Crush in Rush
Min Yoongi
Park Jimin (GS)
Kim Namjoon
Kim Seokjin (GS)
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook (GS)
.
Warn
GS!
Yoon!top Jim!bot
Major typo(s)
Remake karya Santhy Agatha dengan judul sama Crush in Rush
.
.
Yoongi dan Jimin. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
"sudah berapa lama kau di situ?" suara Namjoon bahkan sedingin tatapannya. Tiba-tiba saja Jimin merasa takut. Kenapa Namjoon yang berdiri di depannya ini sangat berbeda dengan Namjoon yang ramah, yang tadi pagi berbelanja kepadanya?
"e-eh saya memanggil karena makanan sudah siap." Jimin bergumam gugup bingung menghadapi tatapan mata Namjoon yang dingin dan penuh kemarahan. Sebenarnya lelaki itu sedang marah kepada siapa? Kenapa dia memainkan musik seperti itu? Musik yang bergolak yang membuat siapapun yang mendengarkannya pasti tahu bahwa sang pemain biola sedang marah.
Tetapi kemudian Namjoon tampaknya bisa menguasai diri. Kemarahan tampak surut dari matanya, dan dalam sekejap ada senyum di sana. Ekspresi lelaki itu kembali penuh canda dan ramah seperti yang selalu ditampilkannya di depan Jimin sebelumnya.
"aku perhatikan, kau tetap saja menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, ini sudah ketiga kalinya aku mengingatkanmu." Bibir lelaki itu menipis "awas kalau sampai ke empat kalinya, coba ulang kata-katamu dengan menggunakan 'aku dan kamu'." Namjoon mengangkat alisnya dan tampak keras kepala.
Jimin menatap lelaki itu dan menyadari bahwa dia seharusnya memberikan apa yang Namjoon mau karena sepertinya lelaki itu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya.
"aku kemari hendak memberitahumu kalau makanan sudah siap." gumam Jimin akhirnya dengan canggung, menggunakan 'aku' dan 'kamu' seperti yang Namjoon mau, dan kemudian dia ternyata menciptakan senyum mempesona yang melebar di bibir Namjoon.
Oh astaga, lelaki ini memang tampan, dan ketampanannya naik berkali-kali lipat kalau dia tersenyum seperti itu. Kalau saja Jimin tidak merasa canggung dan malu, dia pasti sudah memegang ambang pintu dan menarik napas panjang, karena udara seakan tertarik dari paru-parunya, terpesona oleh ketampanan Namjoon.
"bagus." Namjoon ersenyum, lalu melangkah ke pintu dan melewati Jimin "ayo kita makan aku lapar!"
.
.
Ketika Jimin mengikuti Namjoon hendak melangkah ke dapur, pintu kamar Yoongi terbuka dan lelaki itu muncul. Acak-acakan karena bangun tidur dan tampak cemberut, matanya menatap marah ke arah Namjoon.
"kalau kau memang ingin tinggal di apartemen ini Namjoon, seharusnya kau menghormati jam tidurku, aku tidak suka berisik, dan alunan biolamu itu sampai menembus alam mimpiku, memaksaku bangun." gumamnya tajam.
Namjoon tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Yoongi, dia malahan tertawa "maafkan aku, aku lupa kalau kau sangat sensitif terhadap bunyi-bunyian, dan kau punya mood yang sangat jelek ketika bangun tidur. Aku janji tidak akan memainkan biola di saat kau tidur lagi."
Yoongi terdiam, menatap Namjoon dengan tajam, lalu mengangkat bahunya "oke aku pegang kata-katamu." gumamnya tak kalah tajam, lalu mundur dan setengah membanting pintu kamarnya itu, membuat Namjoon menatap dengan geli.
Sementara itu Jimin masih terdiam di sana agak bingung. Dua lelaki ini memang bersahabat, tetapi sepertinya mereka bersikap seperti anjing dan kucing. Jimin mengangkat bahu, lalu melangkah ke dapur, yah dia kan perempuan, yang pasti dia tidak akan bisa memahani bagaimana persahabatan laki-laki.
.
.
Malamnya, Yoongi ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam, lelaki itu sudah segar sehabis mandi, dan berpakaian rapi. Syukurlah. Jimin semula ketakutan kalau Yoongi akan datang ke ruang makan dengan celana dan bertelanjang dada seperti kemarin.
"sepertinya moodmu sudah baik." Namjoon mengambil sepiring nasi dan memakannya dengan sup daging dan wortel buatan Jimin, caranya makan seolah begitu menikmati, tampaknya dia suka dengan apa yang dimakannya karena tiba-tiba Namjoon mengangkat matanya dan menatap Jimin – yang dipaksa untuk makan bersama – dengan tatapan puas dan menggoda.
"enak Jimin, masakan rumahan memang paling enak, bahkan kokiku di rumah tidak bisa membuat makanan seenak ini. Rasanya sederhana tetapi murni, kurasa kokiku tidak bisa membuatnya karena dia terbiasa membuat rumit segala resep demi menunjukkan tekniknya." sambil menyuap sendok ke mulutnya Namjoon mengedipkan matanya, "mungkin aku akan menyabotasemu dari rumah Yoongi dan menjadikanmu tukang masak pribadiku."
