"Apa kau bisa memotongnya, Baekhyun ?" Seorang lelaki tinggi bertanya dengan wajah khawatir karena melihat kekasihnya tengah berurusan dengan benda tajam yang selalu menjadi musuh bebuyutan bagi kekasihnya itu. Kekasihnya tidak menghiraukan pertanyaan darinya, ia masih memfokuskan dirinya pada daun bawang dan pisau di tangannya. Jika biasanya Baekhyun bisa menghancurkan dapur dengan kedua tangan mungilnya, tapi kali ini tidak. Jelas saja, kondisinya sangat berbeda. Tempat garam, gula, kecap dan bahan-bahan memasak lainnya masih rapih ditempatnya. Sedangkan peralatan masak masih tersusun ditempatnya dengan apik. "Bisa tolong kau coba ini, Baekhyun ?" Sebuah suara seorang wanita masuk di telinga Baekhyun, membuatnya segera menghentikan irisannya pada daun bawang. Lalu dengan sigap menolehkan kepalanya "Baik, bu." Baekhyun langsung melangkahkan kakinya dimana wanita itu berada. "Apakah sudah pas ?" Tanya wanita itu lagi sambil memandang Baekhyun dengan tatapan berbinar dan senyuman khasnya. "Iya. Ini sudah cukup." Jawab Baekhyun sambil membalas tatapan wanita itu lalu segera berbalik untuk menyelesaikan irisan daun bawangnya. "Awww." Sebuah pekikan halus terdengar di telinga Chanyeol yang sedang membuka kulkas, suara itu disertai dengan suara benda yang jatuh. "Baekhyun. Kau baik-baik saja ?" Chanyeol bertanya sambil berjalan tergesa-gesa menghampiri kekasihnya. "Aku tidak apa-apa." Baekhyun menjawab dengan nada tenang tetapi berbalik dengan keadaan yang sebenarnya. Kepalanya menunduk dengan sebuah tetesan air mata terjatuh diantara irisan daun bawang dan jarinya juga mulai mengeluarkan darah segar. "Lebih baik kau obati dulu lukamu, Baekhyun. Sebentar lagi ini akan selesai." Seorang wanita berjalan menghampiri Baekhyun sambil menatap khawatir pada lelaki mungil itu dan memegang tangan Baekhyun yang terluka. "Chanyeol. Cepat kau obati dia." Ucap wanita itu lagi sambil mengarahkan matanya pada Chanyeol. "Obatnya ada di lemari." Lanjut wanita itu lagi. Lalu Chanyeol segera menarik tubuh Baekhyun ke arahnya. Setelah tiba di dekat lemari, Chanyeol langsung meminta Baekhyun untuk duduk di kursi yang dekat dengannya. "Sudah kukatakan bahwa aku baik-baik saja, Chanyeol. Jangan membuatku malu di depan Ibumu karena kemampuan memasakku yang nyatanya buruk. Dan jangan berlebihan." Baekhyun berucap dengan pelan karena takut mungkin wanita itu, yaitu Ibu Chanyeol akan mendengar percakapannya. Sedangkan Chanyeol masih sibuk membuka tutup alkohol dan meneteskannya pada sebuah kapas. "Berhenti memaksakan dirimu. Itu tidak baik." Balas Chanyeol lalu segera menarik tangan Baekhyun yang jarinya terluka. "Tapi aku tidak ingin membuat Ibumu merasa kecewa kar--" "Kau adalah pilihan puteraku. Jika kau tidak ahli dalam memasak. Pasti kau memiliki keahlian dalam bidang lainnya sehingga membuat puteraku jatuh cinta padamu. Baekhyun, kau tidak perlu merasa malu di depanku, karena kita adalah keluarga. Dan anakku telah memilihmu untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Aku tidak pernah merasa kecewa dengan pilihannya. Karena pilihannya pasti merupakan sesuatu yang terbaik untuknya." Tiba-tiba sebuah suara menghampiri Baekhyun dan Chanyeol yang sedang beradu mulut. Kalimatnya membuat Baekhyun merasa benar-benar telah menjadi keluarga disini. Baekhyun segera berdiri dan menghampiri Ibu Chanyeol lalu memeluknya erat. "Terima kasih, Bu." Ucap Baekhyun dalam pelukannya dengan air mata yang semakin mengurai deras karena rasa haru yang menyelimuti hatinya.

-END-

Lop yu ... readerr...