Married?!
A TaeKook Fanfiction by Rain
Remake dari Novel "istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan
.
.
.
"Kita mau kemana, Hyung?" Tanya Jungkook siang itu, sambil membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Taehyung.
Lelaki itu tersenyum lembut, "Bagaimana kalau kita makan Es Krim?"
"Es Krim?" Jungkook membeo. Onyxnya berbinar lucu.
"Hu'um. Bagaimana? Kau mau?"
"Tentu saja aku mau!" jawab Jungkook semangat, membuat Taehyung terkekeh. Pemuda Kim itu kemudian menyalakan mesin dan mobil mereka mulai melaju di jalanan Seoul yang lumayan padat.
Sejak mereka resmi melakukan gencatan senjata tempo hari, hubungan mereka memang sedikit membaik. Mereka sama-sama lebih terbuka terhadap sifat masing-masing. Walau terkadang kecanggungan itu masih terasa sesekali.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di sudut sebuah kafe sambil menikmati es krim.
"Melihat dari caramu memakan es krim, berarti rasanya benar-benar enak ya?" goda Taehyung yang sejak tadi memperhatikan Jungkook menikmati es krimnya dengan lahap dan khidmat. Tangannya refleks terulur ketika melihat noda cokelat di sudut bibir Jungkook, kemudian menghapusnya perlahan dengan ibu jari.
Jungkook tersentak. Sedetik kemudian ia menunduk malu.
"Aku memang suka es krim. Tapi baru kali ini bisa merasakan yang selezat ini, Hyung."
"Tapi, Kafe ini kan sudah lama berdiri, Kook."
Jungkook menjawab dengan senyuman polosnya, "Memang. Tapi, aku tidak pernah berani kemari. Karena harganya pasti mahal."
Taehyung terdiam. Ia jadi merasa menyesal. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu."
"Tidak apa-apa, Hyung." Jungkook menepuk-nepuk pelan punggung tangan Taehyung. "Aku sama sekali tidak tersinggung. Setiap orang sudah mendapat porsi kuenya masing-masing."
"Maksudmu?"
"Bagaimana ya menjelaskannya..." Jungkook terlihat berpikir sejenak, "Setiap orang sudah punya kehidupan dan lingkungannya sendiri. Mereka harus puas dengan keadaannya yang seperti itu. Tak usah repot-repot ingin menyebrang ke habitat kelompok lain." Jelas Jungkook dengan lembut. Tersenyum begitu manis di mata Taehyung.
"Jadi menurutmu, setiap orang harus bersikap pasrah, begitu?"
Jungkook menggeleng sambil mengapit sendok es krim di antara bibirnya. "Bukan pasrah... " ujarnya, kemudian memandang ke luar jendela, "... hanya belajar menerima keadaan dan tidak memaksakan diri. Sesuatu yang dipaksakan itu terkadang tidak baik."
"Seperti pernikahan kita?" Taehyung berujar sambil terkekeh pelan.
Jungkook menoleh, kemudian tersenyum lagi ke arahnya. "Tidak juga. Aku menerimanya sebagai suatu fase hidup yang harus dijalani." Ia nyengir kemudian.
Taehyung tak tahan untuk tak berdecak kagum dan mengacak surai pemuda itu gemas.
"Kau ini sebenarnya umur berapa sih? Kenapa bisa sebijak ini, eum?"
Jungkook tertawa, "Menjadi bijak tak ada hubungannya dengan umur. Sama seperti Hyung yang sudah berumur, tapi terkadang masih suka bertingkah kekanakan."
Taehyung melotot, "Hei, kau sudah berani mengataiku rupanya, heh?" protesnya terdengar marah. Tapi senyuman tak luput dari bibirnya mendengar Jungkook kembali tertawa.
"Kau tahu, lega rasanya mengetahui kalau kau tidak terlalu tersiksa dengan perjanjian yang kita buat ini, Kook-ah." Taehyung menatap serius ke dalam mata Jungkook. Membuat pemuda itu berhenti tertawa dan kembali melemparkan pandangan ke luar jendela.
"Hidup itu sangat singkat, Hyung. Rugi rasanya jika harus dilalui dengan keterpaksaan. Bukankah lebih baik jika dinikmati semampunya?"
'Ya, hidup memang lebih bisa dinikmati ketika waktu kematian dapat dihitung dengan jari...' tambahnya dalam hati.
