Married?!
A TaeKook Fanfiction by Rain
Remake dari Novel "istri Kontrak" by Syafrina Siregar dengan beberapa perubahan
.
.
.
Suasana di Rumah Sakit terasa begitu lengang. Hanya ada beberapa perawat yang memang mendapat shift malam. Taehyung bergerak resah di depan pintu ruang ICU. Terkadang ia berjalan kesana-kemari, lalu duduk, kemudian jalan lagi, begitu seterusnya. Sesekali ia kembali ke kamar. Sudah jam 4 pagi tapi kedua matanya seolah enggan terkatup meski sejenak.
Dirapatkan jaket kulit hitamnya hingga dagu dan saat kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong jaket, tak sengaja tangan kanannya menyentuh sesuatu. Amplop yang tadi sore di berikan Dokter Kang.
Karena terlibat pembicaraan yang lama dengan sang Appa, Taehyung sampai melupakan amplop yang katanya dari Jungkook itu. Penasaran, Taehyung segera membuka dan melihat isinya yang ternyata adalah sebuah surat.
Tae Hyung... Jika surat ini sampai ke tanganmu, itu berarti telah terjadi sesuatu yang buruk padaku. Aku sengaja menyiapkan surat ini untuk jaga-jaga, agar tidak ada ganjalan ataupun salah paham di antara kita...
Hyung... Aku minta maaf karena telah merahasiakan beberapa hal darimu. Aku sungguh-sungguh terpaksa melakukannya. Aku mengidap kanker otak, dan operasi adalah satu-satunya jalan untuk sembuh. Tapi, aku tak punya banyak uang untuk melakukannya, karena itu aku memutuskan untuk menjadi istri kontrak.
Dulu... Eomma harus menyerah pada penyakit yang sama karena tidak adanya biaya, tapi aku tidak ingin menyerah tanpa berbuat apa-apa. Apapun akan aku usahakan untuk bisa sembuh, kecuali jika memang takdir berkata lain, maka tak ada lagi yang bisa ku lakukan. Maafkan aku karena sudah membohongimu, Hyung...
Setetes airmata jatuh keatas surat yang di tulis Jungkook dengan tulisan tangan rapi.
'Itu bukan kebohongan, Kook-ah... aku saja yang terlalu bodoh hingga tidak bisa menyadarinya...' batin Taehyung dan melanjutkan membaca.
Tapi... aku sama sekali tidak menyesal menjadi istrimu, Hyung. Aku justru sangat bersyukur telah menikah denganmu, juga mendapatkan mertua dan keluarga yang begitu menyayangiku.
Sempat ku berfikir untuk terus seperti ini denganmu, dan kalau bisa aku juga ingin punya anak darimu. Tapi tentu saja aku tidak boleh serakah, iya kan Hyung... Lagipula, kalaupun aku sembuh, kondisiku tidak akan memungkinkan hal itu untuk terjadi...
Oh, iya... terimakasih juga untuk kemesraan kita semalam... semoga aku tidak membuat Hyung merasa bersalah karena telah mengkhianati Irene noona...
'Irene? Jungkook sialan! Aku bahkan tidak sanggup mengingat namaku sendiri karena melihat penampilanmu waktu itu!' Rutuk Taehyung kesal.
Hyungie...
Aku sudah bicara dengan Appa...
Beliau sudah berjanji akan merestui hubunganmu dengan Irene noona. Aku berharap kau mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahanmu nanti...
Aku mencintaimu, Hyung... aku mencintaimu dan tak ingin melihatmu bersedih karena alasan apapun...
Taehyung rasanya sudah tidak sanggup lagi meneruskan membaca surat itu. Hatinya sesak, airmatanya seolah tak bisa berhenti mengalir.
Sampaikan terimakasihku untuk semua keluargamu... terutama Baekhyun Hyung dan Seokjin Hyung yang sudah bersusah payah mewujudkan pesta pernikahan yang indah, yang bahkan tak berani ku impikan saat tidur...
Sampaikan salam hormatku pada Appa... semoga Beliau selalu diberikan kesehatan...
Taehyungie Hyung...
Sekali lagi, terimakasih untuk segalanya... anggap saja yang terjadi di antara kita ini adalah sebuah episode dalam hidupmu yang harus kau lupakan... Tapi, jika kau sedang bersedih karena suatu hal, ingatlah aku yang selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwaku dan rela melakukan apapun untuk bisa menghapus airmatamu...
Semoga Tuhan selalu memberkatimu, sayang...
I Love you
Jungkook
"Brengseekk!" Kepalan tangan Taehyung mendarat di dinding pucat Rumah Sakit. Tak dipedulikan lagi jemarinya yang berdenyut nyeri, hatinya saat ini ribuan kali lebih sakit.
'Berani-beraninya bocah itu meninggalkanku seperti ini!'
.
.
