Crush in Rush
Min Yoongi
Park Jimin (GS)
Kim Namjoon
Kim Seokjin (GS)
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook (GS)
YG Trainee Jang Hanna
iKON Kim Jiwon
.
Warn
GS!
Yoon!top Jim!bot
Major typo(s)
Remake karya Santhy Agatha dengan judul sama Crush in Rush
.
.
Yoongi dan Jimin. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Namjoon berdiri disana dengan senyum lebarnya dan tatapan mata tidak berdosanya, sama sekali tidak menyadari kalau Taehyung hampir saja melotot melihat penampilannya.
Tentu saja, Jimin yang dikenal oleh Taehyung pastilah tidak mungkin dekat dengan pria-pria berpenampilan elegan semacam ini. Jimin yang dikenal Taehyung sangat sederhana lugu dan pemalu, sangat bertolak belakang dengan lelaki tampan itu, yang dengan santainya melingkarkan lengannya di pundak Jimin.
Apakah lelaki ini majikan Jimin yang diceritakan sebagai pemilik apartemen tempat Jimin bekerja? Tetapi seorang majikan mana mungkin merangkulkan lengannya dengan akrab seperti itu? Atau jangan-jangan lelaki ini pacar baru Jimin? Kalau begitu beruntung sekali Jimin bisa mendapatkan pacar lelaki yang jelas-jelas berasal dari kalangan atas itu, tapi kalau begitu kenapa Jimin masih bekerja sebagai pembantu? Kalau memang pacarnya kaya bukankah Jimin tidak perlu bekerja lagi?
Tiba-tiba pikiran buruk melintas di benak Taehyung, berpikiran jangan-jangan Jimin berbohong padanya, Jimin pasti tinggal di apartemen itu bukan sebagai pembantu, mungkin dia bekerja sebagai simpanan!
Tiba-tiba Taehyung merasa sedih dan tak yakin, merasa pedih kalau memang benar Jimin sampai jatuh di jurang kehinaan seperti itu. Yah bagaimanapun juga Taehyung tahu hidup Jimin begitu pas-pasan sampai kadang Taehyung merasa kasihan, dan godaan harta pastilah terasa begitu menarik.
.
.
Sementara itu Namjoon mengamati ekspresi Taehyung yang berubah-ubah sambil menahan tawa. Ekspresi lelaki itu seperti buku yang terbuka, pertama-tama terlihat tercengang, lalu curiga, lalu marah dan terakhir sepertinya sedih. Namjoon berani bertaruh bahwa di benak lelaki ini pasti sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang aneh-aneh tentang dirinya dan Jimin.
"temanmu, Jimin?" dengan sopan Namjoon mengulurkan tangannya ke arah Taehyung, matanya masih tetap menatap Jimin, menunggu jawaban. Apakah lelaki ini teman biasa Jimin, ataukah pacarnya? Kalau lelaki ini pacar Jimin, mau tak mau Namjoon harus berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya kepada lelaki ini dan mengusir seluruh pikiran buruk di benak lelaki ini. Namjoon terbiasa melakukannya, banyak sekali pria yang cemburu kepadanya, yah mau bagaimana lagi, keadaannya memang seperti ini, bukan salahnya kalau dia bertampang mempesona bukan?
"iya ini teman saya." Jimin bergumam cepat, tiba-tiba merasa canggung, apalagi melihat keterkejutan yang begitu nyata di mata Taehyung karena Namjoon bersikap akrab kepada Jimin. Jimin tidak tahu kenapa Namjoon begitu mudah bersikap akrab, mungkin memang sudah wataknya begitu meskipun mereka baru bertemu tadi pagi.
Namjoon langsung menyela Jimin "sudah kubilang jangan menyebut 'saya' dan 'anda'." Gumamnya dalam tawa, lalu mengalihkan kembali tatapannya ke arah Taehyung yang masih ragu menerima uluran tangannya "aku Namjoon."
Taehyung menyambut uluran tangan Namjoon dengan sopan, mencoba tersenyum meskipun tatapan curiga masih tampak di sana "saya Taehyung, teman Jimin di cafe tempat Jimin dulu bekerja, cafe di seberang situ."