Taehyung mengangguk-angguk, "Kau benar. Jadi sekarang, bagaimana kalau kau menceritakan soal pacarmu. Apa dia tahu perihal perjanjian ini?" tanya nya dengan mata menyelidik.
"Aku tidak punya pacar, Hyung." Jawab Jungkook datar.
"Tidak pernah sekalipun? Waktu SMA? Seniormu di kampus?"
Jungkook tertawa melihat bagaimana Taehyung mengiterogasinya.
"Mungkin sulit dipercaya, tapi keadaan kita berbeda, Hyung. Saat SMA aku sudah harus terbiasa melakukan segalanya sendiri. Terlebih ketika Appa meninggal. Aku sudah harus mulai bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri."
Jungkook menghela napas, sementara Taehyung masih memperhatikannya tanpa berkedip. Menunggunya kembali melanjutkan cerita.
"Masa kuliah ternyata jauh lebih sulit. Aku harus belajar ektra giat agar bisa dapat beasiswa, dengan begitu biaya hidupku akan sedikit berkurang. Jadi, rasanya mustahil bagiku untuk memikirkan hal-hal yang lain." Jungkook mengangguk, mengisyaratkan jika ceritanya sudah selesai.
"Aku tidak tahu jika kehidupanmu seperti itu, Kook-ah."
"Sudahlah, Hyung. Sekarang ceritakan tentang dirimu."
Lalu mereka berdua hanyut dalam cerita Taehyung. Bagaimana lelaki itu menjalani kehidupannya di Luar Negeri. Jungkook menanggapi setiap cerita Taehyung dengan antusias sampai ia tiba-tiba iseng bertanya.
"Kenapa kau tidak mengajak pacarmu saja untuk menikah, Hyung? Ah! Jangan bilang kalau Hyung tidak punya pacar, aku takkan percaya!"
Taehyung tertawa mendengarnya, "Yah, karena kau sudah berkata begitu, aku terpaksa mengaku..." mata tajam berlapis eyeliner tipis itu mengerling menggoda, "Pacarku di London. Namanya Bae Irene."
Hati Jungkook mendadak seperti diremat. "Lalu?"
"Yeah, aku tidak mungkin menikahinya."
Kedua mata Jungkook spontan membulat, "Kenapa?"
Apa karena Taehyung tertarik padanya?
Atau karena Taehyung mencintainya?
Oh, ayolah Jungkook. Jangan mimpi.
"Entahlah... aku hanya merasa Irene noona tak sesuai dengan kriteria Appa. Lagipula aku tidak berminat memasuki kehidupan pernikahan." Jelas Taehyung.
Jungkook tersenyum kecut. Apa ku bilang, dasar Ge-er.
"Mungkin bukan tidak berminat, Hyung. Hanya belum saatnya saja keinginan itu muncul." Hibur Jungkook, menepuk pelan punggung Taehyung.
"Ya, aku juga berkata begitu pada Appa. Tapi Appa hanya takut saat keinginan itu muncul, beliau sudah tidak sempat menyaksikan itu lagi."
Jungkook tersenyum, "Umur adalah Kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa memastikannya."
'Tidak juga Dokter Kang...' hiburnya sendiri dalam hati.
.
.
.
"Hyung, apa kita bisa mampir sebentar?" tanya Jungkook ketika mereka akan pulang. Waktu juga sudah mulai beranjak petang.
"Tentu. Memang kau ingin kemana, Kookie?"
"Aku ingin membeli benerapa buah." Jungkook teringat akan pesan Dokter Kang yang menganjurkannya untuk mulai mengkonsumsi makanan yang bergizi, seperti buah-buahan, sayuran dan susu.
"Baiklah, kita ke supermarket di sebelah sana saja."
Beberapa menit kemudian, Jungkook sudah sibuk memilih buah. Taehyung berdiri di sampingnya sambil mendorong troli dan sesekali membantu memilih beberapa buah.
Setelah selesai, Jungkook beralih ke rak bagian susu. Mengambil beberapa kaleng susu bubuk full cream dan beberapa kaplet multivitamin. Tiba-tiba, ia menoleh kearah Taehyung dan mendelik ketika dilihatnya lelaki itu tengah menatapnya geli.
"Ada yang lucu?" tanyanya dengan alis berkerut dan bibir mengerucut.