.
Sudah dua minggu berlalu namun Jungkook masih belum menunjukkan perubahan apapun. Seluruh anggota keluarga Kim bahu-membahu memberikan semangat. Mereka secara bergantian menjaga Jungkook di Rumah Sakit setiap malam sekaligus menemani Taehyung, karena lelaki itu bersikeras ingin tetap disana.
Berbagai upaya juga telah di lakukan untuk membangunkan Jungkook dari koma. Mulai dari usaha medis sampai usaha yang bersifat sentimentil seperti membacakan cerita, mengajak bicara dan menghidupkan musik. Taehyung bahkan menunjukkan foto-foto pernikahan mereka sambil berulang kali memuji penampilan Jungkook. Dan mengingatkan pemuda itu mengenai obrolan-obrolan yang mereka bahas selama mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi Jungkook masih saja bergeming, ia tetap enggan membuka mata.
"Mungkin Jungkook memang sudah tidak ingin bangun lagi."
Perkataan Hoseok waktu itu membuat Taehyung menatapnya dengan sorot dingin yang kentara.
"Apa maksud Hyung bicara seperti itu?!" desisnya pelan.
Hoseok mengangkat bahu acuh,
"Well, kita bicara apa adanya saja, Tae-ya. Jungkook itu mengidap penyakit kanker otak. Bukan penyakit jenis lain."
"Memangnya kenapa?" Taehyung masih berkeras.
"Jikapun akhirnya ia sadar dari koma. Kondisinya tidak akan lagi sama seperti sebelumnya. Akan ada kerusakan di beberapa syaraf otak yang mungkin mengganggu fungsi kerja tubuhnya. Ia bisa saja cacat. Sedangkan ia sudah tidak punya lagi keluarga, tidak akan ada lagi orang yang bersedia merawat dan mendampinginya, memberikan suport untuk kesembuhannya. ia sebatang kara."
"Jungkook tidak sendirian, Hyung. Dia tidak sebatang kara!"
"Oh ya? Lalu apakah kau mau menerima kondisi Jungkook yang seperti itu? Kalau kau saja yang sudah lebih dulu mengenalnya merasa enggan, bagaimana dengan orang lain di luar sana nanti? Pikirkan itu baik-baik."
Lalu Hoseok pergi, meninggalkan Taehyung yang terdiam di tempatnya.
"Aku tidak akan membiarkan Jungkook sendirian, Hyung... karena aku mencintainya..." lirih Taehyung.
.
.
.
Hari ini, Taehyung memutuskan untuk pulang ke rumah, sekedar mandi dan ganti baju atau mungkin sedikit bercukur. Hidupnya dua minggu ini benar-benar berantakan. Kurang tidur, makan sekedarnya tanpa selera dan mandi jika sempat. Kim Taehyung yang dulu terlihat tampan dengan style nya yang menawan kini berubah 180 derajat secara drastis.
Satu jam kemudian Taehyung sudah akan bersiap kembali ke rumah sakit, tepat ketika bel rumah berbunyi dan tamu yang datang membuat Taehyung melotot kaget.
"Irene noona?!"
"Hai, Taehyungie..." sapa Irene, sambil mendaratkan kecupan mesra di bibirnya.
"Tunggu, kenapa kau kemari?" Tanya Taehyung heran sambil berusaha lepas dari gadis itu.
"Hm, Jungkookie yang menyuruhku."
"Apa?!" Taehyung mendelik, sementara Irene tertawa geli sambil mengibaskan rambut pirangnya. Taehyung benar-benar tidak sabar melihat kelakuan gadis itu. Setengah memaksa, akhirnya ia bisa membuat Irene duduk tenang dan menjelaskan semuanya.
"Jungkook bilang padaku, kalau saat itu dia sedang ada masalah berat dan keluarga besarmu sedang berusaha menyelesaikannya. Tapi, dia menyuruhku untuk datang lagi kemari. Seharusnya sih minggu lalu, tapi kebetulan ada pesta dirumah Veronica. Jadi aku baru bisa datang sekarang. Kau tidak marah, kan Taetae sayang?"
Taehyung terperangah. Minggu lalu? Jadi, Jungkook benar-benar berniat meninggalkannya eoh? Buktinya pemuda itu sudah menyiapkan segalanya, termasuk menyuruh Irene datang seminggu sesudah operasi. Taehyung mendadak sakit hati dengan kelakuan istrinya itu. Benar-benar sialan!
Taehyung menghela napas sambil menatap wajah Irene. "Noona, apa Jungkook pernah mengatakan padamu siapa dirinya?"
"He'um. Dia sepupumu kan, Tae?"
Taehyung tersenyum kecut."Bukan. Dia istriku, noona."
"WHAT?!" Mendadak wajah Irene yang pucat semakin pias mendengar ucapan Taehyung.