Namjoon tahu cafe itu, dia memang belum pernah kesana, tetapi setiap dia mengunjungi Yoongi dia melewatinya, dan Yoongi sering bilang kalau dia terbiasa menghabiskan paginya di sana.
"saya teman majikan Jimin, kebetulan saya bosan, jadi saya menguntit Jimin berbelanja di supermarket." Lelaki itu tersenyum sopan kepada Jimin "aku akan naik duluan, mungkin kau ingin bercakap-cakap dengan temanmu itu?"
Namjoon rupanya berbaik hati, lelaki itu melangkah menjauh, berpura-pura sangat tertarik pada botol-botol bumbu yang tertata rapi di rak.
Jimin mengalihkan pandangan ke arah Taehyung dan tersenyum meminta maaf "aku harus naik dan memasak." Gumamnya lembut "mungkin kita bisa bertemu nanti di sini, ya kalau tidak aku akan ke cafe."
"aku akan menunggu." Taehyung menunjukkan belanjaannya "dan aku juga harus cepat-cepat kembali. Kabari aku ya kalau kau sudah punya ponsel atau sudah bisa dihubungi."
"pasti." Jimin tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu melambaikan tangannya ketika Taehyung menggumamkan ucapan perpisahan dan pergi.
Tiba-tiba saja Namjoon sudah berdiri di sampingnya lagi, mengamati sosok Taehyung yang menjauh.
"pacar?" tanyanya, kali ini ada nada menggoda dalam suaranya.
"bukan, kami bersahabat di tempat kerja yang dulu." pipi Jimin merah padam.
Tentu saja Taehyung adalah sahabatnya, Jimin selalu memandang Taehyung sebagai orang yang baik, tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Jimin untuk berpikiran lebih apalagi menyangkut asmara terhadap lelaki itu.
Namjoon melangkah menjajari langkah Jimin menuju kasir, dan kemudian bergumam lembut "hati-hati Jimin, aku laki-laki, dan aku bisa membaca jika ada seorang laki-laki yang memendam cinta. Kalau kau memang tak bisa memberi lebih, jangan pernah memberi harapan kepada mereka."
Setelah berkata begitu, dengan santai Namjoon melenggang mendahului Jimin melewati kasir dan menunggu di depan supermarket, membuat Jimin mengernyitkan keningnya.
Apa maksud Namjoon berkata seperti itu? Dan siapa yang dimaksud Namjoon dengan lelaki yang memendam cinta?
.
.
Apartemen masih tetap sepi ketika mereka pulang, dan kamar Yoongi masih tertutup rapat. Ketika melangkah masuk, Namjoon dan Jimin saling melempar pandang, lalu mengangkat bahu. Yah bagaimanapun juga gaya hidup Yoongi yang terbalik dan seperti vampir itu harus dimaklumi. Apalagi dia bosnya, pemilik apartemen ini, Jiminlah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Yoongi.
Cuma dia tidak mengira akan ada lelaki lain yang tinggal di sini, dengan gaya hidup yang berbeda pula. Jimin menatap Namjoon "anda ingin makan siang apa?"
Namjoon mengangkat bahunya lalu melangkah ke arah kamarnya "apa saja, aku pemakan segalanya. Aku akan berlatih dulu ya, panggil aku kalau makanan sudah siap."
Berlatih? Jimin tiba-tiba teringat akan kotak biola dari bahan kulit keras yang dibawa Namjoon kemarin. Lelaki itu pasti pemain biola.
Setelah Namjoon masuk ke kamarnya, Jimin bergegas ke dapur dan membongkar belanjaannya. Uang belanja yang diberikan oleh Yoongi banyak sekali, dan dengan uang itu Jimin bahkan bisa membeli bahan makanan untuk satu minggu. Dia memenuhi kulkas dengan berbagai macam sayur mayur, buah dan berbagai bumbu. Untuk persediaan daging, ikan dan telur, Jimin meletakkannya di tempat khusus di atas.
Setelah selesai mengatur semuanya, Jimin menatap kulkas yang penuh itu sambil tersenyum puas. Ini benar-benar seperti di drama-drama yang pernah dilihatnya, kulkas yang penuh bahan makanan, tak perlu mencemaskan akan makan apa esok hari.
