Crush in Rush
Min Yoongi
Park Jimin (GS)
Kim Namjoon
Kim Seokjin (GS)
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook (GS)
Mentioned YG Trainee Jang Hanna & iKON Kim Jiwon
.
Warn
GS!
Yoon!top Jim!bot
Major typo(s)
Remake karya Santhy Agatha dengan judul sama Crush in Rush
.
.
Yoongi dan Jimin. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
balasan review
jiyoo13: ini udah dilanjut kok
BlackSanGii: ga sekalian aja kayak bungee jumping/? aku maunya dikecup basah sama jjkrl nih :3
iya ini udah lanjut ya ehehe
tobikkoARMY: nanti kalo sudah saatnya bakal naik pangkat kok ehehe
udah dilanjut nih ya
Senashin0817: yoongi so sweetnya buat jimin aja sih untungnya ga dibagi bagi ke yang lain ehehe
nochu: yoontsun-tsun emang sesuatu banget gakuku ganana liatnya duh :3
ini udah lanjut kok
btw pennamenya sama kayak pacar rl aka jjkrl.g
hyoukassi: iya ini udah semangat kok walopun ga liat wt :3
.
.
Jimin melirik ke arah Yoongi dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Yoongi tampak sangat marah, sedikit menakutkan.
Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman. Tetapi walaupun begitu, jantung Jimin serasa berpacu ketika Yoongi semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan.
Kalau gaya Yoongi menyetir seperti ini, dia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Jimin berjanji dalam hati, melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar.
Kenapa Yoongi tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?
.
.
Mereka sampai di apartement Yoongi dan lelaki itu masih membisu, membuat suasana tidak enak, lelaki itu lalu membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Jimin masuk.
"silahkan, anggap seperti rumah sendiri." Yoongi bergumam memecah keheningan, dia lalu masuk di belakang Jimin dan membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi.
Lama kemudian suasana tetap hening sehingga Yoongi menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya ketika melihat Jimin masih berdiri di sana dengan gugup di dekat pintu sambil meremas-remas jemarinya.
"kenapa kau masih berdiri di situ?" Yoongi tampak terkejut menatap Jimin
Pipi Jimin merah padam, dia tampak malu "eh.. a-aku tidak tahu harus kemana."
Yoongi menghela napas panjang menghadapi kepolosan Jimin, perempuan ini luar biasa polosnya hingga Yoongi merasa menjadi serigala yang sedang berusaha menerkam gadis kecil bertudung merah yang tidak tahu apa-apa.
Dengan sedikit gusar Yoongi berdiri, merasa agak menyesal karena suasana hatinya yang buruk membuat Jimin terkena imbasnya. Ya. Telepon pengacara ayahnya tadi benar-benar merusak moodnya. Yoongi langsung menutup telepon setelah mengucapkan penolakan yang kasar, tidak memberi kesempatan pengacara ayahnya untuk berbicara.
Dasar lelaki tua yang kurang ajar. Meskipun tahu itu salah, Yoongi terus menerus mengutuki ayahnya. Seenaknya saja dia berusaha kembali mengatur kehidupan Yoongi setelah dulu dia meninggalkan Yoongi dan ibunya, apakah dia pikir Yoongi adalah manusia yang tertarik dengan gelar dan harta? Tidak! Lelaki tua itu seharusnya tahu betapa puasnya Yoongi karena menolak permintaannya, Yoongi bahkan akan sangat senang kalau lelaki itu memohon dan menyembah-nyembahnya dan dia akan tetap menolak permintaan lelaki tua itu dengan puas.
Setelah menghela napas panjang, Yoongi menatap Jimin yang tampak kebingungan dengan ekspresinya yang berubah-ubah. Kasihan juga gadis ini. Harinya sudah buruk dan Yoongi yakin demamnya masih belum begitu reda, sekarang harus menghadapi emosinya pula.
