Taehyung berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup. Tangannya sudah akan memutar kenop pintu saat tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Instingnya mengisyaratkan ada bahaya. Atau tanda bahwa ada sesuatu yang akan terjadi di dalam.
Dengan dada berdebar, Taehyung membuka pintu dan masuk ke dalam. Baru dua langkah memasuki kamar, tiba-tiba jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.
"OH-MY-GOD!" seruan spontan itu meluncur dari bibirnya yang mendadak kelu.
.
.
.
Married?!
A TaeKook Fanfiction by Rain
Remake dari Novel "Istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan
Rated T+ untuk chapter ini karena ada sedikit adegan menjurus /plak/
.
.
.
Tepat beberapa langkah di depan sana, berdiri sosok Jungkook yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Tapi, bukan senyuman manis itu yang membuat Taehyung berseru kaget. Melainkan si pemilik senyuman itu sendiri.
Hazel kembar Taehyung menilik tanpa kedip penampilan Jungkook saat ini.
Istri manisnya itu tengah memakai sebuah kemeja tipis -mungkin terbuat dari sutera- yang terlihat sedikit kebesaran di tubuh kecilnya. Dua kancing teratasnya terbuka, hingga baju itu merosot dan menampilkan sebelah bahu putih Jungkook yang mulus tanpa noda. Taehyung jadi berandai-andai, bagaimana bila ia mendaratkan bibirnya disana. Mengecup, menjilat dan meninggalkan jejak-
Oi, Taehyung! Berpikirlah waras!
Ia menggelengkan kepala beberapa kali sambil memejamkan mata. Berharap pikirannya kembali jernih dan penampakan Jungkook yang mengerikan itu segera hilang dari pandangannya. Tapi, sepertinya doanya sama sekali tak terkabul, karena saat membuka mata, sosok itu masih ada di sana.
Netranya dengan lancang kembali mengamati figur yang lebih muda.
Kemeja yang Jungkook kenakan berwarna semerah darah. Begitu kontras dengan kulit putihnya yang mulus bak porselen. Rambut hitamnya yang biasa lurus dan rapi kini sengaja dibuat berantakan, terlihat begitu seksi di mata Taehyung. Dan ketika hazel lelaki itu bergulir ke kebawah, Tenggorokannya serasa kering seketika, karena demi Dewa Neptunus,
Jungkook sama sekali tidak memakai celana!
Oke, Taehyung. Tenangkan dirimu. Mungkin dosamu begitu besar hingga mendapat cobaan sebegini berat.
Kemeja yang Jungkook kenakan memang cukup panjang, namun hanya bisa menutupi sampai sebatas paha atasnya saja, so... otomatis Taehyung dapat secara gratis melihat kaki jenjang Jungkook yang jenjang dan mulus. Lagi-lagi, pikiran kotornya kembali membayangkan, sepasang kaki jenjang itu melingkar erat di pinggangnya ketika ia dengan brutal menusuk-
Aarrgghh, Tuhan... Tolong bunuh Taehyung saja sekarang!
Jungkook yang melihat Taehyung mematung di depan pintu kemudian menyeringai. Dengan gerak perlahan, ia membawa jari telunjuk kanannya ke depan bibir. Lalu dengan gerak perlahan pula, ia membuka belah bibirnya dan memasukkan ujung jarinya ke sana, mengulumnya sensual dengan tatapan yang tak lepas dari Taehyung.
Taehyung menegang. Menelan ludah susah payah melihat aksi Jungkook barusan. Bagian bawanya terasa sesak seketika. Apalagi ditambah udara didalam kamar yang terasa aneh, seperti bau mistis, tapi yang jelas itu bukan bau kemenyan. Ia berdiri terpaku di depan pintu kamarnya yang tertutup. Ingin melarikan diri tapi kakinya seolah menempel pada lantai.
'Astaga, Jungkookie yang polos kerasukan apa?!' Jeritnya dalam hati dengan kepala yang terasa pusing. Hidungnya mulai terasa gatal.
Tiba-tiba, Jungkook melangkah mendekatinya.
"Jangan mendekat !" Taehyung spontan berteriak.
"Kenapa?" Jawab Jungkook, memiringkan kepala dengan jari telunjuk yang masih menempel di bibirnya.
'Iya, ya. Kenapa?' batin Taehyung ikut bertanya.
"Ngg... karena..." ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sementara Jungkook kembali melangkah maju hingga jarak mereka kini semakin dekat.
"Beritahu aku jika sudah mendapatkan jawabannya, Hyung." Bisik Jungkook sambil tersenyum.
Taehyung panik dan segera menutup matanya. "Ku mohon, Kook-ah. jangan memancingku seperti ini..." pintanya gemetar.
"Memang kenapa, Hyung? Kita kan sudah menikah." Jawaban yang terdengar polos itu terlontar dari bibir merah Jungkook, sungguh tak sepolos penampilan pemiliknya.
"Aku tidak ingin kau menyesalinya, Kook-ah. Jika ini memang ulah hasutan para Hyungku, kau tidak perlu menurutinya. Ini ajaran sesat, Kook." Bisik Taehyung nyaris putus asa. Ia seperti berada di tepi jurang, dengan satu tiupan saja tubuhnya bisa jatuh berkeping-keping menimpa Jungkook.