Sambil bersyukur, Jimin mulai mengambil bahan-bahan masakannya, dia akan menyiapkan makan siang untuk Namjoon sekaligus menyiapkan makan malam untuk Yoongi. Untuk makan siang, dia akan membuat yang ringan saja, karena toh mereka akan makan tanpa Yoongi. Kalau makan malam, Jimin akan membuat menu yang sedikit berat karena mereka semua akan makan malam.
Jimin memasak nasi, kemudian memutuskan untuk membuat ayam goreng saus inggris. Bumbunya sangat mudah dan tinggal menyiram ayam yang sudah digoreng renyah dengan saus inggris.
Tiba-tiba Jimin merasa sangat bahagia, dia sangat suka memasak, di panti asuhan dulu, Jimin selalu kebagian tugas mengurusi dapur, memasak makanan untuk anak-anak panti. Mereka semua bilang masakan Jimin enak, dan memasak untuk anak-anak panti bukanlah suatu beban untuk Jimin, dia bahagia melakukannya. Bahkan dulu dia sempat membuat kliping dari berbagai resep masakan yang diambil di tabloid-tabloid langganan ibu panti. Dia akan menggunting setiap resep dengan hati-hati, dan menempelkannya di buku besar yang dia miliki, buku itu hampir penuh, seluruh isinya adalah resep makanan. Jimin suka membalik-balik kliping buku resep itu, membacanya dengan harapan dia akan bisa mempraktekkannya suatu saat nanti.
Tetapi ternyata takdir berkata lain, Jimin harus meninggalkan panti karena hal yang tidak menyenangkan itu, dan dia terpaksa meninggalkan kliping buku resepnya karena terlalu berat untuk dibawanya.
Ah kenangan buruk itu. Dengan cepat Jimin mencoba menghapuskannya. Itu semua masa lalu. Pada akhirnya Tuhan telah begitu baik kepadanya, membuatnya sampai di titik ini.
Jimin menata ayam goreng yang tampak renyah keemasan itu di piring saji, dia lalu mengambil saus yang sudah dibuatnya dengan rempah-rempah dan tentu saja bahan utamanya saus inggris yang harum dan khas, lalu menuang saus itu ke atas ayam. Ayam itu akan menyerap saus itu sampai ke dalam, hingga rasanya khas.
Jimin menatap puas ke arah masakannya, lalu dia menengok nasi nya yang sudah matang.
Jimin lalu teringat kalau Namjoon minta dipanggil kalau masakan sudah siap. Dengan tenang, Jimin melangkah keluar dapur, hendak mengetuk kamar Namjoon dan memanggilnya.
.
.
"bawakan aku oleh-oleh yang banyak." Namjoon memasang wajah cemberut sambil memandang ke arah layar, adiknya yang sedang video chat bersamanya kini ada di belahan bumi yang lain, sedang menghabiskan masa bulan madunya bersama suaminya di sana. Wajah Hanna, adiknya di sana sedang tertawa. Yah setelah menikah dengan Jiwon sahabatnya, Hanna makin tampak ceria dan bahagia, Namjoon sangat beryukur akan hal itu. Kebahagian adiknya membuatnya tenang, dan juga, adiknya telah dijaga oleh sahabatnya yang terbaik.
"pasti oppa, kami baru akan pulang minggu depan." Hanna menatap ke background gambar Namjoon yang sedang bercakap-cakap dengannya "itu bukan kamarmu, kau ada dimana oppa? Benarkah apa yang dikatakan eomma kalau kau sedang pelatihan musik dan harus dikarantina?"
Namjoon terkekeh, eomma yang mereka bicarakan ini adalah eomma angkat mereka, meskipun begitu Namjoon dan Hanna sangat menghormati eomma angkat yang ini, lebih daripada eomma kandung mereka yang telah membuang mereka, dan bersikap jahat kepada mereka yang menyebabkan sang eomma dipenjara sampai sekarang.
"aku melarikan diri dari eomma." Namjoon tertawa "kau tahu sendiri kan, sejak kau menikah dia mengejar-ngejarku untuk menyusulmu, dia bahkan sudah menyiapkan calon isteri untukku, anak dari nyonya Lee sahabat mama."
"dia cantik." Hanna tertawa di layar "kenapa kau tidak mencobanya oppa?"
