Married?!
A TaeKook Fanfiction by Rain
Remake dari Novel "istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan
.
.
.
"Sstt, Kookie..." suara bisikan terdengar saat Jungkook keluar dari ruang kerja Tuan Kim. Ketika ia menoleh ke sebelah kanan, di dapatinya kepala Baekhyun yang menyembul dari balik pintu kamarnya, (FYI kamar Baekhyun memang bersebelahan dengan ruang kerja Tuan Kim di lantai dua)
"Kenapa Hyung?"
"Kemari sebentar." Pinta Baekhyun. Ia masih setengah berbisik, membuat Jungkook mengernyitkan alis. Meski begitu menantu baru keluarga Kim itu tetap menghampiri Baekhyun yang langsung menariknya masuk ke dalam. Disana juga sudah ada Seokjin, Jimin dan Yoongi ternyata.
"A-ada apa ini, Hyung?" Tanya Jungkook bingung, pasalnya senyuman yang tertera di wajah mereka sedikit... mencurigakan.
"Duduklah dulu." Perintah Baekhyun. Ia mendudukan Jungkook di tepi kasur, disamping Seokjin. sementara Yoongi duduk bersila di karpet menghadapnya dengan Jimin yang tiduran di pangkuan lelaki pucat itu.
"Kookie, kami ingin bertanya sesuatu. Tapi janji jangan marah, ne?" Ucap Seokjin.
"Eum. Tanyakan saja Hyung."
"Begini..." mulai Seokjin, "kami hanya ingin tahu, apa kau dan Taehyung sudah... melakukan... hmm... kau mengerti maksudku kan, Kook?" Tanya Seokjin ambigu.
Jungkook memiringkan kepalanya, "Melakukan... hm? Maksud Hyung?"
Yoongi berdecak sementara Jimin terkekeh.
"Itu lho Kookie-ya, Melakukan hubungan intim. Kau tahu kan? Sex..." Jimin menjawab sambil mengerling jahil ke arahnya.
Wajah Jungkook bersemu merah.
Dasar, Jimin dan mulut frontalnya!
Namun didetik berikutnya Jungkook kembali bingung. Apa yang harus ia jawab? Nyatanya selama dua malam ini, mereka memang tidak melakukan apa-apa. Taehyung memilih tidur di sofa yang ada di dalam kamar, sementara Jungkook menguasai tempat tidur. Aneh, padahal kan mereka sesama pria -_-
Memutuskan untuk jujur, akhirnya Jungkook pun menggeleng.
"Hah~ sudah ku duga si Alien itu memang payah." Baekhyun kembali bersuara, kali ini ia membawa beberapa tas belanjaan.
"Itu apa Hyung?"
"Ini?" Baekhyun mengangsurkan tas-tas itu pada Jungkook, "hadiah kecil untukmu dan juga Taehyung. Aku jamin kalian pasti akan menyukainya, terutama bocah alien itu." Jelas Baekhyun. Senyumannya entah kenapa membuat Jungkook merinding.
"Bukalah. Pilih yang kau suka," Pinta Seokjin.
Jungkook menerima tas-tas itu dan mulai membukanya.
Olala~
Matanya sukses membulat saat melihat barang-barang yang ada di dalamnya.
"Hy-hyung... i-ini... " jemarinya menarik keluar beberapa potong pakaian berbeda warna.
"Kami membeli beberapa karena kami tidak tahu kesukaanmu. Kau suka yang warna apa, Kook-ah."
Refleks, Jungkook menunjuk salah satu pakaian yang di pegangnya.
"Sempurna!" pekik Baekhyun gembira. "kebetulan Hyung juga sudah menyiapkan sprei pengantin berwarna serupa dari bahan sutra halus."
"Jangan terlalu halus Hyung. Nanti koyak." Jimin menyahut sambil cekikikan.
"Jungkook kan bisa menyuruh Taehyung untuk pelan-pelan." Sambung Seokjin.
"Halah, lelaki mana yang bisa menahan diri melihat pemuda manis seperti Jungkook mengenakan pakaian seperti ini, apalagi si Taehyung." Timpal Baekhyun.
"T-tapi, apa ini tidak terlalu mencolok, Hyung?" Jungkook bertanya ragu-ragu. "nanti di seruduk banteng." Gumamnya pelan.