"Hyungie..." bisik Jungkook mesra, menyentuh wajah Taehyung, hingga sang pemilik kembali membuka matanya. "Aku sudah dewasa... juga sudah punya KTP. Percayalah, aku tidak akan menyesalinya." Ucap Jungkook lembut. Mata bulatnya yang berhias eyeliner tipis, menatap Taehyung dengan lekat, bulu matanya yang panjang itu kini terlihat lebih lentik dan tebal.
Taehyung sungguh tak percaya. Tapi, di depannya Jungkook berdiri dengan tatapan yang serius. Dan Taehyung sudah tak sanggup lagi untuk kabur dari sana. "Kau Yakin?"
Jungkook mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Taehyung.
Oh Tuhan... cobaan apa lagi itu? Apa Jungkook tidak tahu jika stok pengendalian diri yang Taehyung punya hampir habis?!
"Taehyungie hyung..." panggil Jungkook manja, jemari lentiknya merambat naik dan mengelus dada bidang Taehyung, tanpa tahu aksi itu nyaris membuat tubuh Taehyung meleleh tanpa sisa."Jika aku tidak yakin, untuk apa aku repot-repot memakai baju ini dan menanggung resiko masuk angin."
Tanpa ragu lagi, Taehyung segera meraup bibir merah yang sejak tadi menggodanya itu kedalam ciuman lembut.
"Baiklah. Tapi, janji... jangan menyesal dan marah padaku nantinya."
Jungkook mengalungkan lengannya ke leher Taehyung, "jika kau masih terus bicara, aku janji akan benar-benar marah padamu, dan ku pastikan kau akan menyesalinya seumur hidup." Ancam pemuda itu di balik kata-kata lembutnya.
Taehyung tekekeh dan kembali mengklaim bibir Jungkook, kali ini disertai lumatan-lumatan kecil. Namun baru beberapa detik, ia tiba-tiba menjauhkan dirinya dan...
Hatsyiii!
"Kook, ini bukan kemenyan, kan?" tanya Taehyung asal.
Jungkook tertawa mendengarnya, "ini lilin aroma terapi, Hyung... aroma sensual..."
Hatsyiii!
Taehyung menggosok-gosok hidungnya yang gatal, "Aku alergi, Kook!"
Jungkook bengong, "Kau mau semua lilin ini di matikan?" Tanyanya ragu.
"Jangan..." Taehyung medekap Jungkook lebih dekat, "nanti suasana romantisnya jadi hilang." Ucapnya dan mengerlingkan sebelah matanya.
"Asalkan, kau tidak keberatan mendengar aku bersin semalama- Hatsyiii!"
Jungkook kembali tertawa dan menggeleng, "Aku juga tidak keberatan kalau Hyung berhenti bicara. Semakin lama bicara, Hyung semakin membuatku gugup." Gumam Jungkook dengan pipi yang merona.
Taehyung tergelak pelan dan kembali membawa Jungkook ke dalam ciuman mesra.
Hatsyiii!
"Aish!" Gerutu Taehyung.
Jungkook segera melepaskan diri dan menarik Taehyung menuju kasur mereka. Berbaring disana dan disusul Taehyung di atasnya.
Yang lebih tua segera menelusupkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu terekspos yang lebih muda.
"Siapa yang mengusulkan lilin aroma terapi ini?" Bisiknya dengan suara sedalam pasifik.
"Baek-Hyung... dia tidak- tahu kau a-alergi? Ngghh..." Ucap Jungkook terbata. Napasnya mulai terasa berat, karena Taehyung menyapukan bibir dan lidah hangatnya di area sensitif itu. Naik perlahan-lahan menuju telinga. Menjilat dan mengulum, sebelum memberikan hisapan kuat di belakang telinganya.
"Ck, sangat tahu." Decak Taehyung.
"Lalu kenapa malah..."
Taehyung mengangkat wajahnya dan menatap Jungkook yang terengah, "Kau seperti tidak tahu Baekhyun Hyung saja. Mungkin dia sengaja, supaya seisi rumah ini tahu kita sedang melakukan -hatsyii- apa."
"Berarti kita tidak boleh mengecewakan mereka, iya kan?"
Taehyung menyeringai. Begitu tampan. "Kim Jungkook, kau begitu nakal."
Mata setajam elangnya menusuk tepat ke pupil Jungkook yang sehitam jelaga. "Menggodaku dengan pakaian seperti ini..." jemarinya menyusuri perut rata Jungkook dari balik kemeja sebelum kemudian menelusup ke baliknya,
"kau... kelinci kecilku yang sangat nakal." Bisiknya lagi dengan suara serak penuh hasrat.
Jungkook menggigit bibir bawahnya, menahan erangan. Kemudian mengalurkan lengannya di leher lelaki itu dan berbisik di depan bibirnya. "Ya, aku kelinci kecilmu yang nakal. Hukum saja aku, Hyung..."
Taehyung menggeram. Ia kembali menyambar bibir Jungkook yang sudah bengkak. Mengulum dan menghisap kuat. Menggigit kecil bibir bawahnya hingga Jungkook refleks membuka mulut dan menelusupkan lidah lihainya kesana. Menggelitik rongga mulut dan membelit lidahnya, membuat Jungkook mengerang.
Hatchyiii!
"Ugh! Ya Tuhan..."
Jungkook terengah kemudian terkikik kecil. Namun ia terkesiap ketika Taehyung kembali menyerang lehernya. Memberikan jilatan dan juga hisapan disana.
"Kau tahu,, aku lebih suka baumu di banding aroma sensual manapun..." bisik Taehyung di telinga Jungkook kemudian mengulumnya . Membuat wajah Jungkook semakin merah padam.