"Aniya... aku tadi Cuma takut..." Taehyung kembali terkekeh dan sengaja tak melanjutkan ucapannya.
"Takut apa, Hyung?" Jungkook bertanya heran.
Taehyung nyengir lebar. "Takut kau mengambil obat kuat. Kita kan belum menikah, Kook."
Jungkook sontak terbelalak dengan wajah memerah. Refleks dia mencubit lengan Taehyung dengan kuat, membuat lelaki itu meringis kesakitan. Namun tak cukup ampuh untuk menghilangkan senyum dan kekehan gelinya.
Jungkook mendengus sebal sambil melangkah ke meja kasir. Taehyung mengikuti dari belakang dan membatunya mengeluarkan semua belanjaan dan menumpuknya di sana. Saat Jungkook baru mengeluarkan dompet, Taehyung sudah lebih dulu menyodorkan black card nya pada petugas kasir. Kening Jungkook langsung berkerut protes, tapi Taehyung seolah tak mempedulikannya.
Setelah di dalam mobil, Jungkook langsung saja menyuarakan protesnya itu.
"Kenapa sih Hyung yang-"
"Membayar belanjaanmu?" sela Taehyung sambil tersenyum. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan membawa mereka keluar dari area parkir.
Jungkook mengangguk, "Aku kan sudah berjanji tidak akan-"
"Menerima atau meminta apapun dariku dalam bentuk uang maupun barang?" Lagi, Taehyung menyela.
Jungkook kembali mengangguk sambil cemberut.
"Sesekali tak ada salahnya kan, Kookie. Lagipula kita akan menikah. Anggap saja aku melakukan ini atas dasar tanggung jawabku sebagai suamimu."
"Terserah kau sajalah, Hyung. Aku hanya tak ingin kau salah mengira dan menganggapku..." Jungkook tak sanggup melanjutkan kata-katanya sendiri.
Seakan mengerti, Taehyung meraih tangan Jungkook dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak punya anggapan buruk apapun tentangmu, Jungkook. Jangan berpikir yang tidak-tidak."
Jungkook tersenyum. Ia tahu Taehyung hanya ingin menghiburnya. Mana mungkin lelaki itu tak pernah sekalipun mempunyai anggapan buruk terhadap seseorang yang bersedia dibayar lima ratus juta untuk sebuah pernikahan kontrak?
.
.
.
Akhir pekan itu mereka semua kembali berkumpul di kediaman Kim.
Taehyung tersenyum simpul saat melihat Jungkook yang tengah asyik bermain dengan Joonjin -putra Namjoon dan Seokjin yang baru berusia satu tahun.
Pemuda itu nampak seperti bocah. Menanggapi setiap celoteh Joonjin yang belum terlalu jelas, kemudian mereka akan tertawa bersama setelahnya. Jungkook terlihat begitu polos. Di luar fakta bahwa pemuda itu terlibat suatu masalah hingga membutuhkan uang banyak, tidak ada sedikitpun kekurangan dalam dirinya. Senyumnya, tawanya, gayanya, pribadinya, semuanya terlihat murni tanpa dibuat-buat. Jadi, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Jungkook? Mengapa ia membutuhkan uang begitu banyak?
"Hello, Everybody!"
Serentak semua orang yang ada disana menoleh ke sumber suara, termasuk juga Taehyung. Jika yang lain menatap heran sosok gadis dengan rambut panjang dan juga dress mini yang sedang berdiri di ambang pintu, Taehyung justru terbelalak kaget dengan mulut yang menganga.
"Irene noona?!"
Kini semuanya beralih menatap Taehyung. Bae Irene langsung masuk dan menghampirinya yang tengah berdiri mematung akibat shock. Gadis itu mengalungkan lengannya di leher Taehyung dan menciumnya mesra di bibir.
Taehyung masih membeku, tak berniat untuk membalas ciuman yang diberikan Irene. Well.. dia masih cukup waras untuk tidak melakukan itu di depan seluruh keluarganya, terutama di depan sang Ayah yang sedang sakit keras.
Irene yang menyadari kalau Taehyung tak meresponnya segera melepas tautan bibir mereka,
"Taetae, kenapa? Kau tak merindukanku, eoh?"
Taehyung melepas lingkaran tangan Irene di lehernya dan menarik gadis itu mendekat ke keluarganya,
"Noona, kenalkan. Ini Appa ku."