"sini, kutunjukkan kamarmu. Sebenarnya ini kamar yang sama yang kau tempati ketika sakit tadi." Walaupun begitu Yoongi tidak bisa menahan suaranya yang terdengar ketus, "lain kali jangan bersikap canggung di sini, kita hanya berdua dan sikap canggungmu membuat suasana tidak enak. Lakukan apa yang kau suka, anggap saja rumah sendiri, kalau kau ingin menonton televisi silahkan, kalau kau ingin membuat makanan silahkan, lakukan apa saja yang kau suka, nanti kita akan membahas beberapa aturan, apa yang boleh dan tidak boleh di rumah ini, tapi sekarang kau boleh beristirahat dulu. Aku juga lelah, mau tidur siang." Sambil terus berbicara, Yoongi mendahului Jimin yang terbirit-birit mengikutinya melangkah ke kamar kedua di apartemen yang cukup luas itu, Yoongi membuka pintu kamar itu dan melirik ke arah Jimin "masuklah dan istirahatlah dulu, nanti sore kita bicara."
Setelah itu, tanpa melirik sedikitpun pada Jimin, Yoongi berlalu.
"te-terimakasih." Jimin berseru gugup, entah Yoongi mendengarnya atau tidak karena lelaki itu sudah melenggang kembali ke ruang tengah.
.
.
Jimin memasuki kamar itu, kamar yang sama tempatnya di rawat ketika demam. Dia terperangah ketika melihat luasnya kamar itu. Semuanya lengkap, dari ranjang busa yang besar di tengah, lemari berwarna krem yang elegan dan meja rias yang dilengkapi dengan kaca minimalis yang begitu bening. Ada sebuah televisi besar di dinding, televisi layar datar yang hanya pernah Jimin lihat di televisi dan juga AC, tentu saja kamar ini ada ACnya, Jimin tersenyum merasa malu karena sadar dia benar-benar kampungan.
Di flatnya dulu tidak ada AC, bahkan kipas anginpun tidak ada karena Jimin tidak mampu membelinya. Pernah dia membawa tabungannya yang berhasil disisihkan dari uang makannya, sejumlah tujuh puluh lima ribu won ke sebuah supermarket yang di dalamnya juga menjual barang-barang elektronik. Pada akhirnya Jimin keluar dengan tangan kosong, menggenggam uang tabungannya itu di tangannya. Ketika sudah melihat-lihat berbagai merek kipas angin, dia mendapati bahwa yang termurah, dengan ukuran paling kecil dan merk menengah adalah seharga sembilan puluh ribu rupiah. Ada beberapa dengan merk tidak terkenal masih mematok harga tujuh puluh ribuan. Tetapi bukan hanya harga yang membuat Jimin batal membeli, benaknya tiba-tiba memutuskan bahwa dia bisa bertahan tanpa memakai kipas angin, bahwa uang itu sebaiknya disimpan untuk keperluan lain yang lebih penting, seperti membeli sabun mandi atau shampo dan berbagai keperluan rumahan lainnya. Alhasil Jimin harus melalui lagi malam-malam di panasnya Seoul dengan udara lembab dan lengket, dengan nyamuk yang tak kalah galaknya. Tetapi setidaknya hatinya tenang karena dia masih memegang uang simpanannya sebagai pegangan dikala perlu.
Dan sekarang, melihat AC itu Jimin tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, dia mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malamnya yang panas dan penuh keringat. Dengan ingin tahu, Jimin menyalakan AC itu, memejet tombol ON. Jimin tahu cara menyalakan AC karena dia sering menyalakan dan mengatur suhu AC di cafe tempatnya bekerja dulu. Dan kemudian, ketika AC itu menyala, udara sejuk langsung menghembusnya. Membuat senyumnya makin lebar.
Setelah yakin pintu kamarnya tertutup dan Yoongi tidak bisa melihatnya, Jimin duduk di ranjang itu, menepuk-nepuknya dan sekali lagi tersenyum senang, ranjangnya empuk. Tidak seperti ranjang lembek dan keras entah dengan usia berapa lama di kamar flatnya yang penuh dengan serangga tak terlihat, kadang terasa menggigit kulitnya dan menimbulkan ruam-ruam di kulitnya. 'ranjang yang ini pasti tak ada serangganya' pikir Jimin sambil menepuk-nepuknya lagi, dan ranjang ini empuknya luar biasa.