Dengan singkat Taehyung menjelaskan semuanya pada gadis itu. Mulai dari sandiwara Ayahnya sampai keadaan Jungkook saat ini. Irene mendengarkan cerita itu dengan mata yang membelalak.
"Astaga... maafkan aku, Taehyungie..."
Taehyung hanya mengangguk lemah tanpa menjawab.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Irene kemudian.
"Entahlah, noona... aku hanya berharap Jungkook segera sadar dari koma."
"Dan hubungan kita?" Suara Irene terdengar melemah.
Taehyung menarik napas, kemudian di raihnya tangan Irene dan menatapnya lembut.
"Noona... Aku mencintaimu. Well, ku kira dulu begitu. Tapi saat aku bertemu Jungkook, aku mengenal cinta dalam bentuk yang lain. Bukan hanya sekedar berbagi kesenangan atau having fun, tapi juga tentang berbagi komitmen dan tanggung jawab. Dan ku rasa... aku mulai mencintainya. Maafkan aku."
Airmata mulai berjatuhan di pipi Irene, meski begitu ia memaksakan sebuah senyum. "Aku mengerti, Tae. Aku tidak akan menghalangi jalanmu. Jungkookie pemuda yang baik, ia pantas mendapatkan kebahagiaannya."
"Thanks, noona." Taehyung memeluk Irene erat, saling menyalurkan kekuatan dan dukungan.
"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Aku akan selalu di sampingmu, Tae."
Taehyung tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Irene segera bangkit dan berjalan ke pintu.
"Hallo, Irene." Sapa Seokjin yang berdiri di ambang pintu. Tanpa di beritahupun Taehyung bisa menebak jika Hyungnya itu sudah berdiri lama di sana dan melihatnya berpelukan dengan Irene.
"Hallo, Oppa... see you latter, Bye!"
Setelah Irene berlalu, Seokjin segera menatap Taehyung dengan pandangan menuntut jawaban.
"Hyung, aku dan Irene noona sudah putus." Taehyung mencoba menjelaskan.
"Yah, terserah kau sajalah Tae." Cetus Seokjin sambil masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Taehyung meraih tangan Jungkook dan menggengamnya erat.
"Kookie... bangun sayang... Hyung mohon..." lirihnya.
Dikecupnya punggung tangan yang terkulai lemah itu, kemudian tatapan Taehyung jatuh pada wajah pucat Jungkook yang terlihat semakin menirus.
"Ku mohon, Kookie... jangan siksa aku seperti ini."
Tak ada jawaban, mata indah Jungkook masih saja terkatup rapat.
"Tadi Irene noona datang ke rumah. Dan Aku sudah menjelaskan semua padanya. Maafkan aku, Kookie. Tapi, aku tidak mungkin menganggap yang terjadi di antara kita ini sebagai sebuah episode yang tak berarti. Justru ini adalah bagian terpenting yang mempengaruhi masa depanku. Jadi, ku mohon bangunlah, Jungkook!"
Setetes airmatanya jatuh di punggung tangan Jungkook. Lama Taehyung memperhatikannya, berharap akan ada gerakan meskipun kecil disana, tapi nihil. Jungkook masih tetap tertidur nyenyak dan itu semakin membuat Taehyung frustasi.
"Jungkook, kau bilang kau rela melakukan apapun untuk menghapus air mataku. Lihat, sekarang aku menangis, Kook! Tapi apa? kau tetap saja tertidur. Dasar pembohong! Kau pembohong, Jungkook!" Teriak Taehyung tertahan.
Yang di marahi tetap saja terdiam. Taehyung mendengus keras kemudian.
"Baik, Kalau itu maumu. Tapi ingat, jangan harap aku akan melepaskanmu. Kau takkan pernah bisa lari dariku, Jungkook. Karena sekali istriku, kau akan tetap menjadi istriku. Di neraka ataupun di surga." Geram Taehyung. Kemudian berjalan keluar dan bersandar di dinding lorong rumah sakit.
Kesabarannya seolah hampir habis. Segala perasaan berkecamuk dalam hatinya. Dan kini, ia mulai merasa rindu. Taehyung rindu senyum Jungkook yang begitu manis, Taehyung rindu mata indah Jungkook yang selalu berbinar tiap kali membicarakan hal-hal menyenangkan, Taehyung juga rindu suara merdu Jungkook yang memanggil namanya. Semuanya itu baru terasa sekarang, disaat Jungkook terbaring lemah dan menutup mata.
Tubuh Taehyung merosot dan jatuh terduduk. Ia lalu menekuk kedua lutut dan menenggelamkan wajahnya disana. Menangis terisak tanpa suara.
.
Aku hanya bisa menatapmu...
Memendam cinta...
Meredam kasih...
Menjamahmu dalam setiap mimpi-mimpiku...
Menciummu dalam setiap helaan napasku...