Irene tersenyum manis lalu mengulurkan tangannya,
"Hallo Paman, saya Bae Irene. Pacar Taehyungie." Taehyung meringis mendengarnya, apalagi ketika melihat respon Ayahnya yang terkesan dingin, berbeda sekali dengan saat ia memperkenalkan Jungkook dulu.
Dan selanjutnya, Taehyung memperkenalkan satu persatu seluruh anggota keluarganya pada Irene. Sampai akhirnya tiba giliran Jungkook.
Taehyung menatap cemas pada Jungkook yang juga balas menatapnya lembut.
"Taetae, dia siapa? Sepupumu juga?" Tanya Irene tak sabar karena Taehyung malah diam.
Baekhyun segera berdiri, "Bukan. Namanya Jeon Jungkook dan dia..."
Taehyung benar-benar panik. Bagaimana reaksi Irene kalau sampai Hyungnya ini mengatakan semuanya?
Namun beruntung, Jungkook segera angkat bicara.
"Hai, namaku Jungkook. Senang bertemu denganmu, Irene-ssi." Ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Irene.
Gadis itu menyambutnya antusias. Merasa lega, karena akhirnya ada juga yang menyambutnya dengan hangat disana."Senang bertemu denganmu juga, Jungkookie."
Lalu selanjutnya Jungkook segera menarik Irene menuju taman di samping rumah dan mengobrol disana. Mereka langsung terlihat akrab dimata Taehyung.
Calon istri dan pacarnya menjadi teman akrab? Bagus sekali.
"Taehyung."
Suara Tuan Kim tiba-tiba terdengar. Takut-takut Taehyung menoleh kerahnya.
"Kau punya penjelasan mengenai semua ini?" Tanya Ayahnya dingin.
"Maaf Appa, tapi aku sama sekali tidak tahu menahu soal kedatangan Irene noona kesini."
Tuan Kim menghela napas, "Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kau menyelesaikan masalah ini. Tapi yang jelas, aku tidak ingin kau sampai menyakiti Jungkook dan membuat pernikahan kalian batal." Tegas Tuan Kim. Beliau segera beranjak meninggalkan ruangan itu, kemudian diikuti oleh yang lainnya hingga hanya tersisa Taehyung disana.
Taehyung kembali menatap ke arah taman. Karena penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Jungkook dan Irene sedang berpelukan dengan senyum yang menghias wajah mereka. Apa-apan itu?
"Oh, hai Taehyungie..." Irene yang menyadari kehadirannya segera bangkit dari kursi taman dan memeluknya.
"Jangan khawatir, Cookies sudah menceritakan semuanya padaku."
Apa? Menceritakan semuanya? Dan apa tadi? Cookies? Akrab sekali.
Taehyung mengangkat alisnya bingung, melemparkan tatapan tanya pada Jungkook yang hanya tersenyum di belakang Irene.
"Aku mengerti Honey. Dan aku akan setia menunggumu sampai semuanya selesai disini." Tambah Irene lagi.
Taehyung makin bingung dibuatnya. Ingin rasanya ia segera menarik Jungkook agar menjelaskan semua padanya, namun terlebih dahulu ia harus memastikan Irene pergi dari rumahnya, secepatnya.
"Dan aku tidak akan mengganggumu dulu. Untuk malam ini aku akan menginap di hotel dan akan kembali ke London secepatnya."
'Oh, God. Syukurlah.' Batin Taehyung
Irene menatap Jungkook kemudian tersenyum, "Thanks, Jungkookie. Aku sungguh sangat menghargainya."
Jungkook balas tersenyum tulus, "tak masalah noona. Hati-hati di jalan, ne?"
Dan setelah memberikan ciuman di bibir Taehyung cukup lama, Irene segera melenggang pergi dari kediaman Kim.
Taehyung menatap kepergian Irene dengan raut bingung, sebelum kemudian mengarahkan tatapan tajamnya pada Jungkook.
"Ikut aku. Ke kamarku. Sekarang." Kemudian melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang meringis.
Baiklah, tinggal satu masalah lagi.
.
.
.
Jungkook memasuki kamar Taehyung dengan perasaan campur aduk. Meski ini bukan pertama kalinya ia masuk ke ruangan itu. Dilihatnya lelaki itu tengah mondar mandir di depan TV dengan raut wajah kusut. Jungkook merasa kasihan melihatnya.
