LOVE X SIN

Chapter 2

.

.

Disclaimer : Semua cast dalam fanfic ini buka punya saya, sekalipun saya ingin memiliki mereka. But the story is mine..

Cast : Yunjae, YooSuMin,Rain,Kim Taehee.. etc

Rate : M

Genre : Romance, Humor

Warning : YAOI, BxB, MxM, DLDR..

.

.

.

.

"No...not ahjussi Jaejoongie.. i'm your haraboji now"

Deg

"Nde?"

^^^^^vvvv^^^^

Lelaki di hadapannya mengaggukan kepalanya tanda menyetujui

" Yeah.. you can call me Yunho Haraboji.." Ujarnya dengan senyum menawan

Jaejoong memandangi lelaki di hadapannya dengan seksama. Sekilas lelaki dewasa itu mirip dengan calon ayahnya, namun lelaki yang akan dipanggilnya dengan sebutan Yunho haraboji itu sama sekali tidak terlihat seperti kakek-kakek tua yang sudah berumur dan bau tanah. Lelaki itu tampak gagah dengan balutan jas mahal khas seorang bangsawan dan direktur sukses. Dan yang membuatnya terpesona adalah senyum di bibir hati lelaki dewasa itu,terlihat begitu menawan dan berhail membuatnya jantungnya berdetak kencang dan pipinya menghangat.

" Well Jaejoongie.." Jihoon yang melihat Jaejoong hanya terdiam berupaya membuat namja itu kembali ke alamnya. Jaejoong yang mendengar Jihoon memanggilnya Jaejoongie mendelikan matanya menatap calon ayahnya

"Jaejoong.." potongnya cepat.

Jihoon menghela nafasnya, seingatnya tadi appanya memanggil Jaejoong dengan Jaejoongie dan Jaejoong tak marah, tetapi kenapa dirinya yang notabenenya calon ayah dari namja itu malah ditatap sinis seperti sekarang.

" Ne, jaejoong ah ini appaku.." Ujarnya mengalah

Jaejoong menaikan alisnya sedikit tak percaya, sekilas Jihoon dan Lelaki bernama Yunho ini memang mirip, tetapi ia tak yakin bahwa mereka anak dan ayah,mungkin saja Jihoon anak angkat kan?. Karena lelaki bernama Yunho itu sama sekali tak cocok untuk menjadi seorang kakek baginya.. mungkin ia akan menjodohkan Yunho dengan ibunya jika tak ingat bahwa Taehee mencintai Jihoon, tatapan tak percayanya membuat Jihoon cukup kesal

" Oke.. mungkin kau akan berpikir bahwa ia adalah kakakku.. Tapi percayalah, ia adalah appa kandungku."

" Kalian terlihat seumuran" Ucap jaejoong polos

" Mwo? Apa kau gila aku lebih muda 17 tahun darinya" Jihoon menatapnya tak percaya dan berusaha membela dirinya. Well ia tak terlihat tua kan? Atau ayahnya yang terlihat muda? Atau mata remaja di hadapannya yang sedang berawan? Sepertinya penglihatan remaja di hadapannya memang sedikit terganggu.

" 17 tahun?" Jaejoong menatap Jihoon tak percaya, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Yunho.

" Nde.. dia putra pertamaku dan satu-satunya" Yunho tersenyum melihat ekspresi remaja yang tengah menatapnya,

Jaejoong mengerjapkan matanya bingung,kemudian mengangguk seolah paham.

"Duduklah dulu, apakah kalian tidak lelah berdiri?" Yunho tersenyum seraya membimbing Jaejoong dan Jihoon untuk duduk di sofa ruangannya. Ia sendiri ikut duduk bersama sesaat setelah meminta karyawannya membawakan beberapa camilan.

" Appa aku tak bisa lama disini aku titip Jaejoong sebentar, aku akan bertemu klien jam 3 nanti." Jihoon menatap Jaejoong dan ayahnya bergantian. Yunho menatap jam tangannya dan mengangguk.

