Baekhyun menatap layar televisi dengan gusar. Kaki mungilnya ia hentak-hentakan di atas sofa dan bibirnya ia kerucutkan sepanjang yang ia bisa. Sebenarnya bukan karena acara televisi yang membosankan, melainkan perutnya yang sudah merengek minta diisi. Tangannya menjulur ke arah toples yang ada di meja depannya, membukanya perlahan dan hanya menemukan serpihan-serpihan makanan ringan di sana. Matanya mulai ia edarkan ke seluruh penjuru ruangan yang berharap akan menemukan sesuatu yang dapat membuat diam perutnya. Bisa saja ia meminta kekasihnya untuk membelikannya sesuatu yang dapat dimakan, tapi sayangnya kekasihnya itu sedang tidur karena semalam habis bermain game bersama Sehun. Dan Baekhyun terlalu malas untuk membangunkan kekasihnya itu. Mata bulatnya berbinar pada satu arah dengan senyum yang mengembang. 'Kulkas'. Yap. Tempat satu-satunya ia dapat menemukan suatu harapan di sana. Ia melangkahkan kakinya ke arah kulkas sambil mengelus-elus perutnya persis seperti ibu hamil. "Kira-kira ada apa disini ?" Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan gumaman pelan saat membuka pintu kulkas. "Apa ini ?" Tanyanya lagi sambil menarik sebuah bungkusan berwarna emas yang cukup besar. Jemari mungilnya mulai membolak-balikan bungkusan itu dengan membaca tulisan yang tertera di sana. Lalu akhirnya ia menemukan sebuah gambar cokelat di bungkusnya yang membuatnya bersorak nyaring sambil memeluk bungkusan itu di dadanya. Ia segera membawa bungkusan itu ke sofa dan membukanya dengan penuh semangat lalu memakan cokelat itu dengan ekspresi bahagianya. 'Krek' Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Baekhyun segera menoleh, melihat ke arah pintu yang menampilkan kekasihnya dengan wajah khas orang baru bangun tidur. "Chanyeol. Kau benar-benar romantis." Ujar Baekhyun girang sambil menghampiri kekasihnya lalu memeluk lengannya. "Memangnya apa yang telah kulakukan ?" Chanyeol bertanya dengan nada bingung dan suara yang masih serak lalu mengikuti langkah kekasih mungilnya yang membawanya menuju sofa. "Kau yang membeli ini, kan ? Kau sengaja membelinya untukku, kan ? Chanyeol. Kau memang selalu mengerti kemauanku." Ujar Baekhyun setelah duduk di sofa sambil menyodorkan bungkusan yang telah ia makan setengah dari isinya itu. "Tidak, Baek. Itu... maksudku sebenar--" "Kau tidak perlu malu untuk mengakuinya, Chan. Karena aku benar-benar menyukainya." Pekik Baekhyun sambil tersenyum senang ke arah Chanyeol. "Itu... cokelat itu bukan aku yang membelinya tapi Se--" "Aku yang membelinya. Kenapa ?" Lagi-lagi sebuah suara menghentikan Chanyeol untuk meneruskan kalimatnya. "Jadi kau yang membelinya, Sehun ?" Tanya Baekhyun dengan wajah bingung diikuti perasaan kecewa di hatinya. Pertanyaan Baekhyun langsung dibalas anggukan oleh Sehun. Dan setelah melihat anggukan yang diberikan Sehun, Baekhyun langsung menatap malas ke arah kekasihnya yang hanya tersenyum bodoh ke arahnya. "Aku sudah dapat merasakan kalau kejadiannya ternyata begini." Gumam Baekhyun lalu bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Sehun, meninggalkan kekasihnya sendirian di sofa. "Apa salahku, Ya Tuhan ?" Chanyeol bergumam seorang diri sambil mengacak rambutnya kasar.
-END-
klo banyak yg bertanya-tanya knp storynya pendek-pendek...
karna ini adalah short story (mungkin bisa dibilang 'imagine') jdi gk bisa panjang-panjang... sebenarnya bukannya gk bisa sihh, tapi disesuain sama ide yg didapet aja biar langsung ke intinya gituu.
Saranghae... :)