Jimin terkekeh, "justru itu tujuannya, Cookies. Apalagi Taehyung itu lebih ganas dari banteng."
Wajah Jungkook pias mendengarnya.
Yoongi menggeplak pelan kepala pasangannya. "Kau menakutinya, Jim."
Mereka semua tertawa pelan.
"Ah, ini juga beberapa perlengkapan pendukung yang lain. Kau simpanlah, Kook."
"Untukku?" tanya Jungkook lucu. "Ta-Tapi, Hyung..."
"Sudah... kau terima saja Kook-ah. Pasti nanti kau akan merasakan manfaatnya." Ucap Jimin sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Jungkook kembali merona.
Dilihatnya lagi isi tas-tas itu. Ia tidak mungkin mengenakan barang-barang itu di kamar, kan? Tapi kalau di tolak, Baekhyun, Seokjin, Yoongi dan Jimin pasti akan kecewa.
"Baiklah, gomawo Hyungdeul,"
Setelah itu Jungkook memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menyimpan barang-barang itu di tempat yang aman. Jangan sampai Taehyung tahu atau lelaki itu akan menertawainya habis-habisan.
Sebelum keluar, Jungkook sempat mendengar Baekhyun, Seokjin dan Jimin berseru kompak, "Semoga berhasil," sedangkan Yoongi bergumam, "kenapa aku juga ikut-ikutan, sih?"
Mereka itu ada-ada saja.
.
.
.
"Kook, kita keluar yuk." Ajak Taehyung saat Jungkook melintasi ruang tamu. Disana, lelaki itu sedang mengobrol dengan Namjoon dan Chanyeol.
"Kemana, Hyung?"
"Kemana saja." Jawab Taehyung asal.
"Namanya juga pengantin baru, Kook. Ikuti saja kemana Taehyung melangkah."
"Iya, mumpung belum basi." Chanyeol menimpali ucapan Namjoon dengan senyum geli.
'Gezz... mereka semua sama saja' batin Taehyung.
Jungkook tersenyum simpul, "baiklah, aku ganti baju dulu."
Taehyung mengangguk. Tak lama kemudian mobil mewah Taehyung sudah meluncur di jalan.
"Kita mau kemana sih, Hyung?" tanya Jungkook sambil melirik ke arah Taehyung.
Suaminya itu terlihat begitu mempesona hari ini. Meskipun hanya mengenakan kaos putih polos yang di tumpuk jaket denim. Celana jeans berwarna senada yang melekat pas di kaki jenjangnya. Rambut maroonnya di biarkan menjuntai tanpa gel rambut. Dan dua pearching di telinganya itu...
Jungkook rasanya jadi ingin sekali mengumpat.
"Ada yang salah dengan penampilanku, Nyonya Kim?" goda Taehyung sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jungkook hanya mendengus mendengar panggilan itu, meski samar kedua pipinya bersemu.
"Banyak yang salah, Hyung..."
Mata tajam berlapis eyeliner tipis itu memicing ke arah Jungkook, " Banyak?!" ulangnya.
Jungkook mengangguk sambil mengusap-usap dagu, seolah sedang berfikir.
"Hmm... Hyung terlalu tampan, terlalu keren, terlalu baik, terlalu mempesona, terlalu... apalagi ya...?"
Taehyung tergelak sementara Jungkook masih terlihat berpikir.
"Hmm, karena kau sudah memujiku seperti itu. Apapun yang kau minta pasti akan ku berikan!"
"Apapun?!" ulang Jungkook. Manik kembarnya berkilat jenaka.
Taehyung mengangguk mantap.
"Apapun. Permintaanmu adalah titah bagiku, Yang Mulia Kim Jungkook." Dengan sikap takzim, sebelah tangan Taehyung meraih tangan Jungkook dan membawanya ke bibir lelaki itu untuk di kecup penuh hormat.
Mendadak ada gempa bumi di hati Jungkook. Tapi, ia berusaha memasang senyum biasa, bukan senyum kepingin lagi.
"Oke! Satu hari ini aku ingin berkeliling Seoul sepuasnya. Tapi sebelum itu..." Jungkook menatap Taehyung bersemangat, "ayo makan es krim!"