Sementara jemarinya bekerja begitu tergesa, membuka setiap kancing kemeja yang Jungkook kenakan. Menyingkapnya ke samping, tanpa melepas kemeja itu dari tubuh pemuda di bawahnya.
"Jungkook..." Taehyung berbisik. Melarikan jemarinya di atas tubuh Jungkook yang begitu halus, lembut seperti kulit bayi. "sudahkah aku mengatakan jika kau begitu indah?"
Jungkook mengerang. Ia hanya mampu memejamkan mata, menikmati sentuhan Taehyung yang nyaris membuatnya gila, "H-Hyungghh..."
Tatapan Taehyung lalu jatuh pada bagian bawah Jungkook yang hanya terlapisi celana dalam berwarna hitam. Terlihat sudah tegang dan sedikit basah.
Taehyung menyentuhnya disana. Mengelus dan meremas pelan dari luar, membuat Jungkook terenyak dan refleks meremas kedua bahu tegap lelaki di atasnya.
"A-aahh! Hyungiee..."
Dan lantunan melodi indah itu meruntuhkan seluruh akal sehat Taehyung yang tersisa.
.
.
.
Taehyung memandangi wajah Jungkook yang tertidur di sampingnya. Sudah hampir sejam sejak mereka bergumul dan mendesah, tapi ia masih enggan terlelap. Tubuhnya memang lelah namun ia merasa puas.
Di perhatikannya wajah Jungkook yang terlihat sedikit pucat. 'apa aku terlalu kasar?' Pikirnya.
Tapi semua bukan salahnya kan? Salahkan saja Jungkook yang begitu menggoda. Ia jadi tersenyum geli sendiri. Bukankah pemuda itu sendiri yang bilang, bahwa tidak ada hubungan intim diantara mereka, ini malah ia juga yang menawarkannya. Tapi, toh Taehyung tidak keberatan, ia justru sangat menikmatinya.
Ditariknya Jungkook mendekat. Mendekapnya erat dan memberikan ciuman di bibir yang sedikit terbuka itu cukup lama.
"Ku harap dengan ini, kau juga memutuskan untuk tetap tinggal, Kook-ah. Karena aku sendiri tidak yakin, apakah aku bisa melepaskanmu atau tidak setelah ini."
Taehyung mengecup puncak kepala Jungkook. Kemudian memejamkan mata untuk menjemput mimpi indahnya. Berbisik begitu lirih, sebelum kesadarannya perlahan-lahan terkikis.
"Aku mencintaimu, Jungkook-ah..."
.
.
.
Jungkook menggeliat dalam tidurnya. Perlahan, kedua matanya terbuka dan hal pertama yang ia lihat di pagi itu adalah wajah damai Taehyung yang terlelap di sisinya. Wajahnya seketika merona, ingatannya secara otomatis kembali pada kegiatan panas yang mereka lakukan semalam. Tapi, Jungkook sama sekali tidak menyesalinya. Ia justru merasa bahagia, karena telah menyerahkan apa yang selama ini ia jaga pada Taehyung, pendampingnya. Orang yang memberi Jungkook segalanya, juga orang yang diam-diam di cintainya.
Pelan, ia menyingkirkan lengan Taehyung yang melingkar di pinggangnya. Sedikit meringis saat bangkit kemudian meraih bajunya yang tergeletak di lantai. Berantakan, bersama juga pakaian Taehyung disana. Setelah merapikan semuanya, Jungkook bergegas ke kamar mandi untuk mersihkan diri.
Sekitar lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Dilihatnya Taehyung yang masih bergelung di dalam selimut.
Jungkook berjalan mendekat lalu duduk di sisi tempat tidur, memandang wajah Taehyung sejenak sebelum kemudian meraih kertas dan pulpen dari dalam laci, menuliskan beberapa kata disana. Setelah selesai, ia eletakkan kertas itu di atas laci tadi, memastikan Taehyung akan mudah menemukannya.
Kembali tatapannya jatuh pada wajah pulas Taehyung.
Suaminya terlihat semakin tampan dengan wajah tenang seperti itu. Perlahan didekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan.
"Terimakasih atas segalanya, Hyung. Aku tidak akan pernah melupakannya." Bisiknya kemudian melangkah meninggalkan kamar.
.
.
.
Taehyung bangun setengah jam kemudian dan memgernyit ketika tak mendapati Jungkook di sampingnya. Dengan bingung ia mendudukan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang. Tanpa sengaja, ekor matanya melirik pada sehelai kertas yang tergeletak di atas laci.
'Aku pergi... ada urusan penting. Jungkook.'
Itu yang tertulis disana. Di liriknya jam beker yang juga ada di atas laci, jam 7.00 pagi.
'sepagi ini?' Pikir Taehyung.
Memutuskan untuk tak berpikir yang aneh-aneh, akhirnya ia beranjak ke kamar mandi.
Taehyung keluar dari kamarnya dengan wajah berseri-seri. Di ruang tengah di lihatnya Seokjin yang sedang bermain dengan Joonjin. Merasa haus, ia pun melangkahkan kakinya ke dapur dan sudah ada Yoongi disana.
"Oh, Pagi Hyung!" Sapanya riang. Moodnya benar-benar baik hari ini.
Tapi, lelaki pucat itu hanya mendengus dan sepersekian detik selanjutnya, sepatu nike merahnya sudah mendarat di bokong Taehyung.
