Crush in Rush

Min Yoongi

Park Jimin (GS)

Kim Namjoon

Kim Seokjin (GS)

Jung Hoseok

Kim Taehyung

Jeon Jungkook (GS)

.

Warn

GS!

Yoon!top Jim!bot

Major typo(s)

Remake karya Santhy Agatha dengan judul sama Crush in Rush

.

.

Yoongi dan Jimin. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

balasan review

hyoukkasi: namjoon dijodohin sama aku aja gimana? hehe

iyanih kan jimin hak ciptanya yoongi wks

jan galau taun depan bisa liat kok wkwkw

nochu: ga sekalian sepolos pantat bayi baru lahir aja?

vampire cem tuilet/?

iya ini udah semangat kok hehe

BlackSanGii: dia nebeng dirumah yoongi soalnya mau dijodohin '-'

maunya dicium sama jjkrl nih

Androme85775075: cie yang demen ff remake wkwkw

ini udah di update kok tapi kalo fast update keknya ga mungkin mager ngetiknya kadang wkwk

.

.

Tampan Sekali. Jimin hampir saja tidak bisa menutupi rasa kagumnya akan ketampanan lelaki yang baru masuk itu. Luar biasa. Bahkan dia sebagai perempuan merasa dirinya kalah cantik dibanding lelaki itu. Meskipun wajahnya rupawan tetapi tidak ada sikap yang mengarah ke arah feminim sama sekali dari penampilan lelaki yang dipanggil Yoongi dengan nama Namjoon itu. Namjoon tampak maskulin dan sinar matanya tampak sedikit bandel, seperti anak lelaki kecil yang nakal.

Detik ketika Namjoon masuk itulah dia menyadari kehadiran Jimin di sana, duduk di sofa ruang tengah, lelaki itu langsung melemparkan pandangan berganti-gani penuh arti ke Jimin dan Yoongi.

"ah, maaf, aku tidak tahu kau sedang ada tamu." Namjoon tersenyum ramah, senyum yang mempesona kepada Jimin "Yoongi biasanya tidak pernah menerima tamu di apartmennya, kecuali tamu yang memaksa seperti aku." Lelaki itu terkekeh sendiri, lalu melangkah mendekat "kau pasti perempuan istimewa."

"jangan ganggu dia, Namjoon. Dia pelayanku."

Namjoon langsung tertegun. Wajahnya tampak tak percaya, dia melemparkan tatapan mencela ke arah Yoongi "kauu memang tidak pandai bercanda. Mana mungkin kau memakai pelayan di rumahmu? Kau dengan kehidupanmu yang introvert itu?"

Namjoon melemparkan pandangan menyelidik kepada Yoongi, menunggu lelaki itu tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sedang bercanda, tetapi ekspresi wajah Yoongi sama sekali tidak berubah, membuat Namjoon akhirnya mengambil kesimpulan.

"oh astaga, kau tidak sedang bercanda ya?" jemarinya menunjuk ke arah Jimin "gadis ini pelayanmu?"

"tentu saja." dengan santai Yoongi melangkah melalui Namjoon dan duduk kembali di sofa tempatnya duduk "duduklah dan ceritakan pelan-pelan, apa yang terjadi padamu sampai kau harus mengemis tempat tinggal kepadaku? bukankah kau punya apartemen sendiri di tengah kota? kenapa kau tidak kesana?"

Namjoon ikut duduk, di dekat Jimin yang terpaku, masih terpesona.

"mereka akan bisa melacakku kalau aku ke sana, kau tahu ibu angkatku dan perempuan yang dijodohkan denganku itu sangat gigih mengejarku."

Tanpa dipersilahkan, Namjoon menuang teh di meja dan menyesapnya "hmm enak sekali, kau yang buat yah?" lelaki itu menoleh tiba-tiba ke arah Jimin, membuat Jimin gelagapan "e-eh i-iya saya yang buat."