Puas menikmati empuknya ranjang itu, Jimin meraih tas-nya dan mulai berbenah. Di bukanya lemari empat tingkat berwarna krem itu dan mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, ketika selesai dia tersenyum masam dan merasa malu, keseluruhan pakaiannya bahkan tidak bisa memenuhi satu tingkat yang paling atas di lemari itu, lemari itu jadi tampak kosong dan menyedihkan. Tetapi tidak apa-apa, Jimin tidak malu dia hanya punya sedikit pakaian, setidaknya dia masih bisa berganti pakaian setiap hari dan bersih serta wangi, biarpun pakaiannya sedikit, Jimin tidak pernah memakai pakaian yang sama selama beberapa hari, setiap dia memakai baju, ketika mandi, dia selalu mencuci pakaiannya sehingga ketika keesokan harinya pakaiannya sudah kering dan wangi lagi. Untuk menyeterika dia bisa meminjam setrika milik ibu pemilik flatnya, dan membayar biaya listriknya dengan sekalian menyetrika cucian ibu pemilik flatnya yang setumpuk banyaknya, karena selain memiliki suami yang berbadan besar, juga memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Bisa dibayangkan Jimin membutuhkan waktu seharian penuh di hari liburnya untuk menyeterika semuanya.
Jimin lalu mengatur kosmetiknya dimeja rias yang besar dan lagi-lagi meja itu tampak kosong dan menyedihkan karena Jimin hanya punya satu bedak tabur, satu lipstick, deodoran dan satu splash cologne murahan yang dibelinya di minimarket, serta satu sisir kecil, Jimin menambahkan sambil tersenyum, kosongnya meja rias itu tidak mengganggunya, malahan membuatnya terkikik geli, menertawakan dirinya sendiri. Ya ampun. Kamar ini begitu bagusnya, terlalu bagus dan sempurna untuk dirinya.
Setelah puas memandang suasana kamarnya yang sejuk, Jimin melongok ke arah kamar mandi. Ada kamar mandi pribadi di dalam kamar ini! Lagi-lagi Jimin membayangkan ketika tinggal di flatnya dulu dimana dia harus berbagi kamar mandi dengan ibu pemilik flat dan keluarganya, serta empat orang penyewa flat lainnya.
Jimin melihat sabun, shampoo yang telah tersedia dalam wadah khusus di dinding, dia menambahkan sikat giginya dan tersenyum bahagia.
Sambil bersenandung, Jimin membanting tubuhnya di ranjang matanya tersenyum menatap langit-langit kamar itu bahkan langit-langit kamarnya pun indah hatinya dipenuhi rasa syukur. Alangkah baik hatinya Yoongi memberkan tempat tinggal untuknya, tempat seindah ini yang sama sekali tidak dibayangkannya. Jimin berjanji dia akan menjadi pelayan yang terbaik untuk Yoongi.
.
.
Ketika terbangun, mata Jimin langsung terarah ke arah jam besar di dinding, dia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya dia ketiduran akibat suasana kamar yang begitu nyaman. Dan sekarang sudah jam lima sore. Astaga betapa malunya Jimin, dia telah berjanji dalam hati akan menjadi pelayan yang baik, tapi yang dilakukannya malahan tidur begitu lama.
Suasana tampak lengang, ruangan apartemen remang-remang, dan hanya terdengar suara TV yang sayup-sayup, Jimin melangkah ke ruang tengah dan mendapati Yoongi sedang tidur tengkurap di sofa, lelaki itu telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang santai dan tampak sangat lelap. Pipi Jimin memerah ketika mengamati punggung telanjang Yoongi yang berotot, dia melangkah dengan sangat hati-hati melewati Yoongi dan kemudian melangkah menyeberangi ruang tengah menuju dapur.
Jimin akan memasak makan malam dan membuat teh hangat, setidaknya ketika Yoongi bangun, makanan sudah tersedia.
Di dapur, Jimin melihat sebuah kulkas besar berwarna hitam, dengan hati-hati Jimin membuka kulkas itu dan sedikit merenung melihat isinya. Yoongi rupanya tidak suka memasak, yah dia kan lelaki bujangan yang tinggal sendirian, buat apa repot-repot memasak kalau bisa membeli atau pesan antar makanan? Jimin melihat bahan makanan yang seadanya di sana. Ada sosis di freezer, dan di kotak sayuran di bagian bawah ada wortel dan brokoli. Jimin memutuskan membuat sup sederhana.