"Aww! Hyung, apa-apaan?!" protes Taehyung tak terima. Namun lagi-lagi Yoongi hanya mendengus kemudian berlalu dari hadapannya.
Taehyung menggerutu sambil mengusap-usap bokongnya yang ngilu. Tapi, setelah melihat cara jalan Yoongi yang sedikit aneh, Taehyung akhirnya paham dan tawanya lepas begitu saja.
"Diam kau, Brengsek! Mau ku tendang lagi, hah?!" Hardik Yoongi galak.
Taehyung berusaha meredakan tawanya, tak ingin bokongnya kembali jadi sasaran, kemudian mengangkat bahu."Jangan marah padaku, Hyung. Marahlah pada Park Bantet Jiminmu itu." Jawab Taehyung yang di hadiahi lemparan buku resep oleh Yoongi. Benar-benar snarky.
Taehyung sendiri heran kenapa Jimin bisa tahan dengan sikap Yoongi yang seperti itu. Atau mungkin barangkali Jimin itu seorang masocist. Dan lagi, posisi mereka yang sering berubah-ubah. Kadang Yoongi yang di atas, namun tak jarang, lelaki pucat itu membiarkan Jimin mendominasinya, seperti semalam. Entah dengan cara apa pemuda Park itu melakukannya, tapi sepertinya memang hanya Jimin yang bisa menaklukan Yoongi dan Taehyung salut akan hal itu.
Ia memutuskan kembali ke ruang tengah setelah mendapatkan apa yang di carinya.
"Appa kemana Hyung?" Tanyanya pada Seokjin saat tak melihat Tuan Kim disana. Biasanya, Ayahnya itu akan duduk santai sambil mengecek laporan di ruang tengah.
"Tidak tahu, tadi pergi pagi-pagi sekali dengan Hoseok. Oh iya, Jungkook kemana?" Jawab dan tanya Seokjin.
"Molla, dia bilang ada urusan penting."
.
.
.
Jungkook baru saja selesai dengan serangkaian pemeriksaan yang di butuhkan sebelum ia melaksanakan operasi. Sebenarnya, Hanya melakukan beberapa cek ulang saja, karena kemarin-kemarin ia sudah bolak-balik rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan itu tanpa harus di opname -dan tentu saja tanpa sepengetahuan Taehyung dan keluarganya. Sedikit melanggar prosedur rumah sakit sebenarnya, tapi, siapa peduli.
Ia tengah bersandar di ranjang ruang rawat ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan dari Taehyung.
Jungkook mendesah gusar. Ini sudah sore dan Taehyung pasti mencarinya. Ia bingung harus mengatakan apa pada lelaki itu. Tapi, kalau tidak di angkat, hatinya sendiri merasa tak tenang.
Akhirnya, dengan mantap ia menjawab panggilan itu dan menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo? Jungkook? Akhirnya kau menjawab teleponku juga."Suara Taehyung terdengar lega di seberang sana. "Kau dimana? Urusan penting apa yang membuatmu belum juga pulang sampai sekarang, huh?"
Jungkook menggigit bibir bawahnya, "Umm... itu Hyung..." ayolah Jungkook, berpikir. "Kau ingat dengan Kyungsoo Hyung? Sahabatku?"
Ada jeda beberapa detik disana. Taehyung seolah sedang mengingat-ingat."Ah! Sahabatmu yang pendek dengan mata bulat seperti burung hantu itu?"
Ia sedikit memberengut mendengar Taehyung mendeskripsikan sahabatnya seperti itu, "iya, sahabatku yang itu!"
"Hmm... memangnya dia kenapa, Kook-ah?"
"Dia... ada keperluan keluarga dan aku sedang bersamanya sekang."
"Dimana?"
"Busan." hanya daerah itu yang sempat terlintas di benaknya. Padahal keluarga Kyungsoo berada di Gyeonggi-do. Ah, sudahlah.
"Busan? Kau di Busan sekarang?" Taehyung terdengar terkejut dan juga... marah?
"I-iya, Hyung. Maaf tidak memberitahumu lebih dulu. Ini mendadak."
'Maaf karena membohongimu juga, Hyung.'
"Baiklah, aku akan menyusulmu sekarang."
"Tidak!" Jungkook refleks menjawab, "eh, maksudku tidak usah, Hyung. Urusan Kyungsoo Hyung cukup pribadi, aku hanya tidak enak dengannya jika kau tiba-tiba ada disini juga." Jelasnya mencoba terdengar masuk akal.
Hening, sebelum kemudian ia mendengar Taehyung menghela napas.
"Baiklah... Kapan kau pulang?"
Jungkook kembali berpikir, "Hmm... entahlah. Mungkin 5-6 hari?" jawabnya bimbang. Jungkook bahkan tak yakin apa ia bisa pulang setelah operasi.
"Begitu? Yasudah..."
Hening lagi...
"Jungkook..."
"Ya, Hyung?"
"Uh, hati-hati disana. Dan... cepat kembali."
Lalu sambungan terputus.
Jungkook mematung mendengar kata-kata Taehyung.
Cepat kembali, katanya.
Apa Taehyung sunguh-sungguh ingin ia cepat kembali?
Tapi kemudian senyuman miris tercetak di bibirnya.
Apakah ia bisa kembali?
Apakah ia bisa selamat dari operasi ini dan melihat Taehyung lagi?
Lamunan Jungkook buyar ketika Pintu ruang rawatnya di buka. Tapi, yang masuk bukanlah Dokter Kang yang hendak memberitahu jam berapa ia akan operasi, melainkan dua orang yang sosoknya sudah Jungkook kenali.