Ia bisa memahami perasaan Taehyung. Lelaki itu pasti merasa serba salah dengan kedatangan Irene. Juga merasa berasalah karena harus mengkhianati cinta mereka dengan menikahi dirinya, demi sang Appa. Dan Jungkook juga mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan uang buat operasi.
Jungkook menghela napas berat dan tindakan itu membangunkan Taehyung dari lamunannya.
"Jungkook..." Taehyung langsung saja menghampirinya, "tolong jelaskan apa yang terjadi antara kau dan Irene di taman." Suara Taehyung sarat akan keputus asaan.
"Bukan apa-apa. Kami hanya mengobrol saja kok, Hyung."
Ada kilat tak percaya dalam bola mata Taehyung.
"Apa kau mengatakan tentang pernikahan kita?" Tanyanya lagi, membuat Jungkook tersenyum sedih,
'jadi itu yang ditakutkan oleh Taehyung sejak tadi?'
"Tidak, aku tidak mengatakannya pada Irene noona. Aku bukan orang yang senang memancing di air keruh, Hyung." Jawab Jungkook lembut tapi tegas.
Taehyung terlihat makin serba salah, "Maaf. Bukan itu maksudku, tapi-"
"Sudahlah Hyung, yang penting Irene noona sudah mengerti dan kau tidak perlu lagi menjelaskan apa-apa padanya. Setelah kekacauan ini selesai, kau bisa kembali menjalin hubungan lagi dengannya, bukankah itu yang kau inginkan?"
"Jadi pernikahan kita?"
Jungkook tersenyum dalam hati,
'Pernikahan kita', bukankah itu terdengar indah jika dalam arti yang sebenarnya?
"Tetap akan berjalan sesuai dengan rencana awal."
"Kenapa?" Tanya Taehyung ambigu, tanpa sadar jarak antara mereka sudah sangat dekat, dan Jungkook merasa Deja Vu.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Jeon?" Tanya Taehyung lagi karena Jungkook tak juga menjawab. Tangan kirinya terangkat mengelus pipi Jungkook.
"Kita bukan musuh, Hyung. Jadi untuk apa aku bersikap buruk padamu?"
"Benarkah?"
Lagi. Jungkook merasa Deja Vu ketika Taehyung perlahan mendekatkan wajahnya. Ia melihat lelaki itu menjilat bibir bawahnya sendiri dengan gerakan pelan. Terlihat begitu sensual hingga Jungkook merasakan darahnya mulai memanas dengan tubuh yang kaku.
"Jeon Jungkook..." Namanya yang mengalun dari celah bibir Taehyung terdengar begitu merdu. Penuh afeksi. Ia baru tahu jika namanya bisa terdengar begitu berdosa jika Taehyung yang menyebut.
Sementara Taehyung. Entahlah, dia seolah terhipnotis dengan bibir sewarna cerry yang nampak menggoda itu. Seolah-olah bibir itu tengah berkata padanya,
'Ayo cium aku... lumat aku... hisap aku...'
Oh, Taehyung sudah mulai gila rupanya.
Bibir mereka nyaris bersentuhan. Tinggal sedikit lagi, sebelum kemudian terdengar ketukan pintu yang lumayan keras. Membuat mereka berdua terperanjat dan memisahkan diri. Buru-buru Jungkook merapikan pakaiannya -yang sebenarnya sama sekali tidak kusut- dan membuka pintu. Sementara Taehyung memasang blank expresion.
Apa yang mau kau lakukan tadi? Taehyung bodoh!
Pintu di buka dan sosok Yoongi terlihat di baliknya.
"Uh, Yoongi Hyung. Ada apa?" Jungkook bertanya gugup.
Yoongi menaikan satu alisnya, namun wajahnya tetap datar.
"Yang lain memintaku mengecek keadaan kalian, karena kalian lama sekali di dalam. Everything's okay, Boys?"
Yoongi melirik Taehyung yang masih betah dengan ekspresi blank nya, "Dia kenapa, Kook? Kesurupan?" tanya Yoongi nyeleneh.
Jungkook tertawa canggung dan menendang tulang kering Taehyung cukup kuat. Membuat lelaki itu berjengit kaget kemudian mengaduh.