"karena aku tahu pasti kalau hatinya tidak cantik." mata Namjoon tampak dingin, yah bukankah semua perempuan mau kepadanya karena wajahnya yang tampan dan kekayaannya?
Hanna menatap ekspresi Namjoon dan tiba-tiba merasa sedih menyadari bahwa kakaknya ini belum lepas dari kebencian dan prasangkanya terhadap perempuan. Eomma kandung mereka memang jahat, egois dan tega membuang mereka demi keuntungan pribadinya, tetapi seharusnya Namjoon bisa menyadari bahwa tidak semua perempuan sejahat eomma mereka. Hanna tidak sabar menunggu saatnya ada perempuan yang bisa membuat kakanya tersadar.
Tiba-tiba layar ponsel Namjoon tampak bergoyang, Namjoon mengerutkan keningnya ketika ada wajah Jiwon, suami Hanna sekaligus sahabatnya yang muncul di sana.
"minggir Jiwon, aku sedang bicara dengan adikku." gumamnya dengan ketus.
Jiwon mengangkat alisnya "kau sudah berbicara terlalu lama dengannya. Ini bulan madu kami jadi maaf aku menginterupsi." mata Jiwon bersinar jahil dan penuh tawa "bye Namjoon."
Lalu tiba-tiba saja layar gelap dan Hanna sudah log out.
Namjoon menatap layar ponselnya dengan kesal, tetapi kemudian merasa geli. Jiwon memang sangat posesif kepada Hanna dan Namjoon memang sengaja mengganggu bulan madu mereka dengan sengaja mengajak Hanna mengobrol lama-lama.
Lama kemudian, Namjoon masih menatap layar ponselnya yang kosong itu. Dia lalu mengehela napas panjang dan berdiri, meraih biolanya.
Hanna memintanya mencoba memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi Namjoon tumbuh dengan kebenciannya yang luar biasa kepada perempuan. Dia sangat benci kepada ibu kandungnya, semua perempuan sama saja, semuanya penipu, jahat, licik dan hanya mengincar harta. Perempuan itu iblis, yang menggunakan kekuatan pesonanya untuk menjatuhkan lelaki ke dalam jeratnya sebelum kemudian melemparnyake penderitaan. Well bukan semuanya mungkin, adiknya Hanna dan eomma angkatnya masuk ke dalam pengecualian.
Namjoon tidak akan pernah jatuh ke dalam pesona perempuan manapun. Dia akan lebih dulu menyakiti dan menghancurkan perempuan sebelum mahluk itu menghancurkannya.
Diraihnya biolanya, dan setelah memejamkan mata dan menghela napas, dia memainkannya. Nada yang keluar adalah nada yang menyanyat sekaligus mengancam, ungkapan kebencian Namjoon kepada mahluk bernama perempuan di muka bumi ini.
Namjoon benci sekali, sangat benci!
.
.
Jimin mendengarkan musik itu ketika melangkah ke ruang tengah. Berarti betul dugaannya, Namjoon sedang berlatih memainkan biola.
Langkah Namjoon mendekat ke arah kamar Namjoon, tiba-tiba merasa merinding mendengarkan lagu yang dimainkan di sana.
Ini bukanlah jenis musik romantis yang dimainkan orang direstoran ketika seorang lelaki memutuskan melamar kekasihnya, ini juga bukan musik yang menyayat hati dan penuh kesedihan, ini lebih seperti... kemarahan.
Jimin mengerutkan keningnya dan melangkah kearah kamar Namjoon yang setengah terbuka, musik itu terdengar makin jelas di sana. Dari pintu yang terbuka, Jimin melihat Namjoon yang sangat serius memainkan biolanya, matanya terpejam dan mulutnya merapat. Dan seperti nada musik yang dimainkannya, ekspresi Namjoon benar-benar penuh kemarahan, seolah-olah ada bara kemurkaan yang siap meledak di sana.
Jimin jadi ragu untuk mengetuk pintu dan memberitahukan keberadaannya, dia hanya berdiri mematung di situ, mengamati ekspresi Namjoon dan musiknya yang makin bergolak akan kemarahan, sampai kemudian mata Namjoon yang indah membuka dan kemudian langsung menatap Jimin dengan tajam.
.
.
TBC
.
.
with love,
sino
iloveyoujjkrl❤