Karena tidak ada kaldu, Jimin merebus sebagian sosis dengan potongan besar hingga airnya berminyak, lalu memasukkan bawang yang sudah ditumisnya dengan mentega ke sana – untunglah Yoongi mempunyai beberapa siung bawang putih yang sudah setengah mengering di kulkasnya – Aroma harum langsung tercium ke seluruh penjuru dapur. Jimin lalu memasukkan wortel yang sudah di potong-potongnya, sementara brokolinya akan dimasukkan belakangan setelah air mendidih. Setelah itu, Jimin membumbui supnya dan mencicipinya. Rasanya lumayan, meskipun dengan bumbu dan bahan yang lebih lengkap, sup ini akan terasa lebih enak.
Tidak ada nasi, tetapi ada kentang di kulkas, Jimin memutuskan membuat kentang tumbuk. Beberapa kentang yang sudah dikupas, di kukus sampai empuk, lalu dihancurkan dengan dicampur sedikit garam, krim kental dan susu tawar kental. Selain itu Jimin membuat scramble eggs sebagai lauknya. Dan jadilah masakannya itu.
Ketika air mendidih dan Jimin menyeduh teh, tiba-tiba sosok Yoongi sudah berdiri bersandar di ambang pintu dapur "baunya enak."
Jimin memekik, hampir menjatuhkan teko teh-nya. Untunglah dia sigap menahannya, kalau tidak Jimin mungkin harus masuk rumah sakit karena tersiram air panas yang baru mendidih. Dengan gugup Jimin menatap Yoongi dan tersenyum "aku memasak dengan bahan seadanya di kulkas, kuharap kau tidak marah karena aku lancang."
Yoongi mengangkat bahunya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana santainya yang sedikit melorot di pinggang, dia tampaknya tidak terganggu dengan pipi Jimin yang memerah karena penampilannya, lelaki itu duduk di kursi tinggi di meja dapur, dan bertopang dagu "sini ambilkan aku makanan, aku lapar."
Jimin langsung mengambil mangkuk dan menyendokkan sup yang masih panas di sana, dia juga mengambil kentang tumbuk di piring bersebelahan dengan scramble eggs yang dia buat.
Dengan was-was Jimin mengamati Yoongi makan, takut kalau lelaki itu memuntahkan makanannya karena tidak menyukai rasanya. Tetapi yang ditakutkan Jimin tidak terjadi, lelaki itu makan dengan lahap dan cepat, dan ketika di tengah makan, Yoongi mengangkat kepalanya dan mengernyit "kenapa kau tidak ikut makan?" tanyanya.
Jimin meremas-remas kedua tangannya, kebiasaannya jika merasa gugup dan bingung "a-aku eung.. bukankah pelayan tidak makan bersama majikan? Biasanya seperti di drama-drama, pelayan makan di dapur setelah majikannya makan."
Yoongi terkekeh, tawa yang mencairkan wajah dinginnya yang tampan "memangnya kau hidup di jaman feodal apa? Lain kali kurangilah nonton drama yang penuh intrik palsu itu Jimin, ayo makanlah!"
Karena perintah Yoongi terdengar begitu tegas, Jimin akhirnya menyerah dan memutuskan makan bersama Yoongi, dia lalu mengambil makanannya, tak henti-hentinya berucap syukur atas makanan yang tersedia begitu mudah untuknya tanpa perlu mencemaskan hari esok lagi. Dan kemudian melahap makanannya dengan senang, ternyata dia lapar.
Yoongi hanya tersenyum menatap Jimin, mereka lalu menyelesaikan makannya dan Yoongi melompat berdiri, melirik ke arah teko teh yang sudah disiapkan Jimin. Teh melati yang harum mengepul dengan aroma yang menggoda selera. Yoongi sebenarnya lebih memilih kopi. Tetapi sepertinya Jimin harus diajari untuk menggunakan mesin kopi, menggiling bijinya dan menciptakan takaran kopi hitam sesuai seleranya, perempuan itu pasti hanya bisa membuat kopi instan.
"bawa teh-nya ke ruang tengah, ayo kita bicara sambil minum teh." gumamnya sambil berlalu. Dengan segera, Jimin mengambil nampan dan meletakkan teko teh beserta beberapa cangkir di sana, lalu mengikuti Yoongi ke ruang tengah.
