeon Jungkook... siapa laki-laki itu sebenarnya? Mengapa Taehyung begitu frustasi hanya karena memikirkannya? Apa mungkin benar yang dikatakan Hoseok? bahwa ia mulai menyukai -mencintai- pemuda itu?

"Aarrghh!" Taehyung mengerang dan mengacak surai maroonnya frustasi.

.

.

.

Jungkook menatap tumpukan undangan dalam box yang ada di hadapannya. Tadi, Namjoon sengaja mampir ke apartemennya dan menyerahkan setumpuk undangan itu untuknya.

Menghela napas, Jungkook mengambilnya satu dan memandanginya. Ada namanya dan Taehyung disana, tertulis dengan tinta emas, sangat indah. Seandainya saja ini adalah pernikahan cinta dan bukan kontrak, pasti Jungkook akan sangat beruntung bisa dicintai seorang pria seperti Taehyung.

Menggeleng lemah, Jungkook berusaha menepis pikiran itu. Dilihatnya lagi tumpukan undangan di dalam box. Undangan sebanyak ini mau ia bagikan ke siapa? Toh, ini hanya pernikahan sementara, semakin sedikit yang tahu akan semakin baik kan? Lagipula orang yang dekat dengannya hanyalah Kyungsoo dan Jinsoo tetangganya. Di kantorpun hubungan Jungkook dan karyawan lain hanya sebatas rekan kerja saja, tidak lebih.

Dan bicara soal Kyungsoo, Jungkook sudah menceritakan semuanya kemarin. Beruntung, Kyungsoo mengerti dan mendukung segala keputusan yang diambilnya. Kyungsoo memang Hyung yang baik.

Tiba-tiba Jungkook meringis sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Belakangan ini, rasa sakit itu memang sering muncul. Bahkan Jungkook sempat beberapa kali merasakan kaku pada tangan dan kakinya.

Penyakitnya semakin parah. Ia harus secepatnya bertemu Dokter Kang untuk membicarakan soal operasi.

Ah... lebih baik ia berangkat sekarang saja. Tapi sebelum pergi, Jungkook mengambil satu undangan dan memasukkannya ke dalam tas.

.

.

.

Jungkook mengetuk pintu ruangan Dokter Kang pelan. Setelah dipersilahkan, ia segera masuk dan disambut senyum ramah sang Dokter.

"Jungkook, apa kabar? Silahkan duduk." Sapanya.

Jungkook tersenyum dan segera duduk di hadapan Dokter Kang.

"Apa ada keluhan lagi?"

Pemuda Jeon menggeleng, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya untuk diserahkan pada Dokter Kang.

Dokter itu mengernyit bingung, "Undangan? Kau akan menikah?"

"Ya, beberapa minggu lagi, Dokter."

"Wah, selamat kalau begitu." Ujar Dokter Kang senang, turut bahagia atas kabar gembira itu.

"Terimakasih Dok, dan saya kesini juga ingin membicarakan soal operasi."

Binar senang semakin terlihat di wajah Dokter muda itu "Ah, Kau sudah memutuskannya?"

"Eum. Saya ingin operasinya dilaksanakan setelah saya menikah."

Dokter Kang melihat tanggal yang tertera di undangan tersebut,

"Baiklah, tiga hari setelah pernikahanmu, kita akan melangsungkan operasi. Apa itu tidak mengganggu acara bulan madu kalian?" Tanyanya kemudian. Sedikit menggoda Jungkook rupanya.

Yang digoda hanya tersenyum dan menggeleng. Bulan madu apanya? Hubungan intim saja tidak ada.

"Oh iya, Kook-ah. Apa calonmu tahu tentang hal ini?"

Terdiam sejenak, Jungkook akhirnya menjawab, "Ne, dia tahu Dokter." Bohongnya. Ia hanya tidak ingin Dokter Kang berfikir dan bertanya macam-macam.

"Baguslah, karena dalan hal ini dukungan dari keluarga sangat diperlukan."

Jungkook mengangguk setuju.

"Dokter, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Apa? Katakan saja."

"Berapa persen peluang berhasilnya operasi ini?"

Dokter Kang terdiam cukup lama sebelum menjawab, "Kau harus tetap optimis Kook. Banyak-banyaklah berdoa pada Tuhan, Dia-lah yang menentukan hidup matinya seseorang."