Taehyung kembali tergelak, "Baiklah. Hari ini, kau Kaptennya." Ujarnya sambil menjawil main-main hidung bangir Jungkook.
.
.
.
Mereka berakhir menikmati es krim di kafe yang tempo hari pernah mereka kunjungi bersama.
"Hyung, sebenarnya bagaimana hubunganmu dan Irene noona?" tanya Jungkook sambil memasukan satu sendok es krim ke mulutnya. Sebenarnya, ia tak terlalu ingin mendengar detail hubungan Taehyung dengan wanita itu, tapi ia juga penasaran dan ingin tahu.
Taehyung mengikuti jejak Jungkook -memasukan es krim ke dalam mulutnya, "Tidak ada yang salah dengan Irene noona. Hanya kalau untuk pernikahan, Irene noona bukan orang yang tepat untukku."
Kening Jungkook mengernyit heran. "Lalu, yang seperti apa yang tepat untukmu?" tanyanya setengah sebal.
Taehyung tersenyum jenaka, "entahlah... mungkin sepertimu?"
Jungkook memutar mata, "Pembual."
Yang dikatai tergelak. "Tapi serius, kau orang yang menyenangkan, Jungkook. Rasanya pernikahan menjadi sesuatu yang mungkin terjadi jika itu denganmu." Taehyung tersenyum kemudian. Menatap Jungkook lurus di matanya.
Jungkook tercenung. Kata-kata Taehyung seolah menyiratkan sesuatu. Membuat hatinya lantas berharap, namun segera ia singkirkan jauh-jauh karena takut kecewa pada akhirnya.
"Hyung..."
"Hmm?"
"Aku... aku masih ingat kok dengan janjiku..."
"Janji?" kening Taehyung mengernyit heran.
"Untuk menceritakan padamu soal kenapa aku butuh uang sebanyak itu..."
Jungkook memperhatikan reaksi Taehyung dan dia dapat melihat dengan jelas perubahan di raut wajah lelaki itu, meski sesaat. Taehyung seperti sedang menahan emosi untuk marah atau luapan perasaan tidak puas. Entahlah, Jungkook sendiri tak berani menanyakannya.
"Sudahlah. Aku percaya padamu. Aku akan menunggu sampai kau siap untuk menjelaskannya."
Taehyung menggenggam jemari Jungkook dan mengusapnya lembut. "Lagipula daripada membicarakan itu, bagaimana kalau kita membicarakan tentang bulan madu kita." Ia tersenyum menggoda dan sedikit memajukan tubuhnya.
"Katakan padaku, Kim Jungkook. Kau ingin pergi bulan madu kemana? Hawaii? Paris? Amsterdam?"
Tawa renyah meluncur begitu saja dari bibir Jungkook.
'Bulan madu?' Ia meringis dalam hati.
"Boleh saja, tapi agen perjalanan mana yang menyediakan tiket ke surga?" Tanyanya dengan senyum manis.
"A-apa?!" Wajah Taehyung pucat seketika.
Jungkook kembali tertawa."Aku hanya bercanda, Hyung. Sudahlah, tidak perlu ada acara bulan madu segala." Ucapnya, menepuk pelan punggung tangan Taehyung.
"Bicaramu aneh, Kook. Jangan di ulangi lagi, kau membuatku takut. Katanya, hanya orang yang mau meninggal yang suka bicara aneh." Jawab Taehyung setengah cemberut.
"Semua orang akan meninggal, Hyung. Cepat atau lambat."
"Aku tahu, tapi... Oh, ayolah Jungkook. Haruskah kita membicarakan hal ini di acara bulan madu kita?"
"Baiklah, baik." Jungkook akhirnya mengalah."Oh iya, sebenarnya semenjak aku menginjakkan kaki di Seoul, aku ingin sekali ke suatu tempat. Kita kesana ya, Hyung."
.
.
.
Jungkook menatap bangunan di depannya dengan mata berbinar.
"Lotte World? Kau belum pernah kesini juga?" pertanyaan Taehyung membuat Jungkook mencibir.
"Jangan mengejekku. Ayo, Hyung kita masuk." Ujarnya sambil menggamit tangan Taehyung. Mereka berlari kecil memasuki taman hiburan terbesar di Seoul.