Pipi Jimin memerah mendengar pujian Namjoon yang dilemparkan secara langsung itu, dia menatap Namjoon dengan malu-malu "terimakasih." gumamnya pelan, tiba-tiba merasa berdebar. Mimpi apa dia sehingga bisa makan bersama dengan dua lelaki yang sama-sama tampan ini?.
Namjoon menyuap supnya, tetapi matanya menatap ke arah Namjoon dan kemudian berganti ke arah pipi Jimin yang merah padam. Namjoon telah menyebarkan rayuannya tentu saja, lelaki itu memang perayu alami dan Jimin yang polos sepertinya telah tersihir oleh rayuan Namjoon "jangan termakan rayuan Namjoon, Jimin." Yoongi bergumam lugas, memberi Namjoon tatapan penuh peringatan "aku sarankan kau hati-hati kepadanya, Namjoon memang perayu ulung yang tidak pandang bulu dan kau harus waspada."
Pipi Jimin makin merah padam mendengarkan saran Yoongi itu. Tetapi rupanya Namjoon malahan tertawa mendengarkan peringatan tentang dirinya yang diucapkan tetap di depan mukanya "aku tidak akan mengganggu Jimin tentu saja." gumam Namjoon mengedipkan sebelah matanya kepada Jimin "Jimin dan aku bersahabat, iya kan Jimin"
"iya." mau tak mau Jimin menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu bagaimana deskirpsi sahabat menurut Namjoon, mereka kan baru bertemu tadi pagi?
Yoongi mencibir, menyuapkan sup itu ke mulutnya, dan dia kemudian menyadari kata-kata Namjoon. Sup buatan Jimin memang enak, rasanya ringan tapi penuh aroma. 'tidak sia-sia aku enjadikan Jimin pelayanku' gumam Joshua dalam hati.
.
.
Ketika Jimin sedang mencuci piring di dapur dan Namjoon masuk ke kamarnya untuk berlatih biola lagi – mumpung Yoongi sedang terbangun, katanya – Yoongi berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sana, pekerjaannya hampir beres dan sepertinya akan tiba saat-saat dimana Yoongi bisa sedikit bersantai.
Ponselnya berdering lagi, dan Yoongi tidak bisa menahankan kemarahannya ketika melihat nomor di sana. Pengacara ayah kandungnya lagi! Kenapa mereka tidak pernah menyerah mengganggunya?
Karena tahu bahwa pengacara ayah kandungnya sangat gigih, Yoongi akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu.
"kenapa kau tidak berhenti menggangguku?" dia langsung menyapa dengan kasar, membuat pengacara tua di seberang itu tertegun
"aku tidak mengganggumu Yoongi, aku hanya ingin menginformasikan kepadamu."
"menginformasikan apa?" rasa ingin tahu yang aneh menggelitik benak Yoongi
"tentang ayahmu." pengacara ayah kandungnya berdehem "sebelumnya aku meminta maaf, selama ini aku berbohong kepadamu." suara si pengacara tampak tersendat "aku selalu bilang bahwa ayahmu sakit dan sekarat serta menginginkanmu datang, sebenarnya itu hanya taktikku supaya aku bisa membujukmu datang kemari menengok ayahmu. Tetapi ternyata alasan itu tidak bisa meluluhkan hatimu, kau tetap keras dalam pendirianmu." suara si pengacara tampak menuduh "kenyataannya ayahmu sebenarnya sehat, meskipun jantungnya lemah karena usia, dia tidak dalam keadaan sekarat. Dan karena seluruh usahanya untuk membuatmu datang ke London tidak berhasil, beliau memutuskan untuk mengunjungimu ke Seoul."
Dasar tua bangka sialan. Yoongi mengutuk, langsung mengeluarkan kata-kata kasar dalam benaknya, mengutuk ayah kandungnya dan pengacara liciknya yang sama-sama pembohong besar. Untung Yoongi sama sekali tidak termakan oleh kebohongan itu dulu.
"jadi si tua itu datang ke Seoul?" Yoongi bergumam sinis "apakah dia pikir aku mau menemuinya?"
"ayah kandungmu sangat keras kepala, dia memutuskan akan datang mengunjungimu dan akan berangkat lusa segera setelah semua surat-suratnya beres, aku sudah mencegahnya mengingat penyakit jantungnya dan usianya, tetapi dia tidak mendengarkan aku." pengacara ayahnya menghela napas panjang "aku harap kau mau memberikan kesempatan untuk ayahmu, Yoongi. Beliau sudah tua dan meskipun tidak sekarat, tetap saja penyakit jantungnya mengkhawatirkan."
"aku tidak peduli." Yoongi meradang lalu menutup ponselnya, memutus pembicaraan dengan kasar. Punya hak apa pengacara tua itu menyuruhnya mempedulikan kesehatan ayah kandungnya? Kenapa pula dia harus peduli kepada seorang lelaki yang membuangnya begitu saja?