Jungkook menggingit bibir bawahnya mendengar jawaban Dokter Kang.

Kenapa kedengarannya seperti nasihat untuk orang yang mau meninggal, ya. Batinnya meringis.

"Saya mengerti Dokter. Kalau begitu saya permisi."

.

.

.

Suara gelak tawa terdengar saat Jungkook memasuki kediaman keluarga Kim. Seluruh pasang mata yang ada disana sontak menoleh kearah kedatangannya.

"Jungkook, kenapa tidak bilang ingin berkunjung? Taehyung kan bisa menjemputmu. Kau baru pulang kerja?" sapaan ramah dari Seokjin membuat Jongkook hanya mengangguk canggung.

"Masuklah, Jangan hanya berdiri sana, Kook." Namjoon ikut bersuara.

"Kotak apa yang kau bawa?" Tanya Chanyeol penasaran saat Jungkook sudah duduk di antara mereka di ruang tengah.

"ini undangan yang di antar Namjoon Hyung ke rumah."

"Kenapa belum kau bagikan?"

"Sudah kok, Hyung. Itu sisanya."

Namjoon melongok kotak yang dibawa Jungkook, "Tapi ini masih banyak, Jungkook. Memang berapa orang yang kau undang?"

"Hanya tiga, Hyung."

"Tiga?!" seluruh pasang mata yang ada disana melotot tak percaya.

"Kenapa hanya tiga? Memangnya kau tidak mengundang teman-teman kantormu? Atau teman kuliah, misalnya?" Baekhyun menyuarakan pertanyaan itu.

Jungkook terdiam. Ia bingung ingin menjelaskan apa. Dan saat itulah Jimin datang bersama dengan Taehyung di belakangnya.

"Hai semuanya." Sapa Jimin riang dan langsung berjalan ke arah Yoongi untuk mengecup kening pemuda itu.

Sementara Taehyung duduk tak jauh darinya dengan kening berkerut menatap tumpukan undangan pernikahan mereka.

"Kenapa belum kau sebar?" Tanya Taehyung heran. Jungkook sontak gugup dibuatnya.

"Jungkook hanya mengambil tiga. Dan itu sisanya." Baekhyun yang menjawab.

"Kenapa? Salah cetak ya? Telepon saja ke percetakannya?" Protes Jimin.

"Bukan salah cetak. Tapi Jungkook memang hanya mengundang tiga orang." Yoongi menjawab pertanyaan pasangannya itu.

Jungkook makin salah tingkah. Terlebih ketika ia melihat Taehyung menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Lho? Kenapa Kookie-ya? jangan-jangan kau malu ya karena menikah dengan om-om seperti Taehyung?" celetukan Jimin membuat semua orang yang ada disana tertawa, kecuali Jongkook dan Taehyung.

"Jangan sembarang bicara, Jim." Tegur Chanyeol.

"Tapi mungkin saja kan, Hyung."

"Sudah, Hentikan. Jangan diteruskan lagi." Lerai Baekhyun akhirnya.

Jungkook hanya menunduk menahan senyum.

"Kau mau kemana, Tae?" teriakan Seokjin yang tiba-tiba itu mengagetkan Jungkook. Ia mendongak dan melihat Taehyung melenggang begitu saja dari ruang tengah dan menghilang dibalik pintu.

Apa dia tersinggung dengan candaan Jimin tadi?

"Kau sih, Jim. Taehyungnya ngambek tuh." Celetuk Namjoon.

"Kok aku? Kan kalian juga ikut tertawa." Elak Jimin.

"Tapi kau yang memulai." Baekhyun menimpali.

"kenapa begitu? Yoongi Hyung..." Jimin mengadu pada Yoongi disebelahnya, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Berharap pasangannya itu membelanya.

Yoongi hanya menggeleng, "Candaanmu memang keterlaluan, Jim."

Jimin cemberut sementara yang lainnya kembali tertawa.

Seperti baru teringat sesuatu, Jungkook terdiam kemudian. Ia merasa ada beberapa hal yang perlu di bicarakan dengan Taehyung sebelum mereka menikah.

"Hyung, Tae Hyung kemana ya? Aku ingin bicara dengannya." tanyanya pada Seokjin yang memang duduk di sebelahnya.

Seokjin tersenyum geli.