"Tidak apa-apa Hyung. Semuanya aman terkendali. Hehe..." Jungkook nyengir, memperlihatkan gigi kelincinya. Terlihat sangat manis, sampai-sampai Yoongi yang tekenal dinginpun tersenyum lembut ke arahnya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo turun. Semuanya sudah menunggu di bawah."
.
.
.
Jungkook menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Besok, resepsi pernikahannya akan dilaksanakan. Dan setelah janji itu di ucapkan, marganya akan berubah menjadi Kim... walau hanya untuk waktu enam bulan saja.
Menghela napas, ia mencoba memejamkan matanya yang seolah enggan berkompromi.
Setelah ia resmi menikah dengan Taehyung, tiga hari setelahnya ia akan terbaring di meja operasi. Jungkook sadar, peluang yang ia punya untuk sembuh sangat kecil, tapi ia tetap bertekad untuk hidup dengan cara apapun, melakukan pengobatan apa saja agar bisa sembuh dengan uang pemberian Taehyung. Walaupun pada akhirnya ia akan kembali hidup sendirian.
Jungkook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya memanas, membayangkan kembali hidup dalam kesendirian.
Setelah resmi bercerai, Taehyung akan kembali menjalin hubungan dengan Irene. Jungkook merasa tidak rela, tapi ia juga tidak boleh egois. Ia sudah di beri kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kehangatan keluarga yang di berikan Taehyung dan seluruh keluarga Kim. Ia sudah sangat beruntung bisa menjadi pendamping Taehyung meskipun hanya sebentar. Jadi, ia tidak boleh lebih serakah lagi dengan mengharapkan cinta dari Taehyung juga. Itu milik Irene dan segalanya harus ia kembalikan pada Irene nantinya.
Setetes air mata jatuh dari manik kelam Jungkook sebelum gelap merenggut kesadarannya.
.
.
.
"Kim Taehyung, apa kau bersedia menerima Jeon Jungkook sebagai pasanganmu? Mencintainya dikala susah dan senang dan mendampinginya sampai maut memisahkan?"
"Saya bersedia." Jawab Taehyung mantap.
Sang Pastor lalu menatap Jungkook.
"Jeon Jungkook, apa kau bersedia menerima Kim Taehyung sebagai pasanganmu? Mencintainya dikala susah dan senang dan mendampinginya hingga maut memisahkan?"
"Ya, saya bersedia."
'Selama maut itu tidak datang terlalu cepat.' Tambah Jungkook dalam hati.
"Dengan ini, kalian resmi menjadi sepasang suami-'istri'. Dipersilahkan untuk mencium pasangan anda sebagai bentuk cinta kalian."
Jungkook menelan ludah. Sial, dia lupa tentang bagian ini.
Diliriknya Taehyung yang sedang menatapnya lembut. Pelan, lelaki itu meraih dagu Jungkook dan mendekatkan wajah mereka. Jungkook hanya diam, tentu dia tidak mungkin mengelak kan? Maka ia menutup matanya saat merasakan terpaan napas hangat Taehyung di wajahnya. Tangannya refleks terangkat, mencengkeram jas bagian depan Taehyung saat akhirnya sentuhan lembut itu terasa di bibirnya.
Bibir mereka bersentuhan untuk yang pertama kalinya dan Taehyung seolah ketagihan. Bibir Jungkook terasa begitu lembut dan pas di bibirnya. Tanpa sadar, tangan kirinya yang semula berada di dagu Jungkook telah berpindah ke tengkuk, bersamaan dengan tangan kanannya yang meraih pinggang ramping pemuda itu, menariknya mendekat untuk memperdalam ciuman mereka.
Jungkook memejamkan matanya semakin erat, ketika merasakan bibir Taehyung bergerak melumat dan menghisap bibirnya pelan, namun ia tak bisa berontak, tubuhnya serasa lemas sampai...
"Ekhem!" Suara dehaman keras itu menghentikan aksi mereka, keduanya refleks saling menjauh karena kaget.
"Maaf, tapi kalian bisa melanjutkannya nanti di kamar kalian." Ucapan sang Pastor yang frontal itu membuahkan rona merah di wajah mereka.
Setelahnya, pesta besar-besaran pun digelar di sebuah hotel berbintang. Banyak relasi bisnis Tuan Kim yang datang. Beliau begitu bersemangat menyambut para tamu undangan dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya yang menua. Jungkook juga jadi ikut bahagia, karena setidaknya keberadaannya bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain.