Mencumbumu dalam setiap sepi waktuku...
Hingga pada akhirnya aku hanya tetap bisa menatapmu...
Tertidur... lelap bersama malaikatmu...
Tak pada bale-baleku...
Tak juga pada dekapku...
-Gatorz-
.
"Brengseeekkk!" Taehyung berteriak histeris sambil melemparkan apa saja barang-barang yang berada dalam jangkauannya. Kamarnya berantakan, tak jauh berbeda dengan kondisinya sekarang.
Setelah lebih dari empat minggu dalam penantian yang tak pasti, tiba-tiba saja Dokter Kang memutuskan untuk menyerah.
Sore tadi, Dokter itu menyatakan bahwa virus yang masih berada di dalam tubuh Jungkook semakin menyebar. Ditambah kondisinya yang koma, sehingga tidak dapat melakukan kemoterapi dan sinar laser. Semakin hari daya tahan tubuh Jungkook juga semakin melemah. Satu-satunya harapan yang mereka punya adalah keajaiban dari Tuhan.
Taehyung tertawa sinis, keajaiban? Seperti apa keajaiban itu? Apakah keajaiban itu sunguh ada?
Ia kembali menjambak surai maroonnya frustasi. Baru kali ini Taehyung merasa begitu putus asa. Ia benar-benar tidak rela kehilangan Jungkook. Ia ingin terus mempertahankan pemuda itu di sisinya. Tapi kata-kata keluarganya sore tadi kembali terngiang di kepala. Semuanya seolah sudah rela melepaskan Jungkook pergi.
"Mungkin ini yang terbaik untuknya, Appa tidak tega melihat Jungkook terbaring lemah seperti itu, sementara penyakit terus menggerogoti tubuhnya, semangatnya." Ucap Ayahnya kala itu.
"Kita semua harus mencoba merelakannya. Jangan buat kepergiannya menjadi semakin berat." Kata-kata Hoseok semakin menambah sesak di dadanya.
Taehyung juga tidak ingin melihat Jungkook terus menderita, tapi ia juga tidak rela melepaskan pemuda itu begitu saja. Kenapa hidup begitu tak adil? Disaat Taehyung ingin menikah, ia malah mengalami hal seperti ini.
Taehyung terduduk di tepi tempat tidur dengan napas tersengal. Ia lelah, jiwa dan raganya lelah. Lalu ia teringat lagi dengan Jungkook yang selalu berdoa pada Tuhan. Apa benar Tuhan itu ada?
Selama ini Taehyung memang jauh dari Tuhan, ia jarang pergi ke gereja untuk beribadah dan berdoa pada-Nya. Lalu entah dorongan darimana, Taehyung bangkit dari duduknya. Kaki jenjangnya melangkah dengan berat keluar rumah. Tiba-tiba ia ingin kesana, ketempat yang dua kali di datanginya bersama Jungkook kala itu.
.
.
.
Taehyung duduk sendirian di dalam gereja yang pernah di datanginya berdua dengan Jungkook. Duduk di tempat yang sama, ia menerawang ke arah depan. Pelan, kedua tangannya terangkat dan saling meremas di depan wajahnya.
Canggung, itulah yang ia rasakan. Tapi, ini demi Jungkook juga.
"Kalau memang di dunia ini ada keajaiban, aku rela mengorbankan apapun untuk mendapatkannya dan memberikan keajaiban itu padamu, Kook-ah." Bisiknya lirih.
Taehyung mulai memejamkan matanya dan memanjatkan doa setulus hatinya.
"Tuhan... aku tahu Kau tidak terlalu suka padaku. Aku selalu menjauhi-Mu. Tapi Jungkook, dia selalu mengingat-Mu, jadi sekali ini saja ku mohon jangan Kau lupakan dia...
Berikanlah kesembuhan padanya. Ijinkan aku berada di sampingnya untuk beberapa saat lagi. Aku berjanji akan menjaganya, mencintainya dengan sepenuh hati bagaimanapun keadaannya..."
Sesaat Taehyung terdiam, 'Apa aku sudah berdoa dengan benar?' Bisik hatinya ragu.
Lalu kembali terbayang di matanya keadaan Jungkook di rumah sakit. Haruskah Taehyung meminta hal itu juga?
"Tuhan... aku sangat mencintainya. Tapi aku tahu, aku tidak boleh egois..."
Setitik airmata jatuh membasahi pipi Taehyung, di susul tetes demi tetes berikutnya.
"Aku tidak tahu apa rencana-Mu, Tuhan... jika memang aku boleh mengharapkan keajaiban, aku ingin Jungkook sembuh. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik... Tapi, jika memang dia harus pergi... aku tidak akan menghalanginya. Aku rela, jika itu memang yang terbaik untuk Jungkook."
Nafas Taehyung tercekat, tapi doanya belum selesai.