"Masuk saja ke dalam. Taehyung pasti ada di kamarnya."

"Ma-masuk ke kamarnya, Hyung?" tanya Jungkook kaget. Onyxnya membulat lucu dan Seokjin tak tahan untuk mencubit gemas pipinya.

"Tak apa, Kookie. Toh, kalian juga kan sudah akan menikah."

Wajah Jungkook merona. Namun akhirnya ia tetap bangkit dan berjalan ke arah Taehyung menghilang tadi.

"Jungkook mau kemana?" tanya Namjoon.

"Ke kamar Taehyung."

Jimin yang mendengar itu langsung heboh, "Hati-hati Kookie-ya. Kalau Taehyung nakal, teriak saja yang keras, ya."

Jimin itu benar-benar.

Baekhyun menggeplak kepala Jimin keras. "Jangan takut Kookie-ya. Taehyung ngga gigit kok."

"Yeah, kalaupun iya, paling gigitan sayang."

Ruangan itu kembali riuh dengan tawa. Jungkook hanya menundukan kepala dengan wajah merah padam.

Sesaat, ia ragu apakah harus menemui Taehyung di kamarnya atau kembali ke ruang tengah. Tapi pada akhirnya, ia meneruskan langkahnya hingga ia berdiri dengan canggung di depan pintu kamar Taehyung yang tertutup.

Dengan ragu Jungkook mengetuk pintu.

"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam.

Setelah menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali, Jungkook segera membuka pintu. Dan setelah masuk, pandangannya langsung mengedar ke sekeliling kamar yang sukses membuatnya berdecak kagum. Kamar Taehyung sangat luas, terkesan mewah namun maskulin dengan dominasi warna-warna gelap. Lalu pandangannya jatuh pada Taehyung yang tengah duduk di sofa yang ada disana, menatapnya tajam dengan pandangan yang menusuk, terlihat begitu angkuh dengan kedua tangan yang terlipat di dada.

"M-maaf... aku.."

"Tak usah canggung. Toh setelah menikah nanti kita juga akan tidur sekamar." Ucap Taehyung acuh.

Jungkook membulatkan matanya, "se-sekamar? Tapi ku kira perjanjiannya-"

"Tinggal sekamar bukan berarti kita akan bercinta, kan? Yeah, Kecuali kalau kau yang menginginkannya." Potong Taehyung sinis.

"Ten-tentu saja tidak!" jawab Jungkook gelagapan.

Taehyung menyeringai, kemudian bangkit berdiri.

"Kau yakin? Kita masih punya banyak waktu sebelum kau berubah pikiran." Bisik Taehyung, perlahan mendekat ke arah Jungkook yang masih berdiri di depan pintu yang telah tertutup.

Jungkook mulai was-was ketika Taehyung semakin mendekat. Namun ia tetap tak gentar dan kembali bicara.

"Alasanku kesini karena ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu."

"Begitu? Baiklah. Katakan saja." Jawab Taehyung. Ia sudah berada tepat di hadapan Jungkook. Kedua tangannya dengan santai bertopang pada daun pintu, mengurung pemuda itu.

Jungkook menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Mencegah agar wajahnya tak merona parah.

"Aku mengerti bahwa ini sama sekali bukan situasi yang menyenangkan untuk kita berdua. Karena alasan tertentu kita terpaksa menjalaninya. Jadi, aku mengerti kenapa terkadang kau bersikap dingin, bahkan sinis."

Jungkook menelan ludah gugup, ketika Taehyung menatapnya dengan intens seperti itu. Sebelum kemudian ia melanjutkan.

"Tapi, aku berharap kau bisa sedikit mengubah sikapmu dan menunjukkan kerjasama sampai perjanjian ini selesai. Bukankah permintaanku tak ada bedanya dengan kau yang memintaku untuk mulai terbiasa memanggilmu 'Hyung'?"

Taehyung mengangguk, "Bukan masalah. Tapi, katakan dulu alasanmu membutuhkan uang sebanyak itu?"

Untuk sesaat, Jungkook tertegun.

"Suatu saat kau akan tahu." Jawabnya kemudian.

"Tapi kapan?" Taehyung mendesak.

"Aku belum tahu. Tapi, kau pasti mengetahuinya. Percayalah."

"Baiklah. Aku percaya."

Jungkook hampir bernapas lega, sebelum Taehyung kembali bersuara.