"Pengacara Jung? A-Appa?"
Ia kaget bukan main ketika mendapati Tuan Kim bersama dengan Jung Hoseok lah yang berdiri di depan pintu kamar rawatnya.
"Appa, sedang apa disini?" pertanyaan itu serta merta keluar dari bibir Jungkook yang terasa kelu.
Tuan Kim tersenyum kemudian berkata dengan nada yang begitu lembut. "Memangnya tidak boleh, jika Appa menemani menantu Appa yang sebentar lagi akan melalui operasi besarnya, heum?"
Jungkook sontak tergagap, "Appa... tahu?"
Tuan Kim mengangguk, "Ya, Appa tahu, semuanya."
"Se-semuanya?!" Jungkook membeo, "semuanya termasuk dengan-"
"Iya, Jungkook-ah. Abeoji Kim sudah tahu, semuanya." Hoseok yang menjawab dengan menekankan kata 'semuanya'. Membuat Jungkook menatapnya tak percaya.
"Pengacara Jung... kenapa?"
Hoseok tersenyum dan berjalan menghampiri Jungkook di ranjang. Pengacara itu kemudian duduk di sisinya.
"Nah, Hoseok Hyung saja untukmu. Dan kenapa aku melakukan ini semua? tentu karena itu kewajibanku, Kook-ah."
Jungkook lalu menatap Tuan Kim yang masih berdiri diam disana. Kemudian tertunduk, tak berani lagi menatap pria paruh baya itu.
"Appa... maaf... maafkan aku..."
Tuan Kim ikut mendekati Jungkook, kemudian Hoseok bangkit dan mempersilahkan Tuan Kim untuk duduk di sisi menantunya itu.
"Tidak perlu minta maaf, Kookie. Kau sama sekali tak bersalah." Tuan Kim menggenggam jemari Jungkook yang saling meremas di pangkuannya.
"Tapi, aku dan Taehyung Hyung sudah membohongi Appa. Kami-"
"Sshh... Jungkookie. Tidak apa-apa. Sebelum kalian menandatangani perjanjian itu, Hoseok sudah lebih dulu memberitahukannya pada Appa. Appa memang sempat marah pada Taehyung, tapi ketika mengetahui kau lah yang akan menikah dengannya, Appa akhirnya memilih diam dan pura-pura tidak mengetahui sandiwara kalian."
"Dan soal penyakitmu..." Tuan Kim mengelus kepala menantunya sayang, "Maafkan Appa karena mencari informasi tentangmu secara diam-diam. Appa hanya ingin tahu seperti apa menantu Appa ini."
Jungkook tidak sanggup lagi membendung air matanya. Ia menghambur, memeluk Tuan Kim dan menangis di sana.
"Appa..."
Tuan Kim balas memeluk menantunya erat, "Berjuanglah, Kook-ah. Kau harus sembuh. Menantu Appa adalah pemuda yang kuat. Kau pasti bisa melewati ini semua, ne?"
Jungkook mengangguk kecil di pelukan Tuan Kim. Dilihatnya, Hoseok yang juga tengah tersenyum lembut ke arahnya. Entah kenapa hatinya lega luar biasa, "Ne. Terimakasih, Appa. Hoseok Hyung."
.
.
.
Taehyung menghela napas pelan. Saat ini ia sedang berada di sekitar Sungai Han. Sedikit jalan-jalan untuk menghilangkan bosan.
Di tatapnya ponsel yang tergeletak di sampingnya. Setelah Jungkook menjawab teleponnya kemarin dan mengatakan jika tengah di Busan, pemuda itu tidak menghubunginya lagi sampai sekarang. Di telepon pun ponsel Jungkook tidak aktif. Taehyung jadi berpikir, apa pemuda itu sengaja menghindarinya setelah apa yang terjadi malam itu? Apakah Jungkook menyesalinya?
Aarrghh! Taehyung jadi pusing sendiri. Sebaiknya ia pulang saja daripada melamun tak jelas disini.
Baru saja ia bangkit, tubuhnya tiba-tiba ditabrak seseorang hingga ia nyaris terjungkal ke belakang.
"Ah. Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Lelaki yang menabraknya membukukkan tubuh seraya mengucap maaf berulang-ulang. Namun Taehyung bergeming karena merasa mengenali sosok di depannya itu.
"Kau... Kyungsoo-ssi?"
Lelaki yang menunduk itu mengangkat wajahnya. Mata bulatnya membola lucu ketika melihat Taehyung.
"Oh, Taehyung-ssi. Kebetulan sekali."
Taehyung mengabaikan sikap ramah tamah Kyungsoo karena merasa ada yang perlu ia tanyakan saat ini.
"Bukankah kau sedang ada di Busan dengan Jungkook sejak kemarin? Kenapa bisa ada disini? Kalian sudah kembali?" Tanyanya beruntun.
Kyungsoo terlihat kebingungan. Tak mengerti dengan apa yang Taehyung bicarakan. "Aku dan Jungkook? Busan?"
Melihat gelagat Kyungsoo yang seolah tak tahu apa-apa, menimbulkan gemuruh di dada Taehyung.
Apa Jungkook berbohong padanya?
Jika ia tak bersama Kyungsoo, lalu dimana dia sekarang?
Baru saja Taehyung akan kembali bertanya, suara seseorang dari kejauhan terdengar memanggil Kyungsoo.