"Tuhan... Kau dengar aku, kan? Aku sangat mencintainya dan tak ingin melihatnya menderita..."
Sebelah tangannya menghapus jejak air mata di pipinya meskipun percuma, karena lelehan yang baru akan membasahi lagi setelahnya. Namun entah kenapa hatinya merasa lega,
"Aku mencintainya, Tuhan... Jangan biarkan Jungkookie-ku menderita... "
.
.
.
Taehyung keluar dari lift sambil menenteng tas berisi baju. Malam ini ia akan menginap lagi di rumah sakit. Sesekali ia menyapa perawat yang kebetulan lewat. Yah, karena sudah seringnya Taehyung bolak-balik ke rumah sakit, jadi sebagian pegawai disana -terutama di ruangan VVIP- sudah mengenalnya.
Ia berhenti sebentar ketika ponsel dalam saku jeansnya bergetar.
"Hallo, Taetae!" suara merdu Irene segera masuk ke gendang telinganya.
"Ya, noona. Ada apa?" Taehyung segera meletakkan tas bawaannya di kursi tunggu rumah sakit kemudian bersandar di dinding.
"Aku hanya ingin tahu kabar Jungkook. Ada kemajuan?"
"Belum. Kondisinya semakin menurun. Ada yang mengusulkan untuk mencabut semua alat penopang hidupnya... karena..." lidah Taehyung terasa kelu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa?! Dan membiarkan Jungkookie mati begitu saja?!" pekik Irene tertahan.
Taehyung diam, tak menjawab. Rasanya memang kejam. Dan ia juga tak rela.
"Taehyung... aku tahu kau sedang menghadapi masalah yang sulit. Andai aku ada di sampingmu sekarang..."
"Dengan telepon ini, kau juga sudah menghibur dan mendukungku, noona. Thanks."
"Taengie..." Suara Irene terdengar ragu.
"Ya..."
"Aku selalu menunggumu. Berjanjilah untuk kembali padaku, jika hubunganmu dan Jungkook tak berjalan mulus. Aku mencintaimu dengan rasa cinta yang lebih besar dari sebelumnya."
Taehyung tertegun.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, noona. Tapi, apapun yang terjadi aku pasti menghubungimu."
"Hmm... buatku itu cukup adil. Baiklah, take care baby. I love you! Bye!"
"Bye!"
Taehyung memasukkan ponselnya kembali ke saku celana sambil menghela napas keras. Phew!
Kemudian ia kembali meraih tas yang ia bawa dan melanjutkan langkahnya ke tempat Jungkook dirawat. Ia rindu ingin bercerita pada istri manisnya itu. Di dalam tasnya juga ada CD lagu kesukaan Jungkook. Pasti pemuda itu akan senang mendengarnya. Taehyung yakin, meskipun Jungkook koma, tapi pemuda itu bisa mendengar dan melihat apa yang terjadi. Entah bagaimana caranya, tapi pasti bisa. Mungkin seperti di film-film.
Namun langkahnya mendadak berhenti. Tubuhnya serasa kaku di tempat. Di depan sana, orang-orang yang ia kenal berkerumun di depan ruang ICU. Ayahnya sedang bicara serius dengan Dokter Kang. Sementara para Hyungnya saling memeluk dan menangis.
Ada apa ini?!
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Taehyung. Hatinya seketika ciut.
Ketika taehyung meminta Tuhan memanggil Jungkook, ia tidak bermaksud secepat ini...!
Dengan tergesa Taehyung menghampiri kerumunan itu. Baekhyun yang menyadari kedatangannya segera melempar senyum -yang bagi Taehyung terkesan dipaksakan. Beberapa perawat keluar masuk ruangan Jungkook. Perasaan Taehyung jadi semakin tidak enak.
'Tuhan... ku mohon jangan lakukan ini... kau boleh mengambil Jungkook, tapi tidak sekarang...'
Langkah Taehyung berhenti di depan pintu. Perlahan ia masuk ke dalam. Mendadak wajahnya tegang, kemudian berubah beku dan memucat.
"Ya Tuhan..." seruan terakhir Taehyung sebelum tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Pingsan.
.
.
.
Semilir angin laut pantai Busan memainkan surai merah Taehyung dengan lembut. Lelaki itu kini tengah terpaku di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sebuah rumah yang cukup besar di kawasan dekat pantai. Salah satu rumah milik keluarganya. Yang Taehyung bahkan lupa kalau keluarganya memiliki satu di Busan.
Manik hazelnya menyapu pemandangan sekitar. Tempat yang cukup nyaman dan tenang untuk beristirahat, atau... bersembunyi?
Taehyung menggeleng sambil tersenyum getir. Entahlah, ia sendiri tidak tahu perasaan apa yang lebih dominan saat ini. Semuanya bercampur aduk hingga memenuhi kepalanya.