"Lalu, katakan padaku. Kenapa kau hanya mengundang tiga orang temanmu? Apa kau malu menikah denganku?" Taehyung bertanya dengan alis tertekuk dan bibir yang sedikit mengerucut. Seperti merajuk.

Jungkook terkikik kecil. "Bukan... Bukan itu."

"Lalu?" Taehyung kembali memangkas jarak dan kegugupan kembali melanda Jungkook.

"Aku hanya... tidak punya banyak teman... dan... yeah... begitulah..."

"Benarkah?" Taehyung mulai mendekatkan wajahnya, namun Jungkook segera menghentikannya dengan mendorong dada Taehyung pelan.

"Bisa kau antar aku pulang, Hyung?"

"Untuk apa? Kau bisa menginap disini malam ini. Lagipula ini sudah waktunya makan malam." Taehyung mengusap lembut sebelah pipi Jungkook yang merona dengan punggung tangannya. Pria itu tersenyum begitu menawan.

"T-tapi..."

"Tenang saja, Seokjin Hyung sudah menyiapkan kamar tamu untukmu, kecuali..."

Taehyung kembali mendekatkan wajahnya, kali ini ia berbisik di telinga Jungkook, "kau mau kita tidur sekamar dan melakukan 'sesuatu' mungkin?"

"Y-Yaah!" Jungkook mendorong keras tubuh Taehyung hingga menjauh, wajahnya merah padam dengan napas tersengal.

Taehyung terkikik geli melihatnya, 'Manis'.

"Yasudah, ayo turun. Kita makan malam." Taehyung kemudian meninggalkan Jungkook yang mematung, setelah sebelumnya menyingkirkan terlebih dahulu tubuh pemuda itu dari pintu.

Jungkook memegangi dadanya. Jantungnya berdebar tak karuan.

Kim Taehyung benar-benar tidak baik bagi kesehatannya.

Saat Taehyung keluar dari kamar, semua anggota keluarganya telah berkumpul di ruang makan.

"Tae, mana Jungkook?" tanya Seokjin yang tak melihat pemuda itu bersama Taehyung.

"Masih di kamarku. Sebentar lagi juga turun."

Beberapa menit setelahnya Jungkook pun muncul di ruang makan, beruntung rona merah di wajahnya sudah hilang.

"Cookies, ayo ikut makan malam disini." Ajak Baekhyun yang memang lebih dulu menyadari keberadaannya.

Mengangguk, akhirnya Jungkook menempatkan dirinya di sebelah Taehyung, karena memang hanya tinggal kursi itu saja yang kosong.

"Kookie-ya gwaenchanayo?" Jimin bertanya dengan nada khawatir.

"Uh? Ya, aku baik-baik saja kok, Hyung. Memang kenapa?"

"Syukurlah, tadi kami sempat khawatir karena kau tak muncul-muncul. Ku kira Taehyung menggigitmu terlalu keras sampai-sampai kau tidak bisa bangun." Perkataan Jimin yang menggebu-gebu itu membuahkan tawa diantara mereka. Wajah Jungkook kembali merona. Hm, mereka mulai lagi.

"Jangan usil, Jim. Lagipula Kookie juga tidak keberatan kalau ku gigit." Jawab Taehyung sambil mengerling ke arahnya.

Jungkook melotot, apa-apaan sih?

"Wah... tumben Taehyung memanggil Jungkook dengan 'Kookie', berarti sesuatu benar-benar terjadi di dalam." Baekhyun ikut-ikutan menggoda, menambah rona di wajah Jungkook makin kentara.

"Sudah-sudah. Kalian ini seperti anak kecil saja." Tuan Kim angkat bicara, namun senyum bahagia tak bisa di sembunyikan dari wajahnya.

Lalu makan malam itu akan berlangsung seperti biasanya. Penuh canda tawa dan obrolan hangat. Tapi kali ini Jungkook tak bisa lagi memperhatikan percakapan mereka. Benaknya sibuk menenangkan debaran jantungnya yang mulai tak terkendali saat berada di sekitar Taehyung. Karena jujur saja, pesona yang dimiliki pria itu semakin hari semakin sulit untuk di abaikan. Diam-diam, Jungkook bertanya dalam hati.

Apakah benar ia mulai jatuh cinta?

.

.

.

.

To Be Continue