Sementara itu Yoongi menatap ke arah Jimin dan mengernyit, perempuan itu terpesona tentu saja. Semua perempuan pasti akan terpesona kalau melihat Namjoon dan ketampanannya yang luar biasa. Tetapi penampilan bisa menipu, di balik sikap ramah dan baik hatinya kepada perempuan, Namjoon menyimpan racun yang menakutkan.

Lelaki itu adalah penghancur perempuan, dalam arti yang sebenarnya. Entah sudah berapa perempuan yang dipermainkannya, diberi harapan, kasih sayang dan perhatian dengan begitu indahnya, lalu dilemparkan dan dibuang dengan kejam.

Ya. Namjoon cukup menakutkan kalau berhubungan dengan perempuan, entah kenapa Yoongi berpikir kalau Namjoon membenci perempuan, tentu saja mama angkatnya dan adik kesayangannya yang baru dijumpainya setelah sekian lama itu tidak termasuk kategori yang dibencinya.

Sekarang Jimin terpesona dengan Namjoon, dan Namjoon secara alami langsung menebarkan pesonanya pada Jimin. Yoongi harus menghentikannya segera, sebelum semua berlanjut. Jimin adalah pelayan yang bekerja untuknya, dia harus menjaganya.

"kau bisa masuk Jimin." gumam Yoongi tiba-tiba.

Jimin merasa lega atas perintah Yoongi itu, dia merasa canggung duduk di sofa di tengah percakapan kedua laki-laki yang sepertinya bersahabat itu, dengan cepat dia berdiri dan mengucap salam "saya permisi dulu." dengan tak kalah sopan dia mengangguk ke arah Namjoon kemudian melangkah tergesa meninggalkan ruang tengah itu, masuk ke kamarnya.

.

.

Namjoon terus mengamati sampai Jimin menghilang dari pandangan, kemudian melemparkan tatapan penuh ingin tahu ke arah Yoongi.

"kau? Membawa seorang pelayan untuk tinggal di rumahmu?" dia masih mengungkapkan pertanyaan yang sama "rasanya itu tidak mungkin terjadi Yoongi, itu bukan Yoongi yang kukenal."

Ya. Yoongi yang dikenal Namjoon adalah seorang penyendiri. Lelaki itu selalu menghabiskan waktunya sendirian dan kebanyakan menutup hatinya dari hubungan apapun.

Bahkan Namjoon sempat ragu meminta pertolongan Yoongi agar mau menampungnya sementara, mengingat sikap Yoongi yang cenderung introvert itu.

"aku menolongnya, karena dia butuh pertolongan, sama sekali tidak ada alasan lain." Mata Yoongi menyipit "dan jika kau memang akan tinggal di sini, kau tidak boleh mengganggunya."

Namjoon terkekeh mendengar nada ancaman di balik suara Yoongi itu "oke. Sepakat, aku tidak akan mengganggunya, tetapi aku tidak bisa mencegah kalau dia yang menggangguku." Tawanya malahan makin keras ketika menerima tatapan membunuh yang langsung dilemparkan Yoongi kepadanya "aku bercanda Yoongi, gadis itu aman. Jadi kesimpulannya, kau mengizinkan aku tinggal di sini sementara?"

.

.

Keesokan paginya, Jimin bangun pagi-pagi sekali, dia ingin menyiapkan makanan untuk Yoongi, lelaki itu bilang dia bekerja larut malam dan kemudian sarapan dulu di pagi hari sebelum tidur.

Ruang tengah tampak terang benderang, dan Yoongi sedang duduk, berkutat dengan wajah serius menggambar sesuatu seperti denah atau entahlah, di sebuah meja khusus di sudut ruangan.

Jimin mengamati dalam diam dan kemudian menebak-nebak, meja itu adalah meja khusus arsitek. Jadi, Yoongi seorang arsitek?