"Iyaa, tunggu sebentar!" Sahut Kyungsoo kemudian kembali menatap Taehyung. "Well, Taehyung-sii. Senang bertemu denganmu lagi. Tapi, aku sedang buru-buru. Jadi, sampai nanti."
Dan pemuda itu langsung melesat pergi tanpa mendengar jawaban Taehyung lagi.
.
.
.
"Jungkook!" Teriak Taehyung ketika memasuki rumahnya. Napasnya memburu karena berlari. Hatinya sesak dan takut karena di bohongi. Tapi, ia memutuskan untuk pulang ke rumah karena mungkin saja... mungkin saja Jungkook berkata jujur padanya. Mungkin saja kemarin ia dan Kyungsoo memang pergi ke Busan. Dan mungkin saja... pemuda itu sekarang sudah pulang ke rumah dan sengaja tak mengabarinya karena ingin membuat kejutan.
"Kim Jungkook, kau dimana?!"
Taehyung membuka pintu kamarnya, tapi kosong. Tak ada Jungkook disana. Kemudian ia kembali menuruni tangga dan mencari pemuda itu di ruangan lainnya.
"JUNGKOOK!"
"Astaga, Taehyung! Kenapa teriak-teriak sih? Kau pikir ini di hutan, hah?!" Baekhyun datang dari arah dapur sambil mengomel padanya.
"Hyung, apa Jungkook sudah pulang? Ia di mana sekarang?" pertanyaan beruntun Taehyung membuat Baekhyun mengernyit bingung.
"Jungkook? Bukankah kemarin kau bilang ia pergi ke Busan dengan temannya?" Baekhyun balik bertanya dan ekspresi Taehyung blank seketika.
Jungkook belum pulang.
Jungkook membohonginya.
Belum selesai dengan kekalutannya, tiba-tiba ponsel dalam saku jeansnya berdering.
"Hallo?" Taehyung menjawab cepat. Berharap kalau mungkin saja itu dari Jungkook. Tapi, ternyata bukan. "Ya, saya sendiri."
Dan rentetan kalimat yang ia dengar dari ujung sambungan sana membuat ia kembali terdiam seketika.
"Tae, ada apa?" tanya Baekhyun khawatir karena Taehyung hanya diam mematung. Ponselnya masih tergantung di telinga.
"Taehyung?" lagi, Baekhyun memanggil. Adiknya itu kemudian menurunkan ponsel dari telinganya. Tapi raut wajah lelaki itu sama sekali tak berubah.
"Ya ampun, Taehyung!" karena kesal pertanyaannya tak juga di jawab, Baekhyun meraih wajah Taehyung dengan kedua tangannya, hingga wajah mereka berhadapan. Dan saat itulah Baekhyun bisa melihat dengan jelas, kedua hazel adiknya yang bergetar dan menggenang.
"Tae... ada apa? Siapa yang menelpon?" tanya Baekhyun lembut. Amarahnya seketika menguap, melihat adiknya tampak terguncang seperti itu.
"Dokter Kang, dari Rumah Sakit Seoul." Jawab Taehyung lirih. Pandangannya masih tak fokus.
"Lalu? Kenapa Dokter Kang menghubungimu?"
"Jungkook..." Taehyung berujar lemah, kali ini ia menatap tepat mata Hyungnya. "ia baru saja menjalani operasi... kanker otak, Hyung..." dan setetes air mata bergulir dari hazelnya yang berembun.
.
.
.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Baekhyun segera menghubungi Chanyeol, Namjoon dan Jimin. Meminta agar mereka segera bertemu disana. Sementara Seokjin fokus menyetir, karena Taehyung terlihat masih seperti orang linglung.
"Bagaimana mungkin kau bisa tidak mengetahui hal ini, Tae?" Tanya Namjoon saat mereka semua menuju ruang ICU.
Taehyung hanya diam, ia seolah masih belum kembali ke dunia nyata. Tatapannya kosong dengan pikiran mengawang.
Jungkook ... kanker otak? Bagaimana mungkin ia begitu bodoh dan tak peka untuk menyadarinya?
"Apa Aboeji sudah tahu, Hyung?" Yoongi buka suara. Pemuda pucat itu langsung meninggalkan pekerjaannya sebagai Dosen di Universitas Seoul, saat Jimin memberitahunya soal keadaan Jungkook.
Baekhyun menggeleng, "Belum. Jangan beritahu Appa dulu, aku takut Appa shock dan jantungnya kembali kambuh."
Semua mengangguk setuju.
Namun saat sampai di ujung lorong, semuanya terbelalak kaget melihat dua sosok familiar yang sedang berbicara dengan seorang Dokter di depan pintu ruang ICU.
"Appa?!"
"Hoseok Hyung?!"
"Appa, sedang apa kalian disini?" Tanya Taehyung saat ia sudah sampai di depan mereka.
Tuan Kim mengabaikan pertanyaan itu, "Dokter, ini Taehyung. Suami Jungkook." Ucapnya pada Dokter Kang.
Dokter Kang langsung memperkenalkan dirinya.
"Maaf tak bisa datang di pesta pernikahan kalian tempo hari, Taehyung-ssi."
Taehyung tersenyum dan menggeleng ringkas. Sejujurnya ia merasa tak sabar dengan acara basa-basi itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Jungkook? Di mana dia sekarang?"
Dokter Kang terdiam, perubahan raut wajahnya yang hanya sekejap itu membuat jantung Taehyung nyaris berhenti berdetak. Ia melirik sekilas kearah Tuan Kim dan Hoseok. Namun, ekspresi mereka yang mencurigakan justru menambah buruk firasat Taehyung.