Sesampainya di dalam, Jungkook semakin berdecak kagum.
"Kita mau main apa, Kook-ah?" pertanyaan Taehyung membuyarkan lamunannya.
"Eum... bagaimana kalau itu?" Jungkook mengulum senyum dan menunjuk salah satu wahana yang kebanyakan di isi oleh anak-anak dan orang dewasa yang menggendong balita.
Komidi putar.
Taehyung menahan tawa dan Jungkook cemberut melihatnya. "kenapa?"
Pria itu menggeleng, "Tidak. Hanya saja kau seperti bocah. Bagaimana kalau kita main yang itu saja. Lebih menantang, bukan."
Jungkook menggerutu di sebut bocah, namun ia tetap mengikuti jari telunjuk Taehyung yang mengarah ke sebuah wahana. Roller coaster.
Pemuda kelinci itu menelan ludah gugup. "Apakah boleh?" gumamnya pelan.
Taehyung yang mendengar gumaman itu langsung tertawa, "Tentu saja boleh. Kau kan orang dewasa, Kook."
"Bukan itu, Hyung. Maksudku..."
'Apa tidak apa-apa dengan penyakitku kalau aku naik itu?' Jungkook melanjutkan kalimatnya dalam hati.
Taehyung yang melihat Jungkook terdiam mulai tersenyum jahil. "Kau takut ya...?" katanya sambil menaik turunkan alis.
"Aku? Takut? Jangan bercanda, Hyung." Elaknya.
"Benarkah? Kalau begitu, ayo naik itu!"
"Oke!"
Lalu mereka berdua ikut dalam antrean tiket.
'Tuhan... semoga aku masih bisa hidup setelah ini.'
.
.
.
Jungkook terkikik geli melihat Taehyung yang masih berjongkok di belakang bangku taman yang di sediakan di tempat itu. Tadi, Pria itu langsung saja kabur setelah selesai naik roller coaster dan berjongkok disitu. Muntah.
"Lihat siapa yang menantangku untuk naik roller coaster tadi." Cibir Jungkook penuh kemenangan.
Taehyung hanya meliriknya sekilas dengan mata yang merah dan berair, sebelum dengan kasar menyeka bibir dan mendudukkan dirinya di bangku.
"Aku hanya tidak sarapan tadi. Ku rasa lambungku kumat." Sanggah Taehyung. Wajahnya masih pucat pasi.
Yang lebih muda kembali tertawa. "Ya, Ya, baiklah. Hyung tunggu disini, akan ku belikan minuman untukmu."
Jungkook kemudian berjalan menjauh. Namun belum sampai sepuluh langkah, pemuda itu tiba-tiba berhenti.
Taehyung mengernyit bingung ketika melihat Jungkook hanya berdiri mematung. Namun, ia kaget luar biasa ketika tiba-tiba tubuh pemuda itu terhuyung dan jatuh terduduk.
"Astaga! Kook-ah, kau baik-baik saja?" ia tergopoh menghampiri Jungkook yang masih terduduk. Pandangan pemuda itu kosong dengan napas memburu. Bibirnya pucat dan raut kesakitan tergambar di wajahnya.
"Hei, Jungkook. Jawab aku. Kau baik-baik saja kan?!" ulang Taehyung. Ia sedikit mengguncang lengan pemuda itu.
Jungkook memejamkan mata erat sambil beberapa kali menarik dan menghembuskan napas dalam-dalam. Mencoba meredakan sakit yang tiba-tiba menghantam kepalanya hingga membuat pandangannya kabur.
"Ya, aku hanya... sedikit pusing, Hyung." Jawabnya lemah. Ia memandang tangan kanannya yang bergetar. Jemarinya terasa kaku dan sulit di gerakan.
'Tidak. Jangan kambuh sekarang.'
"Kau yakin, Kook-ah?" Taehyung meraih dan menggenggam jemari Jungkook yang bergetar. Tatapannya terlihat begitu khawatir, "kau ingin kita pulang saja?"
"Tidak... tidak usah Hyung." Tolak Jungkook halus. "Aku baik. Kita istirahat saja sebentar. Aku... hanya pusing saja kok."