"Berhentilah senyum-senyum sendiri, Kook. Kau membuatku merinding."
Jungkook segera mengalihkan pandangannya ke samping dan mendapati Taehyung tengah berdiri di sampingnya, sambil tersenyum ke arah tamu yang datang. Jungkook nyaris lupa kalau lelaki itu juga ada disana.
Well, seharusnya sih tidak, jika melihat bagaimana penampilan lelaki itu sekarang.
Rambut merah Taehyung yang semula menjuntai sampai alis sedikit di potong dan dibentuk sedimikian rupa dengan gel rambut hingga tak lagi menutupi kening. Wajahnya di poles make up tipis dengan hiasan eye shadow dan eyeliner yang mempertegas garis matanya yang indah. Ada pearching di telinga kirinya dan itu membuat Jungkook meringis.
Damn! Taehyung kelihatan benar-benar tampan malam ini.
"Astaga, tadi kau senyum sendiri. Sekarang malah meringis." Komentar Taehyung lagi.
"Maaf... aku grogi Hyung. Ini kan pengalaman pertamaku." Jawab Jungkook gugup.
"Yeah, tentu saja. Tidak ada manusia waras yang ingin memiliki banyak pengalaman dalam hal menikah."
Gerutuan Taehyung membuatnya terkikik geli tanpa bisa dicegah. Mata tajam lelaki itu kemudian kembali meliriknya.
"Maaf, Hyung. Aku tadi hanya... ngg... kagum dengan pakaianku." Bohongnya. Mana mungkin Jungkook mengaku kalau sejak tadi yang di kaguminya itu adalah Taehyung? Gengsi.
"Pakaian itu milikmu. Kau bebas mengaguminya kapanpun, tapi jangan malam ini. Sekarang giliran para tamu untuk mengagumi ketampananmu."
Jungkook tersenyum, "Terimakasih."
"Untuk?"
"Karena mengatakan kalau aku tampan."
"Memang aku mengatakan seperti itu, ya?" Tanya Taehyung heran.
Sialan!
Jungkook cemberut. Apalagi ketika mendengar tawa lembut Taehyung di telinganya.
Baekhyun melangkah mendekati mereka.
"Kalian ini, apa tidak bisa berdiri anggun? Pengantin itu pasti jadi pusat perhatian. Jangan kebanyakan ngobrol, jangan meringis, cemberut atau tertawa. Senyum saja sudah cukup." Gerutu Baekhyun sambil melotot.
Taehyung terkekeh, "Pasti bukan aku."
"Maaf, Hyung..." ucap Jungkook sambil melirik sebal ke arah Taehyung.
Baekhyun hanya menggelengkan kepala sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Terimakasih!" sungut Jungkook.
"Untuk apa?"
"Membuatku dimarahi Baekki Hyung!"
Taehyung manggut-manggut puas.
"Terimakasih."
"Untuk apa?" Jungkook balik bertanya heran.
"Memberiku kesempatan untuk membuatmu dimarahi Baekhyun Hyung."
Jungkook mendelik. Tapi Taehyung seakan tak peduli dan tetap terkekeh geli.
Hening beberapa saat...
"Jungkook..."
"Ya..."
"By The Way, kau kelihatan tampan dan cantik malam ini." Puji Taehyung tanpa mengalihkan tatapannya dari para tamu.
"Akhirnya..."
"Kenapa?"
"Hyung menyadarinya juga..."
.
.
.
Jungkook meletakan potongan buah-buahan di piring, kemudian membawanya bersama secangkir cokelat panas ke ruang kerja Tuan Kim.
"Buah-buahan untuk Appa." Katanya setelah masuk dan meletakkan bawaannya di meja.
Kening Tuan Kim berkerut, "kopi?" Tanyanya sambil menunjuk cangkir yang tadi diletakan Jungkook.
"Bukan Appa. Itu cokelat panas. Appa tidak boleh terlalu sering minum kopi." Jelas Jungkook.
Tuan Kim tersenyum, "siapa yang mengajarimu? Baekhyun? Seokjin?"
"Seokjin Hyung, Appa."
"Hmm... bertambah lagi dokter pribadiku rupanya." Gerutu Tuan Kim pelan.
Jungkook tertawa kecil mendengarnya, "kan itu demi kesehatan Appa juga."