"Dokter?" Desaknya menuntut.
Dokter Kang menghela napas. "Operasinya berjalan dengan lancar..."
"Lalu Jungkook?!"
"Dia masih ada di ruang ICU. Maaf, Taehyung-ssi, tapi bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan pada anda."
Taehyung mengangguk dan segera mengikuti Dokter Kang menjauh dari kerumunan.
"Jungkook menitipkan ini untuk anda." Dokter Kang menyerahkan sebuah amplop pada Taehyung.
"Tapi, kenapa harus dititipkan, Dok? Kenapa dia tidak memberikannya langsung pada saya?"
Dokter Kang hanya mengangkat bahu dan tersenyum tenang.
Tiba-tiba, kecurigaan menyelinap di hati Taehyung.
"Apa dia mengatakan sesuatu, Dokter?"
"Maksud anda?"
"Yah, mungkin alasan kenapa ia tidak ingin bertemu dengan saya. Apa dia marah? Saya tahu saya salah karena tidak mengetahui tentang hal ini, tapi kenapa Jungkook tidak mau terbuka soal penyakitnya?" Taehyung mengoceh dengan putus asa.
Dokter Kang hanya mengangguk-angguk tanpa memberi tanggapan. Setelah mengatakan beberapa kalimat penghibur, Dokter Kang segera undur diri.
Taehyung masih terpaku di tempatnya sampai sebuah tepukan di bahu menyadarkannya dari lamunan.
"Taehyung, Appa ingin bicara."
.
.
.
Semua yang ada di ruangan VVIP terdiam tak percaya, bahkan Taehyung sudah terduduk lemas di kursi saking shocknya.
"Kenapa Appa melakukan semua ini?!" Taehyung menggeram, antara marah dan juga putus asa. Kedua tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
"Jika Appa tidak berpura-pura sakit dan memintaku untuk segera menikah, pasti semua ini tidak akan terjadi. Appa tidak tahu apa yang sudah terjadi akibat sandiwara Appa ini. Oh, Appa... aku takkan mungkin sampai hati menyakiti Jungkook seperti ini." Rutuknya lagi.
"Jangan anggap remeh Appa, Taehyung!" Tegur Tuan Kim.
"Maksud Appa?"
"Appa tahu apa yang sudah terjadi selama ini, termasuk perjanjian yang kau buat dengan Jungkook."
Tanpa ampun, tatapan nyalang Taehyung jatuh pada Hoseok yang berdiri tak jauh darinya. Pasti lelaki itu yang sudah membocorkan hal ini.
"Sudah tugas Hoseok untuk memberitahu Appa tentang apa saja yang terjadi di keluarga kita, apalagi ini menyangkut soal anggota baru keluarga Kim." Ucapan Tuan Kim menjawab tatapan tajam Taehyung tadi.
"Lagipula, Appa berani bertaruh kalau Appa jauh lebih mengenal Jungkook dibandingkan denganmu yang lebih sering menghabiskan waktu dengannya!" Tambah Tuan Kim lagi.
Taehyung hanya diam dengan wajah tertunduk. Tak lagi berkata-kata.
"Jungkook sudah beberapa kali menemui Dokter Kang untuk berkonsultasi tentang penyakitnya. Ibunya dulu meninggal karena penyakit yang sama. Peluang hidup sebenarnya masih ada, tapi karena tidak adanya biaya, Ibu Jungkook terpaksa menyerah pada penyakitnya."
Semua yang ada disana terdiam. Merasa iba atas apa yang menimpa Jungkook.
"Dan sekarang, Jungkookpun mengalami hal yang sama. Gajinya sebagai pegawai swasta tidak mencukupi untuk biaya operasi. Maka dari itu ia nekad menandatangani perjanjian nikah kontrak denganmu dan menerima imbalan 500 juta."
"Nikah kontrak?! Kalian hanya menikah kontrak?!" Baekhyun melotot kaget.
"Kenapa kau jahat sekali, Tae? Apa tidak bisa kau pinjami saja dia uang, daripada harus menjebaknya seperti ini." Ujar Jimin ketus.
"Tapi aku sama sekali tidak tahu tentang penyakitnya!" Teriak Taehyung kesal.
"Oh ya?! Lalu apa yang sudah kau ketahui tentang Jungkook, eoh?! Aku bahkan curiga bahwa kau sama sekali tidak tahu apa-apa soal dia!" Timpal Yoongi.
Yang paling tua di antara mereka segera mengangkat tangan. Memberi isyarat agar mereka semua diam.
"Mungkin ini sudah Takdir Tuhan, karena ternyata kau pun memilih dia. Sebelum perjanjian ditanda tangani, Appa sudah lebih dulu meminta Hoseok menyelidiki latar belakang kehidupan Jungkook. Dan hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Hanya nasibnya saja yang tidak terlalu baik karena harus menjalani kehidupan yang sulit dan pahit. Maka dari itu, Appa langsung setuju dan meminta Hoseok segera membuat surat-surat dan memberikan uang pada Jungkook secepatnya, berharap ia akan segera menjalani operasi dan mengangkat sel kanker di otaknya. Tapi, ternyata dugaan Appa salah..."
Tuan Kim menghela napas berat. "Jungkook justru mengundur operasinya setelah kalian menikah. Membuat penyakitnya semakin bertambah parah. Ia sama saja seperti bertaruh dengan kematian. Dokter Kang sudah meminta Appa untuk membujuknya, tapi tentu Appa tidak bisa melakukan itu. Karena dalam pikiran Jungkook, Appa sama sekali tidak tahu menahu soal penyakit dan juga perjanjian yang kalian buat."