Taehyung mengangguk, "Baiklah. Bagaimana kalau kita makan dulu. Habis muntah tadi, aku jadi lapar." Ia nyengir kemudian. Membuat Jungkook mau tak mau tersenyum dan mengangguk.
Mereka memutuskan untuk makan di area food court di dekat sana.
"Kau tidak makan, Kook-ah?" tanya Taehyung yang melihat Jungkook hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat.
"Aku tidak lapar, Hyung."
"Kau harus makan, Jungkook. Jangan sampai kau jadi kurus setelah menikah denganku. Bisa-bisa, nanti orang-orang berpikir kalau aku menyiksamu."
Jungkook terkekeh mendengar gurauan Taehyung, "Hyung, setelah selesai makan, kau mau kan mengantarku ke suatu tempat?"
"Huh? Kau tidak ingin lanjut main lagi, Kook-ah?"
Yang ditanya menggeleng, "Tidak, Hyung. Tiba-tiba aku ingin pergi ke suatu tempat. Hyung antar aku ya?"
.
.
.
"Untuk apa kita kemari?" Tanya Taehyung, memperhatikan sekitar. Setelah keluar dari Lotte World, Jungkook ternyata memintanya untuk mengantar pemuda itu mengunjungi gereja yang menjadi tempat mereka melangsungkan pernikahan dua hari lalu.
"Tentu saja untuk berdoa, memangnya apa lagi." Jawab Jungkook sambil menarik tangan Taehyung untuk masuk ke dalam.
Mereka duduk bersisian di deretan bangku terdepan. Jungkook segera menyatukan kedua tangannya di depan wajah dan memejamkan mata, bersiap memanjatkan doanya pada Tuhan.
Sementara Taehyung memperhatikan gerak-gerik pemuda itu dalam diam. Mengagumi sosok yang saat ini berada di sampingnya. Ada debaran yang menggila setiap kali Taehyung menatap paras cantik pemuda itu.
"Berhentilah melamun dan mulailah berdoa, Hyung." Teguran Jungkook mengembalikan Taehyung ke alam nyata.
Dilihatnya Jungkook yang juga telah menoleh ke arahnya. "Tidak usah." Jawab Taehyung acuh.
"Sudah ku duga, kau memang jarang berdoa sebelumnya, iya kan." Selidik Jungkook.
Taehyung hanya mengangkat bahu dan melanjutkan kegiatannya, memandangi Jungkook yang kembali memejamkan mata untuk berdoa.
'Tuhan... bantu aku melewati operasi besok. Tapi jika Kau memang ingin memanggilku, aku rela... aku sungguh sangat bersyukur atas segala karunia yang telah Engkau berikan, seberapapun singkatnya...'
Jungkook menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dadanya mulai terasa sesak dan matanya memanas.
'Terimakasih karena telah memberikanku kesempatan bertemu dengan Taehyung dan menikah dengannya.
Terimakasih karena telah memberikanku sebuah keluarga yang sangat menyayangiku, sebagai pengganti Eomma dan juga Appa ku yang telah Kau panggil...'
Airmata meluncur bebas dari mata Jungkook yang terpejam, membuat Taehyung yang memperhatikannya terenyak.
"H-hei... ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Taehyung lembut. Ibu jarinya menghapus butir airmata yang jatuh di pipi porselen itu.
Jungkook membuka mata dan tersenyum lembut kearah Taehyung. "Aku baik-baik saja, Hyung. Hanya... aku ingat dengan Eomma dan Appa ku..." lirihnya.
"Sshh... jangan sedih. Orang tuamu pasti sudah tenang di surga." Hibur Taehyung. Ia mengelus puncak kepala Jungkook sayang.
"Ya, Hyung. Aku tahu." Pandangan Jungkook kembali menerawang ke depan.
"Hyung..."
"Hmm?"
"Aku harap kau tidak menyesal menikah denganku." Ucap Jungkook lirih, tanpa mengalihkan pandangannya.
Taehyung menatap heran, namun tersenyum kemudian, "Aku justru bersyukur telah menikahimu, Jungkook. Kau membuat pernikahan menjadi sesuatu yang menyenangkan." Jawab Taehyung jujur.
Jungkook menatap Taehyung dan tersenyum tulus, matanya kembali berkaca-kaca. Namun detik berikutnya senyuman itu berganti menjadi ringisan.