"Arrasseo, kemarilah." Tuan Kim mengisyaratkan agar Jungkook duduk di samping single sofa yang di dudukinya, "Appa ingin bicara denganmu."
Jungkook menurut. Setelah ia duduk, Tuan Kim meraih tangannya, mengenggamnya erat. "Apa kau bahagia dengan pernikahan ini, Kookie?"
Jungkook membalas genggaman hangat Tuan Kim, "tentu saja Appa. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Tidak. Appa hanya khawatir, apalagi setelah kedatangan gadis itu kemarin."
Jungkook hanya tersenyum maklum."Appa... kalau boleh Kookie tahu, kenapa Appa tidak merestui hubungan Tae Hyung dan Irene noona?" Tanya Jungkook hati-hati. Ia mengamati reaksi yang di berikan Ayah mertuanya itu.
"Itu karena Appa tahu, Taehyung tidak sungguh-sungguh mencintai gadis itu ataupun yang lainnya."
"Darimana Appa tahu?" Raut kebingungan yang Jungkook tunjukkan membuat Tuan Kim terkekeh kecil, menantunya memang sangat manis.
"Kookie... Appa ini seorang pebisnis. Dan sebagai seorang pebisnis, Appa harus bisa membaca karakter orang lain dari sikap yang ditunjukkannya. Itu tidak terlalu sulit, apalagi kalau hanya untuk membaca sikap Taehyung."
Tuan Kim menepuk-nepuk punggung tangan Jungkook yang digenggamnya, "Lagipula Appa lebih senang memiliki menantu sepertimu. Baik, sopan dan bisa mengurus Taehyung dengan baik kedepannya. Dan Appa juga yakin kalau Taehyung benar-benar mencintaimu, terlepas dari ia mengakuinya atau tidak."
Jungkook menggigit bibir bawahnya. Tuan Kim berkata begitu karena beliau tidak tahu tentang perjanjian yang dibuatnya dengan Taehyung, kan? Terlebih lagi, dia menerima sejumlah uang bayaran dari Taehyung. Mungkin Tuan Kim akan sangat murka padanya bila mengetahui itu semua. Diam-diam Jungkook merasa bersalah.
"Appa..." Jungkook berdiri dari sofa kemudian bersimpuh dihadapan Ayah mertuanya. Dengan sopan ia kembali meraih tangan Tuan Kim dan menggenggamnya.
"Boleh... Kookie minta sesuatu?" Tanyanya kemudian.
Tuan Kim terlihat berfikir sejenak."Baiklah, asal jangan yang aneh-aneh."
Jungkook mengangguk."Jika nanti... pernikahanku dan Tae Hyung tidak berlangsung lama..." tanpa sadar kedua mata Jungkook mulai berkaca-kaca,"Aku ingin Appa berjanji untuk mengijinkan Tae Hyung menikah dengan seseorang pilihannya sendiri. Demi kebahagiaan Taehyung Hyung, dan juga kebahagiaan Kookie..."
Jungkook kembali menggigit bibirnya. Menahan isakan yang mungkin saja akan keluar saat itu juga.
Tuan Kim termenung. Lama Jungkook menunggu, namun lelaki paruh baya itu tak kunjung memberi jawaban.
"Appa..."
Tuan Kim menatap Jungkook penuh kasih kemudian menghela napas berat. "Baiklah, Appa janji. Tapi..."
Sebelah tangan Tuan Kim terangkat, mengelus surai hitam menantunya dengan lembut.
"Appa juga berjanji akan membuat pernikahan kalian langgeng. Kecuali jika maut yang berbicara, maka Appa tak bisa berbuat apa-apa."
Jungkook tersenyum haru, "Terimakasih Appa..."
Ya... bisa jadi perpisahannya dengan Taehyung bukan karena kontrak pernikahan yang telah habis, melainkan karena kematian yang melakukannya...
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N :
Hai... hai... chap 4 is up...
Gimana... cepet kan... /kedipkedip
Makasih banget buat para Readers-san yg udh baca ff ini, bilang suka, ngefav dan follow... terutama kalian yg review... ahh, review kalian itu moodbooster saya...
Makasih juga buat respon Readers-san di drabble kemarin. Serius, ga nyangka responnya sebaik itu... saya ketawa sendiri baca stiap reviewnya...
Terimakasih... Kalian luarr byassaaa... /ketjupjauh/plak