Sebulan terakhir ini keadaan Taehyung benar-benar kacau. Hubungannya dengan Tuan Kim dan keluarganya pun merenggang. Taehyung hanya tidak habis pikir, mengapa mereka melakukan semua itu padanya. Semuanya seolah bersekongkol untuk membuat hidupnya menderita. Hingga tepatnya tadi malam, pertengkaran itupun pecah.
Flashback
"Katakan. Atau kalian akan menyesal seumur hidup!" Kecam Taehyung dengan tatapan marah.
"Untuk apa? Bukankah ini keinginanmu dari dulu? Kembali dengan kekasihmu?" Cibir Baekhyun
"Lagipula, kau mau melakukan apa? Bunuh diri?" Timpal Chanyeol.
Taehyung menyeringai, "percayalah, kalian tidak akan menyukainya. Jadi sekarang cepat katakan!"
Ia menoleh kearah Tuan Kim dengan pandangan memohon, "Appa... please..."
Tuan Kim menghela napas, "Baiklah. Ini alamatnya."
Flashback end
Setelah puas mengamati sekitar, Taehyung turun dari mobil dan berjalan menuju pintu Rumah itu. Mengetuknya beberapa kali sebelum akhirnya terdengar sahutan dari dalam.
Pintu terbuka dan menampakkan sesosok pria bermata sipit yang tak lebih tinggi dari Taehyung. Siapa lagi kalau bukan sepupunya, Park Jimin.
Well, Taehyung sama sekali tak terkejut dengan keberadaan Jimin -dan juga Yoongi pastinya- disana, karena pencetus dari ide brengsek -menurut Taehyung- ini adalah sepasang sejoli itu.
Pun dengan Jimin yang tak lagi terkejut mendapati Taehyung berdiri di depan rumah yang ia tinggali sebulan terakhir ini. Karena memang Tuan Kim semalam telah mengabari, jika Taehyung akan kesini.
Pemuda Park itu mempersilahkan Taehyung masuk tanpa banyak kata. Kemudian menggiringnya menuju ruangan di lantai dua.
"Dia di mana, Jim?" Taehyung bertanya tak sabar karena Jimin hanya diam.
Jimin menghentikan langkahnya, kemudian menatap Taehyung serius.
"Aku akan mengantarmu ke tempatnya. Tapi tolong, jangan buat keributan, Tae-ya. Jangan memaksa jika ia tak ingin mendengar. Jangan mendesaknya jika ia tak ingin bicara. Ia masih lemah. Pikirkan juga kondisinya."
Taehyung mengangguk paham. Yang ia inginkan sekarang hanyalah bertemu. Dan mungkin sedikit meminta penjelasan. Well, semacam itulah.
Mereka tiba di depan pintu mahoni berpelitur coklat. Jimin menepuk pelan bahu Taehyung dan berujar,
"ingat, kendalikan emosimu. Jangan sampai Yoongi Hyung datang ke ruangan ini dan menghajarmu."
"Aku tahu, Jim." Jawab Taehyung cepat. Sedikit jengah dan tak sabar juga sebenarnya.
Jimin kemudian berlalu meninggalkan Taehyung sendirian disitu.
Menarik napas dan menghembuskannya berulang-ulang. Taehyung memantapkan hati sebelum kemudian ia memutar kenop pintu dan membukanya perlahan.
Hal pertama yang Taehyung lihat di dalam ruangan -yang ternyata kamar- adalah sebuah ranjang yang lumayan besar. Menghadap ke arah jendela terbuka yang menampilkan pemandangan laut dan pantai Busan. Ada seorang pemuda yang sedang duduk bersandar di atas ranjang. Sedang menatap ke arah jendela.
Pemuda itu memakai sweater rajut warna cream dengan celana bahan warna putih yang separuhnya tertutup selimut. Kepalanya ditutupi sehelai scarf berwarna merah dan wajahnya pucat tanpa rona. Meski begitu ia tetap terlihat menawan di mata Taehyung.
Si Pemuda kemudian menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan manik sehitam jelaganya langsung melebar kala melihat Taehyung berdiri di ambang pintu.
"Tae Hyung...?"
Taehyung tersenyum melihat reaksi yang diberikan pemuda di depannya.
"Hallo, Kim Jungkook. Bolehkah aku masuk?"
Tanpa memperdulikan pemuda -Jungkook- yang masih kaget dengan kedatangannya, Taehyung melangkah dengan santai memasuki kamar.
"Kenapa kemari?"
Pertanyaan yang terucap dari Jungkook dengan nada gugup menghilangkan seketika senyum di wajah Taehyung.
"menurutmu kenapa?" ia balik bertanya dengan keseriusan penuh dalam kata-katanya.
Jungkook menunduk dan menggeleng lemah, "semuanya sudah jelas, Hyung."
"Apanya yang jelas?" Desak Taehyung.