"Jungkook, kau kenapa?" Tanya Taehyung khawatir, karena Jungkook meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Jungkook menggeleng dan memaksakan sebuah senyum, "Tidak apa-apa, Hyung. Hanya-" jawabannya terputus ketika ia merasakan ada cairan kental yang mengalir dari hidungnya.
Taehyung terkesiap dan menyeka cairan itu dengan ibu jarinya, "Jungkook... kau mimisan!"
"Hyung... A-aku..." Jungkook terbata. Ia ikut menyeka hidungnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ada darah di ujung jarinya dan Jungkook terisak saat itu juga.
'Tuhan... ku mohon, jangan sekarang...'
"H-Hyung..." Jungkook kembali menyeka darah di hidungnya sambil terisak, namun cairan itu tak berhenti keluar.
Taehyung panik luar biasa. Ia tidak mengerti situasi yang sedang dialaminya sekarang. Jungkook yang tiba-tiba pusing dan mimisan, lalu sekarang bocah itu menangis sesegukan di depannya.
Ia menangkup kedua pipi Jungkook dengan jemari yang juga bergetar, ikut menghapus ceceran darah dan air mata yang mengotori wajah manis yang lebih muda.
"H-Hei... Jungkookie, tenanglah... kita ke rumah sakit sekarang, oke?" Bisik Taehyung dan membawa tubuh gemetar Jungkook ke dalam pelukannya.
Jungkook kembali menggeleng, ia meraih kerah jaket Taehyung dengan jemarinya yang berlumuran darah kemudian meremasnya, "Tidak, Hyung. Aku mau pulang saja."
"Tapi, Jungkook-"
"Hyung... Pulang... Please..." pinta Jungkook. Matanya yang berembun menatap Taehyung memohon. Membuat hati yang lebih tua serasa dicengkram kuat. Sesak.
Taehyung mengecup bibir pucat Jungkook dan melumatnya pelan, mengecap rasa asin dan karat di bibirnya.
"Baiklah, kita pulang."
Dan... Hup!
Dengan mudahnya Taehyung menggendong Jungkook bridal style dan berjalan keluar dari gereja.
Jungkook menoleh sekilas ke belakang, kemudian menyembunyikan wajah pucatnya di perpotongan leher Taehyung. Tak peduli jika darahnya mengotori pakaian lelaki itu.
'Tuhan... bolehkah aku menjadi manusia serakah sekali ini saja? Aku tidak ingin berpisah dengan Taehyung... aku mencintainya Tuhan... aku mencintainya...'
.
.
.
"Tae! Ya Tuhan... apa yang terjadi?! Jungkook kenapa?!" Baekhyun bertanya panik saat Taehyung masuk ke dalam rumah sambil membawa Jungkook -yang entah tertidur atau pingsan- dalam gendongannya.
"Hyung, nanti saja bertanya nya. Sekarang bantu aku membawa Jungkook ke kamar."
Baekhyun mengangguk dan segera membukakan pintu kamar Taehyung, agar adiknya itu bisa masuk dan membaringkan Jungkook di kasur.
Setelah itu, Taehyung segera membuka jaketnya dan juga Jaket Jungkook yang belepotan darah. Melemparnya asal, kemudian berlari ke kamar mandi untuk mengambil air dan handuk kecil.
Pemuda itu kembali sesaat kemudian dan langsung duduk di sisi tempat tidur untuk membersihkan noda-noda darah di wajah Jungkook. Beruntung, mimisannya sudah berhenti.
"Tae, tenanglah. Kau mau Hyung panggilkan Dokter?"
Bisik Baekhyun, mengusap bahu Taehyung. Pasalnya, adiknya itu terlihat begitu panik. Bahkan jemarinya tak berhenti bergetar sejak tadi.
"Ya, aku tenang Hyung. Dan tidak, Jungkook tidak mau ada Dokter atau semacamnya."
Baekhyun menghela napas, ikut mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana saja kalian? Kenapa kembali dalam keadaam kacau begini?"
Yang ditanya menggeleng lemah, "Aku tidak tahu, Hyung. Aku juga tidak mengerti. Kami hanya pergi makan es krim, bermain sebentar di Lotte World dan Jungkook mengajakku berdoa ke gereja. Lalu, tiba-tiba saja Jungkook menangis dan mimisan. Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, Hyung."