Yoongi sudah duduk di sofa, matanya mengarah ke televisi besar yang sedang menayangkan pertandingan basket, dia lalu menatap Jimin yang meletakkan nampan itu di meja, dan berdiri ragu-ragu di sana.
"duduklah, kau tidak akan duduk di lantai seperti pelayan-pelayan di jaman feodal bukan?" gumam Yoongi ketika lama Jimin tidak juga duduk, dalam hati dia menggeleng-gelengkan kepala. Pantas saja gadis ini ditindas oleh atasannya yang jahat itu, dia benar-benar lemah dan polos.
Jimin duduk di ujung sofa dengan ragu, menatap Yoongi yang bersila dengan santai sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke televisi.
"kau mungkin perlu berbelanja, di lantai basement apartement ini ada supermarket yang menjual sayuran dan bahan makanan, kau bisa memenuhi kulkas dengan berbelanja di sana, belilah apapun yang kau perlukan untuk memasak, aku akan memberimu uang belanja."
Jimin menganggukkan kepalanya, menyimpan rasa kagumnya pada apartemen ini yang bahkan mempunyai fasilitas supermarket di lantai bawahnya 'orang kaya memang selalu dimudahkan dalam segala hal' batinnya.
"dan kita akan tinggal bersama di sini, aku sebenarnya tidak punya aturan ketat, hanya ada beberapa yang harus dihormati. Pertama, aku tidak begitu suka suara bising, jadi kalau kau mau menyalakan televisi atau apa, atur suaranya supaya tidak berisik. Kedua, aku tidak suka susu putih, kecuali di campur dengan kopi, jadi jangan memberikanku itu. Ketiga aku biasanya bekerja di malam hari, mulai jam sembilan malam, dan karena itu aku membutuhkan tidur yang lama di pagi harinya, biasanya aku bekerja jam sembilan malam sampai jam lima pagi lalu aku akan sarapan dan tidur jam sembilan pagi sampai sore dan aku tidak suka diganggu."
Sampai di situ Jimin mengernyit, berusaha memahami gaya hidup Yoongi tetapi tetap saja tidak paham. Lelaki ini seperti vampir, bekerja di malam hari dan tidur ketika ada matahari.
"kau mendengarkan?" Yoongi menegurnya, membuat Jimin tergeragap. Ketika sudah mendapatkan perhatian Jimin, Yoongi melanjutkan "sampai di mana tadi? Hmm oh ya keempat..."
Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu, membuat Yoongi mengernyit karena merasa terganggu.
"siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan itu?" gerutunya, melangkah ke arah pintu dan mengintip. Ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya, Yoongi mendesah kesal, tetapi tetap membuka pintunya itu "apa yang kau lakukan di sini, Namjoon?"
Seorang lelaki yang amat sangat tampan melangkah dengan senyum lebar, memasuki ruangan. Jimin terpesona, karena lelaki itu sungguh terlalu tampan sampai bisa dikatakan cantik. Ada sesuatu di tangannya, lelaki itu memegang wadah biola dari bahan kulit kaku berwarna cokelat gelap. Lelaki itu pemain biola?
Dan kemudian, Namjoon masuk menatap Yoongi masih dengan senyumannya, tidak mempedulikan tatapan kesal Yoongi.
"aku butuh bantuanmu teman. Ada seorang perempuan yang dijodohkan ibuku untukku dan dia terus memaksa meskipun aku menolaknya mentah-mentah. Ibuku mengatakan karena adikku Hanna sudah menikah dengan si brengsek Jiwon yang beruntung itu, aku tidak boleh terlalu lama menunda pernikahan. Parahnya perempuan yang dijodohkan oleh ibuku itu mengejar-ngejarku sampai nyaris menakutkan." Namjoon mengangkat bahunya "jadi aku melarikan diri dari rumah, mengatakan harus menjalani pelatihan intensif yang tidak bisa diganggu, dan sepertinya aku harus merepotkanmu, aku tahu kau punya apartemen tiga kamar dengan dua kamar yang masih kosong, jadi izinkanlah aku menumpang sementara di sini."
.
.
TBC
.
.
jan pada galau yang gabisa nonton WT
yakinlah ntar kita juga bisa nonton mereka lain waktu :3
thanks yang udah support sino yak ehehe
reviewnya jan lupa ya
thanks
iloveyoujjkrl❤