"Semuanya! Kau sudah baca suratku, kan?"
Taehyung tersenyum sinis.
"Oh yeah...?! Surat, eh? Setelah beberapa waktu yang kita lewati bersama. Setelah malam yang kita habiskan untuk bercinta, kau hanya bisa memberikanku sebuah surat, heh? Hanya surat sialan itu. Tanpa penjelasan. Tanpa bicara apapun. Hanya surat!" Taehyung menggeram marah. Berusaha untuk tidak berteriak atau Jimin dan Yoongi pasti mendengarnya.
"Memang apa lagi yang kau harapkan?" suara itu terdengar lemah dan putus asa.
Hati Taehyung terusik mendengarnya. Ia merasa iba dan menyadari tak seharusnya ia marah-marah seperti itu. Benar yang dikatakan Jimin, bahwa ia harus bisa mengendalikan emosi.
Taehyung berjalan mendekat dan duduk disisi ranjang. Meraih jemari kurus Jungkook dan menggenggamnya.
"Aku tidak mengharapkan apapun. Aku hanya ingin dirimu, Jungkook." Pinta Taehyung lembut.
Jungkook menunduk. Enggan menatap hazel kembar Taehyung yang selalu berhasil menjeratnya.
"Semuanya sudah berbeda, Hyung. Aku bukan lagi Jungkook yang dulu."
Wajah Taehyung kembali mengeras.
"Apanya yang berbeda? Kau masih tetap istriku, Jungkook." Ucapnya tegas.
"istri? Oh, iya aku lupa. Kontrak kita masih ada beberapa bulan lagi ya, Hyung? Tapi, Hyung tidak usah melunasi bayaranku lagi, toh-"
"Brengsek!" Taehyung menyela kemudian bangkit dan berdiri menjulang di hadapan Jungkook. "Aku bukan membicarakan soal kontrak ataupun uang! Aku bicara soal fakta Kim Jungkook. Kau adalah istriku! Selamanya akan tetap seperti itu!" teriaknya marah.
Peduli setan Jimin atau Yoongi akan mendengar dan menghajarnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda keras kepala di hadapannya ini.
Di luar dugaan, Jungkook malah tersenyum tipis. Senyum yang entah sudah berapa lama begitu Taehyung rindukan.
"Hyungie... jangan teriak-teriak. Nanti Yoongi Hyung dengar." Ucapnya sambil meraih jemari Taehyung dan meminta agar lelaki itu kembali duduk di sisinya.
Taehyung menurut. Menghela napas kasar kemudian kembali duduk di sisi ranjang.
"Mengertilah, Hyung. Aku tidak pantas untukmu." Ujar Jungkook ketika Taehyung sudah mulai tenang.
"Bukan kau yang berhak menilai apakah kau pantas atau tidak untukku, tapi aku. Dan bagiku kau lebih dari pantas, Kook-ah."
Kedua pupil hitam Jungkook bergetar. Ekspresinya berubah keruh.
"Hyungie... lihat aku. Lihat keadaanku! Aku ini hanya pemuda penyakitan yang tak pantas bersanding denganmu. Kau tidak perlu mengasihaniku dengan berbuat seperti ini padaku, aku... paling benci dikasihani." Sentak Jungkook lemah. wajahnya memerah karena kesal dan menahan tangis.
"Aku mencintaimu, Jungkook-ah." Ucap Taehyung lirih.
Jungkook tertawa hambar, "Cinta? Hyung akan menyesal telah mengatakan itu, setelah melihat betapa menyedihkannya keadaanku."
Taehyung meraih wajah Jungkook dengan kedua tangannya. Menangkup pipi tirus pemuda itu kemudian menyatukan kening mereka. "Kalau begitu tunjukkan! Perlihatkan padaku dan aku akan tetap mengatakan 'aku mencintaimu' ribuan kali kepadamu." Ucapan yang penuh penekanan itu membuat Jungkook seketika bungkam. Air mata berlomba-lomba keluar dari kedua onyx nya yang sejernih kristal.
"Sshh... Jungkookie..." Taehyung meletakan kepala Jungkook di dadanya. Mengubur tubuh kurus pemuda itu dalam dekapan hangatnya.
"Aku belum sepenuhnya sembuh, Hyung-ah. Aku masih kesulitan menggerakan anggota tubuhku. Aku lumpuh. Beberapa syaraf dalam otakku mengalami gangguan fungsi. Masih banyak pengobatan yang harus ku jalani. Aku tidak ingin menyusahkanmu dengan keadaanku yang menyedihkan ini."
"Hei... " Taehyung mengangkat dagu Jungkook hingga mereka bertatapan. "Jangan pernah berpikir seperti itu. Kau tidak tahu kehidupan seperti apa yang aku jalani saat kau koma di rumah sakit. Kau dengan enaknya tertidur, sementara aku nyaris gila hanya untuk menunggumu membuka mata. Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Bahkan, saat Dokter dan keluargaku mulai mencoba merelakanmu, aku tetap bersikeras dan mengharapkan adanya keajaiban."