Astaga! Taehyung makin kuat meremas surai maroonnya.
"Taehyung, Jungkook adalah pemuda baik-baik. Dia bukan seorang matrealistis seperti yang mungkin kau pikirkan selama ini. Uang 500 juta tidak sebanding dengan apa yang sudah ia korbankan. Apa kau pernah berpikir, apa yang akan terjadi padanya setelah kalian berpisah? Diceraikan saat pernikahan baru berusia enam bulan, terlebih ia menikah dengan orang terpandang seperti keluarga kita, itu bukanlah imej yang baik dikalangan masyarakat kita, Taehyung."
Taehyung menghela napasnya susah payah. Rasa bersalah sudah sangat menghimpit hatinya. Tanpa sadar kedua matanya kembali berkaca-kaca. "Aku... aku sungguh sangat menyesal, Appa..."
Tuan Kim tersenyum hambar, "Percuma, Taehyung. Semuanya sudah terlambat."
Taehyung spontan mengangkat wajahnya, "Maksud Appa?!"
Tuan Kim hanya membuang muka, tak sanggup menjawab pertanyaan Taehyung.
"Jungkook koma, Tae." Jawab Baekhyun lirih.
"Apa? Bukankah Dokter bilang opersinya berjalan lancar?!" Sentaknya tak percaya.
"Memang, tapi saat selesai operasi kondisi Jungkook tiba-tiba semakin menurun hingga akhirnya dia koma." Chanyeol yang menjawab.
Taehyung menggeleng, "Tidak mungkin. Pasti ada kesalahan! Pasti Dokter dan rumah sakit ini yang tidak becus menangani Jungkook."
"Taehyung, jangan sembarangan bicara!" Tegur Namjoon.
"Dalam kasus Jungkook, hal itu bisa saja terjadi. Dokter Kang sudah menjelaskan pada kami dengan lebih detail tadi." Hoseok ikut bicara.
'Kasus Jungkook? Mereka bicara seolah-olah istriku itu adalah kelinci percobaan.' Taehyung mendengus dalam hati.
"Lalu, apa yang akan dilakukan Dokter selanjutnya, Appa?" Namjoon bertanya pelan.
Tuan Kim menunduk dan kembali menghela napas. "Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa semoga Jungkook cepat sadar. Sehingga ia bisa menjalankan rangkaian pengobatan lainnya. Karena jika dibiarkan terlalu lama, sel-sel kankernya akan menyebar ke bagian tubuh yang lain, sedangkan pengobatan itu tidak mungkin dilakukan saat Jungkook masih koma."
"Hanya itu?! Kita hanya menunggu berpangku tangan sementara istriku berjuang sendirian melawan penyakitnya di dalam sana?!" Teriak Taehyung tak terima.
Jimin tiba-tiba saja berdiri. "Lalu apa yang kau inginkan, huh?! Kau juga harus sadar, apa saja yang sudah kau lakukan untuk Jungkook selama ini! Oh yeah, kecuali untuk uang 500 juta sialan itu. Selebihnya, tidak ada! Aku bahkan berani bertaruh, jika saja Dokter Kang tidak menelponmu tadi, sampai sekarangpun mungkin kau tidak akan tahu keadaan Jungkook!" Cibir Jimin sinis.
"Jim, tenanglah..." Yoongi menggenggam dan menarik pelan lengan Jimin. Meminta pemuda itu kembali duduk dengan tenang di tempatnya.
"Kenapa Appa merahasiakan semua ini dari kami? Bahkan Appa tidak memberitahu Taehyung soal penyakit Jungkook?" Tanya Seokjin lembut, bisa dibilang ialah yang paling bisa mengontrol emosinya disana, meskipun kedua matanya sudah memerah menahan tangis.
"Appa hanya tidak ingin mempengaruhi perasaan Taehyung. Tapi, bukan berarti Appa tidak peduli. Sejak saat Taehyung membawa Jungkook untuk dikenalkan ke keluarga ini, segala gerak geriknya selalu di awasi. Sampai hari ini, saat dia masuk ke ruang operasi."
Suara Tuan Kim mulai terdengar gemetar dan tercekat, mata tuanya juga mulai berkaca-kaca. "Appa sungguh tidak tega, melihat Jungkook menghadapi semuanya hanya sendiri. Tidak ada suport keluarga, bahkan suami. Entah apa yang akan terjadi bila seandainya Appa juga tidak mengetahui hal ini. Mungkin kita semua sudah berprasangka buruk karena Jungkook yang tiba-tiba pergi dari rumah."
Taehyung makin tertunduk. Bukankah tadi ia juga sempat berpikir begitu?
Tuan Kim berdiri, "Appa pulang dulu. Seokjin, kau bawa mobil?"
"Bawa, Appa... tapi, siapa yang akan berjaga di rumah sakit?"
Taehyung ikut berdiri, "Kalian pulanglah, biar aku yang menjaga Jungkookie." Ucapnya dengan nada tak ingin dibantah.
Akhirnya semua yang ada disana keluar dan meninggalkan Taehyung sendiri di ruangan itu.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N :
Jujur chapter ini saya ngerasa terlalu 'maksa'... well gimana menurut Readers-san...
Chapter depan mungkin ending... tapi masih mungkin ya... hehe /slaped