"Sshhh... sudah... sudah... Kau tenanglah." Baekhyun kemudian menatap Jungkook yang terlelap, mengusap dahi pemuda itu yang berkeringat.
"Jungkook sepertinya demam. Hyung akan ambilkan air hangat untuk kompres. Kau jaga dia sebentar disini."
Sepeninggal Baekhyun, Taehyung terus-terusan menatap Jungkook. Menggenggam jemari pemuda itu yang justru terasa dingin.
"Kau kenapa, Kook-ah? Kenapa tiba-tiba jadi begini?" lirih Taehyung. Entah kenapa, ia merasa takut. Jungkook terlihat baik-baik saja sebelumnya. Tak ada keanehan apapun yang di tunjukkan pemuda itu. Sampai kejadian ini terjadi.
Apakah ada yang di sembunyikan Jungkook darinya?
Apa ada sesuatu yang salah dengan pemuda itu?
Atau, apakah ini yang menjadi alasan Jungkook membutuhkan-
"ini Tae. Kompres dahinya dengan ini." Ucapan Baekhyun menghentikan bermacam spekulasi di kepala Taehyung. Ia sampai tak sadar jika Hyung nya itu sudah kembali dari dapur.
"Terimakasih, hyung." Ia segera mengambil baskom air hangat yang di berikan Baekhyun. Meletakannya di nakas kemudian mencelupkan handuk kecil dan memerasnya. Di singkirkannya dengan hati-hati helai rambut yang menutupi dahi Jungkook, sebelum meletakkan handuk kecil itu disana.
"Hyung..."
"Hmm?" Gumam Baekhyun. Ia mengusap dan memainkan jemarinya di surai maroon sang adik.
"Jungkook..." bisik Taehyung, "dia akan baik-baik saja kan, Hyung?"
Baekhyun tersenyum. Paham betul kekhawatiran yang melanda adiknya itu. "Ya, Taehyung. Jungkook pasti baik-baik saja. Jangan khawatir, ne?"
.
.
.
Jungkook terbangun entah berapa jam kemudian. Saat membuka mata, ia melihat Taehyung tertidur pulas dengan posisi menyamping disisinya. Sebelah tangan lelaki itu menggenggam tangan Jungkook, sedangkan sebelahnya lagi melingkari pinggangnya.
"Maaf, Hyung..." gumam Jungkook lirih. Ia melihat bercak-bercak darah di kaos putih Taehyung. Lelaki itu bahkan belum sempat ganti baju rupanya.
Lalu, ia memandang jemarinya yang tidak digenggam Taehyung. Masih sedikit gemetar dan sulit di gerakan. Jungkook menghela napas kemudian.
Serangan kali ini cukup serius. Apa mungkin karena kankernya yang sudah masuk stadium lanjut, ya?
"Jungkook?" suara serak Taehyung menyentaknya dari lamunan. Di lihatnya lelaki itu sedikit bangkit untuk kemudian bertumpu pada siku dan menatapnya. "Kau baik? Apa yang kau rasakan sekarang?"
Taehyung bertanya terlewat lembut, jemarinya mengusap sebelah pipi Jungkook penuh kehati-hatian. Membuat Jungkook tak kuasa menahan senyum.
"Ya, aku baik Hyung. Maaf sudah membuatmu khawatir."
Taehyung terlihat masih belum puas dengan jawaban Jungkook. Ia menatap pemuda itu lekat-lekat.
"Katakan padaku, Jungkook. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Taehyung tak dapat menyembunyikan nada cemas dari suaranya dan itu membuat Jungkook merasa bimbang.
Apa ia harus mengatakan semuanya sekarang?
"Hyung... A-aku..."
Tidak. Jungkook tidak sanggup mengatakannya.
Tidak jika nantinya Taehyung akan menatapnya kasihan atau justru menjauhinya.
Jadi, Jungkook hanya meraih jemari Taehyung di pipinya. Berusaha tersenyum meyakinkan.
"Aku tidak apa-apa, Hyung. Tidak ada yang perlu di cemaskan. Sejak kecil aku memang sering begini. Tak usah khawatir."