" Arraseo "

" Jaejoongie.. cobalah untuk akrab dengan calon harabojimu nde" Jihoon tersenyum kepadanya dan mengelus kepala Jaejoong sejenak yang membuat remaja itu menampakan ekspresi kesalnya,

'ck sok akrab' desisnya

Clek

Jihoon telah meninggalkan keduanya .

"Ekhmm" Yunho memulai pembicaraan

" Jadi.. berapa usiamu.."

" 16 tahun" Jawab Jaejoong kalem, ia cukup gugup ditinggal berdua dengan calon harabojinya.

"Di usia remaja seperti ini, kau terlihat cukup menarik" Ujar Yunho jujur sembari menatap namja di hadapannya. Jaejoong memerah mendapatkan pujian dari Yunho

" Kau seharusnya telah berhasil meniduri sekian banyak gadis.." Lanjut Yunho lagi,

"Mwo?" Jaejoong terlonjak kaget, matanya membulat dan bibirnya sedikit terbuka, well namja di depannya cukup frontal sebagai orang tua. Yunho tersenyum jahil melihat ekspresi Jaejoong.

"Jangan bilang kau masih perjaka?" Tebaknya yakin

Jaejoong menghela nafasnya pasrah, well sepertinya ia akan mati muda di dekat namja ini. Jantungnya berdetak tak karuan sedari tadi

"Aku tidak berencana membuat orang hamil di usiaku yang masih muda ini"

" Omong kosong.. aku saja saat berumur 14 tahun telah tidur dengan teman sekelasku, dan setelah itu aku bertemu ibu jihon.. Park Jiyeon.. well dia wanita yang baik.. ia mengandung jihoon saat usia kami 16 tahun.. itulah sebabnya aku tidak terlalu tua sekarang.."

Jaejoong memutar bola matanya, well namja di depannya sangat percaya diri dan angkuh

"Well kau tetap terlihat tua haraboji" ujarnya. Yunho menaikan alisnya menggoda

"Benarkah? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang aku dan Jihoon terlihat seumuran?" Jaejoong terdiam dan Yunho tersenyum nakal, menyenangkan sekali mengoda remaja di depannya ini.

Suasana menjadi hening dan Jaejoong berharap hilang dari bumi sekarang juga

" Hahahaha hidup itu cuma sekali Jaejoongie.. jadi bersenang senanglah selagi bisa.."

Jung Jihoon sialan cepatlah kembali

.

.

.

.

Teng

Teng

Teng

Lonceng gereja terdengar nyaring dipagi hari yang cukup ramai. Di depan sebuah katedral telah berdiri banyak tamu undangan. Sementara itu Kim Jaejoong tengah tersenyum melihat ummanya yang sedang mondar- mandir di ruang khusus pengantin wanita. Ia tahu ibunya yang selalu percaya diri itu kini tengah gugup, siapa yang tak akan gugup menjelang pernikahannya. Ia bisa merasakan kegundahan hati ibunya itu,

"Tenanglah umma.. semakin kau gugup maka akan semakin kacau penampilannmu.. kemana ummaku yang percaya diri eoh?" jaejoong mencoba menenangkan wanita paling berharga di hidupnya

" Umma gugup Jaejoongie,ini akan jadi moment paling bersejarah dalam hidup umma." Taehee menatap Jaejoong dan menggenggam tangan putranya,

" Karena itu tenanglah dan bersiap, jangan membuat dirimu sendiri terlihat berantakan di hari ini." Ujarnya merapikan pakaian dan rambut ibunya, kemudian memeluknya singkat

" Aku berharap yang terbaik untukmu umma, jangan bersedih dan menangis lagi. Hiduplah dengan baik bersama Jihoon appa,jangan kelelahan dan jangan terlalu gugup. Tersenyum dan semangatlah."

.

.

.

Pintu gereja itu terbuka dan Jihoon tersenyum, disampingnya tampak Jung Yunho yang juga tersenyum sedang melihat ke arah mempelai wanita. Kim Tae hee berjalan dengan anggun di bimbing oleh putranya Kim Jaejoong. Gaun putih gading melekat sempurna di tubuh indahnya, wajah dengan make up minimalis itu tersenyum menampilkan kecantikan alaminya. Disampingnya Kim Jaejoong dengan tuxedo putih gadingnya tampak sedikit resah, langkahnya tak tenang. Ia masih memikirkan pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Yunho di kantor namja itu. Syukurlah pada saat itu sekretaris Yunho mengetuk pintu sehingga Jaejoong bisa segera lepas dari tatapan jahil Yunho. Namun sekarang ia merasa tatapan Yunho seolah menelanjanginya, ia ingin mati saja saat ini.