Ia menatap ke dalam mata Jungkook dengan tatapan teduh dan pemujaan. "Dan sekarang, ketika keajaiban itu datang dan kau sadar. Kau pikir aku akan begitu saja melepasmu? Begitu? Tidak akan Jungkook."
"T-tapi Irene noona-"
"Sstt, aku dan dia sudah berakhir. Sudah ku bilang kan, dia tidak cocok untuk menjadi istriku. Cuma kau yang pantas dan ku inginkan menjadi istriku."
"Tapi, Hyungie. Aku ini laki-laki. Dan meskipun bisa, aku takkan mungkin memberikanmu keturunan karena-"
"Aku tidak keberatan, Kook-ah. Bagiku hidup denganmu saja sudah cukup. Tapi jika kau memang ingin ada anak dalam rumah tangga kita, masih ada cara lain. Mengadopsi misalnya, atau membantu Seokjin Hyung dan Baekhyun Hyung mengurus putra mereka."
"Tapi-"
"Ya ampun, Serius Kook-ah. Mengurusimu saja pasti sudah menyita seluruh tenaga dan konsentrasiku. Apalagi jika hobi 'melarikan diri' mu itu kambuh, bisa-bisa aku bahkan tidak akan sempat mengingat nama anakku sendiri-aww!"
Sebuah cubitan mendarat di pinggang Taehyung. Ia meringis, namun melihat Jungkook yang mempoutkan bibirnya membuat ia terkekeh.
"Hyung menyebalkan!" Gerutu Jungkook, tapi ia sama sekali tidak berusaha lepas dari Taehyung.
Mereka terdiam beberapa saat. Sampai kemudian Taehyung mendekatkan wajahnya dan mengecup bilah bibir Jungkook yang terbuka. Melumatnya lembut, menyalurkan kerinduan yang selama ini menumpuk dan mengendap di hatinya.
"Aku mencintaimu, Jungkook. Jangan pergi lagi dari sisiku. Aku membutuhkanmu."
Jungkook menggenggam erat jemari Taehyung yang berada di sisi wajahnya. Tersenyum begitu manis kemudian menggesekkan hidungnya ke hidung mancung yang lebih tua.
"Aku juga mencintai dan membutuhkanmu, Hyungie. Sangat."
Dan Taehyung kembali meraih bibir Jungkook ke dalam ciuman panjang yang manis.
"Tapi, kenapa Hyung tiba-tiba pingsan waktu itu? Kaget melihatku siuman ya?" Goda Jungkook ketika tautan bibir mereka terlepas. Ia kembali menyamankan dirinya dalam pelukan Taehyung.
"Ya, sebenarnya aku tidak terlalu percaya kalau doa ku dikabulkan. Ditambah kondisiku yang kurang tidur dan kurang makan."
"Pantas Hyung kurusan. Aku minta Yoongi Hyung atau Jimin Hyung buatkan makan siang ya."
"Nah, itu nanti saja." Taehyung mendekap Jungkook semakin erat. Sesekali mengecup pelipis pemuda itu gemas.
"Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi, Jungkook..."
Jungkook mengangguk imut di dada Taehyung .
"Dan berhentilah bersekongkol dengan keluargaku untuk membuat hidupku menderita!"
Jungkook tertawa dan mengecup singkat bibir Taehyung.
"Maaf, kalau yang itu aku tidak bisa janji, Hyung."
Taehyung cemberut mendengarnya."Yah! Kookie-ya~~" rajuknya kemudian.
Jungkook kembali tergelak. "Ya... ya... baiklah. Tapi kau juga harus janji untuk mengatakan padaku, jika kau sudah mulai merasa bosan dan ingin berpisah."
"Kau tahu, Kook. Jika kau terus membiarkanku kelaparan, aku sudah mulai merasa bosan, aww!"
Kembali, cubitan mendarat di pinggang Taehyung setelahnya.
.
.
.
.
Bukan kesempurnaan yang mendatangkan cinta, tapi cinta lah yang membuat sempurna...
-Syafrina Siregar-
.
.
.
.
The End
.
.
.
A/N :
Taraaa... ff ini berakhir dengan gaje nya #plak
Gimana... gimana... pasti Readers-san kecewa kan... kkk... tolong jangan timpuk saya... yg penting kan mereka berdua bahagia /ngeles/
Terimakasih buat semua suport kalian di ff ini dari awal sampe akhir... Review, Favorit, Follow... maaf ga bisa sebut satu2... tapi apresiasi dari kalian begitu berharga buat saya /bow
Dan juga para Readers yg berkenan mampir untuk membaca meski tak meninggalkan jejak...
Terimasih semuanya /ketjupjauh