Taehyung menatap ragu, "Kau yakin?"
Dan Jungkook hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum yang sama.
'Maaf, Hyung... maafkan aku...'
.
.
.
"Sudah, masuk kamar sana. Pengantin baru kok main catur sampai larut malam." Goda Jimin sambil tertawa geli.
Taehyung mendengus sebal. Namanya saja yang pengantin baru. Toh, di dalam kamar mereka juga tidak melakukan apa-apa, tidur saja terpisah.
"Kenapa wajahmu kusut begitu, Tae? Sudah masuk kamar sana." Kali ini Baekhyun yang menggodanya. Benar-benar!
Taehyung makin cemberut di buatnya. "Kalian sendiri, pulang sana. Kenapa betah sekali sih disini." Usir Taehyung terang-terangan.
"Tidak bisa. Kami sudah berjanji pada Kim Abeoji untuk menginap disini sampai lusa nanti." Jawab Yoongi.
Memang, hanya Seokjin saja yang tinggal serumah dengan Tuan Kim, sementara Baekhyun dan Jimin hanya sekedar menginap.
Tiba-tiba, Tuan Kim meraup semua buah catur dan memasukkannya ke dalam kotak catur.
"Lho, Appa. Kok berhenti?"
"Appa lelah menunggumu. Menggerakkan satu buah catur saja menghabiskan waktu hampir sejam."
Semua yang ada disana sontak tertawa.
"Sudah, masuk kamar sana!" Kali ini Tuan Kim ikut-ikutan mengusirnya.
Sambil mendengus, akhirnya Taehyung bangkit dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah perlahan.
"Hyung, tukar kamar dong." Bisik Yoongi pada Baekhyun setelah Taehyung menghilang dari ruang tengah.
"Lho, memang kenapa?"
Yoongi berdecak, "Kali ini giliranku dibawah. Aku malas meladeninya."
Baekhyun menyeringai kemudian. "No, no, no... kalau begitu nikmati saja penderitaanmu." Jawab Baekhyun sambil tertawa mengejek.
Dalam hati Yoongi mendengus, Awas saja kalau sampai Taehyung membuat 'keributan' hingga terdengar sampai ke kamarnya, yang berada tepat disebelah kamar lelaki itu. Yoongi bersumpah akan menendang bokongnya besok.
.
.
.
Taehyung berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup. Tangannya sudah akan memutar kenop pintu, saat tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Instingnya mengisyaratkan ada bahaya. Atau tanda bahwa ada sesuatu yang akan terjadi di dalam.
Dengan dada berdebar, Taehyung membuka pintu dan masuk ke dalam. Baru dua langkah memasuki kamar, tiba-tiba jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.
"OH-MY-GOD!" seruan spontan itu meluncur dari bibirnya yang mendadak kelu.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N :
Hayoo... Tae liat apa di dalem? Kkkk...
Jawabannya tunggu chap depan ya...
Mungkin agak sedikit lama, karena saya musti berguru dulu sama Jiraya dan Kakashi Sensei /didepak/ hehe... kidding deh ^^v
Oia ada beberapa pertanyaan dari Readers-san seperti :
Kook kanker stadium brapa?
Chap ini udh di jawab ya, Kook kanker stadium lanjut.
Kapan Tae tau Kook sakit?
Hmm... sepertinya Tae udh mulai curiga tuh, tapi kan Tae ga peka /plak
Chap depan Kook operasi ya?
Chap ini belum. Saya masih blm tega memisahkan mereka berdua #eeeaaa
Moment pernikahannya cepet bgt, mereka ga ketemu dokternya Kook?
Yg itu serius kelewat. Saya terlalu fokus sama novelnya dan di novel itu memang ga terlalu di jabarkan. Maaf kan saya /bow
Apa yg Kook omongin sama Irene?
Itu bakal terjawab nanti... a.k.a masih rahasia /plak
Kook bisa sembuh kan? Kook ga mati kan?
Well, yg itu Cuma saya dan Tuhan yg tau /ketawaevil /dirajamramerame
Maaf kalo ada pertanyaan yg kelewat, tapi serius... saya tersanjung sekali sama semua atensi Readers-san terhadap ff abal saya ini. Terimakasih...
Last... lanjutkah?