Rupanya Yoongi menyadari keberadaan Jimin, dia menolehkan kepalanya dan mengerutkan keningnya "kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?" dilemparkannya pandangannya ke jam dinding, masih jam lima pagi.

Jimin berdiri dengan gugup "a-aku ingin membuat sarapan, kau bilang kau sarapan setiap pagi, baru setelah itu tidur."

"oh itu." Yoongi tidak tega mengatakan kalau dia hanya sarapan roti tawar setiap pagi dan sebenarnya dia bisa menyiapkannya sendiri tanpa Jimin repot-repot.

Tetapi dia mempekerjakan Jimin sebagai pelayannya, dan Yoongi sendiri harus membiasakan diri untuk dilayani.

"oke terimakasih. Ada roti tawar di atas kulkas dan jeruk segar kalau kau ingin membuat jus jeruk. Nanti panggil aku kalau sarapannya sudah siap." gumamnya kemudian.

Setelah melihat Yoongi membalikkan badan dan sibuk kembali dengan pekerjaannya, Jimin melangkah ke dapur, dia melihat roti tawar itu, mengisinya dengan keju dan saus kacang yang sudah tersedia dan memanggangnya.

Jeruk besar berwarna orange cerah itu menarik perhatiannya, Jimin mengambil beberapa buah dan memasukkannya ke juicer.

Setelah itu dia mengatur makanan yang sudah siap di meja dapur. Biasanya untuk sarapan, Jimin selalu meminum susu satu gelas, tetapi dia ingat kemarin Yoongi bilang dia tidak suka susu, dan sepertinya lelaki itu tidak punya susu di dapurnya.

Setelah makanan siap, Jimin memanggil Yoongi dengan canggung dari ambang pintu dapur, dan diberikan jawaban singkat oleh Yoongi.

Tak lama lelaki itu muncul di dapur, masih dengan pakaiannya yang sama, celana panjang dan tidak berkemeja. Jimin sepertinya harus membiasakan diri dengan penampilan Yoongi yang indah ini.

"terimakasih Jimin." Yoongi menyesap jus jeruknya, lalu mengunyah roti bakarnya dengan tenang, lelaki itu menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu menyesap jus jeruknya lagi, setelah itu menguap "aku akan tidur. Kau bisa siapkan satu sarapan lagi, Namjoon untuk sementara akan tinggal di sini. dan oh ya, uang belanjamu ada di meja."

Jimin tertegun sambil menatap punggung Yoongi yang berlalu. Jadi Namjoon, lelaki yang luar biasa tampan itu juga tinggal di apartemen ini?

Jimin sepertinya harus menguatkan hatinya untuk tinggal bersama dua lelaki yang sangat mempesona itu.

Pintu kamar Yoongi masih tertutup rapat ketika giliran Namjoon yang bangun dari tidurnya. Lelaki itu ternyata tidak pernah tampil berantakan dan tidak pedulian seperti Yoongi, Namjoon keluar kamar sudah mandi dengan aroma harum dan pakaian rapi.

Dia melongok ke dapur, ke tempat Jimin sedang mencuci gelas dan piring kopi sisa Yoongi.

"wah aromanya enak." Lelaki itu tersenyum dan duduk di meja dapur, kemudian mencomot satu roti bakar dan memakannya "mungkin keputusan Yoongi menerima seorang pelayan di rumahnya sungguh tepat, dan aku juga ikut mendapatkan keuntungan." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, mau tak mau membuat Jimin tersenyum.

"semoga anda suka." gumamnya canggung "s-saya eh saya pamit dulu." Setengah tergesa Jimin berjalan hendak keluar pintu dapur.

"mau kemana?" Suara Namjoon mencegahnya, lelaki itu mengerutkan keningnya.

"saya hendak berbelanja bahan makanan di supermarket di basement."

"aku ikut." Dengan tak terduga Namjoon berdiri, meneguk gelas jus jeruknya dan tersenyum ke arah Jimin "aku bosan di sini, biarkan aku menemanimu berbelanja."