Jaejoong memberikan tangan Taehee ke dalam gengaman tangan Jihoon dan berdiri di samping kiri Taehee. Matanya menatap sekilas Yunho yang sedang tersenyum padanya.

Rangkaian acara penikahan itu serasa sangat lama bagi Jaejoong, terlebih sedari tadi ia merasa Yunho tengah menatapnya dan ia sama sekali tak berkutik di tempatnya. Saat Taehee dan Jihoon mengucapkan sumpah sehidup semati Jaejoong merasa seluruh bebannya terangkat, eksperesi bahagia Taehee terekam jelas terlihat sangat bahagia, selama hidup bersama ummanya ia merasa ummanya belum bisa terlepas dari bayang-bayang appa kandungnya. Dan sekarang ia merasa tak salah membiarkan Jihoon bersama ummanya, setidaknya ia bisa melihat wajah bahagia ibunya setiap saat.

Jihoon dan Taehee terlihat menyapa setiap tamu yang datang, sedangkan Jaejoong memilih untuk menyendiri di balkon auditorium megah tempat pesta berlangsung. Banyak hal yang akan berubah setelah ini, hidupnya juga kesehariannya. Ia yang dulunya selalu berdua bersama ummanya kini mempunyai tambahan anggota keluarga Jihoon dan Yunho Haraboji barunya. Berbicara mengenai Yunho, Jaejoong melihatnya tengah berbincang dengan beberapa orangtua,mungkin rekan bisnisnya. Entahlah Jaejoong juga tak ingin peduli. Ia lebih memikirkan bagaimana kehidpannya setelah ini, apakah ia akhirnya bisa merasakan kehangatan keluarga atau tidak?. Dulu saat Taehee diketahi hamil. Ia dibuang oleh keluarganya dan begitupun oleh appa kandungnya. Namja itu tak ingin bertanggung jawab dan meninggalkan ummanya sendiri bersamanya. Karenanya ia selalu berdua dengan ummanya itu.

" Ada apa?" Suara berat itu mengagetkan Jaejoong dari lamunannya, ia menoleh dan mendapati wajah Harabojinya hanya berjarak 5 cm dari wajahnya. Salahkan Yunho yang tadi berbisik di telinganya

"Ommo.." Yunho menaikan alisnya melihat ekspresi kaget Jaejoong. Remaja itu telah mempelebar jarak antar keduanya. Ia tak ambil pusing dan segera bersandar di pembatas balkon, matanya masih menatap remaja di hadapannya.

" Apa yang ada di pikiranmu hmm..?"

"eopseo" Jaejoong menghela nafas singkat setelah menjawab pertanyaan harabojinya dan Yunho sadar bahwa remaja di hadapannya ini sedang gelisah. Ia mendekat kearah jaejoong dan mengusap lembut kepala Jaejoong, remaja tersebut menutup matanya berusaha meresapi perhatian Yunho harabojinya.

"Wae?" Tanya Yunho setelah dilihat Jaejoong cukup tenang.

"Hanya memikirkan hidupku setelah ini semua berakhir, semuanya tak akan sama seperti dulu" Jawab Jaejoong menatap lurus mata Yunho

"Tentu saja. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan ini semua. Akan ada banyak hal yang berubah di hari harimu, terlebih setelah dalian pindah ke rumah kita"

"Rumah kita?" Yunho mengangguk dan tersenyum melihat ekspresi kebingungan jaejoong kemudian berkata

" Ya, rumah Jihoon dan Taehee yang juga menjadi rumah kita, kau tidak berniat tinggal sendirian kan?" Jaejoong terdiam

Oh Great ia akan selalu bersama dengan harabojinya setelah ini.

.

.

.

.

tbc