Sudah terlambat untuk menginginkannya sekarang. Yoongi tidak akan membiarkan ayah kandungnya yang arogan itu mendapatkan apa yang dimauinya dengan mudah!
.
.
"aku ingin kau besok siang ikut denganku." Yoongi muncul di ambang pintu dapur, menatap tajam kearah Jimin yang sedang mengelap meja dapur sampai licin.
Dia ingin semuanya bersih sebelum dia tidur nanti."
"ikut kemana?" tatapan Jimin tampak bingung, bukankah Yoongi biasanya tidur kalau siang?
Yoongi tampaknya menyadari pertanyaan di benak Jimin "aku tidak bekerja malam ini, jadi besok siang aku akan bangun. Kau ikut denganku aku akan membawamu." Lelaki itu setengah membalikkan tubuhnya tak peduli.
"ikut kemana?" Jimin mengulang pertanyaannya, buru-buru sebelum Yoongi meninggalkan ruangan itu, kalau sampai tidak mendapatkan jawaban, mungkin Jimin akan tertidur malam ini dengan mata nyalang penasaran.
"ke butik dan mall." Yoongi yang sudah membalikkan tubuhnya menatap Jimin setengah menoleh "kita akan berbelanja pakaian untukmu." dan kemudian Yoongi pergi meninggalkan Jimin yang kebingungan.
Berbelanja pakaian? Apakah maksud Yoongi seragam pelayan seperti yang dia lihat di manga-manga? Tapi apakah perlu memakai seragam? Jimin tak henti-hentinya bertanya-tanya, bahkan sampai dia berbaring tidur di malam harinya.
.
.
Rupanya Yoongi serius dengan maksudnya, jam satu siang lelaki itu keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi, dia menatap tajam ke arah Jimin yang sedang membersihkan karpet dengan penyedot debu. Sementara itu Namjoon sedang menonton TV di ruang tengah, lelaki itu menoleh dan mengangkat alisnya melihat penampilan Yoongi yang rapi.
"mau pergi kencan?" godanya cepat.
Yoongi menggelengkan kepalanya "bukan." matanya mengarah kepada Jimin "kenapa kau belum berganti pakaian?"
Karena Jimin mengira Yoongi sudah lupa dengan ajakannya kemarin, atau lelaki itu sedang bercanda, tetapi ternyata lelaki itu serius.
"s-saya sedang membersihkan karpet." jawab Jimin akhirnya.
"tinggalkan itu, ganti bajumu, kita berangkat sekarang dan cepatlah!." gumamnya tegas tak terbantahkan, hingga Jimin terbirit-birit meletakkan pembersih debu di tangannya dan melangkah setengah berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Namjoon yang masih duduk di sofa mengamati seluruh penampilan Yoongi yang memilih berdiri, suaranya terdengar serius ketika berbicara, tidak penuh canda seperti yang ditampilkannya di depan Jimin
"apa yang sedang kau rencanakan, Yoongi?" tanyanya datar dan menyelidik.
Yoongi menatap ke arah kamar Jimin yang tertutup rapat dan kemudian menatap Namjoon tajam "itu bukan urusanmu."
Namjoon mengangkat bahunya "memang." gumamnya "apakah ini berhubungan dengan ayah kandungmu?"
Namjoon tentu saja tahu kisah tentang ayah kandung Yoongi. Mereka memang bersahabat dekat karena memiliki kisah yang sama. Kisah yang sama-sama tragis, mereka sama-sama dibuang oleh salah satu orang tua kandung mereka. Bedanya sekarang ibu kandung Namjoon yang jahat dan mata duitan telah mendekam di penjara, menerima ganjaran atas perbuatannya. Sedangkan ayah Yoongi masih hidup dan seperti kata pengacara ayahnya tadi, masih lumayan sehat dan gigih mengejar apa yang dia mau, menjadi batu sandungan bagi langkah Yoongi.
"ya." Yoongi mengangguk, percuma membohongi Namjoon, sahabatnya ini punya insting yang kuat "lelaki tua itu mau datang kemari."
"kemari?" Namjoon mengangkat alisnya "dia tidak mudah menyerah ya."
"dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau, aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai ayah di depannya dan membuatnya puas. Bagiku ayahku bukan dia."
"hati-hati Yoongi." Namjoon bergumam "sepertinya ayah kandungmu itu sama keras kepalanya denganmu, kalian sepertinya sama-sama berpegang kuat kepada pendirian kalian masing-masing."
Namjoon lalu melemparkan pandangannya ke arah kamar Jimin "dan akan kau gunakan sebagai apa Jimin nanti?"
Yoongi tersenyum, senyum yang dalam dan penuh rencana "Jimin adalah tamengku. Tameng terbaik yang pernah ada. Alat pembalasan dendam yang paling hebat."
Suara Yoongi terdengar mantap, bergaung di ruang tengah apartemen itu.
.
.
TBC
.
.
with love,
sino
iloveyoujjkrl❤