.

.

Berbelanja bersama Namjoon berarti harus kuat menerima tatapan orang-orang ke arah mereka. Yah, ketampanan Namjoon terlalu mencolok, hingga membuat semua orang yang berjenis kelamin perempuan hampir pasti menoleh dua kali ke arah mereka.

Beberapa orang malahan memandang terang-terangan sambil mengangkat alis ke arah Jimin, seolah-olah mengatakan betapa tidak pantasnya Jimin bersanding di sebelah Namjoon, dan betapa beruntungnya Jimin karena bisa mendapatkan kesempatan itu.

"jadi, kita akan masak apa hari ini?"

Jimin mengangkat bahunya "s-saya masih bingung, saya lupa menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Yoongi."

"hmmm" Namjoon mengerutkan keningnya "kau jangan menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, pakailah 'aku' dan 'kamu, oke?" tatapannya menggoda, membuat Jimin mau tak mau menganggukkan kepalanya.

"dan mengenai Yoongi sepertinya kau tidak perlu cemas, dia menyukai semua jenis makanan, setahuku yang tidak disukainya cuma susu putih."

Namjoon melirik ke arah rak buah-buahan "aku akan mengambil buah pir itu, kau tunggu di sini saja ya" lelaki itu lalu melangkah sedikit menjauh dari Jimin.

Sementara itu, Jimin langsung berpikir untuk membuat masakan laut, dia akan membeli udang dan cumi lalu membuat masakan bersaus dan lezat, semoga saja Yoongi menyukainya.

"Jimin?" Suara lelaki yang familiar memanggilnya, membuat Jimin menolehkan kepalanya, dan melihat sosok yang dikenalnya berdiri di sana, sedang berbelanja.

"Taehyung?" Taehyung adalah mantan rekan kerjanya di café tempatnya bekerja, lelaki itu satu-satunya rekan kerja yang bersikap baik kepada Jimin.

"kenapa kau ada di sini?" Lelaki itu menunjukkan keranjang belanjaannya yang berisi gula dan sirup "berbelanja untuk café, stok belanjaan belum datang dan ada beberapa barang yang habis, jadi aku disuruh berbelanja kemari, ini supermarket yang paling dekat dengan café, kau sendiri apa yang kau lakukan di sini? Bos bilang kau sudah tidak bekerja lagi di café, aku berusaha mencari tahu tentangmu tapi aku kehilangan jejak, apalagi kau tidak punya ponsel untuk dihubungi."

Jimin menatap Taehyung dengan tatapan menyesal "maafkan aku Taehyung semua terjadi begitu cepat, tetapi aku baik-baik saja, sekarang aku bekerja sebagai pelayan di sebuah apartemen, yah kau tahu mirip pembantu rumah tangga." Senyumnya melebar "setidaknya aku dapat tempat tinggal dan makanan gratis."

"aku senang mendengarnya." Taehyung menatap Jimin dengan tatapan mata lembut "kalau aku ingin bertemu denganmu lagi bagaimana caranya ya?"

Jimin juga tampak bingung "aku juga tidak tahu caranya, aku tidak punya ponsel."

"hmm kau bekerja di salah satu apartemen ini?"

"iya."

"apartemen nomor berapa? dengan tahu nomornya setidaknya aku tahu kau ada di mana."

Jimin hendak membuka mulutnya ketika sosok lelaki tampan itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, merangkul Jimin dengan akrab.

"Yoongi akan sangat marah kalau kau sembarangan memberikan nomor apartemennya ke orang lain." Namjoon bergumam tiba-tiba, melemparkan senyum manis ke arah Jimin.

Sementara itu Taehyung berdiri menatap mereka berdua, Jimin dan sosok Namjoon yang penampilannya sangat luar biasa, lelaki itu terperangah, sekaligus bingung.

.

.

TBC

.

.

dont forget to review guys

see you next chapter

with love,

sino

iloveyoujjkrl❤